Selamat siang, minna….

Maaf, updatenya yang lama

*ditimpuk rame-rame*

Sebenarnya Ota agak terkejut karena banyak yang meripyu fanfic gak penting punya Ota ini. Karena Ota dulu berfikir gak ada yang bakal mau baca atopun meripyu. Jadi, Ota ucapin matur nuwun buat semua yang udah berkenan membaca atopun meripyu.

*bow*

Chap 2 ini adalah hasil pemaksaan dari otak Ota yang gak punya ide buat nerusin. Jadi, maaf bila aneh, terkesan memaksa—memang memaksa sih—dll.

Dan satu lagi, fanfic ini alurnya kecepetan alias dipercepat si author geblek ini.

Jangan lupa kasih tahu Ota, fanfic ini perlu Ota hapus ato tidak.

*author lagi krisis kepedean + buntu ide*

A/N : italic adalah masa lalu Rukia.

Silakan dinikmati (?)

BLEACH © TITE KUBO

.

.

.

Arigatou © Mitsuki Ota

.

.

.

Rukia's POV

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Aku merasakan tubuhku diguncang-guncang oleh seseorang. Ia berkata padaku "Bangun. Kita sudah sampai di Karakura." Aku mengerjap kedua mataku. Orang itu benar, aku sudah sampai di Karakura. Diluar sana aku bisa melihat tulisan "Karakura Station". Aku segera mengambil barang-barangku dan segera pergi dari kereta yang sudah membawaku ke Karakura ini.

Diluar sana sangat ramai, wajar saja ini kan hari minggu, jadi banyak orang yang pergi berlibur.

Banyak orang yang berlalu lalang di depanku. Mataku terus mencari orang yang akan menjemputku. Akhirnya aku menemukannya. Sesorang itu membawa tulisan 'Rukia' di depan dadanya. Aku mendekati pria paruh baya itu.

"Paman, aku Rukia Kuchiki." Ucapku. Aku sangat terkejut dengan reaksi paman ini. Ia tiba-tiba memelukku. Memelukku sangat erat, sampai-sampai aku tak bisa bernapas.

"Pa-man, bi-sa le-pas-kan a-ku?" ucapku terbata-bata. Hebat sekali paman ini, sudah tua kekuatannya sungguh luar biasa kuat.

"Maaf Rukia-chan, paman terlalu senang karena kau datang ke Karakura."

"Tak masalah, paman."

"Ayo, kita pulang!" paman itu merebut (?) koper yang aku pegang dan ia letakkan disampinga kanan tubuhnya. Sementara tangan yang satunya lagi membimbingku agar tetap berada disisi kirinya. Mungkin dia takut aku kesasar.

"Ah iya, aku hampir lupa Rukia-chan."

"Lupa apa paman?"

"Memperkenalkan diri. Namaku Isshin Kurosaki. Dan kau harus memanggilku ayah, kau mengerti?"

"Ayah?" tanyaku kaget.

"Ya."

"Baiklah, a-yah." Jujur, aku merasa sangat aneh memanggil paman Isshin dengan sebutan ayah. Selama ini yang aku panggil ayah hanya ayahku—Byakuya saja.

"Bagaimana keadaan Byakuya, Yourichi dan adikmu?"

"Mereka baik kok." Mereka baik, terutama Senna. Aku yakin dia sangat bahagia sekarang. Dia mungkin sedang berkencan dengan Ashido-kun sekarang. Hah, dia memang beruntung!

Sepanjang jalan paman Isshin terus saja berceloteh tentang dia dan ketiga anaknya. Yang aku tangkap dari celotehannya dia mempunyai anak yang bernama Ichigo Kurosaki, Yuzu Kurosaki dan Karin Kurosaki. Rumah paman Isshin pasti ramai, karena penghuninya banyak. Berbeda dengan rumah kami yang ada di Tokyo. Rumah itu terkadang terasa seperti kuburan karena saking sepinya. Jika Senna tak ada di rumah aku pasti merasa kesepian. Aku ini, memang tak bisa berpusah dengan Senna.

Paman Isshin—aku hanya akan memanggilnya ayah jika ada dihadapannya maupun orang lain—menghentikan laju mobilnya. Kami sudah sampai di rumahnya ternyata. Rumahnya tak terlalu besar maupun kecil, pas lah. Dan aku yakin kalau aku akan betah disini.

"Tadaima," ucap paman Isshin ketika kami memasuki rumahnya.

