.
.
Daily Activity
Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Romance, Humor
Special for SasuSaku Lovers
Side Story from Rain
All Sasuke's POV
.
.
Sick
.
.
Setumpukan dokumen, secangkir kopi, dan laptop yang menyala… itulah yang menemaniku malam hari ini, jangan ditanya sedang berada dimana sekarang diriku yang malang ini, karena saat ini aku berada di Negara yang jauh dari Jepang. Saat ini aku berada di Negara Australia, sangat jauh bukan? Perbedaan waktu dengan jepang adalah empat jam.
Sekarang sudah jam 10 malam, itu berarti di Jepang kini pukul 2 pagi.
"Aarrghh!" gerutuku sambil mengacak-acak rambut.
Aku rindu sekali pada Sakura, sedang apa dia? Sudah pasti dia sedang tidur saat ini, sudah dua minggu aku berada di Negara yang membosankan ini. Aku membuka folder di laptopku, dimana isinya adalah video saat kami bersama… bukan video aneh-aneh tentunya.
Aku membuka salah satu video saat Sakura dan ibuku membuat kue, aku tersenyum melihat kedua wanita yang kucintai ini, kenapa mereka senang sekali berada di dapur yah? Apa enaknya sih memasak itu? Aku sama sekali tidak bisa memasak, merebus air saja kadang bisa kelewatan.
Setelah selesai aku melihat video itu, aku mematikan laptop dan merebahkan tubuhku yang sangat lelah, kasur yang kutiduri ini sangat besar, jadi terasa hampa kalau tidur sendiri.
"Hhh, andai Sakura di sini."
Trrrrttt Trrrrttt
Kurasakan hp yang kutaruh di saku celana bergetar, ketika aku melihat siapa yang menelepon, aku langsung mengangkatnya.
"Kenapa belum tidur?" tanyaku sedikit tegas.
"Sasukee~ aku tidak bisa tiduur~"
"Coba pejamkan matamu."
"Sudah~"
"Matikan lampu?"
"Sudah~"
Aku terdiam… ada yang aneh dari suaranya, suara Sakura yang biasanya ceria walaupun dini hari, sekarang terdengar serak dan sedikit mindeng?
"Kamu sakit?" tembakku langsung.
"Ng… Kepalaku pusiiing~ tenggorokanku sakiit~ aku menggigil~"
"Apa!" reflek, aku bangkit dari rebahanku yang nyaman tadi, "Cepat beri tahu orang tuamu!"
"Mereka pergi tadi sore… katanya akan pulang tiga hari lagi~"
"Jadi dirumahmu tidak ada orang? Kamu sendirian?" ucapku sambil mondar-mandir, mencoba mencari jalan keluar agar Sakura merasa lebih baik.
"Ng… aku sendirian… badanku meriaaang~"
Astaga, mendengarnya mengeluh manja seperti itu membuatku makin panik, apa yang harus aku lakukan? Ah persetan dengan dokumen dan sebagainya, "Sakura, sebisa mungkin… kamu usahakan untuk mengambil obat pereda panas, tubuhmu panas?"
"Ng…"
"Ok, aku akan mencari jalan keluar, nanti aku telepon lagi, okay?"
"Ya."
Saat telepon terputus, hanya ada satu orang yang terlintas di pikiranku, orang yang saat ini berada di Jepang, dan orang yang sangat tidak ingin ku hubungi.
"Halooo Sasuke sayaaang."
"Berhenti memanggilku begitu, kak!"
"Huh, ketus sekali kau, ada apa? Tumben meneleponku? Pasti ada maunya."
"Kak, tolong pergi kerumah Sakura sekarang."
"Jam segini? Kenapa? Ah! Aku tahu… akhirnya kau merelakan Sakura padaku? Atau jangan-jangan kau menemukan gadis lain? Ini sudah malam loh, kau yang biasanya possessif memintaku mendatangi rumah Sakura? Aneh sekali, jangan-jangan ka-"
"Tolong berhenti berbicara dengan tidak memakai tanda baca seperti itu kak Itachi! Intinya Sakura sedang sakit… tolong rawat sebentar, nanti akan kubalas kebaikanmu." Ucapku sambil menyiapkan beberapa berkas dan kumasukan ke dalam tas.
"Sebentar? Aku bisa merawatnya selama kau disitu kok."
"Tidak perlu, aku berangkat ke Jepang sekarang."
"Eh?"
Klik!
Aku langsung menghubungi sekertarisku untuk menyiapkan pesawat jet pribadi yang seharusnya di pakai untuk urusan yang sangat urgent, yaah… ini juga bisa dibilang urgent kan?
.
.
Itachi's POV
Tidak sopan!
Kenapa aku mempunyai adik yang semena-mena seperti ini yah? Apa yang salah denganku? Apa didikanku sebagai kakak tidak becus? Atau memang dari sana-nya Sasuke begitu?
