Warnings: AU, OOC, non-magical world, a bit hurt and fluffy, mature content, SLASH, typo, don't like? Just leave this page!
...
No Matter Who We Are © crimson-nightfall
Harry Potter © J.K. Rowling
...
Harry bersandar pada salah satu pilar gedung sekolahnya dengan kedua mata yang terpejam erat. Ia mengacuhkan begitu saja keramaian di sekitarnya; lebih memilih untuk bergelut dengan pemikirannya sendiri. Berkali-kali pemuda berambut hitam berantakan tersebut menggeleng pelan dan kemudian mengerang ketika ingatan mengenai kejadian seminggu yang lalu terlintas di kepalanya. Ia masih belum bisa melupakan bagaimana sentuhan Draco di setiap jengkal tubuhnya. Bagaimana ia merasakan deru nafas menderu dari pria itu. Bagaimana ia dengan mudahnya terlena dengan pesona guru pengganti di kelasnya itu.
Ia sudah berusaha berkali-kali mengenyahkan dan melupakan kejadian tersebut seperti apa yang Draco katakan padanya. Tapi berkali-kali pula bayangan itu muncul kembali. Ia menyadari kalau dirinya benar-benar bodoh. Sangat bodoh ketika dengan mudahnya ia meminta pria pirang itu memanja tubuhnya kalau pada akhirnya hanya dirinya saja yang menikmati semua itu. Hanya dirinyalah pada akhirnya harus merasakan sakit ketika mengingat kata-kata Draco kepadanya.
Ia adalah orang yang bodoh. Sangat bodoh.
Sejak kejadian di ruang penyimpanan satu minggu yang lalu, ia sadar kalau dirinya bersikap berbeda. Ia lebih banyak diam sambil sesekali melamun. Bukan hanya itu, selama satu minggu terakhir pun, ia selalu menolak untuk menatap guru Kimia-nya. Kalaupun pria itu memintanya untuk menjawab sebuah pertanyaan, Harry lebih memilih untuk menjawabnya tanpa melirik sedikit pun ke arah pria tersebut. Ia tahu kalau Ron dan Hermione menyadari keanehan pada dirinya. Namun karena ia mengatakan kalau tidak ada apa-apa dengannya, kedua orang itu memilih untuk tidak memaksanya. Mereka memang bersahabat tapi bukan berarti mereka harus memaksanya untuk bercerita.
Harry menghela nafas panjang ketika mendengar bel sekolahnya berbunyi. Dengan enggan ia berjalan ke arah lokernya; berniat untuk mengambil buku pelajarannya. Namun ketika hendak membuka pintu besi tersebut, seseorang menepuk pelan bahu kanannya. Harry menaikkan sebelah alis ketika menyadari siapa orang itu.
"Hei Gin," katanya kepada sosok gadis berambut merah menyala di hadapannya.
"Umm, hai Harry. Kau terlihat sedikit tidak bersemangat," kata gadis itu. Harry sedikit tersentak ketika tiba-tiba saja Ginny menempelkan telapak tangan pada dahinya. "Kau baik-baik saja? Ada kantung mata di wajahmu. Kau kurang tidur?"
Harry hanya bisa mengangguk sekilas sambil membuka pintu loker miliknya. "Begitulah," katanya. "Ada beberapa hal yang kupikirkan belakangan ini."
"Well, Ron juga sepertinya mengkhawatirkan keadaanmu, Harry. Keberatan kalau kau bercerita padaku? Siapa tahu aku bisa sedikit membantu," ujar Ginny lagi yang kini menyandarkan tubuhnya pada loker di samping loker Harry. Kedua mata gadis itu menatap lekat ke arahnya; membuat ia sedikit tidak nyaman. Ia hanya menggeleng pelan atas tawaran gadis itu.
"Aku baik-baik saja. Katakan pada Ron dan Hermione kalau mereka tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku. Daripada mencemaskan keadaanku, bukankah sebaiknya kau pergi ke kelasmu? Aku tidak yakin McGonagall akan menyukai kalau muridnya terlambat."
"Kau yakin?" Harry kembali mengangguk. "Baiklah kalau itu maumu. Tapi asal kau tahu, aku akan bersedia meluangkan waktuku kalau kau ingin bercerita."
Pemuda beriris hijau cemerlang itu hanya tertawa pelan kepada sosok Ginny yang melambaikan tangan dan berjalan ke arah di mana arah kelasnya. Namun ketika punggung gadis itu menghilang di sebuah tikungan tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini, tawa di wajah pemuda berambut berantakan itu pudar seketika. Ia kemudian mendesah pelan sembari berjalan ke arah kelas Sejarah-nya. Mungkin di kelas Mr. Binns nanti ia bisa mencuri waktu tidur mengingat sudah beberapa hari ini ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.
-o-o-
Sepasang iris kelabunya menatap langit mendung di luar flat miliknya. Entah berapa lama ia terus berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada bibir pintu kaca di beranda flat tersebut, ia sama sekali tidak ingat. Ia bahkan tidak peduli lagi kalau ia hanya berdiam seperti itu sepanjang hari. Memang, seharusnya hari ini ia pergi ke Hogwarts untuk mengajar dan menggantikan Severus untuk satu atau dua minggu ke depan. Hanya saja saat ini ia tidak ingin mengajar.
Bukan karena ia tidak enak badan seperti apa yang ia informasikan kepada pihak sekolah sebagai alasannya untuk tidak perlu mengajar pagi ini. Ia melakukannya karena ia sama sekali tidak ingin mengajar di kelas pemuda berambut hitam berantakan itu. Tidak ketika ia sedang bingung dengan dirinya sendiri. Bingung mengenai apa yang harus ia lakukan.
Suara ketukan pelan dari arah pintu flat-nya memaksa Draco untuk meninggalkan beranda dan berjalan ke arah pintu masuk. Ia hanya bisa menatap heran ke arah seorang pria yang berdiri di depan pintu flat miliknya. Bukankah pria di hadapannya saat ini harusnya berada di London menghadiri seminar?