"Okaeri." Jawab gadis manis yang tak aku ketahui namanya.

"Rukia-nee sudah datang?" gadis kecil itu begitu ceria saat melihatku. Seperti seorang adik yang baru bertemu dengan kakak yang lama tak ia jumpai.

"Karin dan Ichigo pergi kemana, Yuzu?"

"Aku disini." Celutuk anak kecil lainnya yang aku yakini itu adalah Karin Kurosaki. "Selamat datang, Rukia-nee." Aku hanya tersenyum.

"Karin dan Ichigo pergi keman, Yuzu?"

"Aku disini." Celutuk anak kecil lainnya yang aku yakini itu adalah Karin Kurosaki. "Selamat datang, Rukia-nee." Aku hanya tersenyum.

"Aku tak tahu kemana perginya Ichi-nii, ayah."

"Dasar anak itu! Rukia-chan datang bukan menyambutnya malah pergi tak tahu kemana."

"Yuzu, antar Rukia-chan ke kamar Ichigo. Biarkan dia istirahat."

"Ayo, Rukia-nee!"

"Iya." Aku mengekor di belakang Yuzu. Gadis ini sungguh manis.

"Selamat istirahat Rukia-nee."

"Arigatou." Setelah Yuzu pergi aku segera masuk ke kamarku dan mengistirahatkan badanku.

###

Jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku ingin kembali ke masa dimana aku tinggal di panti asuhan. Meskipun keluarga Kuchiki begitu baik padaku, tetap saja aku tak bisa merasakan kebahagiaan yang sempurna jika Senna selalu mengambil orang yang aku cintai. Aku hidup bukan untuk mengalah, bukan? Maka, kuputuskan untuk pergi dan tinggal disini bersama paman Isshin dan anak-anaknya. Tapi, belum satu hari saja aku sudah merindukan ayah, ibu dan Senna, bagaimana nanti?

Aku memandangi jam kecil yang ada di atas meja belajarku. Itu adalah hadiah dari Senna saat aku ulang tahun ke-15. Jam kecil berbentuk chappy tokoh kartun favoritku. Tiba-tiba aku mendengar suara ketukan pelan di depan pintu kamarku. Aku membukanya pelan, dan terlihatlah sosok laki-laki yang berambut orange? Aneh sekali warna rambutnya ini. Berwajah tampan, tinggi dan mempunyai mata musim gugur. Hei! Warna matanya itu sangat cantik (?)

Ada yang aneh. Mengapa orang ini memandangiku seperti ini? Apa aku mengenalnya? Aku rasa tidak.

"Umm… maaf menganggumu. Aku hanya mau mengambil bukuku yang ketinggalan disini." Ini cuma perasanku saja atau memang ada sesuatu yang lain yang pemuda ini ingin ucapkan padaku? Entahlah.

"Silakan," aku mempersilakan pemuda itu untuk masuk ke kamarku. Ia lalu mengambil sebuah buku yang tergeletak di atas meja belajar.

"Siapa namamu?" tanyanya

"Ru-Rukia Kuchiki." Mengapa aku jadi gagap seperti ini? Dia tersenyum kecil dan itu membuatku malu.

"Aku Ichigo. Ichigo Kurosaki."

Hening

"Aku permisi dulu, Rukia." dia berhenti sejenak. "Apa boleh aku memanggilmu begitu?"

"Umm.. ya. Tentu saja!" Dia menghilang dan masuk ke kamar yang ada disebelahku. Jadi, dia tidur disana?

Byakuya Kuchiki atau sekarang bisa aku sebut sebagai ayahku membawaku kesebuah rumah yang besar dan mewah. Pagar rumah itu menjulang tinggi, sehingga jika kita berada diluar kita hanya bisa melihat lantai 2. Didepan gerbang sudah ada 2 orang yang menjaga pintu gerbang agar tak sembarang orang bisa masuk. Mobil yang aku tumpangi memasuki rumah ayah yang besar ini. Kami-sama, apa aku akan tinggal disini?

"Rukia, ayo!" ayah menyuruhku untuk keluar dari mobilnya dan menyuruhku untuk mengikutinya untuk memasuki rumah ini. Aku tak bisa menjelaskan secara detail bagaimana bentuk rumah ini. Satu hal yang aku ketahui, rumah ini seperti istana.

Ayah membawaku masuk ke dalam rumahnya dan langsung membawaku ke sisi samping rumahnya—taman. Disana aku bisa melihat seorang anak kecil yang seumuran denganku sedang bermain bersama seseorang yang aku yakini adalah ibunya.

