Cinta 1000 Tahun

By

Tabita Pinkybunny

Disclaimer :

Sampai kapan pun bahkan sampai

kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap

punya Mr. Masashi Kishimoto

Warning :

Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.

Bahasa dan rangkaian kata kurang

begitu menarik.

Don't like, don't read !

No flame !

Summary :

Sakura awalnya hanyalah gadis biasa

yang hidup dalam

sebuah keluarga sederhana.

Namun kehidupannya berubah drastis

saat dirinya terpaksa harus melakukan

Surrogancy untuk sepasang suami-istri

yang telah lama tak memiliki anak demi

operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya

telah datang, apa yang harus dia lakukan ?

Chapter 9

"Apa ini, Sakura?" tanya Sasuke tak mengerti.

"Ini..."

"..."

"Adalah surat pengunduran diriku sebagai sekretarismu."

"Mengundurkan diri? Jangan main-main begitu, Sakura. Bercandamu sungguh tidak lucu."

"Aku sedang tidak bercanda, Sasuke. Aku serius. Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini."

"Tapi kenapa? Apa alasannya?"

"Maafkan aku, Sasuke. Aku tidak bisa mengatakan alasan yang sesungguhnya padamu. Dan aku harap kau mengerti dan menghargai keputusanku ini."

"Aku tidak bisa, Sakura. Sampai kapanpun aku tak akan bisa mengerti dengan keputusan konyolmu ini jika kau tidak mau mengatakan alasan yang sebenarnya padaku. Jadi aku mohon, jujurlah padaku." Sasuke memegang kepalanya dan mulai merasa frustasi karena gadisnya masih saja tak terbuka padanya.

"Sekali lagi aku minta maaf. Tapi aku benar-benar tak bisa mengatakannya. Aku ucapkan terima kasih atas bantuanmu selama ini padaku, Sasuke. Dan...selamat tinggal..." Sakura hendak berlalu dari hadapan Sasuke, jika tidak secara tiba-tiba Sasuke menarik tangannya dan menahannya dirinya untuk pergi.

"Sakura aku mohon, jangan seperti ini. Aku tak sanggup jika harus berpisah dan kehilanganmu lagi untuk yang kedua kalinya. Aku benar-benar tak sanggup, Sakura."

"Sasuke, aku mohon lepaskan aku. Kau tidak sepantasnya merendahkan dirimu hanya untuk menahan seseorang seperti aku. A...Aku...Aku adalah seseorang yang tidak berarti apa-apa untukmu." Sakura bergetar dalam perkataannya. Karena sesungguhnya dia sendiri tak sanggup mengatakan hal ini. Dia takut jika ternyata dia mengatakan suatu kebenaran bahwa dirinya memang tak benar-benar berguna untuk Sasuke, tak ada artinya untuknya. Dan itu adalah suatu kenyataan yang menyakitkan.

"Kenapa tiba-tiba kau bersikap seperti ini, Sakura? Apa yang terjadi? Apakah kau sudah tak mencintaiku lagi?" Sasuke bertanya meminta suatu kepastian.

"Aku mencintaimu, Sasuke. Sangat mencintaimu."

"Lalu kenapa? Kenapa jika kau mencintaiku, kau mau pergi meninggalkanku? Kenapa, Sakura?"

"Justru karena aku mencintaimulah aku harus melakukan ini. Aku tak bisa terus ada disisimu dan membuatmu tersakiti. Aku tak bisa jika harus melihatmu menderita hanya karena kau berusaha terus bersamaku dan mempertahankanku disisimu. Aku tak bisa melakukannya." Sakura berusaha keras menahan air matanya agar tak jatuh dan Sasuke melihatnya rapuh. Namun nihil, air mata itu pun tetap saja jatuh membasahi pipinya tanpa dapat dia cegah. Dan akhirnya membongkar juga rasa pedihnya dihadapan sang kekasih.

"Apa ini karena pertemuanmu kemarin dengan ibuku?" tanya Sasuke yang langsung membuat Sakura tersentak, namun gadis soft pink itu hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah katapun menanggapi pertanyaan Sasuke. Tanpa membenarkan ataupun berniat menyangkalnya.

"Sakura, aku tanya sekali lagi padamu. Apa kau bersikap seperti ini karena ibuku? Apa dia telah mengatakan sesuatu padamu?"

"..." Sakura masih saja tetap dalam posisi diamnya yang membuat Sasuke semakin bingung.

"Apa yang sudah dikatakan ibuku padamu?"

"..."

"Jawablah Sakura, aku mohon. Jangan terus membisu seperti ini. Sikapmu yang terus diam seperti ini tidak akan menjawab semua yang aku tanyakan. Kau justru membuatku semakin bingung. Jadi aku mohon, berterus teranglah padaku."

"..."

"Sakura..."

