Bleach © Tite Kubo

Arigatou © Mitsuki Ota

Happy reading!

Aku menoleh, kudapati Grim tengah memasang senyumannya dan menatap bahagia padaku. Dia menubrukku. Ouch, berat sekali tubuhnya.

"Rukia, aku senang bisa bertemu denganmu." Katanya lalu melepasakan pelukannya padaku. Aku menatapnya bingung. Bagaimana Grim bisa ada di Karakura?

"Bagaimana kau bisa di Karakura, Rukia?" eh? Aku belum sempat bertanya dia malah sudah bertanya duluan. Tapi, tak apalah. Aku senang bertemu dengannya. Mantanku.

"Aku sekolah di sini." Aku nyengir. Dia menataplu tidak percaya.

"Apa? Bukankah kau dulu di Tokyo?" aku mengangguk. Aku mengisyaratkannya untuk duduk di bangku taman yang sudah tebal akan salju. Dia menurut. Dia mengekoriku di belakang. Kami membersihkan bersama tumpukan salju yang menggunung. Kami duduk bersama.

"Aku pindah ke Karakura, Grim."

"Senna… apa seluruh keluargamu juga pindah?" aku meringis. Senna lagi? Kenapa harus Senna, adikku? Apa semua orang hanya akan ingat padanya, bukan aku?

Aku menarik sudut bibirku agar membentuk seulas senyuman. Grim tampak penasaran dengan jawaban yang akan aku keluarkan dari mulutku. Aku tertawa kecil. Grim memang belum berubah meskipun bertahun-tahun aku tak bertemu dengannya. Dia masih sama, seperti anak kecil. Tatapan matanya seperti mata seekor anjing yang ingin disayang olah majikannya.

"Tidak. Aku sendiri kok." Dia nampak kecewa dengan jawaban yang kuberikan padanya. Tapi, cepat-cepat ia ubah dengan cengirannya. "Aku merindukan Senna." Aku tertawa kikuk. Benar kan, adiku memang gadis yang beruntung.

"Aku juga."

"Rukia?" kami menoleh. Ada Ichigo.

"Ichigo?" aku dan Grim berdiri. Ichigo menyerahkan kaleng minuman padaku, tapi tidak pada Grim.

"Dia siapa, Rukia?"

"Kekasihku." Jawabku malu-malu. Muut si kucing grim membentuk bulatan O.

"Ichigo, ini Grimmjow, temanku sewaktu di Tokyo." Meraka saling berjabat tangan. Ichigo nampak senang dengan kehdiran Grim, meskipun tadi aku sempat melihat wajahnya yang err.. cemburu. Ada kelegaan yang mengisi hatiku ketika mereka bercakap=cakap. Ichigo dan Grim, mereka adalah orang yang selalu bia membuat aku bahagia.

"Ne, Rukia, apa Natal nanti kau akan pulang ke Tokyo?"

Tokyo

Senna

Ayah dan Ibu

Ashido-kun

Pilihan terakhir membuatku enggan kembali ke Tokyo. Aku tak yakin aku sanggup untuk bertemu dengan Ashido-kun, meskipun aku sudah tak mencintainya, tapi tetap saja ada setitik rasa yang masih terselubung di hatiku. Dengan kata lain aku masih mengharapkannya.

"Rukia, kau baik-baik saja?" Grim dan Ichigo nampak khawatir dengan perubahan sikapku. Aku nyengir. "Aku baik-baik saja."

"Jadi, kau akan ke Tokyo? Kalau ke Tokyo kita bisa berangkat bersama ke sana." Tawar Grim. Ada ketulusan di wajahnya. Aku jadi bingung sendiri pulang atau tidak. Lalu, aku putuskan untuk…

"Aku akan ke Tokyo." Ichigo nampak murung, namun ia bisa langsung merubah air mukanya begitu aku menatapnya. Ia berkata seolah-olah dirinya baik-baik saja tanpa ada aku di malam Natal nanti. Jujur, aku juga ingin menghabiskan malam Natal bersama Ichigo dan seluruh keluarganya. Tapi, aku tak bisa. Aku harus pulang ke Tokyo. Keluargaku ada di sana, sedang menungguku. Mereka pasti akan sedih jika sampai aku tidak pulang. Sudah lama aku tak pulang ke sana. Aku rindu pada ayah, ibu dan juga Senna. Meskipun beberapa bulan yang lalu ibu dan ayah sempat mengunjungiku, aku tetap merasa kangen. Ichi, maafkan aku.

"Keh? Benarkah? Kapan?"

"Sabtu pagi nanti. Kau tahu kan kalau perjalanan Karakura menuju Tokyo tidaklah dekat? Dan aku juga ingin mengahabiskan malam natal bersama Senna."

