Yaaay! Mey sudah berhasil selesaikan chapter 2. Mungkin Chapter ini romance masih sedikit dan lebih banyak frienship. Chapter ini juga Mey buat lebih panjang dari sebelumnya. Semoga readers semua suka, ya.^^
Naruto by Masashi Kishimoto
Terinspirasi dari Film Layar Lebar "Ada Apa Dengan Cinta?"
Genre : Frienship, Romance, Drama, Hurt/Comfort.
Warning : AU, OOC(maybe), Typo bertebaran, dan sejenisnya.
Don't Like? Klik BACK, please!
Enjoy..!
,-Renai Joujou,-
Chapter 2 : Because I Love U, Guys.
"...ra! Sakura! Sakura!"
Yang dipanggil tersadar dari lamunan dan menengok pada orang yang memanggilnya. "E-eh, maaf. Kenapa, Temari?"
"Dasar kau ini melamun saja. Aku tanya, apa penyebab kau langsung membenci si Uchiha Sasuke itu? Memang dia menolak wawancara kita dengan cara bagaimana?" tanya Temari kembali.
Sakura yang sedang sensitif terhadap orang yang baru saja diucapkan sang sahabat, Sakura langsung berapi-api dengan hanya mendengar namanya saja.
"AAAA! Orang itu! Temari, kau bawa dairy curhatan kita, kan?"
"Iya, kenapa?"
"Tulis, tulis. Catat dihalaman 'catatan penting!'. Tulis disana, kita jangan pernah berdekatan dengan cowok berambut ayam itu! Satu orangpun!" Sakura menjambak rambutnya frustasi. Temari menggeleng-gelengkan kepala, sahabatnya yang satu ini kalau sudah marah memang seperti ini. Temari langsung mengambil buku dairy ditasnya. Dairy tersebut bertuliskan 'Queen Angel'. Itu adalah nama genk mereka berlima yang berarti 'Ratu Bidadari' yang sangat cocok dengan mereka.
Dairy tersebut berbentuk sederhana dengan pembatas-pembatas halaman. Halaman-halaman dalam dairy itu ada halaman 'Curhatan bersama', 'Catatan penting', 'Kumpulan puisi', 'Lagu sahabat' dan lain-lain.
Tenten yang masih fokus terhadap jalanan karena mereka masih dalam mobil saat ini, sambil menyetir, Tenten berbicara pada kedua sahabatnya yang duduk dibelakang, "Sakura, kau tidak takut termakan ucapanmu sendiri, eh?"
Sakura menaikan sebelah alisnya menghadap Tenten yang masih terus menyetir. "Termakan ucapanku? Ucapan yang mana?"
"Barusan kau menyuruh Temari menulis dihalaman 'Catatan penting!' agar kita jangan mendekati si Sasuke itu,"
"Lalu?" Sakura memiringkan kepalanya. Tenten menghela nafas, "Astaga, kau ini pura-pura bodoh atau memang bodoh benar sih, Saku? Maksudku, jika nantinya kau malah jatuh cinta pada Uchiha Sasuke bagaimana?"
Sakura memasang wajah kecut atas ucapan Tenten, "Kau ini gila? Mana mungkin aku jatuh cinta pada iblis itu!"
"Heeeh, yang aku dengar Sasuke itu tampan, masa kau tidak tertarik melihatnya? Bahkan yang kudengar, aniki Sasuke yang kuliah diUniversitas Kakuni Konoha juga tampan. Dan katanya, dia jauh lebih ramah dibanding Sasuke."
Sakura mengerucutkan bibirnya, "Anikinya lebih ramah? Sulit dipercaya!"
"Hei, sudah bincang-bincangnya, kita lanjutkan didalam café saja, ayo!" kata Tenten menyadarkan keributan sahabatnya dibelakang. Sakura dan Temari langsung keluar dari mobil sementara Tenten memarkirkan mobilnya.
Selesai memarkirkan mobil, Tenten keluar dari mobil. Saat Tenten berjalan hendak masuk, Tenten tidak melihat-lihat jalan dan membuatnya tersandung sesuatu dan sukses membuatnya terjatuh.
'Gubrak!'
"Aduuuh!" ringis Tenten seiring terjatuh tubuhnya keaspal. "Ah, maaf, nona. Kau tidak apa-apa?" Tiba-tiba sebuah tangan besar terjulur didepan wajah Tenten yang masih tengkurap. Tenten menerima uluran tangan tersebut lalu dibantu berdiri oleh orang itu. Setelah sukes berdiri, Tenten membersihkan kotoran-kotoran ditelapak tangannya lalu menengok kearah depan. Kearah seseorang yang telah membuat Tenten tersandung sepatunya.
Entah ada angin apa, saat Tenten melihat wajah orang itu, Tenten terus berdebar-debar. Wajah putih lelaki itu, tubuhnya yang tegap gagah dengan mengenakan pakaian kantor. Sepertinya lelaki itu baru keluar dari café. 'Lavender? Sepertinya aku tidak asing dengan matanya...' batin Tenten menatap lekat mata lavender sang lelaki.
Tenten yang masih bengong memperhatikan lelaki didepannya, tidak sadar kalau sebuah tangan besar telah menempel dipipinya. Itu adalah tangan lelaki didepan Tenten sekarang ini. Tenten yang menyadari kini berwajah merah.
"Pipimu kotor karena terjatuh tadi. Maafkan aku, ya." Ternyata lelaki itu mengusap pipi Tenten yang kotor akibat terjatuh tadi. Tenten yang kini benar-benar malu langsung menyingkirkan tangan lelaki itu dari pipinya. "Ah, maaf. Aku yang tidak hati-hati berjalan," Tenten membungkukan badannya dan lanjut bicara, "Terima kasih." Selesai bicara, Tenten langsung berlari memegangi pipinya yang baru diusap oleh lelaki yang sama sekali tidak ia kenal, wajahnya juga sangat memerah. Sementara lelaki tadi hanya tersenyum menatap punggung Tenten yang sudah menjauh.
