aiiyaaa~ ambo datang lagi~ *campuran china padang deh*
Sebelumnya saya mau mengucapkan Minal Aid eh..makasih buanyak buat nyang repiu
hihi
sebelum kita memulai rapat eh membaca ada baiknya saya membalas para repiu yang baik hati..
Hyuuchiha Prinka : hehe makasih dah review..ndak lupa kok sama fic yang laen..cmn bingung aja soal fic saya yg Rainbow. Soalnya chaptr selanjutnya itu ndak tahu kemana TT^TT
Haruno Aoi: Yup, saya setuju sama Haruno-san! Kalo aku bikin yang kissu-kissu tapi ndak pasutri rasanya memberikan contoh yang gak baik. Apalagi kita gak tahu yang baca fic kita itu udah cukup umur apa belum. Saya malah terkadang geleng-geleng kepala sama yang bikin fic lemon tapi dibawah umur, apalagi klo critanya bukan pasutri. Kurang suka atau malah tidak suka sama sekali.
Elflameshawol: makasih ya ^^
Azaela Ungu: Makasih^^
Hizuka Miyuki: Sasuke itu dulu galak banget sama Hinata, cuman entah kenapa kegalakannya berkurang. :D
Lonely Clover: Iya, aku juga pengen. Tapi sayang dosen mudaku gak ada yang cakep. Hahaha.
Haruka Hime: Iya, soalnya aku gak terlalu suka yang diulur-ulur gitu. Jadi aku buat cepet aja haha. Cowok lebih tua hihi aku suka!
Ririrea: iya susah banget, terkadang ide datang pada waktu yang tak terduga!
X: suka? Makasih!
Ai Hinata Lawliet: Suka juga? Makasih!
Lady Spain no Login: emh berapa ya aku lupa,Volume ke 7 klo ga salah yang pasti si terakhir tuh si teru terperangkap di bianglala, sedangkan si kurosaki kayaknya mau ninggalin si teru. Hiks kasian TT^TT
Bliebers: Bagus? Makasih!
Yuki Tsukushi: menghiburkah? Syukurlah. Tapi saya takut lama-lama critanya jadi membosankan.
Nyx Quartz : entahlah..haha oi Sasuke! Lo ada perasaan ke Hinata? Kurang ajar lo! Katanya lo mau kawin ma gue?
Uchihyuu Nagisa : Jujur aja, saya mendapat tekanan mental dalam Fic Rainbow TT^TT. Yah walau tidak ada yang menflame sih.
Hyouma Schieffer: : Hihi, aku gak suka kalo si Sasu terlalu dingin soalnya, saya suka OOC soalnya. Hmm Ryuu anak siapa ya? Dia anak saya sama Sasuke sebenarnya. XP
Kimidori Hana: eugh, da kumahanya? Hese euy. Lagi gak ada ide tapi pastilah di lanjut TT^TT
Zorotechii: iya, aku gak lupa ama fic yg sebelumnya kok. Zo juga update ficnya yah! Soalnya aku suka banget!
Dan buat semua yang ngereview tapi belum saya sebut namanya, DOUMO ARIGATOU GOZAIMASHITA!
4U
Disclaimer: Masashi Kishimoto-san
Warning: AU,OOC
Pair: Sasuke & Hinata
Genre:Romance, Family
Hinata memasuki pintu apartemen Sasuke sambil menggendong Ryuu yang tertidur di lengan kanannya.
Baru saja Sasuke pergi untuk pulang kerumah keluarganya. Hinata lalu membaringkan Ryuu pada tempat tidur mungil berspreikan kain berwarna biru muda yang menjadi cirri khas seorang anak laki-laki. Ryuu sedikit menggeliat ketika Hinata membaringkannya dengan pelan dan hal itu membuat Hinata gemas dan mencubit pipi gembul bayi tersebut.
"Ryuu kamu lucu banget!"
Hinata tersenyum kecil melihat anak angkat dosennya tersebut tertidur pulas. Ia menatap lembut wajah bayi itu dengan lembut dan mengelus kedua pipi merahnya, lalu ia mengecup pelan kening Ryuu.