"...Apa yang kau lakukan di sini, Sev?" tanya Draco.
"Aku yang harusnya bertanya padamu, Draco. Bukankah seharusnya hari ini kau mengajar dan bukannya berdiam diri di tempat ini?" tanya pria berambut klimis tersebut yang tanpa persetujuan dari pemiliknya berjalan memasuki flat milik Draco kemudian mendudukkan diri pada sofa berwarna hijau tua di ruang tamu. "Dumbledore mengatakan padaku kalau kau tidak enak badan. Tapi yang kulihat, kau sama sekali tidak apa-apa."
"Aku sama sekali tidak sakit."
"Sudah kuduga," kata Severus sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Lalu apa yang menyebabkanmu tidak mau mengajar? Bukankah kau sendiri yang memohon padaku agar membiarkanmu menjadi penggantiku selama aku mengikuti Seminar? Aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan itu untukmu dan membuatmu bertemu dengan Potter. Apa kau mau menyia-nyiakan apa yang telah kuberikan?"
"Aku sama sekali tidak menyia-nyiakan apa yang kau berikan padaku, Sev," kata Draco yang sama sekali tidak menerima kata-kata yang Severus tujukan padanya. Ia tahu kalau dirinya mungkin sudah membuat kesan yang tidak baik di hadapan ayah baptisnya sendiri. Namun apa boleh buat, ia merasa harus menenangkan dirinya sebelum ia benar-benar kehilangan kendali atas tubuhnya ketika berhadapan dengan Harry.
Ya, pemuda beriris hijau cemerlang itulah yang membuatnya tidak datang untuk mengajar dan membuatnya menelantarkan kelima kelas yang semestinya ia ajar hari ini.
"Apa yang terjadi?"
Suara Severus membuat Draco tersadar dari lamunannya. "Tidak ada," katanya sambil menggeleng pelan. Kedua iris kelabunya bisa melihat raut tidak percaya di wajah Severus. "Aku serius. Tidak ada apa pun yang terjadi."
"Oke kalau itu menurutmu," Severus berujar pelan sembari menegakkan kembali tubuhnya dan merapikan mantel hitam yang ia pakai. Draco hanya bisa menautkan kedua alisnya ketika pria yang berpakaian layaknya seperti pelayat di acara pemakaman itu berjalan ke arah pintu masuk.
"Kau datang menemuiku hanya untuk berkata seperti itu?"
"Apa lagi yang harus kuucapkan, Mr. Malfoy?" kata Severus yang berhenti di depan pintu. Sepasang iris kelamnya menatap lekat ke arah Draco. "Aku ke sini karena Dumbledore memintaku melihat keadaanmu. Aku masih punya urusan di London dan kembali ke Spinner's End hanya untuk mengambil beberapa barang-barangku. Dan setelah melihatmu baik-baik saja, aku sama sekali tidak punya kewajiban di tempat ini. Hanya satu nasehatku untukmu. Jangan berbuat kesalahan yang sama sepertiku, Draco," kata Severus sebelum menghilang di balik pintu.
Pria berambut pirang platina itu menghempaskan tubuhnya pada sofa kesayangannya dan kemudian menutup mata dengan menggunakan lengan kanannya. Mau tidak mau, ia memikirkan kata-kata ayah baptisnya barusan. Entah mengapa, pria itu selalu saja bisa mengetahui apa yang sedang menjadi pikirannya walau ia tidak pernah mengucapkannya secara gamblang.
Ia sangat tahu apa maksud kata-kata Severus padanya. Ia juga tahu bagaimana kisah pria itu sampai akhirnya memberikan nasehat padanya. Ia tahu Severus tidak ingin kalau ia mengikuti jejak yang sama dengannya hanya karena sebuah kesalahan bodoh.
Bertahun-tahun yang lalu, Severus pernah mencintai seorang wanita. Wanita yang Draco yakini merupakan satu-satunya wanita yang berada di hati pria itu. Hanya karena tidak ingin merusak persahabatan yang mereka jalin sejak kecil, Severus tidak pernah mengatakan perasaannya sampai pada akhirnya wanita itu malah mencintai seorang pria yang merupakan musuh besarnya ketika masa-masa sekolah dulu. Dan ketika akhirnya kematian merenggut wanita itu dalam sebuah kecelakaan mobil di pinggiran Scotlandia ketika wanita itu dan keluarga kecilnya hendak berlibur menikmati musim panas, tidak sekali pun Severus berhasil mengutarakan perasaannya. Sampai sekarang pun Draco yakin kalau Severus masih mencintai wanita itu.
Wanita yang merupakan ibu Harry.
Draco menghela nafas panjang ketika ia mengingat kalau kejadian itu sudah berlangsung sekitar tiga tahun yang lalu. Tiga tahun sudah ketika Harry akhirnya dirawat oleh kedua Black bersaudara karena Sirius menolak kalau Harry harus tinggal dengan kerabat dari pihak ibunya karena pemuda itu tidak mempunyai kerabat lain. Tiga tahun pula dirinya sudah dilupakan oleh pemuda itu. Dilupakan oleh satu-satunya orang yang berarti baginya.
-o-o-
Harry tidak tahu apakah ia harus merasa senang atau kecewa ketika Mr. Flitwick—guru Teater di sekolahnya—mengatakan kalau hari ini tidak ada pelajaran Kimia seperti biasanya karena pria berambut pirang platina itu tidak masuk sekolah karena tidak enak badan.
Di satu sisi, ia menghela nafas lega karena itu berarti hari ini ia tidak harus bertatap muka dengan Draco. Ia tidak harus menahan dirinya untuk tidak menatap pria itu selama pelajaran berlangsung. Ia juga tidak perlu bersikap seolah-olah ia telah melupakan apa yang terjadi dengan dirinya. Tapi di sisi lain, ketika mendengar kalau guru pengganti itu tidak masuk sekolah karena tidak enak badan, ia merasakan perasaan tidak nyaman di dadanya. Perasaan yang menginginkan ia untuk menjenguk pria itu.