'Siapa dia? Kenapa aku..berdebar-debar seperti ini? Apa ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama?' batin Tenten sambil terus berlari dan sampailah dia didepan pintu café. Disana sudah berdiri dua orang gadis cantik yang sedang menunggunya memarkir.
"Tenten~, kau itu ngapain saja, sih? Lama sekali," dengus Sakura melipat kedua tangannya. Sedangkan Temari bertolak pinggang dan berlanjut memarahi, "Apa jangan-jangan kau tersesat, ya?"
"Hehe, maaf, maaf. Aku tersesat? Kau fikir aku ini anak TK? Sudah, ayo!" Tenten yang menyeruak masuk tidak menyadari kalau Sakura dan Temari bingung melihat kondisi Tenten. "Hei, kau ini main masuk-masuk saja! Coba lihat, bajumu kotor!" ucap Sakura membuat Tenten spontan berhenti. Tenten yang langsung melihat kemeja seragamnya, ternyata benar kotor. Tenten membersihkannya, Sakura dan Temari saling pandang-pandangan.
"Kau kenapa?" tanya Temari bingung melihat Tenten yang taunya sudah kotor selesai memarkir mobil. Tenten menghentikan aktifitasnya sejenak. Tenten mengingat kejadian tadi lalu mulai bicara, "Tadi aku tidak sengaja menyandung sepatu seorang lelaki. Lelaki itu menolongku, dia sepertinya baik." Tenten tersenyum manis dan wajahnya bersemu merah.
Sakura dan Temari yang menyadarinya kembali berpandang-pandangan dan tersenyum. Dan mulailah kata-kata iseng dilontarkan. "Ehem, sepertinya ada yang jatuh cinta, nih."
"Iya, sepertinya buku curhatan cinta kita nanti akan ditambah. Kali ini bukan Ino saja yang akan menulisnya," sambung Temari seperti halnya tadi Sakura. Tenten yang mendengar hanya gugup seperti Hinata sambil mencubit kedua pipi sahabatnya, "Kalian ini jahil sekali!"
"Sudahlah, ayo, kita masuk. Tenten, kau jadi traktir, kan?" tanya Sakura sambil berjalan masuk diikuti Tenten dan Temari. Tenten mengangguk, lalu merekapun duduk setelah mendapatkan tempat.
Kira-kira setelah satu jam mereka bercanda ria dan bercerita dicafé langganan mereka, Tenten mengeluarkan dompetnya disaku rok sekolahnya untuk membayar. Tiba-tiba Sakura dan Temari bingung melihat wajah Tenten yang pucat setelah merogoh saku roknya. Sakura ambil alih untuk bertanya,"Ada apa, Tenten?"
"Ponselku tidak ada disaku," jawab Tenten masih sambil merogoh-rogoh memeriksa. Barang kali terselip. Tapi yang didapat hanya ada dompetnya saja. "Waaa... Kemana ponselku?" Tenten berdiri melihat kebawah kursinya panik. Sakura dan Temari yang ikutan panik mencoba membantu Tenten. "Barang kali kau lupa taruh dimana. Coba kau ingat-ingat." Ucap Temari coba menenangkan.
Tenten coba mengingat kapan terakhir ia memainkan ponsel Nokia E63 miliknya. Terlintas kejadian tadi sebelum memasuki café, kalau dia bertabrakan dengan lelaki. Mata Tenten membulat, "Akh, jangan-jangan..."
"Apa?" tanya Sakura dan Temari berbarengan.
"Jangan-jangan ponselku terjatuh saat aku tertabrak lelaki yang diparkiran tadi!" seru Tenten yakin dan langsung lemas seketika. "Huwaa... Bagaimana ini...? Ponselku pasti sudah dipungut orang..."
Sakura dan Temari coba menenangkan kembali Tenten, "Sabar, ya, Tenten." Mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena memang sudah sejam yang lalu, jadi tidak mungkin masih tergeletak diparkiran. Pasti sudah ada yang memungutnya.
-,Renai Joujou,-
Malam hari tiba. Gadis cantik bermarga Haruno ini masih belum bisa memejamkan matanya. Rasa kesal masih melanda atas perlakuan angkuh lelaki Uchiha padanya pagi tadi. Sakura yang tiba-tiba mempunyai suatu rencana, terbangun dari tidur-tidurannya dan menghampiri meja belajarnya.
Sakura mengambil selembar kertas surat dan sebuah pulpen kemudian mulai menulis. 'Dear, Uchiha Sasuke.' Itulah yang tertulis dibarisan pertama kertasnya. Sakura yang merasa tulisannya kurang bagus langsung melecak-lecakkan kertasnya lalu membuangnya kesembarang arah. Kembali, Sakura mengambil lagi kertas surat diujung meja belajarnya. Setelah menulis kembali, Sakura kembali melecakkan kertasnya dan membuangnya lagi,
Untuk ketiga kalinya, kali ini Sakura tidak membuangnya. Dia terus menulis dengan wajahnya yang terlihat kesal dan puas membayangkan wajah Sasuke yang nantinya akan membaca surat berisi kata-kata menjelekkan sifat memuakkan Sasuke yang ditulis Sakura.
-,Renai Joujou,-
Suara sorakan meriah dan pantulan bola basket terus terdengar dilapangan atas basket SMU Minogaku. Disana terlihat beberapa tim basket yang sedang bertanding dan beberapa pendukung dipinggir-pinggir lapangan. Terlihat dari beberapa penonton, disana ada Sakura, Hinata, Ino, dan Tenten yang bersorak mendukung Temari yang sedang tanding basket antar-perempuan.
Sampai pertandingan selesai, pertandingan dimenangkan oleh tim Temari. Dan sekarang ini murid-murid yang selesai menonton pertandingan basket segera turun tangga untuk jam istirahat. Tak terkecuali Temari yang hendak berganti baju dan ditemani keempat sekawannya. Disisi lain, sesosok lelaki bermata onyx hendak mengambil sepatu dilokernya.