Hinata ingat kalau Sasuke tidak akan pulang hari ini, dan dengan kebetulan pula esok hari ia tidak ada jadwal kuliah, Hinata tidak segan untuk mengurus Ryuu selama seharian penuh. Lagipula Ryuu bukan anak yang rewel dan dia tidak merasa terganggu dengan Hinata yang baru saja ia lihat. Ryuu justru mau digendong Hinata tanpa ragu-ragu.
Hinata dengan cekatan segera menyapu semua ruangan yang ada. Mencuci segala peralatan makan yang sejak pagi belum Sasuke bersihkan. Kemudia ia mengelap kaca yang sedikit berdebu.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Hinata lalu mengenakan celemek dan mulai menyiapkan bahan makanan untuknya, sedangkan untuk Ryuu, hanya tersedia susu bubuk dan bubur bayi.
Selesai memasak, Hinata mendengar suara tangisan yang nyaring dari arah kamar Ryuu. Ia segera berlari dan mendapati bayi itu kini tengah menangis. Hinata segera menggendong Ryuu dan melihat kearah bokong bayi itu. Ryuu mengompol.
Untung saja Hinata tahu cara mengganti popok bayi. Pada saat ia berumur 4 tahun, ia memperhatikan mendiang ibunya mengganti popok adiknya Hanabi. Karena itu Hinata sering membantu ibunya itu untuk mengganti popok adiknya.
Hinata lalu segera mengambil popok bayi yang tersimpan didalam lemari kecil berwarna putih. Dengan pelan Hinata mengganti popok itu agar ia tidak menyakiti Ryuu.
Setelah berhasil mengganti popoknya, Hinata lalu menggendong Ryuu dan menepuk-nepuk punggungnya dengan perlahan namun Ryuu tidak kunjung berhenti menangis.
Hinata pikir Ryuu kelaparan. Lalu Hinata pergi menuju dapur sambil menggendong Ryuu dan segera membuat bubur bayi untuknya.
Setelah membuatnya, Hinata membawa Ryuu beserta makanannya ke ruang tv dan Hinata menyuapi Ryuu sambil menonton acara tv kesukaannya. Jujur saja, entah kenapa Hinata merasa nyaman dengan kegiatan seperti ini.
"Aaa…ayo aaaaam.."
Hinata menyuapi Ryuu dengan sedikit bercanda. Hinata mengayun-ayunkan sendok mungilnya diikuti oleh arah mata Ryuu yang mengikuti gerak sendok tersebut. Pada saat Ryuu membuka mulutnya dan sendok itu hampir memasuki mulutnya, dan pada saat Ryuu hendak menutup mulutnya, Hinata kembali menarik sendok itu sambil tetawa.
Ryuu pun ikut tertawa meelihatnya dan lagi-agi Hinata merasa gemas dengan bayi itu.
Tiba-tiba saja terdengar suara bel berbunyi mengaggetkan Hinata yang masih menyuapi Ryuu yang menikmati makanannya.
"S..siapa ya yang datang? Aduh bagaimana ini."
Hinata menggendong Ryuu dan dengan ragu-ragu ia membuka pintu.
"S..siapa?" tanya Hinata.
"H..Hinata?"
Hinata kaget dengan kedua sosok di depannya. Gadis berambut pink dan berambut pirang kini berdiri dihadapannya. Sakura dan Ino kini menatap Hinata keheranan.
"Hinata, ngapain kamu disini?" tanya Ino.
"A..aku..aku."
"Tunggu, Ino kita gak salah alamat nih?" tanya Sakura sambil menyodorkan kertas bertuliskan sebuah alamat kepada Ino.
Ino kemudian membaca lagi kertas itu dan menoleh kesebuah tulisan yang sudah terpasang di sisi pintu.
"Uchiha Sasuke." Benar kok. Ini rumah Pak Uchiha.
Ino dan Sakura saling berpandangan dan dengan perlahan mereka menengok earah Hinata yang berdiri kaku menatap mereka sambil menggendong sebuah bayi.
"Hinata, sedang apa kamu disini?" tanya Sakura dan Ino serentak.
