Cinta 1000 Tahun

By

Tabita Pinkybunny

Disclaimer :

Sampai kapan pun bahkan sampai

kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap

punya Mr. Masashi Kishimoto

Warning :

Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.

Bahasa dan rangkaian kata kurang

begitu menarik.

Don't like, don't read !

No flame !

Summary :

Sakura awalnya hanyalah gadis biasa

yang hidup dalam

sebuah keluarga sederhana.

Namun kehidupannya berubah drastis

saat dirinya terpaksa harus melakukan

Surrogancy untuk sepasang suami-istri

yang telah lama tak memiliki anak demi

operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya

telah datang, apa yang harus dia lakukan ?

Chapter 6

Dengan menaiki sebuah Taxi, Hiroshi Naomi kini tengah dalam perjalanan menuju tempat dimana dirinya dan Mikoto janjian bertemu.

Di tempat itulah nanti Naomi akan menyerahkan seorang bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan Sakura beberapa saat yang lalu kepada keluarga Uchiha, sesuai dengan perjanjian yang sebelumnya telah mereka sepakati.

Tak butuh waktu lama bagi Naomi untuk menuju tempat janjian itu, hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam saja dia sudah sampai ke tempat tujuan. Dan rupanya disana telah menunggu Mikoto dan Kurenai yang sudah tidak sabar menanti kehadiran Uchiha kecil mereka.

"Maaf nyonya, saya datang terlambat. Anda tahu kan, tidak mudah bagi saya untuk mengambil bayi ini. Saya harus menunggu saat yang paling tepat agar saya mudah mengambil bayi ini dari tangan ibu kandungnya." kata Naomi sesaat setelah dirinya sampai dihadapan Mikoto.

"Tidak apa-apa Naomi, aku tahu akan hal itu. Sekarang, serahkan bayinya padaku. Karena aku sudah tak sabar ingin segera membawanya pulang." jawab Mikoto bersemangat.

"Ah, tentu. Saya mengerti, nyonya Mikoto." kata Naomi sambil menyerahkan bayi yang ada dalam gendongannya kepada Mikoto yang langsung disambut dengan gembira.

"Oh, ya Tuhan, tampan sekali bayi ini." kata Mikoto saat melihat wajah makhluk kecil dalam gendongannya.

"Bayi ini memang pantas jika disebut seorang Uchiha. Karena selain tampan, dia juga sangat sehat dan juga kuat. Sama halnya dengan tuan muda Itachi dan tuan muda Sasuke." puji Naomi.

"Dia benar-benar anak Itachi. Lihatlah, wajahnya sama persis dengan Itachi. Benar kan, Kurenai?" tanya Mikoto pada menantunya meminta pendapat.

"Iya, ibu benar. Dia memang sangat mirip dengan ayahnya." kata Kurenai membenarkan dan ikut tersenyum juga saat melihat wajah si bayi.

"Itachi pasti akan senang jika dia sudah melihat putranya ini. Dan aku sangat beruntung, karena bayi ini lahir bertepatan dengan kepergian Itachi dan Sasuke ke Inggris untuk urusan bisnis. Sehingga mereka tak akan tahu jika bayi ini ternyata lahir dari rahim wanita lain, dan bukan lahir dari rahim Kurenai."

"Anda memang pintar, nyonya Mikoto. Saya benar-benar salut kepada anda, karena rencana anda berjalan dengan lancar dan tanpa menemui kendala apapun." puji Naomi pada nyonya besar Uchiha itu.

"Ahahaha...tentu saja. Karena itulah aku disebut seorang Uchiha. O ya, apa kartu namaku yang ada pada gadis itu sudah kau ambil, Naomi?" tanya Mikoto pada wanita berambut hitam pendek itu.

"Tentu saja, nyonya. Sesuai dengan perintah anda, kartu nama anda yang ada padanya sudah saya ambil dan saya bakar. Dengan begitu, dia tak akan pernah bisa menghubungi dan menemui anda lagi. Dan tentunya dia juga tak akan pernah bisa menemui bayinya lagi."

"Kau memang cerdas, Naomi. Tak sia-sia aku mengandalkanmu. Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang. Karena bayi ini sudah harus ada di rumah sebelum Itachi dan Sasuke pulang dari bisnis mereka nanti malam. Dan Kurenai juga harus segera berpura-pura seperti habis melahirkan." kata Mikoto berpamitan.

"Iya, nyonya. Dan semoga semua rencana anda sukses." jawab Naomi singkat. Dan setelah itu, Mikoto dan Kurenai pun segera memasuki mobil mereka dan bergegas pulang menuju kediaman mereka untuk melaksankan rencana berikutnya.

Kediaman Uchiha.