Namun Harry hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia bukanlah siapa-siapa bagi Draco. Ia hanya seorang murid yang terlalu naif dan berani untuk memasuki kehidupan seorang Draco Malfoy. Pria itu pun sudah jelas-jelas mengatakan di mana jarak di antara mereka; seolah-olah apa yang terjadi seminggu yang lalu sama sekali tidak berarti bagi Draco.
Jujur saja, ini adalah kali pertama baginya mengalami hal seperti ini. Sejak ia memasuki masa pubertas dan mulai tertarik dengan orang lain, tidak sekali pun ia merasakan hal yang seperti ia rasakan kepada pria pirang tersebut. Walau ia tahu kalau ia baru bertemu dengan Draco kurang dari satu minggu, ia merasa sudah mengenal lama pria itu. Samar-samar ia bisa merasakan bagaimana tubuhnya seolah-olah mengenali kehadiran pria itu. Bagaimana tubuhnya bereaksi setiap bersentuhan secara tidak sengaja dengan kulit pucat Draco.
"Dia benar-benar membuatku gila," gumam Harry sambil menenggelamkan kepalanya pada kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Ia sengaja pergi ke Perpustakaan kemudian duduk di bagian terdalam yang jarang didatangi orang-orang hanya agar ia bisa memperoleh sedikit ketenangan jika dibandingkan pergi ke kafetaria atau halaman sekolahnya. Di sana pasti sangat ramai dan ia tidak ingin menjawab pertanyaan orang-orang yang menanyakan keadaannya.
Harry terus berdiam diri dan melamun sepanjang sisa pelajaran kosongnya sampai akhirnya Madam Pince, sang Pustakawati mengusirnya keluar dari Perpustakaan karena wanita itu akan segera menutup tempat tersebut. Harry hanya bisa mendesah pelan dan mulai meninggalkan Perpustakaan. Mungkin ia bisa kembali merenung di Perpustakaan di rumahnya di Grimmauld Place. Ia membutuhkan tempat yang tenang.
...
...
Pemuda beriris hijau cemerlang tersebut sedikit mengernyitkan dahi ketika ia sampai di rumahnya dan menemukan seorang pria yang terlihat sedang bersantai di depan perapian dengan sebuah sebuah surat kabar di tangannya. Ia sedikit heran ketika mendapati rumah yang biasanya kosong di siang hari ternyata berpenghuni.
"...Bukannya kau hari ini bertugas, Sirius?" Harry bertanya sambil meletakkan tas sekolahnya di sofa di ruang bersantai dengan kedua matanya yang tidak henti-hentinya menatap lekat ke arah ayah baptisnya.
"Well, duduklah, Harry," kata Sirius. Dilipatnya surat kabar di tangannya dan meletakkannya begitu saja di sebuah meja di samping pria itu. Harry yang heran dengan raut wajah ayah baptisnya hanya menuruti kata-kata pria itu. "Aku meminta izin pulang lebih cepat dari Kingsley karena permintaan Regulus. Dia—kami lebih tepatnya—mencemaskan keadaanmu."
Harry hanya bisa mengerutkan dahi mendengar kata-kata Sirius. Tidak biasanya pria berambut hitam itu berwajah serius seperti sekarang. "Aku baik-baik saja, Sirius. Untuk apa Reggie mencemaskanku?"
"Dengarkan aku Harry. Kami bukan orang yang bodoh untuk tahu kalau kau tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja," kata Sirius yang sekarang mendudukkan diri di samping Harry. "Aku ini walimu dan segala sesuatu yang terjadi padamu adalah tanggungjawabku. Jangan membuatku berhutang kepada kedua mendiang orangtuamu hanya karena aku bersikap seperti tidak peduli padamu. Sekarang berhenti bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa dan katakan padaku apa yang membuatmu terlihat aneh belakangan ini."
Harry menghela nafas panjang. "Aku baik-baik saja, Sirius. Kalian hanya membesar-besarkan apa yang ada," katanya. Ia tahu kalau Sirius tidak akan mempercayai alasan klise darinya. Walau dipaksa seberapa kali pun, ia juga tidak akan mau mengatakannya kepada Sirius atau Regulus. Bagaimana mungkin ia mengatakan hal memalukan itu kepada mereka? Tidak. Ia tidak akan pernah mau menceritakannya.
"Harry—"
"Aku serius," potong Harry terlebih dahulu. "Kumohon. Aku sama sekali tidak bisa menceritakannya padamu dan kuharap kalian mengerti. Aku baik-baik saja. Hanya... hanya kumohon padamu, biarkan aku sendiri. Oke?"
Sirius terdiam cukup lama sampai akhirnya ia hanya mengganguk singkat. "Tapi kau harus berjanji padaku kalau apa pun yang terjadi padamu dan nantinya hanya akan menimbulkan masalah, kau harus menceritakannya padaku atau Reggie." Harry mengangguk sebagai balasan. "Kalau begitu istirahatlah sementara aku akan menyiapkan makan malam."
Pemuda berambut hitam berantakan itu kembali menggangguk singkat. Sedikit merasa bersalah karena sudah membuat kedua anggota keluarganya mencemaskan dirinya. Dalam diam, ia mengamati sosok Kepala Keluarga Black yang beranjak dari ruang bersantai menuju ke arah dapur. Harry tersentak ketika mengingat sesuatu.
"Hei Sirius," panggil Harry. Dilihatnya pria berambut gelap itu berhenti dan kemudian membalikkan tubuhnya: menunggu mengapa Harry memanggilnya. "Apa... apa sebelum kecelakaan tiga tahun lalu aku pernah bertemu seseorang dari keluarga Malfoy? Maksudku, sebelum aku kehilangan seluruh ingatanku karena kecelakaan itu apa aku pernah mengenal seseorang bermarga seperti itu?"
Ia bisa melihat kedua iris gelap ayah baptisnya melebar mendengar pertanyaannya. "Apa ada sesuatu yang kau ingat?"
