Chapter 3 sudah tiba...!*disambit batu kerikil* Oh, oke oke, sebelumnya Mey mau bilang. Maaf, ya, chapter-chapter kemarin SasuSakunya masih seimbang dengan pair lainnya, hehe#buagh!

Mey sudah usahakan dichapter ini SasuSakunya lebih banyak walau pair lain masih tetep nongol...*geplaked* Yayay, ini dia chapter 3...

Naruto by Masashi Kishimoto

Terinspirasi dari Film Layar Lebar "Ada Apa Dengan Cinta?"

Genre : Frienship, Romance, Drama, Hurt/Comfort.

Warning : AU, OOC(maybe), Typo bertebaran, dan sejenisnya.

Don't Like? Klik BACK, please!

Enjoy..!

,-Renai Joujou,-

Chapter 3 : Sweet Enemy

Suara gemercik air terus terdengar dari luar oleh pendengaran keempat gadis cantik yang masih menunggu satu kawannya lagi yang masih sibuk dalam kamar mandi. Sampai rasa bosan melanda keempat gadis disana.

"Jidat... Kau lama sekali! Cepat sedikit!" ucap gadis dengan iris aquamarine miliknya yang menampakan kalau ia bosan menunggu sejak 13 menit yang lalu. "Iya, iya, pig. Sebentar lagi aku selesai," suara sosok manusia dari dalam kamar mandi yang menyahut ucapan Ino tadi.

Tenten menghela nafas sambil menutup buku puisi milik Sakura yang belum lama ia baca. Seperti Ino, Tenten dan yang lainnya juga sudah merasa bosan. Sampai sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya menampakan batang hidungnya sambil cengar-cengir.

"Hehehe... Maaf, ya. Baik, aku kan sudah pakai baju, sekarang tinggal poles-poles." Sakura menjulurkan lidahnya setelah mendapat deathglare dari para sahabatnya.

Selagi sekarang ini Sakura sedang mengoles bedak pada wajahnya, Ino yang hobinya dandan ikut-ikutan nimbrung dimeja rias Sakura. "Sakura, aku minta lip balm," ucap Ino mengambil lip balm dari meja rias setelah mendapat jawaban angguk dari Sakura. Yang lain sudah merasa risih. "Aduh, Ino-chan... Kau kan sudah memakai lip balm Hinata dimobil." Tenten menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Ino hanya nyengir dan melanjutkan olesan lip balm pada bibirnya.

'Drrrt... Drrrt...' Hinata mengambil ponselnya yang bergetar dari saku celana panjangnya. Setelah dilihatnya layar posel BlackBerry curve putih miliknya, ternyata sebuah sms. Hinata membuka pesan tersebut, sampai selesai membaca ia mulai gelisah.

"Ah, t-teman-teman, apa kalian bisa lebih cepat. Neji-nii sudah menunggu kita dari 5 menit lalu,"

"Astaga, kenapa bisa sampai lupa kalau sepupumu sudah menunggu. Ayo, guys!" Temari berlonjak dari posisi duduknya. Yang lain juga lupa kalau sepupu Hinata sudah menunggunya. Walau baru 5 menit, kelima sekawan ini membutuhkan waktu 15 menit mengendarai mobil untuk sampai diapartement yang akan dituju. Sakura langung ikutan berdiri, "Oke, aku sudah selesai kok. Ayo kita berangkat!" seru Sakura diikuti anggukan yang lain.

Selesai pamit pada kedua orangtua Sakura dilantai bawah, mereka segera memasuki mobil Tenten. Dan Tenten pun langsung tancap gas dan menuju arah yang ditunjukan Hinata.

.

.

.

Karena sedikit macet, akhirnya mereka sampai setelah kurang lebih 20 menit dalam perjalanan keapartement. Selesai memarkir mobil ditempat parkir lantai UG mereka segera melewati lobby memasuki gedung yang bertuliskan 'Konoha Yachuu Apartement'. Hinata yang memang sudah diberi e-card cadangan apartement sepupunya langsung menggesek ujung e-card itu pada pintu menuju lift.