Sesampainya ditempat loker, lelaki itu, Sasuke. Dia membuka lokernya, matanya menyipit ketika mendapati ada secarik surat dalam lokernya. Sasuke memang biasa mendapat surat cinta, tapi kali ini sepertinya bukan surat cinta karena bentuk suratnya yang biasa saja. Tanpa amplop warna pink, dan tanpa pita. Hanya amplop putih biasa.
Sasuke yang biasanya akan membuang surat-surat cintanya yang menurutnya 'tidak penting', kali ini ia penasaran apa isi surat sederhana itu. Sasuke membuka suratnya, bola matanya terus membaca tulisan-tulisan disana. Sasuke mengernyit membaca kata-kata yang terkesan menjelekkannya. Kini mata sang Uchiha itu tersirat kemarahan melihat tulisan-tulisan disana, dan diakhir baris tulsan, tertulis nama sang pengirim. Disana tertulis 'Haruno Sakura'.
Selesai membaca, Sasuke meremas kertas surat ditangannya dengan memasang wajah keangkuhannya. Sasuke berfikir sejenak, untuk menemui si pelaku penulis surat, Sasuke ingat kalau Sakura ekskul mading. Sepertinya Sasuke hendak kesana menemuinya.
-,Renai Joujou,-
Selesai Temari mengganti pakaian, Temari langsung nimbrung bersama yang lainnya. Diruang mading itu terlihat gadis bermata emerald yang sedang bernyanyi sambil memetikkan gitar sambil dikelilingi Ino, Temari, Hinata, dan Tenten. Tak berapa lama kemudian, sebuah suara terdengar dari arah pintu ruangan yang terbuka, tanpa ada kata permisi. "Ada yang bernama 'Haruno Sakura'?"
Kelima gadis disana menengok, lalu Sakura yang merasa dipanggil langsung berhenti bernyanyi juga berhenti memainkan gitar. "Ada apa, ya?" tanya Sakura sinis karena tau siapa yang memanggilnya.
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Untuk persoalan apa?" tanya Sakura masih sinis. Sasuke semakin sebal, lalu Sasuke menunjukan surat yang diberi Sakura sebagai kode kalau Sasuke ingin membicarakan soal surat itu. Sakura meletakan gitarnya lalu berdiri dan berkata pada sahabat-sahabatnya, "Sebentar, ya." Yang lain mengangguk. Sakurapun keluar ruangan dan menghampiri lelaki onyx yang berada beberapa langkah dari ruangan mading.
"Siapa laki-laki tampan itu?" tanya Tenten heboh. Ino ambil suara untuk menjawab, "Itu yang namanya Sasuke!"
"Wah, benarkah? Dia tampan." ucap Tenten diikuti anggukan Temari kecuali Hinata yang hanya diam.
Disisi lain, disamping ruangan mading, Sakura menatap sebal Sasuke, begitupun sebaliknya. Lalu Sasuke mulai bicara, "Maksudnya apa ini?" ketus Sasuke sambil mengarahkan surat dari Sakura. Sakura mengangkat sebelah alisnya, "Suratku dibaca juga ternyata? Kukira kau hanya ingin baca yang penting-penting saja. Seperti... Karya Sastra..."
"Kau ini kenapa, heh? Tersinggung karena aku tidak mau diwawancara? Yasudah, wawancara sekarang!" Sasuke meninggikan suaranya setelah mendengar ucapan Sakura yang dingin seperti dirinya.#plak!
"Tidak usah manja!" seru Sasuke melanjutkan bicara. Sakura yang sedari tadi tidak memandang Sasuke, Sakura yang mendengar dirinya dibilang 'manja' itu langsung menatap kesal Sasuke dengan sedikit mendongak karena tubuh Sasuke yang tinggi. "Enak saja kau bilang aku manja! Kau bilang kau ingin diwawancara sekarang? BASI! Madingnya sudah siap terbit!" seperti halnya tadi Sasuke, kini Sakura yang meninggikan suaranya, bahkan nadanya lebih tinggi dari Sasuke barusan. Kini mereka saling memberi tatapan kebencian. Dari emerald, maupun onyx.
Sasuke menahan emosinya yang meledak-ledak pada gadis didepan matanya sekarang. Sasuke langsung pergi meninggalkan Sakura. Sakura yang masih emosi dan belum puas, berjalan menyusul Sasuke yang masih beberapa langkah dari hadapannya.
"Hei, berhenti kau! Pantat ayam sialan!" Sasuke yang merasakan amarahnya sudah dipuncak, berhenti dan berbalik menatap tajam Sakura. Sakura mendengus, "Jangan kau fikir dengan tatapan seperti itu, aku akan takut, baka!"
Sasuke menarik nafas meredakan emosi. 'Perempuan ini... Dia tidak ada rasa takut sama sekali! Sialan!' batin Sasuke frustasi. Bagaimana bisa, seorang Uchiha sepertinya diremehkan oleh gadis yang satu-satunya berambut pink disekolah itu. Sasuke berjalan menghampiri Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa kau bilang? Kau akan menerima akibatnya telah mempermainkanku, Haruno." Seringai Sasuke yang sering dilihat Sakura kembali diperlihatkan Sasuke sambil mengangkat dagu Sakura.
Sakura membelalakan matanya. Sasuke yang merasa puas melihat wajah bersemu Sakura langsung melepas dagu Sakura dan pergi meninggalkan Sakura yang masih mematung akibat perbuatannya barusan.
Keempat sahabatnya yang merasa tidak enak karena Sakura tidak kunjung datang langsung keluar menghampiri Sakura berdiri sekarang. Temari buka mulut mewakili yang lain, "Ada apa?"
Sakura yang akhirnya tersadar akibat suara Temari langsung menggeleng cepat dengan tergugup, "Ah, ti-tidak. Lihat saja penampilan sok kerennya itu! Aku pasti a-akan membalasnya!" Sakura berbalik berjalan menuju ruang ekskul menutupi wajahnya yang tiba-tiba memerah.
Keempat sahabatnya saling bertatapan bingung. "Kenapa dia?" tanya Ino menatap Sakura yang sudah masuk ruangan. Temari mengangkat kedua bahunya, "Entahlah..."
