Hallo, chap 3 update. Mudah-mudahan para readers terhibur ya. Seperti biasa, aku mau bales review dulu :
BonNex'21 : Hehehe, makasih banget ya reviewnya :). Ntar kalo aku panjangin siapa yang mau baca? (=_="). Gak usah panggil senpai, panggil aja aku Ina atau gak Ina-chan :3
Arigatou : hihi. Makasih ya udah review lagi. Saya udah update kok, happy reading~ :D
MaeHime : Iya mae, gpp kok. Hahah, Sasuke diapain aja tetep cakep :'D
Elfyami Sawaragi : aku sebenernya mau munculin, tapi karna takut kepanjangan jadinya gak jadi deh .. Makasih ya reviewnya :D
Tsubaki Audhi : Kyaa! Makasih udah review lagi ^^. Hahha, buntut tikus itu panggilan yang ngasal aja saya buat -_-.
maaf-saya-malas-login : hehe, makasih banget ya :D
Kudo Widya-chan Edogawa : wkwkwkk iyakiyak. Makasih banget udah review lagi :D
Akasuna no Aruta : yap, saya salah. Karena fict ini selesai jam 12.30 malam, terus aku ngeditnya sampe jam 1.25 pagi. Jadinya agak ngantuk, gak liat kalo ada typo. Memalukan saya ini -_-. Iya makasih saran dan reviewnya :)
mayu masamune : eh? Kamu yang di twitter itu ya? Heheh, makasih ya udah review ^^.
Makasih ya para readers udah ngereview fict aku, tanpa review kalian fict ini bagaikan nasi tanpa lauk. Dan saatnya untuk RnR lagi. Semoga kalian terhibur.
Happy reading~
Just to remember ^_^ :
*Naruti - Naruto*
*Susanti - Sasuke*
*Shinta - Shikamaru*
*Jojo - Neji*
*Suci - Sai*
::Naruto Santripudden::
By : Inainae-chan
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisihimoto
Warning : AU, super OOC, typo, garing, freak, muntah, dsb
Chapter 3 : hari lebaran~
Chap sebelumnya
"Suci dan Ino, sedang apa kalian?" Teriak Kakashi yang membuat Ino dan Sai tersontak kaget dan terpelongo ditempat.
Sai dan Ino hanya komat kamit gaje dan mereka sudah pasrah terhadap apa yang terjadi selanjutnnya.
'ya allah tolonglah kami.' Inner Sai dan Ino panik.
"Ma-maaf ustadzah e-eh maksudnya ustadz, tadi kami lagi ngegosip. Biasalah calon emak-emak gitu loh~" Ujar Sai sambil ngeles.
"I-iya be-bener." Sambung Ino sambil ngganguk.
"Tapi kenapa ngobrolnya di taman? Di kamar kan bisa! Dan ini sudah larut malam! Nanti kalian masuk angin siapa yang susah?" Omel Kakashi.
"Maaf deh, stadz. Kalau ngobrol di kamar kami takut ada yang tahu, ini rahasia kami berdua yang lagi ngepaporitin seseorang." Ucap Sai.
"Siapa? Ustadz ya? Memang ustadz ini kegantengnya gak diragukan lagi kok. Kalau mau daftar jadi pacar ustadz, silahkan atuh." Kata Kakashi dengan percaya diri mendewanya.
Sai dan Ino hanya sweatdrop dan mencoba tidak muntah saat itu juga.
"Huuu! Ustadz pede banget sih! Kami bakalan ngasih tau, tapi ustadz jangan ngebocorin rahasia kami ya? Janji?" Tanya Ino memastikan.
"Iya, janji." Ujar Kakashi sembari membentuk jarinya seperti huruf 'v'
"Ok. Gini lho ustadz, kami itu ngepaporitin abang tukang bakso yang biasa mangkal di depan waktu sore hari sebelum buka puasa." Kata Ino.
"Oh? Si Shabaku Gaara ya? Cih, kayaknya gantengan ustadz lagi deh daripada dia. Dia itu berandalan, liat aja deh ada tato di jidatnya." Ucap Kakashi yang mencoba menyindir Gaara.
