Alow semuanya...Tabita nongol lagi dengan membawa chapter 7. He...he...he...Maaf kalau updatenya agak lama. Coz Tabita masih ada urusan penting yang harus diberesin dulu (Sok sibuk) ^_^ Ya udah, langsung lanjut aja ya...CHAPTER 7 DATANG !
Balasan Review
VVVV :
Ntar ceritanya juga aku mau buat gitu kok. Si Hoshi akan deket banget sama Sakura. Jadi tenang aja dech...^_^
Nao :
Jangan dibenci donk anaknya Sakura, kan kasihan. He3...
Namikaze-Tania-Chan :
Aku memang terinspirasi dari adegan Yu Kyung sama Ma Jun waktu di rumah sakit. Coz menurutku romantis banget. Makanya aku masukin dech di fic ini V^_^
Ren-Mi3 Novanta :
Ga' apa-apa kok reviewnya telat. Kan lebih baik telat daripada tidak review sama sekali. Iya ga'?
Nakamura Kumiko-chan :
Ck...sama, Tabita juga ga' bisa kebayang sama pertemuan mereka *lho?* He3...
Sasusaku Hikaru :
Kurang berasa ya SasuSakunya? Ehm, ntar coba Tabita buat lebih berasa lagi dech. Ho3...
Kurosaki Kuchiki :
Hallo salam kenal...kalau pengen tahu gimana perasaan Sakura begitu tahu Hoshi itu anaknya rajin baca n review ya...
Lady Spain :
Biar ga' bingung, rajin baca n review ya...*ngarep*
4ntk4-ch4n :
Saking banyak pertanyaannya, Tabita sampai bingung mau jawab apa. He3...
Just Ana :
Pusing juga sich, makanya itu Tabita selalu siap sedia obat pusing sebelum update fic. He3...
rchrt :
Makasih udah review lagi. Udah diupdate.
Mimi :
Alow, makasih udah review. Semoga chap-chap selanjutnya bisa terus buat kamu tertarik ya. Ho3...
Kazuma b'tomat :
Thankz udah mau review lagi. Aku author baru, jadi maklum kalau ada kesalahan. Tapi thankz buat sarannya. Akan aku perbaiki lagi ^_^
Black-wingked reaper :
Thankz udah review. Okey2 udah diupdate nich !
Sky pea-chan :
Alow...udah diupdate nich ^_^
Cinta 1000 Tahun
By
Tabita Pinkybunny
Disclaimer :
Sampai kapan pun bahkan sampai
kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap
punya Mr. Masashi Kishimoto
Warning :
Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.
Bahasa dan rangkaian kata kurang
begitu menarik.
Don't like, don't read !
No flame !
Summary :
Sakura awalnya hanyalah gadis biasa
yang hidup dalam
sebuah keluarga sederhana.
Namun kehidupannya berubah drastis
saat dirinya terpaksa harus melakukan
Surrogancy untuk sepasang suami-istri
yang telah lama tak memiliki anak demi
operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya
telah datang, apa yang harus dia lakukan ?
Chapter 7
"Aku sungguh menyesal sekali dengan kejadian ini. Tapi bagaimana pun juga aku berhutang budi padamu. O ya, kita belum berkenalan. Kalau aku boleh tahu, siapa namamu, nona?" tanya wanita cantik itu pada gadis penyelamat putranya.
"Namaku Sakura, Haruno Sakura."
"Nona Sakura ya. Kalau begitu perkenalkan, namaku Uchiha Kurenai. Dan ini adalah putraku satu-satunya, Uchiha Hoshi."
"Uchiha?"
"Ya, Uchiha. Kenapa? Apa nama keluargaku mengingatkanmu pada sesuatu?" Kurenai balik bertanya.
"Ehm, tidak. Hanya saja saya adalah salah satu pegawai di perusahaan Sharingan, nyonya."
"Benarkah itu? Ini suatu kebetulan yang tak terduga. Kalau boleh tahu, kau bekerja untuk siapa? Suamiku, Uchiha Itachi, atau adik iparku, Uchiha Sasuke?"
"Saya bekerja untuk tuan Sasuke. Sebagai sekretaris." jawab Sakura.
"Jadi rupanya kau sekretaris Sasuke ya? Aku benar-benar tak menyangka jika Sasuke mempunyai seorang sekretaris yang sangat cantik sepertimu." kata Kurenai yang langsung membuat Sakura blushing.
"Nyo...Nyonya, Anda terlalu berlebihan."
"Ahahaha...tidak kok. Aku bicara yang sebenarnya. Kau memang sangat cantik, Sakura. Dan Sasuke sangat beruntung bisa bekerja bersama denganmu. Mungkin jika Itachi yang bekerja denganmu, aku bisa cemburu setiap hari."
"A...Apa?"
"Ahahaha...aku hanya bercanda saja. Jadi jangan kau anggap serius ya..."
"I...Iya, nyonya. Saya mengerti."
"Tapi sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak padamu karena kau sudah menyelamatkan putraku. Aku tak tahu harus membalasmu dengan apa."
"Jangan seperti itu, nyonya. Saya melakukan ini semua dengan ikhlas. Jadi Anda tak perlu sungkan." kata Sakura sambil tersenyum yang dibalas dengan sebuah senyuman juga oleh Kurenai.
