Yosh update chap3, hahaha XD setelah aku berfikir fic ini ngga ada romance-romancenya
Chap depan mungkin ada *janjimulu* ya aku usahain deh. Mau romance gimana? Wkwk. Sudah baca dulu ya terus review deh XD.
DISCLAIMER: Masashi Kishimoto
Summary: Sakura menghidupkan kembali Naruto yang hampir mati akibat pertarungannya pada Sasuke, tapi tanpa di luar batas sakura menggunakan nyawanya untuk menukarnya pada Naruto.
Mungkin akan ada banyak hint NS.
Bagaimana jalan ceritanya? Baca dan review. NO FLAME.
WARNING: OOC, AU, semi canon, abal, lebay, typo banyak mohon maklumi. Membaca fic saya akan menyebabkan penyakit mandul, kanker otak, gatal-gatal, sakit kepala karena tidak mengerti jalan ceritanya *plakkk (ngga lah, tolong abaikan ya hahaha)
DON'T LIKE DON'T READ
HAPPY READING ^^
Sungguh ricuh keadaan di rumah sakit ini, ya akibat sang nona Hokage yang tiba-tiba saja menjadi pucat dan kehilangan cakra yang begitu banyak. Para medis sudah melakukan usaha sebaik mungkin namun hasil belum kunjung datang.
Shizune terus berusaha mengalirkan cakranya dan sekarang badan Tsunade mulai terlihat keriput dan menghitam, mengapa semakin parah apa yang terjadi sebenarnya?
"Bagaimana ini, peretemuan para kage akan di laksanakan besok. Kita harus menyembuhkan Tsunade-sama secepatnya" ucap lelaki dewasa berambut seperti nanas. Ya dia adalah Shikaku.
O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O
(Naruto)
Aku sudah kembali ke rumah sakit tanpa ada Sakura-chan disisiku. Entah ada gerangan apa rumah sakit ini menjadi penuh dan ramai aku mencari sesuatu penyebab terjadinya keramaian di rumah sakit ini. Sungguh ini tidak biasa.
Aku terus mencari-cari apa yang terjadi sampai pada akhirnya aku menemukan satu ruangan yang di penuhi oleh para ninja medis dan sepertinya ada paman Shikaku disana. Aku berlari menghampiri paman Shikaku.
"Paman, apa yang terjadi?" aku langsung bertanya tanpa ada basa-basi.
Paman Shikaku menatapku sejenak dan kembali memperhatikan depannya. "Hokage-sama tiba-tiba saja menjadi pucat dan kehilangan cakranya secara tiba-tiba," jelas paman Shikaku padaku.
Aku tersentak kaget mendengar kata-katanya, sejak kapan? Bukankah kemarin dia masih sehat segar bugar seperti biasanya.
Aku masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan para ninja medis tersebut dan aku melihatnya, sang Hokage terbaling lemah dengan badannya yang kurus dan mengenaskan itu. "Baa-chan" aku menatap sendu sang Hokage.
"Naruto.." Shizune-san menatapku dengan matanya yang penuh dengan air mata. Aku hanya bisa diam, tidak tau kenapa aku hanya bisa diam menatap sang Hokage.
.
.
.
"Tuan Shikaku ada pertemuan mendadak, tuan di harapkan segera datang ke stana penguasa sebagai ketua Jonin" ucap seorang ambu yang tiba-tiba muncul di belakang Shikaku.
"Baik aku kesana"
Sekarang di stana penguasa telah di penuhi patra tetua dari Konoha dan juga tetua di negara HI.
Perundingan pun di mulai dengan sepatah kata dari seorang yang telah membuat Tsunade menjadi koma di rumah sakit. "Sebelumnya ada hal yang harus di putuskan yaitu, menetukan Hokage baru." Ucap Danzo.
Shikaku yang mendengarnya mulai curiga dan berfikir bahwa tujuan di adakan perundingan ini karena Danzo ingin menjadi Hokage.
