Hai...hai...semuaaa...! Tabita datang membawa chapter 8 V^_^ Tabita sungguh tak menyangka kalau fic ini bisa sampai chapter 8. Padahal sebelumnya Tabita sangka fic ini ga' akan dapat respon positif dari reader semua. He3...Dan fic ini bisa sampai sejauh ini juga berkat saran dan semangat dari para reader semua. Oleh karena itu Tabita ucapkan banyak terima kasih. Ya udah, ga' usah banyak cincong, ini dia chapter 8 !

Balasan Review :

VVVV :

Kalau dibuat semua tokohnya baik, ntar ga' ada konfliknya donk. He3...

Midori Kumiko :

Biar ga' penasaran, udah update nich ^_^

Ren-Mi3 Novanta :

Halo juga, awas2...! Jendelanya tinggi lho, ntar bisa jatuh. He3...

Lady Spain :

Sasuke emang kayak bebek. Jadi asal nyosor aja. He3...*dichidori*

Aristania Caesarrani :

Masih ingat donk sama kamu. Kita kan temen di FB juga V^_^

4ntk4-ch4n :

Aku juga suka waktu SasuSaku kissing. Ho3...

SasuSaku Hikaru :

Kamu juga baik karena udah review lagi. Thankz ya...

Black-wingked reaper :

Biar ga' penasaran, baca aja. He3...

azure d'bee :

Udah dilanjutin nich. Jangan sampai ga' bisa tidur lagi ya ^_^

Serah Nuraini Farron :

Makasih karena udah review dan bilang kalau kamu suka sama fic ini.

Cinta 1000 Tahun

By

Tabita Pinkybunny

Disclaimer :

Sampai kapan pun bahkan sampai

kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap

punya Mr. Masashi Kishimoto

Warning :

Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.

Bahasa dan rangkaian kata kurang

begitu menarik.

Don't like, don't read !

No flame !

Summary :

Sakura awalnya hanyalah gadis biasa

yang hidup dalam

sebuah keluarga sederhana.

Namun kehidupannya berubah drastis

saat dirinya terpaksa harus melakukan

Surrogancy untuk sepasang suami-istri

yang telah lama tak memiliki anak demi

operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya

telah datang, apa yang harus dia lakukan ?

Chapter 8

"Maaf, ibu agak lama. Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya Mikoto.

"Iya, bu. Semuanya sudah berkumpul. Dan ibu, perkenalkan, dia adalah sekretaris Sasuke yang aku ceritakan pada ibu." kata Kurenai memperkenalkan Sakura pada Mikoto.

Dan betapa terkejutnya Mikoto, begitu dia mengetahui siapa sekretaris Sasuke yang dimaksud Kurenai. Yang telah menjadi malaikat penolong bagi cucu semata wayangnya, sekaligus selalu membuatnya penasaran selama ini. Dan ternyata dia...

"Kau...!"

"Nyo...Nyonya..."

Sakura POV.

Orang bilang takdir itu kejam, tak berpihak, dan sulit bagimu menghindari takdirmu sendiri. Takdir terkadang menyekapmu dalam permainannya, tak mengijinkanmu untuk bebas lepas begitu saja menikmati hari-harimu, meski kau telah berteriak 'cukup!' dan bilang kau telah lelah dan menyerah. Takdir kadang juga tak mau memberimu pilihan. Dan justru mengombang-ambingkan dirimu dalam ketidakpastian, hingga kau merasa hidupmu seperti bukan milikmu lagi dan telah sepenuhnya diatur oleh takdirmu itu.

Seperti halnya dengan diriku. Yang kini tengah dipermainkan dengan apa yang disebut takdir, dan sulit bagiku untuk melepaskan belenggu yang telah dibuatnya. Aku sudah mencoba menghindar dan berusaha melupakan masa laluku yang kelam, yang telah diatur oleh takdirku. Tapi sayangnya aku tak mampu. Karena akhirnya takdir jugalah yang kembali mempertemukanku dengan masa laluku itu dan kembali mengundangku kedalam permainannya yang kejam.