"Mungkin lain waktu kita bisa makan siang bersama. Dan aku harap kau tidak keberatan, Sakura." pinta Kurenai pada gadis soft pink itu.
"Tentu saja, nyonya. Saya akan dengan senang hati menerima undangan Anda itu. Terima kasih."
"Dan aku harap kita bisa sering bertemu. Aku ingin kita bisa lebih akrab lagi."
"Iya nyonya, saya harap juga begitu. Dan semoga, saya juga bisa akrab dengan Hoshi. Dia anak yang tampan dan manis." kata Sakura sambil mengusap lembut kepala Hoshi yang dibalas dengan tawa renyah dari bocah mungil itu.
"Aku yakin kau dan Hoshi pasti bisa menjadi akrab. Dan sepertinya Hoshi juga menyukaimu, Sakura. Iya kan sayang? Kau menyukai bibi Sakura kan?" tanya Kurenai pada putra kesayangannya.
"Hm, aku suka bibi. Bibi sangat cantik." kata Hoshi ceria.
"Benarkah bibi cantik? Terima kasih sayang. Kau juga sangat tampan. Bibi sayang padamu." Sakura mencium pipi tembem Uchiha kecil itu yang dibalas ciuman juga oleh Hoshi.
"O ya, bagaimana kalau kau bertemu dengan ibu mertuaku? Dia pasti akan senang berkenalan denganmu, Sakura." tawar Kurenai.
"Ehm, saya ingin sekali, nyonya. Tapi maaf, saya harus segera pulang. Keluarga saya sudah menunggu saya dirumah. Jadi mungkin lain kali saja saya bertemu dengan nyonya besar." jawab Sakura sedikit menyesal.
"Hm, begitu ya. Sayang sekali kalau begitu. Padahal aku ingin sekali memperkenalkanmu dengan ibu mertuaku."
"Sekali lagi saya minta maaf, nyonya."
"Ah, tidak apa-apa. Kan lain kali juga bisa. Iya kan?"
"Ya, Anda benar. Baiklah, kalau begitu saya mohon pamit. Sampai jumpa nyonya..."
"Ya, sampai jumpa Sakura...Ayo Hoshi, beri salam pada bibi!"
"Sampai jumpa bibi cantik..." kata Hoshi dengan imutnya membuat Sakura gemas.
"Sampai jumpa juga Hoshi..." jawab Sakura kembali mencium pipi Hoshi dan segera berlalu dari hadapan ibu dan anak itu.
"Kau itu kemana saja, hah! Membuat orang jadi kebingungan saja. Jangan membawa Hoshi ke sembarang tempat. Dasar!" kata Mikoto marah-marah sesaat setelah bertemu dengan Kurenai yang tiba-tiba saja menghilang dari acara jalan-jalan mereka.
"Ma...Maaf bu, bukan maksudku untuk membuat ibu cemas. Aku tadi hanya mengajak Hoshi untuk membeli ice cream saja sebentar." Kurenai mencoba menjelaskan.
"Tapi kan harusnya kau itu ijin dulu padaku, Kurenai. Jangan asal membawanya pergi. Benar-benar lancang kau ini!"
"Maafkan aku, bu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Lain kali aku akan ijin lebih dahulu sebelum aku mengajak Hoshi pergi."
"Itu memang yang seharusnya kau lakukan. Tapi tidak ada yang terjadi kan selama kalian berdua pergi tadi?" tanya Mikoto.
"Ehm itu, sebenarnya tadi ada suatu kejadian yang dialami Hoshi." Kurenai mencoba berterus terang.
"Apa maksudmu? Kejadian apa itu? Cepat katakan!"
"Tadi Hoshi hampir saja tertabrak truk, bu. Tapi untungnya ada seorang gadis yang menolongnya."
"Apa kau bilang! Hampir ditabrak truk! Kau ini benar-benar tak berguna, Kurenai. Menjaga anak saja kau tidak bisa. Benar-benar tak becus!"
"..."
"Tahu begini, seharusnya aku tak membiarkanmu mengasuh Hoshi. Kau mensia-siakan Hoshi karena dia bukan lahir dari rahimmu kan, Kurenai? Iya kan!"
Deg ! Jantung Kurenai tertohok seketika. Pernyataan Mikoto bagi sembilu yang menyayat hatinya. Dan jujur, rasanya begitu sakit dan perih.
Kurenai amat tahu jika memang Hoshi tidak lahir dari rahimnya. Namun, anak itu tetaplah benih suaminya yang sudah dia anggap seperti putra kandungnya sendiri. Dan ini akan berlaku selamanya. Kurenai telah berjanji.
"Ibu, kenapa ibu tega mengatakan hal itu? Aku tahu, Hoshi memang tidak lahir dari rahimku. Tapi demi Tuhan bu, aku sangat menyayanginya. Dan aku sudah menganggapnya seperti putra kandungku sendiri. Aku berani bersumpah, bu." Kurenai berkata sambil menahan air matanya agar tak jatuh.
