BLEACH © TITE KUBO

.

.

.

Arigatou © Mitsuki Ota

.

.

.

Sangatsu Kokonoka © Remioromen

.

.

.

Rukia's POV

.

.

.

Warning : alur kecepetan, OOC, OC, author baru (harap dimalklumi kalau jelek), typo (s), ceritanya ngalor ngidul etc

.

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Tak terasa sudah kurang lebih 6 bulan sejak kepindahanku ke Karakura ini. Aku menjalani kehidupan normalku seperti biasa, dan tak lupa kadang aku merindukan Ashido-kun dan juga Senna. Aku seperti orang bodoh yang merindukan seseorang yang jelas-jelas tak merindukanku. Tapi, semua itu dulu―sebelum aku mengenal jauh sosok Ichigo Kurosaki yang merupakan putra dari paman Isshin.

Dulu, setiap malam aku selalu berpikir apa yang sedang Senna lakukan? Apa dia sedang belajar bersama Ashido-kun? Aku, Senna dan juga Ashido-kun memang selalu belajar bersama di rumah kami. Ibu dan juga ayah sama sekali tak keberatan mengenai hal itu, mereka justru senang akan kehadiran Ashido-kun di tengah-tengah kami. Ibu dan Ayah juga tak mengetahui hubunganku dengan Ashido-kun. Aku memang sengaja tak memberitahu mereka mengenai hubungan yang tengah kami jalani. Entah mengapa aku merasa kalau aku tak perlu memberitahu mereka. Cukup aku, Ashido-kun dan juga Senna yang tahu.

Tapi, sekarang keadaan sudah berbeda lagi. Sudah ada orang yang mengisi hatiku. Ada seseorang yang selalu menggenggam erat tanganku saat aku senang maupun sedih. Dia adalah Ichigo Kurosaki. Kekasihku yang baru. Aku baru menjalani hubungan dengannya selama kurang lebih 2 bulan. Kami memang masih baru dalam menjalin hubungan karena kami selama ini hanya menjalin persahabatan. Aku dan Ichigo tinggal bersama karena aku dititipkan di rumah Ichigo. Dan aku bersyukur akan hal hal itu. Karena itu, kami bisa saling mengenal satu sama lain.

Aku masih ingat waktu awal-awal aku di Karakura aku sering menangis karena merindukan Ashido-kun. Dan Ichigo yang menemukanku di atap sekolah sering menghiburku dan meyemangatiku. Lama-lama akupun jatuh cinta padanya. Jatuh cinta pada pria yana berambut nyentik di kelas kami―aku dan Ichigo satu kelas di SMA Karakura. Dan aku yakin kalau dia adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mempunyai rambut aneh—berwarna orange. Tapi, meskipun begitu aku tetap menyukainya. Tak peduli warna rambutnys ysng mungkin tiba-tiba berubah menjadi putih sekalipun. Aku tak peduli.

Kebiasaanku untuk datang ke atap sekolah bubar belum bisa aku hilangkan. Buktinya sekarang aku diatap sedang duduk-duduk sendiri. Aku tak tahu mengapa atap sekolah menjadi tempat favoritku. Yang aku tahu dan aku rasakan adalah aku nyaman berada di atap sekolah, meskipun aku sendirian.

Hampir saja aku melupakan sesuatu. Aku bertemu sahabat kecilku saat di pani asuhan disini. Dia satu kelas denganku dan juga Ichigo. Namanya Ulquiorra. Aku sangat senang saat mengetahui dia ada di Karakura dan bersekolah sama bahkan satu kelas deganku. Aku memang sudah lama tak mendengar mengenai kabar dan keberadaannya semenjak dia diadopsi. Ulquiorra lebih dulu diadopsi dari pada aku. Tapi, tak berselang lama aku juga diadopsi oleh keluarga Kuchiki.

