Cinta 1000 Tahun
By
Tabita Pinkybunny
Disclaimer :
Sampai kapan pun bahkan sampai
kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap
punya Mr. Masashi Kishimoto
Warning :
Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.
Bahasa dan rangkaian kata kurang
begitu menarik.
Don't like, don't read !
No flame !
Summary :
Sakura awalnya hanyalah gadis biasa
yang hidup dalam
sebuah keluarga sederhana.
Namun kehidupannya berubah drastis
saat dirinya terpaksa harus melakukan
Surrogancy untuk sepasang suami-istri
yang telah lama tak memiliki anak demi
operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya
telah datang, apa yang harus dia lakukan ?
Chapter 5
"Ada kabar gembira untukmu, sayang." jawab Mikoto.
"Kabar gembira apa, bu? Apa maksud ibu?" tanya Itachi tak mengerti dengan ucapan ibunya.
"Kau..."
"..."
"Akan jadi seorang ayah."
Itachi POV.
Jantungku saat ini berdetak lebih cepat dari biasanya, nafasku seakan berhenti seketika hingga diriku seperti terpaku tak mampu merasakan apapun. Aku sangat terkejut dengan ucapan ibuku barusan, yang seperti beberapa petasan yang meledak-ledak tak beraturan dalam hatiku. Ucapan yang membentuk sebuah kalimat mengandung lima kata terindah yang pernah aku dengar seumur hidupku.
"Aku akan jadi seorang ayah." Ya, lima kata itulah yang tadi memang tertangkap oleh indera pendengaranku. Dan aku rasa aku memang tak salah dengar. Ibuku memang tadi benar-benar mengatakan bahwa jika sebentar lagi aku, Uchiha Itachi, akan menjadi seorang ayah. Demi Tuhan, ini adalah anugerah yang paling indah yang Tuhan berikan padaku. Ah tidak, yang paling indah yang Tuhan berikan kepada kami sekeluarga. Dan akhirnya doa dan penantian panjangku berbuah manis juga. Akhirnya sebentar lagi akan ada Uchiha kecil meramaikan kediaman kami.
"Ibu serius dengan apa yang ibu katakan barusan kan? Ibu tidak sedang membohongiku kan, bu?" tanyaku untuk meyakinkan bahwa ini nyata, dan bukan sebuah bunga tidur.
"Memangnya kapan ibu pernah membohongimu, hm? Tentu saja itu benar. Benar, kalau kau sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." jawab ibuku dengan gembira berbeda dari biasanya. Dan ini semakin membuatku yakin jika ibuku memang serius dengan apa yang diucapkannya barusan.
"Wah, itu berarti aku akan jadi seorang paman ya? Seru sekali!" kata adik laki-lakiku, Uchiha Sasuke, yang sepertinya juga sangat senang dengan berita ini.
"Ta...Tapi, kenapa Kurenai tak memberi tahuku tentang berita bahagia ini, bu? Kenapa dia tak mengatakan apapun?" tanyaku sedikit heran karena ibukulah orang pertama yang memberi tahuku mengenai berita gembira ini, dan bukannya istriku.
"Ehm, itu karena..."
Normal POV.
"Aku buatkan pisang goreng coklat dan teh untuk kalian dan juga ibu. Ayo dinikmati, mumpung masih hangat." kata Kurenai yang barusan saja dari dapur dan memotong sejenak perbincangan ketiga orang di taman itu untuk mengantarkan cemilan.
"Wah, pas sekali kalau begitu. Cemilan spesial, mengiringi sebuah berita spesial." kata Sasuke sambil menyomot sepotong pisang goreng coklat dan memasukkan kedalam mulutnya.
"Berita spesial apa? Apa maksudmu, Sasuke?" tanya Kurenai yang tak paham dengan maksud ucapan adik iparnya itu.
"Kenapa kau tidak menyampaikan berita bahagia ini langsung padaku, Kurenai? Kenapa kau merahasiakannya dariku?" tanya Itachi.
"Aku benar-benar tak mengerti maksudmu, sayang. Memang, apa yang telah aku rahasiakan? Sepertinya aku tak merahasiakan apapun darimu." jawab Kurenai yang masih belum memahami arah pembicaraan suaminya.
"Kenapa kau tak bilang kalau kau saat ini sedang hamil. Bukankah seharusnya berita yang menggembirakan ini harus segera kau sampaikan, hm?"
"A...Apa? Hamil? Siapa yang ha-"
"Ah, mungkin Kurenai ingin membuat kejutan untukmu, Itachi. Makanya dia belum mengatakannya padamu. Benar kan, Kurenai?" kata Mikoto memotong ucapan Kurenai, dan memberikan isyarat mata agar Kurenai membenarkan pernyataan yang dia sampaikan barusan.
"..."
"Apa yang dikatakan oleh ibu itu benar, Kurenai?" tanya Itachi 'lagi' yang semakin membuat Kurenai semakin bingung.
"..."