Tepat pukul delapan malam, Itachi dan Sasuke pun tiba di kediaman besar mereka yang berada di kawasan perumahan elit Konoha, setelah sebelumnya mereka berdua telah menyelesaikan urusan bisnis di London, Inggris. Dan tentunya orang yang paling bersemangat dengan kepulangan mereka ini adalah Itachi. Karena dia sudah sangat tidak sabar melihat putra pertamanya yang selama bertahun-tahun telah dinantikan kehadirannya di tengah-tengah kehidupan rumah tangganya dengan Kurenai.

"Sayang, aku pulang! Dimana putra kita?" tanya Itachi sesaat setelah dia memasuki kamar tidurnya.

"Ah, akhirnya kau pulang juga. Ibu dari tadi sudah tak sabar menunggu kepulanganmu, Itachi." kata Mikoto yang langsung memeluk tubuh putra sulungnya sebagai ucapan selamat datang.

"Iya bu, aku memang sengaja mempercepat kepulanganku ke Jepang setelah mendengar kabar kalau Kurenai sudah melahirkan. Aku sudah tak sabar ingin melihat wajah putra pertamaku." kata Itachi dengan penuh semangat.

"Iya, saking tak sabarnya, Itachi sampai lupa dengan kopernya di pesawat. Dasar!" kata Sasuke yang langsung disambut dengan deathglare andalan dari Itachi.

"Namanya juga orang senang, jadi wajar kan kalau sampai melupakan sesuatu. Seperti kau tak pernah mengalaminya saja?" kata Itachi berusaha membela diri.

"Yah, asal kau jangan sampai lupa memakai baju dan celana saja." jawab Sasuke innocent.

"Sudahlah, cukup. Kalian berdua ini selalu saja ribut. Apa kalian lupa, kalau kalian ini sudah dewasa. Dan bukan anak kecil lagi." kata Mikoto yang kesal dengan kelakuan kedua putranya itu yang selalu saja ribut setiap bertemu.

"Lalu, dimana putraku? Aku ingin melihatnya." tanya Itachi yang sudah sangat tak sabar ingin melihat Uchiha kecilnya.

"Dia ada disana, sayang. Di box bayi itu." jawab Kurenai dari atas tempat tidur karena dia harus berpura-pura berakting lemas seperti habis melahirkan.

Itachi dan Sasuke pun segera berjalan mendekati box bayi berwarna putih yang diatasnya tergantung mainan itu, yang sengaja diletakkan tepat disebelah tempat tidur agar Itachi dan Kurenai mudah menjangkaunya bila si bayi nantinya membutuhkan sesuatu.

"Dia sangat lucu dan tampan." kata Itachi tersenyum sambil mengusap lembut pipi tembem malaikat kecilnya.

"Hn, dan wajahnya sama persis denganmu." kata Sasuke berkomentar setelah dia melihat wajah keponakan barunya.

Semua orang yang sudah melihat wajah Uchiha kecil itu pastilah akan memberi pendapat yang sama bahwa bayi itu memang mirip dengan Itachi. Dengan kulit bersih, mata onyx dan rambut hitam legamnya, pastilah sudah dapat membuktikan kalau bayi itu memang anak dari seorang Uchiha Itachi.

Dan sangat beruntung untuk Mikoto karena bayi itu mirip dengan sang ayah, dan bukannya mirip dengan ibu kandungnya. Karena, pastilah akan sangat sulit menjelaskan pada semua orang darimana si bayi itu bisa mendapatkan rambut pink dan mata emerald. Benar kan?

"Lalu, mau kau beri nama siapa putra kita, sayang?" tanya Kurenai pada suaminya tercinta.

"Jadi kau mempercayaiku untuk menamainya?" tanya Itachi antusias.

"Tentu saja, sayang. Kau kan ayahnya. Jadi kaulah orang yang berhak memberinya nama. Dan kami pasti akan setuju dengan nama yang kau berikan." jawab Kurenai sambil tersenyum setelah melihat wajah antusias suaminya yang terlihat sangat lucu dan menggemaskan.

"Kurenai benar, Itachi. Kau saja yang memberi nama putramu. Siapa pun nama pilihanmu, kami pasti akan menyetujuinya." tambah Mikoto.

Itachi yang mendapat kepercayaan dari seluruh anggota keluarganya pun diam sejenak untuk berpikir keras demi mencari nama yang cocok untuk putra pertamanya itu. Dan setelah sekitar 5 menit memutar otaknya, Itachi pun akhirnya tersenyum penuh arti karena dia telah menemukan sebuah nama yang pas untuk pangeran kecilnya.

"Jadi, siapa namanya, Itachi?" tanya Mikoto pada sulung Uchiha itu setelah dia melihat wajah Itachi terhiasi oleh senyum yang mengembang.

