Annyeonghaseyo...Chapter 10 telah tiba! Tabita benar-benar tak menyangka jika chapter 9 lalu, akan banyak sekali yang mereview. Ada 22 orang yang mereview. Woooaaa...! Sungguh membuat Tabita terharu (T_T). Karena itulah ijinkan Tabita mengucapkan terima kasih banyak pada semuanya. Semua review itu menjadi semangat tersendiri buat Tabita. Untuk balasan review, Tabita letakkan diawal sebagai penghormatan dan ucapan terima kasih. CHAPTER 10 UPDATE!

Balasan Review :

Kazuma B'tomat :

Makasih udah bersedia review. Saran yang kamu berikan akan aku simpan buat masukan ^_^

4ntk4-ch4n :

Ntar kalau Sasu berpaling ke Anka, bagi-bagi sama Tabita ya...Digilir gitu, wkwkwk...

Sky pea-chan :

Jeng2! Biar ga' penasaran terus, sudah Tabita update.

Pembaca :

Thankz buat kritiknya. Aku terima dengan senang hati ^_^

Sayuri Hanaya :

Salam kenal juga Sayuri-san, makasih udah baca n review. Sudah dilanjut!

Uchiharu'nhiela Sasusaku :

Aku juga kasihan sama Saku. Berarti aku author yang kejam ya? *ngaku*

mayu akira :

Pair SasuxSakuxItachi? Boleh juga tuh ^_^

Tania Hikarisawa :

Iya, aku suka nonton Cruel Temptation. Walaupun aku ga' suka n benci sama Airi. He3...

iam maniez :

Kalau butuh bantuan untuk menghajar Mikoto, panggil Tabita aja V^_^

UchihaKeyRa20 :

Penasaran sama reaksi Sasuke? Baca aja...V^_^

Roullete Cyrax Noa :

Makasih udah mau menyempatkan diri buat baca n review. ItaSaku? Ada ga' ya enaknya? He3...

VVVV :

Kalau mau tahu lanjutannya, silahkan baca. Jangan lupa review juga ya...

Sweety Choco-berry :

Thankz udah baca n review. Telah diupdate!

Midori Kumiko :

Thankz udah review. Biar ga' penasaran lagi sama kisah cinta SasuSaku, chapter 10 telah tiba!

lily kensei :

Yap! Aku akan tetap semangat. Kamu juga harus tetep baca n review ya...

Uchiha Mamoru :

Siap! Udah diterusin nich ^_^

daizaque :

Thankz udah baca n review. Aku ga' begitu memperhitungkan umur ibunya Sakura n Sakura. Jadi maaf kalau aneh ^_^

haruno gemini-chan :

Jangan bilang diri sendiri bego. Kamu pinter kok. Buktinya kamu review fic aku ini. He3...

Ren-Mi3 NoVantA :

Thankz a lot ya, kamu masih sempat review padahal lagi sakit. Tabita jadi terharu (T_T)

Sasusaku Hikaruno-chan :

Thankz udah baca n review. Chapter 10 datang!

ChiChi Rachel Gracheila Uchiha :

Thankz a lot, Tabita jadi terharu dech. Semoga kamu bisa terus suka sama fic ini.

Black-wingked reaper :

Banyak banget pertanyaannya, Tabita sampai bingung. Baca sendiri aja kelanjutannya. He3...

Cinta 1000 Tahun

By

Tabita Pinkybunny

Disclaimer :

Sampai kapan pun bahkan sampai

kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap

punya Mr. Masashi Kishimoto

Warning :

Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.

Bahasa dan rangkaian kata kurang

begitu menarik.

Don't like, don't read !

No flame !

Summary :

Sakura awalnya hanyalah gadis biasa

yang hidup dalam

sebuah keluarga sederhana.

Namun kehidupannya berubah drastis

saat dirinya terpaksa harus melakukan

Surrogancy untuk sepasang suami-istri

yang telah lama tak memiliki anak demi

operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya

telah datang, apa yang harus dia lakukan ?

Chapter 10

"Memangnya siapa Sakura? Dan kenapa ibu begitu membencinya?"

"Kau sungguh ingin tahu siapa Sakura?"

"..."