"A..aku..ini emm.."
"Tunggu sebentar, Hinata siapa anak imut ini?" tanya Sakura sambil menyentuh pipi gembul Ryuu yang menatap mereka dengan polosnya.
"Di..dia anak…"
"Hinata! Apa hubunganmu dengan Pak Uchiha? Siapa anak ini!" teriak Ino sambil memajukan tubuhnya hendak masuk kedalam apartemen.
"T..tunggu. tenang dulu. Aku b..bisa jelaskan.
"Oh, jadi begitu?" tanya Ino sambil melipat tangannya di depan dada.
Hinata mengangguk pelan sambil duduk berhadapan dengan Ino, sedangkan Sakura kini tiduran di atas sofa sambil mengangkat Ryuu dan bercanda-canda dengan bayi itu.
"Hmm, ngomong-ngomong anak ini tidak mirip dengan Pak Uchiha ya?" tanya Sakura sambil memperhatikan kedua bola mata Ryuu yang berbeda dengan warna bola mata dosennya tersebut.
"Kan sudah kubilang, dia bukan anak kandung Sas..eh Pak Uchiha."
"Warna matanya, sama denganku.."
"Heh?" Hinata dan Ino langsung menoleh kearah Sakura yang masih menatap Ryuu. Ino segera mengambil Ryuu dari tangan Sakura dan segera melihat warna mata bayi mungil itu.
"Warna hijau.." gumam Ino.
"Wah, jangan-jangan bayi imut ini anakku ya?" Sakura segera mendudukan dirinya dan mengambil Ryuu dari tangan Ino.
"Mana mungkin Sakura! Kau belum punya suami! Jangankan suami, pacar saja belum punya! Bagaimana bisa punya anak?" bentak Ino.
"Hehe, aku kan bercanda Ino."
"Hah. Lalu Hinata, kapan Pak Uchiha pulang? Kau bisa mengurus Ryuu sendirian?"
"Aku bisa mengurus anak kecil kok. Aku ini jago mengurus anak kecil!" jawab Hinata sambil mengacungkan jempolnya.
"Benarkah? Kalau begitu aku tidak jadi membantumu deh." Ucap Ino sambil menghela napas.
"Lalu, kenapa kalian berdua tau apartemen Pak Uchiha? Kalian mau apa kesini?"
"O..oh..i..itu. ee…"
"Kami mau menguntitnya." Jawab Sakura dengan jujurnya.
"Sakura!" Ino memukuli mulut Sakura dengan kerasnya.
"Ap..apa sih Ino? Sakit tahu?" Sakura mengelus-elus bibirnya yang baru di tamper oleh Ino.
"Me..menguntit? Kalian menguntit?" tanya Hinata sambil melebarkan kedua matanya.
"Tidak, kami kesini karena ada urusan Hinata. Urusan yang biasa saja."
"Oh begitu." Hinata mengangguk.
Ino berdiri dan meregangkan badannya, kemudian memperhatikan seisi apartemen Sasuke dengan seksama, kemudian ia mengambil tasnya yang tergeletak di atas sofa.
"Ya sudah, karena Pak Uchiha tidak ada, kami pulang deh."
"Pulang? Aku masih mau main sama Ryuu-chan." Rengek Sakura.
"Pulang dahi lebar! Kasihan Ryuu bila ia terus bersamamu!" Ino lalu mengambil Ryuu dari pangkuan Sakura dan menyerahkan bayi itu pada Hinata.
"Hiks, dah Ryuu. Ibu akan merindukanmu."
"Siapa yang ibu hah? Ayo pulang." Ino memukul kepala Sakura lalu menyeret Sakura pergi.
"Kalian hati-hati. Ah Ryuu-chan, dadah sama tante Ino dan tante Sakura."
Hinata lalu mengangkat tangan mungil Ryuu dan melambai-lambaikaannya kearah Ino dan Sakura yang sudah menjauh.
Hinata berlari menuju kamar Ryuu dan segera mengambil bayi itu, ia lihat Ryuu mengompol dan Hinata memutuskan untuk memandikannya saat itu juga. Karena hari ini Sasuke akan pulang, maka ia ingin saat dosennya sampai di rumah, semua sudah selesai ia kerjakan.