"Karena dia adalah putra pertamaku dan aku ingin dia bisa bersinar seperti bintang di langit, maka aku akan memberinya nama Hoshi. Yang berarti sebuah bintang. Bagaimana menurut kalian?" tanya Itachi meminta persetujuan dari anggota keluarganya yang lain.

"Itu sebuah nama yang indah, sayang." jawab Kurenai sambil tersenyum.

"Aku juga setuju dengan nama itu." tambah Sasuke.

"Ibu juga setuju dengan nama itu. Karena ibu juga mau kalau nantinya cucu ibu ini bisa sukses dan bersinar bagai sebuah bintang." kata Mikoto menyetujui juga usulan nama itu.

"Baiklah, karena semuanya sudah setuju, maka aku putuskan nama anak ini adalah Hoshi. Uchiha Hoshi." kata Itachi mantap dengan nama baru putranya itu.

Skip Time.

Seorang gadis cantik berambut panjang sebahu berwarna pink berpakaian formal, kini tengah duduk di sebuah kursi di sebuah ruangan kantor yang bisa dibilang cukup mewah. Dihadapannya, duduk seorang pria paruh baya yang sedang memeriksa dan membaca beberapa kertas yang ada ditangannya, yang diketahui berisi informasi dan biodata dari gadis pink itu.

"Dari data diri yang sudah aku baca, kau termasuk lulusan terbaik dari Konoha University. Bahkan kau lulus dengan nilai tinggi. Sungguh mengagumkan." puji pria paruh baya itu setelah membaca keterangan mengenai prestasi yang telah diraih sang gadis.

"Terima kasih atas pujiannya, tuan. Saya hanya ingin berusaha melakukan yang terbaik saja dalam mencetak prestasi." jawab gadis pink itu merendah.

"Tapi menurutku, ini sudah lebih dari cukup untuk menduduki posisi sekretaris wakil direktur."

"Jadi bagaimana keputusannya, tuan? Apakah saya diterima bekerja di perusahaan ini?" tanya gadis pink itu mencari kepastian apakah dirinya diterima bekerja di perusahaan besar itu atau tidak.

"Tentu saja, nona Haruno Sakura. Karena hanya orang bodoh saja yang akan menolak gadis cerdas sepertimu. Jadi aku putuskan kau diterima di perusahaan kami." jawab pria itu yang langsung membuat gadis yang diketahui bernama Sakura itu lega.

"Terima kasih banyak, tuan. Saya berjanji saya akan berusaha bekerja sebaik mungkin dan tidak akan mengecewakan perusahaan. Lalu kapan kira-kira saya bisa mulai bekerja?" tanya Sakura.

"Hari ini juga kau sudah bisa bekerja, nona Haruno. Dan itu adalah ruang kerjamu." jawab pria itu sambil menunjuk sebuah ruangan berpintu silver yang akan menjadi ruang kerja Sakura mulai hari ini hingga beberapa waktu ke depan.

"Terima kasih, tuan. Kalau begitu, saya akan bekerja sekarang juga. Permisi..." kata Sakura sambil membungkukkan badan untuk mengakhiri perbincangan diantara keduanya.

"Silahkan, nona Haruno. Dan selamat bekerja..." jawab pria itu sambil tersenyum.

Sakura POV.

Hari ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai seorang sekretaris wakil direktur di sebuah perusahaan bernama Sharingan. Sharingan merupakan sebuah perusahaan terbesar di Konoha bahkan terbesar ketiga di Jepang yang bergerak di bidang ekspor-impor dan pariwisata.

Dan aku bisa melamar bekerja disini juga atas usulan sahabat baikku, Yamanaka Ino. Dia mengatakan, jika aku berhasil masuk dan bekerja di perusahaan besar seperti Sharingan, maka kehidupanku akan terjamin dan lebih baik. Dan karena alasan itulah aku kini berada disini dan menduduki posisi sekretaris wakil direktur.

Aku kini tengah duduk di depan sebuah laptop dan sibuk membuat sebuah laporan keuangan yang harus aku selesaikan sekarang juga. Jariku masih menri di atas keyboard, saat tiba-tiba kepala humasku, nona Shizune, masuk ke ruang kerjaku dan menghentikan sejenak kegiatanku.

"Apa laporan keuangan bulan lalu sudah selesai kau buat, Sakura?" tanyanya padaku sambil mengarahkan pandangannya ke laptop untuk mengetahui hasil kerjaku.

"Ehm, mungkin sekitar 5 menit lagi selesai." jawabku singkat.

"Baguslah kalau begitu, karena laporan keuangan itu sangat dibutuhkan oleh wakil direktur sekarang juga." kata wanita cantik berambut pendek itu padaku.

"Jangan khawatir, nona Shizune. Setelah laporan keuangan ini selesai, saya akan segera mengantarkannya langsung kepada wakil direktur."