Harry hanya bisa menggeleng. "Tidak. Hanya saja sejak dua minggu yang lalu, Snape tidak mengajar karena mengikuti seminar entah-apa-namanya sehingga seseorang menggantikannya. Namanya Draco. Draco Malfoy dan entah mengapa aku seperti pernah mengenalnya."
Harry hanya bisa menaikkan sebelah alisnya ketika menyadari raut bingung di wajah ayah baptisnya.
"Well," kata Sirius sambil menggaruk bagian belakang kepalanya. "Mungkin karena kau memang pernah bertemu dengan Draco. Ibunya, Narcissa Malfoy nee Black adalah sepupuku dan Snivellus adalah ayah baptisnya, kalau aku tidak salah ingat. Kau pasti sudah tahu kalau Snivellus adalah sahabat baik Lily dan sering menemui Ibumu. Kejadiannya memang sudah lama sekali saat kau masih berumur sepuluh tahun ketika Snivellus mengajak Draco ikut mengunjungi Ibumu karena kedua orangtuanya pergi dinas ke luar negeri. Ada apa? Apa Malfoy Junior itu mengganggumu seperti yang selalu ia lakukan saat kalian masih kecil?"
Harry menggeleng pelan. Sangat pelan sampai Sirius mengira ia sama sekali tidak merespon pertanyaan yang ditujukan padanya. Saat ini ia terlalu terkejut dengan apa yang dikatakan ayah baptisnya. Ia juga sama sekali tidak sadar kalau dirinya mulai berjalan menuju kamarnya di lantai tiga—menghiraukan seruan Sirius yang menanyakan apa yang terjadi padanya—kemudian menutup pelan pintu kamarnya dan mengurung diri di dalam sana.
Ia berusaha mengatur nafasnya yang entah sejak kapan terasa sesak sambil menyandarkan tubuhnya pada daun pintu. Ia meringis pelan ketika mendadak kepalanya terasa sakit sampai membuatnya merosotkan tubuh sehingga saat ini ia mendudukkan diri begitu saja di atas lantai beralaskan karpet hijau tua.
Ia sama sekali tidak bisa mengingat semua itu. Tidak satu pun.
-o-o-
Draco tahu kalau ia tidak bisa berlama-lama untuk tidak masuk sekolah dan menelantarkan tugasnya sebagai seorang pengajar. Ia juga tahu cepat atau lambat ia harus kembali mengajar walau saat ini ia benar-benar tidak sedang dalam suasana hati yang baik untuk bertemu dengan remaja-remaja ababil di sekolah tersebut.
Pria berambut pirang platina itu mendesah pelan ketika melirik kalender di mejanya; mengingat sudah berapa lama ia menggantikan Severus. Sepasang iris kelabunya kemudian mengamati kelasnya pagi ini. Tidak seperti mengajar anak-anak dari Tingkat Menengah, ia cukup menikmati mengajar A-Levels. Bukan karena hanya dua kelas saja dari tingkat itu namun karena anak-anak di tingkat ini cenderung lebih dewasa jika dibandingkan dengan anak-anak di Tingkat Menengah yang lebih sering hanya diam memandanginya daripada memandangi buku pelajaran yang terbuka di atas meja. Sungguh, ia ingin sekali mengeluarkan anak-anak seperti itu dari kelasnya dan menyuruh mereka untuk tidak perlu belajar saja selamanya.
"...Kerjakan tugas ini dengan baik karena nilai tugas kali ini akan sangat menentukan apakah kalian layak untuk mengikuti Ujian Sertifikasi atau tidak dan sedikit informasi, Mr. Snape-lah yang akan menilai tugas proyek ini," kata Draco. Ia tersenyum sinis ketika mendengar erangan dari tiga belas anak di ruangan tersebut. Bukan hal aneh lagi kalau dirinya memberikan banyak tugas kepada anak didiknya.
Tidak lama setelah ia membagikan daftar tugas proyek untuk anak-anak di Sixth-form, bel sekolah berbunyi. Ia bersyukur karena jam mengajarnya sudah usai. Tapi bukannya beranjak dari ruang kelasnya dan pulang ke flat miliknya, Draco lebih memilih untuk tetap diam di ruangan tersebut sambil memandang ke arah luar jendela kelas.
Ia tidak akan berbohong ketika mengatakan kalau dirinya belum melupakan 'insiden' kecil yang terjadi di ruang penyimpanan bersama Harry. Ia bahkan masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana raut wajah pemuda itu ketika ia memanjanya. Bagaimana pemuda dengan iris secemerlang zambrud itu meneriakkan namanya. Ia bahkan sering memimpikan hal semacam itu sejak seminggu terakhir.
Walau ia sendiri yang mengatakan untuk melupakannya, ia sendiri tidak bisa. Bagaimana mungkin melupakan hal itu semudah membalikkan telapak tangan? Orang lain mungkin tidak akan pernah tahu bagaimana ia berusaha keras menahan dirinya sendiri untuk tidak memeluk Harry ketika pemuda itu muncul di depan kelasnya. Ia begitu merindukan pemuda itu. Merindukan bagaimana cara Harry memanggil namanya. Merindukan bagaimana senyum pemuda itu.
Draco kembali menghela nafas panjang sambil mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. Apa yang ia rencanakan ketika untuk pertamanya kembali ke Inggris setelah tiga tahun lebih meninggalkan tanah kelahirannya rupanya telah berantakan dan ia tidak tahu bagaimana caranya untuk memperbaiki semua itu.
Ia mengutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya terbawa suasana tempo hari. Bagaimana rasa rindunya terhadap pemuda itu membuatnya lepas kendali sampai akhirnya ia menyadari apa yang terjadi sebelum semuanya terlambat. Demi Tuhan! Ia hampir saja melakukan hal yang tidak pantas terhadap muridnya sendiri. Ia hampir saja membuat Harry akan menyesali apa yang mungkin terjadi ketika ia tidak segera menghentikan semua itu.