"Sebaiknya kita kedalam saja, ayo." Ajak Tenten mulai melangkah berjalan. Terkecuali Temari, "Eh, maaf, kawan-kawan. Aku lapar, aku kekantin dulu, ya. Hinata, temani aku."
"Baiklah," jawab Hinata yang tidak jadi berjalan masuk ruangan. Kemudian Temari dan Hinata berjalan menuju kantin.
.
.
.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai dikantin. "Aaah... Ramai sekali. Tidak ada kursi kosong sepertinya," Temari berucap sambil celingak-celinguk mencari tempat karena kini tangannya sudah memegang semangkuk mie ramen yang baru dia pesan. Hinata yang juga memegang dua gelas jus ikut mencari-cari tempat. Setelah matanya tertuju pada salah satu kursi...
"Temari-chan, disana ada tempat, tapi ada satu orang lelaki sedang tidur," Hinata menunjuk kearah satu meja besar dengan empat bangku dipojok kantin. Tiga kursi memang kosong, tapi satu kursinya ditempati seseorang disana yang sedang tertidur. Temari berjalan kearah kursi tersebut, "Sudah biarkan saja, yang penting kita duduk. Lagipula dia sedang tidur."
"Oh, baiklah." Hinata menyusul Temari. Sampailah mereka, lalu mereka mulai duduk. Hinata duduk berhadapan dengan Temari yang duduk disebelah lelaki yang tertidur melihat lelaki disebelahnya, "Orang ini... Apa dia itu punya kelainan, ya? Kantin dibuat untuk tidur." Ucap Temari tanpa dosa pada lelaki yang menutup wajahnya dilipatan kedua tangannya. Hinata sweatdrop mendengar ucapan keji Temari. "Te-Temari-chan. Kalau dia bangun bagaimana?"
"Ng..." Baru Hinata bicara seperti itu, lelaki itu menggeliat. Temari dan Hinata terkejut berbarengan. "Siapa yang berani berbicara seperti itu padaku?" tanya lelaki itu..mulai terbangun? Temari menelan ludahnya susah payah. 'Bagaimana ini?' batinnya. Lelaki itu bangun dan menatap Temari yang masih tercengang disebelah kanan sang lelaki. "Cih, perempuan rupanya..." Temari kesal seketika setelah apa yang diucapkan terdengar meremehkan. "Hey, jangan karena aku seorang gadis, kau fikir aku lemah, eh?" Temari melototi onyx lelaki disampingnya.
"Jadi kau gadis pemberani menurutmu?" tanya lelaki itu dengan wajahnya yang masih mengantuk. Hinata hanya bengong melihat adu mulut kedua orang didepannya.
"Kalau iya, kenapa?" Temari berdiri lalu menggebrak meja membuat Hinata spontan kaget. Lelaki itu tidak mau kalah. Dia ikut berdiri dan menggebrak kembali meja, "Baik, aku mau menantangmu!"
"Baik! Kau menantangku apa?" tatap Temari tajam. Lelaki berambut nanas itu balik menatap tajam Temari. Tapi kemudian lelaki itu membuang muka, "Hhhh... Aku tidak tertarik menantang gadis. Sudahlah... Merepotkan..." Lelaki itu melangkah pergi. Temari masih mendeathglare lelaki itu dari belakang. "Hey, kau! Besok jam istirahat, aku akan tunggu kau diatas gedung sekolah! Aku menantangmu duel karate!"
Lelaki itu berhenti, "Kau itu seorang gadis,"
"Grrr... Berhenti membeda-bedakan gadis atau laki-laki! Aku pelatih karate disini. Jadi aku menantangmu! Jika kau tidak datang, kau akan kuanggap seorang laki-laki pengecut seumur hidupku!" geram Temari masih menatap punggung lelaki didepannya yang berada beberapa langkah darinya. Lelaki itu kembali berjalan, "Baik. Kita lihat besok. Aku akan tunjukan padamu, kalau gadis, tetap gadis. Tidak bisa melawan laki-laki," seiring suara itu hilang, lelaki itu juga hilang oleh kerumunan orang dikantin.
Temari menghela nafas, lalu duduk kembali dikursinya. "Temari-chan... Apa tidak apa-apa kau menantangnya seperti itu?" tanya Hinata khawatir. Temari menyeruput jus jeruknya lalu menatap lekat Hinata, "Tenang saja. Aku sangat yakin, besok dia yang akan malu karena akan kalah olehku!"
Hinata tersenyum, "Berhati-hatilah!" Temari kembali tersenyum.
"Oh, iya. Bagaimana kemarin? Kau kemana saja dengan Naruto?" Sontak Hinata blushing seketika mendengar pertanyaan Temari. "Eh, i-itu..."
"Ayo, katakan!" ucap Temari setengah memaksa. "Aku... Ya, membeli bahan untuk mading..."
"Selain itu, Hinata~" Temari sedikit tidak sabaran. "I-itu... Setelah membeli bahan, Naruto mengajakku ketempat kedai ramen yang katanya..langganannya. Setelah itu, Naruto mengantarku pulang. Hanya itu saja..."
Temari menatap tajam Hinata, "Yakin hanya itu?" Hinata mekin memerah. "Be-benar, aku tidak bohong."
"Kau tidak perlu sampai keringatan begitu kan? Hahaha, kau ini lucu sekali."
Dari perbincangan tersebut, ternyata ada sepasang telinga gadis rambut bubble gum yang mendengar sedari tadi tanpa mereka sadari. 'Makin hari, Hinata sepertinya semakin menyukai Naruto. Aku sudah tidak bisa seperti ini... Aku harus bicara pada Naruto.' Sakura berfikir mantap, lalu mulai berlari kecil menuju salah satu kelas.
Sakura yang baru akan masuk kelas Naruto, tiba-tiba menubruk seseorang didekat pintu kelas. Sakura mengangkat wajahnya, ternyata itu orang yang dicarinya. Naruto menatap emerald Sakura, "Sakura-chan? Ada apa kekelasku?"