"Bukankah lebih baik menunggu kondisi Tsunade membaik?" ucap penguasa sambil mengibaskan kipasnya.
"Tuan penguasa Tsunade masih dalam keadaan koma, pertemuan para Kage akan dilaksanakan besok. Kita harus cepat-cepat mencari Hokage baru," Danzo menyangkal kata-kata dari penguasa.
Penguasa mulai berfikir sejenak masih dengan mengibaskan kipasnya, "Tadinya aku ingin mengangkat Jiraiya, tapi dia sudah wafat."
"Saya mengajukan Hatake Kakashi." Shikaku mulai membuka pendapat. Dan bisa diliat para tetua menyukainya jika Kakashi menjadi Hokage berikutnya, namun di antara mereka ada seseorang yang tidak menyukai usul dari Shikaku.
"Hokage yang dibutuhkan adalah Shinobi yang bisa membereskan situasi yang buruk ini, melakukan perubahan besar dalam dunia ninja serta menerapkan aturan Shinobi secara menyeluruh. Sayalah yang cocok untuk itu," Danzo menggebrak meja dan berkata dengan lantang di hadapan semua tetua.
"Tapi cara sepihak yang hanya berdasarkan logika seperti itu.."
"Ya sudah kuputuskan," ucapan Shikaku terpotong dengan ucapan penguasa yang tiba-tiba mengangguk-angguk. "Kutunjuk kau sebagai Hokage keenam." Penguasa sudah mensetujui Danzo sebagai Hokage selanjutnya. Danzo menatap Shikaku dengan senyum kemenangan.
O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O
"Aku adalah Hokage baru, jadi awasi Naruto.. Segera laporkan kalau ada yang berubah" kini terlihat seseorang menundukkan badannya kepada sang Hokage baru di Desa daun tersembunyi.
Sai hanya mendengarkan perintah dari Danzo, "Anu, boleh saya bertanya?" Danzo menyipitkan matanya. "Apa rencana anda terhadap Naruto?" Sai melanjutkan kata-katanya.
Danzo menyeringai, "Tak perlu cemas saat ini Naruto adalah pahlawan desa," Danzo masih merahasiakan apa sebenarnya rencananya yang akan ia lakukan.
"Tapi.." Sai mengangkat kepalanya memperhatikan tatapan Danzo, "Naruto adalah Jinchuriki sebagai Hokage, aku harus mengawasinya,"
"Saya mengerti" Sai kembali menundukkan kepalanya.
(Naruto)
Aku duduk di atas tempat tidur rumah sakit, sudah sekitar dua minggu aku berada di rumah sakit ini dan aku ingin cepat-cepat keluar dari sini. Sepertinya saat melawan Pain dulu aku tidak separah ini, tapi pertarunganku dengan Sasuke sangat menghabiskan cakraku. Bahkan aku belum juga membawanya pulang dan kembali ke Konoha.
Aku ingin bertemu Raikage sebelum dia pergi ke negara besi untuk pertemuan lima kage.
Aku memikirkan Sasuke, aku ingin meminta raikage untuk mencabut tuntutannya membunuh Sasuke. Aku tidak ingin adanya kebencian antara desa daun tersembunyi dan desa petir.
Sasuke..
Mengapa kau menjadi aneh. Kau bahkan termasuk anggota akatsuki yang orang-orangnya adalah ninja buronan semua.
Aku bahkan hampir tidak mengenalimu saat pertarungan kita Sasuke. Sekarang dirimu sudah di rasuki dengan rasa dendam serta kebencian yang begitu besar.
"Yo Naruto."
Aku menengok ke arah jendela, bisa kulihat Kakashi-sensei dan kapten Yamato ada disana.
"Kakashi-sensei," ucapku sembari tersenyum. Lalu mereka masuk ke dalam kamar rumah sakit ini dan mendekatiku.
"Bagaimana keadaanmu Naruto?" ucap kapten Yamato padaku.
"Yah baik, walau tanganku ini masih belum bisa disembuhkan."