"Sudah cukup! Aku mohon jangan tanya apapun lagi, Sasuke. Aku tidak akan bisa menjawab semua pertanyaanmu itu. Tidak akan bisa, hik...hiks..." kata Sakura sambil menutupi wajah cantiknya dengan kedua telapak tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke pun segera menarik Sakura dalam dekapannya dan memeluknya dengan erat. Dan itu cukup membuat perasaan Sakura tenang untuk saat ini. Walaupun dihatinya masih tertinggal sedikit rasa sesak. Namun semua kehangatan yang diberikan Sasuke mampu untuk menetralisir semua rasa tak menyenangkan itu.

"Maafkan aku, Sakura. Aku sungguh tak bermaksud untuk menyudutkanmu. Aku hanya takut saja jika kau pergi meninggalkanku lagi. Karena jika itu terjadi, aku lebih baik memilih mati daripada harus berpisah denganmu, Sakura." Sasuke mencium pucuk kepala pink Sakura dan semakin memperat pelukannya. Jujur, Sasuke tidak ingin melepaskan pelukannya pada Sakura. Karena dia tahu, jika Sasuke melepaskan pelukannya, Sakura pasti akan segera meninggalkannya. Dan kecil kemungkinan Sakura akan kembali kepadanya. Sasuke tak mau itu terjadi.

"Sasuke, aku juga tak mau jika harus berpisah denganmu dengan cara seperti ini. Tapi aku juga tak bisa bersikap egois dengan terus mempertahankanmu disisiku dan membuatmu dijauhi orang-orang yang kau sayangi. Aku sungguh tak mau itu terjadi. Hik...hiks..." Sakura semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang Sasuke dan menangis sejadi-jadinya. Hingga membuat jas hitam yang dikenakan Sasuke basah akibat air matanya. Namun Sasuke tak peduli dengan hal itu. Pemuda raven ini justru memperat pelukannya pada Sakura dan membelai lembut rambut pinknya.

"Ssts! Tenanglah Sakura, semua pasti akan baik-baik saja. Aku akan berusaha keras untuk mempertahankan cinta kita berdua. Meskipun aku harus mengundurkan diri sebagai seorang Uchiha sekalipun aku rela, Sakura. Asalkan aku terus bersamamu."

"Tidak, Sasuke! Tidak bisa seperti ini! Kau dan aku tidak bisa bersama." kata Sakura tiba-tiba dan langsung melepaskan pelukan Sasuke dengan paksa.

"Sa...Sakura, kau..."

"Sejak semula aku sudah menduga, jika antara kau dan aku memang tak bisa menjalin hubungan. Takdir tak mengijinkan kita berdua untuk bersama. Dan jika kita terus memaksakan diri menentang takdir itu, aku takut jika nantinya ada yang terluka. Aku pasti tak akan sanggup menerimanya."

"Kau terlalu mencemaskan hal-hal kecil yang belum tentu akan terjadi. Itu terlalu konyol. Tak akan ada yang terluka jika kita menjalani hubungan cinta ini. Percayalah..." Sasuke berniat memeluk kembali tubuh Sakura, namun gadis itu menolaknya. Dan justru menjaga jaraknya dengan Sasuke.

"Pasti ada yang terluka, Sasuke. Pasti!"

"Tidak akan ada." Sasuke berusaha keras menyangkal pernyataan Sakura.

"Ada."

"Tidak akan ada, Sakura."

"Ada."

"Siapa? Jika memang ada, katakan siapa!"

"Kau dan aku."

"A...Apa kau bilang?"

"Kau dan aku lah orang yang akan paling terluka dengan hubungan cinta ini. Dan aku bukanlah orang yang sanggup untuk terluka, Sasuke. Kau mungkin kecewa, tapi itulah aku yang sebenarnya. Aku lemah, rapuh, dan juga menyedihkan. Bahkan untuk mempertahankan cintaku padamu pun aku tak bisa. Itulah aku, Sasuke. Haruno Sakura yang kau kenal." kata Sakura sambil menatap tajam mata onyx Sasuke dengan mata emeraldnya yang masih sedikit tergenangi air mata.

"Sakura..."

"Maafkan aku, Sasuke. Tapi jalan inilah yang harus kita ambil. Dan jika memang kita berjodoh, mungkin kita dapat bersama kembali suatu saat nanti."

"Sakura aku-hmphf..." Sasuke tak dapat melanjutkan kata-katanya dan mata onyxnya membulat seketika, saat tiba-tiba Sakura mencium bibirnya. Sebuah ciuman singkat, tapi cukup untuk membuat detak jantung dan nafas Sasuke berhenti. Mengingat ini adalah pertama kalinya Sakura lah yang memulai ciuman.

"Aku mencintaimu, Sasuke. Dan maafkanlah aku karena aku kembali menyakitimu. Selamat tinggal..." kata Sakura dan langsung berlari meninggalkan Sasuke yang kini terduduk lesu di lantai.

"Sakura...!" teriak Sasuke memanggil nama gadisnya untuk membuatnya kembali. Tapi tetap saja, Sakura masih saja terus berlari dan tak menghiraukan teriakannya.

Sakura POV.