'Mpreet! Udah bangkotan juga lu! Dasar kakek-kakek.' Inner Sai.
"Ih, ustadz bisa aja deh. Jangan nilai orang dari fisiknya, mungkin itu tato memang bawakan sejak lahir(?). Tapi hatinya baik kok, tadi sore aja aku kenalan sama dia. Suaranya itu lho~ awaw." Ujar Sai dengan nada suara mautnya.
"Hossh! Yauda deh terserah kalian. Mendingan ustadz cabut aja dari sini daripada nambah dosa karna nyeritain orang lain. Kalian cepetan masuk, jangan keluyuran lagi."Pinta Kakashi sembari meninggalkan mereka dan membawa obornya.
"Selamat..selamat." Ucap keduanya serempak sambil mengelus-ngelus dada mereka.
#OooOooOooO#
*tiga minggu kemudian*
Jarum pendek berhenti di angka 7 dan jarum panjang melangkah ke angka 2. Suasana pagi hari yang tenang dan damai, burung berkicauan serta angin sepoi-sepoi mengenai penduduk desa Konoha. Terdapat lima orang cogan tetapi bernasib menjadi banci bohong-bohongan yang sedang melakukan aktifitas mereka masing-masing.
"Gak nyangka ya, udah tiga minggu kita jadi bences gak jelas kayak gini." Kata Shikamaru sembari mengucir rambutnya ke belakang.
"Iya, tapi gak lama lagi kita pulang~yey! Penderitaan berakhir!" Seru Naruto.
"Tok..tok..." Suara ketukan pintu tiba-tiba dari luar kamar mereka.
Mereka segera bersiap-siap merapikan diri masing-masing, terutama Naruto yang sibuk memakai cadarnya, agar penyamaran yang mereka lakukan selama ini tidak sia-sia begitu saja.
"Iya, masuk." Jawab Sai.
Masuklah sosok gadis yang memakai baju muslim berwarna ungu muda dan memakai selendang putih disertai corak bunga berwarna ungu menghiasi bagian bawahnya. Sedikit rambut pink indah miliknya terlihat oleh ke lima cowok-cowok itu. Gadis itu memakai kaca mata yang terlihat cocok dipakainya.
"Maaf mengangu. Perkenalkan nama saya Karin, saya adalah keponakannya ustadz Kakashi. Saya di suruh memberi baju-baju kebaya ini yang akan di pakai oleh kalian nanti. Pukul 14.25 kita semua harus sudah berada di hotel Akimichi." Ujar Karin yang mencoba memperkenalkan dirinya sembari memberikan kebaya itu kepada mereka.
"What? kebaya? Yang bener aja lo! Kami ini kan cow..." Kata shikamaru tetapi perkataannya terputus pada saat Neji menutup mulutnya.
"Hah? Cow? maksudnya?" Tanya Karin yang keheranan sendiri.
"Maksudnya.. cowcok gitu! Hahah, maklum lah si Shinta ini lidahnya suka kejepit, jadi ngomongnya rada-rada gak jelas gitu." Kata Naruto si sang penyelamat.
"Oh, gitu. Ok deh. Saya pergi dulu. Bye, sampai jumpa nanti siang." Ucap Karin sambil melambaikan tangannya dan melangkahkan kakinya keluar.
"Bye." Balas mereka serempak.
"Untung aja otak gue lagi encer belakangan ini. Kalau gak bisa curiga dia nanti! Nyaris penyamaran kita terbongkar, guys! Awas aja lo Shika, kalau sampai kejadian ini terulang lagi gue angkat tangan deh!" Ujar Naruto.
"Iya sih lo, ceroboh banget jadi orang! Hati-hati dong lain kali! Kalau mau ngomong mikir dulu!" Omel Sasuke yang tidak biasanya angkat bicara.
"Iyeiye deh maap. Tapi gue jangan dipojokin gini dong! Gue khilaf, mamen!" Kata Shikamaru.