"Dan kau juga ingin tahu kenapa aku sangat membenci gadis itu dan tak mengijinkannya untuk mendekati Hoshi?"

"Ya, aku ingin tahu."

"Baiklah, akan aku beri tahu. Alasan kenapa aku begitu membenci Sakura dan tak mengijinkan gadis itu mendekati Hoshi adalah..."

"Karena Sakura adalah ibu kandung Hoshi!" jawab Mikoto sedikit berteriak.

PYAAA...AAAR! Suara kaca pecah menbentur lantai terdengar menggema keras di kamar itu. Membuat kedua wanita yang dari tadi sedang berdebat pun menolehkan kepala mereka untuk mengetahui apa yang terjadi. Dan betapa terkejutnya mereka karena ternyata itu...

"Apa maksud ibu dengan Sakura adalah ibu kandung Hoshi?"

"ITACHI!" kata Mikoto dan Kurenai terkejut.

Suasana di kamar tidur itu berubah menjadi panas dan tegang seketika. Keenam pasang mata itu kini saling menatap satu sama lain dan saling mengintimidasi. Tak ada celah sedikit pun bagi ketiga orang tersebut untuk menghindar lagi.

Rahasia kelam, rumit, dan tabu akhirnya terkuak juga. Membuat para pelaku yang terlibat dalam masalah besar ini pun kini terjebak dalam situasi yang berat dan tak akan bisa dengan mudah meloloskan diri. Bahkan untuk mengedipkan mata atau bahkan bernafas sekali pun, rasanya amat sulit.

"Aku tanya sekali lagi, apa maksud ibu dengan Sakura adalah ibu kandung Hoshi?" Itachi mengulang kembali pertanyaannya.

"Siapa yang mengatakan kalau Sakura itu ibu kandung Hoshi, Itachi? Ka...Kau pasti tadi salah dengar. Ibu tidak pernah mengatakan kalau Sakura adalah ibu kandung Hoshi. Benar kan, Kurenai?" Mikoto masih mencoba menyangkal dan berusaha keras menutup-nutupi kebenaran. Bahkan wanita setengah baya ini pun berusaha meminta dukungan dari Kurenai agar membenarkan ucapannya.

Tapi Kurenai hanya diam saja tanpa mengatakan apapun. Kurenai seperti kehilangan semua suaranya seketika dan membuatnya tak mampu lagu berbicara, meskipun itu hanya untuk sekedar membenarkan ucapan ibu mertuanya.

Dalam hatinya kini ada rasa takut yang luar biasa yang dia rasakan. Rasa takut yang teramat sangat pada Itachi, pada suaminya. Jikalau Itachi akhirnya mengetahui juga rahasia besar yang selama ini berusaha dia tutupi rapat-rapat.

Dan Kurenai yakin 100% jika kali ini dia tak akan bisa mengelak dan mundur lagi. Dia nantinya pasti akan mendapat serangan amarah dari Itachi, jika pria itu tahu kenyataannya. Kenyataan tentang putranya, Hoshi.

"Aku yakin jika tadi aku tidak salah dengar. Aku tadi mendengar ibu mengatakan jika Sakura adalah ibu kandung Hoshi. Apa maksudnya semua ini?" tanya Itachi sekali lagi dengan sebuah tatapan tajam kali ini.

"Kau jangan terus mendesak ibu untuk menjawab pertanyaan yang ibu sendiri tak tahu jawabannya. Itu terlalu konyol." Mikoto tersenyum dengan dipaksakan menanggapi pertanyaan putra sulungnya.

"Konyol ibu bilang? Aku hanya ingin meminta penjelasan tentang apa yang aku dengar tadi. Meminta jawaban ibu mengenai pernyataan yang telah ibu lontarkan. Tidak ada yang konyol menurutku."

"Ibu benar-benar tak mengatakan apapun tadi. Jadi berhentilah menyudutkan ibu seperti itu, Itachi."

"Jika ibu yakin tak mengatakan apa yang tadi aku dengar, lalu kenapa ibu tampak begitu takut?"

"A...Apa maksudmu? I...Ibu tidak takut." Mikoto mulai gugup dalam perkataannya. Kurenai yang mengetahui itu hanya mampu membisu dan menundukkan kepalanya untuk menatap lantai kamar. Sejujurnya dia sediri tak tahu harus mengatakan dan berbuat apa, jika nanti dia berada dalam situasi yang sama seperti yang dialami oleh Mikoto.