"Kurenai..."
"I...Iya, Itachi. Ibu benar. Me...Memang tadi aku berniat ingin membuat kejutan untukmu. Tapi sepertinya sudah tidak berlaku." jawab Kurenai dengan sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Begitu ya? Tapi menurutku itu masih berlaku. Buktinya aku sangat terkejut dengan berita kehamilanmu ini. Dan aku sungguh sangat bahagia, sayang. Aku jadi semakin mencintaimu, Kurenai." kata Itachi menarik tubuh Kurenai dalam pelukannya dan kemudian mencium pucuk kepala istrinya.
"A...Aku juga mencintaimu, sayang." jawab Kurenai sambil terus merapat ke dekapan hangat Itachi.
"Ini namanya penantian panjang yang berbuah manis. Jika kita bersabar, Tuhan pasti akan mendengarkan semua doa kita. Dan terbukti, akhirnya Itachi dan kakak ipar akan segera mendapat momongan. Sedangkan aku, akan jadi seorang paman tampan. Benar kan?" kata Sasuke yang juga ikut bahagia akan kabar kehamilan Kurenai ini.
"Paman tampan? Percaya diri sekali kau menyebut dirimu itu tampan. Dasar!" sindir Itachi dengan nada bercanda.
"Memang aku tampan kan? Semua orang juga tahu itu. Hanya orang katarak saja yang bilang kalau aku jelek. Iya kan kakak ipar?" kata Sasuke innocent.
"Dasar, kau ini!" kata Itachi sambil melemparkan sebuah bantal ke arah Sasuke, tapi sayangnya tidak kena.
"Sudah...sudah, cukup bercandanya. Kalian berdua ini seperti anak kecil saja. Sekarang tolong kalian berdua pergi sebentar dari sini. Karena ibu ingin bicara berdua saja dengan Kurenai, bisa kan?" tanya Mikoto pada kedua putranya itu yang kini saling pandang satu sama lain tanda tak mengerti.
"Tumben sekali ibu hanya ingin bicara berdua saja dengan kakak ipar. Apa ada sebuah rahasia yang aku dan Itachi tak boleh tahu?" tanya Sasuke penasaran.
"Tidak, ibu hanya..."
"Sudahlah Sasuke, cukup. Mungkin ibu memang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan Kurenai saja. Jadi, mari kita pergi dari sini." ajak Itachi.
"Ya...baiklah. Ayo kita pergi!" kata Sasuke dan langsung berjalan mengikuti Itachi masuk kedalam rumah meninggalkan Kurenai dan Mikoto hanya berdua saja.
Mikoto berjalan menuju kursi taman dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi, yang segera diikuti oleh Kurenai. Beberapa detik sudah berlalu, namun Mikoto belum mengucapkan sepatah kata pun. Dia masih menatap halaman taman kediamannya tanpa ada sebersit keinginan dalam dirinya untuk memulai perbincangan diantara keduanya. Dan ini membuat suasana semakin tak nyaman untuk Kurenai.
"Jadi gadis itu sudah hamil. Dan proses Surrogancynya berjalan lancar sesuai harapan ibu." kata Kurenai angkat suara mengawali perbincangan.
"Ya, itu benar. Dan ini membuatku sangat bahagia. Aku rasa Itachi juga merasakan hal yang sama denganku. Dia juga sepertinya sangat bahagia mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah. Kau tadi bisa melihat sendiri bagaimana ekspresinya kan?" tanya Mikoto masih mengedarkan pandangannya ke halaman taman dan belum mau menatap wajah menantunya.
"Lalu, apa rencana ibu berikutnya setelah ini?"
Mikoto pun akhirnya menatap wajah Kurenai. Setelah sedikit menarik nafas, dia pun segera angkat suara untuk menjawab pertanyaan wanita yang sudah dinikahi putranya selama 4 tahun itu.
"Entahlah, sejujurnya aku juga tak tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Tapi aku masih akan terus memerlukan bantuanmu, Kurenai. Rencana ini harus terus berjalan dengan baik hingga akhir."
"Ibu ingin aku melakukan apa?" tanya Kurenai langsung ke intinya.
"Selama gadis itu dalam masa mengandung, kau juga harus berpura-pura mengandung. Dan lakukanlah aktingmu dengan baik."
"Jika masih satu dua bulan mungkin aku bisa berpura-pura dengan baik, bu. Tapi bagaimana saat kandungan sudah memasuki usia 5 bulan keatas? Apakah mungkin aku bisa terus berpura-pura dan membohongi Itachi? Bukankah di usia kandungan itu perut pasti sudah membesar?" tanya Kurenai.
"Mengenai itu kau jangan ambil pusing. Aku mempunyai seorang teman yang dapat membantu dalam masalah itu. Dia menawarkan sebuah perut silicon agar kehamilanmu terlihat alami dan Itachi serta orang-orang tak akan curiga." jawab Mikoto.
"Perut silicon? Apa itu, bu? Aku baru kali ini mendengarnya."