Kakashi menatapku dan tersenyum dibalik maskernya.
"Kakashi-sensei aku ada permintaan.." ucapku mulai serius
Kakashi mentapku menunggu aku mengatakannya kembali.
"Aku ingin beretemu Raikage."
Kapten Yamato menatapku dengan tatapan tak percaya begitu juga dengan Kakashi-sensei, tapi Kakashi-sensei mulai terlihat tenang kembali.
"Untuk apa?" Ucap Kakashi-sensei sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Aku akan membujuknya untuk memaafkan Sasuke." Ucapku tenang.
"Pertemuan lima kage akan dimulai! Semua desa tidak diperbolehkan untuk melaksanakan misi serius!" kapten Yamato mulai tidak menyukai dengan keinginanku, tapi aku akan tetap pergi menemui Raikage.
"Hokage keempat memberi tahuku kalau peristiwa kyuubi 16 tahun yang lalu dilakukan oleh pria bertopeng dalam Akatsuki! Dan dia sangat kuat sampai Yondaime Hokage juga tak bisa menandingnya," ucapku panjang lebar, Kakashi-sensei dan kapten Yamato hanya menatapku dan mendengarkan ceritaku.
"Yondaime Hokage bilang dialah dalangnya, kalau Sasuke memasuki Akatsuki berarti dia juga ada disana?"
"Sesuai yang ditakuti Jiraiya-sama. Tak kusangka, dialah dalang di balik peristiwa 16 tahun yang lalu," Kakashi-sensei membuka suara dan memberi tahuku tentang seseorang yang sedang aku bicarakan.
"Dia mempunyai saringan yang dendam pada desa serta anggota klan yang meninggalkan desa dan bisa memanggil kyubi hanyalah Madara Uchiha." Sambung kapten Yamato.
Aku menundukkan kepalaku mengingat kata-kata kyubi dulu 'kemampuan pupil itu.. cakra yang lebih terkutuk dariku, sama dengan Madara Uchiha dulu.'
"Mana Sakura? Seharusnya dia ada disini untuk merawatmu!" Ucap Kakashi-sensei membuyarkan lamunan.
Aku teringat dengan Sakura-chan lagi, dia akan kemari saat tugasnya selesai. Tapi mengapa lama sekali. Entah mengapa sekarang aku ingin sekali bertemu dengannya aku ingin memeluknya sekarang juga, tapi karena tanganku yang masih seperti ini aku sama sekali tidak bisa menyentuhnya.
"Naruto.."
Aku menoleh pada suara Kakashi yang memanggilku. "Apa lagi yang dikatakan hokage keempat padamu?"
"Eh?" Aku mengerutkan dahiku pertanda adanya kebingungan di diriku. Aku sama sekali tak mengerti apa maksud dari perkataan Kakashi-sensei.
"Seorang ayah pasti selalu ingin bicara banyak pada anaknya." Aku terbelak dengan kata-kata senseiku ini. Aku menyeringai perlahan dan menundukkan kepalaku, mencengkram pelan selimut rumah sakit yang kini menyelimuti separuh dari badanku.
"Katanya, dia.. percaya padaku!" Ucapku sembari nyengir selebar-lebarnya.
Kakashi-sensei tersenyum di balik maskernya dan menunjukkan ibu jarinya kepadaku, "Bagus. Pergilah ke tempat Raikage! Aku dan Yamato akan ikut denganmu."
Aku tersenyum senang sembari mengangkat tangan kiriku ke atas, "YEAH!"
Kapten Yamato membulatkan matanya dengan mulut mengannga lebar, "EHHH!"
O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O
"Pertemuan lima kage akan segera di mulai di negara besi," Madara melompati setiap pohon-pohon di hutan rimba dengan diikuti sang pembalas dendam dari klan Uchiha. Uchiha Sasuke dan juga mantan pengikut Orochimaru. Kabuto.