"Jika memang kau menganggap Hoshi sebagai putramu sendiri, seharusnya kau itu lebih berhati-hati dalam menjaganya. Dan bukannya justru ceroboh dan membiarkan Hoshi dalam bahaya seperti ini. Itachi juga pasti akan marah dan kecewa padamu jika dia tahu kejadian ini. Sungguh keterlaluan sekali."
"Ma...Maafkan aku, bu. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku berjanji."
"Hn, baiklah. Kali ini aku memaafkanmu, Kurenai. Dan aku tak menceritakan kejadian ini pada Itachi. Tapi kau harus pegang janjimu itu baik-baik. Kau paham!"
"Iya bu, aku paham. Aku akan pegang janjiku ini baik-baik. Dan aku tak akan mengecewakan ibu dan Itachi lagi."
"Lalu dimana gadis yang kau bilang sudah menolong Hoshi?" Mikoto mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencoba mencari sosok gadis yang telah menyelamatkan nyawa cucu semata wayangnya itu.
"Dia sudah pergi, bu. Karena katanya ada acara dengan keluarganya. Tapi jika ibu ingin bertemu dengannya aku rasa cukup mudah. Karena dia ternyata bekerja di perusahaan kita sebagai sekretaris Sasuke."
"Begitu ya. Mungkin lain kali saja aku akan mencoba menemuinya. Ya sudah, sekarang kita pulang. Hoshi juga pasti sudah lelah." ajak Mikoto.
"Iya, bu." jawab Kurenai dan segera mengikuti Mikoto meninggalkan tempat itu.
Sakura memasuki kamar tidurnya yang bernuasa pink dan langsung merebahkan tubuh letihnya di ranjang ukuran queen size. Dipandangnya langit-langit kamar yang sedikit kusam itu sambil berpikir akan semua kejadian yang dia alami hari ini. Terutama pertemuannya dengan Hoshi. Seorang balita mungil yang tampan dengan rambut hitam dan mata onyxnya.
Entah mengapa semenjak Sakura bertemu dengan Uchiha mungil itu, dia merasa seperti sangat mengenal anak itu. Dan saat tubuh mungilnya berada dalam dekapan hangat Sakura, dia merasa antara dia dan Hoshi seperti memiliki suatu ikatan yang erat yang tak bisa dipisahkan. Meski Sakura sendiri tak tahu ikatan apa itu, tapi yang pasti Hoshi mempunyai tempat istimewa tersendiri dihatinya.
"Hoshi...Kenapa anak itu seperti sudah sangat aku kenal? Sebenarnya, siapa dia?" tanya Sakura pada dirinya sendiri dan perlahan memejamkan mata emeraldnya, membawa dirinya ke alam tidur.
Perusahaan Sharingan.
Sakura tengah sibuk dalam ruang file untuk mencari sebuah file perusahaan yang sangat dibutuhkannya sebagai resensi untuk tugasnya kali ini. Indera penglihatannya dari tadi tak berhenti mencari file yang dibutuhkannya itu diantara tumpukan file-file yang tebal dan juga berdebu.
Meski dari tadi dia harus rela dijatuhi debu dan kotoran yang membuat rambut pink dan pakaian kerjanya kotor berantakan, dia sama sekali tak mempedulikannya. Yang paling utama sekarang adalah file itu harus segera ketemu dan dia bisa langsung mulai bekerja. Namun file yang dimaksud belum juga dapat ditemukan. Dan ini mulai membuat Sakura pusing tujuh keliling.
"Hah, sebenarnya file itu dimana sich? Aku sudah membuang waktu setengah jam hanya untuk mencari file itu." Sakura mulai kesal dan putus asa. Dan mata emeraldnya tiba-tiba menangkap sebuah tangga dipojok rak yang seperti tengah memanggilnya untuk digunakan.
"Aku bisa gunakan tangga itu untuk menjangkau bagian atas rak. Siapa tahu file yang aku cari ada disana." kata Sakura mulai mengambil tangga itu dengan susah payah dan meletakkannya tepat didepan rak.
Tubuh mungil Sakura dengan perlahan mulai memanjat tangga stainless itu tanpa dirinya melepaskan terlebih dahulu sepatu high heels nya. Dan rupanya ini akan menjadi salah satu kesalahan bodohnya saat ini. Ketika kakinya mulai berpijak ke tangga yang kelima, tiba-tiba sepatu yang dipakainya meleset dari jalan yang seharusnya dan membuat tubuh Sakura menjadi tak stabil dan terhuyung ke belakang.
"Kyaaa...aaa...!" Sakura langsung menutup matanya menunggu rasa sakit terbentur lantai akan tiba. Apalagi tepat dibelakangnya kini ada sebuah meja kayu kokoh yang kemungkinan akan menghantamnya juga dan menambah rasa sakitnya. Itu yang ada dibenak Sakura saat ini. Namun, rasa sakit yang dinanti itu tak kunjung datang juga. Yang Sakura rasakan kini justru sebuah tangan kekar yang tengah mendekapnya erat atau lebih tepatnya sedang menggendongnya, yang membuat tubuh Sakura terhindar dari tragedi 'sudah jatuh tertimpa tangga'.
"Kau tidak apa-apa?" tanya seseorang yang suaranya sudah sangat dikenal Sakura.
