Halo semuanyaaa...aaa...Tabita datang kembali dengan membawa chapter 11! Chapter ini sengaja Tabita buat sebelum UTS biar nantinya ga' mengganggu jadwal belajar Tabita dan Tabita bisa konsentrasi dengan baik supaya dapat nilai baik. Tapi sebelumnya Tabita mau minta maaf sama reader semua karena ada sedikit kesalahan yang Tabita buat dalam pembuatan fic ini. Sebenarnya istilah yang benar itu bukanlah Surrogancy, tapi Surrogacy tanpa huruf 'n'. Dan ini atas pemberitahuan dari salah satu reader yang bersedia membenarkan kesalahan ini. Oleh karena itulah Tabita ucapkan banyak terima kasih. Okey, demikianlah pemberitahuannya dan mohon dimaafkan. He3...V^_^
Balasan Review :
maaf ga login :
Iya, maaf. Waktu itu FFN agak error. Jadi chap 10 nya hilang. He3...
Rei-Cha Ditachi :
Hai Rei-san, terima kasih untuk reviewnya. Soal delima itu, aku ga' sengaja. Maklum ngetiknya sambil ngantuk-ngantuk *ngeles* he3...Akan aku perbaiki lagi bahasaku di chap ini. Thankz buat masukannya.
mayu akira :
SasuxSakuxItachi? Ehm, kapan munculnya ya? Sebenarnya aku masih bingung nich mau buat pair itu apa ga'. Ya nanti coba aku pikirkan lagi.
VVVV :
Kalau buat Sasuke ga' bisa terima Hoshi kayaknya susah dech. Kan dia pamannya Hoshi. He3...
Josephine Lancastrian :
Biar ga' penasaran, silahkan baca...^_^
Chichin :
Pasti happy ending kok. Coz aku suka akhir yang bahagia ^_^
cichan :
Iya, maaf. Yang benar Surrogacy. Ternyata selama ini aku salah. Terima kasih buat pemberitahuannya ^_^
d3rin :
Thankz buat reviewnya. Sudah dilanjut!
edogawafirli :
Belum selesai kok. Masih ada lanjutannya.
Ren-Mi3 NoVantA :
He3...Iya Ren-san, aku salah ketik. Yang benar dilemma. Aku memang payah, selalu aja banyak kesalahan disana-sini kalau buat fic (T_T)
NHL-chan :
Thankz udah baca n review. Upadate datang!
Salnan Klein Phantomhive :
Halo juga Salnan-san, salam kenal. Ga' apa-apa kok telat, yang penting review ^_^
Sasusaku Hikaruno-chan :
Mikoto akan segera aku buat sadar secepatnya V^_^
Uchiha Reiko Ichihara :
Wah asyik donk jadi adiknya Itachi ama Sasuke. Boleh donk salah satu kakaknya buat Tabita. He3...
Just Ana :
Thankz buat dukungannya. Semoga kamu ga' bosen n enek sama fic yang rumit n ancur ini ^_^
Pembaca :
Terus terang aku memang author baru yang ga' terlalu berbakat dalam hal judul maupun ide cerita. Jadi maaf kalau km merasa muak membacanya.
Kazuki Namikaze :
Makasih karena udah baca n review. Sudah diupdate!
Cinta 1000 Tahun
By
Tabita Pinkybunny
Disclaimer :
Sampai kapan pun bahkan sampai
kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap
punya Mr. Masashi Kishimoto
Warning :
Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.
Bahasa dan rangkaian kata kurang
begitu menarik.
Don't like, don't read !
No flame !
Summary :
Sakura awalnya hanyalah gadis biasa
yang hidup dalam
sebuah keluarga sederhana.
Namun kehidupannya berubah drastis
saat dirinya terpaksa harus melakukan
Surrogacy untuk sepasang suami-istri
yang telah lama tak memiliki anak demi
operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya
telah datang, apa yang harus dia lakukan ?
Chapter 11
"Sekarang, apa keputusanmu? Jika kau ingin meninggalkanku, aku rasa itu belum terlambat. Karena aku tahu Sasuke, kau tidak akan pernah bisa untuk hidup menderita. Aku benar kan?"
"Ya, kau benar. Sangat benar nona Haruno Sakura. Aku memang tak bisa hidup menderita. Karena itulah aku putuskan..."
"..."
"Mari kita menikah."
Sakura POV.
Jantungku serasa bergemuruh saat ini. Rasanya seperti ada sesuatu yang meloncat-loncat didalamnya hingga menimbulkan suatu rasa dan sensansi luar biasa yang tak bisa diungkapkan secara lisan.
Kata-kata Sasuke barusan membuatku seakan kehilangan kendali seketika dan tak mampu merasakan keadaan disekitarku.