Draco memijit pelan keningnya karena merasa kepalanya pusing. Dalam hati, ia menyalahkan kecelakaan yang terjadi tiga tahun lalu yang menyebabkan ia harus berpikir rumit seperti ini. Kalau saja tiga tahun lalu kecelakaan yang akhirnya merenggut nyawa James dan Lily Potter tidak terjadi, Harry tidak akan pernah melupakannya. Pemuda itu juga tidak akan kehilangan ingatannya karena kecelakaan itu.
Ia tahu dari Severus kalau ingatan Harry tentang kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi tidak akan bisa kembali karena luka di kepala yang diderita pemuda sangat parah. Belum lagi trauma pasca kecelakaan mempengaruhi memori ingatan pemuda itu. Sangat tipis bagi Harry untuk mengingat semuanya dan itu berarti, Harry juga telah melupakan dirinya. Melupakan hari-hari yang pernah mereka lalui dengan pertengkaran dan saling melempar ejekan satu sama lain.
Karena alasan itu pula, Draco tidak mengatakan bagaimana perasaannya selama ini pada pemuda itu. Karena alasan yang samalah ia mengatakan kata-kata sekejam itu pada Harry. Harry yang saat ini ditemuinya adalah Harry yang tidak memiliki ingatan apa pun mengenai dirinya. Ia tidak ingin merasakan sakit ketika ingatan pemuda itu kembali, Harry justru menjauhinya karena sejak pertama kali mereka bertemu, mereka sudah saling membenci satu sama lain.
Walau hal itu sudah lama sekali terjadi, bukan berarti Harry akan melupakannya begitu saja.
Alasan yang sangat tidak dewasa sekali bukan?
"Mr. Malfoy."
Draco yang saat itu membuka pintu kelasnya untuk segera pulang terkejut ketika menemukan sosok Harry yang entah sejak kapan sudah berdiri di depan pintu. Ia sedikit penasaran mengapa tiba-tiba saja Harry menemuinya setelah selama ini baik dirinya dan pemuda itu berusaha saling menghindar satu sama lain.
"Apa yang kau lakukan di sini, Mr. Potter?" tanya Draco. Walau saat ini ia menampakkan raut wajah tenang dan seolah-olah tidak peduli, hal itu tidak seperti apa yang ia rasakan sesungguhnya.
"Aku ingin bicara dengan Anda."
"Sepertinya aku tidak punya jadwal berbicara denganmu, Mr. Potter. Kalau itu bukan hal yang penting, lebih baik kau menyingkir dari hadapanku karena aku berniat untuk pulang."
Namun bukannya menyingkir, Harry malah berjalan mendekatinya sehingga kini mereka berada dalam jarak yang cukup dekat. Sepasang iris matanya mengamati Harry yang memejamkan mata sambil menghela nafas panjang. Ia hanya diam saja ketika pemuda itu membuka matanya dan menatap langsung ke arahnya.
"Aku menyukaimu, Draco."
-o-o-
Ia tahu kalau ia mungkin sudah gila dengan mengatakan tiga kata itu kepada pria di hadapannya. Ia bahkan sama sekali tidak tahu apa pun tentang pria itu. Bahkan ingatan kecil tentang mereka yang pernah saling kenal sebelumnya pun tidak bisa ia dapatnya. Ia tahu kalau ia juga terdengar nekat. Menurut apa yang diceritakan Sirius padanya, ia dan Draco bahkan tidak bisa disebut sebagai seorang teman karena setiap bertemu, mereka selalu berdebat dan saling menghina satu sama lain. Dan sekarang, ia mengatakan kalau ia menyukai pria itu. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuatnya berbuat demikian.
"Jangan mengatakan lelucon yang tidak lucu padaku, Mr. Potter," kata Draco padanya. Harry kembali mengigit bagian bawah bibirnya ketika melihat sepasang iris kelabu itu menatap tajam. "Hentikan lelucon ini dan pulanglah."
"Aku sama sekali tidak sedang bercanda."
"Benarkah? Bagaimana mungkin aku bisa menganggap ini bukan sebuah lelucon kalau orang yang mengatakannya sama sekali tidak tahu apa pun tentangku. Kita baru bertemu kurang dari tiga minggu, Mr. Potter. Jangan samakan—"
"Kau tahu kalau itu sama sekali tidak benar, bukan? Kau tahu sendiri kalau kita pernah bertemu sebelum ini. Kau jangan menyangkal kalau kita saling mengenal sebelum ini. Karena aku... aku merasa kalau aku sangat mengenalmu lebih dari siapa pun. Katakan padaku kalau hubungan kita dulu bukan hanya sebagai musuh seperti yang Sirius katakan padaku."
"Harry—"
"Jangan mencoba mengatakan hal yang sama sekali tidak penting padaku karena aku sama sekali tidak akan mendengarkanmu, Draco," kata Harry. Diulurkannya telapak tangan kanannya ke arah sisi kiri wajah Draco kemudian membelainya. Ia tersentak karena lagi-lagi merasakan sensasi yang sama ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Draco. Ia yakin dengan apa yang dikatakannya barusan. Ia bahkan tidak peduli lagi kalau memang benar bahwa dulu mereka bahkan tidak pernah akur satu sama lain.
"Kau tahu apa yang baru saja kau ucapkan?" tanya Draco padanya. Harry hanya mengangguk singkat atas pertanyaan itu. Ia yakin kalau perasaannya pada pria di hadapannya sekarang adalah rasa suka. "Aku... aku tidak bisa, Harry."
Belaian lembut Harry pada wajah Draco seketika terhenti. Ia mendongakkan kepalanya agar bisa melihat wajah pria berambut pirang tersebut. Ia menatap tidak mengerti ketika melihat keraguan di sepasang iris kelabu di depannya. "Kau tidak menyukaiku," kata Harry.
"Aku menyukaimu. Sangat. Aku bahkan menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku ketika kau sama sekali tidak pernah membalas e-mail dariku ketika aku pindah ke Kansas. Kau tidak tahu bagaimana aku merindukanmu ketika tidak bertemu denganmu. Selama satu tahun lebih aku sama sekali tidak pernah mendengar kabar darimu sampai pada akhirnya Severus memberitahuku kalau kalian mendapat kecelakaan. Hanya kau yang selamat. Kau tidak tahu bagaimana perasaanku saat datang menjengukmu tapi kau sama sekali tidak mengingat satu pun hal tentang dirimu. Kau melupakanku. Kau melupakan semuanya."