"Baiklah jika begitu, kau memang bisa diandalkan, Sakura. Tak sia-sia perusahaan ini menerimamu." puji nona Shizune padaku yang langsung membuat mukaku merah.

"Ehm, nona Shizune, apa saya boleh bertanya sesuatu pada anda?" tanyaku sedikit gugup.

"Ya, tentu. Memang apa yang ingin kau tanyakan?" tanya nona Shizune balik padaku.

"Kira-kira wakil direktur itu orang dan sifatnya seperti apa?" tanyaku malu-malu dan aku yakin sekarang mukaku pasti sudah semerah tomat.

Nona Shizune yang mendengar pertanyaanku pun tersenyum. Setelah sebelumnya dia menarik nafas, akhirnya dia pun mulai angkat suara untuk menjawab pertanyaanku yang aku rasa sedikit terkesan aneh itu.

"Wakil direktur itu orangnya sangat baik pada semua karyawan. Selain itu, dia juga termasuk orang yang pintar, cekatan, dan sangat memperhatikan kemajuan perusahaan serta kesejahteraan para karyawannya. Tapi dia juga dikenal sebagai seorang pribadi yang sangat dingin." jelas nona Shizune panjang lebar agar aku paham.

"Dikenal sebagai pribadi yang dingin? Maksudnya?" tanyaku makin penasaran dengan karakteristik atasanku yang memang belum aku ketahui bagaimana wajah dan sifatnya itu.

"Wakil direktur itu jarang sekali berinteraksi dan berbicara dengan karyawan selain untuk membicarakan urusan bisnis dan perusahaan. Bahkan dia juga tidak pernah tersenyum. Aku sendiri juga tak tahu kenapa wakil direktur seperti itu. Tapi yang pasti, sifat wakil direktur itu sudah sangat terkenal dikalangan karyawan dan rekan bisnis perusahaan. Jadi aku harap kau juga bisa mengetahui dan memahami sifat wakil direktur ini. Kau mengerti kan, Sakura?" tanya nona Shizune padaku.

"Ah, i...iya, saya mengerti." jawabku sambil menganggukkan kepalaku sebagai tanda amat mengerti dengan penjelasannya.

"Ah, satu lagi yang belum aku beritahukan padamu tentang wakil direktur kita."

"Memangnya apa lagi, nona Shizune?" tanyaku penasaran dengan kepribadian lain dari atasanku itu.

"Wakil direktur itu juga terkenal sangat err tampan. Jadi kau jangan sampai jatuh cinta padanya ya, Sakura." kata nona Shizune yang langsung membuatku blushing.

"No...Nona Shizune..." kataku gugup setengah mati.

"Ahahaha...aku hanya bercanda saja kok. Jadi mukamu tak perlu sampai seperti itu. Terlihat sangat lucu sekali." katanya innocent sambil mentertawaiku karena melihat mukaku yang merah karena malu. Dasar !

"Ya sudah, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jika laporan keuangannya sudah selesai, tolong cepat kau antarkan ke ruangan wakil direktur. Bisa kan, Sakura?"

"Ah ya, tentu saja. Nanti akan segera saya antarkan." jawabku. Dan aku pun segera melanjutkan kembali pekerjaanku setelah nona Shizune pergi dari ruanganku.

Setelah sekitar hampir setengah jam lamanya aku berkutat dengan laptop, akhirnya laporan keuangan yang aku kerjakan selesai juga. Dan sekarang tinggal mengantarkan laporan keuangan ini kepada wakil direktur yang ruangannya tepat ada disebelah ruang kerjaku.

Aku kini sudah berada di depan pintu ruangan wakil direkturku. Terus terang saja saat ini jantungku berdebar sangat kencang dan aku sangat gugup. Apalagi jika ingat penjelasan nona Shizune tadi tentang sifat wakil direktur yang terkenal dingin dan tidak pernah tersenyum, itu akan semakin membuatku semakin tegang untuk bertatapan langsung dengannya. Tapi bagaimana pun juga, laporan keuangan ini harus tetap aku serahkan padanya sekarang juga. Lagipula aku juga penasaran ingin melihat langsung wajah wakil direktur yang katanya sangat err tampan itu. Maka, aku pun berusaha menguatkan mentalku dan memberanikan diri untuk menemuninya.

TOK...TOK...TOK...! Aku sudah mengetuk pintu berwarna hitam itu dengan halus, namun tidak ada jawaban dari dalam untuk mengijinkanku masuk. Mungkin wakil direktur tak mendengarnya.

TOK...TOK...TOK...! Aku mengetuk pintu ruangan itu sekali lagi, dan berharap kali ini akan ada jawaban dari pemilik ruangan. Dan...