"Jangan bohong, bu. Aku tahu jika saat ini ibu tengah menyembunyikan sesuatu dariku. Raut wajah dan nada bicara ibu tak bisa berdusta jika ibu sedang gugup sekarang. Apa yang sebenarnya telah terjadi?"

"..."

"Apa yang ibu sembunyikan?"

"..."

"Lalu apa maksudnya dengan Sakura adalah ibu kandung Hoshi?" Itachi masih mendesak sang ibu dengan pertanyaan-pertanyaannya.

"..."

"JAWAB PERTANYAANKU!" Itachi pun akhirnya berteriak juga setelah dia tak mampu lagi membendung amarahnya yang sedari tadi dicoba untuk dibendungnya. Dan ini sukses membuat pertahanan Mikoto roboh dan dia mulai merasa ketakutan. Apalagi ketika dia melihat mata Itachi yang tiba-tiba berubah menjadi merah. Semerah darah. Dan itu sangat mengerikan baginya.

"Itachi, ibu..."

"Aku tak mau dengar sebuah alasan lagi. Aku mau sebuah jawaban. SEKARANG!"

"Maaf, Itachi. Maafkan aku. Hik...hiks..." Kurenai akhirnya angkat suara yang membuat dia ditatap Itachi dengan tatapan penuh tanya.

"Maaf? Apa maksudmu dengan maaf? Dan kenapa kau menangis?" tanya Itachi tak mengerti sekaligus penasaran.

"Ma...Maafkan aku, Itachi. Aku sudah membohongimu. A...Aku..."

"Kurenai, cukup! Apa kau sudah gila, hah!" Mikoto berusaha menghentikan Kurenai agar dia tak bicara lagi dan mengacaukan semua rencana yang selama ini disusunnya. Dan ini semakin membuat Itachi bingung dengan apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Aku harus mengatakannya, bu. Aku harus mengatakan semua kebenarannya pada Itachi. Dia harus tahu semuanya. Karena jujur, aku benar-benar sudah tak sanggup jika terus membohonginya dan terus dihantui oleh rasa bersalah. Aku tak sanggup, bu. Hik...hiks..."

"Ibu bilang cukup, Kurenai! Jangan bicara lagi! Apa kau mau merusak semuanya, hah!"

"Aku tak peduli! Itachi harus segera tahu kebenarannya. Dan akan aku katakan semuanya. Lagipula, tak ada bedanya dia tahu sekarang ataupun nanti."

"Kurenai, diam! Kau itu..."

"Cukup! Hentikan semuanya! Kalian benar-benar membuatku muak!" teriak Itachi frustasi dengan keadaan ini yang dari tadi terus memerangkapnya dan membuatnya bingung.

Dia merasa seperti orang bodoh sekarang. Orang bodoh yang tak tahu apa-apa dan tak tanggap akan segala sesuatu yang kini tengah terjadi. Dia merasa terhina dan seperti telah dipermainkan oleh ibu kandung dan istrinya sendiri. Dipermainkan oleh keduanya dengan rahasia-rahasia yang sedari tadi terus diperdebatkan dan tak diijinkan bagi Itachi untuk dia mengetahuinya.

Jujur saja, Itachi sangat benci akan hal ini. Dia benci ditipu dan dibohongi. Apalagi jika yang melakukannya adalah orang-orang yang sangat dipercayai dan dicintainya. Dan itu rasanya sakit, benar-benar sakit. Bahkan jauh lebih sakit daripada jantungmu tertusuk sebuah belati tajam dan merobeknya hingga meninggalkan luka menganga.

"Sekarang jelaskan padaku apa yang telah terjadi. Apa yang kalian sembunyikan dariku?"

"Itachi, a...aku akan jujur padamu tentang semua fakta yang selama ini aku rahasiakan. Se...Sebenarnya, Hoshi..."

"Hoshi? Ada apa dengan Hoshi?"

"Ho...Hoshi, dia..."

"Dia kenapa? Cepat katakan, Kurenai. Jangan semakin membuatku bingung."