"Perut silicon biasanya digunakan dalam keperluan syuting untuk adegan mengandung. Tapi aku rasa kita bisa menggunakan cara itu juga."
"Tapi bu, aku sebenarnya masih merasa takut jika nantinya Itachi tahu dan semua kebohongan ini terbongkar. Apa yang nanti mesti aku jelaskan padanya?"
"Ibu sudah bilang berkali-kali padamu kan, Kurenai, jika kau tak perlu mencemaskan hal ini lagi. Biar ibu yang mengatur semuanya. Kau hanya perlu berpura-pura saja dengan baik. Apa susahnya hal itu, hah!"
"Tapi bu..."
"Sudahlah, cukup! Kepala ibu pusing. Ibu mau istirahat sekarang. Dan ibu mohon, kau jangan pernah mengungkit masalah ini lagi. Atau nantinya Itachi akan curiga dan semua rencana kita akan gagal total. Kau paham!" kata Mikoto dengan nada mengintimidasi Kurenai, dan langsung meninggalkan taman itu dengan Kurenai yang masih mematung dalam posisinya disana.
Kediaman Haruno.
Hari ini adalah tepat 5 hari ayah Sakura, Haruno Ishida, keluar dari rumah sakit. Dan sekarang keluarga kecil itu tengah berkumpul di ruang keluarga untuk merayakan kepulangan ayah mereka tercinta. Di meja ruang keluarga itu kini tersaji cukup banyak makanan yang memang sederhana, namun cukup untuk menemani pesta perayaan kecil mereka.
Tak lupa juga sepanci sup rumput laut telah tersaji sebagai simbol rasa syukur yang diberikan Tuhan atas pulihnya kembali kesehatan kepala keluarga mereka, sehingga mereka sekeluarga dapat berkumpul bersama lagi.
"Selamat ya, ayah! Karena ayah sekarang sudah sehat dan dapat berkumpul kembali dengan kami." kata Haruno Himawari, adik Sakura sambil memberikan semangkuk sup rumput laut pada ayahnya.
"Ibu juga sangat bahagia sekali karena operasi ayah kemarin berjalan lancar." tambah ibu Sakura dengan gembira karena suaminya tercinta bisa kembali ada disisinya.
"Iya, aku juga sangat senang bisa sembuh dan berkumpul lagi dengan kalian semua. Dan ini semua juga berkat Sakura. Sakura sudah banyak bekerja keras mengusahakan biaya operasi ayah, yang dia peroleh dari pinjaman teman baiknya. Karena itulah ayah ucapkan banyak terima kasih padamu, Sakura." kata Ishida pada putri sulungnya itu.
"Jangan begitu, ayah. Ayah tak perlu mengucapkan terima kasih kepadaku untuk ini. Semuanya sudah menjadi kewajibanku sebagai putri ayah untuk memenuhi semua kebutuhan ayah. Aku hanya ingin berbakti saja pada ayah." jawab Sakura.
"Tapi kak, sebenarnya teman baik kakak yang mana yang mau meminjamkan uang sebanyak itu untuk biaya operasi ayah. Apa aku mengenalnya? Bukan kak Ino kan, kak?" tanya Himawari yang langsung membuat Sakura agak tersentak.
"Benar juga itu, ayah juga ingin sekali bertemu dengan temanmu itu, Sakura. Ayah ingin mengucapkan banyak terima kasih padanya. Karena bagaimana pun juga operasi ayah dapat terlaksana, semua karena biaya yang dia pinjamkan. Benar kan?" kata Ishida.
"Ayahmu benar, Sakura. Ibu juga ingin sekali bertemu dengan temanmu itu. Ajak dia kemari, kita undang dia untuk makan malam." kata Haruno Tsubaki bersemangat.
"Maaf sekali bu, sepertinya itu sesuatu yang tak mungkin." jawab Sakura.
"Tak mungkin? Memangnya kenapa, Sakura?" tanya Tsubaki.
"Ano, i...itu karena dia sedang tidak berada di Jepang. Sekarang dia sedang ada di Korea." kata Sakura berbohong.
"Hm, begitu ya. Sayang sekali kalau begitu. Padahal ayah dan ibu belum mengucapkan terima kasih padanya."
"Tidak apa-apa bu, nanti biar aku saja yang menyampaikan ucapan terima kasih ayah dan ibu padanya."
"Tapi kak, bagaimana cara kakak menyampaikan ucapan terima kasih itu? Bukankah tadi kakak bilang kalau teman kakak itu ada di Korea?" tanya Himawari.
"Benar juga, bagaimana caramu menyampaikannya, Sakura?" tambah Ishida.
"Ehm, itu karena aku...aku...juga akan pergi ke Korea." jawab Sakura.
"APA! PERGI KE KOREA!" kata semua anggota Haruno terkejut, kecuali Sakura.
"Tapi kenapa tiba-tiba sekali, Sakura? Ada urusan apa kau ke Korea?" tanya Tsubaki.