Dia mengajakku menikah? Dan aku yakin aku memang tadi tak salah dengar jika Sasuke barusan megatakan hal itu. Lalu apakah maksudnya semua ini? Kenapa tiba-tiba saja Sasuke ingin menikah denganku? Bukankah seharusnya dia itu memutuskan hubungan kami atau lebih baik membenciku? Apalagi saat ini dia sudah tahu tentang segala kebohongan yang selama ini aku rahasiakan dari dirinya. Kebohongan besar yang seharusnya sangat sulit dimaafkan. Lalu kenapa sekarang menjadi seperti ini?
Berapa pun aku memikirkannya dan mencoba mencari jawabannya, aku tak akan mampu untuk menemukannya. Ini terlalu rumit. Aku benar-benar tak bisa memahami jalan pikiran Sasuke dan menebak-nebaknya begitu saja. Dia terlalu sulit untuk dimengerti. Atau tepatnya aku yang tak terlalu mengenal dan tak bisa mengerti dirinya. Tapi sekarang yang paling penting adalah apa yang mesti aku jawab mengenai ajakan Sasuke itu?
Disatu sisi ajakan Sasuke benar-benar membuatku bahagia dan merasa begitu dihargai. Tapi disisi lain, batinku juga seperti bertarung dan menolak ajakan Sasuke itu. Aku sungguh merasa bersalah pada Sasuke karena aku sudah tega membohonginya dan mendustai semua kepercayaannya padaku selama ini. Aku merasa tak pantas bersanding dengannya. Aku terlalu hina. Tapi aku juga tidak bisa membohongi hati dan perasaanku bahwa sesungguhnya aku sangat mencintai Sasuke dan tak mau berpisah dengannya. Lalu, sekarang apa yang harus aku pilih? Demi Tuhan, keadaan ini benar-benar menyiksaku.
Normal POV.
"Sakura, kau mau kan menikah denganku?" Sasuke menggenggam tangan Sakura dan menatap mata emeraldnya secara intens.
"Sasuke, aku..."
"Aku ingin membahagiakanmu, Sakura. Aku ingin selalu berada disisimu dan tak ingin kehilanganmu. Dan aku pun rela melakukan apapun untukmu asal kau bahagia. Jadi kau tak perlu ragu." Sasuke mencoba meyakinkan tentang perasaannya pada sang gadis.
"Aku tak pernah sedikit pun meragukan cintamu padaku, Sasuke. Aku sangat percaya pada perasaanmu itu. Hanya saja aku..."
"Hanya saja apa?"
"Hanya saja aku masih belum yakin apakah ini cara yang tepat atau tidak untuk hubungan kita. Maksudku...aku tak begitu yakin jika keluargamu mau menerimaku sebagai salah satu bagian dari keluarga. Kau tahu bagaimana ibumu begitu membenciku kan, Sasuke?"
"Aku tak peduli akan hal itu, Sakura. Apapun yang dikatakan mereka aku sama sekali tak peduli."
"Tapi aku peduli, Sasuke. Aku sangat peduli akan hal itu. Karena bagiku, pengakuan keluargamu sangatlah penting. Terutama pengakuan dari ibumu."
"..."
"Percuma saja jika kita berdua berjuang dengan sekuat tenaga untuk mempertahankan cinta kita, tapi ada yang tak merestui hubungan kita. Itu sama artinya dengan cinta yang sia-sia dan tak ada artinya apa-apa. Dan aku tak mau jika cinta kita berdua menjadi sia-sia, Sasuke. Aku benar-benar tak mau."
"Tapi aku sangat mencintaimu, Sakura."
"Aku juga mencintaimu, Sasuke. Tapi kau harus bisa mengerti dengan semua ini. Kita harus lebih sabar dengan keadaan ini dan mencoba menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Ini juga demi hubungan cinta kan?"
"Tapi bagaimana jika ibuku tetap tak merestui kita? Apa yang akan kita lakukan? Aku benar-benar tak mau kehilanganmu, Sakura."
"Masih banyak waktu untuk kita, Sasuke. Waktu agar kita bisa merenungkan kembali kelanjutan hubungan kita. Percayalah...pasti akan ada jalan yang terbaik untuk hubungan kita ini." Sakura mengusap lembut pipi Sasuke dan kemudian tersenyum.
"Jadi kau menolakku?" Sasuke tampak begitu kecewa.
"Aku tak pernah mengatakan jika aku menolakmu. Aku hanya memintamu agar kau mengambil waktu untuk meyakinkan keluargamu saja agar mau menerimaku. Itu saja. Dan aku yakin kau pasti bisa melakukannya."
"Hn, semoga saja..."
Kediaman Uchiha.