Tapi yasudahlah, mau bagaimana-pun kelakuannya, dia tetap adikku tersayang.
Asal kalian tahu, saat ini aku yang sedang menyetir menuju rumah tercinta, tapi karena telepon tadi, aku harus merubah jalurku menuju rumah calon adik iparku yang manis itu.
Saat aku sudah berada di depan rumahnya, semua lampu terlihat gelap, rumahnya tidak terlalu besar dan ini bukan pertama kalinya aku berkunjung. Kami sekeluarga beberapa kali sering diundang makan malam oleh keluarga Sakura, karena aku tahu dia sedang sakit, maka aku tidak mau menekan bel, itu bisa menyebabkan serangan jantung… tidak aku hanya bercanda… aku hanya tidak mau membuatnya bangun.
Kubuka kenop pintunya, tapi terkunci… gadis pintar, sebab kalau tidak dikunci bisa-bisa maling masuk kesini, karena aku tahu dimana letak kunci cadangannya, aku membuka pot kecil yang berada diujung dekat pintu, kuambil kunci cadangan itu.
Aku masukan kunci itu dan kubuka pintunya, saat aku memasuki rumah Sakura, keadaan rumah itu sangat rapi, gelap namun terasa segar. Langsung saja aku menuju kamarnya, saat kubuka, lampunya gelap.
Sebenarnya aku ingin memanggil namanya, tapi aku bingung, aahh sepertinya aku harus memeriksa suhu badannya, dan kupeganglah keningnya.
"Panas sekali," gumamku kecil saat merasakan panas tubuh Sakura.
"Engh~" aku melepaskan tanganku dengan segera ketika Sakura mengeluarkan suara.
"Sasu… ke~"
Dia mengigau…
Mengigau nama adikku pula…
Dasar, apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin kan aku membuka pakaiannya dan menggantinya dengan yang baru, bisa-bisa dihajar Sasuke, ah! Lebih abik aku mengompresnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk ke dapur dan menyiapkan persiapan tempurku malam ini, yaitu : baskom ber-isikan air, handuk kecil, secangkir kopi dan beberapa cemilan. Oke, kopi dan cemilan adalah persiapan untuk diriku sendiri yang akan menjaga calon adik iparku ini.
Aku kembali pada kamar Sakura.
Kurendam handuk kecilnya sebentar lalu kutempelkan dikening Sakura yang bisa dibilang cukup lebar ini, setelah kuperas tentunya. Mudah-mudahan panasnya cepat sembuh.
Sambil menunggu proses bekerjanya handuk kecil yang sedang asyik menempel di kening Sakura, aku membuka laptop milik-nya dan mematikan suara laptop itu. Saat laptop menyala, aku lihat terpasang wallpaper laptop itu adalah fotonya bersama Sasuke.
Bisa dibilang aku sedikit kagum pada hubungan mereka, aku salut pada Sasuke yang tidak pernah main cewek kalau berada jauh dari Sakura, juga salut pada Sakura yang setia menunggu Sasuke.
Kalau aku jadi Sasuke atau Sakura, aku pasti akan main cewek sana-sini… oke, aku hanya bercanda.
.
.
Sasuke's POV
Entah kenapa saat ini aku sangat bersyukur ayahku memberli pesawat jet ini, kecepatannya luar biasa, benar-benar untuk urusan urgent.
"Kita sudah sampai, Tuan Sasuke."
"Hn," aku jawab singkat dan kutinggalkan beberapa barangku di pesawat, aku hanya mengambil tas-ku yang isinya adalah barang-barang pribadiku, amu mendarat diatas gedung, yaaa kalian tau di salah satu geudng perusahaan ayahku mempunyai helipad.
Aku bergegas mengambil mobilku yang memang berada di parkiran gedung ini, saat aku melihat ke jam yang menempel di salah satu dinding, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, sudah 4 jam yang lalu sejak Sakura mengeluh sakit padaku. Dan jujur saat ini aku sangat panik.
Kulihat mobilku yang entah kenapa masih bersih dan mengkilap, padahal kutinggal selama dua minggu ke australi, ah tapi aku tidak perduli, aku langsung menekan tombol kunci dan membuka pintu itu.
Kunyalakan mesin mobil dan segera meluncur kerumah Sakura, dalam hati aku berdoa agar Sakura tidak apa-apa, berlebihan memang, tapi bisa saja kan terjadi sesuatu, Itachi itu sedikit ceroboh, bagaimana kalau dia menumpahkan air panas pada Sakura? Atau tiba-tiba jatuh dan menimpa Sakura?