"Aku ada urusan bisnis dengan temanku itu disana, bu. Maka dari itulah aku harus segera menyusulnya ke sana."
"Jadi maksud kakak, kakak akan meninggalkan pekerjaan kakak disini ya?"
"Iya, Hima. Kakak sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan kakak sekarang, dan akan memulai peluang usaha yang baru di Korea bersama teman kakak itu."
"Tapi kenapa mendadak sekali, kak. Apa ini tidak terkesan sedikit aneh?"
"Sudah Hima, cukup. Jangan bertanya terus pada kakakmu. Mungkin ini sudah menjadi keputusan Sakura untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi di Korea sana, dan kita sebagai keluarga harusnya mendukung penuh dan mendoakan untuk kesuksesan Sakura."
"Terima kasih banyak ayah, karena ayah sudah mengijinkan dan juga mendukungku." kata Sakura sambil tersenyum.
"Lalu, kapan kira-kira kau akan berangkat, Sakura?" tanya Tsubaki.
"Besok pagi, bu. Dan mungkin aku di Korea selama 1 tahun."
"Apa itu tidak terlalu lama, Sakura? Apalagi kau perginya besok pagi." kata Tsubaki sedih karena akan berpisah dengan putri sulungnya selama 1 tahun.
"Sakura kan hanya pergi setahun saja, bu. Dia pasti nanti juga akan kembali pulang ke Jepang, dan berkumpul lagi bersama kita."
"Iya, ayah memang benar. Tapi kan ibu tidak bisa kalau harus jauh dari Sakura."
"Ibu jangan khawatir. Aku janji akan sering-sering memberi kabar pada kalian selama aku disana. Jadi ibu, ayah, dan juga Himawari tak perlu mencemaskan keadaanku." jawab Sakura berusaha menenangkan ibunya.
"Baiklah, jika memang begitu keinginanmu. Kami hanya bisa mendoakanmu dari sini saja, Sakura." kata Ishida.
"Terima kasih ayah, itu juga sudah lebih dari cukup bagiku." jawab Sakura.
Sakura POV.
Aku kini tengah memasukkan barang-barangku ke dalam sebuah koper ukuran sedang berwarna coklat. Dari mulai baju-baju, kosmetik, peralatan mandi, dan kebutuhan lainku telah aku masukkan dan tersusun rapi dalam koper itu. Dan aku sudah siap untuk pergi dari rumahku tercinta ini.
Aku kemarin telah berpamitan pada seluruh anggota keluargaku bahwa aku akan pergi untuk menjalani suatu usaha di Korea. Sebenarnya aku tak akan pergi ke Korea, bahkan aku tak akan pernah pergi ke manapun dan meninggalkan Jepang. Aku memang sengaja menyusun cerita bohong ini untuk keluargaku agar mereka tidak tahu jika sebenarnya selama 1 tahun nanti aku bersembunyi dan tinggal di suatu tempat untuk masa mengandung sampai masa melahirkan. Dan selama menunggu proses itu, aku akan tinggal bersama Hiroshi Naomi, orang kepercayaan nyonya Mikoto yang diberi tugas untuk menjagaku.
"Aku pergi sekarang, ayah, ibu, dan Himawari." kataku pada seluruh anggota keluargaku yang kini tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Apa kau yakin tidak mau kami antar ke bandara, sayang?" tanya ibuku Haruno Tsubaki.
"Tidak usah, bu. Aku tidak mau merepotkan kalian. Lagipula sudah ada yang menungguku di bandara." jawabku.
"Ya sudah jika memang itu maumu. Jaga dirimu baik-baik ya, Sakura. Dan sering-seringlah memberi kabar kepada kami disini." kata ayahku.
"Jangan lupa minum vitamin juga ya, kak. Biar kakak tidak sakit." tambah adikku sambil menahan air matanya, yang aku yakin sebentar lagi akan jatuh.
"Terima kasih, semuanya. Aku tak akan pernah lupa dengan semua pesan kalian. Baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang. Sampai jumpa semuanya..."
"SAMPAI JUMPA LAGI..."
Normal POV.
Ino sedang sibuk melayani pengunjung Supermarket saat ini. Dari tadi, tak henti-hentinya dia harus terus berdiri dan bercapek-capek ria untuk melayani semua kebutuhan yang bermacam-macam dari para pengunjung Supermarket hanya sendirian saja. Karena sahabat baiknya, Haruno Sakura, mulai hari ini sudah tidak bekerja lagi di Supermarket ini dan telah mengundurkan diri dengan alasan yang kurang begitu jelas.
"Terima kasih, nyonya. Lain kali belanja lagi di tempat kami, ya..." kata Ino pada salah satu pengunjung dengan penuh semangat.
"Maaf, apa benar kau teman Sakura?" tanya Sasuke mengagetkan Ino yang kini tengah melongo melihat pemuda tampan ada dihadapannya.