Kami juga sama-sama mempunyai kekasih. Nama kekasih Ulquiorra adalah Bella Urahara ―anak dari Urahara sensei guru matematika kami. Ulquiorra merupakan pria yang dijuluki raja es di sekolah kami karena dia sangat dingin seperti es. Dan karena sifat dingin yang dimilikinya itulah akhirnya banyak waraga SMA Karakura yang menyukainya. Ulquiorra adalah pria yang banyak diincar gadis-gadis. Tapi, dari sekaian banyak gadis yang menggilainya pilihannya hanya tertuju pada Bella Urahara. Gadis yang selalu ia genggam erat tangannya saat berjalan bersama, tak peduli dengan tatapan para gadis-gadis yang sakit hati dibuatnya. Namaya juga Ulquiorra, dia pasti tidak akan peduli dan tidak mau peduli.

"Kau sedang apa disini?" tanyaku begitu menyadari kehadiran Renji yang duduk manis disampingku.

"Memandangi langit sore." Jawabnya singkat, padat dan jelas seperti isi slogan yang ditempel di jalanan.

"Oh." Aku hanya ber'o' ria saja.

"Kau menunggu Ichigo?"

"Tidak." Jawabku jujur, apa adanya. Memang aku tidak menunggu Ichigo yang sedang latihan basket hari ini. Aku hanya duduk santai di atap sambil menikmati pemandangan sore hari dan semilir angin yang menyejukkan. Hanya itu saja.

"Dia akan sakit hati kalau mendengarnya." Tuturnya tiba-tiba menjadi serius begitu.

"Benarkah?" dia mengangguk mantap. "Dia ada dibelakang." Ucapnya. Aku tak mengerti dengan ucapannya. Ichigo ada dibelakang? Aku memutar kepalaku dan menemukan Ichigo dibelakangku sedang berdiri tegak memandangi kami. Kenapa makhluk setengah babon ini tidak berbicara dari tadi sih? Kalau seperti ini Ichigo pasti marah padaku.

"Ichigo?"

"Ayo! Kita pulang." dia tidak menggunakan ekspresinya saat mengajakku pulang bersamanya. Apa dia marah padaku? Maaf Ichi, tapi aku tak bermaksud seperti itu.

"Aku pulang dulu, Renji" Pamitku. Dia hanya mengangguk setelah itu ia mengalihkan pandangannya pada langit sore yang tadi aku pandangi.

Keheningan menyelimuti kami. Kali ini aku yakin kalau Ichigo benar-benar marah padaku. Mungkin seharusnya tadi aku berbohong saja pada Renji. Tapi, bukankah berbohong itu dosa. Lalu, apa mesti aku berbohong?

"Kau marah?" tanyaku berusaha mencairkan suasana yang sepi bak kuburan ini.

"Tidak." Hah, dia benar-benar marah. Melihat ekspresi wajahnya yang ditekuk seperti itu sudah menandakan kalau dia marah. Mengapa mesti berbohong sih?

"Aku minta maaf. Aku tak bermaksud seperti itu. Kau tahu'kan kalau aku sering ke atap meskipun aku sedang tidak menunggumu?" ayolah Ichi, jangan membuatku merasa bersalah seperti ini.

"Aku tahu." Hanya itu yang ia ucapkan. Hah, kau menguji kesabaranku, Ichi.

"Lantas, mengapa kau bersikap seperti itu?" aku benar-benar bingung dibuatnya.

"Ya. Aku marah." Akhirnya dia jujur padaku. "Tapi, bukan masalah atap itu, Rukia." Kalau bukan masalah atap itu lalu apa?

"Bukan?"

"Aku tak suka kau bersama Renji." Ichigo cemburu? Pada Renji? Aku tak bisa percaya ini. Diakan tahu kalau aku dan Renji hanya sekedar teman, tidak lebih. Mengapa mesti cemburu? Lelucon yang bagus!

"Kau cemburu?" aku berusaha menutupi tawaku. Sumpah! Aku ingin tertawa terbahak-bahak sekarang.

"Aku serius, Rukia. Aku tak suka kau dekat-dekat dengan Renji." Aku menatap Ichigo dalam-dalam. "Aku hanya teman bagi Renji, dan Renji hanya teman bagiku, Ichi. Jadi, jangan merasa cemburu seperti itu." Aku melihat dia menghembuskan nafasnya pelan. Aku tahu, dia mencoba mengendalikan emosi yang sedang bergejolak dalam dadanya. "Aku mencintaimu." Bisikku. Seketika itu juga aku merasakan tubuhku menjadi hangat dan berat karena Ichigo memelukku dengan erat. "Aku juga."