"Naruto… A-aku ingin bicara… Ini mengenai hubungan kita,"
Naruto diam sejenak. "Baiklah, kita bicara dibelakang sekolah saja, jam istirahat tinggal 10 menit,"
.
.
.
.
.
Setelah sampai dibelakang sekolah, Sakura masih belum buka mulut dan membuat Naruto kebingungan sendiri. Naruto mulai bicara, "Kau mau bicara apa?" tanya Naruto tersenyum tulus yang selalu diberikan pada Sakura.
Disisi lain, Hinata yang selesai menemani Temari makan merasa ingin buang air kecil. Sementara Temari sudah berangkat kekelas duluan bersama Tenten dan Ino, Hinata kini menuju toilet yang berada dibelakang sekolah.
"Kita... putus saja..."
'Dheg!' Baetapa kagetnya Hinata mendengar suara yang tak jauh dari tempatnya berjalan. Disana terlihat, sosok rambut pink dan sosok rambut pirang yang tak asing dimata Hinata. Hinata mengurungkan niatnya untuk meneruskan jalan kedepan. Kini Hinata sembunyi dibalik pohon beringin yang cukup besar dan tidak jauh dari arah kedua insan disana agar Hinata bisa mendengar percakapan mereka.
'Itu kan... Sakura-chan dan Naruto-kun. Mereka sedang apa? Kenapa tadi Sakura-chan mengatakan 'putus' pada Naruto-kun?' bertubi-tubi pertanyaan datang menyelimuti fikiran Hinata. Kini Hinata mulai gelisah sendiri.
Disisi lain, Naruto masih terkejut atas ucapan Sakura barusan. Sedangkan Sakura masih tertunduk menahan air matanya. Ini memang berat untuk Sakura, tapi inilah pilihannya.
"Kenapa? Kenapa tiba-tiba..."
"Aku sudah tidak sanggup menyembunyikan ini... Aku tidak mau menyakiti Hinata... Hiks..." Kini air mata Sakura mulai berjatuhan.
Sama halnya dengan gadis bermata lavender dibalik pohon sana, gadis itu tengah bercucuran air mata. Sakit menerima kenyataan bahwa sahabatnya ternyata adalah kekasih pujaannya. Sakit menerima kenyataan bahwa dirinya telah mencintai seorang lelaki yang ternyata adalah kekasih sahabatnya, bahkan lelaki itupun pasti lebih mencintai sahabatnya. Sakit menerima kenyataan, bahwa selama ini ia tidak pernah tau hal ini.
"Aku... Tidak ingin putus. Aku mencintaimu..." Naruto lirih. Dia tau hal itu. Naruto tau bahwa kenyataan Hinata menyukainya, maka dari itu sejak awal mereka memadu kasih, Sakura memperingatinya untuk merahasiakan semuanya demi sahabatnya.
Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya merosot kebawah. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri, betapa bodohnya telah mencintai orang yang jelas-jelas mencintai gadis lain, dan gadis itu adalah sahabatnya.
Hinata menengok kearah belakang. Betapa mirisnya... Orang yang dipujanya sejak awal masuk SMU, kini tengah memeluk penuh kasih sahabat tersayangnya. Hinata tidak tahan melihat semua ini. Ia berharap ini hanya mimpi buruknya. Ia berdiri dan berlari sambil terus terisak. Hinata tau..bahwa dirinyalah yang lebih dulu mengenal Naruto. Jauh sebelum Sakura mengenalnya. Bahkan Hinata lebih dulu mencintai Naruto.
'Bruk!' Saking kencangnya Hinata berlari, dia tidak sadar telah menabrak lelaki berambut model ayam yang sedang berjalan.
"Maafkan aku…" Hinata kembali berlari. Lelaki onyx yang merasa penasaran apa penyebab si gadis tadi menangis, berjalan kedepan. Dia melihat apa penyebabnya. Dua orang yang sedang berpelukan disana, tengah mencampakan hati gadis tadi… Dan mungkin… Juga dirinya.
Lelaki itu mengepalkan tangannya. Entahlah... Entah mengapa, ada perasaan yang aneh dilubuk hatinya yang terdalam. Walau hanya baru beberapa hari mengenal gadis itu, Sasuke memang telah lama mengenal Sakura. Bagaimana tidak? Warna rambutnya yang mencolok, kecerdasannya yang diakui sekolah bahkan peringkat diatasnya, karya puisinya yang selalu menang disekolah, ditambah lagi, dia salah satu genk 'Queen Angel' yang terkenal diSMU Minogaku. Sasuke mengenalnya sejak lama...
,-Renai Joujou,-
Tenten yang baru saja akan menyusul Hinata, tiba-tiba ia melihat Hinata duduk dikursi taman belakang yang sepi. "Ah, itu dia." Tenten melangkah menghampiri Hinata yang duduk membelakangi.
Mata Tenten membulat setelah baru saja mau menegurnya, Tenten melihat Hinata menangis. "Hi-Hina... Kau kenapa... Menangis?"
Hinata yang menyadari kedatangan Tenten langsung mengelap air matanya dengan tangan lalu tersenyum pada Tenten, "Eh, a-aku tidak apa-apa..."
Tenten duduk disebelah Hinata. "Ceritakan saja, Hinata-chan." tawar Tenten pada Hinata untuk mengeluarkan keluh kesahnya pada Tenten. Hinata menggeleng cepat, "Tidak. Hanya saja aku sedang sedih terus-terusan melihat Tou-san dan Kaa-san bertengkar..." ucap Hinata berbohong. Hinata bersyukur punya alasan itu untuk membuat alasan. Karena memang orangtua Hinata sering bertengkar karena ayahnya yang keras. Bahkan terkadang Hinata menjadi sasaran ayahnya untuk main tangan.
"Jadi orangtuamu bertengkar lagi? Lalu kau kena pukul Tou-san-mu lagi?"
