Halo semuaaa...aaa! Tabita nongol lagi dengan membawa chapter 12 ^_^ Chapter ini adalah chapter yang Tabita selesaikan setelah melaksanakan UTS dan sekaligus juga merupakan chapter terakhir. Semoga di chapter terakhir ini Tabita masih bisa memberikan suguhan cerita yang menarik dan tidak membuat reader semua kecewa. Okey, The Last Chapter UPDATE!
Balasan Review :
lily kensei :
Thankz karena kamu setia menunggu. Chapter terakhir telah update!
Rei-Cha Ditachi :
Tabita mulai terkena wabah sinetron. Jadi chapter 11 kemarin agak menyetron. He3...
cichan :
Sekali lagi thankz ya buat pemberitahuannya. Kamu telah menyelamatkanku dari kesalahan yang berkepanjangan ^_^
Sweet Choco-berry :
Iya, Mikoto udah setuju. Seneng kan? He3...
Ren-Mi3 NoVantA :
Wah2...Ren-san, ga' nyangka sampai segitunya. Baca fic ini sampai dibela-belain jam 12.29 malam. Tabita jadi terharu (T_T)
Tania Hikarisawa :
Okey2! Udah diupdate nich. Ehm, kamu tuh yang dulu pen name nya Aristania Caesarani bukan? Apa aku yang salah n asal nebak aja. He3...
VVVV :
Iya, chap ini adalah chap terakhir ^_^
amigo eigen novi chan :
Yap, udah diupdate!
Josephine Lancastrian :
Siap2, udah diupdate! Ya walaupun ga' bisa cepet. He3...
Sasusaku Hikaruno-chan :
SasuSaku pasti bersatu kok. Tenang aja ^_^
Sky pea-chan :
Siap! Udah diupdate nich ^_^
4ntk4-ch4n :
Yap, ini adalah chap terakhir. Semoga endingnya bagus.
NHL-chan :
Thankz untuk pemberitahuannya. Semoga chap terakhir ini ga' ada typo lagi.
rararaa :
Chap 12 udah diupdate. Review dari kamu banyak juga ya? He3...
MinaKushi forever :
Makasih udah bilang fic ini bagus. Thankz juga buat reviewnya ^_^
Cinta 1000 Tahun
By
Tabita Pinkybunny
Disclaimer :
Sampai kapan pun bahkan sampai
kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap
punya Mr. Masashi Kishimoto
Warning :
Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.
Bahasa dan rangkaian kata kurang
begitu menarik.
Don't like, don't read !
No flame !
Summary :
Sakura awalnya hanyalah gadis biasa
yang hidup dalam
sebuah keluarga sederhana.
Namun kehidupannya berubah drastis
saat dirinya terpaksa harus melakukan
Surrogacy untuk sepasang suami-istri
yang telah lama tak memiliki anak demi
operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya
telah datang, apa yang harus dia lakukan ?
Chapter 12
"Sasuke, ibu mau bicara?" kata Mikoto pada Sasuke yang tengah sarapan.
"Hn, bicara saja. Akan aku dengarkan." jawab Sasuke sambil mengunyah roti tawar dimulutnya.
"Ibu..."
"..."
"Ibu merestui hubunganmu dengan Sakura."
Ctriiing...Suara pisau dan garpu beradu dengan piring terdengar menggema diruang makan. Seperti semua benda itu telah lepas dari kendali orang yang mempergunakannya.
Sasuke tiba-tiba seakan susah bernafas padahal ruang makan dimana dirinya berada bisa dibilang cukup luas dan penuh dengan ventilasi udara. Bahkan roti yang sedari tadi sedang dikunyah didalam mulutnya terasa begitu sukar untuk ditelan dan masuk kedalam tenggorokannya.
Perkataan Mikoto barusan sukses membuat degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Seperti ada sesuatu yang meloncat-loncat tak beraturan, yang mampu mengacaukan kerja jantungnya. Dan sesuatu itu adalah sebuah pernyataan yang akan segera mengubah hidup dan kisah cintanya. Kisah cintanya dengan seorang gadis bernama Haruno Sakura. Yang selama ini penuh dengan rintangan, pengorbanan, dan air mata.