"…"
Sasuke hanya diam dan tetap fokus kedepan jalan, chakra dalam tubuhnya berkurang akibat Mangekyo Sharingan yang ia gunakan untuk latihan beberapa jam yang lalu.
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" Madara meneruskan kata-katanya dan menatap Sasuke yang kin berada di sampingnya.
Sasuke masih terdiam ia sama sekali tidak begitu peduli dengan kata-kata sang Madara Uchiha.
Tiba-tiba di sebuah batang pohon ada sosok yang muncul secara perlahan. Dengan sigap mereka bertiga menghentikan aktivitas dan menatap seseorang mulai muncul di batang pohon tersebut.
Sekitar empat orang yang muncul di batang pohon tersebut. Seseorang dengan rambut merah berkaca mata berkacak pinggang dan menatapa mereka bertiga, begitu pula dengan orang yang membawa pedang besar di belakang punggungnya, seseorang tinggi besar berambut merah jabrik dan salah satu anggota akatsuki lainnya.
"Karin, Jugo, Suigetsu, Zetsu. Sedang apa kalian?" ucap Sasuke yang sedari hanya menatap mereka berempat dengan tatapan dingin.
Madara haya menatap mereka berempat, Zetsu sekarang sudah berpindah tepat disampingnya,"Bagaimana?" Madara berkata tanpa menengok pada Zetsu.
Zetsu yang di tanya hanya berguman pelan, "Tsunade jatuh sakit secara tiba-tiba. Hokage baru sudah di tentukan."
"Lalu siapa yang menjadi Hokage?" tanya Madara pada Zetsu.
"Danzo" Zetsu hitam hanya menjawabnya dengan singkat
"Sudah kuduga!" Madara berguman.
"Soal Danzo yang menjadi Hokage?" Sasuke menatap Zetsu dan Madara.
"Ya salah satu petinggi Konoha yang memojokkan kakakmu dan dia menjadi Hokage" Madara membetulkan topengnya yang terlihat miring dan memunggungi Sasuke.
"Apa yang sebenarnya terjadi di Konoha?"
"Pain, anak buahku menghancurkan Konoha. Karena tindakan hebohmu dan Pain, akhirnya kelima kage bergerak" Madara menceritakan semuanya dengan panjang lebar dan membalikkan badannya kembali untuk menatap Sasuke.
Sasuke diam sejenak, dengan berpikir cepat Sasuke menatap tajam ke arah depan dan berkata "kita akan ke pertemuan lima kage untuk memenggal Hokage."
Karin menatap Sasuke dengan tatapan khawatir. Keringat mulai bercucuran dari pelipis wanita berambut merah ini. Zetsu membelah badannya mejadi dua dan menyuruh Sasuke, Karin, Suigetsu, dan Jugo untuk mengikuti Zetsu yang berwarna putih.
Madara menatap kepergian mereka sampai benar-benar menghilang. Suara deruh angin membuat suasana menjadi tenang.
"Berjalan lancar ya." Ucap Zetsu hitam.
Madara menatap Zetsu hitam lalu menatap langit-langit. "Tidak juga.. cukup sampai disini aku menunggu mangsa." Madara mengangkat tangannya masih dengan menatap langit siang yang begitu terang, "rencana Tsuki No Me akan kupercepat."
O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O
(Sakura)
Aku menatap langit-langit dikamarku. Kata-kata Sai seakan menari-nari di dalam otakku, betapa frustasinya diriku jika mengingatnya. Dengan paksa aku menutup kedua mataku dan tanpa sadar aku sudah tertidur lelap dan mulai memasuki alam mimpiku.
"Sakura.."
"Sakura masih ingat padaku?"
Suara lembut yang tak asing bagiku memanggilku, aku menoleh ke sumber suara dan aku bisa menatap perempuan cantik berdiri tegak di belakangku. Dia, Khusina-san tersenyum lembut padaku.
Entah apa yang ada di pikiranku sekarang aku malah memeluk Khusina-san dan menangis tersedu-sedu. Khusina-san hanya mengelus punggungku dan membalas pelukanku, ku yakin Khusina-san tau apa masalahku hari ini.