"Hoshi sebenarnya bukanlah putra kandungku!"

"A...Apa kau bilang? Apa maksudmu dengan kau bukan ibu kandung Hoshi?"

"Hik...hiks...maafkan aku, Itachi. Aku tak bermaksud untuk membohongimu dan menutupi kebenaran ini darimu. A...Aku hanya..."

"Siapa? Jika kau bukan ibu kandung Hoshi, lalu siapa ibu kandungnya? Jawab!" kata Itachi penuh emosi.

"Ibu kandung Hoshi, di...dia..."

"Sakura. Diakah ibu kandung Hoshi?" tanya Itachi pada Kurenai langsung ke intinya. Kurenai yang mendengar pertanyaan itu hanya diam saja dan mengangguk pasrah. Dan ini cukup bagi Itachi untuk menjawab semuanya. Menjawab tanda tanya sekaligus rasa penasarannya.

"Hik...hiks...maafkan aku, Itachi. Aku sungguh tak bermaksud untuk membohongimu dan menyakitimu. Aku melakukan semua ini karena terpaksa. Aku melakukannya karena aku sangat mencintaimu, Itachi. Aku..."

"Cukup, Kurenai! Jangan bicara lagi! Aku benar-benar tak menyangka kau tega melakukan ini padaku. Pada suamimu sendiri. Kau sungguh keterlaluan! Padahal selama ini aku sangat mempercayaimu."

"Itachi, aku minta maaf padamu. Aku sungguh menyesal. Aku mohon maafkan aku, hik...hiks..."

"Aku tak tahu, Kurenai. Aku tak tahu harus menyebutmu apa. Kau benar-benar membuat hatiku sakit!" kata Itachi pada Kurenai dan langsung meninggalkan kamar begitu saja tanpa mempedulikan Kurenai sedikit pun yang tengah menangis memohon kepadanya.

"Itachi! Maaf. Maafkan aku. Maaf, hik...hiks..." Kurenai berteriak untuk membuat Itachi berhenti dan mempedulikannya. Tapi nihil dan sia-sia. Karena Itachi masih terus berlalu dan tak menghiraukannya sama sekali.

"Hik...hiks...Itachi..."

"Kau lihat? Kau lihat perbuatanmu, hah! Kau sudah mengacaukan semua rencana kita. Kau sudah merusaknya!" teriak Mikoto kesal dengan tindakan bodoh yang dilakukan Kurenai.

"A...Aku hanya tidak mau terus membohongi Itachi dan menyakitinya, bu. Aku tak bisa jika terus mendustai orang yang sangat aku cintai. Aku tak bisa melakukannya."

"Tapi karena kebodohanmu itu, sekarang Itachi jadi tahu semua rahasia kita. Dia jadi tahu jika Hoshi bukan putra kandungmu. Dan jika seperti ini, bagaimana caramu untuk menyelesaikan masalah ini? Bagaimana, hah!"

"..."

"Aku sudah menyusun semua rencana ini sedemikan rupa dengan harapan akan terus berjalan lacar dan membuat rumah tangga kalian menjadi lebih baik. Semua ini aku lakukan juga demi kalian berdua. Demi kebahagiaan kalian! Tapi sekarang semuanya menjadi berantakan gara-gara ulahmu. Kau benar-benar bodoh, Kurenai. Sangat bodoh!"

"Maafkan aku, bu. Aku..."

"Aku akan membawa Hoshi ke rumah sakit. Kau urus sendiri masalah yang kau timbulkan. Kali ini aku tak yakin aku bisa membantumu. Bahkan aku..." Mikoto memberi jeda dalam ucapannya untuk mengambil nafas, kemudian kembali melanjutkan perkataannya. "Aku juga tak yakin jika Itachi akan memaafkanmu." Dan dia pun menggendong tubuh mungil Hoshi dan bergegas membawanya ke rumah sakit.

"Itachi..." kata Kurenai lirih dan akhirnya terduduk lesu di atas ranjang king sizenya.

Itachi POV.