Sesampainya di depan rumah Sakura, aku melihat mobil Itachi masih berada di sana, aku langsung turun dan memasuki rumah itu, perasaanku tidak enak, kenapa pintunya tidak dikunci? Aku berlari menuju kamar Sakura. Pelan-pelan kubuka pintunya, dan…
"…" aku tidak bisa berkata apa-apa, karena saat ini aku sedang melihat Sakura sedang berdiri… menyelimuti kak Itachi yang tertidur menyender di meja dengan laptop menyala.
"KAK ITACHI!" bentakku keras.
"Sstt, Sasuke," Sakura menghampiriku, menyuruh diam? Kenapa? Supaya kka Itachi tidak bangun? Dia ini bodoh atau apa sih?
"Kamu ini! Kamu sedang sakit kenapa sekarang malah berdiri menyelimuti Kak Itachi pula! Seharusnya kamu tidur, istirahat di atas kasur, sekarang aku perintahkan kamu untuk kembali tidur dan tidak ada kata penolakan!" perintahku tanpa tanda berhenti dan menggendong tubuh Sakura, meletakannya kembali di kasurnya.
"Engh~ loh? Sasuke? Sudah datang? Cepat sekali."
Aku menoleh pada suara kakakku yang baru saja bangun dari tidur nyenyaknya.
"Aku meminta tolong padamu kesini untuk menjaga Sakura, bukan untuk tidur disini!"
"Sasuke, kak Itachi mengompresku kok," aku mendengar pembelaan dari Sakura yang kini melihatku sambil memegang handuk kecil.
"Tuh, dengar apa kata pacarmu."
"Yasudahlah, terima kasih untuk kebaikan hatimu kak, sekarang kakak istirahat saja dirumah," ucapku sedikit ketus.
"Sasuke… kenapa kau ketus sekali padaku… apa yang telah kulakukan sehingga kau begitu dingin padaku?"
Eerrrr, inilah… inilah yang membuatku malas, dia selalu berpura-pura sedih karena keketusanku, aku memang dari dulu seperti ini, maaf-maaf saja yah.
"Kau tidak melakukan apa-apa, maaf kalau aku sedikit ketus, terima kasih dauh menjaga Sakura, sebaiknya kakak istirahat di rumah."
Saat ku ucapkan dengan nada yang sedikit halus, aku melihat ekspresinya… ekspresi menyebalkannya.
"Aku terharu karena ternyata kau perhatian padaku, Sasu-kyuun~"
"JANGAN PANGGIL AKU BEGITU!"
"Hahahaa, kau selalu saja malu-malu, baiklah aku pulang… Sakura lekas sembuh yah, nanti aku menjengukmu lagi," ujar Itachi mengambil jaketnya dan melambaikan tangannya.
"Iyaa, terima kasih kak Itachi."
"Oh iya, jangan berbuat yang aneh-aneh dulu yah kalian, Sakura tubuhnya masih belum kuat."
"KAK ITACHIIII!"
Saat aku akan menghajarnya, dia sudah pergi dan menutup pintu.
"Dasar! Sudah tua, kelakuan masih kekanak-kanakan," dengusku kesal.
"Tapi disitulah letak lucunya kak Itachi," utar Sakura.
Aku mendekati Sakura dan memegang keningnya, "Bagaimana keadaanmu? Wah, masih panas."
"Ya, kepalaku juga masih sedikit pusing, masih menggigil dan tenggorokanku sedikit sakit kalau menelan makanan."
"Kau tidur saja, kubuatkan sarapan yah."
"Tapi kamu kan baru datang, perjalananmu pasti lelah."
"Tidak apa-apa, aku buatkan bubur yah, suapaya gampang ditelan."
Saat aku akan beranjak, Sakura menahan lenganku.
"Sasuke…"
Ah, dia pasti tidak mau kutinggal, manisnya Sakuraku ini…
"Memangnya kamu bisa masak?"
"…"
Tidak jadi manis!
Aku menyeringai padanya dan, "Jangan meremehkanku."
Aku melepaskan genggaman Sakura dan berjalan ke dapur, tapi sesampainya di sana, aku bingung…
"Aku… harus bagaimana?" ucapku sendiri.
Apa yang harus kulakukan? Bahan-bahan apa saja yang harus kumasukan? Saat aku melihat kompor, pisau dan panci…
"Yang benar saja! Masa aku harus masak!" gerutuku malu.
Tapi aku tepis rasa maluku itu, akhirnya dengan bumbu yang ada, aku buatkan bubur untuk Sakura. Mudah-mudahan rasanya enak, dan yang lebih penting lagi… mudah-mudaha aku tidak meracuninya.
.
.
Aku berdiri dengan perasan yang sangat tegang, lebih tegang saat menunggu keputusan rapat dari dewan petinggi, lebih tegang saat aku mengatakan pada ayahku kalau aku membuat gagal salah satu saham perusahaannya. Karena saat ini Sakura sedang mencicipi bubur buatanku! Buatanku sendiri! Bukan koki, bukan beli, tapi buatanku sendiri.