"I...Iya, aku tidak apa-apa." jawab Sakura sesaat setelah membuka matanya dan tampak wajah tampan Sasuke tepat ada dihadapannya. Sangat dekat. Bahkan nafas Sasuke pun bisa Sakura rasakan.
"Kau itu bodoh atau apa, hah! Naik tangga dengan sepatu itu. Apa kau kira kau itu salah satu kelompok sirkus?" Sasuke mulai bicara ngacau.
"Apa? Kelompok sirkus?" tanya Sakura bego.
"Memangnya kau tidak bisa menyuruh pegawai pria membantumu? Kenapa harus kau sendiri yang naik tangga itu? Membuat orang cemas saja!"
"Ma...Maaf. Aku hanya tidak mau merepotkan orang lain saja." jawab Sakura.
"Tapi jika kau jatuh dan terluka, aku yang akan repot. Kau tahu tidak!" Sasuke berterus terang yang langsung membuat Sakura blushing di tempat.
"Sekali lagi aku minta maaf. Tapi Sasuke, itu..." kata Sakura gugup. Bahkan saking gugupnya, dia lupa memanggil Sasuke dengan sebutan 'tuan' seperti biasanya.
"Hn, apa?"
"Itu, ano..."
"Ano apa?"
"Bi...Bisakah kau turunkan aku? Ka...Karena tidak nyaman dalam posisi seperti ini." kata Sakura malu-malu yang langsung membuat Sasuke segera sadar bahwa dirinya masih dalam posisi menggendong Sakura.
"Ehem, maaf. Maafkan aku, Sakura." kata Sasuke yang langsung menurunkan tubuh Sakura, walaupun dalam hatinya dia ingin lebih lama dalam posisi seperti ini.
"Terima kasih." Sakura segera membetulkan pakaiannya yang berantakan. Apalagi setelah acara gendong-menggendong tadi.
"Ehm, kau sedang apa disini?" tanya Sasuke berusaha mencairkan suasana yang sempat tegang diantara keduanya.
"Ini kan ruang file, tentu saja aku kesini untuk mencari sebuah file." jawab Sakura yang sekarang membuat Sasuke terlihat bodoh karena menanyakan hal yang dia sendiri seharusnya sudah tahu jawabannya.
"Ah, iya. Kau benar. Tentu saja kau ada disini karena mencari sebuah file. Tidak mungkin mencari makanan."
"Apa?"
"Tidak apa-apa, lupakan saja." kata Sasuke yang mulai merutuki dirinya sendiri dengan 'baka' berulang-ulang, karena dia merasa kali ini dia terlihat bodoh dan sangat konyol.
"Lalu kau sendiri sedang apa disini?" tanya Sakura yang langsung membuat Sasuke tersentak. Dia belum menemukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Sakura yang sangat mudah itu. Karena sejujurnya dia sendiri tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya dia bisa datang ke ruangan ini dikarenakan tadi tanpa sengaja Sasuke melihat sosok Sakura saat dia hendak menuju ruang kerjanya. Tapi tak mungkin dia akan menggunakan jawaban 'aku disini karena tak sengaja melihatmu', ini akan segera menjatuhkan imagenya sebagai seorang Uchiha Sasuke. Dan Sakura pasti langsung menganggapnya sebagai 'wakil direktur yang tak punya kerjaan'.
"Aku...Aku disini juga sedang mencari file. Sama sepertimu." Sasuke menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Begitu. Tapi kenapa kau melakukannya sendiri? Kau kan bisa menyuruh pegawaimu. Aku misalnya?"
"Aku lebih suka mengerjakannya sendiri. Bisa duduk sebentar?" ajak Sasuke sambil menunjuk dua buah kursi disamping pintu. Sakura hanya mengangguk pelan dan mengikuti Sasuke untuk menempati salah satu kursi dari bahan plastik itu.
"Sasuke..."
"Hn."
"Terima kasih banyak."
"Untuk?"
"Karena kau sudah menolongku."
"Terima kasih juga, Sakura." Sakura menatap Sasuke dengan penuh tanya, karena gadis pink itu tak mengerti dengan maksud pemuda raven disampingnya.
" Terima kasih? Untuk apa?" Kini Sakura yang balik bertanya.
"Karena kau hanya memanggilku dengan Sasuke, dan tanpa ada kata 'tuan' seperti yang biasa kau lakukan saat kita ada di kantor."
"I...Itu, aku..."
"Tak apa. Aku lebih suka kau hanya memanggilku dengan Sasuke. Karena jujur saja, ada rasa menggelitik setiap kau memanggilku dengan 'tuan Sasuke'. Rasanya sedikit perih. Seperti ada jarak yang jauh diantara kita."
"..."
"Kenapa diam?"
"Ah, ma...maaf. Aku hanya bingung saja harus berkata apa." Sakura meremas roknya pelan, namun cukup untuk membuat rok tak berdosa itu kusut. Sasuke yang sedikit mencuri pandang akan tingkah Sakura itu pun tersenyum, yang tentunya tak diketahui oleh Sakura.
"Ehem, kau tampak tegang, Sakura?"
"A...Apa? Ah, ti...tidak kok. Aku tidak tegang." Sakura menambah remasan diroknya.
"Benarkah?" tanya Sasuke sedikit menyeringai menatap wajah gugup Sakura yang tampak lucu.