Hari ini adalah hari terakhirku bekerja di perusahaan Sharingan, sekaligus menjadi hari terakhir hubunganku dengan Sasuke. Tadi, tepatnya setengah jam lalu, aku telah resmi memutuskan jalinan cintaku dengan pemuda raven yang bernama lengkap Uchiha Sasuke itu. Ini aku lakukan bukan karena aku tak mencintainya. Itu salah. Ini aku lakukan justru karena aku sangat mencintainya dan aku tak ingin menyakitinya. Intinya, aku melakukan ini semata-mata demi kebaikan Sasuke.

Aku tak mau nantinya jika hanya karena aku mempertahankan egoismeku dengan menjalin hubungan dengan Sasuke, dia akan menderita, terluka, dan tak menutup kemungkinan bisa saja dia nantinya akan diusir dari keluarga Uchiha dan tak akan diakui lagi menjadi bagian dari keluarga paling terhormat dan disegani di kota Konoha ini. Mengingat bahwa nyonya besar keluarga itu, Uchiha Mikoto, tidak menyukaiku dan tak merestui hubunganku dengan putra bungsunya. Meski aku tahu nantinya aku akan sakit dan terluka dengan perpisahan ini, tapi aku harus rela menjalaninya. Karena bagaimana pun juga, ini demi kebaikan semuanya.

"Aku pulang..." kataku lesu saat memasuki rumahku. Dan ternyata di ruang tamu sudah ada ibu dan adik perempuanku, Himawari.

"Sakura, kau sudah pulang? Ini kan masih pukul 10.00 pagi." tegur ibuku sambil melihat jam dinding di ruang tamu.

"Hm, ya. Aku pulang lebih awal." jawabku sekenanya.

"Kau tampak pucat, sayang. Apa kau sakit?" tanya ibuku khawatir.

"Aku hanya sedikit pusing, bu. Nanti setelah minum obat juga akan baik-baik saja." Aku mengambil duduk disebelah ibuku dan menyandarkan tubuh letihku pada sandaran kursi.

"Ini apa kak? Isinya seperti peralatan kantor." tanya Himawari padaku sambil memperhatikan sebuah kardus yang tadi aku letakkan disamping pintu masuk.

"Itu memang peralatan kantor. Hari ini aku resmi mengundurkan diri dari perusahaan Sharingan."

"APA? MENGUNDURKAN DIRI!" kata ibu dan adikku terkejut bersamaan.

"Tapi kenapa, kak? Bukankah menjadi sekretaris disebuah perusahaan besar adalah impian kakak sejak dulu?"

"Iya, kau memang benar. Tapi keputusan pengunduran diri ini sudah kakak pikirkan matang-matang. Kakak sudah memutuskan akan mencari pekerjaan di tempat lain."

"Sebenarnya apa yang terjadi, kak? Kenapa tiba-tiba saja kakak bersikap aneh begini? Kemarin juga setelah pulang dari rumah kak Sasuke, kakak hanya diam saja dan tak mengatakan apapun. Dan justru memilih mengurung diri di kamar. Apa kakak sedang ada masalah dengan kak Sasuke?"

"Kakak dan Sasuke tak punya masalah apapun. Dan pengunduran diri kakak tak ada sangkut pautnya dengan dia." Aku mencoba menyangkal, meskipun sesungguhnya dugaan adikku adalah benar.

"Lalu apa alasan kakak mengundurkan diri? Apa aku boleh tahu?"

"Kakak tidak bisa mengatakannya padamu, Hima. Maaf."

"Kenapa tak bisa? Pasti ada yang kakak sembunyikan kan?"

"Cukup, Hima! Hentikan! Ini adalah urusan pribadi kakak. Jadi aku mohon jangan ikut campur. Aku mau ke kamar. Permisi..." jawabku dan segera berjalan memasuki kamarku tanpa mempedulikan tatapan heran dari ibu dan adikku.

Normal POV.

"Kau ini apa-apaan, hah! Kenapa kau tanya-tanya terus pada kakakmu? Dasar gadis cerewet!" kata Tsubaki memarahi putri bungsunya itu, sambil memukul kepalanya pelan.

"Aduh, ibu ini kenapa? Kenapa memukulku? Kan sakit, bu." jawab Himawari kesal.

"Itu salahmu sendiri karena menjadi seseorang yang selalu ingin tahu urusan orang lain. Kenapa tadi kau menyinggung perasaan kakakmu, hah!"

"Siapa yang menyinggung perasaannya? Aku kan tadi cuma tanya alasannya saja kenapa mengundurkan diri dan tidak bermaksud apa-apa. Kak Sakura saja yang terlalu sensitif." jawab Himawari kesal.

"Sudah, jangan membantah lagi! Sekarang kau antarkan bekal makan siang ini ke tempat kerja ayah. Tadi ayah lupa membawanya." Tsubaki menyerahkan sebuah kotak bekal berwarna hitam pada Himawari.