Aku kini berada di ruang kerjaku yang bernuasa klasik dan duduk disebuah kursi sambil menatap suasana taman kediamanku dari balik jendela. Ruang kerja ini adalah tempat pelarian yang menurutku cukup nyaman ketika hatiku terasa galau ataupun saat aku tengah merasakan sedih seperti sekarang. Disini aku bisa merasakan kedamaian dan ketenangan yang membuat diriku dapat sejenak melupakan permasalahan-permasalahan berat yang aku alami. Salah satunya adalah permasalahan rumah tanggaku.

Mengingat kejadian yang barusan aku alami beberapa jam lalu, membuat hatiku terasa sakit bagai tersayat sembilu. Ibu dan istri yang paling aku percaya, dengan teganya telah mengkhianatiku. Mereka tega membohongiku dan menutupi kebenaran mengenai putraku, Uchiha Hoshi. Hoshi, putra yang begitu aku sayangi dan menjadi putraku satu-satunya, ternyata bukanlah lahir dari rahim istriku. Bukan lahir dari rahim Kurenai. Karena pada kenyataannya, Hoshi lahir dari rahim wanita lain.

Dan yang membuatku paling terpukul adalah karena wanita yang telah melahirkan Hoshi adalah Sakura, Haruno Sakura. Seorang gadis cantik dengan mata emerald dan rambut pink mencoloknya. Yang juga merupakan gadis yang sangat dicintai oleh adik laki-lakiku, Sasuke.

Sakura...Nama itu kini bersinggah didalam otakku dan terus saja berputar-putar. Seakan sulit bagiku untuk menghilangkannya. Dan bagaimana mungkin aku berpikir bahwa aku dapat dengan mudah melupakan nama itu, jika aku ingat bahwa pada kenyataannya antara aku dan Sakura memiliki suatu ikatan khusus yang sulit dilepaskan.

Gadis itu dulu pernah mengandung benihku selama 9 bulan, hingga akhirnya melahirkan seorang putra tampan dan lucu bernama Hoshi. Atau singkatnya, dalam tubuh Hoshi mengalir darahku dan Sakura, yang menyatu satu sama lain dan telah mendarah daging.

Dan yang membuatku merasa delima adalah jika nantinya Sasuke tahu tentang semua ini. Tentang kebenaran jika ternyata gadis yang sangat dicintainya adalah ibu kandung Hoshi dan dulu pernah tertanam spermaku dirahimnya. Dia pasti akan merasa sangat kecewa dan terluka. Aku yakin itu.

Ckleeek! Aku dengar pintu ruang kerja pribadiku dibuka oleh seseorang. Dan tanpa menolehkan kepalaku untuk memeriksanya, aku sudah tahu siapa pelakunya.

"Itachi..." panggil Kurenai lirih dan sedikit bergetar dari nada bicaranya. Dia kini sudah berada tepat dibelakang kursi kerjaku. Namun aku masih belum mau menatapnya. Atau lebih tepatnya, aku belum sanggup menatapnya dan melakukan kontak mata dengannya. Itu masih terlalu menyakitkan untukku.

"Itachi, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal karena sudah membohongimu."

"..."

"Awalnya aku memang menolak melakukan Surrogancy ini karena aku takut jika kau akan marah padaku. Tapi ibu meyakinkanku jika aku bersedia melakukannya, rumah tangga kita akan menjadi lebih baik dengan hadirnya seorang anak. Anak yang selama bertahun-tahun kita dambakan."

"..."

"Dan karena alasan itulah, aku akhirnya setuju melakukan rencana gila ini. Meskipun aku tahu resiko yang akan aku terima nantinya. Tapi sungguh Itachi, aku tidak pernah sedikit pun mempunyai maksud untuk mendustaimu. Percayalah..." Kurenai masih mencoba menjelaskan alasannya kenapa dia melakukan rencana konyol yang bernama Surrogancy itu padaku. Bahkan dia masih terus meyakinkanku agar aku mau percaya dengan semua yang diutarakannya. Tapi tetap saja, bagiku sangat sulit untuk percaya padanya dan menerima semua alasannya. Ini benar-benar tak masuk akal.

"Aku mohon, Itachi. Bicaralah padaku. Maki atau bentaklah aku jika kau mau. Tapi jangan hanya dia saja seperti ini tanpa mengatakan apapun. Karena diammu ini jauh lebih menyakitkan daripada semua amarahmu itu."

"..."