"Udah, udah jangan ribut aja. Ayo siap-siap!" Pinta Sai dan mereka pun bersiap-siap
#OooOooOooO#
Tepat pukul 14.25. Setelah sholat dzuhur, mereka sudah berada di hotel Akimichi. Hotel itu milik pengusaha terbesar dengan usia termuda yang bernama Akimichi Chouji. Hotel itu dinamakan dari marganya sendiri.
"Assalamualaikum. Kali ini saya menggundang santri-santri dan penduduk sekitar untuk datang ke acara ini. Acara ini diadakan karena sebentar lagi kita akan menyambut hari raya idul fitri. Minal aidin walfaizdin, mohon maaf lahir dan bathin. Semoga, amal dan ibadah yang kita lakukan selama bulan ramadhan mendapat rahmat dari Allah SWT. Dan kita semua berdoa agar dosa-dosa kita diampuni olehnya. Amin ya rabbal alamin. Mari lah kita mulai acara ini dengan tepukan yang meriah!" Seru Kakashi.
"Prok..prok.." Seluruh para tetamu undangan bertepuk tangan dengan riang gembira.
"Grrr, ini kebaya gak enak banget sih. Nusuk-nusuk di badan gue." Keluh Naruto.
"Sama, gue juga!" Serempak SasuSaiShikaNeji.
HinaSakuInoTemTen hanya tertawa geli melihat mereka.
"Haha, na-nanti lama-lama ka-kalian terbiasa kok." Kata Hinata sembari tersenyum.
"Terbiasa apaan, nyiksa iye!" Gerutu Shikamaru.
Tiba-tiba, sesuatu dari tas Shikamaru terjatuh ke lantai. Ia mengambilnya. Dan...
"Sreek."
Shikamaru merasakan ada yang mengganjal. Dan di lihatnya kebelakang bahwa kain kebayanya sobek tepat di bagian bokongnya. Dengan sangat malunya, ia mengambil tas yang di pinjamkan Temari untuknya.
"I'll be right back." Kata Shikamaru sekilas dan bergegas tanpa arah tujuan.
"Gue rasa, si Shikamaru bercita-cita menjadi flash-ghost." Sindir Naruto. Temari hanya memberikan death glare padanya. Naruto merinding disko.
Seketika itu, Shikamaru menemukan lorong di belakang hotel tersebut. Nafasnya terengah-engah, ia mengatur nafasnya terlebih dahulu agar kembali normal.
"Oemji! Kainnya sobek, tepat di bokong gue lagi. Aduh, ini kain! Gue nungging dikit udah sobek aja. Ahelah nyusahin lo!" Omel Shikamaru.
Ia membongkar seluruh isi tas tersebut, sampai di temukannya jarum dan benang berwarna putih.
"Ga sia-sia Temari ngasih tas ini ke gue." Ucapnya sumringah.
Shikamaru ingin menjahit kain tersebut, tetapi ada sesuatu yang menggangunya.
"Kau masih gadis apa sudah janda...?"
Shikamaru tertegun, ia sedikit merinding dengan suara pemuda yang menyanyikan sepotong lagu dangdut kesukaan babenya itu.
Ia menoleh ke belakang, dan di lihatnya cowok memakai kaos warna hitam bergambar awan merah di sertai celana jeans .
Cowok itu guanteng pisan, imut, tetapi sayang nan malang, ia memiliki flek atau keriput di bagian pipi kanan dan kiri.
'Oh, jadi ini yang bilang gue gadis atau janda tadi? Gue kerjain lo! Huahaha.' Inner Shikamaru.
"Aye masih gadis, bang. Hihi." Goda Shikamaru.
"Oh gitu toh neng, boleh kenalan gak?" Tanya cowok yang keriput itu.
"Boleh boleh aja. Nama aye Shinta, bang." Balas Shikamaru dengan kedipan matanya.
"Awaw, nama yang bagus. Nama abang Itachi, neng."
"Ohihihi. Hem, abang...tolong jahitin kain aku yang sobek dong." Pinta Shikamaru.
"Dengan senang hati, di bagian mana, neng?" Tanya Itachi.
"Bokong bang..."
Ketika mendengar perkataan Shikamaru barusan, Itachi kaku sejenak.