"Tidak..." jawab Hinata tersenyum paksa. Tenten memegang tangan Hinata. "Syukurlah... Kau yang sabar, ya. Kalau ada apa-apa, kau cerita saja, jangan simpan sendiri..." Kini Tenten memeluk Hinata. Hinata memeluk balik. Setidaknya... Ia merasa lebih tenang sekarang. "Arigatou, Tenten-chan..."
"Apapun untukmu, sahabat." Mereka sama-sama tersenyum. Hinata yang mempunyai topik pembicaraan melepas pelukan Tenten. "Tenten, kau tau kan, Neji-nii sepupuku yang bekerja diSuna? Yang pernah kuceritakan padamu dan yang lainnya,"
"Iya, kenapa?"
"Kemarin dia baru datang dari Suna. Dia sedang ada diapartementnya yang disini untuk libur. Karena kemarin dia masih istirahat perjalanan, nanti malam dia mengajakku keapartemennya untuk dinner bersama teman-temannya yang disini,"
"Lalu?" Tenten menunggu lanjutan kata-kata Hinata. Hinata memegang bahu Tenten, "Aku ingin para sahabatku ikut hadir nanti malam. Sekalian aku kenalkan pada Neji-nii, ya?"
Tenten masih berfikir, Hinata makin penasaran apa jawaban Tenten. "Kami pasti ikut!" Tenten tersenyum lebar, Hinata tersenyum tipis.
,-Renai Joujou,-
Dikelas, saat ini murid-murid menikmati santai mereka karena tidak ada guru. Temari dan Hinata sedang membeli minuman dikantin, sementara Sakura, Tenten, dan Ino sedang mengobrol. Tak lama, topik perbincangan Tenten datang. "Tadi itu aneh sekali. Saat aku kekantin menyusul Temari dan Hinata, Temari bingung sendiri karena Hinata belum kembali. Lalu aku menyusulnya, tapi aku malah melihat Hinata duduk ditaman belakang. Dia..menangis,"
"Eh, yang benar? Memangnya kenapa?" tanya Ino khawatir sekaligus terkejut. Tak terkecuali Sakura. 'Jangan-jangan Hinata melihat kejadian tadi,' batin Sakura was-was. Tenten menjawab Ino, "Aku sudah bertanya, dia bilang seperti biasa. Itu akibat pertengkaran orangtuanya lagi."
Ino hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Hinata... Aku tau perasaannya. Hiashi-jisan keterlaluan sekali pada Hinata-chan dan Kaa-sannya. Iya kan, guys?" Tenten dan Sakura mengangguk pelan. Dalam hati Sakura merasa lega.
,-Renai Joujou,-
Sepulang sekolah, Sakura masih baru beberapa langkah dari gerbang sekolah. Karena Tenten yang satu-satunya membawa mobil, hari ini dia tidak membawanya karena sedang diservice. Jadilah Tenten dijemput, Temari dan Hinata pulang masing-masing menggunakan angkutan umum, Ino pulang bareng Sai menggunakan motor milik Sai. Tinggallah sekarang Sakura sendiri karena tadi ada rapat mengenai ketua ekskul, jadi sekolah sudah sepi.
"Jadi si ayam itu sudah menerima hadiah lomba puisi rupanya. Huh, dasar munafik! Pada akhirnya dia menerima hadiahnya juga!" Sakura terus berbicara sendiri sambil terus melangkah keluar sekolah. Baru saja Sakura berbelok dari gerbang, betapa terkejutnya Sakura ternyata... Orang yang barusan dia bicarakan sekarang ada didepan matanya. Dia sedang berdiri seperti menunggu seseorang.
Sakura yang merasa ditatap Sasuke yang seakan mengatakan 'Menyebalkan' itu, Sakura menunduk dan terus berjalan melewati Sasuke pura-pura tidak melihat. Tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan Sakura, "Jangan kau kira, aku tidak mendengar ucapanmu barusan."
Sakura mulai gemetar lalu menengok kewajah Sasuke, "U-ucapan yang mana?" Sakura berpura-pura seakan tidak terjadi apapun. Sasuke menghela nafas, saat Sasuke menengok kearah samping dan telah mendapati sosok yang ditunggunya, dia mulai menjalankan rencana. Entah rencana apa itu.
Sasuke menarik cepat wajah Sakura. Sakura membelalakan matanya. Betapa terkejutnya dia kalau saat ini..dengan tiba-tiba Sasuke menempelkan bibirnya pada bibir Sakura. Sasuke-mencium-Sakura.
"Sakura...-chan..." Ditambah terkejut lagi Sakura saat mendengar suara lirih dari arah sampingnya. Sakura melepas paksa Sasuke dan menengok kearah samping. Disana ternyata... Ada sosok lelaki rubah yang sedang menunggunya sedari tadi. Naruto menunggunya selesai rapat untuk pulang bersama. Tapi...
"Naruto," ucap Sakura masih terkejut. Lidahnya kelu, tenggorokannya kering seketika. Dia tidak tau harus berbuat apa. Takut jika nantinya Naruto salah paham dengan apa yang dilihatnya kalau tadi dirinya sedang berciuman dengan Sasuke. Naruto menghampiri Sasuke dengan geram tanpa melirik sedikitpun Sakura. Sedangkan Sasuke masih memasang wajah datarnya.
Naruto mengepal kuat tangannya dan... 'BUAGH!' Sasuke terjatuh akibat tonjokan Naruto yang sangat kuat.
"Sialan kau, Teme! Apa yang kau lakukan pada Sakura?"
Sakura bahkan lebih sakit lagi setelah mendengar Naruto memanggilnya tidak menggunakan sufix 'Chan'. Sasuke mengelap ujung bibirnya yang memar dan mengeluarkan sedikit cairan merah. Sasuke tersenyum sinis. Naruto membembeng kerah seragam Sasuke, "Sialan!"
"Kenapa kau semarah itu? Benar kan, kalau gadis ini kekasihmu, Dobe?"
Sakura yang melihatnya kebingungan. "A-apa maksudnya ini?"