"Hn, masuk!" Yeah, akhirnya dijawab juga. Kenapa tidak dari tadi pikirku. Benar-benar menyebalkan ! Aku pun akhirnya masuk juga ke ruangan besar dan mewah itu, tapi rupanya wakil direktur sedang duduk sambil memandangi suasana kota dari jendela dibelakang meja kerjanya. Dan dengan posisinya yang membelakangiku seperti ini, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Yang bisa aku lihat sekilas hanyalah model rambutnya yang sangat unik untuk ukuran seorang wakil direktur. Rambut dengan model pantat ayam. Tunggu ! Pantat ayam ? Aku rasa aku juga kenal dengan seseorang dengan model rambut seperti itu. Tapi mana mungkin itu dia. Sudahlah, buat apa juga aku pikirkan. Yang terpenting sekarang adalah menyerahkan hasil kerjaku. Ya, itu yang paling utama.

"Ini laporan keuangan yang anda minta, tuan." kataku dengan susah payah.

"Hn."

What ! Apa itu ? Kenapa cuma 'hn' yang keluar dari bibirnya ? Seperti tak ada kata-kata yang lain saja sich. Dasar orang dingin ! kata innerku yang mulai menjelek-jelekkan atasanku.

"Ehm, perkenalkan tuan, saya adalah sekretaris anda yang baru. Nama saya..."

"Hn, letakkan saja laporan keuangannya di atas meja. Dan kau boleh keluar." katanya memotong ucapanku. Uh, ini semakin membuatku kesal. Mungkin kalau aku tak ingat dia adalah atasanku, sudah aku maki-maki dia. Dan langsung aku tarik rambut pantat ayam jeleknya itu. Tapi untung aku masih bisa bersabar. Good job, Sakura !

"Ehm, ano...apa ada lagi yang anda butuhkan, tuan?" tanyaku berusaha seramah mungkin.

"Tidak ada. Kau boleh keluar." jawabnya masih dengan nada dingin dan masih belum mau menatapku.

"A...Apa anda yakin?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan bahwa dia memang sudah tak membutuhkan apapun lagi.

"Aku bilang kau boleh keluar! Apa kau itu tul...Sakura!"

"Sa...Sasuke..."

Normal POV.

Sakura sangat terkejut setelah mengetahui siapa wakil direktur yang sekaligus menjadi atasannya itu. Seseorang yang amat dikenalnya, dengan wajah tampan, mata onyx dan rambut model pantat ayamnya. Seseorang yang dulu pernah menyatakan cintanya pada Sakura, sekaligus pernah dicampakannya. Seseorang yang bernama Uchiha Sasuke.

"Sakura, sedang apa kau disini?" tanya Sasuke yang sebenarnya percuma karena tadi dia juga sudah mendengar sendiri jika Sakura adalah sekretaris barunya.

"A...Aku bekerja disini. Sebagai sekretaris barumu." jawab Sakura sambil menatap lantai ruangan dan tak berani menatap wajah Sasuke langsung.

Sasuke meninggalkan kursinya dan berjalan mendekati Sakura. Mata onyxnya kini tengah sibuk memperhatikan sosok gadis dihadapannya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki yang membuat sang gadis yang ditatapnya pun hanya dapat berblushing ria. Dan ternyata tak ada perubahan yang terjadi pada sosok Sakura. Gadis bermata emerald itu masih sama seperti yang dulu. Saat terakhir dia dan Sakura bertemu. Saat dia menyatakan jika dia mencintai Sakura sekitar 1 tahun lalu.

"Aku tak menyangka jika ternyata sekretaris baruku itu adalah...kau." kata Sasuke agak canggung.

"Ehm, aku juga tak menyangka jika atasanku adalah kau, Sasuke."

"Bagaimana kabarmu?" tanya Sasuke gugup sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Kabarku baik. Seperti yang kau lihat. Kau sendiri?" tanya Sakura balik pada Sasuke, namun belum mau menatap wajah tampannya.

"Aku juga baik. Kau tahu, aku sudah menghabiskan waktu lama hanya untuk mencari keberadaanmu. Aku..."

"Maafkan aku, Sasuke. Ini di kantor, jadi aku mohon jangan bawa urusan pribadi kita disini. Dan kalau memang sudah tak ada yang kau butuhkan lagi, aku permisi sekarang Sas-ehm, tuan." kata Sakura dan hendak meninggalkan ruangan itu. Namun dengan cepat Sasuke sudah memegang tangannya untuk mencegah gadis itu pergi.

"Tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk bicara, Sakura? Aku mohon..."

"Aku rasa sudah tak ada yang bisa kita bicarakan lagi. Jadi aku mohon lepaskan aku, tuan."

"Sakura..."

"Lepaskan aku, tuan."