"Hm.. bisa, bang?"
"Yes, of course, neng!"
"Makasih. Ini benang dan jarumnya. Jahitin yang bener ya, bang. Aku nungging dulu biar gampang ngejahitnya." Kata Shikamaru disertai cekikikan yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri dan juga ALLAH SWT.
Itachi gemeteran memegang benang dan jarum itu. Pertama sekali, ia memasukkan benang ke dalam lubang jarum. Setelah selesai, ia mulai ingin menjahit kain milik Shikamaru. Bacaan basmalahnya pun terdengar oleh telinga Shikamaru.
Shikamaru menahan nafas, dan sewaktu ia ingin membuangnya...
"Pruuut.."
Kentut maut dari Shikamaru telah berhasil dilandaskan ke wajah ganteng milik Itachi. Cowok ganteng nan malang itu pingsan di tempat. Kentutan dahsyat milik Shikamaru telah berhasil membuat ia terkapar tak berdaya.
"Wakakak! Sukurin! Bulan puasa juga! Masih aja lu godain cewek! Untung aja gue sahur pake jengkol tadi. Hanya dia lah yang tau aroma segar kentut gue. Hahahha. Sorry mamen!" Kata Shikamaru sembari meninggalkan Itachi.
Sungguh malang. Selanjutnya, Shikamaru masuk ke toilet . Dan melepaskan kainnya, untung saja dia pakai celana boxer tadi.
"Syukur deh nyak –nyokap- gue pernah ngajarin cara ngejahit." Gumamnya.
Setelah selesai, ia kembali memakai kainnya dan ke tempat dimana sahabat-sahabat dan pacarnya berada.
"Sorry lama. Hehhe." Ujar Shikamaru.
"Ini sih bukan lama, tapi overdosis lama!" Bentak Temari.
"Maaf, sayang." Kata Shikamaru memelas. Temari tetap ngambek dan tak memperdulikannya.
"Well, siapa lagi yang ingin menyanyi hari ini? Yang ingin menyanyi akan diiringi oleh band terkenal yang bernama Akatsukitek. Kami membutuhkan dua orang!" Kata pembawa acara yang bernama Aburame Shino.
"Shikamaru, Neji! Kalian aja, nyanyi keong racun sana! Nama samaran kalian kan Shinta dan Jojo!" Seru Naruto.
"Setuju!" Seru mereka serempak sembari menarik Shikamaru dan Neji ke atas pentas.
Shikamaru dan Neji hanya pasrah terhadap apa yang menimpah mereka. Mereka menyesal karna telah memilih Shinta dan Jojo untuk nama samara mereka. Padahal mereka tau, Shinta dan Jojo eksis dengan lagu keong racunnya.
"Eh, drummer kita mana nih?" Tanya sang gitaris yang bernama, Sasori *o*
Shikamaru yang mendengarnya hanya cekikikan dalam hati. Sang drummer malang yang bernama Itachi itu pun di ganti dengan drummer cadangan yang bernama Pein.
"Dasar kau keong racun..."
Lagu Keong Racun pun di latunkan oleh mereka. Acara berlangsung dengan meriah!
#OooOooOooO#
"Allahu akbar allahu akbar allahu akbar. Lailahaillahu allahu akbar, allahu akbar walillah ilham."
Pagi hari itu sangat berbeda dari pagi-pagi biasanya. Udara sangat sejuk, alam sangat tenang. Maha besar Allah yang telah menciptakan semua ini. Suara takbir yang di pantulkan oleh masjid dengan suara khas dari ustadz Kakashi bin Hatake terdengar sangat merdu. Ramai orang-orang datang untuk melakukan sholat idul fitri. Sewaktu para jamaah sudah penuh dan teratur. Sholat idul fitri pun dimulai.
Setelah melakukan sholat idul fitri, para jamaah mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh ustadz Asuma bin Sarutobi disertai doa yang disampaikan oleh beliau juga.
Setelah selesai melakukan ibadah, seluruh umat islam keluar satu persatu dari masjid. Mereka keluar dengan amat teratur. Suasana hari raya tahun ini nyaris sempurna.