Keluarga Uchiha...itulah takdirku. Yang dulu memaksaku untuk berpisah dengan putraku demi kepentingan kebahagiaan mereka dan membuatku harus rela selama bertahun-tahun hidup dalam penderitaan dan rasa bersalah. Dan kini mereka jugalah yang membuatku bertemu kembali dengan putraku tersayang. Putra yang selama ini begitu aku rindukan dan selalu hadir dalam mimpi-mimpi malamku. Tapi sayang, momentnya tak tepat. Sungguh tak tepat wahai takdir. Karena kini aku baru saja merasakan cinta dan kebahagiaanku. Dan justru sekarang kau mau langsung merebutnya dari diriku, dan kembali menghempaskanku dalam kesengsaraan. Kejam, takdir memang kejam. Namun apa dayannya aku? Aku hanya manusia biasa yang tak dikaruniai kekuatan istimewa apapun untuk menghindari takdir yang kejam itu. Aku lemah dan menyedihkan. Dan yang bisa aku lakukan sekarang hanya bisa tertawa miris. Mentertawai nasibku sendiri yang begitu menyedihkan.

"Ibu sudah mengenal Sakura rupanya?" tanya nyonya Kurenai pada ibu mertuanya, sambil menimang Hoshi dalam gendongannya. Ya...Hoshi. Seorang bocah laki-laki yang tampan, dengan mata onyx dan rambut sehitam malamnya. Hoshi putraku yang dekat denganku, tapi terasa begitu jauh.

"Ehm, tidak begitu kenal. Hanya saja, kami pernah bertemu sekali ketika di Supermarket Konoha. Benar kan, Sakura?" tanya nyonya Mikoto padaku yang langsung membuat hatiku terasa sangat sakit. Bagaimana mungkin dia bilang jika aku dan dia tidak begitu mengenal? Padahal pada kenyataannya jelas-jelas dia sangat mengenalku. Dan kami telah terikat dalam suatu hubungan khusus yang sulit dilepaskan.

"Yang aku katakan tadi benar kan, Sakura?" tanya Mikoto sekali lagi padaku. Namun aku masih enggan menjawab pertanyaannya.

"..."

"Sakura, yang aku katakan tadi benar kan?"

"..."

"Sakura!" panggil nyonya Mikoto yang sedikit menyentakku dan akhirnya menyadarkanku dari lamunanku.

"I...Iya, itu benar. Saya dan nyonya Mikoto hanya baru bertemu sekali saja ketika saya dulu bekerja di Supermarket Konoha." Aku dengan susah payah berusaha menjelaskan. Yang membuatku ditatap heran oleh keluarga Uchiha yang lain.

"Apa kau baik-baik saja, Sakura?" tanya Sasuke yang sepertinya menyadari bahwa ada yang tak beres dengan diriku.

"A...Aku baik-baik saja. Kau jangan khawatir." Aku masih berusaha bersikap tenang, meskipun aku tahu wajahku tidak bisa berbohong.

"Hn. Aku harap juga begitu." kata Sasuke sambil merangkul pundakku yang langsung disambut dengan tatapan tak suka dari nyonya Mikoto.

"Kurenai, cepat siapkan makan malamnya! Ibu sudah lapar." kata nyonya Mikoto sedikit kesal yang dapat diketahui dari nada bicaranya. Dan aku tahu, itu karena aku.

"Ah, i...iya. Akan segera aku siapkan, bu. Mari langsung saja kita ke ruang makan." ajak nyonya Kurenai, yang langsung diikuti oleh kami semua.

Normal POV.

Seluruh keluarga Uchiha dan Sakura kini tengah ada di ruang makan menikmati acara makan malam mereka. Semua hidangan lezat telah tertata rapi menggugah selera, yang memang sengaja dipersiapkan sedemikian rupa untuk acara makan malam spesial ini. Makan malam spesial yang harusnya penuh dengan kebahagiaan dan kehangatan, serta tak ada beban dan rasa canggung diantara setiap orang yang mengikutinya. Namun pernyataan tersebut tidak berlaku bagi kedua wanita beda usia ini, Uchiha Mikoto dan Haruno Sakura. Yang akhirnya harus menjalani acara makan malam ini dengan perasaan tak nyaman dan tanpa adanya kenikmatan sedikit pun. Mengingat masa lalu diantara keduanya yang rumit. Yang menyeret keduanya dalam suatu hal yang disebut dengan kebohongan besar. Dan parahnya kebohongan itu ditujukan kepada semua orang yang kini ada di ruang makan ini juga. Orang-orang yang begitu mereka berdua cintai dan mereka sayangi. Ironis memang, tapi itulah tadi yang disebut dengan takdir.