"Aku mohon...dan berhentilah memanggilku dengan sebutan 'tuan'. Aku tak mau mendengarnya lagi." kata Sasuke yang mulai kesal karena gadis yang dicintainya masih enggan menatapnya.

"Tidak bisa, tuan. Kau adalah atasanku, jadi aku akan terus memanggilmu dengan sebutan 'tuan'. Dan sekarang tolong lepaskan aku, tuan." perintah Sakura.

"Sakura, cukup! Tatap aku!"

"Ada apa ini,Sasuke? Kenapa kau teriak-teriak seperti itu?" tanya Itachi yang tiba-tiba masuk ke ruangan Sasuke dan harus menyaksikan perdebatan Sasuke dengan Sakura.

Sasuke pun akhirnya melepaskan juga pegangannya pada tangan Sakura, dan itu membuat Sakura cukup lega untuk saat ini. Kini ketiga orang di ruangan itu saling menatap satu sama lain, dan tak ada yang mau memulai berbicara. Hingga akhirnya...

"Maaf, saya permisi dulu, tuan. Ada banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan." kata Sakura dan langsung meninggalkan ruangan itu, saat sebelumnya dia sempat bertatapan dengan Itachi.

Setelah Sakura pergi, Sasuke kembali duduk ke kursinya dan memegangi kepalanya yang kini mulai terasa pusing. Dan ini membuat Itachi semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya itu.

"Ada yang bisa kau jelaskan padaku, Sasuke?" tanya Itachi sambil mendudukkan dirinya di salah satu kursi menghadap ke arah Sasuke.

"Tak ada apapun yang bisa aku jelaskan. Dan lain kali, ketuklah pintu terlebih dahulu sebelum kau masuk ke ruanganku."

"Tumben sekali kau bersikap seperti ini padaku. Apa karena gadis pink tadi, hm? Memang siapa dia?" tanya Itachi mulai mengintrogasi.

"Itu bukan urusanmu. Dan jika memang tujuanmu datang kesini hanya ingin bertanya hal-hal yang tak penting seperti itu, sebaiknya kau kembali saja ke ruanganmu, Itachi. Karena aku sedang malas bertengkar denganmu."

Itachi pun bangkit dari duduknya dan sedikit merapikan setelan jasnya yang agak kusut setelah dipakai duduk dan menatap tajam ke arah adik sekaligus wakilnya di perusahaan Sharingan.

"Yah, baiklah jika memang kau mau aku keluar dari sini. Aku akan keluar. Tapi aku ingatkan satu hal padamu Sasuke, jangan pernah kau campur adukan masalah pribadi dengan masalah perusahaan. Karena sebagai seorang wakil direktur kau haruslah bersikap profesional. Aku tahu kau pasti mengerti apa maksudku." kata Itachi yang langsung keluar dari ruang kerja Sasuke.

Itachi dalam perjalanan menuju ruangannya setelah sebelumnya dia baru saja dari ruang kerja adik kesayangannya, saat ditengah lorong dia bertemu dengan gadis yang beberapa menit lalu ditemuinya di ruang kerja Sasuke. Gadis cantik dengan rambut pink mencolok dan mata emerald indahnya.

"Ehem, kau gadis yang ada di ruangan Sasuke tadi kan?" tanya Itachi pada Sakura yang kini gugup dihadapannya.

"I...Iya, direktur. Saya sekretaris baru Sas-ehm, maksud saya, saya sekretaris baru tuan Sasuke." jawab Sakura sedikit gemetar.

"Sepertinya kau dan Sasuke punya hubungan khusus di masa lalu. Apa itu benar nona..." kata Itachi menunggu jawaban dari gadis pink itu.

"Sakura. Nama saya Haruno Sakura, direktur."

"Hn ya, nona Haruno Sakura. Apa benar kau dan adikku pernah punya hubungan khusus sebelumnya?" tanya Itachi sekali lagi.

"Maafkan saya direktur, kalau memang kehadiran saya membuat anda merasa kurang nyaman. Namun saya dan tuan Sasuke tak memiliki hubungan apapun. Saya datang kemari benar-benar untuk bekerja." jawab Sakura.

"Begitu ya, tapi sepertinya adikku memiliki perasaan lain padamu nona Haruno. Aku rasa dia mungkin menyukaimu." kata Itachi yang langsung membuat Sakura tersentak.

"Maaf direktur, tapi sepertinya anda telah salah paham. Dan kalau memang tak ada masalah penting tentang perusahaan yang ingin anda tanyakan, saya mohon diri sekarang. Ada tugas yang harus saya kerjakan, permisi..." kata Sakura membungkuk memberi hormat dan segera berlalu dari hadapan Itachi yang kini tengah menatapnya heran.