"Yourichi," ayah bersuata. Ibu dari gadis itu langsung menoleh ke arah kami. Senyum langsung menghiasi wajah cantiknya ketika melihat ayah dan aku.

"Kau sudah pulang?"

"Ya." Ayah menggenggam erat tangan kecilku. "Ayo, Rukia!" dia membawaku masuk ke taman rumahnya.

Ibu dari anak itu berjongkok di depanku. "Siapa namamu?" tanyanya.

"Rukia."

"Rukia, namaku Yourichi. Mulai sekarang kau harus memnggilku ibu, mengerti?" aku mengangguk pelan. "Baik, bu."

"Nah, Senna. Kemarilah!" ibu mengisyaratkan agar gadis kecil yang sedang bermainitu agar mendekat.

"Senna, ini Rukia. Dia kakakmu sekarang." Anak kecil itu mengangguk. Seulas senyum terlukis di wajah cantik bernama Senna itu

"Rukia, ayo kita bermain!" Senna langsung menarik tanganku. Ia mengajakku bermain pasir bersamanya. Sungguh, aku sangat senang Senna mau menerimaku.

"Kau lihat! Senna begitu menyukai Rukia."

"Kau benar. Aku tak salah memilih Rukia untuk menjadi kakaknya."

2 bulan kemudian

Aku duduk sambil menikmati indahnya panoranama matahari terbenam. Ah, sungguh cantik. Aku masih ingat dulu aku sering menghabiskan waktuku untuk melihat matahai terbenam dengan Ashido-kun. Tapi, sekarang aku tak bisa menikmati keindahan ini bersama Ashido-kun. Kalian sudah tahu bukan penyebabnya apa? Jadi, aku tak perlu repot-repot lagi memberitahu kalian.

Semilir angin menerpa wajahku. Rambutku bertebangan (?) sampai meniutupi wajahku. Anginnya cukup kencang petang ini. Ini memang petang bukan? Ah, taulah.

"Kenapa masih ada disini?" tanya Ichigo yang tiba-tiba sudah duduk disampingku. Aku bertanya-tanya dalam hatiku. Bagaimana Ichigo ada disini? Bukankah tadi ia sudah pulang kerumah? Tapi, mengapa sekarang dia berada disini? Duduk disampingku pula. Sebagai perempuan normal aku juga merasa agak cannggung dan salting bila berdekatan dengan laki-laki setampan Ichigo. Tapi, bukan berarti aku menyukainya loh,. Hanya satu alasan yang aku punya, yaitu karena aku masih mencintai Ashido-kun. Orang yang sudah membuatku sakit tentunya.

"Sejak kapan kau ada disini?" dia tampak berpikir. Aku jadi berpikir kalau dia sudah cukup lama ada disini. Kalau argumen konyolku itu benar, jadi ia sempat...

"Sejak kau berkata 'Ashido-kun. Aku merindukanmu;." pipiku memerah karena malu. Jadi, ia medengarnya? Rukia bodoh! Mengapa kau tak menyadari keberadaan Ichigo sejak tadi?

"Kau mendengarnya?" tanyaku memastikan kalau pendengaranku ini tak bermasalah, jadi aku tak perlu repot-repot ke dokter THT.

Dia mengangguk.

"Siapa dia? Apa dia kekasihmu, hmm?" hatiku mencelos begitu mendengar pertanyaan dari makhluk orange yang duduk disampingku ini. Kau salah, Ichigo. Dia bukan kekasihku. Dia hanya mantan kekasih yang masih aku cintai sampai sekarang. 2 bulan bukanlah waktu yang bisa membuatku bisa dengan mudah melupakan sosok Ashido Kano. Aku butuh waktu yang lebih lama dari pada itu.

"Bukan. Mantan." jawabku lemas. Entah mengapa tiba-tiba tubuhku langsung melemas begitu mengucapkan kalau Ashido-kun bukanlah kekasihku, melainkan mantan kekasih. Apa ini tandanya kalau aku belum 100 % merelakan Ashido-kun pada Senna? Senna adikku yang cantik. Adikku yang pintar. Adikku yang pandai memikat hati orang lain termasuk para laki-laki. Adikku yang sempurna itu? Entahlah. Aku benar-benar iri padanya.