"Ah, i...iya, aku teman baik Sakura. Namaku Yamanaka Ino. Kau ini siapa?" tanya Ino penasaran.
"Aku Sasuke, aku kemari ingin bertemu dengan Sakura. Apa bisa kau panggilkan dia untukku? Katakan aku ingin bertemu dan bicara sebentar dengannya."
"Aku benar-benar minta maaf, sayang sekali kau tidak bisa bertemu dengan Sakura. Karena mulai hari ini, Sakura sudah tidak bekerja disini lagi." jawab Ino.
"Apa maksudmu dia sudah tidak bekerja disini lagi? Apa dia dipecat?"
"Tidak, Sakura tidak dipecat. Dia sendiri yang mengundurkan diri. Dan yang aku dengar, dia akan pergi ke suatu tempat. Tapi tepatnya dimana, aku juga tak tahu."
"Bisakah aku minta alamat rumahnya? Aku mohon..."
"Maafkan aku, bukannya aku tak ingin memberikan alamat rumah Sakura padamu. Tapi Sakura sudah melarangku untuk tidak memberikan alamat rumahnya pada siapa pun tanpa sepengetahuannya."
"Tapi aku benar-benar harus bertemu dengannya. Ada hal penting yang harus aku katakan padanya. Jadi aku mohon, tolong berikanlah alamat rumah Sakura." kata Sasuke memohon dengan sepenuh hati yang baru kali ini dia lakukan seumur hidupnya selama menjadi seorang Uchiha.
"Aku sungguh minta maaf padamu, Sasuke. Tapi aku benar-benar tidak bisa memberikannya. Aku sungguh menyesal." jawab Ino.
"..."
"Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bisa membantumu."
"Baiklah jika memang kau tak mau memberikan alamat rumah Sakura padaku, akan aku cari sendiri alamat itu. Dan meskipun aku harus memnghabiskan waktu semalaman untuk mencarinya, aku tak peduli. Karena aku yakin aku pasti bisa menemukannya." kata Sasuke yakin dan langsung bergegas meninggalkan Supermarket Konoha.
"Eh Sasuke, tunggu...!" teriak Ino pada bungsu Uchiha itu. Tapi percuma, karena Sasuke sama sekali tak menghiraukannya.
"Dasar keras kepala! Sebenarnya apa hubungan Sakura dengannya?" tanya Ino pada dirinya sendiri karena bingung dengan sikap Sasuke yang berkesan berlebihan itu.
Sasuke POV.
Hari ini aku datang mencari Sakura di tempat kerjanya di Supermarket Konoha. Tapi ternyata aku terlambat, dia sudah tak ada disana. Dia sudah mengundurkan diri dan tak lagi bekerja di tempat itu. Aku berusaha mengorek informasi dan meminta alamat Sakura pada sahabat baiknya, Yamanaka Ino, tapi sayangnya gadis itu tak mau memberikanku banyak informasi tentang keberadaan Sakura.
Ya, Sakura..., seorang gadis dengan rambut pink mencoloknya yang entah mengapa selalu saja memenuhi pikiranku. Sejak saat itu, saat terakhir kali aku bertemu dengannya ketika dia aku selamatkan dari gangguan para preman, hati dan pikiranku tak henti-hentinya lepas dari bayangan gadis itu. Wajah cantiknya, aroma tubuhnya, senyum manisnya, bahkan raut cemberutnya ketika marah pun, sepertinya tak mampu terhapus dari otakku.
Aku tak tahu pasti apa yang sebenarnya telah terjadi padaku saat ini. Tapi yang pasti, sekarang aku harus segera bertemu dengan Sakura sebelum dia benar-benar jauh dariku. Dan itu harus.
Normal POV.
Sasuke masih mengendarai mobil Lamborgininya mengitari jalan raya Konoha untuk mencari dimana keberadaan Sakura. Sosok gadis yang tiba-tiba saja menarik hatinya. Sasuke sendiri juga tak tahu kenapa dia melakukan hal gila seperti ini. Mencari sosok gadis yang dia sendiri tak tahu bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada gadis yang terpenting sekarang adalah Sasuke harus bertemu Sakura sebelum Sakura benar-benar pergi.
Saat sudah hampir setengah jam mengitari jalan raya Konoha, indera penglihatan Sasuke menangkap sosok gadis yang amat dikenalnya. Sosok gadis dengan rambut pink panjangnya, yang mengenakan long dress putih dengan motif bunga-bunga kecil berwarna hitam, yang tengah menenteng sebuah koper. Sosok gadis bernama Haruno Sakura yang kini sedang dicarinya. Dan tanpa pikir panjang, Sasuke pun segera menepikan mobilnya dan mengejar sosok Sakura.
"Sakura..." panggil Sasuke yang langsung membuat pemilik nama itu menoleh dan terkejut.
"Sa...Sasuke..."