"Huh, iya...iya. Akan aku antarkan. Ibu jangan marah-marah lagi. Membuatku pusing saja." kata Himawari sambil menerima dengan malas kotak bekal yang diberikan ibunya dan segera pergi untuk menuju ke tempat kerja ayahnya.

"Dasar anak nakal!" kata Tsubaki sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah putri bungsunya yang berumur 17 tahun itu.

Sakura tengah berbaring diatas ranjang dengan bantal menutupi wajahnya. Saat ini perasaan gadis soft pink itu benar-benar sedang tak baik. Dan tentunya semua sudah tahu jika itu terjadi disebabkan oleh putusnya hubungan cintanya dengan Sasuke. Meski ini adalah keputusan yang diambilnya sendiri, tapi tetap saja rasanya sakit dan perih. Apalagi disaat rasa cinta itu baru saja dirajut diantara keduanya.

"Aku harap aku tak akan pernah menyesali keputusanku ini."

Tok...tok...tok...! Suara pintu kamar diketuk membuyarkan lamunan Sakura dan membuatnya kembali ke dunia nyata.

"Siapa?" tanya Sakura dengan malas.

"Ini ibu, sayang. Apa ibu boleh masuk?"

"Hm, masuk saja, bu. Pintunya tidak dikunci." Sakura menegakkan tubuhnya dan bersandar pada sebuah bantal yang tadi dia gunakan untuk menutupi wajah sedihnya.

Setelah memperoleh ijin dari si empunya kamar, Tsubaki pun segera memasuki kamar Sakura dan duduk ditepi ranjang. Dia merasa kalau antara Sakura dan dirinya memang perlu bicara. Karena sebagai seorang ibu, Tsubaki tahu jika putrinya sedang menyembunyikan suatu masalah darinya, yang membuat kelakuan gadis 20 tahun itu menjadi sangat aneh hari ini.

"Sebenarnya ada apa denganmu, sayang? Tiba-tiba saja kau bersikap seperti ini. Apa ada masalah, hm?" tanya Tsubaki lembut.

"Tidak ada masalah apa-apa, bu. Ibu jangan khawatir." Sakura masih belum mau mengaku pada sang ibu. Bahkan menatap mata emerald ibunya pun dia tak mau. Karena sesungguhnya Sakura takut jika dia menatap mata sang ibu, ibunya dapat membaca bahwa kali ini dia sedang berbohong.

"Jangan bohong, Sakura. Ibu tahu jika sebenarnya kau ada masalah. Jadi ceritakan saja masalahmu pada ibu. Mungkin ibu bisa membantumu. Apa ada hubungannya dengan Sasuke?" tanya Tsubaki tepat sasaran.

"..." Sakura hanya diam saja mendengar pertanyaan Tsubaki. Tapi bagi Tsubaki, itu sudah bisa menjawab semuanya.

"Apa kau bertengkar dengan Sasuke?" tanya Tsubaki lagi yang hanya dijawab Sakura dengan gelengan.

"Lalu kenapa? Jujurlah pada ibu, sayang. Kalau kau hanya diam, ibu tak akan bisa membantumu."

"Apa dicintai seseorang itu adalah hal yang salah, bu? Dan apakah jatuh cinta dan mencintai seseorang itu hal yang haram?" tanya Sakura tiba-tiba.

"Tentu saja tidak, sayang. Dicintai dan mencintai seseorang itu bukanlah hal yang salah ataupun haram. Itu adalah suatu anugerah yang harus kita syukuri. Dan dengan adanya cinta, dunia akan menjadi lebih indah dan berwarna." jawab Tsubaki bijak sambil mengusap lembut rambut pink Sakura.

"Jika memang begitu, kenapa ada yang menganggap bahwa jalinan cintaku dengan Sasuke adalah suatu kesalahan. Mengapa jika aku bersama Sasuke, aku merasa ada yang tersakiti dan terluka. Kenapa, bu? Hik...hiks..."

"Ssts! Tenanglah, sayang. Jangan menangis. Kenapa kau beranggapan seperti itu? Siapa yang mengatakan jika kau dan Sasuke saling mencintai akan ada yang terluka dan tersakiti? Siapa yang mengatakannya?"

"A...Aku sudah memutuskan jika aku akan melupakan Sasuke, bu. Aku akan menganggap bahwa aku dan dia tidak pernah menjalin hubungan apapun. Dan bagiku sekarang, Sasuke adalah masa lalu. Hik...hiks..."

"Sakura..." Tsubaki pun langsung memeluk tubuh putrinya untuk segera menenangkannya.

"Hatiku terasa sakit, bu. Benar-benar sakit. Dan aku rasa hanya dengan cara berpisah dan melupakan Sasuke lah, sakit hati ini akan terobati."

"Apa kau mencintai Sasuke, sayang?" Tsubaki bertanya masih sambil mengusap kepala Sakura.

"Aku sangat mencintainya." Kali ini Sakura menjawab dengan mantap yang membuat Tsubaki tersenyum mendengarnya.