"Apa ibu serius dengan apa yang ibu katakan tadi? Ma...Maksudku, ibu sudah benar-benar merestui hubunganku dengan Sakura? Begitukah, bu?" tanya Sasuke mencoba meyakinkan bahwa dirinya tidak salah dengar.
Kriiiieeet...Mikoto menarik salah satu kursi meja makan dan mengambil duduk dihadapan putra bungsunya. Secara perlahan, Mikoto mengulurkan tangannya dan meraih tangan Sasuke untuk digenggamnya.
Sasuke hanya mampu menatap ibunya dengan heran dan penuh tanya. Karena terus terang, ini adalah untuk pertama kalinya sejak Sasuke berusia 21 tahun, dia bisa seintim ini dengan Mikoto.
Dan Mikoto yang menyadari perubahan raut wajah putranya yang seperti tengah keheranan pun hanya mengeluarkan seulas senyuman yang semakin membuat Sasuke bingung dan tak mengerti.
"Apa kau tidak bisa percaya lagi dengan perkataan ibumu ini, Sasuke? Apa sekarang bagimu ibu adalah seorang pembohong?" Mikoto mempererat genggaman tangannya pada Sasuke sambil memperlihatkan sebuah ekspresi wajah sedih. Sedih dan merasa sedikit perih karena putra kandungnya sendiri belum mampu percaya sepenuhnya kepadanya.
Tapi Mikoto tak sedikit pun menyalahkan Sasuke atas perlakuan bungsu Uchiha itu pada dirinya. Karena bagaimana pun juga, ini semua terjadi karena sikap Mikoto sebelumnya yang sudah begitu keterlaluan dan kejam pada Sasuke dan Sakura. Jadi wajar saja jika sekarang Sasuke membalas perlakuannya dengan cara seperti ini.
"Maafkan aku bu, bukan maksudku untuk tidak mempercayai ibu. Hanya saja aku..."
"Ibu mengerti, Sasuke. Pasti tidaklah mudah bagimu untuk begitu saja mempercayai ibu. Apalagi mengingat selama ini ibu sering kali mencoba untuk memisahkan hubungan cintamu dengan Sakura. Jadi wajar jika kau belum bisa mempercayai ibu sepenuhnya. Dan ibu tak akan pernah menyalahkanmu soal ini, Sasuke."
"..."
"Tapi...asal kau tahu, kali ini benar-benar serius untuk merestui hubunganmu dengan Sakura. Tak ada lagi sedikit pun kebohongan ataupun dusta dibalik ini semua. Ibu kini sadar bahwa semua yang kau katakan dulu adalah benar."
"..."
"Benar bahwa rasa cinta itu tidaklah bisa hanya diukur dari berapa besar harta yang kita miliki ataupun setinggi apa derajat kita dimata publik. Rasa cinta itu haruslah berdasarkan ketulusan dan keyakinan hati. Tanpa dasar, latar belakang, ataupun syarat apapun. Karena bukan cinta namanya jika ada suatu syarat yang mengikutinya."
"Tapi kenapa tiba-tiba ibu merestui hubunganku dengan Sakura? Apa aku boleh tahu penyebabnya?"
"Kau."
"Aku? Maksud ibu?"
"Kaulah penyebabnya, Sasuke. Kaulah alasan utama kenapa ibu merestui hubungan cinta kalian. Ibu tidak mau hanya karena keegoisan ibu, ibu akan kehilanganmu. Kehilangan seorang putra yang amat ibu cintai dan paling berharga dalam hidup ibu. Selain itu..." Mikoto menggantung ucapannya untuk sejenak menarik nafas. "Ibu semalam bermimpi bertemu dengan ayahmu, Sasuke."
"Ibu bermimpi bertemu ayah?"
"Ya, dan dalam mimpi itu ayah memberikan ibu beberapa nasehat yang akhirnya menyadarkan ibu jika selama ini ibu telah berbuat salah."
"..."