'Drang!' suara terbukanya kunci pintu otomatis berkaca bening menuju lift terbuka bertanda e-card sudah terbaca. Mereka langsung masuk kedalam ruangan dan pintu itupun terkunci secara otomatis. Tidak jauh dari pintu kaca tadi, mereka berjalan menuju lift, lalu Hinata mulai menekan tombol lift.

'Ting.' Terbukalah pintu lift. Hinata dan yang lainnya segera masuk dalam lift dan Hinata menekan tombol untuk menutup pintu lift juga menekan tombol nomor 16 yang akan membawa mereka kelantai 16. Mereka sedikit bercakap dalam ruang lift yang memang berisi hanya mereka sampai lift berhenti dan terbuka otomatis dilantai 16.

Hinata masih terus menuntun para sahabatnya untuk sampai ketempat yang mereka tuju. "Lalu... Kamarnya nomor berapa, Hinata?" tanya Sakura yang disebelah kanan Hinata. Hinata terus membaca satu-persatu nomor-nomor kamar dikoridor lantai 16 itu sambil menjawab Sakura, "Neji-nii bilang, kamarnya nomor... Ah, ini dia kamarnya." Belum sempat menyelsaikan kata-katanya, Hinata memotongnya. Mata Hinata tertuju pada salah satu kamar yang ia yakini adalah kamar sang sepupu. Dipintu kamar itu bertuliskan nomor '16-AG'.

"Kau yakin?" tanya Temari memastikan. Hinata mengangguk mantap, "Iya, Neji-nii sudah sms kalau kamar apartementnya nomor 16-AG."

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo tekan belnya," kata Tenten dan dituruti saja oleh Hinata. Hinata menekan bel beberapa kali. Tak lama, pintu terbuka dan menampakan seorang lelaki berwajah baby face. Hinata dan yang lainnya sedikit kaget mendapati bukan sang sepupu Hinata yang keluar. "E-eh... Apa aku salah kamar?"

"Eh, tidak tidak. Apa kau Hinata sepupu Neji?" tanya orang berambut merah itu sopan. Hinata mengangguk pelan, "I-iya,"

Lelaki itu tersenyum tipis, "Kalau begitu, masuklah. Kalian tidak salah kamar, aku temannya." Kelima gadis itu menghela nafas lega kemudian lelaki itu membuka lebar pintu mempersilahkan Hinata cs masuk kedalam.

Dalam apartement itu cukup besar dengan sebuah ruang tamu dan disebelahnya ruang makan dengan fasilitas dapurnya yang sederhana, juga diujung ruangan terdapat dua ruang kamar tidur dan satu ruang bertuliskan 'Bath room'. Setelah beberapa menit mereka melihat-lihat ruangan, mereka masih terdiam disampin sofa yang berisi teman-teman sepupu Hinata yang lain.

Disofa ruang tamu itu sudah terdapat beberapa orang disana. Mereka tersenyum pada para kelima remaja yang masih berdiri dekat sofa. "Kalian ini sedang apa? Ayo, gabung!" panggil seorang gadis disana. Kelima gadis cantik itu langsung duduk disofa panjang bergabung dengan mereka. Terlihat wajah gugup kelima sekawan itu karena berhadapan dengan orang-orang yang sudah terlihat dewasa itu. Wajar saja, sepupu Hinata dua tahun lebih tua dari Hinata sehingga teman-temannya juga pastinya sudah seumuran dengan sang sepupu gadis iris lavender ini.

"Kenalkan, aku Konan," kata gadis berambut ungu itu memperkenalkan diri. "Ini Pain, pacarku." lanjutnya memperkenalkan lelaki disebelahnya, lelaki itu hanya tersenyum. "Itu Sasori," Konan menunjuk lelaki baby face tadi yang sekarang sedang berjalan kesofa, lelaki itu juga tersenyum. "Dan ini Itachi." lanjut Konan memperkenalkan lelaki disebelah kekasihnya. Lelaki itupun juga tersenyum.