Tanpa aba-aba lagi Sasuke pun langsung menarik tubuh mungil Sakura dalam pelukannya. Dan mendekapnya dengan begitu erat, seakan-akan dia tak rela bila gadisnya pergi Sakura yang mendapat perlakuan ini pun hanya dapat terpaku dan tak mampu bergerak. Nafasnya seperti berhenti seketika itu juga hingga dia bagaikan serasa mati di tempat.
"Akhirnya aku bisa menemukanmu juga. Kau tahu, aku sudah hampir setengah jam mengelilingi kota hanya untuk mencarimu. Kenapa kau tiba-tiba pergi begitu saja? Bahkan kau tak mengijinkanku untuk tahu dimana kau tinggal. Kau keterlaluan, Sakura."
"A...Aku..."
"Apa kau tak tahu, aku itu sangat mencemaskanmu. Aku benar-benar cemas dan takut jika aku tak bisa lagi bertemu denganmu. Aku benar-benar takut jika itu terjadi."
"..."
"Sekarang lebih baik kita pulang. Dan jangan pernah pergi tanpa pesan seperti ini lagi. Kau paham." kata Sasuke langsung mengambil koper Sakura dan menarik tangan Sakura.
"Lepaskan aku, Sasuke! Aku tak bisa pulang." kata Sakura sambil berusaha melepaskan tarikan tangan Sasuke.
"Dasar bodoh! Kau itu bicara apa? Kenapa kau bilang kalau kau tak bisa pulang? Aku tidak peduli, pokoknya kau harus pulang sekarang. Ayo!"
"Aku bilang aku tidak bisa pulang, Sasuke. Jadi tolong lepaskan aku!" perintah Sakura lagi.
"Tidak, pokonya aku tak akan membiarkanmu pergi kemana-mana."
"Sasuke, aku mohon lepaskan aku! Mengertilah..."
"Tidak, aku tidak mau mengerti. Aku hanya ingin kau pulang sekarang." kata Sasuke masih bersikeras untuk tetap memaksa Sakura pulang.
"SASUKE LEPASKAN AKU!" teriak Sakura akhirnya yang langsung membuat Sasuke tersentak.
"Sakura, kau..."
"Kau pikir kau itu siapa, hah! Kenapa kau melarangku untuk pergi? Kau itu bukan siapa-siapa bagiku. Dan kau tak punya hak apapun untuk mengatur hidupku. Dan mulai sekarang, berhentilah mencampuri urusanku. Kau paham!" kata Sakura sambil melepaskan tarikan tangan Sasuke dan berniat melanjutkan kembali perjalannya. Sampai...
"Aku mencintaimu Sakura..."
DEG ! Setelah mendengar pernyataan Sasuke yang sangat mengejutkan itu, langkah Sakura langsung berhenti seketika. Kakinya yang tadi ringan kini terasa amat berat untuk melangkah. Jantungnya juga kini serasa berdebar sangat kencang dan hampir lepas dari pusatnya. Dia tak pernah menduga bahkan tak pernah sedikit pun membayangkan jika pemuda raven itu, Uchiha Sasuke, akan mengungkapkan perasaan cinta pada dirinya. Perasaan yang menurut kebanyakan orang sangat indah, namun amat membingungkan untuk dirinya. Bahkan dia sendiri tak tahu apakah dia pantas menerima perasaan cinta itu atau tidak. Dalam keadaannya sekarang, itu sesuatu yang tak mungkin. Dan Sakura tak mau bermimpi untuk mendapatkan cinta dari seorang pemuda baik seperti Sasuke. Sejujurnya dia takut terluka, atau tepatnya takut jika melukai perasaan Sasuke.
"Aku mencintaimu, karena itulah aku tak mau jika kau pergi."
"..."
"Aku mencintaimu, karena itulah aku ingin kau selalu berada disisiku."
"..."
"Aku mencintaimu, karena itulah aku rela berkorban untukmu."
"..."
"Aku mencintaimu, karena itulah aku..."
"Cukup! Hentikan! Aku tak mau dengar apapun lagi."
"Sakura..."
"Semakin kau mengatakan kalau kau mencintaiku, itu semakin membuat hati dan perasaanku perih. Aku semakin sakit, Sasuke. Jadi tolong, berhentilah mengatakan itu."
"Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini, Sakura? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa kau tak mau terbuka padaku? Kenapa sakura! Kenapa!"
"DAN KENAPA AKU HARUS MENCERITAKAN SEMUANYA PADAMU! Kita tak punya hubungan apapun. Bahkan kita berdua juga baru mengenal. Jadi jangan bicara seolah-olah kau itu sudah sangat mengenalku. Dan mulai sekarang berhenti menemuiku. Atau nantinya kau akan terluka." kata Sakura sambil menatap tajam ke mata onyx Sasuke.
"Aku tak peduli. Meski kau mengatakan itu, aku akan tetap menunggumu, Sakura. Dan aku serius." jawab Sasuke yakin.
"Terserah padamu, tapi kau pasti akan menyesal. Selamat tinggal..." kata Sakura langsung berlari meninggalkan Sasuke dan pergi dengan sebuah taxi.