"Baiklah, kita berangkat bersama?" aku mengangguk. Kami bertukar nomor telepon, supaya nanti bisa berangkat bersama ke Tokyo. Pergi bersama Grim bukanlah hal yang buruk. Grim melesat pergi, katanya ia tak mau mengganggu acara kencan kami. Dasar kucing!

Ichigo menggandeng erat tanganku saat kami pulang dari taman, acara kencan kami maksudnya. Aku pun juga ikut menyandarkan kepalaku di lengan kekarnya. Ichigo tidak nampak terganggu akan hal tersebut.

"Ichi?"

"Hm?"

"Aku ingin merayakan Natal bersamamu." Kataku jujur. Aku ingin menghabiskan malam Natal nanti bersama Ichigo dan juga keluargaku tentunya. Tapi, aku juga tak bisa merayakannya bersama mereka sekaligus. Mereka ada pada jarak yang jauh, tak mungkin bersama.

"Aku juga." Sahutnya.

"Ayo, masuk!" aku mengekornya ke dalam rumah. Bersama itu juga kami mengucapkan salam 'tadaima'.

Aku menatap rumah Ichigo yang lumayan ramai dengan aneka hiasan natal. Ada gambar Santa Claus di tangga. Untuk itu, aku yakin pasti Yuzu yang memasangnya. Karin? Mana mungkin adik Ichigo yang tomboy itu mau memasang gambar Santa Claus di tangga. Pastinya ia akan berpikir kalau itu hanya tipuan yang digunakan oleh orang tua agar anak mereka tidak nakal, kalau mereka mau mendapatkan kado.

Aku meniti satu per satu anak tangga. Aku jadi teringat masa lalu saat aku berada di Tokyo. Aku dan Senna saling berlarian di anak tangga untuk menghias tangga rumah kami agar nampak cantik. Senna sempat terjatuh dan aku dengan sigap langsung menolongnya. Ia menangis. Ibu panik karena tiba-tiba Senna jatuh, dan saat itu lah aku mengetahui kalau Senna ternyata mempunyai penyakit syndrome takut jatuh. Kalian pasti bingung kan? Aku juga. Penyakit aneh macam apa itu.

"Rukia-chan?" paman Isshin memanggilku. Aku langsung turun ke bawah untuk menemuinya.

"Ada apa, Ayah?"

"Ini." Paman Isshin menyerahkan tiket kereta api untukku. Aku tersenyum dan memelukknya. "Terima kasih, ayah."

"Sama-sama." Paman issihin adalah paman terbaik yang pernah aku temui. Ia sangat baik. Ia mau merawatku seperti ia merawat anaknya sendiri. Aku merasa tidak enak meninggalkannya tanpa merayakan Natal bersama. Aku sedih, namun aku tambah sedih lagi jika membiarkan orang tuaku sedih di Tokyo.

###

Aku mengemasi barang-barangku ketika aku mendengar suara ketukan pelan di depan pintu kamarku. Aku menghentikan aktivitasku sejenak. Aku penasaran dengan tamu yang datang mengetuk pintu kamarku.

"Yuzu?"

"Ini, untuk Rukia-nee." Gadis manis ini menyerahkan segelas susu padaku. Aku senang karena ia begitu perhatian padaku. Aku menerimanya dengan perasaan senang.

"Terima kasih." Yuzu langsung pamit pergi. Katanya dia sudah mengantuk. Aku meletakkan susu panas buatan Yuzu di meja belajarku. Aku mengamati baik-baik foto yang terpajang di sana. Ada aku dan juga Ichigo. Aku akan pergi sebentar ya, jeruk. Andai ada di sini, aku pasti akan mengacak-acak rambut orange miliknya.

Aku kembali akan mengemasi barang-barangku saat aku mendengar suara ketukan di pintu kamarku tentunya. Aku menghela napas dan beranjak untuk membuka pintu yang beberapa detik yang lalu sempat aku buka.

"Ichigo?" dia tersenyum kaku ke arahku. Aku jadi salah tingkah sendiri.

"Ada apa, Ichi?" dia menggaruk kepala bagian belakangnya. Dia sedang bingung?

" Hati-hati nanti sewaktu kau di Tokyo." Aku menatapnya tak percaya. Hanya ini yang ia ingin katakan padaku malam-malam begini? Bukankah masih ada besok?

"Hanya itu?" tanyaku hati-hati. Biasanya Ichigo kalau bersikap aneh seperti ini pasti ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dan itu penting.

"Rukia?"

"Hm?"

"Oyasumi." Dia mencium bibirku. Dan malam ini kami pun berciuman lama.

###

"Rukia-chan, jangan lupa salamku pada Yourichi dan Byakuya." Aku mengangguk. Kami pun berpelukan. Aku pergi dulu, paman.