Dengan seksama, Sakura memperhatikan lelaki berambut hitam kelamnya yang dikuncir rapi. 'Sepertinya aku pernah melihatnya,' batin Sakura terus memperhatikan.

"Ah, ya. Kenalkan a-aku Hinata." Ucap Hinata kembali memperkenalkan diri. Begitu juga yang lain, mereka memperkenalkan diri masing-masing. Sesudahnya, Hinata mulai bicara. "Kalau boleh tau, Neji-nii ada dimana?"

Konan mulai sadar kalau daritadi temannya yang ditunggu-tunggu tidak juga datang. "Eh, ya ampun! Si Neji itu, dia tadi sedang kekamar untuk menutup jendela-jendela kamar. Tapi kenapa belum kembali?"

"Tadi sedikit sulit, jadinya lama. Maaf, ya. Hinata sudah datang rupanya." Sebuah suara menyeruak ditengah-tengah suara Konan tadi.

Hinata dan yang lainnya menengok kesumber suara. Disana sudah berdiri lelaki berambut cokelat panjang dan bermata serupa dengan Hinata. Dari seluruh orang disana, Tenten terbelalak melihat sosok yang berdiri disana. Saat Neji menyadari, Neji melihat Tenten dan tak kalah terkejutnya dengan Tenten. Lalu Neji mendekati Tenten. Tenten mulai mengingat kejadian-kejadian yang belum lama ia alami. Orang itu adalah... Orang yang diparkiran café beberapa hari yang lalu.

"Bukankah kau yang waktu itu?" tanya Tenten blushing.

"Aku tidak menyangka, ternyata bisa bertemu lagi denganmu." ucap Neji tersenyum tipis. Yang lain hanya terkejut. "Neji-nii mengenal Tenten-chan?" tanya Hinata yang masih bingung. Neji merogoh saku celananya sambil menjawab Hinata, "Iya. Aku bertemu dengan gadis ini tempo hari diparkiran Minorane café, dia menyandung sepatuku hingga jatuh,"

"Eeeh?" kaget Sakura dan Temari berbarengan. Mereka berfikir, jadi ini lelaki yang dibilang Tenten saat dicafé? Sementara Ino dan Hinata yang tidak mengerti atas apa yang terjadi, Neji menyodorkan tangannya pada Tenten. Tenten terkejut apa yang disodorkan pada Neji. "Ini milikmu, kan?" Tenten mengangguk dan mengambil benda yang ada ditangan Neji.

"Waaa... Ponselku..syukurlah. Terima kasih, ya." Ucap Tenten dengan tersenyum manis, Neji yang melihatnya sedikit err..blushing yang tak disadari siapapun. Akhirnya mereka berkenalan. Hinata dan Ino yang belum mengerti dijelaskan pada Sakura dan Temari. Dan kemudian jamuan makan dan pesta kecil-kecilanpun berlangsung meriah.

,-Renai Joujou,-

Hari berganti dengan pagi yang cerah diSMU Minogaku. Saat ini, jam istirahat. Seperti biasa, Sakura, Ino, Tenten, dan Hinata sedang bersantai diruang ekskul mereka. Temari? Entahlah dia ada dimana sekarang. Eh, tunggu dulu. Sepertinya bukan santai. Mereka sedang berduka.

"Astaga, Hinata... Kenapa bisa jadi seperti ini...?" Sakura menutup mulutnya degan tangan melihat apa yang dilihatnya. Karena Hinata terlihat pucat, Sakura bertanya sampai Hinata berkata jujur. Kini mata Sakura berkaca-kaca melihat bahu Hinata yang berbalut seragam, ternyata ada sebuah luka goresan yang sangat dalam dan cukup besar dengan darah yang mengering.

Hinata merapikan kemeja seragamnya dan mengancinginya kembali yang tadi sempat dibuka Sakura untuk melihat luka yang Hinata bilang 'Hanya luka kecil'. Ketiga sahabat Hinata disana menatap Hinata sedih. Hinata kembali mengeluarkan air mata dan menjawab pertanyaan Sakura tadi.