Sasuke memejamkan matanya sejenak, kemudian kembali menampakan bola mata hitamnya pada Sakura. "Kau tau? Naruto adalah sahabatku sejak kecil. Aku tau semua sifatnya. Harusnya kau berterima kasih padaku, Haruno. Kekasihmu ini, dia tidak sungguh-sungguh mencintaimu."
Mata Sakura membulat. Sasuke yang kemudian menepis tangan Naruto, lalu berdiri diikuti oleh Naruto. Sasuke kembali bicara, "Naruto pernah mengatakan kalau dia hanya mencintai satu orang dalam hidupnya, dan dia akan terus mencari gadis yang dia cintai dimasa TK. Karena Naruto tidak begitu ingat wajah gadis itu, dia menjadi kekasihmu untuk melupakan gadis yang selalu ia panggil Hime," Kini mata Sakura mulai memanas, merasakan akan ada air yang akan jatuh.
Naruto memilih untuk tertunduk diam. Seakan pasrah akan apa yang sudah terjadi kini. Tak bisa ia pungkiri, kata-kata Sasuke benar adanya. "Naruto... Katakan kalau ini semua bohong..." Sakura melangkah kearah Naruto dan terus menatap lekat Naruto yang masih tertunduk.
"..." Naruto masih tidak mau buka mulut. Sakura meninggikan suaranya, "Katakan padaku kalau yang dibilang Uchiha ini bohong!"
Naruto dengan berat hati mengangkat wajahnya, "Maafkan aku, Sakura-chan..."
"Jadi selama ini... Kau membohongiku?" Sakura mulai melelehkan air matanya. Kepalanya terniang mengingat masa-masa awal Sakura bertemu Naruto. Saat kelas satu, saat dimana Naruto menabrak Sakura yang membawa tumpukan kertas. Dan mulai berkenalan hingga Naruto dikenalkan pada sahabat-sahabatnya. Sampai saat Naruto menyatakan cintanya dan mereka berpacaran sembunyi-sembunyi.
Naruto memegang kedua tangan Sakura, "Walau awalnya seperti itu, tapi sungguh... Dengan sering bersamanya kita... Aku makin mencintaimu, Sakura-chan."
Tapi sia-sia, Sakura melepas tangan Naruto. "Aku tidak perduli apakah kau mencintaiku atau tidak! Tapi niatmu untuk jadi kekasihku membuatku muak, Uzumaki Naruto! Mulai saat ini... Jangan pernah anggap aku ini kekasihmu lagi... Hubungan ini..sampai disini saja."
"Tapi..."
"Terima kasih atas semuanya. Semoga kau cepat menemukan Hime. Selamat tinggal..." Sakura tersenyum miris. Sakura menengok kearah Sasuke. Perasaan terima kasih juga kesal akibat ciuman pertama Sakura yang direngut Sasuke memenuhi otak Sakura. "KALIAN BERDUA... LELAKI BRENGSEK!" teriak Sakura kemudian mulai berlari meninggalkan Naruto dan Sasuke.
,-Renai Joujou,-
Sakura masih terisak dikamarnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tau, walau kini Naruto mencintainya tapi Sakura benar-benar tidak bisa memaafkan atas niat Naruto jadi kekasih Sakura. Sakura yang cukup lama menangis, lama-kelamaan tertidur.
.
.
.
.
.
Pagi tiba, Sakura siap untuk masuk kekelas. Tapi Sakura merasa aneh saat dia datang kesekumpulan sahabat-sahabatnya itu, keempat sahabatnya itu menatapnya sinis. Sakura yang awalnya tersenyum jadi bingung. "Ada apa, kenapa ka-lian... Menatapku seperti itu?"
"Apa? Jadi selama ini kau Sakura… Kau tega membohongi kami? Bahkan ternyata kau juga yang telah membuat Hinata menangis kemarin? Aku tidak menyangka,"
Sakura membelalakan matanya. "Kalian..."
"Kenapa? Kau terkejut kenapa kami bisa tau? Kemarin pulang sekolah, aku melihatmu, Naruto, dan Sasuke yang sedang membicarakan hubungan kalian! Aku langsung tau, Hinata-chan sebenarnya bukan menangis karena keluarganya, tapi karenamu!" ketus Tenten menatap penuh amarah pada Sakura.
"Sudahlah, ayo, kita keluar dari sini." Ucap Ino mulai berdiri dari kursi, diikuti yang lain. Sedangkan Hinata hanya menatap kosong Sakura.
"Tunggu dulu. Aku kan sahabat kalian juga!" Sakura menahan keempat sahabatnya yang hendak keluar.
"Kau bukan lagi sahabat kami setelah apa yang kau lakukan!"
'Dheg!'
Sakura mulai lemas atas ucapan Temari. Teman-temannya dikelas juga ikut menatap sebal Sakura. "Dasar pagar makan tanaman!"
"Iya, dasar! Kasihan Hinata." Berbagai olokan terus terdengar jelas oleh Sakura. Sakura mulai terisak dan menyesal. Suara isakan Sakura terus terdengar seisi kelas. "Hiks... Hiks..."
"Hah!" Sakura terbangun dari tidurnya. Keringat terus bercucuran diseluruh badannya. Ternyata hanya mimpi buruk. Saat Sakura melihat kesamping, ternyata sudah ada keempat sahabatnya. Lho?
"Jidat, bikin kaget saja! Baru kita mau membangunkanmu. Ayo, kita kan mau pergi untuk jamuan makan sepupu Hinata-chan!" Ino bertolak pinggang. Sakura malah menangis. Keempat sahabatnya menatapnya heran. "Ehh, Ino! Sakura jadi menangis kan!" Tenten memarahi Ino, seperti seorang ibu yang memperingati kakaknya untuk tidak menjahili adiknya.
"Minna... Gomen..."
Semuanya menengok kearah Sakura dan langsung menghampirinya. "Kenapa minta maaf?"
"Hinata, maafkan aku. Juga semuanya, maaf... Sebenarnya aku sudah hampir dua bulan ini berhubungan dengan Naruto... Tapi karena aku tau kalau Hinata menyukai Naruto, makanya... Aku menyembunyikannya..." Sakura menutup wajahnya dengan bantal. Keempat sahabatnya terkejut, kemudian saling bertatapan.