Jawaban yang tulus yang bersumber dari lubuk hatinya yang paling dalam. Sungguh sebuah pernyataan yang ringan yang keluar dengan mudahnya dari bibir Sakura, namun penuh makna dan begitu berarti untuknya.

Cinta itu indah, cinta itu penuh warna, dan penuh rasa. Dan Sakura menyadari betul semua itu. Hanya saja dirinya tak tahu bagimana cara mengungkapkannya. Yang membuat dirinya benar-benar bisa merasakan apa itu bahagia selamanya. Tanpa derita, luka, dan tanpa saling menyakiti. Karena bukan cinta namanya jika ada tekanan dan saling tersakiti.

Tsubaki melepaskan pelukannya pada Sakura, memegang kedua pundak gadis itu, dan menatap lurus ke kedua mata emeraldnya. Tsubaki masih melhat ada sedikit air mata dipelupuk mata Sakura, air mata ketulusan karena suatu pengorbanan besar yang telah dia buat.

"Ibu memang tak punya hak untuk mencampuri urusan pribadimu. Tapi sebagai seorang ibu, ibu hanya bisa memberi sebuah nasehat saja padamu."

Sakura mulai berhenti menangis dan segera menyeka air matanya. Kemudian ditatapnya wajah sang ibu untuk menantikan apa yang dikatakan oleh ibunya selanjutnya. Dan Sakura amat yakin, jika apapun yang akan dikatakan oleh ibunya nanti, pasti akan sangat berguna untuknya dan dapat menjadi solusi yang terbaik untuk masalahnya saat ini.

"Dengarkan ibu, Sakura. Jika memang kau sangat mencintai Sasuke, seharusnya kau harus berusaha keras mempertahankan rasa cintamu itu. Janganlah hanya karena sebuah 'kerikil' yang menghalangimu, lalu kau menyerah dan memutuskan untuk melepaskan cintamu. Itu adalah suatu keputusan yang salah, sayang."

"La...Lalu apa yang harus aku lakukan, bu? Aku benar-benar tak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. A...Aku..."

"Jangan lepaskan cinta sejatimu. Itulah yang harus kau lakukan."

"..."

"Karena bukan cinta namanya, jika kau melepaskan cinta sejatimu begitu saja. Ibu tahu kau pasti mengerti apa maksud kata-kata ibu." kata Tsubaki sambil tersenyum manis.

Sakura masih sedikit berpikir dan mencoba mencerna kembali perkataan wanita 35 tahun itu. Dan beberapa detik kemudian, Sakura kembali memeluk ibunya dan menghirup wangi tubuh sang ibu yang selalu saja membuatnya merasa hangat, nyaman, dan tenang. Dan menurut Sakura, perkataan ibunya tadi ada benarnya juga. Karena bukan cinta namanya, jika kita melepaskan orang yang kita cintai begitu saja tanpa ada usaha sedikit pun untuk mempertahankannya. Itu namanya pengecut dan pecundang. Dan Sakura tak mau jika dia disebut seperti itu. Dia harus bangkit dari keterpurukan ini, dan mulai meniti langkah baru demi cinta sejatinya. Demi Sasuke. Dan itu harus dia lakukan apapun resikonya. Sakura tak mau hanya berhenti sampai disini saja, dan hanya hidup dalam keadaan menyedihkan dan sakit yang berkepanjangan. Dia benar-benar tak mau. Karena itulah dia putuskan akan terus memperjuangkan dan mempertahankan cinta sejatinya. Mulai sekarang juga. Atau dia akan terus dihantui oleh rasa penyesalan.

'Aku akan bertahan demi kau, Sasuke. Demi cinta kita.' kata Sakura dalam hati dan kemudian tersenyum.

Sebuah mobil Lamborgini hitam memasuki halaman kediaman Uchiha. Dengan kasarnya, mobil mewah itu direm, dan tak beberapa lama dari pintu kemudi keluarlah seorang pemuda raven yang langsung membanting pintu mobil dengan keras.

Uchiha Sasuke, pemilik Lamborgini hitam itu terlihat begitu kesal. Ini nampak dari raut wajah tampannya yang dipenuhi amarah dan rasa emosi yang besar. Dengan langkah yang bisa dibilang tergesa-gesa, Sasuke langsung masuk kedalam kediamannya dan menuju ruang keluarga untuk mencari ibunya, Uchiha Mikoto. Seorang wanita yang terlihat tenang, namun kejam. Yang diketahui benar oleh Sasuke sebagai sumber putusnya hubungan cintanya dengan sang kekasih. Meski Sakura tak mau jujur dan terbuka untuk mengatakan apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi Sasuke seperti bisa membaca kedalam hati gadis soft itu jika penyebab dia meninggalkan Sasuke adalah karena sang ibu. Yang selalu mengingingkan kesempurnaan dalam hidupnya dan keluarganya. Dan tak akan segan-segan melakukan cara apapun juga untuk menyingkirkan 'kerikil' tajam ataupun 'rumput liar' yang menghalangi jalannya untuk mencapai kesempurnaan itu. Apapun...meski harus mengorbankan perasaan orang-orang yang disayanginya sekalipun, dia tak peduli. Yang penting keinginannya tercapai.