Aku memandang Ichigo. Dia tampak tak terlalu sedih dengan kepergianku. Yah, aku memang tak lama juga sih pulang ke Tokyo-nya. Aku memeluknya. "Selamat Natal, Ichi." Bisikku.

"Selamat Natal, Rukia." Ingin sekali aku mendekapnya lebih lama lagi, namun sayang, keretaku akan berangkat sebentar lagi. Aku melepaskan pelukannya yang hangat. Aku akan merindukanmu, Ichi.

"Ayah, Ichi, aku pergi dulu." Mereka mengangguk. Aku dan Grim langsung menaiki kereta yang akan membawa kami ke Tokyo. Kami saling melambaikan tangan. Ayah nampak bahagia, begitu juga Ichigo.

"Bagaimana kau bisa ada di Karakura, Grim?" tanyaku saat kami sudah ada di dalam kereta.

"Ayahku pindah, jadi ya aku juga harus pindah. Kalau kau sendiri bagaimana?"

"Aku memang ingin lepas dari Tokyo. Aku ingin hidup mandiri, meskipun sekarang juga tidak benar-benar mandiri." Grim tertawa. Ya, aku tahu maksudnya mengapa ia bertanya seperti ini padaku. Ah ya, aku belum bercerita pada kalian. Orang tua Grim sudah bercerai sewaktu kami kelas satu SMP. Grim dulu ikut ibunya, tapi aku juga tak tahu mengapa sekarang ia malah ikut dengan ayahnya. Mungkin dia merindukan ayahnya.

"Aku jadi merindukan keluargamu, Rukia." Aku mengangguk. Memang tidak mudah mempunyai orang tua yang tak lengkap. Aku juga merasakannya, bahkan lebih. Aku tak tahu orang tuaku siapa dan di mana ia sekarang.

"Kau bisa menghabiskan malam Natal nanti di rumahku kalau kau mau." Grim menggeleng. Ya, aku paham isi kepalanya.

"Aku sangat merindukan ibuku, Rukia. Aku ingin menghabiskan waktu malam Natal bersamanya." Grim, dibalik wajahnya yang bisa dibilang sangar, dia juga mother complex, bisa aku menyebutnya begitu? Dia sangat menyayangi ibunya lebih dari apapun.

"Sudahlah, Grim, nanti di Tokyo kau juga bisa menghabiskan waktu dengan ibumu."

"Terima kasih, Rukia." Aku mengangguk.

###

Kami turun dari kereta. Aku melongok mencari keluargaku, begitu juga Grim. Terlalu banyak orang yang berlalu lalang, aku jadi kesulitan untuk mencari keluargaku.

"Rukia!" aku menoleh dan melihatnya. Kami-sama, mengapa dia ada di sini?

###

"Bagaimana perjalananmu, Rukia?" Tanya ayah padaku. Aku senang dia mau bertanya perjalananku, biasanya dia akan diam. Hanya ibu dan Senna yang bertanya seperti itu.

"Menyenangkan. Aku ke sini bersama Grim."

"Ya, aku tahu." Sahut Senna. Oh, adik kecilku.

"Bagaimana kabarmu, Rukia?" Tanya Ashido-kun. Ashido-kun ikut menjemputku di stasiun tadi. Aku tidak menyangka kalau ia akan ikut bersama keluarga kami. Mungkin Senna yang menyuruhnya untuk ikut.

"Aku baik-baik saja, Ashido-kun."

"Ashido-kun sengaja ingin ikut menjemputmu loh, Rukia." Kata Senna. Eh? Benarkah? Aku menatap Ashido-kun yang duduk di samping Senna. Dia malah nyengir gak jelas.

###

Aku memperhatikan butiran-butiran salju yang turun dengan indahnya di depanku. Aku tak menyangka, salju di Tokyo lebih banyak turun dibandingkan Karakura. Aku masih memakai mantelku—hadiah dari Ichigo. Senna dan lainnya masih sibuk menghias pohon Natal. Aku sengaja menyendiri memang, bukan berarti aku malas untuk menghias pohon Natal. Aku hanya merasa aku ingin menghias pohon Natal bersama Ichigo. Pasti menyenangkan bila aku bisa menghias pohon Natal bersama keluarga paman Isshin. Aku menatap layar ponselku. Tak ada pesan untukku. Mengapa Ichigo tidak mengirimiku pesan ya? Ah, mungkin dia sedang sibuk menghias pohon Natal.

"Kau ada di sini? Mengapa tidak ikut masuk?" Tanya Ashido-kun kepadaku. Dia menyerahkan segelas kopi padaku. Ia ikut duduk bersamaku di teras samping rumahku. Ashido-kun merayakan malam Natal di sini, mungkin bujukan dari Senna.

"Aku ingin di sini." Jawabku sambil meminum perlahan-lahan kopi yang masih panas ini. Aku jadi teringat Ichigo.