"Waah, enaaak."
Mataku membulan ketika mendengar pendapatnya.
"Serius? Kamu tidak bohong? Tidak ada gejala sakit perut?"
"Tidak Sasuke, ini enak, aku tidak bohong, gampang dicerna."
Aku duduk dikasurnya sehingga kami sekarang berhadapan, "Bagaimana pusingmu?" tanyaku sambil menempelkan keningku padanya.
"Masih pusing, aku sedikit lemas," jawab Sakura, aku bisa lihat wajahnya pucat.
"Sebaiknya kamu tidur lagi, ku kompres sekali lagi yah."
"Ng," Sakura meletakkan bubur yang sudah habis itu, aku sangat senang dia menghabiskannya, apa aku berbakat jadi koki?
Satu jam aku menunggu Sakura tidur, dia terus meneru menggenggam tanganku, aku pun menggenggam kembali tangannya, aku bisa mendengar getaran hp di tasku yang sering kli terjadi, itu pasti dari orang-orang kantor… tapi biarlah, ayah juga pasti mengerti, aku adalah remaja 17 tahun yang sangat mencintai pacarnya.
"Ngh~"
Saat Sakura mendesah gelisah, aku melihat bajunya basah karena keringat, syukurlah keringatnya keluar, itu pertanda akan segera sembuh. Aku ingin mengambil handuk di lemarinya, namun tangan Sakura tetap menggenggamku, akhirnya aku ambil handuk baru yang berada di dalam tasku, kubasahkan dengan air yang ada di baskom, lalu ku-lap leher Sakura, kubuka piyama-nya dan ternyata gerakanku membuat Sakura terbangun.
"Sasuke~ apa yang kau lakukan?"
"Tenang, aku bukan menyerangmu, aku mengelap keringatmu."
"J-Jangan! Aku belum mandi," ronta Sakura.
"Memangnya siapa yang mengizinkanmu mandi? Sudah diam saja, tunggu sebentar," aku beranjak dan menghampiri lemarinya, kubuka lemari Sakura dan kupilih salahs atu baju rumahnya, dan juga pakaian dalamnya.
"K-Kamu ngga bermaksud akan menggantikan pakaian dalamku juga kan?"
"Kalau iya kenapa?"
"S-Sasuke… ja-"
"Kita sudah melakukannya berapa kali sih, kenapa kamu masih saja malu?" potongku dengan wajah seolah malas mendengar penolakannya.
"I-Itu beda…"
"Sini, jangan protes!"
Aku membuka kancing piyamanya satu persatu dan mengelap tubuhnya pelan-pelan, bisa kulihat wajah Sakura memerah, bukan karena demam, karena sekrang demamnya sudah turun, tapi karena malu. Aku senang kalau reaksi Sakura begitu terhadap tindakanku.
"Ng, Sasuke… apa tidak apa-apa kamu pulang kesini? Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Aku sudah menyerahkannya pada sekertarisku, dia yang akan mengurus semua dokumennya."
"Begitu…"
Kulihat raut wajah Sakura yang masih murung.
"Kamu tidak suka aku pulang?" tanyaku sedikit kecewa.
"Bukan! Bukan begitu… aku sangat senang, sunggung, tapi aku jadi tidak enak, harusnya malam itu aku tidak meneleponmu~"
"Kalau kamu tidak meneleponku, justru aku akan marah padamu, sudahlah jangan di bahas, buka ini," jawabku sambil menyerahkan sebuah kotak kecil, saat Sakura membukanya, sudah bisa kutebak reaksinya pasti sangat kaget.
"Sementara cincin pertunangan dulu, kalau aku sudah berumur 18, baru akan ku ganti dengan cincin pernikahan," ucapku dengan menahan rasa malu dan sedikit takut, aku takut Sakura akan menolak cincin berlian ini.
Tapi ketakutanku sama sekali salah, karena saat ini Sakura tengah memelukku, dan bisa kurasakan dia menangis.
"Aku mencintaimu," ucapnya ditengah-tengah tangisan.
Aku menepuk kepalanya dan melepaskan pelukannya lalu menciumnya, "Aku juga mencintaimu."
.
.
Sementara itu, di pihak kantor.
"Sasuke sialan! Akan kubalas nanti! Kencanku dengan Suigetsu jadi batal gara-gara dia menyuruhku mengerjakan dokumen ini! Awaaas kaaauuu! Aaaarrrgghh! Aku ingin menangiiiiis~ huaaaaaaa"
A/N : request-an kalian yang menginginkan sakura sakit sudah di penuhiiii XD maaf yah kalo ceritanya kurang memuaskan... chapter depan, aku akan buat sasuke yang cemburu buta XD
tapi yang paling utama aku update your voice n lover eternal dulu yaaaah, udah mulai fresh lagi nih, hehehehee
thx for review... any request?