Sasuke kini telah berada di ruang keluarga. Dan ternyata benar seperti dugaannya, jika ibunya memang ada disana dan sedang bermain dengan cucu satu-satunya yang sangat disayanginya, Uchiha Hoshi. Mikoto yang menyadari kehadiran Sasuke pun menghentikan sejenak aktivitas bermainnya bersama Hoshi, dan beralih menatap Sasuke yang juga tengah menatapnya dengan tatapan tajam dan sepertinya nampak begitu kesal.

"Sasuke, ada apa? Kenapa kau menatap ibu seperti itu?" tanya Mikoto yang merasa tak nyaman ditatap putranya dengan tatapan seperti itu.

"Aku ingin bicara!" Sasuke menjawab dengan nada penuh emosi.

Mikoto yang menyadari jika saat ini putra bungsunya dalam mood yang buruk pun segera 'mengungsikan' Hoshi dari ruang keluarga, agar bocah cilik itu tak akan terganggu dengan perseteruan yang mungkin saja sebentar lagi akan terjadi diantara ibu dan anak ini.

"Hoshi, kau main dengan ibu dulu ya...Nenek mau bicara sebentar dengan paman Sasuke." perintah Mikoto pada Hoshi. Dan tanpa banyak komentar, bocah 3,5 tahun itu pun mengangguk dan menuruti perintah sang nenek.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Mikoto langsung pada intinya setelah melihat wajah Sasuke yang sudah tidak sabar dan penuh dengan berbagai pertanyaan.

"Apa yan ibu katakan pada Sakura kemarin malam?"

Mikoto kembali menatap wajah Sasuke yang masih dipenuhi amarah. Setelah sejenak berpikir, dia pun kembali berbicara.

"Jadi karena itu kau datang sambil marah-marah? Ibu kira karena apa, dasar!" Mikoto menjawab dengan nada meremehkan yang semakin membuat Sasuke bertambah kesal.

"Ibu pasti sudah mengatakan sesuatu yang menyakitkan pada Sakura. Iya kan, bu?"

"..."

"Apa yang ibu katakan padanya?"

"..."

"JAWAB, BU!"

"Berani sekali kau membentak ibumu seperti itu! Dasar anak tak tahu diri!"

"Ibulah yang memulai semuanya. Ibu sudah merusak hubunganku dengan Sakura. Ibu sudah terlalu ikut campur!" nafas Sasuke mulai tak beraturan karena emosi menguasai dirinya. Dia mulai merasa sesak.

"Gadis tak tahu diri itu sudah mempengaruhimu rupanya. Apa istimewanya dia? Dia hanya seorang gadis miskin yang tak bisa dibanggakan. Dan ibu yakin, yang diincarnya adalah harta. Harusnya kau itu sadar, Sasuke! Gunakan akal sehatmu!"

"Cukup, bu! Berhenti mengatakan hal-hal buruk tentang Sakura! Aku tidak suka mendengarnya."

"Lalu menurutmu, ibu harus mengatakan apa tentang 'gadismu' itu? Apa kau mau ibu menyebutnya sebagai calon menantu yang baik dan sempurna? Begituikah maumu, hah! Ahahaha...benar-benar menggelikan!" Mikoto kembali meremehkan Sakura sambil tertawa sesukanya, tanpa mempedulikan perasaan Sasuke sama sekali yang sudah sangat sakit mendengar perkataanya.

"Aku bilang cukup, bu! Jangan menghina Sakura lagi! Aku sudah muak mendengarnya!"

"Kaulah yang harus berhenti, Sasuke! Berhenti membela gadis miskin itu. Apa sebenarnya yang ada dipikiranmu? Sehingga kau secara mati-matian membelanya. Gadis itu sudah banyak meracuni pikiranmu dan membuatmu menjadi berubah drastis seperti ini. Dia benar-benar hebat dan licik."

"Aku sama sekali tak peduli dengan perkataan ibu. Hal buruk apapun yang ibu katakan mengenai Sakura, itu tak ada artinya bagiku. Karena bagiku, Sakura tetaplah gadis yang sempurna dimataku. Gadis yang sangat aku cintai. Dan sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menggantikan posisinya dihatiku."

"Jangan bodoh kau, Sasuke! Memang apa yang kau lihat dari Sakura? Kau itu seorang Uchiha, jadi seharusnya kau memilih pasangan yang sederajat dengan keluarga kita. Kau tidak boleh asal memilih pasangan."

"Apa begitu pentingnya status dan derajat bagi ibu? Apa tak bisa ibu menilai seseorang itu tidak hanya dari kriteria itu? Tak bisakah ibu menilai seseorang dari hatinya? Tak bisakah, bu?"

"Bagi ibu, status dan derajat itu sangatlah penting. Karena dengan kedua kriteria itulah, nantinya keluarga kita dapat memperoleh pengakuan tinggi dari semua orang. Dan aku yakin kau juga pasti mengerti apa maksud ibu."