Harry terdiam mendengar penuturan Draco. Samar-samar ia mengingat hari-hari setelah kecelakaan yang merenggut kedua orangtuanya. "Kau pernah menjengukku di rumah sakit," kata Harry ketika bayangan seorang pemuda berambut pirang platina yang sedang menyandarkan diri di bibir pintu rumah sakit terlintas di kepalanya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakan kalau ia pernah bertemu dengan Draco sebelum ini?
"Ya, aku memang pernah datang menjengukmu. Namun kau sama sekali tidak mengatakan sepatah kata pun padaku. Kau bahkan tidak mau menatapku. Karena sikapmulah aku berpikir kalau kau membenciku."
"Aku sama sekali tidak membencimu," kata Harry dengan suara pelan. Ia bisa mendengar Draco mendecak atas kata-katanya.
"Kau mengatakan kau menyukaiku karena saat ini kau hilang ingatan, Potter. Ketika kau ingat, kau akan mengatakan hal sebaliknya. Kau tidak pernah menyukaiku. Hentikan semua ini karena kau hanya akan menyakitiku."
Harry yang tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Draco bisa melihat dengan jelas ada sesuatu di mata pria itu. "Kau mengatakan semua hal tadi hanya karena takut kalau hal itu akan membuatmu terluka, bukan?" tanya Harry. "Kau takut kalau suatu saat nanti jika aku bisa mengingat kembali, aku akan pergi darimu. Benar kan? Kau itu orang yang pengecut, Malfoy."
"Kau sama sekali tidak tahu apa-apa tentangku, Potter," Draco mendesis.
"Oh, shut the hell up!" teriak Harry yang entah mengapa tiba-tiba saja amarahnya memuncak. "Kau itu memang pengecut yang hanya bisa bersembunyi di balik topeng dinginmu. Kau menyangkal perasaanmu sendiri hanya karena takut terluka. Asal kau tahu, Mr. Malfoy! Ingatanku sama sekali tidak akan pernah kembali. Semakin aku mencoba mengingatnya, hanya rasa sakit yang kudapat. Sekarang berhenti bersikap seperti seorang pecundang! Aku bahkan sama sekali tidak peduli bagaimana perasaanku dulu. Aku hanya peduli pada apa yang kurasakan sekarang!"
Harry yang sama sekali tidak mendengar omong kosong dari Draco segera menarik kerah kemeja hitam yang dipakai pria itu sehingga membuat bibirnya sekali lagi bersentuhan dengan bibir Draco. Dikaitkannya kedua tangannya di leher pucat Draco.
"Aku menyukaimu, Draco. Aku menyukaimu..." bisik Harry ketika ia menarik kembali bibirnya. Dengan jemari yang bergetar, ia melepaskan kaitan tangannya dan menjauh.
"Kau benar-benar tidak memberiku pilihan lain lagi, Harry," kata pria di hadapannya yang jelas membuat Harry kebingungan dengan kata-kata tersebut. "Kau sepertinya sama sekali tidak peduli kalau kita bisa terlibat masalah karena hal ini. Hubungan antar guru dan murid adalah sesuatu yang tidak pantas."
Pemuda berambut hitam berantakan itu mendengus pelan ketika melihat seringai tipis di wajah Draco. "Well, kau guru pengganti dan hanya bertugas sementara, Mr. Malfoy. Orang-orang tidak akan tahu kalau kita tidak membuka mulut, kan?" katanya sambil mendekatkan kembali tubuhnya ke tubuh Draco. Harry harus sedikit berjinjit untuk dapat bertatap muka langsung dengan pria itu. "Berhentilah memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak penting, Draco."
Harry tidak perlu melihat apa yang sedang terjadi ketika merasakan sentuhan Draco di sisi kanan tubuhnya serta hembusan nafas pria itu yang menerpa wajahnya. Kedua iris hijau cemerlangnya masih terpaku kepada dua buah kilau kelabu di depannya. Ia tersenyum tipis ketika menyadari kalau wajah Draco semakin mendekat ke arahnya. Tubuhnya seketika menegang saat bibir Draco menyentuh bibirnya.
Harry mengingat sensasi ini. Ia mengingat bagaimana sensasi ketika Draco menciumnya. Sama seperti apa yang ia rasakan seminggu yang lalu. Bagaimana bibir itu memagut bibirnya. Bagaimana ketika lidah Draco menginvasi rongga mulutnya. Ia mengingat semua itu.
Pemuda beriris hijau cemerlang itu mengerang pelan ketika Draco mengajak lidahnya untuk bergulat. Dipejamkannya kedua matanya sambil mengalungkan kedua tangan di leher Daco; mencoba memperdalam ciuman mereka. Ia hanya bisa mengerang tertahan atas permainan Draco di mulutnya. Ia juga tidak berkomentar apa-apa ketika merasakan Draco memeluk erat tubuhnya kemudian menariknya menuju ke dalam kelas. Ia sempat mendengar suara pintu yang ditutup dan kunci yang diputar. Ia bahkan sudah tidak peduli lagi ke mana Draco membawanya.
"Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu, Harry," bisik Draco padanya ketika bibir mereka tidak lagi terpaut. "Kau tidak tahu bagaimana selama ini aku menahan diri untuk tidak mengatakan perasaanku karena takut dengan penolakanmu. Aku mencintaimu, Harry."
Harry kembali memejamkan matanya ketika Draco kembali memagut bibirnya. Ia mendesah saat merasakan sentuhan Draco di beberapa bagian tubuhnya.