..
Dan saatnya para santri untuk meminta maaf dan pamit undur diri dari pesantren yang telah mereka duduki selama sebulan.
Ustadz Kakshi bin Hatake, ustadz Asuma bin Sarutobi, ustadzah Tsunade dan pengurus-pengurus pesantren berdiri di depan pintu pesantren yang megah itu.
Satu persatu para santri berkeluaran, air mata banyak bercucuran dan membasahi pipi mereka. Suasana haru biru, perasaan sedih yang mereka rasakan ditambah lagi kerinduan terhadap pesantren tercinta. Semua santri telah berpergian, terkecuali sepuluh anak remaja yang ingin menggungkapkan rahasia mereka.
"Ustadz dan ustadazah. Maafkan kami semua ya kalau ada salah." Kata Sai yang angkat bicara dan mewakili sepuluh dari mereka.
"Iya, kami maafkan." Jawab Tsunade.
"Terus, kalau ada sesuatu yang kami rahasiakan, kalian bisa berjanji untuk tidak marah?" Tanya Sakura.
"Insyaallah, kami bisa." Kata mereka serempak.
"Gak mau! Pokoknya harus janji!" Paksa Naruto.
"Tidak, insyaallah..." Balas Kakashi
"Janji!"
"Insyaallah!"
"Janji!"
"Insyaallah!
"Janji! Janji! Janji!" Bentak Naruto
"Iye! Janji! Puas lu!" Balas Kakashi yang belum apa-apa sudah emosi.
Mereka hanya sweatdrop berjamaah.
"Be-begini... Sebenernnya...Saya, Naruti, Susanti, Shinta dan Suci adalah... LAKI-LAKI!" Kata Neji.
"APAAA?" Teriak Kakashi, Asuma dan Tsunade serempak sembari melototin mata mereka kayak orang kesambet hantu pohon duren.
Di pintu pagar pesantren, terdapat Itachi dan Kiba yang berniat membawa bunga untuk Shikamaru dan Naruto. Karena telah mendengar omongan Neji barusan, mereka patah hati dan kembali ke rumah masing-masing. Air mata pun menetes sampai jatuh ke tanah.
'Ini gak mungkin! Ya ampun, rencana gue kan mau nembak Susanti, Jojo atau Suci! Jadi selama ini gue suka sama bences? Gak mungkin!' Inner Kakashi.
"Kalian pasti berbohong kan?" Tanya Asuma memastikan.
"Kami serius! Kami disini untuk menjaga ke lima pacar-pacar kami. Jadi kami menyusul mereka ke sini dengan bergaya seperti perempuan. Tolong maafkan kami ya." Pinta Sai.
NaruSasuSaiShikaNeji membuka jilbab mereka. Naruto, Sasuke dan Sai melepaskan wig mereka. Tak lupa pula Naruto melepaskan cadarnya. Mereka semua menghapus make-up mereka dengan mengguntakan tissue basah.
Kakashi, Asuma dan Tsunade cengo dan percaya terhadap pengakuan mereka. Kakashi yang lemas tiba-tiba tergeletak pasrah dan jatuh ke lantai.
"huwee, puyeng gua. Udah deh, kalian semua pergi aja dari pesantren ini. Gue maafin kok, tapi jangan balik lagi. Jangan pernah nunjukkin muka kalian semua depan gue. Kalau sampai itu terjadi, gue bisa stroke sebelum kawin!" Kata Kakashi dengan pesan sebelum detik-detik proklamasi(?)
Mereka bersepuluh segera ngacir dari pesantren itu dengan menaiki mobil BMWnya Sai, dan Mercynya Sakura.
"mission complete, berangkat!" Seru kesepuluhnya.
*Owari*
Maaf ya para readers kalau chap 3 kurang memuaskan. Tapi ina udah berusaha untuk yang terbaik kok. Fict ini udah tamat. Lega rasanya, hehe. Dunia sebenarnya belum hari lebaran, tapi di fict ini udah lebaran duluan. Hahaha. Makasih banyak ya yang udah RnR. Ina minta review lagi boleh? :D