"Te...Tentu saja benar." Gawat! Pikiran Sakura mulai kacau. Dan Sasuke senang akan hal itu.
"Apa kau yakin, hm?" kata Sasuke tepat ditelinga Sakura, yang membuat gadis itu geli.
"Y...Ya..." kata Sakura pelan dan keringat dingin mulai keluar.
"Tapi kenapa sepertinya aku tak dengar apapun ya?" tanya Sasuke dan mulai menggigit kecil cuping telinga Sakura.
"Ehm, mungkin ada yang salah dengan pendengaranmu. Sebaiknya kau segera ke dokter, Sasuke."
"Begitukah?"
"Y...Ya, mungkin saja. Bu...Bukankah kau seharusnya mencari sebuah file?" Sakura mendorong pelan tubuh Sasuke menjauh dari dirinya.
"Benarkah? Tapi kenapa aku sedikit lupa ya?"
"Aku rasa kau harus segera mencarinya, Sasuke. Karena siapa tahu file itu penting. Lagipula aku-hmphf." Sebelum Sakura menyelesaikan ucapannya, bibirnya sudah terlebih dahulu dikunci oleh bibir Sasuke. Hanya sebuah ciuman ringan, namun cukup membuat detak jantung Sakura berhenti.
Sakura POV.
Demi Tuhanku yang menciptakan. Aku yakin jika saat ini aku pasti sedang bermimpi. Setengah nyawaku kini mungkin sudah melayang ke alam bawah sadar. Ini hanya sebuah halusinasiku saja. Dan aku yakin akan hal itu.
Tidak mungkin sekarang Sasuke sedang menciumku. Ini pasti salah dan tidak benar. Tapi jika memang ini hanya mimpi, kenapa sapuan bibir Sasuke sangat aku rasakan dibibirku? Kenapa rasa basah, hangat bercampur dengan rasa manis itu begitu nyata? Apa mungkin ini bukanlah sebuah mimpi? Aku benar-benar tak bisa berpikir jernih sekarang. Otakku serasa beku.
Dan yang membuatku lebih heran, kenapa aku tak bisa menolak perbuatan Sasuke ini padaku? Padahal sebenarnya aku ingin. Pasti ada yang salah dengan diriku sekarang. Sangat salah.
PLAAAK ! "Apa yang kau lakukan! Tega-teganya kau memperlakukan aku seperti ini. Kau kira kau siapa, hah!" teriakku pada Sasuke saat sebelumnya aku sempat mendaratkan sebuah tamparan ke pipinya.
"..." Sasuke hanya diam sambil memegangi pipinya yang sedikit merah akibat tamparanku tadi. Dia tak berani menatapku yang ada disampingnya, dan lebih memilih menatap ke depan. Sebuah tatapan kosong yang sedikit menggambarkan ada sebuah penyesalan disana. Penyesalan? Hah! Aku sendiri tak yakin dia menyesali perbuatannya barusan padaku. Ini pasti hanya salah satu triknya saja untuk membuatku kasihan padanya. Aku yakin itu.
"Jangan kira karena aku ini bawahanmu, jadi kau bisa berbuat seenaknya padaku! Aku ini punya harga diri, Sasuke. Dan aku tak suka dengan caramu memperlakukanku seperti ini." Aku mencoba mengatur nafasku kembali yang tadi sempat tak stabil sambil menatap tajam ke arah Sasuke. Sebuah tatapan marah.
"..." Dia masih tak berkomentar apapun. Bahkan meminta maaf atas perbuatannya pun tidak. Benar-benar keterlaluan. Apakah setinggi itu derajatnya? Hingga mengucapkan kata maaf dan mengakui kesalahannya saja adalah suatu hal yang haram bagi seorang Uchiha sepertinya.
"Apa ini alasanmu yang sebenarnya datang kemari? Bukannya mencari file, melainkan hanya untuk merendahkan harga diriku. Begitu, Sasuke? Begitukah, hah!"
"..."
"Bahkan mengucapkan kata 'maaf' saja kau tak bisa. Kau benar-benar keterlaluan. Aku sungguh menyesal sudah mencoba menerima kehadiranmu. Sangat menyesal. Dan kita seharusnya memang tak boleh dekat. Karena kita ini tak pernah cocok satu sama lain. Seharusnya aku sudah menyadari hali ini sejak awal." Kataku dan hendak meninggalkan ruangan ini sambil berusaha menahan air mataku agar tak jatuh. Namun, Sasuke segera menarik tanganku dengan erat hingga aku tak bisa beranjak dari hadapannya.
"Lepaskan! Jangan berani kau sentuh aku lagi!" kataku sedikit kasar. Tapi aku tak peduli.
"Maaf...Maafkan aku, Sakura." Akhirnya kata itu keluar juga dari bibirnya. Dan sepertinya itu tulus. Aku pun membalikkan tubuhku untuk menatapnya. Disana...dimata onyxnya, aku bisa melihat sesuatu yang membuatku terenyuh saat aku menatap kedalamnya. Mata Sasuke...sedikit berkaca. Dan aku rasa mata emeraldku tak salah lihat.
"Maafkan aku, Sakura. Aku menyesal. Sungguh..."
Normal POV.