Jam pulang kantor sudah selesai sekitar 15 menit yang lalu, namun Sakura masih belum mau beranjak dari posisinya sekarang. Duduk dibangku taman, yang letaknya tepat disamping perusahaan Sharingan. Dia masih sendirian disana sambil merenung dan memikirkan sesuatu, saat tiba-tiba dia dikejutkan dengan sosok pemuda raven yang mengambil duduk disampingnya dan merapat, membunuh jarak diantara keduanya.

"Tu...Tuan Sasuke..." kata Sakura sedikit gugup karena pria yang mengaku mencintainya kini tepat berada disampingnya.

"Ini bukan di kantor, Sakura. Jadi aku mohon berhentilah memanggilku dengan sebutan 'tuan'. Bisa kan?"

"Ma...Maafkan aku Sasuke, aku hanya..."

"Senang rasanya melihatmu ada disini lagi."

"A...Apa?" tanya Sakura tak mengerti dengan maksud ucapan Sasuke.

"Aku pikir aku tak akan pernah bisa berjumpa ataupun berbicara lagi denganmu. Dan mungkin selamanya kita berdua tak akan pernah bisa bertemu lagi seperti ini, Sakura. Tapi aku bersyukur, nyatanya semua pikiranku itu salah. Dan terbukti kau ada disampingku sekarang."

"Sasuke..."

"Selama setahun lebih aku mencoba mencari dimana keberadaanmu. Tapi nihil. Tak satu pun informasi yang bisa aku dapatkan tentang dirimu, Sakura. Justru yang aku peroleh hanyalah rasa sakit hati dan penderitaan dari penantian panjangku. Dan aku benci akan hal itu, Sakura." kata Sasuke berterus terang yang membuat hati Sakura seperti tertohok sesuatu.

"Kenapa kau berusaha keras sampai seperti itu, Sasuke? Sebenarnya apa tujuanmu?" tanya Sakura pada Sasuke, yang akhirnya membuat bungsu Uchiha itu menatap mata emerald Sakura dengan mata onyxnya.

"Tujuanku hanya satu, Sakura. Aku hanya ingin kau mengerti tentang perasaanku yang sebenarnya padamu. Aku ingin kau tahu bahwa aku benar-benar tulus mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu. Hanya itu."

"..."

"Dan, tak bisakah kau melihat isi hatiku? Tak bisakah, Sakura?"

"Maafkan aku Sasuke, tapi aku rasa kau salah dengan perasaanmu itu." kata Sakura dan berniat untuk pergi. Namun dengan cepat Sasuke menahannya. Sasuke langsung menyandarkan kepalanya ke bahu Sakura, yang membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Sebentar saja, Sakura. Hanya 5 menit saja kau ijinkan aku bersandar dibahumu. Aku lelah." kata Sasuke sambil memejamkan matanya menikmati posisinya kini.

"..." Sakura hanya diam tanpa mengatakan apapun juga. Bahkan dia juga tak menolak keinginan Sasuke untuk tetap tinggal. Jujur Sakura sendiri juga tak tahu kenapa dia tak bisa menghindari bungsu Uchiha itu meskipun dia ingin. Tapi yang pasti, kini dia mulai bisa menerima kehadiran Sasuke di dalam hatinya. Dan mungkin ini sebagai permohonan maafnya karena dulu dia pernah mencampakkan pemuda tampan penggemar tomat itu.

"Aku tak mengerti dengan dirimu, Sasuke. Kenapa bisa kau begitu bodoh? Kenapa kau rela menghabiskan waktumu hanya untuk mencariku dan menyakiti dirimu sendiri. Kenapa, Sasuke?" tanya Sakura pada Sasuke yang masih bersandar dibahunya dan masih memejamkan matanya.

"Entahlah, mungkin karena aku sangat mencintaimu, Sakura." jawab Sasuke singkat, namun cukup membuat perasaan Sakura berdesir hebat.

"Kau...benar-benar keras kepala." kata Sakura yang akhirnya tersenyum dan luluh juga dengan perasaan tulus Sasuke itu.

Seorang balita tampan dan lucu tengah asyik bermain sebuah bola plastik dipinggir jalan raya Konoha. Tak terlihat seorang pun orang dewasa yang mengawasi balita mungil dan lincah itu. Dan tentunya ini adalah sesuatu yang berbahaya mengingat jalan raya Konoha sangat ramai dan padat dilalui mobil-mobil bahkan truk besar.

Balita itu masih saja asyik bermain dan mengejar bola plastiknya yang kini jatuh dari genggaman tangan mungilnya dan menggelinding ke tengah jalan raya. Tanpa berpikir lagi, balita nan polos itu pun mengejar bola plastik miliknya ke tengah jalan raya tanpa mengetahui jika sebuah truk besar kini tengah menuju ke arahnya. Semakin dekat dan semakin dekat, hingga...