"Kau tidak merindukanku, Rukia?" kami saling bertatapan, membuat jantungku ingin melompat. Mengapa Ashido-kun bertanya seolah-olah ia mengaharapkan aku merindukannya? Aku tak mengerti jalan pikirannya.

"…" aku diam. Aku tak tahu harus berkata apa kepadanya. Aku memang merindukannya, tapi aku juga tak bisa mengatakannya. Aku takut kalau aku nanti akan merindukannya terus.

"Kenapa diam?" aku menggeleng. "Tidak." kilahku.

"Apa kau tahu, Rukia?" aku tidak tahu, kau saja belum memberitahuku.

"Aku menyesal sudah melepasmu," dia menghembuskan napasnya. "Aku sadar setelah kau pergi dari Tokyo. Aku mencintaimu, bukan Senna." Berarti selama ini Ashido-kun mempunyai perasaan yang sama padaku? Mataku memanas. Aku ingin menangis. Mengapa takdir mempermainkan kami? Kami saling merindu, tapi kami juga tak pernah berani untuk mengatakannya. Tiba-tiba saja aku merasa menyesal telah pergi dari Tokyo.

Aku menangis. "Apa kau juga merasakan hal yang sama, Rukia?"

"…" hanya ada suara tangisku. Aku tak tahu harus berkata dan bersikap bagaimana dengan Ashido-kun. Aku sudah punya Ichigo di Karakura yang sekarang sedang menungguku untuk pulang. Aku punya orang yang menyayangi dan mencintaiku apa adanya. Kalau aku berkata aku juga merindukannya aku sama saja mengkhianati Ichigo.

"Aku tahu, aku yang salah sudah meninggalkanmu dan berpaling." Dia menggenggam erat tanganku. Seseuatu dalam hatiku berteriak aku harus melepaskan genggaman tangan Ashido-kun, namun hatiku juga berteriak untuk tetap membiarkannya.

"Ashido-kun…" dia bergerak untuk memelukku. Aku tak kuasa untuk tidak membalasnya. Kami berpelukan malam itu, meskipun terasa salah bagi kami karena telah mengkhianati hati pasangan kami masing-masing.

Dalam pelukan Ashido-kun aku teringat Ichigo. Aku teringat dengan senyumannya yang hangat. Aku meridukan jemarinya yang hangat saat menggenggam erat jemariku. Aku jadi teringat saat untuk pertama kalinya kami berciuman. Ya, sekarang aku tahu jawabannya. Aku mencintai Ichigo.

Aku tak menolak saat bibir Ashido-kun menyentuh bibirku. Aku tahu ini salah, tapi aku juga tak bisa berkata kalau ini sepenuhnya salah. Ada dalam sebagian hatiku yang berkata aku harus menerimanya.

"Auk mencintaimu, Rukia." Aku menggangguk. "Aku juga mencintaimu, Ashido-kun, tapi ada seseorang yang sedang menunguku untuk pulang."

"Aku mengerti. Kau mencinatinya kan?" aku memeberikan senyumanku pada Ashido-kun. "Aku sangat mencintainya." Hatiku sangat lega. Aku mencintai Ichigo, tapi Ashido-kun juga harus tahu kalau aku juga mencintainya. Tapi, cintaku untuk Ichigo lebih besar dari pada dirinya. Orang yang ada dihadapanku.

"Berbahagialah dengan Senna, Ashido-kun."

"Ya. Terima kasih."

Terima kasih juga, Ashido-kun. Kami berpelukan lagi. Ini untuk terakhir kalinya. Terima kasih kerena tekah mencintaiku dengan tulus, Ichigo. Akhirnya, aku bisa terlepas dari cinta lamaku. Aku mencintaimu.

.

.

.

FIN

.

.

.

Hai-hai, Minna!

Maaf, Ota baru bisa mengupdate-nya. Karena emang Ota gak tau harus gimana lagi ma fic Arigatou ini. Jujur, fic ini mengalami perubahan ide. Sebenarnya juga Senna akan merebut Ichigo dari tangan Rukia. Tapi, karena Ota jadi bingung sendiri akhirnya rencana awalnya Ota ganti dengan ini deh.

Apa ada yang kaget karena tiba-tiba udah selesai? Haha… Ota juga gak menyangka bakalan udah di chap 4. Pengennya mpe chap 5 ato 6 gitu, tapi yah karena memang sikon lagi tak mendukung Ota selesein aja. Takutnya malah Ota hapus nanti fic-nya. Pilih mana?

Terima kasih buat semuanya. Maaf, belum bisa membalas review yang kalian beri pada Ota, tapi jika ada yang berkenan mau mereview di chap akhir ini bakal Ota balas kok. Lewat PM tentunya.

Terima kasih, dan

REVIEW PLEASE!