"Itachi, maaf. Maafkan aku..." kata Kurenai sambil melingkarkan kedua tangannya dileherku dan meletakkan dagunya dibahu kananku. Namun aku tetap diam dan tak meresponnya sama sekali. Aku hanya melirik sekilas dengan menggunakan ekor mataku, dan kemudian kembali menatap halaman taman yang semakin gelap. Seperti gelapnya hatiku yang sangat tersakiti. Jujur saja, aku masih menyimpan amarah pada Kurenai. Dan sulit bagiku untuk memaafkannya.

"Itachi, aku mohon...Maafkanlah aku. Aku mohon, Itachi. Hik...hiks..." Kurenai mulai menangis dan meneteskan air matanya dipundakku. Aku dapat merasakan air matanya menetes dan berlabuh dipundakku, hingga pakaian tidur yang aku kenakan menjadi basah karenanya.

Terus terang, aku juga tak tega jika harus melihat Kurenai seperti ini. Menangis dan terluka karena sikap egoisku. Tapi untuk memaafkannya, aku...

"Itachi, aku..." Kurenai mendekatkan bibirnya pada leherku dan berniat menciumku. Tapi sebelum Kurenai melakukannya, aku sudah terlebih dahulu menghindar dan beranjak dari kursiku. Aku masih belum bisa menerima perlakuannya ini. Karena hatiku masih terasa sakit sekali dengan semua kebohongannya. Dan masih terlalu sulit bagiku untuk memaafkannya.

Mungkin kalian berpikir jika aku sangat jahat pada Kurenai. Tapi kalian pasti akan bisa memahamiku dan mengerti dengan tindakan yang aku lakukan ini jika kalian berada dalam posisi yang sama sepertiku.

"Itachi, ke...kenapa kau..."

"Jangan memohon lagi padaku, Kurenai. Itu percuma. Karena aku...aku belum bisa memaafkanmu." kataku dan langsung meninggalkannya begitu saja tanpa mempedulikan dirinya yang sedang terisak.

Normal POV.

Itachi saat ini tengah berdiri dan bersandar dibalik pintu ruang kerja pribadinya sambil melipat kedua tangannya didada. Waktu sudah hampir menunjukkan pukul 01.00 pagi, namun rasa kantuk belum juga menghinggapi pemuda tampan ini. Dan tidur adalah hal yang sulit untuk dilakukannya ketika indera pendengarannya kini menangkap suara isak tangis Kurenai dari balik pintu. Suara tangis yang memilukan dan menyayat hati.

'Maafkan aku, Kurenai. Bukannya aku tak mau memaafkanmu, tapi aku...aku hanya belum tahu saja bagaimana caranya agar aku bisa memaafkanmu.' kata Itachi dalam hati.

"Kau sedang apa disini?" tanya sebuah suara yang begitu familiar mengejutkan Itachi dan membuyarkan lamunannya. Suara adik sekaligus rivalnya, Sasuke.

"Kau rupanya, kenapa belum tidur?" tanya Itachi balik.

"Hn, mungkin penyakit insomniaku kambuh." jawab Sasuke asal. "Kau sendiri juga kenapa belum tidur?"

"Aku..."

"Hik...hiks..." Namun sebelum Itachi menyelesaikan jawabannya, terdengar kembali suara isak tangis Kurenai yang membuat Sasuke menatap heran pada kakaknya.

"Itachi, itu..."

"..."

"Itu suara kakak ipar kan? Dan kenapa dia menangis?"

"..."

"Apa yang terjadi, Itachi?"

"Ikut aku! Aku ingin bicara denganmu." perintah Itachi dan mulai melangkahkan kakinya menjauhi ruang kerja pribadinya. Dan tanpa banyak tanya lagi, Sasuke pun mengekor dibelakangnya untuk menuju ruang keluarga.

Ruang Keluarga.

"Ada apa, Itachi? Apa ada masalah?"

"Sakura..." kata Itachi tiba-tiba yang langsung membuat Sasuke menatapnya penuh tanya.

"Sakura? Ada apa dengan Sakura? Kenapa tiba-tiba kau menyebut namanya?"

Itachi sejenak menarik nafas dan sedikit berpikir. Setelah dia merasa waktunya pas, dia pun kembali melanjutkan kata-katanya yang sedari tadi ditunggu oleh Sasuke.