"Aku mencintaimu Sakura, sungguh..." kata Sasuke yang hanya dapat terpaku melihat sosok Sakura yang telah jauh.
Skip Time.
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa kini kandungan Sakura telah berusia 9 bulan. Dan hanya tinggal menunggu waktu saja, bayi dalam kandungannya akan segera lahir dan melihat dunia. Dan saat itu tiba, Sakura tak akan bisa lagi melihat bayinya. Karena tentunya si bayi pasti akan segera diambil dari tangannya dan menjadi hak mutlak keluarga yang telah membayar Sakura.
"Kau disini rupanya, aku itu dari tadi mencarimu kemana-mana. Kenapa sich kau itu selalu pergi tanpa bilang padaku lebih dahulu? Dasar!" kata seorang wanita berambut pendek pada Sakura dengan kesal.
"Maafkan aku, nyonya Naomi. Aku tadi hanya ingin mencari udara segar saja. Dan tidak bermaksud membuat anda cemas." jawab Sakura.
"Tapi setidaknya kau itu bilang dulu padaku, Sakura. Bagaimana jika terjadi apa-apa padamu dan bayimu? Kau pikir apa yang harus aku katakan nanti pada nyonya Mikoto, hah!"
"Ma...Maafkan aku. Aku janji aku tak akan mengulanginya lagi."
"Ya sudah, kali ini aku maafkan. Tapi lain kali jika kau mau pergi, kau harus ijin dulu padaku. Kau paham!" kata Naomi.
"I...Iya, nyonya. Saya paham. Ehm, nyonya..."
"Hm, ada apa?"
"A...Apa boleh, saat bayi ini lahir saya merawatnya selama seminggu saja?" tanya Sakura penuh harap.
"Apa kau bilang? Merawat bayi ini selama seminggu? Apa kau sudah gila, hah! Itu tidak bisa!."
"Ta...Tapi nyonya, saya ingin sekali merawat bayi saya sebelum menyerahkannya pada keluarga nyonya Mikoto. Walaupun itu cuma seminggu. Tidak bisakah anda mengerti perasaan saya?"
"Dengar ya Sakura, kau itu cuma ibu kontrak yang dibayar memang untuk mengandung dan melahirkan bayi itu. Dan kau sama sekali tak punya hak atas bayi itu. Sampai kapanpun juga kau tak punya hak untuk merawat bayi itu. Karena bayi itu adalah hak mutlak tuan muda dan istrinya. Jadi jangan pernah bermimpi kalau kau bisa memiliki bayi yang kau kandung itu, Sakura. Kau mengerti kan!"
"Tapi nyonya..."
"Sudah cukup! Jangan membantah lagi! Tugasmu itu hanya memberikan tuan muda dan istrinya seorang anak. Selebihnya kau bukan siapa-siapa dan tak berhak menjadi ibu dari bayi itu. Ingat, ibu bayi itu adalah tetap istri dari tuan muda. Dan mulai sekarang cobalah untuk melupakan kalau kau adalah ibu kandungnya." kata Naomi panjang lebar.
"Tapi aku hanya-aduh!" teriak Sakura tiba-tiba saat dia merasakan sakit yang teramat sangat di perutnya.
"Kau kenapa, Sakura? Apa yang terjadi?" tanya Naomi cemas.
"Aku tidak tahu, ta...tapi sepertinya aku akan melahirkan."
"Apa kau bilang! Kenapa tiba-tiba begini? Kalau begitu kita harus ke rumah sakit sekarang." kata Naomi panik dan langsung membawa Sakura ke rumah sakit terdekat.
Rumah Sakit.
"Tarik nafasnya, nona!" perintah seorang dokter pada Sakura.
"Huh...huh...aaakh!"
"Terus nona, jangan berhenti! Tarik nafas lagi, kepala bayinya sudah terlihat."
"Huh...huh...sa...sakit..."
"Sedikit lagi, nona. Berusahalah! Dan jangan menyerah. Sebentar lagi bayinya lahir. Ayo tarik nafas lagi!" kata dokter itu memberi semangat pada Sakura yang kini tengah berjuang mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan bayinya. Ah bukan, tapi bayi Itachi dan Kurenai lebih tepatnya.
"Hugh...aaaakh!"
"Oek...oek...!" Dan akhirnya tangis bayi pun pecah memenuhi ruang bersalin itu. Bayi yang selama ini dinanti akhirnya lahir juga ke dunia. Dan pertaruhan nyawa Sakura telah berakhir.
"Syukurlah, bayinya sudah lahir. Selamat nona Haruno, bayi anda laki-laki. Dan dia sangat tampan." kata dokter itu sambil menyerahkan bayi yang masih merah itu pada Sakura agar dia bisa melihat putranya untuk pertama kalinya.
"Bayiku...Bayiku tersayang." kata Sakura bahagia melihat wajah tampan bayi yang baru saja dilahirkannya. Dan karena kelelahan seusai melahirkan, dia pun tertidur.