"Aku tidak mengerti. Sebenarnya apa inti dari perkataan ibu itu? Jelaskan padaku dan jangan berbelit-belit."

"Ibu sudah mempersiapkan seorang calon istri untukmu. Dia adalah putri bubgsu dari rekan bisnis ibu dari Korea. Namanya Airi, Kim Airi. Seorang gadis yang bukan hanya cantik, tapi juga sangat pintar dan terhormat. Dan ibu yakin kau pasti akan menyukainya."

"Yang aku cintai hanya Sakura. Dan sampai kapanpun, pintu hatiku hanya akan ku buka untuk dia saja. Tidak ada yang lainnya. Dan ibu jangan pernah berharap kalau aku akan setuju dengan perjodohan ini. Karena aku tak akan pernah menikahi gadis yang tidak aku cintai. Apalagi jika didasarkan karena harta. Tidak akan pernah." Sasuke yang sudah muak mendengar perkataan sang ibu pun memilih segera pergi dari ruang tamu untuk menuju ke kamarnya. Karena menurut Sasuke, lebih baik tidur daripada mendengar omongan sang ibu yang baginya sangat tidak penting.

"Kenapa kau tidak bisa mengerti! Dengan menikahi Airi, hidupmu pasti akan lebih bahagia dan terjamin. Bahkan perusahaan kita pun juga akan mendapatkan keuntungan dengan pernikahanmu itu. Jadi ibu mohon, menikahlah dengan Airi." Mikoto masih memaksa.

"Aku akan menikahinya." kata Sasuke tiba-tiba yang mengejutkan Mikoto.

"Benarkah?"

"Ya. Gadis yang bernama Airi itu akan menjadi menantu keluarga Uchiha. Tapi dia tidak akan menikah denganku. Melainkan dia akan menikah dengan...mayatku."

"Apa kau bilang! Apa maksudmu, hah!"

"Maksudku adalah aku lebih baik mati daripada harus menikah dengan gadis lain." kata Sasuke yang langsung membuat Mikoto tersentak.

"Sasuke, kau...!"

"Aku lelah. Aku mau ke kamar." Sasuke pun langsung menuju ke kamarnya dilantai 2 tanpa mempedulikan Mikoto sedikit pun yang yang sudah sangat marah setelah mendengar perkataannya.

"Kau pasti akan menyesali semua perkataanmu jika kau tahu siapa sebenarnya Sakura." kata Mikoto sambil tersenyum licik.

Tidur sepasang suami istri Uchiha Itachi dan Uchiha Kurenai, malam ini sedikit terganggu ditengah malam, saat tiba-tiba putra mereka satu-satunya menangis. Setelah menyalakan lampu, Kurenai pun langsung mendekati ranjang Hoshi disebelah ranjang king sizenya, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Uchiha kecil itu.

"Hik...hiks...huwaaa...aaa..."

"Cup...cup...cup, ada apa Hoshi? Kenapa kau menangis, sayang?" tanya Kurenai sambil mengusap kepala Hoshi. Dan betapa terkejutnya Kurenai saat dirasakan kening Hoshi terasa panas. Putranya mengalami demam tinggi.

"Ya Tuhan! Kau demam, sayang. Badanmu panas sekali." Kurenai mulai panik.

"Bibi cantik...hik...hiks..." Hoshi menangis dan memanggil Sakura. Kedengarannya memang aneh jika disaat sakit seperti ini, Hoshi memanggil dan lebih membutuhkan wanita lain daripada Kurenai. Mungkin inilah yang disebut dengan ikatan abadi antara ibu dan anak. Antara Sakura dan Hoshi.

"Ada apa, sayang? Apa yang terjadi pada Hoshi?" tanya Itachi pada istrinya tercinta yang masih saja panik dengan keadaan putranya.

"A...Aku rasa Hoshi demam. Badannya panas sekali. Aku benar-benar takut, Itachi."

"Kau jangan terlalu cemas dulu, Kurenai. Hoshi pasti akan baik-baik saja. Percayalah..." Itachi memegang pundak Kurenai untuk menenangkannya.

"Tapi demamnya tinggi sekali. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengannya? Ini kan pertama kalinya Hoshi sakit seperti ini."

"Aku akan ambil air dingin untuk mengompres Hoshi. Siapa tahu setelah dikompres nanti, demamnya bisa turun. Dan sekalian aku akan memanggil ibu untuk membantu kita."

"I...Iya, baiklah kalau begitu. Aku akan disini untuk menjaga Hoshi."

"Hn, aku akan segera kembali." kata Itachi yang langsung keluar dari kamar untuk mengambil air dingin dan memanggil ibunya.

"Hik...hiks...bibi cantik...hik...hiks..."

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sayang? Kenapa tiba-tiba kau terserang demam tinggi seperti ini." kata Kurenai dan mendekap tubuh mungil Hoshi.