Hinata membawa Ryuu ke kamar mandi dan memasukan Ryuu kedalam bak mandi kecil berwarna biru. Ryuu terlihat senang ketika Hinata dengan pelan membasahi tubuhnya dan menyabuninya. Ryuu bahkan bermain-main dengan sabunnya. Hinata kemudia membasahi wajah dan kepala Ryuu yang masih botak.
Selesai memandikan Ryuu. Hinata segera memakaikan baju dan memberikan bedak pada bayi itu. Ryuu yang segar karena baru saja mandi dan juga wangi tubuhnya saat itu membuat Hinata merasa semakin gemas dengan anak angkat dosennya.
"Ryuu!" Hinata mengangkat Ryuu dan memeluknya dengan erat. Beberapa kali ia kecup pipi merah bayi lima bulan itu. Hinata merasa Ryuu adalah anak kandungnya. Ia sangat senang dengan posisinya saat ini. Tiba-tiba saja raut wajah Hinata yang tadinya senang berubah menjadi sedih.
"Ryuu, papa akan pulang hari ini, dan aku akan pulang kerumahku. Aku tidak bisa bermain lagi denganmu."
Ryuu yang tidak mengerti hanya tertawa-tawa sambil memainkan rambut Hinata yang tergerai di depan dadanya.
"Nah Ryuu, kita sarapan yuk? Aku sudah membuatkan makanan untukmu."
Hinata pergi menuju dapur untuk mengambil makanan Ryuu, namun saat ia hendak mengambil makanannya, suara pintu terbuka masuk kedalam pendengarannya.
"Tadaima."
Hinata berlari menuju ruang tamu dan ia menjumpai Sasuke yang sedang membuka sepatunya.
"Okaerinasai." Ucap Hinata dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
Sasuke melihat Hinata dan tersenyum kecil. Kemudian ia menaruh tasnya keatas meja dan memperhatikan isi rumahnya yang bersih dan rapih. Sasuke lalu menoleh kearah Hinata yang berada jauh d sampingnya.
"Kau yang mengerjakan semuanya ya?"
"Ah ya apa?"
"Kau membersihkan rumahku kan?"
"Emh, iya."
"Maaf sudah merepotkanmu."
"Un, tidak apa-apa kok, Sa..sasuke-kun."
"Aku tidak menyangka mahasiswiku yang sering terlambat bisa mengerjakan pekerjaan rumah." Ucap Sasuke sambil tersenyum kecil.
"K..kalau hal seperti ini, saya bisa." Jawab Hinata sambil menunduk malu.
"Hn. Mana Ryuu?"
"Ah dia ada di kamar."
Sasuke lalu segera memasuki kamar Ryuu dan ia mendapati anak angkatnya itu kini bermain dengan mainan kecilnya. Sasuke tersenyum dan berjalan mendekati Ryuu dan mengangkat Ryuu tinggi-tinggi.
"Ryuu-chan! Papa sudah pulang!"
Ryuu yang di angkat tertawa riang sambil menyentuh wajah Sasuke. Sasuke kemudian mengayun-ayunkan tubuh Ryuu dalam gendongannya dengan raut wajah gembira. Dari pintu Hinata melihat dosennya kini tersenyum bahagia dan secara tidak sadar Hinata pun tersenyum dengan wajah yang memerah.
Sasuke lalu berputar dan mendapati Hinata yang masih tersenyum dengan wajah yang memerah. Sasuke lalu mendekati mahasiswinya tersebut sambil menggendong Ryuu.
"Hyuuga, wajahmu merah. Kau kenapa?"
"Hah?" Hinata kaget dan menyentuh pipinya. Ia merasa wajahnya kini memanas dan jantungnya berdegup kencang. Hinata lalu membalikkan badannya dan menepuk-nepuk kedua pipinya yang merona.
"Aduh-aduh, aku kenapa?" gumamnya dalam hati.
"Hyuuga, kau baik-baik saja?" tanya Sasuke sambil mendekati Hinata dan berdiri di hadapannya.