"Maaf." dia tampak menyesal sudah bertanya tentang Ashido-kun padaku. Kau tak salah, Ichigo. Aku yang salah, karena belum bisa melupakan bayang-bayang Ashido-kun.

Aku tak merespon perminta maafan dari Ichigo. Aku malah bertanya tentang sesuatu hal yang membuatku semakin terluka. "Apa kau pernah mencintai seseorang, Ichigo?" Ichigo tampak menngerutkan keningnya. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan, yang jelas dan amat jelas sekarang adalah aku nutuh orang yang bisa mengerti keadaanku, dan aku yakin Ichigo'lah orangnya. Aku tak tahu mengapa, tapi aku selalu nyaman bila berada didekatnya. Jadi, aku putuskan untuk menumpahkan segala kelu kesahku pada Ichigo.

"Ashido adalah mantan kekasihku, tapi aku masih mencintainya sampai se—" aku memberi jeda. "—karang." dan tumpahlah semua yang ada dalam dadaku.

"Jadi, Ichigo. Apa kau punya orang yang kau cintai?" tanyaku tiba-tiba mendapatkan semangat. Tapi, meskipun nadaku terdengar ceria, aku masih bisa merasakan kegetiran didalamnya.

Tiba-tiba ia menunduk. Ia menghembuskan napas beratnya. "Namanya Hisana. Dia sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan." hatiku terkoyak. Aku tak percaya dengan apa yang aku dengar. "Dan dia mirip denganmu, Rukia." lanjutnya. Kontan saja tubuhku langsung bergetar. Hisana mirip denganku? Pantas saja saat itu dia memelukku dan mengatkan padaku untuk jangan meninggalkannya. Jadi, karena aku mirip dengan Hisana? Ya Ampun! Dan tiba-tiba saja aku merasakan sakit didadaku. Kami-sama apa yang sedang terjadi padaku? Mengapa aku merasa sakit?

Dia memperlihatkan sebuah senyum yang dipaksa di wajah tampannya. "Tapi, kami cuma sahabat."

Jadi, hanya sahabat ya?

Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Ichigo, kau pemuda yang penuh kejutan. Tiba-tiba saja aku merasakan beban yang menimpa tubuh mungilku ini.

Ichigo memelukku?

"Maaf, jika aku dulu melihatmu sebagai Hisana. Tapi, aku sadar, Hisana bukanlah dirimu Rukia. Kau bukan Hisana." aku seperti menemukan potongan puzzle sekarang. Semua memori dalam otakku terus berputar. Bagaimana seorang Ichigo Kurosaki yang terpaku saat pertama kali bertemu denganku dan pelukannya di pagi itu. Jadi, semua itu karena ia melihatku sebagai Hisana? Dan juga Kaien Shiba yang... oh Kami-sama.

Tubuhku terpaku begitu saja. Aku tak membalas pelukan Ichigo. Kau tahu, aku terlalu shock dengan kenyataan ini.

"Daisuki dayo." jantungku berhenti berdetak sekarang.

###

Aku memengangi kepalaku yang terasa berdenyut-denyut sekarang. Aku baru saja berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali di pagi hari yang cukup terik ini. Aku memang paling tidak tahan dengan sinar matahari. Jadilah disini aku. Di ruang kesehatan alias UKS. Tidur-tiduran dengan nyaman diatas kasur yang empuk ini.

"Kau baik-baik saja, Rukia?" tanya Renji teman satu kelasku. Dia nampak khawatir padaku.

"Aku baik-baik saja, Renji. Tak perlu cemas." ucapku mencoba membuat perasaannya lebih baik.

"Kau baik-baik saja, Rukia?" tiba-tiba suara Ichigo menggema dalam ruang kesehatan ini. Aku mengangguk.

"Sebaiknya aku pergi. Rukia, jangan lupa minum obatnya." Renji melirik obat yang tergeletak di atas meja.

"Terima kasih, Renji." hanya kata yang mampu aku ucapkan padanya. Dia mengangguk dan langsung melesat pergi meninggalkan aku berdua dengan Ichigo.

"Kau baik-baik saja?" tanya Ichigo lagi. Kadang aku merasa aneh saat berada didekat Ichigo. Jantungku terasa sesak , sehingga kadang aku sulit untuk bernapas.

"Umm...ya. Aku baik-baik saja." jawabku sedikit berbohong. Aku memang baik-baik saja, meskipun tak sepenuhnya baik tentunya.

"Minumlah obatnya." suruh Ichigo lembut. Aku langsung mengubah posisiku yang semula tidur-tiduran menjadi duduk.