"..." Sakura masih menatap Sasuke tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Jujur saja saat ini dia juga tak tahu harus berkata apa ketika melihat Sasuke bersikap seperti ini.
"Aku sudah bersikap keterlaluan padamu. Aku sudah menyakitimu dan membuatmu terluka. Tapi jujur, aku tak punya maksud apa-apa padamu. Aku sama sekali tak berniat untuk merendahkan harga dirimu, Sakura. Aku berani bersumpah." kata Sasuke dan akhirnya melepaskan pegangan tangannya pada Sakura.
"Lalu, kenapa kau lakukan itu padaku? Kenapa kau...kau menciumku?" tanya Sakura susah payah dengan sedikit rona merah menghiasi wajah cantiknya.
"Karena aku mencintaimu, Sakura. Itulah alasan kenapa aku bisa bertindak sekonyol itu tadi. Dan asal kau tahu, aku hanya akan berciuman dengan orang yang aku cintai saja. Dan itu adalah kau."
"Bukankah dulu aku pernah bilang jika kau pasti akan menyesal karena mencintaiku? Dan aku yakin kau juga pasti masih ingat." Sakura mencoba membuka kembali ingatan Sasuke tentang perkataan Sakura yang menolaknya sebelum dia pergi meninggalkan Sasuke beberapa tahun yang lalu. Setelah mendengar perkataan Sakura, Sasuke justru hanya tersenyum dan kembali duduk ke kursi sambil bersandar ke dinding belakangnya. Sakura hanya menatap pemuda raven itu heran dan penuh tanya.
"Yah...aku ingat akan hal itu. Sangat ingat. Tapi aku rasa kau juga pasti ingat apa yang aku katakan padamu saat itu, Sakura? Aku bilang jika aku tak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu. Dan meski beribu kali aku tahu aku akan terluka, aku tak peduli. Karena nantinya aku pasti akan memperoleh kebahagiaan. Dan itu hanya denganmu, Sakura."
"Sasuke, kau benar-benar..."
"Keras kepala. Itu kan yang mau kau katakan, Sakura? Mungkin kau benar, aku memang keras kepala, bodoh, atau apapun kau menganggapku. Tapi itulah aku. Uchiha Sasuke. Yang rela berkorban apapun untukmu asal kau bahagia. Yang mencintaimu dengan tulus, meski kau tak memandangku. Dan yang selalu ada untukmu saat kau butuh, meski kau tak memintanya. Itulah diriku, Sakura. Sasuke yang kau kenal."
Sakura berjalan mendekati Sasuke dan duduk disampingnya lagi. Dirogohnya saku pakaian kerjanya, dan dia keluarkan sebuah sapu tangan renda berwarna pink. Dengan pasti, tangan Sakura pun menyentuh pipi kiri Sasuke dan mengusap bekas tamparan itu dengan lembut.
"Sa...Sakura..." Sasuke sedikit terkejut dengan perbuatan Sakura, namun dia cukup menikmati setiap sentuhan Sakura dipipinya.
"Sakitkah?" tanya Sakura sambil mengusap tanda merah itu.
"A...Apa?" Sasuke masih belum bisa merespon pertanyaan Sakura.
"Bekas tamparanku, masih terasa sakitkah?" tanya Sakura sekali lagi.
"Itu, aku..."
"Maaf. Aku tak bermaksud menyakitimu, Sasuke. Aku tadi hanya terkejut saja dengan perbuatanmu tadi. Sekali lagi aku minta maaf." Sakura menunduk menyesal.
"Tidak, tak perlu minta maaf. Wajar saja jika kau menamparku tadi. Aku sudah berbuat tidak sopan padamu. Jadi harusnya aku yang minta maaf. Bukannya kau."
"Boleh aku tanya sesuatu padamu?" tanya Sakura yang membuat pemuda Uchiha itu menatapnya.
"Hn, apa itu?"
"Kenapa aku, Sasuke?" Sakura meremas sapu tangan yang ada digenggamannya dengan gugup.
"Maksudmu?" tanya Sasuke tak mengerti.
"Kenapa aku yang kau pilih? Bukankah banyak wanita yang pantas untukmu? Yang lebih baik daripada aku. Kau seorang Uchiha, jadi aku rasa kau pasti bisa mendapatkan wanita yang sejajar derajatnya denganmu."
"Aku tak butuh derajat atau kedudukan."
"A...Apa?"
"Aku mencari cinta sejati. Dan bukannya derajat seperti yang kau katakan itu. Dan aku yakin bahwa cinta sejatiku adalah kau, Sakura." jawab Sasuke yang langsung membuat Sakura tersentak.
"Sasuke, aku..."
"Jangan bicara apapun lagi. Yang aku butuhkan sekarang hanya pengakuanmu saja tentang perasaanku. Tak ada yang lain lagi. Dan sampai kapanpun aku akan tetap bersabar menunggumu. Sampai kapanpun..." kata Sasuke dan beranjak dari posisinya. Meninggalkan Sakura yang masih menatapnya heran.
"Sasuke, maafkan aku. Sebenarnya aku pun juga sangat mencintaimu. Tapi aku takut jika nantinya kau akan kecewa setelah kau tahu kebenaran tentang diriku. Aku sangat takut."