"Apa kau sakit, Sakura?" tanya Sasuke mengawali percakapan ditengah-tengah acara makan malam.

"Ti...Tidak, aku baik-baik saja." Sakura berusaha menjawab pertanyaan Sasuke setenang mungkin.

"Apa kau yakin? Tapi sepertinya kau kurang sehat. Wajahmu tampak pucat." kata Sasuke sambil menyentuh kening Sakura untuk memastikan jika gadis pink itu dalam keadaan baik.

"Sungguh Sasuke, aku benar-benar tidak apa-apa. Kau jangan khawatir. Mungkin ini karena aku kelelahan saja."

"Tapi Sakura..."

"Sasuke, hentikan! Kau ini apa-apaan! Bukankah tadi kau sudah dengar sendiri kalau Sakura itu tidak apa-apa? Jadi kau tak perlu sampai bersikap berlebihan seperti itu." Mikoto langsung menyela ucapan Sasuke yang langsung membuat pemuda raven itu juga semua orang yang ada di ruang makan itu sedikit tersentak.

"Kenapa ibu marah? Aku kan hanya khawatir saja dengan kondisi Sakura."

"Tapi sikapmu itu terlalu berlebihan. Lagipula kan Sakura hanya sekretarismu. Jadi tak sepantasnya kau bersikap seperti itu." Mikoto mencoba mengingatkan Sasuke akan status Sakura yang semakin membuat Sakura rendah dimata keluarga Uchiha.

"Aku tak suka ibu bicara seperti itu tentang Sakura. Karena bagiku, Sakura itu..."

"Apa? Bagimu Sakura itu apa, Sasuke? Pacar? Kekasih? Begitukah, hah!"

"Ibu, aku..."

"Cukup, Sasuke. Hentikan! Jangan rusak acara makan malam ini. Lagipula ada Sakura disini, jadi jangan buat dia merasa tak nyaman." kata Itachi mencoba mendinginkan suasana makan malam yang berubah menjadi tegang.

"Tidak apa-apa, direktur. Jangan terlalu memikirkan saya. Saya baik-baik saja. Sungguh." jawab Sakura mencoba tersenyum.

"Ta...Tapi Sakura..."

"Sasuke, aku mohon. Aku benar-benar tak apa-apa. Percayalah..."

"Hn, maafkan aku. Aku terlalu bersikap berlebihan tadi."

"Ah, ya sudah. Kalau begitu jangan kita besar-besarkan lagi masalah ini. Ini kan makan malam spesial, jadi sayang jika harus dirusak hanya dengan masalah kecil seperti ini. Benar kan?" Kurenai mencoba membuat suasana kembali tenang, meskipun itu agak sulit.

"Bibi cantik, ini untuk bibi." kata Hoshi yang tiba-tiba turun dari kursinya dan menyerahkan sebutir apel pada Sakura.

"Hoshi, ini untuk bibi?" tanya Sakura sambil menerima apel yang diberikan Hoshi dan mengusap lembut pipi bocah mungil itu.

"Iya, itu untuk bibi, Karena aku sayang dengan bibi." jawab Hoshi dengan polosnya. Membuat hati Sakura terenyuh melihat ketulusan Uchiha kecil itu. Ketulusan putra kandungnya sendiri.

"Te...Terima kasih sayang. Bibi juga sayang padamu. Benar-benar menyayangimu." kata Sakura dengan memberi tekanan dikalimat terakhirnya. Dan terdengar dari nada suaranya, dia sedikit bergetar.

"Bibi jangan sedih ya, nanti aku juga ikut sedih." Hoshi langsung menghambur kepelukan Sakura dan memeluknya dengan erat. Seakan-akan bocah itu tahu akan kegelisahan sang ibu kandung, meski sebenarnya Hoshi sendiri tak tahu siapa sesungguhnya Sakura. Karena memang, ikatan ibu dan anak sangat sulit dipisahkan sampai kapanpun juga. Dan itu akan tetap abadi sampai mati.

