.

.

Daily Activity

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Humor

Special for SasuSaku Lovers

Side Story from Rain

All Sasuke's POV

.

.

Jealous

.

.

Saat ini musim panas telah tiba, cuaca yang panas benar-benar membuat emosi cepat naik. Apalagi dengan pekerjaan yang menumpuk, ditambah aku tidak bisa bertemu Sakura sesering kemarin karena urusan osisnya yang membuatku jengkel. Sekolahan sialan! Berani-beraninya membuat Sakura-ku sibuk!

"Sakura, makan siang," panggilku di depan kelasnya.

"Ah, Sasuke, maaf aku harus keruang osis, pulangnya saja yah."

"Lagi?" kini aku mulai mendumel, "Sudah berapa hari kau menolak makan siang denganku?"

"Sasuke, kalau bukan urusan osis aku tidak akan menolakmu."

"Kau lebih mementingkan osis?"

"Aku lebih mencintaimu," cukup dengan kalimat itu sudah membuatku diam, sialan! Dia tahu kelemahanku, "Aku pergi dulu yah."

Satu ciuman kilat mengakhiri percakapanku dengannya siang ini.

Aku…

Benci osis!

Saat pulang sekolah, aku menunggunya di loker sepatu, bolak-balik melihat ke arah jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 16.30. kemana dia? Sudah hampir sejam aku menunggunya. Apakah aku harus menghampiri ke ruang osis dan menyeretnya pulang bersamaku? Ah! Belum lagi pekerjaan yang menungguku di rumah, sial!

"Hihihi, jadi begitu? Wah kau hebat yah Gaara."

Aku dengar suara cekikikan itu, sangat khas sekali, dan apa tadi yang dia sebut? Gaara? Serangga mana lagi itu? Saat aku menoleh ke belakang, ternyata Sakura sedang berjalan sambil tertawa bersama serangga berambut merah. Si ketua osis itu.

Ku langkahkan kakiku pada mereka, Sakura sadar akan keberadaanku, wajahnya mulai panik dan langkahnya menjauh dari Gaara, kemdian dia memeluk lenganku, "Maaf membuatmu menunggu lama, Sasuke."

"Apa yang kalian lakukan? Ini sudah lewat jam pulang sekolah, memangnya rapat tidak ada hari esok?" tanyaku pada Gaara.

"Maaf Uchiha, tadi aku meminta Sakura membantu mengurus beberapa dokumen penting milik sekolah."

Darahku memanas ketika mendengarnya menyebut Sakura-ku dengan nama depannya, "Sakura?" tanyaku sekali lagi padanya, "Sejak kapan kalian sedekat ini?"

"Sasuke… jangan mulai, aku sedang lelah."

"Siapa yang memulai? Kau duluan yang memulai, setiap makan siang kau selalu ketempatnya, ini sudah seminggu Sakura, seminggu!" oke, aku sudah mulai kehilangan kontrol, "Dan sekarang saat aku menunggumu pulang, aku melihatmu sedang berbahagia ria dengannya!"

"Sasuke, aku sedang mengurus festival sekolah, tolong mengerti!" jelas Sakura yang nadanya makin meninggi, hal ini lah yang paling ku benci.

"Bagus! Kau senang kan Sabaku! Selamat, kau berhasil membuatku emosi!"

"Sasuke! Gaara tidak salah! Tolong jangan seperti ini!"

"Tidak apa Sakura, sebaiknya aku pamit, maaf membuat hubungan kalian jadi kusut."

"Bagus, lebih baik kau pergi saja."

"Sasuke!"

"Kau membelanya?"

"Kau keterlaluan, Gaara hanya meminta bantuanku, kami tidak melakukan apa-apa!"

"Terserah kalian, apapun yang kalian lakukan aku tidak mau peduli lagi, kau juga pulang saja sana dengannya."

Aku kesal.

Kutinggalkan Sakura, memang sikapku kekanak-kanakan, tapi aku tidak bisa menahan rasa cemburu ini, aku kesal melihatnya tertawa seperti itu pada laki-laki lain, apalagi mereka saling memanggil nama depan satu sama lain. Aku hanya mau Sakura tertawa seperti itu di depanku. Apakah aku egois?

.

.

Ke esokan harinya, aku sedang menukar sepatuku di depan loker.

"Uchiha~ tumben sendirian."

Akh! Aku kenal suara ini, suara yang membuatku kesal juga muak.