"Aku juga tidak tau. Saat aku pulang dari apartement Neji-nii, Tou-san tiba-tiba sedang menjambak rambut Kaa-san, dan aku hanya ingin menolongnya... Dan..Tou-san malah mendorongku sampai aku terjatuh tergores pecahan kaca dilantai..."

"Hinata-chan... Bersabar, ya..." Tenten menghapus air mata Hinata, kemudian mereka bereempat berpelukan, mengerti akan perasaan Hinata. Tak berapa lama kemudian, Sakura melepas pelukan. "Hei, untuk hiburan, bagaimana kalau kita menari? Masih ingat kan tarian kita saat pentas seni tahun lalu?" Sakura tersenyum untuk menghibur. "Iya ingat!" seru Tenten ikut tersenyum, juga Ino yang langsung berdiri. Hinata menjadi ikut tersenyum melihat para sahabatnya.

"Ayo, play, Ino." kata Sakura. Ino menurutinya, ia mulai kearah komputer dan memasukan cd lagu. Ino mulai menghidupkan suara lagu yang sudah disetel kemudian melepas ikat kepalanya, Tenten dan Sakura berdiri lalu mempersiapkan posisi untuk menari.

Seiring musik pop yang mengalun, Tenten, Ino, dan Sakura menari kompak diantara posisi Hinata duduk. Hinata yang mulai ceria melihat sahabat-sahabatnya dan disadari Sakura, Sakura mulai menarik Hinata. "Ayo, ikut!" ucap Sakura, Hinata menggeleng, "Ah, t-tidak usah," Dan akhirnya didukung Ino dan Tenten. Akhirnya Hinata berdiri dan menyiapkan posisi. Sakura memegang rambut Hinata, "Gerai saja rambutnya!" Hinatapun langsung menggerai rambutnya, kemudian mereka berempat kembali menari-nari dengan musik yang masih mengalun dan membuat Hinata lebih ceria.

,-Renai Joujou,-

Temari menggunakan seragam karatenya kemudian keatap sekolah. Sesampainya diatap, ia hanya sweatdrop mendapati orang yang ditantangnya malah asyik tidur. "BANGUN KAU, BAKA!"

Orang itu reflek terbangun karena suara keras Temari, "Kau sudah datang rupanya..." Lelaki itu masih bermalas-malasan untuk sekedar bangun. Temari mulai dongkol, "Kau ini! Segan hidup, mati tak mau!"

Lelaki itu mulai bangun sempurna. "Heeh, gadis memang cerewet, ya. Kerjanya marah-marah saja."

"Berhenti membeda-bedakan gadis dan laki-laki! Akan kubuktikan kalau aku bisa mengalahkanmu!" Temari menunjuk kesal pada lelaki itu. Lelaki itu mendekati Temari, "Sebelumnya, perkenalkan. Aku Nara Shikamaru. Kau?"

"Sabaku No Temari," ucap Temari acuh. Lelaki itu menyeringai, "Tidak seru kan kalau bertarungnya tidak pakai taruhan." Sekejap Temari langsung terkejut atas ucapan lelaki rambut nanas didepannya. "Apa maksudmu? Kau menginginkan taruhan? Baik, aku berani bertaruh karena aku pasti menang!"

"Yakin sekali dirimu," dengus lelaki yang diketahui bernama Shikamaru itu pada Temari. Bergantian, kini Temari yang menyeringai, "Apa kau takut? Begini saja, bagaimana jika aku menang, kau harus traktir aku makan disekolah setiap jam istirahat selama seminggu."

"Lalu apa untungku jika aku yang menang?"

Temari nampak berfikir sejenak, lalu kembali menyeringai, "Baik. Kalau kau bisa mengalahkanku, aku akan menjadi pacarmu selama seminngu. Bagaimana?"

"Aku tidak butuh pacar galak!"

'BLETAK!' Munculah satu benjolan pada kepala Shikamaru. "Aduuuh. Baik, aku terima. Lagipula..itu menarik." Shikamaru tersenyum sengit. Dibalas juga oleh Temari. "Baik, ayo mulai!" seru Temari mundur tiga langkah dan mengambil ancang-ancang.