"Tidak, bibi tidak sedih. Bibi baik-baik saja, sayang. Jadi Hoshi jangan khawatir." Sakura membalas pelukan Hoshi dan mencium pucuk kepalanya singkat.

"Hoshi sangat dekat denganmu ya, Sakura? Seperti kau itu ibu kandungnya sendiri." Kurenai tersenyum melihat kedekatan putranya dengan Sakura.

Deg! Seketika itu juga jantung Sakura terasa sakit setelah mendengar perkataan Kurenai. 'Seperti ibu kandungnya', kalimat itu terus saja berputar dikepala Sakura dan mulai membuatnya merasa pusing. Meski Kurenai bercanda dalam kalimatnya, namun tetap saja bagi Sakura kalimat itu bisa berubah menjadi sebuah belati tajam yang mampu menyayat dan merobek hatinya. Rasanya benar-benar sakit dan perih. Sakura ingin sekali menyangkal kalimat Kurenai itu dengan 'aku memang ibu kandungnya' dengan suara lantang dan berteriak lepas. Tapi sayangnya dia tak mampu. Atau lebih tepatnya dia tak bisa untuk melakukannya. Mengingat dulu dengan cara apa Sakura melepaskan anaknya itu. Suatu cara yang dilandasi dengan uang. Ya...uang. Uanglah penyebab Sakura rela melakukan kebohongan ini dan membuatnya harus berpisah dengan darah dagingnya.

Dan apa dengan mengatakan alasan ini kalian pikir Sakura akan dimaafkan dan mendapatkan putranya kembali? Aku menyesal bila harus mengatakan ini, tapi jawabannya adalah 'tidak bisa, Sakura. Kau tak berhak lagi atas anak itu'. Jadi, lupakanlah dia.

"Kurenai, bawa Hoshi ke kamarnya." kata Mikoto tiba-tiba.

"Tapi sepertinya Hoshi dan Sakura ingin..."

"Aku bilang, bawa Hoshi ke kamar! Kau tidak tuli kan?"

"I...Iya. Maafkan aku, bu. Ayo Hoshi, kita ke kamar!" ajak Kurenai pada putranya.

"Tidak mau. Aku masih mau bertemu dengan bibi cantik."

"Iya, sayang. Besok kan kau juga masih bisa bertemu lagi dengan bibi Sakura. Tapi sekarang kita pergi tidur dulu ya...Sudah malam." bujuk Kurenai sambil berusaha melepaskan Hoshi dari pelukan Sakura.

"Aku tidak mau tidur. Aku masih mau bersama bibi cantik."

"Tapi Hoshi, kau harus tidur sekarang." bujuk Kurenai sekali lagi.

"Pokoknya aku tidak mau. Aku mau sama bibi."

"Hoshi, cukup! Pergi dengan ibumu ke kamar. Sekarang!" teriak Mikoto yang langsung membuat nyali bocah 3,5 tahun itu menciut dan akhirnya dengan terpaksa melepaskan dekapan eratnya pada Sakura. Dan mengikuti perintah sang nenek untuk menuju kamar tidurnya. Itachi yang merasa acara makan malam spesial ini berubah menjadi makan malam yang tak menyenangkan pun akhirnya beranjak dari kursinya dan pamit undur diri.

"Aku mau membantu Kurenai menidurkan Hoshi. Permisi..." Itachi langsung meninggalkan ruang makan itu dan segera menaiki tangga menuju kamarnya di lantai 2.

"Apa ibu puas?" tanya Sasuke sambil menatap tajam Mikoto.

"Apa maksudmu?"

"Apa ibu puas, karena sudah merusak acara makan malam ini? Jika tahu begini, aku seharusnya tak membawa Sakura kesini. Jika hanya untuk menyaksikan pertunjukkan drama murahan keluarga kita. Ibu benar-benar keterlaluan."

"Kau itu yang keterlaluan! Berani sekali kau bicara seperti itu pada ibumu. Dasar anak tak tahu diri!"

"Ya, aku memang anak yang tak tahu diri. Tapi ibu jugalah yang memaksaku melakukan ini. Jadi jangan salahkan aku jika akhirnya aku bicara kasar seperti ini."