"Selama ini yang ada dipikiran ibu hanyalah harta, kedudukan, ataupun derajat saja. Ibu tidak pernah sedikit pun peduli atau memikirkan kebahagiaanmu. Ibu selalu saja memaksakan kehendak ibu yang terkadang tak masuk akal hanya untuk kepentingan ibu, tanpa sedikit pun berpikir bahwa semua tindakan ibu sudah menyakitimu dan membuatmu menderita. Bahkan kau hampir saja berpisah dengan orang yang amat kau cintai karena keegoisan ibu ini."
"..."
"Karena itu, ibu ingin minta maaf padamu. Maafkanlah ibu, Sasuke. Maafkanlah ibu..."
"Sudahlah, bu. Ibu tak perlu meminta maaf lagi padaku sampai seperti ini. Sebab, sebelum ibu meminta maaf pun, aku sebagai anak sudah terlebih dahulu memaafkan ibu. Dan semoga dengan berakhirnya masalah ini, maka kebahagiaan akan terus bersama kita."
"Hm, ya. Semoga saja. Baiklah kalau begitu, ibu akan melihat Hoshi dulu." jawab Mikoto sambil beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan ruang makan. Namun sebelum Mikoto benar-benar pergi, Sasuke menarik tangan ibunya untuk tidak segera pergi, yang membuat Mikoto menatapnya heran dan penuh tanya.
"Ada apa, Sasuke?"
"Ehm, aku tak tahu kenapa aku merasa harus mengatakan ini. Tapi...terima kasih, bu. Terima kasih karena ibu bisa mengerti perasaanku dan akhirnya merestui hubunganku dengan Sakura. Sekali lagi terima kasih, bu." kata Sasuke sambil tersenyum, yang sukses membuat hati Mikoto terenyuh melihatnya.
"Sasuke..."
"Aku menyayangimu, bu." kata Sasuke selanjutnya.
"Ibu juga menyayangimu, Sasuke. Sekarang pergilah...Temuilah Sakura dan katakan bahwa kau sangat mencintainya." perintah Mikoto dengan sebuah senyuman tulus menghiasi sudut bibirnya.
"Hn. Aku pergi, bu." kata Sasuke dan segera berlalu dari hadapan Mikoto untuk segera pergi ke tempat dimana belahan jiwa dan cinta sejatinya berada.
"Fugaku, ini yang kau inginkan kan? Melihat kedua putra yang kita cintai bahagia." kata Mikoto sambil menatap foto suaminya yang terpajang dengan apik ditembok ruang makan.
Skip Time.
"Aku senang kau masih bersedia datang ke rumah ini, Sakura."
"Tidak, nyonya. Justru saya yang merasa terhormat karena nyonya sengaja mengundang saya kemari. Saya..."
"Maafkan aku, Sakura. Maafkan aku atas perbuatanku selama ini padamu. Aku sudah berbuat jahat padamu dan mencoba memisahkanmu dari putraku, padahal aku tahu kau begitu mencintainya. Sekali lagi maafkanlah aku, Sakura."
"Jangan seperti ini, nyonya. Anda tak perlu minta maaf pada saya. Saya tidak pantas diperlakukan terlalu berlebihan seperti ini. Saya sungguh merasa tidak enak pada Anda."
"Tidak, Sakura. Aku memang harus meminta maaf padamu. Karena selama ini aku sudah begitu tega menyakitimu. Aku sudah kejam padamu. Jadi aku mohon...maafkanlah aku, Sakura." kata Mikoto menyesal dengan air mata yang mulai menetes dan membasahi kedua pipinya.
"Saya sudah memaafkan Anda sejak lama. Bahkan sebelum Anda meminta maaf, saya sudah terlebih dulu memaafkan Anda. Karena bagi saya...tidak ada alasan untuk saya membenci Anda. Membenci ibu dari orang yang saya cintai." jawab Sakura sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih, Sakura. Ternyata putraku benar, kau memang seorang gadis yang baik. Jadi tak salah kalau dia memilihmu sebagai kekasihnya."
"Nyo...Nyonya..." Wajah Sakura langsung berubah merah semerah tomat kesukaan Sasuke akibat perkataan Mikoto.