"T..tidak apa-apa. Emh lebih baik saya pulang dulu."
Hinata segera keluar dari apartemen Sasuke tanpa mendengar panggilan Sasuke dari dalam.
"Hyuuga! Barang-barangmu masih disini!"
Hinata menghentikan langkahnya kemudian berjalan mundur. Kemudian ia menghadap kearah Sasuke yang masih menatapnya heran, Hinata membungkuk dan kembali berjalan memasuki apartemen Sasuke dan segera mengambil barang-barangnya yang ia letakkan di dalam kamar Ryuu.
Setelah mendapati semua barangnya, Hinata kembali membungkukan di hadapan Sasuke lalu segera meninggalkan tempat itu. Hinata berjalan kedepan dengan langkah yang bisa di bilang terburu-buru, hingga sebuah benda jatuh dari tasnya dan ia tidak sadar sehingga melanjutkan langkahnya.
Sasuke melihat benda yang jatuh dari tas mahasiswinya tersebut dan langsung mengambilnya, dan langsung melihat Hinata yang saat ini sudah sedikit menjauh.
"Hyuuga! Ada yang tertinggal!."
Namun entah sengaja atau tidak, Hinata tidak memperdulikan panggilan dosennya tersebut. Ia terus berjalan bahkan sempat sedikit berlari untuk segera pergi dari lokasi tersebut. Sasuke menatap heran Hinata dan melihat benda milik Hinata yang terjatuh tadi.
"Ini kunci apa ya?"
Sesampainya Hinata di apartemen miliknya, Hinata segera merogoh tasnya untuk mendapatkan kunci apartemennya. Namun ia merasa janggal karena ia tidak menemukan satu buah kuncipun dari kamarnya.
"Kunci. Kuncinya dimana?"
Hinata membongkar isi tasnya. Mengeluarkan semua benda-benda dari dalam tasnya dan berharap benda yang ia cari ada di dalam sana. Setelah sekian lama mencari dan membongkar, Hinata tidak menemukan satu kunci pun dari dalam tasnya. Ia terduduk lemas di depan pintu. Ia ingin menangis saat ini. Di dalam otaknya ia berpikir, dimana ia menghilangkan kuncinya dan dimana pula mala mini ia harus tidur.
Hinata kemudian mendapat ide, hari ini mungkin ia bisa menginap di rumah salah satu sahabatnya. Ia mengambil ponselnya dari kantung celananya dan segera menghubungi Sakura sahabatnya.
"Halo?"
"Halo Sakura-chan!"
"Hn? Ada apa Hinata?"
"A..anu, aku bisa minta tolong?"
"Tolong apa?"
"Kunci apartemenku hilang, aku tidak tahu kunciku dimana. Sekarang aku tidak bisa masuk ke apartemen, bisakah aku menginap di rumahmu malam ini?"
"Hilang? Kok bisa hilang?"
"Aku tidak tahu."
"Aku sih tidak keberatan kalau kau menginap, hanya saja.. saat ini aku dan keluargaku sedang ada di luar kota, besok kami baru pulang."
"L..lalu aku harus bagaimana?"
"Coba telepon Ino."
"Baiklah, akan kucoba. Maaf merepotkanmu Sakura-chan."
"Hn. Tidak apa."
Hinata mematikan sambungan teleponnya dan segera memencet tombol nomor milik temannya satu lagi.
"Selamat siang, disini dengan Yamanaka Ino, ada yang bisa saya bantu?"
"Ino, ini aku Hinata."
"Aku sudah tahu kau Hinata. Ada apa?"
"Boleh tidak aku menginap dirumahmu?"
"Boleh-boleh! Mau kapan?"
"Hari ini. Kunci apartemenku hilang."
"Hari ini? Hilang? Kok bisa?"
"Aku tidak tahu Ino."
"Aduh Hinata! Maaf sekali! Hari ini tidak bisa."
"K..kenapa? aku harus tidur dimana malam ini?"
"Hari ini banyak tamu datang kerumahku. Hm.. bagaimana kalau kau pulang dulu ke rumahmu. Besok kan masih libur."