Dengan tergesa-gesa dan dengan air mata yang membasahi pipi mulusnya, Kurenai mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari, melipatnya asal, dan memasukkannya kedalam sebuah koper besar. Saat ini pikiran dan perasaan Kurenai benar-benar buruk dan sangat kacau. Kesedihan dan rasa sakit hatinya sudah tak bisa dia bendung lagi. Pertengkarannya dengan Itachi semalam benar-benar menguras tenaga dan emosinya. Dan sikap Itachi yang belum mau memaafkannya, membuat Kurenai seperti seorang istri yang tak berguna, diacuhkan, dan tak ada harganya sama sekali. Karena itulah, sekarang Kurenai memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan meninggalkan seluruh rasa sakit hatinya. Karena bagi Kurenai lebih baik pergi, daripada terus menahan rasa kecewa dan sakit hati yang berkepanjangan.
"Kau mau kemana?" tanya sebuah suara yang begitu dikenalnya dan menghentikan aktivitas berkemasnya.
"Aku mau pergi dari rumah ini. Karena aku merasa aku sudah tak ada artinya lagi di rumah ini. Kau sudah tak peduli dan tak membutuhkan aku lagi sebagai seorang istri." Kurenai melanjutkan kembali aktivitasnya dan tak menghiraukan keberadaan Itachi di kamar itu.
"Kenapa kau berpikir seperti itu? Aku tak pernah menganggapmu tak ada artinya. Bahkan memikirkan hal itu pun aku sama sekali tak pernah."
"Hah, benarkah! Lalu kenapa kau mengacuhkanku dan tak mengajakku bicara? Kenapa kau mendiamkanku begitu saja dan seperti menganggapku tak pernah ada? Kenapa, Itachi? Kenapa!"
"..."
"Padahal aku sudah meminta maaf padamu atas segala kesalahan yang telah aku perbuat. Aku sudah mengakui semuanya tanpa ada lagi yang aku tutupi. Tapi kenyataannya, kau masih tak peduli. Kau masih tak mau memaafkanku. Lalu menurutmu, sekarang aku harus apa agar membuatmu mau memaafkanku? Harus apa, Itachi? Harus apa! Hik...hiks..." Kurenai menyerah, dia tak bisa lagi menahan rasa perih dihatinya. Dan akhirnya menumpahkan juga semuanya dengan sebuah tangisan histeris yang mampu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. Termasuk Itachi.
"..."
"Aku sakit Itachi, karena kau memperlakukanku seperti ini. Aku benar-benar sakit. Hik...hiks..."
"Maafkan aku, Kurenai." kata Itachi tiba-tiba sambil memeluk tubuh Kurenai dari belakang yang langsung mengejutkan wanita berambut hitam bergelombang itu.
"Itachi..."
"Maafkan aku, aku yang salah. Aku terlalu egois dan sudah bersikap keterlaluan padamu semalam. Aku sudah menyakitimu."
"..."
"Tak seharusnya aku bersikap seperti ini padamu. Karena sesungguhnya kau tidak salah dalam ini. Akulah yang salah karena aku tak bisa menerima kenyataan yang telah ditakdirkan padaku. Aku terlalu bersikap kejam. Tapi aku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, Kurenai. Aku mencintaimu dan tak bisa kehilanganmu. Karena bagiku, lebih baik aku mati daripada aku harus hidup sendirian tanpa dirimu."
"Itachi..." Kurenai membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk tubuh Itachi dengan erat. Jujur, Kurenai juga tak mau berpisah dan kehilangan suaminya itu. Karena bagi Kurenai, kehilangan Itachi sama saja dengan kehilangan separuh jiwa dan raganya. Dan dia juga tak mau pernikahannya yang sudah lama dibinanya hancur begitu saja karena masalah ini. Dia benar-benar tak mau itu terjadi.
"Aku mencintaimu, Kurenai." Itachi mencium pucuk kepala Kurenai dan semakin memperat pelukannya pada Kurenai. Seakan-akan dia benar-benar tak mengingkan kehilangan sang wanita.
"Aku juga mencintaimu, Itachi. Sangat mencintaimu..."
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
"Apa kau bilang? Kau akan menikahi Sakura? Apa kau sudah gila, hah!" Mikoto nampak begitu marah ketika dia mendengar keinginan Sasuke untuk menikahi Sakura. Nafasnya menjadi tak beraturan sekarang.
"Aku tidak gila, bu. Aku hanya ingin menikah saja dengan Sakura. Dengan gadis yang aku cintai."
"Tapi dia itu tidak sederajat dengan kita, Sasuke. Dia bukan dari kalangan atas yang terhormat. Dan dengan kau menikahi Sakura, kau akan mencoreng nama baik keluarga kita."
"Mencoreng nama baik keluarga kita? Benarkah? Lalu kenapa ibu memilih dia untuk mengandung Hoshi?"
"A...Apa kau bilang? Ba...Bagaimana mungkin kau..."