"Sasuke, kau...!"

"Ayo Sakura, aku antar kau pulang!" kata Sasuke membantu Sakura bangkit dari duduknya dan hendak mengajak gadis soft pink itu segera keluar dari rumah yang seperti neraka ini.

"Tunggu! Ibu ingin bicara sebentar dengan Sakura." kata Mikoto tiba-tiba yang langsung mendapat tatapan penuh tanya dari Sasuke dan Sakura.

"Ibu mau bicara apa lagi dengan Sakura? Apa ibu mau merendahkan Sakura lagi? Begitukah, bu?"

"Jaga bicaramu, Sasuke! Memang kau pikir ibu ini apa, hah! Sehingga kau menuduh ibu seperti itu. Apa salahnya jika ibu ingin bicara dengan Sakura?"

"Tapi aku rasa sudah tidak ada yang bisa ibu bicarakan lagi. Aku tidak akan mengijinkannya, bu. Aku..."

"Tidak apa-apa Sasuke. Mungkin nyonya Mikoto memang ingin membicarakan hal yang penting denganku. Aku tak keberatan."

"Tapi Sakura..."

"Aku mohon padamu."

"Hn, baiklah jika itu maumu. Aku tunggu kau di mobil. Dan aku harap 5 menit cukup untuk kalian bicara." kata Sasuke akhirnya menyerah dan pergi meninggalkan kedua wanita itu untuk bicara.

Sakura menunduk dalam duduknya dan masih belum berani menatap wajah Mikoto dihadapannya. Entah mengapa dia merasa jika kali ini Mikoto akan kembali mempengaruhi kehidupannya seperti dulu. Kehidupan yang penuh dengan penderitaan dan kesengsaraan, yang secara lambat laun ingin Sakura lupakan dan ingin sekali dia hapus. Tapi ternyata itu adalah hal yang mustahil dan sulit bagi Sakura. Karena terbukti, disaat kenangan masa lalu kelam itu belum terhapus sepenuhnya, kini kembali harus ditorehkan dengan masalah baru yang tentunya tak akan jauh-jauh dari Mikoto dan keluarganya.

Jujur, Sakura sangat takut akan hal itu. Dan yang lebih Sakura takutkan lagi adalah jika dia nantinya harus dipaksa berpisah dengan Sasuke, pemuda raven yang selama ini telah mengisi hati dan kehidupan barunya. Yang Sakura mulai bisa jatuh hati padanya dan mencintainya.

"Apa tujuanmu?" Mikoto mengawali perbincangan diantara keduanya dengan mengajukan sebuah pertanyaan yang tak dimengerti oleh Sakura.

"Tujuan? Maksud nyonya apa? Saya benar-benar tidak mengerti."

"Tidak mengerti kau bilang? Jangan berlagak bodoh begitu, Sakura. Aku tahu, kau mendekati putra bungsuku pasti ada tujuannya kan? Jadi katakan saja. Jangan sok menunjukkan wajah malaikat yang tak berdosa seperti itu dihadapanku. Karena itu tak akan pernah mempan padaku. Jadi cepat katakan apa tujuanmu? Apa karena uang, hah! Berapa jumlah yang kau perlukan?" tanya Mikoto mengejek yang langsung membuat perasaan Sakura kini benar-benar tersayat-sayat.

"A...Apa nyonya bilang?"

"Aku tanya, berapa jumlah uang yang kau perlukan untuk meninggalkan putraku? Apa 50 juta cukup?"

"..."

"Jadi kurang ya? Bagaimana jika 100 juta? Masih kurangkah?"

"..."

"Kau masih diam rupanya. Lalu berapa sebenarnya jumlah uang yang kau minta, hah! Cepat katakan!" teriak Mikoto mulai tak sabar dengan sulung Haruno itu.

"Tidak akan cukup, nyonya." jawab Sakura tenang, namun cukup membuat Mikoto tersentak.

"Apa maksudmu, hah!"

"Saya bilang tidak akan cukup, nyonya. Meski nyonya berniat untuk menyerahkan seluruh uang dan harta nyonya pada saya sekalipun, itu tak akan cukup untuk membuat saya meninggalkan Sasuke. Saya mencintai Sasuke, nyonya. Sangat mencintainya. Dan seluruh kekayaan nyonya tidak akan mampu membeli rasa cinta saya itu. Sampai kapanpun tak akan bisa."