"Sudahlah, bu. Ibu jangan menggoda calon istriku terus. Nanti bisa-bisa dia jatuh pingsan karena saking malunya." goda Sasuke yang membuat wajah Sakura bertambah merah.
"Sa...Sasuke..."
"Ahahaha...kalian ini memang pasangan yang lucu ya? Kalian juga pasangan yang amat serasi. Ahahaha..." goda Mikoto lagi pada pasangan muda itu.
"Sakura, kau sudah datang rupanya?" kata Kurenai yang tiba-tiba muncul bersama Itachi dan Hoshi dalam gendongannya.
"Iya, nyonya. Saya baru saja datang. Se...Selamat siang direktur..." sapa Sakura pada Itachi dengan gugup sambil membungkuk memberi salam.
"Hn, se...selamat siang juga, Sakura." jawab Itachi tak kalah gugup. Apalagi jika dia kembali ingat akan hubungan 'khusus' nya dengan Sakura. Bahwa dirinya dan Sakura adalah orang tua kandung Hoshi.
"Bibi cantik!" teriak Hoshi girang saat dirinya melihat Sakura.
"Hai Hoshi, apa kabar?" Sakura mendekati Hoshi dan terseyum melihat tingkah bocah mungil itu.
"Aku baik. Bibi juga baik kan? Aku kangen banget sama bibi." kata Hoshi yang semakin membuat Uchiha kecil itu tampak begitu menggemaskan.
"Ahahaha...Iya, sayang. Bibi juga kangen sekali denganmu." Sakura mencium pipi tembem Hoshi yang disambut tawa renyah dari Hoshi.
"O iya, makan siang sudah siap. Bagaimana kalau kita langsung ke ruang makan sekarang?" ajak Mikoto pada semua orang.
"Aku rasa itu ide bagus. Lagipula aku juga sudah lapar." kata Sasuke sambil mengusap perutnya yang rata, seolah-olah dia sudah sangat kelaparan.
"Kau itu memang rakus, Sasuke. Dipikiranmu hanya ada makan makan dan makan saja. Seperti tidak ada hal yang lainnya. Dasar pangeran tomat!" kata Itachi innocent yang disambut deathglare dari Sasuke. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Cari mati ya?" tanya Itachi setelah dirinya ditatap Sasuke dengan sebuah tatapan yang menusuk.
"Kau itu yang cari mati, baka! Berani-beraninya menghinaku dihadapan calon istriku. Dasar!"
"Hn, calon istri? Siapa? Sakura maksudmu? Memangnya dia mau jadi istri pangeran tomat bodoh seperti dirimu?"
"Itachi, kau itu benar-benar menyebalkan!"
"Bukannya kau juga, eh?"
"Kau!"
"Sudahlah, cukup! Kalian ini memang seperti anak kecil. Selalu saja meributkan hal-hal yang tidak penting. Apa kalian tidak malu pada Sakura?"
"Ah, ti...tidak apa-apa, nyonya. Jangan terlalu dipikirkan."
"Maaf ya, Sakura. Kau jadi harus melihat hal bodoh yang dilakukan mereka berdua. Sasuke dan Itachi memang sering ribut seperti ini." kata Mikoto sambil melirik ke kedua putranya yang kini hanya diam dan saling menatap satu sama lain.
"Iya, nyonya. Saya mengerti."
"Ehm, Sakura, apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Kurenai.
"Ah, i...iya. Tentu saja, nyonya."
"Kalau begitu, biarkan Sakura dan Kurenai bicara berdua saja. Kita duluan saja ke ruang makan." ajak Mikoto yang langsung disetujui oleh Sasuke dan Itachi. Dan mereka pun pergi duluan ke ruang makan, meninggalkan Sakura dan Kurenai dengan Hoshi dalam gendongannya untuk bicara.
"Duduklah..." Kurenai menunjuk sebuah kursi untuk diduduki Sakura. Gadis soft pink itu pun menuruti perintah Kurenai untuk duduk yang kemudian diikuti juga oleh Kurenai.
"Maaf jika saya lancang. Tapi...apa yang sebenarnya ingin Anda bicarakan dengan saya, nyonya?" Sakura meremas ujung roknya.