"Bahaya!" teriak seorang gadis yang langsung berlari ke arah balita itu dan segera menarik tubuh mungil itu dalam dekapannya.

"Huwaaa...hik...hiks..." tangis balita tampan itu karena terkejut dengan kejadian yang baru saja dialaminya.

"Cup...cup...cup...diam ya, sayang. Jangan menangis lagi. Kau sekarang sudah aman." kata gadis cantik yang telah menyelamatkan si balita.

"Huwaaa...hik...hiks...ibuuu...uuu..."

"Ya Tuhan, putraku!" teriak seorang wanita yang langsung mendekati gadis dan balita itu.

"Ibu, hik...hiks..."

"Oh sayangku, kau tidak apa-apa kan? Maafkan ibu ya, sayang. Karena ibu lalai mengawasimu." kata wanita itu menyesal.

"Jangan khawatir, nyonya. Dia tidak apa-apa. Mungkin dia hanya kaget saja." jelas gadis itu sambil menyerahkan balita dalam dekapannya pada sang ibu.

"Aku ucapkan banyak terima kasih padamu, nona. Aku sungguh tak tahu apa yang akan terjadi pada putraku jika seandainya kau tak menyelamatkannya. Sekali lagi, aku ucapkan banyak terima kasih."

"Tidak apa-apa, nyonya. Jangan sungkan seperti itu. Aku hanya berusaha membantu semampuku saja." kata gadis itu sambil tersenyum.

"Tapi gara-gara kau menyelamatkan putraku, kakimu jadi terluka. Lihatlah, darah yang keluar sangat banyak."

"Oh ini, mungkin ini tadi karena aku terjatuh saat berlari meraih putra anda. Tapi ini hanya luka kecil saja, jadi anda tak perlu khawatir. Yang paling penting adalah putra anda selamat. Benar kan?"

"Aku sungguh menyesal sekali dengan kejadian ini. Tapi bagaimana pun juga aku berhutang budi padamu. O ya, kita belum berkenalan. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu, nona?" tanya wanita cantik itu pada gadis penyelamat putranya.

"Namaku Sakura, Haruno Sakura."

"Nona Sakura ya. Kalau begitu perkenalkan, namaku Uchiha Kurenai. Dan ini adalah putraku satu-satunya, Uchiha Hoshi."

TBC

Balasan Review

SAASU7KEX jUst cHipmUnkZ :

Ini udah dilanjut, makasih udah mau review. Salam kenal ya...

Kien :

Masa sich kayak sinetron 'Inayah' ? Padahal fic ini terinspirasi dari drama korea lho. Ho...ho...ho...

rchrt :

Iya dech, akan aku usahain buat rajin update. V^_^

Nakamura Kumiko-chan :

Kecepetan ya alurnya ? Tabita juga ngerasa gitu sich *ngaku juga*. Jadinya agak berkesan aneh ya ? Tabita akan berusaha keras lagi untuk memperbaiki chapter selanjutnya. Thankz buat masukannya. ^_^

Sz :

Thankz udah review, udah diupdate nich.

Sky pea-chan :

Makasih udah bilang kalau kamu suka sekali sama fic ini. Aku juga suka kamu (muji-muji biar fic nya dibaca dan direview terus) V^_^

Tanpa nama :

Aku udah usahain buat update cepet. Tapi itu tergantung ide mengalir sich. He3...

Maya :

Nie udah diupdate. Kilatkah ? He3...

VVVV :

Hubungan SasuSaku pasti masih seru kok. Rajin baca n review ya *ngarep* He3...

cherryharuno :

Waduh sedikit maksa nich kayaknya, Tabita jadi takut. He3...Aku usahain SasuSakunya segera nongol.

Ren-Mi3 Novanta :

Hallo juga, thankz udah mau review lagi. Aku juga ngerasa Sakura disini kok kasihan banget ya ? Hik...hiks...T_T

Namikaze-Tania-Chan :

Itachi nanti pasti akan tahu kok kalau anaknya itu lahir dari rahim Sakura dan bukannya dari rahim Kurenai. Tapi masih agak lama sich ketahuannya. He3...

Rei Nanda :

Annyeonghaseyo...makasih udah bilang fic ini keren. Tetep rajin review ya...

4ntk4-ch4n :

Sasuke tetep cinta mati kok sama Sakura, jadi jangan khawatir. Ok !

Sabaku no Uzumaki :

Makasih udah bilang fic ini keren dan makasih buat reviewnya ya...

Udah Tabita balas semua kan reviewnya ? Dan makasih Tabita ucapkan buat para reader yang selalu aja rajin membaca dan mereview fic Tabita ini ^_^.

PERHATIAN ! MINTA REVIEW YA ?