"Jika memang ibu menganggap Sakura itu gadis rendah dan tak sederajat dengan keluarga kita, lalu kenapa ibu memilihnya sebagai gadis yang menampung benih Itachi? Kenapa ibu tidak memilih gadis lain saja yang menampungnya? Kenapa, bu?"
"Itu..." Mikoto tak bisa menjawab pertanyaan Sasuke. Bagi Mikoto pertanyaan Sasuke adalah suatu pertanyaan yang sulit dijawab dan sangat memojokkannya. Hingga membuat lidahnya terasa kelu dan tak mampu berkata-kata.
"Kenapa ibu diam? Kenapa ibu tak menjawabnya?"
"..."
"Ibu tak bisa menjawabnya karena sebenarnya ibu tahu kan, jika gadis lain yang ibu minta melakukan Surrogacy ini, belum tentu dia bersedia. Apalagi jika yang ibu minta itu adalah gadis yang kaya dan sederajat dengan keluarga kita. Hanya Sakura yang bersedia untuk melakukannya dan memenuhi keinginan ibu itu. Keinginan ibu untuk mendapatkan seorang cucu. Aku benar kan, bu?"
"Sasuke, ibu..."
"Terus terang saja bu, sikap ibu yang sekarang sungguh membuatku bingung. Ibu sudah berubah dan tidak sama lagi seperti dulu."
"..."
"Ibu sekarang sudah berubah menjadi sangat jahat dan begitu egois. Dan membuatku seperti tak mengenal ibu lagi. Aku punya seorang ibu tapi seperti tak beribu. Itulah yang aku rasakan sekarang jika ibu ingin tahu. Aku benar-benar kecewa, bu. Sangat kecewa."
"Sasuke, maafkan ibu. Ibu tak bermaksud bersikap jahat ataupun egois padamu. Ibu hanya..."
"Maafkan aku, bu. Aku butuh waktu sendiri sekarang. Dan aku harap ibu mengerti." kata Sasuke yang langsung beranjak dari ruangan itu dan menuju ke kamarnya.
"Sasuke..."
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
Mikoto nampak gelisah dalam tidurnya malam ini. Dari tadi dia terus membolak-balikkan tubuhnya kekanan dan kekiri hingga membuat tempat tidur king sizenya berantakan dan tak karuan. Wajahnya menampakkan kegelisahan yang teramat sangat. Dan seperti tengah mengalami sesuatu dalam tidurnya. Dia seperti tengah bermimpi.
Dunia Mimpi.
"Mikoto, apa kabarmu?" tanya seorang pria dalam mimpi Mikoto. Pria yang begitu familiar baginya dan selama ini begitu dirindukannya.
"Fugaku, apa ini kau?"
"Ya Mikoto, ini aku. Apa kau merindukanku?" tanya Fugaku sambil mengusap lembut pipi Mikoto.
"Ya, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu..."
"Aku kecewa padamu, Mikoto."
"A...Apa kau bilang? Apa maksudmu?"
"Kau tak benar-benar menjaga putra-putra kita, Mikoto. Kau tak menepati janjimu padaku. Kau sekarang berubah."
"Fugaku, aku..."
"Janganlah kau menjadi jahat dan egois, Mikoto. Apalagi pada putra-putra kita. Terutama pada Sasuke. Biarkanlah dia bahagia, Mikoto. Bahagia dengan menikahi gadis yang dicintainya."
"Tapi gadis itu gadis miskin, Fugaku. Dia tak sederajat dengan keluarga kita."
"Apa pentingnya derajat jika dibandingkan dengan kebahagiaan putra kita Sasuke. Kebahagiaan Sasuke adalah segala-galanya daripada seluruh harta yang kita miliki. Dan aku yakin kau pasti juga tahu itu. Iya kan, Mikoto?"
"Tapi Fugaku..."
"Kembalilah seperti dulu Mikoto. Seperti Mikotoku yang dulu. Kembalilah...Aku mencintaimu..." kata sosok Fugaku dan akhirnya berangsur-angsur buram dan menghilang.
"Fugaku, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku. Fugaku...!"
Dunia Nyata.
"Fugaku...!" teriak Mikoto dan akhirnya dia tersadar dari mimpinya. Keringat deras membasahi keningnya. Dan dia nampak begitu ketakutan.
"Hah...hah...hah...Ya Tuhan, hanya mimpi rupanya. Tapi apa maksudnya semua ini? Aku tak mengrti. Benar-benar tak mengerti." kata Mikoto pada dirinya sendiri dan masih merenung.
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
"Sasuke, ibu mau bicara?" kata Mikoto pada Sasuke yang tengah sarapan.
"Hn, bicara saja. Akan aku dengarkan." jawab Sasuke sambil mengunyah roti tawar dimulutnya.
"Ibu..."
"..."
"Ibu merestui hubunganmu dengan Sakura."
TBC