"Apa aku mengganggumu?"
"Ti...Tidak, nyonya. Bukan seperti itu. Saya..."
"Aku mohon, Sakura. Kabulkanlah permintaanku."
"A...Apa? Permintaan? Permintaan apa yang anda maksud?" tanya Sakura tak mengerti pada Kurenai yang tiba-tiba saja memohon sesuatu kepada dirinya. Pada seorang gadis biasa, yang tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seseorang seperti Uchiha Kurenai yang memiliki segalanya. Ini nampak begitu aneh, bukan?"
"Aku...Aku tidak mau berpisah dengan Hoshi, Sakura. Aku benar-benar tidak mau. Hik...hiks..." Kurenai berkata sambil mendekap erat tubuh Hoshi dan menangis dihadapan Sakura. Yang membuat Sakura sedikit tersentak melihatnya.
"Nyo...Nyonya..."
"Aku memang tidak melahirkan Hoshi dari rahimku sendiri. Bahkan aku pun juga tak tahu bagaimana sakit dan sulitnya melahirkannya ke dunia ini. Akan tetapi...aku sangat menyayanginya, Sakura. Aku sangat menyayanginya melebihi apapun di dunia ini. Bahkan jika diriku harus mengorbankan nyawa sekali pun demi Hoshi, aku rela. Asal...asal Hoshi terus bisa berasamaku. Dia terus bisa menjadi putraku."
"..."
"Karena itulah...aku mohon padamu, Sakura. Jangan kau ambil Hoshi dari tanganku. Aku tak bisa hidup tanpa dia. Karena Hoshi sudah aku anggap sebagai putra kandungku sendiri. Walaupun aku tahu kau adalah ibu kandungnya dan dia tidak lahir dari rahimku. Tapi aku..."
"Dia tetap putra Anda, nyonya." Sakura angkat suara yang langsung menghentikan ucapan Kurenai seketika.
"A...Apa kau bilang?"
"Dia tetap putra Anda, nyonya. Sampai kapan pun, Hoshi tetaplah putra kandung Anda."
"Sakura, kau..."
"Meski waktu akan terus berputar dan mengikis apapun di dunia ini, tapi status Hoshi tidak akan pernah berubah. Selamanya dia tetaplah seorang Uchiha. Dan Anda serta tuan Itachi tetaplah orang tua kandungnya."
"..."
"Dan satu hal yang perlu Anda ketahui, nyonya. Sedikit pun tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk mengambil Hoshi dari Anda ataupun memisahkan dia dari Anda. Saya tidak mungkin sejahat itu, nyonya. Karena saya tahu, berpisah dengan orang yang kita cintai rasanya sangatlah menyakitkan."
"Tapi, bukankah kau menyayanginya? Kau juga pasti tidak ingin berpisah dengan Hoshi kan, Sakura?" tanya Kurenai. Sakura hanya menanggapi pertanyaan Kurenai dengan sebuah senyuman. Sebuah senyuman yang memperlihatkan ketulusan, meski saat ini hatinya sendiri terasa sakit dan perih. Tapi bukanlah Haruno Sakura namanya, jika dia tak mampu menutupi dan menyembunyikan semua perasaan sedihnya. Itulah dia...Sakura. Seorang gadis biasa yang memiliki ketegaran hati yang luar biasa.
"Memang suatu kebohongan jika saya mengatakan saya tidak menyayangi Hoshi dan ingin memilikinya juga. Tapi saya sadar, keadaan saya yang sekarang sungguh tak memungkinkan untuk saya melakukan itu. Terlebih lagi saya belum siap menghadapi keluarga saya jika seandainya mereka tahu bahwa saya sudah memiliki seorang anak diluar nikah. Mereka pasti akan sangat sedih dan kecewa."
"..."
"Karena itulah saya merasa, saat ini Hoshi lebih tepat bersama Anda. Anda dan tuan Itachi lah yang pantas menjadi orang tua Hoshi. Dan saya yakin, Hoshi pasti akan lebih bahagia jika bersama kalian."