"Sakura, sudah jangan menangis." Suara lembut dan pelukan Khusina-san membuatku seperti menganggapnya seperti ibuku sendiri.
Aku melepaskan pelukanku dan menatap wanita yang bisa di bilang masih muda walau umurnya sudah hampir sama dengan Tsunade-sama.
"Aku kemari ingin memberi taumu Sakura"
Aku menatap Khusina-san yang memegangi kedua tanganku. Sepertinya ini begitu penting bagi Khusina-san, baiklah aku akan menanggapinya dengan serius.
"Apa kau menuruti kata-kataku Sakura?" Khusina-san berkata masih dengan senyumnya yang manis di bibirnya.
Aku menatapnya dengan tatapan sendu dan mulai menganggukkan kepalaku. "Aku.. hanya saja aku meninggalkannya tadi," aku mulai melontarkan kata-kataku. Ah bagus kuyakin Khusina-san akan kecewa padaku.
Hasilnya adalah Khusina-san hanya memegangi pundakku dan mencium dahiku dengan penuh kasih sayang, aku sangat terkejut dengan perlakuan Khusina-san. "Terima kasih Sakura karena mau menjaga anakku."
Sudah kuduga pasti ada maksud dari ciuman dari sang ibu Naruto. Tapi aku berfikir apa Naruto sudah mengetahui ibunya sendiri?
"Sakura jangan beri tau Naruto masalah ini. Tolong rahasiakan semuanya." Khusina-san seperti membaca pikiranku saat ini. Aku hanya mengangguk mengartikan tanda setuju.
Lalu aku menatap rambut merah sang ibu Naruto yang begitu panjang dan warnanya senada dengan warna bunga mawar hanya saja tak ada duri yang tertempel di bunga mawar ini.
"Satu hal lagi Sakura" aku menatap kembali Khusina-san dan menunggunya untuk segera berbicara lagi.
"Akan terjadi sesuatu tiga hari lagi dan kau berperan besar pada saat itu Sakura," aku mulai mengerutkan dahiku. Masalah apa lagi yang harus aku lakukan.
"Peran apa? Dan bukannya aku sudah tiada pada saat itu?"
"Karena kau berperan besar dalam hal tersebut, kau akan tetap hidup sampai masalah yang terjadi itu berakhir dan ijinkan aku untuk.." mentapku dengan dalam dan berbicara dengan serius, "menggunakan tubuhmu pada saat hari itu"
Baiklah aku terbelak kembali. Sudah berkali-kali Khusina-san membuatku terbelak kaget. "Un-untuk a-apa?"
Khusina-san menundukkan kepalanya, "untuk bertemu dengan Naruto" Khusina-san berguman sangat pelan sehingga hampir saja suaranya tak terdengar olehku. Baiklah demi bertemu anaknya Khusina-san menggunakan tubuhku, tidak terlalu susah bagiku jika hanya untuk bertemu dengan Naruto.
"Baiklah gunakan saja tubuhku untuk terkahir kalinya." Aku berkata dengan tegas tanpa adanya hambatan di setiap kata-katanya. Khusina-san meneteskan air matanya satu persatu dan sekarang mulai deras membasahi tanganku yang sedari tadi di genggam sang ibu Naruto.
"Terima kasih" hanya sepatah kata yang keluar dari mulut Khusina-san dan juga kehilangannya.
O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O
SRAAKKK
Bunyi jubah yang dikenakan Naruto menggema di ruangan rumah sakit. "Yosh pesiapan selesai." Ucap Naruto lantang dan keras. Kini tangan Naruto sudah mulai membaik dan sudah bisa di gerakkan kembali.
"Ssttt Naruto bisa kecilkan suaramu?" ucap Yamato dengan membungkam mulut Naruto.