"Aku gak ada ongkos Ino."
"Lalu bagaimana Hinata? Aku jadi nangis nih."
"Entahlah Ino."
"Yah, bagaimana dong..eh halo? Halo?"
Ponsel Hinata kini mati secara tiba-tiba. Hinata baru ingat dari kemarin ia belum mencharger ponselnya. Tidak terasa akhirnya bulir-bulir air mata keluar dari matanya. Hinata
Menyembunyikan wajahnya di lututnya. Kini ia bingung setengah mati.
"Hyuuga."
Hinata menengadah dan mencari sosok yang memanggilnya. Sasuke kini berdiri di hadapannya dengan Ryuu di gendongannya.
"Sa..sasuke..kun."
Hinata berdiri di hadapan dosennya. Kemudian ia hapus air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya. Sasuke menatapnya datar dan menyentuh pipi lembab Hinata dan tentu saja hal itu membuat Hinata kaget sekaligus heran.
"Ryuu-chan lihat, tante Hinata menangis seperti anak kecil." Ucap Sasuke sambil tersenyum.
Ryuu yang tentu saja belum mengerti tertawa melihat wajah Hinata yang amburasut. Ryuu mengulurkan tangan kearah Hinata. Hinata segera mengambil Ryuu dan memeluknya erat. Air matanya keluar deras dari kedua matanya.
"A..anu Sasuke-kun mau apa kemari?"
Sasuke merogoh sakunya dan menyerahkan sesuatu pada Hinata. Hinata mengambilnya dan kembali menatap dosennya dengan mata yang bertanya-tanya.
"Tadi jatuh saat kau pulang. Padahal sudah aku panggil-panggil tapi sepertinya kau tidak mendengar."
"M..maafkan saya."
"Hn, masuklah dan istirahat."
"A..anu kalau tidak keberatan, silahkan masuk dulu." Ucap Hinata mempersilahkan.
"Tidak, aku pulang saja."
"T..tapi saya jadi merasa tidak enak. Karena saya sudah merepotkan Sasuke-kun."
"Hn. Aku tidak masalah kok. Nah Ryuu, ayo kita pulang."
Ryuu berteriak ketika dirinya akan di lepaskan dari pelukan Hinata. Ryuu merasa nyaman dengan Hinata dan sepertinya Ryuu sedang tidak ingin di pisahkan darinya untuk sementara.
"Aduh, Ryuu-chan nakal."
"Anu, Sasuke-kun bagaimana kalau anda masuk dulu selagi menunggu Ryuu mau melepaskan diri dari saya."
"Hah, baiklah. Maaf merepotkan Hyuuga."
"Hn. Tidak apa-apa."
Sasuke menyeruput teh di depannya. Hinata duduk di sofa menghadap dosennya sambil terus memeluk Ryuu yang lagi-lagi memain-mainkan rambut panjangnya.
"Sepertinya Ryuu menyukaimu Hyuuga."
"O..oh ya?"
Sasuke mengangguk pelan dan kembali menyeruput tehnya.
"A..anu Sasuke-kun. Aku ingin bertanya."
"Hn?"
"Orang tua Ryuu. Apa penyebab kematian orang tua Ryuu."
3 Bulan yang lalu.
Sasuke keluar dari dalam mobilnya. Ia berlari kesebuah lokasi dimana terdapat banyak orang-orang yang berdiri cemas dan juga para petugas pemadam kebakaran.
Sasuke berlari mendekati petugas kebakaran yang kini tengah sibuk memadamkan api sebuah rumah di depannya. Rumah itu hampir terbakar habis.
"Dimana? Dimana penghuninya?"
"Kami tidak sempat menolongnya tuan. Apinya terlalu besar untuk dimasuki."
"Apa? Brengsek, temanku dan istrinya ada didalam!"
"Maaf tuan..tapi."
"Aaargh!" Sasuke merebut selang air dari petugas dan membasahi dirinya snediri kemudian segera menerobos masuk kedalam rumah yang sudah dilahap api. Ia tidak perduli, ia harus menyelamatkan sahabatnya dan keluarganya.