"Tidak, Sakura. Itu tidak benar."
"Apa?"
"Sampai kapan pun kau tetaplah ibu kandung Hoshi. Dan itu tetap tak akan pernah berubah. Meski Hoshi menyandang nama Uchiha, didalam tubuhnya tetaplah mengalir darahmu. Kau tetap ibu kandungnya dan dia tetap putra kandungmu. Karena...sampai kapan pun juga ikatan antara ibu dan anak tak akan pernah dapat dipisahkan. Karena itulah, kau mau kan merawat Hoshi bersamaku dan Itachi? Kita akan sama-sama membesarkannya dan menjadikannya seoarang anak yang istimewa. Kau mau kan, Sakura?" Kurenai mendekatkan duduknya pada Sakura dan dia genggam tangan gadis soft pink itu.
Sakura tersenyum lagi, "Tentu, nyonya. Tentu saja saya mau. Bagi saya ini adalah hal yang paling terindah dalam hidup saya. Sangat indah."
Kurenai membalas senyuman Sakura dengan sebuah senyuman juga, "Menurutku ini juga hal yang indah. Hoshi sangat beruntung karena dia memiliki 2 orang ibu yang begitu menyayanginya. Baiklah, aku rasa kita sudah terlalu lama bicara. Mereka semua pasti sudah menunggu kita berdua di ruang makan. Sebaiknya kita segera bergabung dengan mereka."
"Hm, ya. Saya rasa begitu." jawab Sakura. Dan mereka berdua pun segera meninggalkan ruang tamu itu untuk segera menuju ke ruang makan dan bergabung dengan yang lainnya untuk menikmati makan siang.
XOXOXOXOXOXOXOXOXOXO
Sebuah mobil Lamborgini yang melaju dengan kecepatan sedang, tiba-tiba berhenti tepat ditepi sebuah bukit. Dari dalam mobil mewah itu, keluarlah seorang pemuda tampan dengan rambut mencuat kebelakang seperti pantat ayam, disusul dengan seorang gadis cantik berambut merah muda mengekor dibelakangnya.
"Sasuke, kenapa tiba-tiba berhenti disini?" tanya Sakura pada sang kekasih untuk meminta alasan kenapa pemuda Uchiha itu membawanya ke bukit yang dikanan kiri jalannya terhampar padang bunga dan didepannya terdapat sebuah danau.
Namun bukannya menjawab, Sasuke justru melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalanan bukit yang menurun, hingga akhirnya dia berhenti tepat didepan danau dan duduk disebuah potongan pohon yang tergeletak disana.
"Sampai kapan kau mau terus berdiri? Tidak ingin duduk?" tanya Sasuke pada Sakura yang hanya berdiri saja disampingnya dan tidak melakukan apa-apa.
Sakura yang semakin tak mengerti dengan sikap aneh Sasuke pun, akhirnya hanya menuruti perintah Sasuke dan mengambil duduk disebelahnya.
"Sebenarnya, apa alasanmu mengajak aku kesini?"
"Kenapa? Apa kau tidak suka tempat ini? Menurutku tempat ini indah dan menenangkan." Sasuke memandang danau yang terbentang dihadapannya yang mampu menyegarkan mata onyx nya.
"Bukan begitu, Sasuke. Seperti yang kau bilang, tempat ini memang indah dan menenangkan. Aku juga menyukai tempat ini. Hanya saja, tidak biasanya kau mengajak aku ke tempat seperti ini. Ini seperti bukan dirimu." Sakura menundukkan kepala pinknya dan menggoyang-goyangkan kakinya untuk mengurangi kegugupannya.
"Aku bahagia, Sakura."
"Bahagia? Maksudmu?"
"Aku bahagia karena akhirnya cinta kita menang. Ternyata kau benar, kita hanya perlu bersabar saja dalam hal ini dan menunggu kebahagiaan itu datang dengan sendirinya. Dan terbukti, Tuhan akhirnya mendengarkan doa kita."
"Sasuke..."