,-Renai Joujou,-

Langkah kedua kaki gadis itu masih terus melangkah menelusuri koridor. Sakura, gadis itu. Ia yang tidak ikut gabung dengan Tenten, Ino, dan Hinata kekantin, ia lebih memilih keruang praktikum. Tempat yang biasa ia datangi untuk menenangkan diri.

Setelah sampai, Sakura masuk dalam ruangan, dan betapa terkejutnya dia mendapati sosok yang tak asing dimatanya. Disudut ruangan itu, berdiri sesosok lelaki berambut raven yang tengah membelakanginya. Lelaki itu sedang merapikan beberapa tumpukan buku praktikum. Lelaki itu yang menyadari ada kehadiran seseorang langsung menengok kearah pintu. Disana terlihat gadis rambut pink yang juga tak asing oleh iris onyxnya.

Batin Sakura terus berdenyut, mengingat kejadian yang dilakukan lelaki itu padanya saat pulang sekolah kemarin. Perasaan kesal terhadap kekurang ajaran yang telah lelaki itu lakukan padanya. Sakura menepis bayangan yang datang dalam otaknya. Ia tak mau mengingat hal yang baginya..menjijikan karena telah berciuman dengan lelaki yang baru beberapa hari ia kenal, bahkan lelaki angkuh, sombong, dan sangat dibencinya bahkan kini Sakura menganggapnya musuh.

Sakura ingin menangis. Walau ia bersyukur karena lelaki itu, Sasuke yang telah menunjukan siapa Naruto sebenarnya tapi..Sakura berfikir, mungkin itu hukuman dari Kami-sama karena telah menyembunyikan hubungannya dari sahabatnya.

Sakura mulai membalikan badannya untuk pergi dari sana, tapi tiba-tiba Sasuke dengan cekatan menghampiri Sakura. Baru beberapa langkah Sakura berjalan pergi, Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura, "Tunggu,"

Sakura secepat kilat melepas genggaman Sasuke, lalu berbalik dan menatap Sasuke, "Mau apa kau?"

Sasuke menatap lekat Sakura. Sakura yang juga menatapnya merasa muak dengan segala yang melanda fikirannya. "Jangan menatapku seperti itu, brengsek!"

"Kau bilang aku brengsek karena hal kemarin, eh?"

"Jangan ingat-ingat hal kemarin! Kau... Kau benar-benar keterlaluan!" Sakura sedikit mengeluarkan cairan bening dipelupuk matanya. Sasuke masih diam, menatap Sakura dengan tatapan yang sulit diartikan. Sakura makin geram melihat tatapan yang tidak ada rasa bersalah sedikitpun padanya.

'Plak!'

"Ini untuk yang kemarin karena kau telah berani merebut ciuman pertamaku! Uchiha Brengsek!"

Sasuke membulatkan matanya setelah apa yang dilakukan gadis pink ini. Sasuke memegangi pipinya yang nampak memerah akibat tamparan Sakura yang cukup keras padanya. Sakura mulai menangis, "Ini pasti hukuman dari Kami-sama karena aku mengkhianati sahabatku... Aku selalu memimpikan kalau nantinya ciuman pertamaku akan dengan seorang pangeran yang mencintaiku tapi justru..aku malah berciuman dengan iblis es sepertimu!"

"..."

"Mulai saat ini... Aku tidak ingin mengenalmu! Kau..jangan pernah ganggu aku lagi!" Sakura berlari meninggalkan Sasuke yang masih terdiam.

Sasuke mengepalkan tangannya dan melampiaskan tinjuannya pada tembok disebelahnya. 'BUAGH!'

"Cih, sial... Apa yang telah kulakukan?" gumamnya sambil meremas rambutnya frustasi.

,-Renai Joujou,-

Sakura terus berlari, beberapa siswa yang melihat menatapnya dengan tatapan heran. Sampai Sakura berada ditoilet yang beruntung sedang sepi, Sakura terus menangis didepan cermin wastafle. Sampai Sakura benar-benar tenang, ia menghapus air matanya dan membasuh wajahnya.