###

Dan hal yang tak pernah kuduga selama ini adalah ternyata Renji menyukaiku. Di atap, sore ini ia mengungkapkan perasaannya padaku.

"Aku menyukaimu, Rukia." Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Renji, teman baikku ternyata menyukaiku? Aku hampir dibuat pingsan olehnya. Tapi, maaf, Renji aku hanya mencintai Ichigo.

"Kau tak perlu membalas perasaaanku, Rukia. Aku tahu kalau hanya Ichigo yang ada di hatimu."

"Renji."

"Hahaha…. Apa-apaan ekspresimu itu, Rukia." Renji tertawa. Tapi, aku tahu kalau itu hanya tawa pura-pura yang ia tunjukkan padaku. Aku tahu, dia tak ingin membuatku merasa terbebani.

"Haha…" aku hanya mengikutinya untuk tertawa, meskipun hatiku sama sekali tak ikut tertawa mengikuti pikiranku.

###

"Moshi-moshi,"

"Rukia," suara senna melengking indah di teleponku. Malam ini ia kembali menelponku. Dia sangat ceria sekali―terkihat dari suaranya yang penuh nada keceriaan.

"Ada apa Senna? Kau terlihat bahagia sekarang." Tanyaku sambil tersenyum tulus padanya. Meskipun aku ragu kalau ia bisa melihanya karean kami berada di tempat yang berbeda.

"Ashido mengajakku kencan besok. Aku senang sekali." Dan aku yakin saat ia menceritakan hal ini padaku ia pasti memasang wajah cantik berbinar-binarnya itu.

"Benarkah?"

"Iya,. Tadi ia bilang padaku seusai pulang sekolah." Dan ia mulai berceloteh tentang Ashido dan kencan mereka. Dan tak ketinggalan yang aku dengar adalah ia begitu marah saat Ashido-kun terlihat dekat dengan seorang gadis cantik di sekolahnya. Itu adalah hal yang wajar bukan? Ashido-kun memang popular di sekolahku yang dulu. Jadi, wajar-wajar saja jika ia dekat―atau sengaja didekati para gadis di sekolah.

"Apa kau sudah punya pacar, Rukia?" Tanya Senna padaku. Harus aku jawab apa sekarang? Apa aku harus jujur? Tapi, bukankah jujur itu lebih baik?

"Ya."

"Siapa?" ia sangat antusias dalam hal ini. Tapi, setidaknya aku tak perlu khawatir kalau Senna merebut Ichigo dariku karena sekarang ia berada di Tokyo dan aku di Karakura. Terlebih sekarang ia mempunyai Ashido-kun disampingnya.

###

Normal PoV

"Rukia, apa kau sudah tidur?"

"…." Tak ada jawaban. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ichigo masuk ke kamar Rukia—yang dulu ia tempati. Matanya terpaku pada sebuah pemandangan yang ada diahadapannya. Rukia tertidur di meja belajarnya. Sebuah senyum terukir di wajah tampan Ichigo kala melihat wajah damai Rukia saat tertidur. Ia menatap tangan Rukia yang masih setia mengenggam bolpoin. Lalu, matanya bergerak liar ke arah lain.

Rukia menulis sesuatu

"Diary?" batin Ichigo. Dengan pelan, Ichigo mengambil buku yang ia yakini sebagai diary itu.

Ditengah musim yang silih berganti,

Kurasakan panjangnya hari

Ditengah hari-hari yang terus berubah

Kita berdua melukis impian

Menaruh asa kita pada angin di bulan maret

Ketika bunga sakura bersiap di musim semi

Secercah cahaya mulai bersinar

Sedikit demi sedikit, mulai menghangatkan pagi

Dan setelah menguap dengan lebar

Aku merasa sedikit canggung berada di sisimu

Berdiri diambang pintu dunia yang baru,

Kusadari aku tak sendiri

Ketika mataku menutup, kau

Selalu terbayang dibalik kelopak mataku

Inikah yang membuatku semakin kuat?