Setelah sekitar 2 menit berlalu, Mikoto dengan tergesa-gesa dan raut wajah yang menggambarkan kecemasan pun segera memasuki kamar tidur Itachi dan Kurenai. Wanita paruh baya ini sangat khawatir setelah mendengar kabar jika saat ini cucu semata wayangnya sedang terserang demam tinggi dan terus mengigau. Mikoto ingin melihat keadaan Hoshi dengan mata kepalanya sendiri dan memastikan kondisinya tidak terlalu 'berbahaya'.

"Bagaimana keadaan Hoshi, Kurenai? Apa demamnya sudah turun?" tanya Mikoto sambil mendekati ranjang Hoshi.

"Be...Belum, bu. Demamnya sama sekali belum turun. Masih tinggi seperti tadi."

"Kita harus segera membawa Hoshi ke rumah sakit. Karena jika terlambat membawanya ke rumah sakit, aku takut sakitnya akan bertambah parah."

"Bibi cantik...hik...hiks...aku mau bibi cantik..."

"Anak ini mulai mengigau rupanya. Ini pasti karena pengaruh demamnya. Kita tak punya banyak waktu, Kurenai. Kita harus segera ke rumah sakit." perintah Mikoto lagi pada Kurenai. Namun Kurenai hanya diam saja tanpa ada keinginan untuk segera melaksanakan perintah ibu mertuanya dan justru seperti sedang berpikir sesuatu.

"Kurenai! Kau dengar aku kan!"

"I...Iya bu, aku dengar. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu."

"Memikirkan sesuatu? Apa yang kau pikirkan?"

"Ba...Bagaimana kalau kita panggil Sakura kesini? Mungkin Sakura tak akan keberatan, bu. Dari tadi Hoshi terus saja mengigau dan memanggil-manggil Sakura. Aku rasa Hoshi sangat merindukan Sakura. Jadi..."

"Tidak! Aku tidak akan setuju dengan usulmu itu dan mengijinkan gadis itu datang kesini untuk bertemu Hoshi." Mikoto menolak keras usulan Kurenai.

"Ta...Tapi kenapa, bu? Apa alasannya? Sakura gadis yang baik. Jadi kenapa ibu tidak menyukainya?" tanya Kurenai tidak mengerti.

"Jika aku bilang tidak, itu artinya tidak! Jangan membantah!"

"Tapi bu, Hoshi sangat membutuhkan Sakura saat ini. Hoshi sangat ingin bertemu dengannya."

"Berhenti bersikap baik pada Sakura, Kurenai! Kau tidak tahu siapa Sakura kan?"

"Memangnya siapa Sakura? Dan kenapa ibu begitu membencinya?"

"Kau sungguh ingin tahu siapa Sakura?"

"..."

"Dan kau juga ingin tahu kenapa aku sangat membenci gadis itu dan tak mengijinkannya untuk mendekati Hoshi?"

"Ya, aku ingin tahu."

"Baiklah, akan aku beri tahu. Alasan kenapa aku begitu membenci Sakura dan tak mengijinkan gadis itu mendekati Hoshi adalah..."

"Karena Sakura adalah ibu kandung Hoshi!" jawab Mikoto sedikit berteriak.

PYAAA...AAAR! Suara kaca pecah menbentur lantai terdengar menggema keras di kamar itu. Membuat kedua wanita yang dari tadi sedang berdebat pun menolehkan kepala mereka untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya mereka karena ternyata itu...

"Apa maksud ibu dengan Sakura adalah ibu kandung Hoshi?"

"ITACHI!" kata Mikoto dan Kurenai terkejut.

TBC

Balasan Review :

Uchiharu'nhiela Sasusaku :

Thankz a lot udah review. Udah diupdate nich ^_^

Ren-Mi3 Novanta :

Ibarat drama, Mikoto disini antagonisnya. Maklum, dia kan ratu kejahatan *PLAAK!* digampar Mikoto.

Black-wingked reaper :

Lempar aja tuh pake batu bata. Ntar Tabita bantuin. He3...

Midori Kumiko :

Masih penasaran? Baca aja terus. He3...

Sasusaku Hikaruno-chan :

Capek donk kalau kawin sambil lari-lari. He3...

lily kensei :

Thankz udah baca n review.

Sky pea-chan :

Udah diupdate nich ^_^

Pembaca :

Kalau kamu ga' suka fic ini juga ga' apa-apa. Karena aku juga ga' pernah menyuruh dan memaksa kamu untuk membaca dan menyukai fic ini. Tapi thankz buat reviewnya. Lumayan buat hiburan ^_^

4ntk4-ch4n :

Yang ditunggu udah datang. Chapter 9 datang !

Haruno fuji :

Sin Yuk Yung? Aku juga suka sama karakter ini. Tapi aku lebih suka sama Ma Jun. Ho3...

Tania Hikarisawa :

Ga' apa-apa telat. Yang penting review V^_^

Hoshikame nagisa :

Terima kasih buat review n pujiannya. Dan semoga kamu ga' akan bosen sama fic ini ^_^