"Kesempatan ini tak akan aku buang dan aku sia-siakan lagi, Sakura. Karena itulah..." Sasuke bangkit dari duduknya dan tiba-tiba berlutut dihadapan Sakura. Demi Sakura, demi gadis yang ada dihadapannya kini, dia tinggalkan semua kesan Uchihanya. Asalkan gadis yang ada dihadapannya itu dapat segera mengetahui isi hatinya. Bahwa dirinya begitu mencintai gadis itu sampai mati. Dia begitu memujanya.
"Sa...Sasuke, apa yang kau lakukan? Kenapa kau tiba-tiba saja berlutut seperti ini? Ayo cepat berdiri!" perintah Sakura canggung dengan tindakan Sasuke.
"Tidak, Sakura. Aku tidak akan berdiri. Meskipun aku harus berlutut disini sampai kakiku patah sekali pun, aku tak akan berdiri. Sebelum aku melakukan ini." Sasuke sejenak menarik nafas, kemudian dirogohnya saku celananya untuk mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah. Dari dalam kotak itu, nampaklah sebuah cincin bertahtakan batu berlian yang berkilau dan begitu cantik.
Sasuke meraih tangan kanan Sakura, memasangkan cincin itu dijari manisnya, dan kembali menarik nafas. "Sakura, maukah kau menikah denganku dan menghabiskan seluruh hidupmu untuk bersamaku?" tanya Sasuke yang langsung membuat Sakura tersentak sekaligus bahagia.
Ini adalah moment yang paling dinantikan dalam hidupnya selama ini. Bertemu dengan cinta sejatinya dan hidup bahagia bersamanya. Menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada dia yang dicintainya dan mengikat cinta dalam mahligai indah yang dinamakan pernikahan. Itulah keinginan dan mimpinya. Keinginan dan mimpi dari seorang gadis biasa bernama Haruno Sakura.
"Terlalu bodoh jika aku menolakmu, Sasuke. Karena sesungguhnya aku pun tak bisa hidup tanpa dirimu." Sakura mengusap lembut pipi Sasuke dan tersenyum.
"Jadi maksudmu, kau..."
"Ya, Sasuke. Aku bersedia. Aku bersedia menikah denganmu dan menyerahkan seluruh hidupku padamu. Selamanya..." Sakura langsung memeluk tubuh pemuda dihadapannya itu dengan erat, begitu juga dengan Sasuke. Seakan pelukan itu adalah simbol cinta yang membuktikan bahwa cinta mereka abadi dan tak akan mampu terpisahkan oleh apapun. Untuk selamanya...
"Aku mencintaimu, Sasuke."
"Hn, aku juga mencintaimu." kata Sasuke dan kemudian mencium bibir Sakura dengan bukit dan danau yang menjadi saksi bisu bersatunya cinta mereka.
Jodoh adalah rahasia Tuhan yang tak seorang pun mengetahuinya. Dan setiap manusia pastilah memiliki jodoh dan cinta sejatinya masing-masing. Semua tergantung bagaimana caramu untuk menemukannya.
Dan saat cinta sejatimu tiba, raihlah dia dengan segera. Genggamlah erat dan jangan pernah kau lepaskan. Meski itu sulit, penuh rintangan, menyakitkan, atau bahkan harus membuatmu menunggu 1000 tahun pun, janganlah pernah kau lepaskan cinta sejatimu itu dan menyerah. Karena...bukan cinta namanya jika kau melepaskan orang yang kau cintai begitu saja.
Dan percayalah, pasti akan ada keajaiban yang datang menyambutmu nantinya. Karena jika kau percaya, kisah cintamu akan happy ending.
FIN
Fiiiuuu...uuuh, akhirnya tamat juga fic ini. He3...Rasanya Tabita seneng banget karena bisa menyelesaikan fic ini hingga tamat dan semua beban rasanya telah hilang seketika. Terima kasih Tabita ucapkan atas kebaikan reader semua selama ini yang telah bersedia membaca, mereview, sekaligus memberikan saran-saran yang membangun selama pembuatan fic ini. Dan semoga akhir dari fic ini sudah cukup baik dan tidak mengecewakan. Akhir kata, SAMPAI JUMPA DI FIC TABITA BERIKUTNYA! V^_^