Mata ichigo terpaku pada kalimat 'inikah yang membuatku semakin kuat?'. Ichigo tahu, Rukia masih menyimpan rasa untuk Ashido, dan itu membuat dadanya terasa sesak. Tapi, ia juga tahu kalau Rukia juga mencintainya. Ya, Rukia mencintainya bukan Ashido.

Aku pun ingin seperti itu untukmu...

Bulir pasir yang terbawa angin

Berterbangan menotori pakaian

Namun bulan putih di langit siang

Sangat indah, membuatku terpana

Banyak hal yang tidak baik, tapi

Dibandingkan langit, mereka begitu kecil

Langit biru, saat ini

Awan putih mengambang dengan tenang

Rasa senang menunggu bunga yang mekar

Jika kita bisa bagi, merupakan sebuah berkah

Mulai saat ini,

Tersenyumlah

Disampingku... Ichigo

Ichigo tersenyum kecil. Rukia memang mencintainya. Dan ini dalah cara ia menyampaikan rasa cintanya pada Ichigo. Meskipun belum tentu Ichigo mengetahui tentang tulisan kecil yang Rukia buat untuknya. Tapi, toh nyatanya ia mengetahuinya. Dan lega begitu mengetahuinya.

"Aku akan selalu tersenyum di sampingmu, Rukia." bisik Ichigo.

Dengan hati-hati, pemuda berambut yang senada dengan warna jeruk itu mengambil bolpoin yang masih ada dalam genggaman Rukia. Ia letakkan tepat di atas diarynya. Ia lalu menggendong tubuh ringan kekasihnya itu dan meletakkannya di atas pulau kapuk yang ada dihadapannya.

"Oyasumi Rukia." Ichigo mengecup kening Rukia, berharap tidur sang violet lebih nyenyak dengan kecupan singkat yang ia berikan.

"Oyasumi, Ichigo." sebelum Ichigo pergi, samar-samar ia mendengar ucapan selamat istirahat yang ditujukan untuknya. Ia berbalik menatap gadisnya yang sekarang sedang tertidur pulas. "Oyasumi." pemuda nyentrik itu sudah hilang ditelan pintu (?)

End of Normal PoV

###

Aku menggosok-gosok telapak tanganku berharap bisa mengurangi rasa dingin yang menyelimutiku ini. Sudah seminggu sejak musim dingin telah dimulai dan itu cukup membuatku merasa akan mati kedinginan kalau berada diluar terus seperti ini. Kemana sih perginya Ichigo? Dari tadi belum juga muncul. Apa dia tidak tahu kalau kekasihnya ini hampir mati kedinginan, huh? Ichigo, kau dimana?

"Rukia." dengan kesal aku membalikkan badanku. Apa aku sedang bermimpi? Ini...

.

.

.

+TBC+

.

.

.

Gomen, Updatenya lama minna...

Entah mengapa Ota agak susah waktu bikinnya*alesan*

Untuk tulisan yang Rukia tulis itu adalah translate dari lagu 'sangatsu kokonoka' milik Remioromen. Maaf, jika ada yang salah, Ota gak bisa bahasa Jepang si makanya, asal nyari di mbah google aja. Dan itu juga Ota tambahin nama Ichigo demi menumbuhkan feeling (?) Rukia terhadap Ichigo. Entah itu terasa ato tidak, Cuma readers aja yang bisa ngerasain, Ota gak bisa. *dilempar panci*

Yosh! Segini aja bawelan dari Ota tar reders pada ngamuk dan mecahin kaca jendela spion (?) masing-masing. Dan terima kasih untuk yang udah baik hati mau membaca dan juga ngasih review. Arigatou gozaimasu.

Ah, hampir saja Ota lupa. Maaf Ota gak bisa beles ripyunya satu-satu. Untuk pertanyaan arti bahasa jepang itu ini dia...

Daisuki dayo = i love you

Kakkoi = keren

Terima kasih dan...

Sampai jumpa di chap depan!

Review Please~!