Tiba-tiba pintu kamar rumah sakit Naruto terbuka, "Naruto?". Awalnya Naruto, Yamato dan Kakashi sudah menahan nafas, tapi pada akhirnya mereka bernafas legah karena yang masuk bukan Sakura melainkan Sai.
"Naruto kau mau kemana?" Tanya Sai dengan senyumannya seperti biasa. Kakashi mendekat pada Sai dan menutup pintu kamar rumah sakit.
"Tolong rahasiakan kepergian Naruto pada siapapun termasuk Hokage, Naruto akan pergi menemui Raikage." Jelas Kakashi pada saat itu. Sai yang mendengarnya hanya mengangguk pertanda setuju. Kakashi hanya tersenyum di balik maskernya. "Kami percaya padamu,"
Naruto mengerutkan dahinya, bingung dengan kata-kata Kakashi. " Maaf baru memberi tau sekarang Naruto. Danzo telah menjadi Hokage keenam menggantikan Tsunade-sama" ucap Kakashi menjelaskan.
Naruto yang mendengarnya membulatkan matanya. "Ba-bagaimana bisa?" Kakashi menghela nafas panjang dan menenangkan Naruto sejenak sebelum berkata, "Akan ku ceritakan nanti, sekarang yang paling penting Raikage,"
Naruto menundukkan kepalanya, 'jadi Danzo punya rencana licik'
"Kakashi-senpai keadaan sudah membaik, ayo kita pergi." Ucap Yamato sambil memperhatikan keluar jendela rumah sakit.
"Sampai nanti, Sai." Ucap Naruto yang langsung melesat ke luar jendela. Sai yang melihat mereka pergi hanya tersenyum.
O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O
"Bagaimana?" suara berat dari Sasuke bertanya pada Jugo yang menerbangkan burung elangnya untuk melihat situasi.
"Ada rute ke atas di selatan. Penjaganya sedikit." Jelas Jugo.
"Karin terus periksa posisi cakra para penjaga,"
Yang di perintah Sasuke hanya mengangguk sambil membetulkan kaca matanya yang turun. "Kau harus memastikan yang mana Danzo, ikut aku Zetsu" Sasuke menatap tajam ke arah selatan dan mulai berlari kencang menujuh ke tempat para kage akan bertemu.
O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O.O
Negara tetsu sekarang sudah di penuhi dengan tumpukkan salju. Angin berhembus begitu kencang, mungkin saja bisa masuk angin jika berada disana selama beberapa menit saja. Tapi tidak begitu dengan para ninja dari desa petir dan desa daun tersembunyi yang sedang membicarakan sesuatu.
"Apa Hokage mengirim Kakashi Hatake?" Raikage mulai membuka suara pada saat terjadinya kesunyian di antara mereka.
"Bukan.. kami datang karena punya permohonan," ucap Kakashi "Naruto Uzumaki dari desa daun tersembunyi ingin bicara dengan anda. Mohon dengarkan" Kakashi berkata dengan panjang lebar menceritakan apa sebenarnya kemauannya untuk bertemu Raikage.
"Cepat bicara."
Naruto menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya kembali sebelum berkata pada Raikage, "Kumohon tolong hentikan hukuman mati terhadap Uchiha Sasuke." Ucap Naruto lantang.
TBC
Nyaaa tambah aneh ya, habis saya ngga punya ide lagi Cuma segini mampetnya wkwkw *dibuang ke comberan*
Hmmm sengaja aku bikin cepet alurnya biar nanti aku ngga bikin terlalu banyak episode, dan aku juga kurang bisa bikin semi canon sih XD jadi begini aja hasilnya.
Sekarang saya minta Review lah bisa hehe tidak menghina atau sekedar memberi tau jika ada yang salah kata. Oh iya kalo kalian baca review an yang pen name nya saya, itu sebenarnya bukan buat kalian tapi buat seseorang yang waktu itu ngflame saya pengen saya hapus tapi ngga tau gimana caranya ==". Yasudah minta review ya teman-teman
Salam: ThataHaruki97