Sasuke berlari-lari sambil mencari sahabatnya. Ia tidak perduli dengan rasa panas yang saat ini ia rasakan. Sasuke akhirnya menemukan dua sosok yang saat ini tersungkur. Sasuke segera mendekatinya dan menyentuhnya.
"Gaara! Gaara sadar!"
Pria berambut merah yang bernama Gaara tersebut membuka kedua matanya. Setengah dari wajahnya gosong akibat panasnya api.
"S..sasuke."
"Gaara! Bertahanlah aku akan segera membawa kalian keluar."
"Ryuu..M..matsuri."
Sasuke melihat sosok di sebelah Gaara. Ia melihat Matsuri yang sepertinya tidak sadarkan diri seperti sedang melindungi sesuatu. Sasuke menyentuh Matsuri dan menyentuh lehernya.
Matsuri telah tiada. Air mata keluar dari mata Sasuke saat ia melihat Ryuu yang menangis di dalam pelukan Matsuri. Sepertinya Matsuri melindungi buah hatinya itu.
"S..sasuke.."
"Iya Gaara."
"Jaga..p..putraku.."
"Jangan bilang begitu Gaara. Kau dan Ryuu akan selamat!"
"J..jaga Ryuu, besarkanlah ia dan sayangilah ia seperti anakmu kandungmu sendiri."
"Tidak Gaara. Kau yang harusnya membesarkan dia."
"Terima k…kasih sahabatku. S..selamat tinggal."
"Maafkan aku Sasuke-kun."
"Tidak apa-apa."
Hinata dan Sasuke terdiam dalam beberapa waktu. Sasuke kembali mengingat kejadian itu. Dimana sahabatnya dan istrinya meninggal dalam rumahnya yang dilahap api. Hinata kemudian berdiri dan menaruh Ryuu disampingnya. Kemudian ia pergi meninggalkan Sasuke.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke.
"A..aku akan membuatkan makan siang. Bukankah jam segini anda dan Ryuu harusnya makan siang kan?"
"Kalau begitu aku bantu."
Hinata mengangguk dan masuk kedapur disusul Sasuke dari belakang sambil menggendong Ryuu. Sasuke mendudukan Ryuu di sebuah meja. Dan ia segera membantu Hinata untuk menyiapkan makan siang.
"Kok, rasanya jadi seperti suami istri ya?" benak Hinata sambil menyembunyikan rona merah wajahnya yang sudah muncul.
"Em..Hyuuga, ini di taruh di ma.."
Sasuke berjalan kearah Hinata naming dengan tidak sengaja ia menginjak air yang tercecer di lantai dan akhirnya ia terpeleset jatuh menimpa tubuh Hinata di depannya.
Hinata membuka matanya dan matanya terbelalak ketika saat ini Sasuke menindihnya. Bukan hanya menindih tapi untuk pertama kalinya bibir mereka bertemu secara tidak sengaja. Kaku dan tegang, itu yang ia rasakan, begitu pula dengan Sasuke.
Dengan cepat Sasuke mengangkat tubuhnya dan berdiri. Hinata yang juga sadar pun segera berdiri dan memunggungi Sasuke sambil menyentuh bibirnya.
"T..tidak mungkin."
Sasuke menutup matanya dan berusaha menenangkan diri. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal kemudian berbalik menghadap Hinata. Sasuke kemudian membungkuk di belakang Hinata yang masih menyentuh bibirnya.
"Maaf kan aku."
Hinata menggigit bibirnya. Ia tidak ingin menatap wajah dosennya saat ini. Dia malu, sangat malu. Tangannya bergetar dan jantungnya berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya dia bersentuhan bibir dengan seorang pria selain Ayah dan kakak laki-lakinya. Dan tentu saja hal ini membuatnya gila setengah mati.
"Le..lebih baik aku dan Ryuu pulang saja. Maaf merepotkan." Sasuke mengangkat Ryuu dari meja dan membawanya keluar dari apartemen Hinata. Sedangkan Hinata masihmematung didalam dapur.
"Ayah, Kak Neji. Maafkan Hinata."
TBC (Tuberculosis eh To be Continued)