Skip Time.
Sasuke dan Sakura berada di ruang kerja Sasuke dan tengah sibuk menghitung laba perusahaan bulan lalu, saat tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk yang menghentikan sejenak aktivitas keduanya.
Tok...tok...tok...!
"Hn, masuk!" perintah Sasuke.
Dan tak beberapa lama pintu terbuka, menampakkan seorang wanita cantik berambut hitam panjang agak bergelombang dengan menggendong seorang balita yang sangat lucu.
"Apa aku mengganggu kalian, hm?" tanya Kurenai tersenyum melihat Sasuke begitu dekat dengan Sakura.
"Kakak ipar! Tumben sekali kakak datang kemari. Ada apa, kak?" tanya Sasuke pada wanita cantik itu.
"Aku tadi baru saja mengajak Hoshi jalan-jalan, dan kebetulan Hoshi rindu dengan ayahnya. Makanya aku mampir kemari." jawab Kurenai yang hanya ditanggapi Sasuke dengan anggukan tanda mengerti.
"Bibi cantik!" teriak Hoshi tiba-tiba saat melihat Sakura.
"Bibi cantik? Siapa yang dimaksud Hoshi dengan bibi cantik?" tanya Sasuke tak mengerti.
"Tentu saja Sakura. Siapa lagi?" jawab Kurenai.
"Sakura? Jadi maksud kakak ipar, kalian sudah kenal sebelumnya ya?"
"Ya, kurang lebih begitu."
"Hai Hoshi, bagaimana kabarmu tampan?" tanya Sakura pada balita mungil itu sambil mengusap lembut rambut hitam legamnya, yang disambut dengan tawa riang dari bocah itu.
"Dia baik-baik saja, Sakura. Kau sendiri, bagaimana kabarmu?" tanya Kurenai.
"Saya juga baik-baik saja, nyonya."
"Hm, kelihatannya juga begitu. Kau kelihatan...err sangat baik." kata Kurenai sambil tersenyum jahil ke arah Sasuke yang langsung membuat Sasuke salah tingkah.
"Maksud kakak ipar apa? Aku tidak mengerti." Sasuke berpura-pura memeriksa dokumen untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Ahahaha...aku tidak bermaksud apa-apa. Sudahlah, lupakan saja." jawab Kurenai agak geli melihat adik iparnya salah tingkah.
"Ehem, lalu adakah tujuan lain kakak datang kemari? Karena sepertinya tak mungkin kakak datang kemari hanya untuk bertemu Itachi saja. Apa dugaanku benar?" tanya Sasuke langsung pada intinya. Kurenai pun mendudukkan dirinya disalah satu kursi ruang tamu, dengan Hoshi masih ada dalam gendongannya.
"Kau itu sama persis dengan kakakmu. Selalu saja penasaran. Aku memang datang kemari ada tujuan lain, Sasuke." kata Kurenai sambil mendudukkan Hoshi disampingnya.
"Hn, apa itu?"
"Nanti malam, aku ingin mengundang Sakura untuk makan malam di rumah kita. Kau tak keberatan kan, Sasuke?"
"Saya? Makan malam? Ta...Tapi nyonya..."
"Hn, aku tak keberatan." kata Sasuke memotong ucapan Sakura yang kini menatapnya dengan tatapan 'apa maksudmu dengan kau tak keberatan, hah!'. Dan Sasuke hanya membalasnya dengan seringai mautnya.
"Baguslah. Itachi juga tak keberatan. Jadi Sakura, nanti malam jangan lupa pukul 7 malam kau datang ke rumah kami untuk makan malam. Bisa kan?"
"Ano, itu..."
"Dia pasti datang. Aku yang akan langsung menjemput dan mengantarkannya ke rumah kita. Jadi kakak ipar tak perlu khawatir." jawab Sasuke mengambil alih. Dasar!
"Hm, bagus itu. Memang itu yang aku harapkan. Baiklah, kalau begitu aku langsung pulang saja sekarang. Banyak yang harus aku persiapkan untuk acara nanti malam. Ayo Hoshi, kita pulang." kata Kurenai dan hendak meninggalkan ruang kerja Sasuke.
"Hati-hati di jalan, kak. Sampai jumpa Hoshi..." kata Sasuke.
"Sampai jumpa paman...Sampai jumpa bibi cantik..." kata Hoshi ceria.
"Sampai jumpa Sakura..."
"Sampai jumpa nyonya..." jawab Sakura. Kurenai dan Hoshi pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Sasuke dan Sakura yang kini saling memandang satu sama lain seperti memberikan isyarat atau telepati.
"Hn, apa?" tanya Sasuke yang sudah tak tahan dengan tatapan membunuh Sakura pada dirinya.
"Kenapa kau yang putuskan sich?"
"Ya karena aku atasanmu. Apa lagi?"
"Tapi kau harusnya tanya dulu pendapatku. Jangan asal memutuskan begitu."
"Sudahlah, jangan terlalu dibesar-besarkan. Lagipula makan malamnya gratis kok. Tidak bayar. Jadi kau tak perlu pusing." jawab Sasuke innocent.
"Bukan itu baka maksudku! Maksudku itu adalah..."
"Hn, aku sudah tahu. Jadi tak perlu kau jelaskan lagi."