"Kalian pasti akan membenci aku, ya?"
"Sakura, Sakura... Kami tidak membencimu kok. Lalu kenapa kau tidak jujur?" Tenten mulai memeluk Sakura. Diikuti Hinata, "I-iya. Ternyata kau menyembunyikan hubunganmu karena aku? Jadi kau tau kalau aku suka Naruto-kun, ya? Ma-maaf, ya."
"Tidak. Aku yang minta maaf. Lagipula pada akhirnya sekarang aku sudah putus dengan Naruto. Dia brengsek karena ternyata hanya memanfaatkanku..."
Hinata mengeratkan pelukannya, "A-aku... Aku tetap sayang Sakura-chan kok,"
"Iya, kita menyayangimu, Sakura..." Ino ikut berpelukan diantara Tenten dan Hinata, lalu Temari ikut menyusul memeluk sahabat-sahabatnya.
"Terima kasih... Aku juga sayang kalian..." Sakura memeluk erat sahabat-sahabatnya. Tak lama mereka saling melepas pelukannya. Temari mulai menatap Hinata, "Oh, iya. Dugaan kita selama ini benar. Hinata menyukai Naruto."
"Eh..." Hinata mulai blushing dan memainkan jari telunjuknya. "Dan kami belum tau. Apa yang membuat kau menyukai Naruto, Hinata?"
"A-ano..."
"Heee, jawab yang benar."
Sementara Temari sibuk mengintrograsi Hinata, Ino dan Tenten berbicara pada Sakura. "Kau tidak apa-apa putus pada Naruto?"
"Tentu saja! Untuk apa aku sakit hati pada lelaki yang mencampakkan gadis semanis diriku?" Sakura berkata, jujur dari lubuk hatinya. Dia sudah bisa sedikit melupakan Naruto. Walau hanya sedikit, tapi Sakura yakin kalau nantinya akan hilang sendiri. Kemudian mereka kembali melihat aksi Temari dan Hinata.
"Karena Naruto mirip dengan orang yang..k-kusukai saat disekolah TK. Aku tidak begitu ingat wajahnya, yang kuingat... Hanya ra-rambut pirangnya yang mirip."
"CIEEE..." sorak sahabat-sahabatnya pada Hinata yang sudah benar-benar memerah. Walau Naruto masih sedikit mengganjal dihati Sakura, Sakura sudah tidak terlalu memikirkannya. Tiba-tiba, omongan Sasuke saat pulang sekolah tadi terlintas diotak Sakura. '...dia hanya mencintai satu orang dalam hidupnya, dan dia akan terus mencari gadis yang dia cintai dimasa TK.'
"Tunggu dulu. Jangan-jangan..."
"Ada apa?" tanya Temari melihat wajah berfikir Sakura. "Naruto berpacaran denganku karena ingin melupakan gadis kecil yang ia suka disaat TK. Jangan-jangan gadis itu Hinata!"
"Eh?" Semua yang ada disitu sedikit terkejut tak terkecuali Hinata. "Tadi juga kau bilang, lelaki yang kau suka saat TK mirip Naruto kan?" lanjut Sakura. "Tapi kurasa be-belum tentu Naruto-kun..."
"Kalau benar bagaimana, ya." Goda Ino melirik Hinata. Kemudian semua tertawa melihat ekspresi Hinata. Sampai Hinata mulai bicara, "A-ah, sudahlah. Sebaiknya Sakura-chan cepat mandi, kita harus segera berangkat. Neji-nii sudah menunggu kita."
"Hahaha, iya, baiklah. Kalian tunggu, ya. Aku mandi dulu." Sakura langsung bergegas untuk mandi. Yang lain masih sibuk menggoda Hinata yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Tsuzuku...
.
.
.
.
.
Cuplikan CHAPTER 3...
"Bukankah kau yang waktu itu?" tanya Tenten blushing.
"Aku tidak menyangka, ternyata bisa bertemu lagi denganmu."
.
Temari menggunakan seragam karatenya kemudian keatap sekolah. Sesampainya diatap, ia hanya sweatdrop mendapati orang yang ditantangnya malah asyik tidur. "BANGUN KAU, BAKA!"
.
'Plak!'
"Ini untuk yang kemarin karena kau telah berani merebut ciuman pertamaku! Uchiha Brengsek!"
.
"Ini untukmu... Sebagai permintaan maaf." Baru kali ini... Wajah seorang Uchiha Sasuke memerah karena pemberiannya pada gadis disebelahnya. Sakura tersenyum melihat tingkah Sasuke.
"Hehe... Kau ternyata punya sisi baik juga, ya, Uchiha-san."
,-Renai Joujou,-
Selesai sudah. \o/ Bagaimana? bagaimana? Semoga suka, ya...*nabur kemenyan(?)*. Oh, iya. Mey bales Review dulu. Cekidot...
karikazuka : Wow, filmnya sudah lama sekali. Itu film bioskop. Kalau dicari CD/DVD mungkin ada tapi sulit carinya. Seru deh ceritanya. Kehidupan SMUnya nggak terlalu glamour, terus nggak pake dandan menor and matching gitu. Nggak kaya film-film anak sekolah sekaranglah pokoknya. Makasih reviewnya, ya.^^
ainiiyenni : Suka sama cerita Mey? Duh, jadi berbunga-bunga*digetok pisang*. Arigatou na! XD
Kamikaze Ayy : Makasih reviewnya. Tapi konfliknya itu hanya mimpi. Hehe*dikemplang*. Mey belum taruh konflik dichap ini. Mungkin chap-chap depan.^^ Nih udah diupdate. Udah tau kan, siapa pasangan Tenten Dan Temari. X3
naomi – azurania : Arigatou, ini sudah update. :D
valentina14 : Iya, Mey juga suka banget. Makasih sudah review, ya. Ini udah update.
Oke, readers. Review lagi, ya!^^
Sampai jumpa dichapter depan~
R
E
V
I
E
W
?