"Ini," Ichigo memberikan obat sakit kepala dan air putih padaku. Aku mengambil obat sakit kepala itu dan merobek bungkusnya. Kumasukkan pelan-pelan benda berbentuk pulat pipih bewarna putih itu ke dalam mulutku. Rasa pahit itu langsung terasa di lidahku. Buru-buru aku mengambil air putih yang masih dipegang oleh Ichigo dan meminumnya.

"Hati-hati." Nasehatnya.

"Terima kasih." Kataku setelah minum obat. Ichigo meletakkan kembali gelas itu ke meja yang ada di samping ranjang yang aku duduki.

"Perlu ketemani?" tawarnya. Aku menggeleng. "Tidak. Masih ada pelajaran yang menunggumu, Ichi." tolakku.

Dia mengangguk

"Istirahatlah. Aku kembali ke kelas dulu."

"Ya."

"Ichigo," panggilku sebelum dia benar-benar pergi.

"Hm?"

"Arigatou." Dia tersenyum singkat. "Douita." dan Dia menghilang.

###

Kau tahu, hal apa yang membuatku tak betah berada disini? Apalagi kalau bukan bau obat-obatan yang menusuk hidung ini. Dan aku beruntung karena aku tertidur berjam-jam tadi, sehingga ketika aku membuka mataku kembali sekolah sudah bubar.

"Kau sudah bangun?" ia mengambil kursi dan duduk disamping ranjangku. Agak terkejut juga melihat Ichigo ada disini.

"Ya. Ayo, kita pulang!" ajakku

"Kau yakin tak mau istirahat dulu?"

"Aku sudah tidur selama berjam-jam, Ichi. Kau ingin membuatku nampak seperti mayat tidur?" omelku. Aku jadi berpikir. Memang ada ya mayat tidur? Kalau sudah jadi mayat sudah pasti tidur, bukan? Meskipun dalam artian yang berbeda tentunya.

"Hahaha…" dia tertawa. Dan itu membuatnya nampak kakkoi!

"Ayo, kita pulang!" dia mengangguk.

Kami berjalan pelan. Menikmati suasanya di sore hari yang indah ini. Tiba-tiba aky merasakan sesuatu yang menyentuh tanganku.

Ichigo mengenggam tanganku.

Aku tersenyum kecil. Lalu aku membalas genggaman tangan hangat milik Ichigo. Sungguh, aku menyukainya. Menyukai saat-saat bersama Ichigo. Bersama Ichigo membuatku tenang dan aku bahagia. Arigatou, Ichigo. Daisuki dayo!

"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Ichigo begitu menangkap basah aku senyum-senyum sendiri seperti orang sinting.

"Tidak. Aku hanya senag melihat orang itu." tunjukku pada seseorang yang sedang err... kencan?

Dai tersenyum. Manis sekali. "Ayo, kita kencan!"

.

.

.

+TBC+

.

.

.

Oke, Ota pasrah jika mendapat lemparan duit (?) dari readers karena berani-beraninya mempublish cerita yang gak bermutu ini. Tapi, Ota minta kebaikan dari readers agar mau memberikan Ota review. *dilempar sandal* Agar Ota bisa melanjutkan fanfic ini ato tidak. Oke, terima kasih udah mau membaca fanfic Ota. Dan maaf karena gak bisa membuat fanfic sesuai keinginan kalian.

Maaf, Ota gak bisa membalas satu-satu review dari kalian semua. Ota absent aja ya?

Thanks to

Dark is zero

Fuyu-yuki-shiro

ariadneLacie

Luna 'ruru' Kuchiki

Salnan Klein Phantomhive

Sora Yasu9a 2230612

Kyuuchi

GaemDictactor SparKyu YeWon

Erikyokinichi ga login

Zanpaku-nee

Taviabeta-Primavera

Rieka Kuchiki

D3rin

Meyrin Kyuchan

Kurotsuki Aoichi

Nenk Rukiakate

Kurosaki Miyuki

Rukia Kurosaki

Noah Lavender

Tsukuyomi Hime

Terima kasih semuanya dan maaf jika ada kesalahan dalam pengetikan nama. Semua itu murni kesalahan si author yang geblek ini.

Seperti yang udah Ota tulis diatas.

Hapus ato tidak, minna?

Tolong kasih tahu jawabannya lewat kotak review di bawah ini.

REVIEW PLEASE!