"Sasuke! Kau itu..."
"Pokoknya nanti malam aku akan menjemputmu. Bersiaplah sebelum pukul 7. Dan..." Sasuke mendekati Sakura dan berbisik tepat ditelinga gadis itu.
"Berdandanlah yang cantik untukku." Yang langsung membuat tubuh Sakura tegang seketika dan aliran darahnya serasa berdesir.
"A...Aku...mau ke toilet sebentar!" kata Sakura yang langsung keluar dari ruang kerja Sasuke dengan langkah seribu (?)
"Kau semakin membuatku tertarik padamu, pinky." Sasuke tersenyum penuh arti melihat tingkah gadis itu.
Kediaman Uchiha.
"Apa semuanya sudah siap, Kurenai?" tanya Mikoto mengecek persiapan acara makan malam.
"Hampir semuanya sudah siap, bu. Hanya tinggal bebek pekingnya saja yang belum matang. Ehm, mungkin sekitar 5 menit lagi."
"Hn, baguslah. O ya, kapan kira-kira sekretaris Sasuke itu akan datang?"
"Tadi Sasuke menelepon, dia bilang 10 menit lagi mereka berdua sampai."
"Begitu ya, aku jadi tidak sabar ingin melihat sekretaris Sasuke itu. Apalagi dia sudah menyelamatkan Hoshi tempo lalu."
"Sebentar lagi ibu juga pasti bisa melihatnya. Dia gadis yang baik dan juga sangat cantik. Ibu pasti akan senang bertemu dengannya." kata Kurenai.
"Aku harap juga begitu."
Pukul 7 kurang 5 menit, Sasuke dan Sakura sudah sampai di kediaman Uchiha dengan mengendarai mobil Lamborgini hitam. Sakura malam ini mengenakan gaun putih panjang selutut, tanpa tali bahu dengan aksen pita pink dibagian pinggang. Rambut pinknya dia ikat ekor kuda dengan pemanis sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna silver di kepala sebelah kanan, yang menggambarkan kesan formal namun tetap tampak imut.
"Sasuke..." panggil Sakura sesaat sebelum memasuki pintu kediaman megah itu.
"Hn, ada apa?"
"A...Apa tidak apa-apa aku berpenampilan begini? Maksudku, aku takut jika ibumu tidak menyukaiku." Sakura tampak ragu.
"Kau sudah cantik, Sakura. Sangat cantik. Dan kau jangan khawatir, ada aku disini. Jadi kau tak perlu merasa takut." Sasuke menggandeng tangan Sakura erat dan membuat gadis itu sedikit merasa nyaman.
"Sasuke..."
"Percayalah, Sakura. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Sekarang, mari kita masuk! Ibuku dan yang lainnya pasti sudah menunggu kita." ajak Sasuke yang dibalas dengan anggukan oleh Sakura. Dan mereka berdua pun segera memasuki rumah itu.
"Kami sudah datang..." kata Sasuke sesaat setelah memasuki rumahnya.
"Ah, kalian sudah sampai rupanya. Ayo masuk!" kata Kurenai.
"Selamat malam nyonya..."
"Selamat malam Sakura, apa perjalananmu kemari lancar?"
"Iya, nyonya. Sangat lancar." jawab Sakura.
"Hm, bagus kalau begitu. Nah Hoshi, ayo beri salam pada bibi!"
"Hai, bibi cantik!"
"Ahahaha...hai juga Hoshi! Kau itu benar-benar lucu. Bibi gemas padamu." kata Sakura sambil mencubit pelan pipi Hoshi, yang membuat bocah itu tertawa. Begitu juga dengan Kurenai dan Sasuke yang ikut-ikutan tertawa melihat sikap Hoshi yang menggemaskan.
"Apa mereka sudah datang, sayang?" tanya Itachi yang baru keluar dari kamarnya.
"Ya, seperti yang bisa kau lihat sendiri. Mereka berdua sudah ada disini." jawab Kurenai.
"Selamat malam direktur..." sapa Sakura sambil membungkuk.
"Hn, selamat malam juga Sakura..." balas Itachi.
"Ngomong-ngomong, dimana ibu? Aku belum melihatnya?" tanya Sasuke sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan besar itu.
"Ibu sedang ada dikamarnya. Sebentar lagi ibu juga pasti keluar. Bersabarlah..." jawab Kurenai.
"Hn." kata Sasuke singkat. Dan tak beberapa lama, Mikoto pun keluar dari kamarnya dan menuju ruang tamu dimana semuanya telah berkumpul.
"Maaf, ibu agak lama. Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Mikoto.
"Iya, bu. Semuanya sudah berkumpul. Dan ibu, perkenalkan, dia adalah sekretaris Sasuke yang aku ceritakan pada ibu." kata Kurenai memperkenalkan Sakura pada Mikoto.
Dan betapa terkejutnya Mikoto, begitu dia mengetahui siapa sekretaris Sasuke yang dimaksud Kurenai. Yang telah menjadi malaikat penolong bagi cucu semata wayangnya, sekaligus selalu membuatnya penasaran selama ini. Dan ternyata dia...
"Kau...!"
"Nyo...Nyonya..."
TBC
Please, Review...V^_^