"Hei, mana Sakura-mu?"

"Jangan berani-beraninya kau menyentuhku, Ami," ujarku saat melihat tangannya akan menyentuh lenganku.

"Aih~ ketus sekali, hei, mau tahu sesuatu? Aku tadi lihat Sakura-mu loh."

Mataku terbelalak, bagaimana bisa Sakura pergi duluan tanpa memberi tahuku? Dan kenapa seolah dia tidak khawatir aku tidak menjemputnya? Tidak meneleponnya tadi malam, tidak menghubunginya setelah pertengkaran kemarin?

"Dia bersama sang ketua osis di halaman belakang, berdua… mesraaa~ sekali."

"Bohong."

"Coba saja lihat sendiri."

Aku berlari, ingin membuktikan bahka ucapan wanita jalang itu salah, tapi sayang sekali. Mataku mengeras ketika melihat pemandangan yang sangat buruk di depanku itu. Aku lihat Sakura yang sedang berbincang-bincang dengan serangga itu, wajah Sakura bersemi?

Ku kepalkan tanganku.

"Benar kan? Sakura-mu saja bisa selingkuh… kenapa kamu tidak bisa?"

.

.

Saat di kelas dan jam makan siang, aku tidak menghampiri Sakura. Saat ini aku sedang emosi, aku ingin menenangkan kepalaku dulu. Tapi aku gagal, karena saat ini Sakura datang menghampiriku.

"Sasuke."

Aku menoleh padanya, tatapanku masih datar, tidak ada senyuman terlihat di wajahku.

"Mau makan siang sama-sama?"

Hanya itu?

Tidak ada penjelasan kenapa dia tidak khawatir aku tidak menghubunginya? Kenapa dia pergi pagi-pagi sekali tanpa memberi tahuku? Kenapa dia bisa bersama serangga merah itudi halaman belakang?

"Sasuke?"

"Ami," akhirnya aku melakukan sesuatu di luar jalan pikiranku, aku melihat Sakura menatapku yang kini sudah berdiri, "Temani aku makan siang."

"Okaay, dengan senang hati, Uchihaaaa~"

Aku berjalan meninggalkan Sakura sendiri, terdengar beberapa bisikan yang tercipta dari kelasku.

"Eh? Mereka putus?"

"Masa sih?"

"Ah serius?"

"Tidak lihat tadi Uchiha menolak ajakan Haruno?"

Sakit.

Entah kenapa malah aku yang merasakan sakit mendengar kalimat-kalimat itu, saat di luar dan Ami hendak menyentuhku, "Sudah kubilang jangan sekali-kali kau berani menyentuhku!" aku menggeram padanya, namun Ami hanya tersenyum aneh dan terus mengikuti langkahku.

Saat di kantin, dari tadi aku hanya diam, malah Ami yang makan di sampingku, jujur aku sangat malas, tapi sudah terlanjur apa boleh buat. Sesaat aku tersentak ketika melihat soso Sakura yang memasuki kantin dengan… serangga merah! Apakah Sakura tidak puas membuatku cemburu pagi ini? Harus sampai mana sih dia membuatku merasa seperti orang tolol!

"Haruno, apa benar katanya kau putus dengan Uchiha?" aku mendengar salah satu murid menanyakan hal itu pada Sakura-ku.

"Iya, aku juga melihat Uchiha makan bersama Amora."

"Apa yang dilakukannya, tidak ada hubungannya denganku, aku tidak peduli."

Itulah yang dijawab oleh Sakura.

Jawabannya benar-benar menyakitkan, apakah ini yang dirasakan oleh Sakura saat aku mengucapkannya kemarin?

Aku tidak tahan, aku bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri Sakura yang kini sedang menikmati makan siangnya bersama Gaara.

"Apa kau benar-benar ingin putus dariku?" tanyaku pada Sakura.

"Terserah kamu." Dengan acuh dia menjawab tanpa menoleh padaku.

"Baiklah, kita putus," ujarku.

Tidak ada jawaban dari Sakura, aku membalikkan badan, saat aku berjalan untuk meninggalkan Sakura, tiba-tiba

DUG!

"Aw! A-apa-apaan ka-" ucapanku terhenti sambil mengusap kepalaku yang baru saja di lempar oleh Sakura memakai kotak makannya yang sudah kosong itu.

"Putus? Baiklah… akhirnya aku bisa putus darimu, aku sudah lelah bersamamu! Aku benci padamu, Uchiha!" ucapnya yang kemudian lari meninggalkan kantin.