"Ahahaha...cinta? Tahu apa kau soal cinta? Bukankah kau sendiri pun rela menjual anakmu hanya demi uang? Apa itu yang dimaksud dengan cinta? Dasar munafik!"

"Nyonyalah yang memaksa saya harus berpisah dengan putra kandung saya. Dengan Hoshi. Dan ini bukanlah atas keinginan saya sendiri."

"Diam kau! Jangan coba memutar balikkan fakta, Sakura. Apa kau lupa, bukankah dulu kau sendiri yang setuju untuk melakukan Surrogancy ini? Aku tidak pernah memaksamu untuk melakukannya kan? Lagipula aku juga sudah memberimu uang untuk operasi jantung ayahmu, yang waktu itu sangat membutuhkan biaya yang besar. Aku benar kan?"

"Sa...Saya..." Sakura tak mampu menyangkal pernyataan Mikoto itu. Karena pada kenyataannya, semua yang dikatakan oleh Mikoto itu adalah benar.

"Jadi seharusnya kau itu berterima kasih padaku dan berhenti mengungkit masalah ini lagi. Karena bagaimana pun juga, keberhasilan operasi ayahmu itu karena aku. Aku yang sudah membiayainya. Dan kau telah berhutang budi padaku. Jadi tak masalah kan jika aku mengambil imbalan yang aku butuhkan?"

"..."

"Dan satu lagi yang harus kau ketahui dan kau ingat selamanya. Hoshi itu sekarang sudah menyandang status sebagai seorang Uchiha. Itu artinya, dia bukanlah anak bisa dari sebuah keluarga yang biasa pula. Dia adalah salah satu pewaris dari seluruh harta keluarga Uchiha. Sebuah keluarga yang paling kaya dan yang paling dihormati di Konoha ini. Jadi jangan pernah berharap jika kau bisa memilikinya ataupun mengakuinya sebagai putra kandungmu. Karena selamanya, orang tua kandung Hoshi adalah Itachi dan Kurenai. Dan bukannya dirimu. Jadi mulai sekarang, berhentilah menemui Hoshi dan lupakan dia sebagai putra kandungmu. Karena sampai kapanpun kau tak akan pernah diakui Hoshi sebagai ibu kandungnya. Kau paham!"

Sakura yang sudah tak tahan dengan ucapan Mikoto pun segera beranjak dari duduknya dan berniat untuk bergegas meninggalkan ruang makan itu tanpa mengucapkan apapun. Dia sudah sangat sakit dan terlalu terhina saat ini. Dan untuk mengucapkan sepatah kata pun itu adalah hal sulit bagi Sakura. Karena lidah Sakura terasa kelu seketika dan membuatnya tak mampu berbicara.

Sungguh, betapa hebatnya seorang Uchiha Mikoto. Hanya dengan ucapan saja, dia mampu membuat seseorang jatuh terpuruk dan kehilangan kendali atas segalanya. Uchiha memang sulit untuk dilawan. Benar kan?"

"Ah, satu lagi yang hampir aku lupakan." kata Mikoto tiba-tiba yang langsung menghentikan sejenak langkah Sakura. Dan membuat gadis pink itu memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh Mikoto selanjutnya.

"Jauhi putraku, Sasuke. Karena aku tak sudi jika kau terus menjalin hubungan dengannya."

"Saya mengerti. Anda jangan khawatir dengan hal itu. Saya permisi, dan...selamat malam nyonya Mikoto yang terhormat." jawab Sakura dengan menekankan kata terakhir pada kalimatnya dan segera berlalu dari hadapan Mikoto.

"Hah, dasar gadis tak tahu diri!" kata Mikoto kesal.

Skip Time.

Sakura berjalan menuju ruang kerjanya dengan langkah gontai dan tak bersemangat. Bahkan untuk membalas salam dari rekan-rekan kerjanya pun seperti tak ada tenaga. Pertemuannya dengan Uchiha Mikoto kemarin membekaskan beban tersendiri didalam hati dan pikiran Sakura, sehingga membuat gadis pink itu sedikit enggan untuk memulai aktivitas kerjanya pagi hari ini.