Naomi menunggu dengan gelisah di depan ruang bersalin. Dari tadi dia terus berjalan mondar-mandir tak jelas menunggu proses kelahiran bayi Sakura. Dan tak beberapa lama keluarlah dokter dari ruang bersalin itu, sambil membawa bayi Sakura.
"Bagaimana? Apa bayinya sehat?" tanya Naomi cemas.
"Seperti yang kau lihat sendiri, dia sangat sehat. Dan dia juga sangat tampan."
"Baguslah, itu memang yang diharapkan. Sekarang serahkan bayinya padaku. Aku akan langsung menyerahkan bayi ini pada nyonya Mikoto. Dan setelah itu tugasku selesai sudah." kata Naomi.
"Tapi apa tidak sebaiknya kita tunggu sampai Sakura bangun dulu? Mungkin dia ingin melihat putranya untuk terakhir kalinya. Karena bagaimana pun juga, Sakura tetaplah ibu kandung dari bayi ini." kata dokter itu.
"Dasar bodoh! Justru Sakura jangan sampai tahu kalau aku sudah mengambil bayinya. Nanti akan semakin sulit memisahkan mereka. Sudah, jangan cerewet! Cepat serahkan bayinya! Aku tak punya banyak waktu lagi. Nyonya Mikoto sudah menungguku."
"Ba...Baiklah, ini bayinya." kata dokter itu dan segera menyerahkan bayi itu pada Naomi.
"Aku pergi sekarang. Dan setelah ini anggap kalau kita tak saling mengenal. Kau paham!"
"Ya, aku paham. Selamat tinggal..." kata dokter itu. Dan Naomi pun segera membawa pergi bayi laki-laki tampan itu dari rumah sakit itu tanpa sepengetahuan Sakura untuk dia serahkan pada Mikoto dan keluarganya.
Cahaya lampu yang terang di ruang bersalin akhirnya membangunkan Sakura dari tidurnya. Setelah mata emeraldnya sudah mulai terbiasa dengan cahaya itu, dia pun mengedarkan pandangannya menyusuri seluruh ruangan untuk mencari dimana keberadaan bayi yang baru saja dilahirkanya. Dan akhirnya dia baru sadar jika ternyata bayinya sudah tidak ada didekatnya lagi. Bayinya telah hilang.
"Bayiku, dimana bayiku? Dokter! Dimana bayiku!" teriak Sakura memanggil dokter untuk menanyakan dimana keberadaan bayinya.
"Sakura, ka...kau sudah sadar." kata dokter itu gugup.
"Dokter, dimana bayiku? Katakan dimana bayiku! Kenapa dia tak ada disini? Dan dimana nyonya Naomi?"
"I...itu..."
"Dokter, aku mohon katakan dimana bayiku? Aku ingin melihatnya. Aku mohon, hik...hiks..."
"Maafkan aku, Sakura. Tapi kau tak akan pernah bisa melihat bayimu lagi." jawab dokter itu.
"Apa maksud dokter aku tak bisa melihatnya lagi? Apa maksudnya, hah!"
"Bayimu..."
"..."
"Sudah dibawa pergi oleh Naomi."
"A...Apa? Itu tidak mungkin. Bayiku! Tidaaak!"
TBC
Balasan Review
Kristal :
Ok ! Ini udah Tabita update. Makasih buat reviewnya.
maya :
Berez ! Nich udah diupdate. Thankz udah mau review.
Renmi3 novanta :
Thankz udah mau review lagi dan udah kasih semangat terus buat aku ^_^
Nakamura Kumiko-chan :
SasuSakunya ntar pasti ada kok. Sabar ya...please ^_^
Namikaze-Tania-Chan :
Wah banyak banget pertanyaannya, sampai bingung jawabnya. He3.
Nama fb : Tabita Pinkybunny
VVVV:
Hubungan SasuSaku ntar...RAHASIA ! Ho3.
Lady Spain :
Umur Sakura kira-kira 20 tahunan. Terlalu mudakah?
Nao :
Salam kenal, boleh juga tuh idenya. Ntar coba Tabita pikirin lagi ya...He3.
4ntk4-ch4n :
Sasuke buat 4ntk4-ch4n aja dech. He3.
Qren :
Duh, kok gitu. Tapi kecewanya ga' serius kan? V^_^
rchrt :
Sabar aja ya, ntar pasti nongol kok konfliknya. Tetep rajin baca dan review ya. He3.
Sky pea-chan :
Thankz buat reviewnya, biar ga' penasaran lagi udah Tabita update nich...
Maafkan Tabita ya, karena chapter ini terlalu panjang dan membingungkan. Tapi Tabita udah berusaha sebaik mungkin untuk membuat chapter ini. Dan jika ternyata hasilnya jelek dan buat reader semua bosen membacanya, sekali lagi Tabita minta maaf.
Tapi masih bolehkah Tabita minta review ?