Bagaikan tertusuk beribu-ribu pedang, aku mendapatkan dua hal yang benar-benar mmebuatku menyesal karena bertindak bodoh, pertama aku membuatnya mengatakan kalau dia membenciku.

Kedua, dia menangis… aku telah membuatnya menangis, Sakura menangis saat mengucapkan kata 'benci'.

Apakah aku akan membiarkannya begitu saja?

Tentu saja tidak.

Aku mengejarnya.

Bodohnya aku yang sudah membuatnya sedih, bodohnya aku yang sudah membuatnya terluka! Aku mengejarnya turun ke bawah, sial larinya kencang sekali! Saat Sakura akan kleuar lapangan, aku langsung mempercepat lariku dan menggenggam lengannya.

Greb!

Kupeluk dirinya erat-erat…

"Maafkan aku…. Maaf, maaf, maaf."

"Huhuuu, kau bodooh! Begoo! Tolool! Mati saja kau Uchiha! Brengseek!"

"Iya, aku memang bodoh, aku bego, tolol dan brengsek, maafkan aku, Sakura…. Aku sayang padamu, aku mencintaimu… kalau kau mau aku mati, baiklah… aku akan mati sekarang."

"Tidak!" kurasakan Sakura memelukku balik dengan erat.

"Maafkan aku, aku terlalu cemburu padanya, maafkan aku yang tidak mengerti kesibukanmu, padahal kamu selalu mengerti kesibukanku."

"Huhuu…hiks… aku sedih… saat kau mengajak Ami makan siang denganmu, aku…aku…"

"Sshhh, iya aku tahu, maafkan aku… aku tidak akan mengulanginya, aku janji." Bisikku padanya, "Aku pikir kamu sudah bosan padaku, kamu sama sekali tidak khawatir aku tidak meneleponmu tadi malam, kamu juga tidak cemas aku tidak menjemputmu tadi pagi, apalagi tadi pagi aku melihatmu bersamanya di halaman sekolah."

"Aku itu selalu bersama Gaara karena aku membicarakan festival sekolah! Aku tidak khawatir tadi malam kamu tidak meneleponku karena aku tahu kamu pasti banyak kerjaan yang menumpuk, makanya aku tidak menanyakannya, tadi pagi itu aku memang sengaja datang cepat karena mau melihat suasana halaman belakang kalau sepi bagaimana, itu untuk festival sekolah, supaya aku bisa berdua denganmu saat kembang api tiba!" jelas Sakura panjang lebar.

Penjelasannya membuatku lega, maka kueratkan lagi pelukanku padanya, "Maafkan aku, Sakura… aku hanya takut dia jatuh cinta padamu."

"Itu tidak mungkiiin!"

"Mungkin saja, bagai-"

"Dia itu sepupukuu!"

"HAAAH?"

"Makanya, jangan sedikit-sedikit cemburu, Sasuke… aku lupa memberi tahumu, maaf."

"Sakuraa~" ucapku lemas, menjatuhkan diriku sendiri di pundak Sakura, "Kau membuatku hampir gila~"

"Walaupun ada yang menyukaiku, aku tidak akan meninggalkanmu, percayalah."

Kulepaskan pelukanku, dan kuberikan senyumanku padanya, "Terima kasih, maaf yah, aku tidak pernah sekalipun ada niat untuk putus denganmu."

"Iya, aku juga, maafkan aku."

Aku menarik lengannya menuju mobil, "Kita mau kemana, Sasuke?"

"Melepas rindu, aku sudah tidak tahan, seminggu kau mengabaikanku."

"Hahaha, dasar kau ini, aku mau di hotel yang paling mewaaah."

"Jangan kau tarik ucapanmu," ucapku sambil menyeringai.

Sebesar apapun masalah yang kuhadapai, aku tidak akan pernah melepaskan wanita ini, walaupun nanti mungkin suatu saat Sakura akan jenuh padaku, aku akan berusaha membuatnya jatuh cinta padaku lagi dan lagi. Tidak akan kubiarkan dia lepas dari pelukanku.


A/N : ini request an sasuke yang cemburu, hehehee... ada yang mau ngasih ide lagi untuk cerita selanjutnya gimana? soalnya aku buntu ide, hehehehehee

cerita selanjutnya itu terserah pembaca yah, polling terbanyak akan aku jadikan cerita di next chapter ;)