Sakura baru saja memasuki ruang kerjanya, saat tiba-tiba indera penglihatannya menangkap sebuah bucket mawar putih tergeletak di atas meja kerjanya. Tanpa ragu, Sakura pun mengambil bucket itu dan membaca kartu ucapan yang ada didalamnya. Dan senyum pun mengembang dibibirnya saat dia tahu siapa pengirim bucket mawar putih itu.

Mawar putih, untuk gadis cantik berhati putih

Dari yang selalu mencintaimu sampai mati :

Uchiha Sasuke

"Aku juga mencintaimu, Sasuke." kata Sakura lirih dan kembali tersenyum. Namun senyum yang terkembang dibibirnya itu pun seketika sirna saat dia teringat kembali dengan perkataan Mikoto semalam yang kini berputar diotaknya.

'Jauhi putraku, Sasuke. Karena aku tak sudi jika kau terus menjalin hubungan dengannya.'

"Aku mencintaimu, Sasuke. Tapi maaf, aku terpaksa harus melakukan ini." kata Sakura sambil mendekap erat bucket mawar putih itu ke dadanya. Dan saat itu juga setetes air mata menuruni pipi halusnya, kemudian berlabuh di bucket bunga yang dibawanya, hingga membasahi kelopak demi kelopak mawar putih itu. Seakan itu mewakili kesedihan hatinya saat ini.

Tok...tok...tok...! Suara pintu diketuk menghentikan sejenak aktivitas Sasuke yang kini tengah sibuk duduk didepan laptopnya, memeriksa beberapa file yang baru saja dikirim oleh salah satu kliennya dari Rusia.

"Hn, masuk!"

Ckleek! Seketika itu juga pintu ruang kerja mewah itu pun terbuka, menampakkan sesosok gadis cantik berambut pink mencolok dengan mata emeraldnya, yang kini berdiri agak ragu dibalik pintu, menatap sendu pemuda raven didepan matanya yang masih saja sibuk dengan pekerjaannya.

"Apa aku menggangumu, Sasuke?"

"Sa...Sakura, kau rupanya. Ti...Tidak, kau tidak menggangguku sama sekali. Masuklah!" jawab Sasuke salah tingkah.

"Hm, ya." kata Sakura singkat dan mulai berjalan menghampiri Sasuke di meja kerjanya.

"Ehm, apa kau sudah menerima bucket mawar putih yang aku letakkan di meja kerjamu?" tanya Sasuke sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Ya, aku sudah menerimanya. Terima kasih, Sasuke. Itu bunga yang sangat cantik. Aku sangat menyukainya." Sakura tersenyum yang membuat Sasuke semakin gugup berhadapan dengan gadis pink itu. Dasar!

"Aku juga senang jika kau menyukai bunganya. Tapi menurutku, bunga itu masih kalah cantik dari dirimu, Sakura. Bagiku, kaulah makhluk ciptaan Tuhan yang paling cantik." kata Sasuke yang sukses membuat wajah Sakura semerah kepiting rebus.

"Kau memang pandai merayu. Tapi aku hargai usahamu itu."

"Ahahaha...ya, terima kasih jika begitu. Lalu, ada apa kau datang kemari? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku, Sakura?"

"Bukan hal yang begitu penting. Sebenarnya aku datang kemari hanya untuk menyerahkan ini saja padamu" jawab Sakura terdengar agak sedih, sambil meletakkan sebuah amplop berwarna putih di atas meja kerja Sasuke.

"Apa ini, Sakura?" tanya Sasuke tak mengerti.

"Ini..."

"..."

"Adalah surat pengunduran diriku sebagai sekretarismu."

TBC

Yeah! Akhirnya chap ini selesai juga. He3...Sebelumnya Tabita minta maaf ya, karena adegan SasuSaku di chap ini sangat kurang dan bikin para reader semua kecewa. Soalnya Tabita mau fokus sama adegan antara Mikoto dan Sakura dulu. Maklum, musuh bebuyutan yang udah lama ga' ketemu *PLAAK!*. Tapi Tabita masih boleh minta review dan sarannya kan? Please...^_^