Ia tahu kalau orang-orang pasti tidak percaya kalau dirinya mengatakan menyukai Draco padahal dulu mereka bahkan tidak pernah akur. Ia juga tahu kalau Sirius tidak akan percaya dan mengangap semua ini tidak masuk akal. Namun, ia tahu apa yang ia rasakan. Mungkin dulu mereka saling tidak menyukai satu sama lain. Tapi ia tahu, ia tahu kalau dirinya tidak sepenuhnya membenci Draco. Memang benar kalau saat ini ia tidak mempunyai ingatan tentang masa lalu mereka. Tapi bukan berarti ingatan itu membuatnya ragu dengan perasaannya sendiri.
Ia tahu bagaimana perasaannya pada pria itu. Mungkin saja dulu ia juga merasakan yang sama kan?
"Draco..." desah Harry ketika pria itu mulai menciumi tengkuk dan lehernya. Entah sejak kapan, kemeja putih yang ia pakai kini sudah tergeletak begitu saja di atas lantai. Harry berusaha keras membuat tubuhnya berdiri tegak dengan bersandar pada pintu di belakangnya ketika Draco mulai menciumi setiap jengkal tubuhnya; membuatnya gila dengan sentuhan pria itu. Membuat nafasnya berderu dan jantungnya yang berdetak kencang hanya karena sentuhan Draco.
-o-o-
Draco sadar, mungkin ia terlalu terburu-buru dengan semua ini. Tapi ketika mendengar Harry mendesahkan namanya, ketika pemuda itu meremas helaian rambut pirangnya, ketika ia melihat bagaimana sosok Harry yang mengerang karena sentuhannya membuat dirinya sama sekali tidak berpikir apa-apa lagi selain membuat pemuda itu meneriakkan namanya.
Sudah terlalu lama ia menahan perasaannya. Menahan diri untuk tidak kembali ke Inggris dan melihat Harry sama sekali tidak mengenalinya. Ia tidak pernah tahu sejak kapan rasa sukanya semakin berkembang sampai berubah menjadi perasaan seperti sekarang. Memang, awal perjumpaannya dengan pemuda yang tujuh tahun lebih muda darinya itu tidak berlangsung dengan baik. Dulu ia adalah orang yang arogan dan hanya peduli terhadap dirinya sendiri.
Semua yang ia inginkan pasti akan terpenuhi. Terimakasih kepada keluarganya yang kaya raya. Tapi Harry membuat semua pandangannya berubah. Ada banyak hal yang tidak bisa dibeli di dunia ini. Ia melihat itu dari diri Harry. Pemuda itu adalah orang pertama yang tidak mau menerima uluran tangan darinya untuk menjalin pertemanan. Pemuda itu pula yang menunjukkan padanya uang sama sekali tidak bisa membeli cinta dan keluarga.
Jika dibandingkan dengan keluarga Potter yang juga termasuk salah satu keluarga terpandang namun selalu bersikap sederhana, keluarga Malfoy adalah kebalikannya. Ia tahu ibunya sangat menyayangi dirinya. Namun, wanita itu jarang ada untuknya. Berbeda sekali dengan ibu Harry yang selalu menemani anaknya. Hal itu membuatnya menyadari kalau banyak hal yang perlu untuk diketahui dan uang bukanlah segalanya. Sejak saat itu pula, ia yang dulunya sama sekali tidak memandang kalau pendidikan itu penting mulai belajar dengan serius sampai pada akhirnya ia diterima di University of Kansas di jurusan Management and Business.
"Draco?"
Suara Harry yang memanggil namanya membuat Draco tersadar dari lamunan. Sepasang iris kelabunya mendapati pemuda itu menatap penuh tanya kepadanya. Ia pun segera mengecup kening pemuda itu.
"Ada yang salah?"
Draco menggelengkan kepalanya. "Tidak ada," ujarnya pelan sambil kembali mencium bibir Harry yang sudah membengkak. Ia bisa mendengar erangan pelan dari pemuda itu ketika ia mengulurkan tangannya ke arah sesuatu di bawah sana dan mulai membuka ikat pinggang Harry. Bukan saatnya ia memikirkan masa lalu. Saat ini, masa depannya ada di hadapannya dan ia tidak ingin Harry menyesali keputusannya.
Ia mencintai Harry dan tidak ingin melepaskan pemuda itu. Mungkin apa yang dikatakan Harry memang benar. Ia terlalu pengecut untuk mengakui kalau ia juga mempunyai perasaan yang sama dengan pemuda itu. Ia terlalu takut suatu saat nanti Harry akan pergi dari sisinya.
Ya, Draco Malfoy adalah seorang pengecut.
-o-o-
Harry mengerang keras ketika melihat sekelilingnya berubah menjadi putih. Dengan nafas memburu dan tersengal-sengal ia menyandarkan kepalanya pada pintu di belakangnya ketika apa yang tertahan di tubuhnya sudah menyeruak keluar. Walau masih memejamkan mata, ia bisa merasakan pandangan Draco yang tertuju padanya.
Dengan sedikit takut kalau mungkin saja kejadian seminggu yang lalu kembali terulang, Harry kembali membuka matanya. Ia tersentak ketika menatap pemandangan di depannya. Pemandangan atletis dari tubuh seorang Draco Malfoy. Ia yakin kalau saat ini wajahnya sudah semakin memerah.
"Menyukai apa yang kau lihat, Potter?"
Harry segera mengalihkan pandangannya ke samping. Nafas pemuda itu tercekat ketika merasakan hembusan nafas panas di tengkuknya dengan kulit Draco yang menempel dengan permukaan kulitnya. Ia terpekik ketika Draco memutar tubuhnya sehingga membuat bagian dadanya bersentuhan langsung dengan pintu.
"Harry..." bisik Draco tepat di telinganya. Tubuhnya bergetar hebat ketika suara berat itu menyapa gendang telinganya. "Aku harap kau tidak akan menyesali hal ini. Katakan padaku untuk berhenti sebelum aku menyakitimu."
Ia menggelengkan kepalanya dan kemudian menolehkan kepala sehingga bisa melihat wajah tampan pria di belakanganya. "Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu. Aku menginginkanmu dan aku sama sekali tidak akan menyesal. Seorang Harry Potter tidak akan pernah menyesal dengan keputusannya."