"Aku tahu alasan kenapa ibu sangat membenci Sakura. Alasan yang mungkin tak bisa kau terima dengan akal sehatmu."

"Apa maksudmu? Alasan apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tak mengerti dengan ucapanmu."

"Sakura, dia...dia ibu kandung Hoshi." jawab Itachi yang langsung membuat Sasuke tersentak. Matanya membulat seketika dan jantungnya bagaikan meloncat dari porosnya. Bagi Sasuke jawaban Itachi terdengar jauh lebih mengerikan dari sebuah berita duka. Bahkan jawaban itu mampu membuat tubuh Sasuke lunglai seketika seperti tak bertulang.

"A...Apa kau bilang? Tapi bagaimana mungkin? I...Itu mustahil. Itu..."

"Itu mungkin saja terjadi." Itachi memotong ucapan Sasuke dan melirik kearahnya. "Jika dengan cara Surrogancy." lanjut Itachi yang kembali membuat Sasuke terkejut.

"Surrogancy? Surrogancy itu..."

"Proses reproduksi buatan dengan cara memasukkan sperma kedalam rahim wanita lain sebagai ibu pengganti."

"..."

"Dengan imbalan uang tentunya."

"Itu tidak mungkin. Aku tidak percaya. Aku tidak percaya! Mana mungkin Sakura melakukan itu. Aku tahu siapa dia. Dia gadis yang baik. Dia..."

"Bisa saja, Sasuke..." Itachi menggantung ucapannya. "Jika dia melakukannya dengan terpaksa." lanjutnya.

"Aku tidak bisa menerima ini. Tidak bisa!"

"DAN KAU PIKIR AKU BISA!" teriak Itachi lantang yang membuat Sasuke tersentak. "Aku juga tidak bisa menerima semua ini, Sasuke. Tidak akan pernah bisa."

"..."

"Menerima kenyataan bahwa sebenarnya putraku satu-satunya bukanlah lahir dari rahim istriku, melainkan lahir dari rahim wanita lain. Dan yang paling membuatku delima adalah..."

"..."

"Karena wanita itu adalah wanita yang sangat dicintai oleh adikku sendiri. Apa dengan semua kenyataan ini kau pikir aku akan bisa menerimanya? Tidak, Sasuke. Aku tidak akan pernah bisa. Bahkan sampai kapanpun, aku tetap tak akan pernah bisa menerimanya. Sampai kapanpun..."

Sasuke hanya mampu diam setelah mendengar semua pernyataan yang telah dilontarkan Itachi. Sesungguhnya dia merasa bersalah dengan sikap dan perkataannya pada kakaknya itu. Dia terlalu bersikap egois dan ingin menang sendiri, tanpa mempedulikan perasaan Itachi.

Itachi benar, dalam hal ini memang Itachi lah orang yang paling menderita. Rasa sakit dan kecewa yang dirasakan Sasuke tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit dan kecewa yang dirasakan oleh Itachi. Dan Sasuke sangat yakin jika saat ini kakaknya berada dalam situasi yang sulit dan serba salah.

Disatu sisi, Itachi begitu marah dengan keadaan yang telah terjadi dan ingin membenci semua orang yang telah tega membohonginya. Namun disisi lain, Sasuke juga tahu jika kakaknya itu tak mampu untuk melakukannya. Karena bagaimana pun juga, semua kebohongan ini terpaksa dilakukan demi Itachi. Demi kebahagiaanya.

Sasuke amat mengerti akan hal ini. Tapi tetap saja, dalam hati kecil Sasuke dia tak mampu menerima jika gadis yang begitu dicintainya adalah ibu kandung Hoshi dan memiliki ikatan 'khusus' dengan kakaknya. Itu masih terlalu menyakitkan untuknya saat ini. Dan Sasuke tak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya setelah dia mengetahui semua fakta ini. Dan bagaimana dia harus berbuat jika nantinya dia bertemu dengan Sakura. Takdir ini memang kejam dan begitu berat bagi Sasuke. Namun tetap saja, tak bisa juga untuk Sasuke menyalahkan semua kejadian yang dialaminya kepada takdir. Karena bagaimana pun juga, ini semua adalah ketetapan Tuhan yang harus dijalani dengan ikhlas. Sekali pun ini begitu menyakitkan.