Harry tidak mendengar komentar Draco padanya karena pria itu kembali menciumi tubuhnya. Ia mendesah panjang ketika bibir pria itu mulai bergerilya di setiap jengkal permukaan kulitnya; mengirimkan friksi-friksi kenikmatan pada dirinya. Ia benar-benar tidak bisa memikirkan apa pun lagi selain meneriakkan dan mendesahkan nama Draco dari bibirnya. Ia juga sama sekali tidak menyadari entah sejak kapan Draco sudah mengenyahkan seluruh pakaian yang dipakainya. Ia hanya bisa kembali mendesah ketika merasakan bagaimana kulitnya bersentuhan dengan kulit pucat Draco.
"D-Draco!" pekik Harry ketika merasakan sesuatu menerobos pertahanan tubuhnya. Ditekannya kuat-kuat kedua telapak tangannya pada daun pintu ketika merasakan perih di bawah tubuhnya. Ia mengerang keras saat sesuatu menyeruak untuk yang kedua kalinya di bawah sana. Dipejamkannya kedua matanya saat merasakan Draco mencium lembut punggungnya; berusaha membuat rasa perih itu sedikit reda.
"Bertahanlah sedikit," bisik Draco. Harry mengangguk sambil menyesuaikan posisi tubuhnya agar terasa nyaman. Namun tubuhnya kembali menegang ketika merasakan sesuatu yang lebih besar menerobos pertahanannya. Ia tidak pernah merasakan rasa sakit seperti ini sebelumnya. Jauh lebih sakit daripada rasa sakit di kepalanya ketika ia mencoba mengingat sesuatu.
Ia sama sekali tidak tahu ketika tubuhnya menyatu dengan tubuh Draco akan terasa sangat menyakitkan.
"Draco!" teriak Harry ketika pria itu mulai menggerakkan diri dan menghujam tubuhnya. Ia mengerang dan mendesah saat seluruh kenikmatan terasa di seluruh sel-sel tubuhnya. Membuat perasaan tidak nyaman ia rasakan di perutnya. Tidak lama kemudian, ia kembali berteriak dan menyuarakan nama Draco saat ia mencapai titik tertinggi untuk yang kedua kalinya. Dengan nafas yang masih memburu, ia menempelkan kepalanya pada daun pintu dan berusaha mengatur nafasnya. Kalau saja kedua tangan Draco tidak memeluk erat pinggangnya, ia pasti sudah terduduk di lantai yang dingin.
"Harry..."
Pemuda beriris hijau cemerlang tersebut membuka mata dan membalikkan tubuhnya atas bantuan Draco. Ia bisa melihat raut cemas di wajah pria itu.
"A-aku baik-baik saja," katanya dengan suara terbata. "Aku hanya butuh istirahat."
"Aku akan mengantarmu pulang, love."
Harry mengangguk lemas namun senyum tipis terukir di wajahnya ketika mendengar kata terakhir yang Draco ucapkan. Ia sama sekali tidak berkomentar apa pun saat pria itu membantunya berpakaian kembali. Ia terlalu lelah karena apa yang mereka barusan lakukan. Well, kalaupun ada yang harus disalahkan kali ini, ia akan menyalahkan hormon-nya karena membuatnya nekat bercinta di kelas seperti tadi.
"Stupid kid," decak Draco padanya ketika ia mencoba menegakkan tubuhnya namun gagal sehingga membuatnya terhuyung ke depan. Untung baginya, Draco secara refleks menahan tubuhnya. "Kau masih lelah. Istirahatlah."
"Oh, just shut up, Ferret! Aku akan baik-baik saja. Aku harus cepat pulang karena kalau tidak Sirius pasti menghubungi seluruh anak buahnya dan membuat semua polisi Scotlandia mencari di mana keberadaanku," kata Harry ketika melihat langit di luar kelas tersebut kini berubah gelap. Ia menaikkan sebelah alisnya ketika melihat raut bingung di wajah Draco. "Ada apa?" tanyanya. Ia sama sekali tidak tahu apa kata-katanya tadi salah?
"Kau... kau memanggilku 'Ferret'."
"Well, apa itu salah? Ron yang pertama memanggilmu seperti itu saat kau memberi kami tugas di awal kau mengajar."
Ia melihat Draco menggeleng pelan. "Tidak. 'Ferret' adalah kata yang sering kau ucapkan untuk membalas ejekanku dulu," kata Draco. Pria pirang itu terdiam sebentar sembari mencium puncak kepalanya. "Ayo. Jangan biarkan ayah baptismu membuat kekacauan hanya karena anak kesayangannya tidak pulang tepat waktu."
Harry tidak berkomentar. Dalam diam, ia mengikuti langkah Draco menyusuri koridor yang sepi. Ia sempat meringis pelan karena merasakan perih di bagian bawah tubuhnya karena tidak ingin membuat pria di depannya mencemaskan dirinya. Dalam diam, pemuda itu berjalan mendekati sosok Draco yang berjalan beberapa langkah di depannya kemudian menggandeng tangan pria itu. Ia tidak mempedulikan tatapan Draco padanya.
Ia tahu, ia tidak akan pernah menyesali keputusannya dengan menyukai pria itu. Ia juga tidak peduli kalau saat ini Draco adalah gurunya. Ia juga tidak peduli kalau dulu mereka bahkan tidak pernah berteman baik.
Ia tidak peduli dengan status mereka. Ia hanya peduli terhadap perasaan pria itu padanya.
Draco mencintainya. Hanya itu yang ia pedulikan.
The End
...
Author's Note: yak, selesai! Maaf kalau ada yang tidak berkenan ya? #shot Untuk crossalf, hutang Sen lunas ya, alf? Giliran Sen minta dibuatkan fanfict #nyengir mudah-mudahan alf suka yang ini.
Yosh! Silahkan dikomentari yang ini. Kritik atau saran saya terima dan terimakasih sudah menyempatkan membaca fanfiksi ababila dari saya. Serta banyak terimakasih untuk reader yang mau memberi review.
crimson-nightfall