"Setelah kau mengetahui semua ini, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Itachi.

"Aku...Entahlah, aku juga tak tahu. Sesungguhnya aku masih bingung dengan semua ini. Aku bingung dengan siapa sebenarnya yang patut disalahkan. Benar-benar bingung."

Itachi merapatkan jarak duduknya dan semakin mendekat kepada Sasuke. Dia amat tahu bagaimana perasaan adiknya saat ini, karena dia pun juga merasakan hal yang sama. Namun mereka tak bisa hanya terus berdiam diri tanpa melakukan apapun dan hanya berputus asa dengan keadaan yang terjadi. Mereka harus melakukan sesuatu demi mempertahankan hubungan mereka dengan orang-orang yang mereka cintai. Mereka harus mempertahankan ikatan cinta mereka. Apapun caranya.

"Aku tak perlu bicara banyak padamu, Sasuke. Karena aku tahu kau pasti mempunyai cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini dan mempertahankan hubunganmu dengan Sakura." kata Itachi sambil memegang pundak Sasuke.

"Hn, aku tahu." jawab Sasuke singkat sambil menerawang jauh kedepan seperti tengah memikirkan sesuatu.

Kediaman Haruno.

Sakura tengah menjemur pakaian disamping rumahnya, ketika sesosok pemuda raven tiba-tiba muncul dihadapannya dan menghentikan sejenak aktivitasnya.

"Sa...Sasuke..."

XOXOXOXOXOXOXOXOXOXO

"Ada apa, Sasuke? Apa tujuanmu datang kemari?" tanya Sakura pada Sasuke, namun tak berani menatap onyx pemuda tampan itu. Mereka berdua kini tengah duduk di teras rumah kediaman Haruno sambil menikmati suasana pagi yang cerah. Walaupun hati mereka kali ini sangat tidak cerah.

"Kenapa? Apa tak boleh jika aku datang ke rumahmu?"

"Bukan begitu maksudku. Hanya saja..."

"Kenapa kau berbohong padaku?" potong Sasuke.

"Apa maksudmu? Aku berbohong? Aku benar-benar tak mengerti dengan arah pembicaraanmu."

"Hoshi, dia putra kandungmu kan, Sakura?"

"Sasuke, kau...Da...Darimana kau tahu?"

"Tak penting aku tahu darimana mengenai hal ini. Sekarang yang ingin aku tahu hanyalah jawabanmu, Sakura. Kejujuranmu. Aku tak mau ada kebohongan lagi diantara kita. Karena kau tahu, dibohongi itu rasanya benar-benar sakit."

"..."

"Padahal selama ini aku sangat mempercayaimu, Sakura. Aku sangat mencintaimu bahkan lebih dari apapun juga di dunia ini. Bahkan aku rela berkorban apapun untukmu. Tapi aku tak menyangka kau tega melakukan ini padaku."

"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"

"Apa maksudmu?"

"Aku memang seperti ini, Sasuke. Inilah diriku yang sebenarnya. Dan bukannya aku dulu pernah mengatakannya padamu? Bahwa kau pasti akan menyesal jika kau terus mencintaiku. Tapi kau masih saja bersikeras menjalin hubungan denganku. Lalu, siapa sekarang yang patut disalahkan?"

"Sakura..."

"Kau tak akan mengerti, Sasuke. Bahkan sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa mengerti. Kehidupanku sangat jauh berbeda denganmu. Kehidupanku terlalu sulit untuk diuraikan. Bahkan jika Tuhan memberikanku hidup selamanya pun, aku juga belum tentu bisa untuk menguraikan kehidupanku ini. Benar-benar menyedihkan." Sakura tersenyum kecut.

"..."

"Sekarang, apa keputusanmu? Jika kau ingin meninggalkanku, aku rasa itu belum terlambat. Karena aku tahu Sasuke, kau tidak akan pernah bisa untuk hidup menderita. Aku benar kan?"

"Ya, kau benar. Sangat benar nona Haruno Sakura. Aku memang tak bisa hidup menderita. Karena itulah aku putuskan..."

"..."

"Mari kita menikah."

TBC