Sakura menghela nafas dan memijat pelipisnya, 'Mungkin aku terlalu berlebihan berbuat seperti itu padanya... Tapi..dia benar-benar kurang ajar...' Sakura terus berbicara dalam hatinya. Mata Sakura sedikit berkaca-kaca karena ego yang berkecamuk terlalu dalam dihatinya. Tapi Sakura mampu menahan dirinya untuk tidak menangis, toh pada akhirnya ciuman pertamanya tidak akan kembali.

"Huh... Malang sekali nasibmu. Selain ciuman pertamamu dirampas, ditambah lagi..yang menciummu adalah Uchiha itu..." Sakura berkata pada bayangan dirinya sendiri dicermin. Dan sampai terdengar bel masuk, Sakura segera mengusap percikan air diwajahnya. Setelah selesai, Sakura menarik nafasnya dalam-dalam, "Hhmp... Ganbatte, Sakura! Jangan terlihat lemah!" ucapnya lagi didepan cermin sambil mengepalkan tangannya didekat wajahnya lalu segera berlari kecil keluar dari toilet dan menuju kelas.

.

.

.

.

.

Tak terasa bel pulang sudah berbunyi nyaring, mengundang para murid dan guru mengakhiri kegiatan belajar mengajar mereka. Terkecuali gadis bermata jade yang masih sibuk mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas merah marun miliknya.

"Sakura, kau ada rapat ketua ekskul lagi, ya?" suara Ino sedikit mangagetkan Sakura yang masih sibuk dengan lembaran kertasnya. Sakura menengok sebentar pada gadis berkuncir kuda disebelahnya. Ternyata para sahabatnya masih setia berdiri menunggu Sakura.

Sakura menghentikan aktifitasnya sebentar, "Gomen, aku harus segera menyerahkan beberapa laporan yang kutulis kemarin, jadi kalian duluan saja, ya." Sakura tersenyum dengan wajah menyesal.

"Eh, tidak usah minta maaf. Kami tau kalau ketua kita memang sibuk, jadi kami memaklumkannya," kata Tenten menatap Sakura. "Iya, Tenten benar." Lanjut Hinata tersenyum menggemaskan. Sakurapun ikut tersenyum lebar, "Arigatou na,"

Sakura memperhatikan para kawannya dengan ling-lung. "Kau ini kenapa?" gusar Ino menyadarkan Sakura.

"Kemana Temari?" Sakura mulai sadar, ternyata ada satu insan yang tidak terlihat sedari tadi. Ino menyentil dahi lebar Sakura dan membuat Sakura sedikit meringis, "Forehead, makanya jangan melamun saja! Tadi Temari langsung pamit duluan karena buru-buru."

Sakura memegangi jidatnya yang habis disentil Ino, "Oh, aku tidak sadar. Hahaha... Err..memang ada apa dia buru-buru pulang begitu?"

"Ah, iya, kami lupa memberitahumu." ucap Ino menepuk dahinya. "Hinata-chan, kau jelaskan." lanjut Ino menengok Hinata yang ada disebelah kanannya.

Sakura menatap Hinata meminta penjelasan. Hinata mulai bicara, "Um... Kemarin saat aku dan Temari-chan dikantin, Temari-chan sempat adu mulut dengan anak laki-laki dari kelas lain," Hinata berhenti bicara sejenak menghirup nafas, "Lalu Temari-chan menantangnya bertarung diatap sekolah,"

"Apa? Lalu?"

"Tadi tepatnya saat kita diruang mading jam istirahat, Temari-chan bertarung..dia menaruh taruhan kalau dia kalah, dia akan jadi pacar laki-laki itu selama seminggu..dan..Temari-chan kalah, makanya..."

"Heeee? Kenapa dia bisa seceroboh itu?" Sakura sediki berteriak. "Kami saja sampai kaget dengarnya. Dan lebih parahnya lagi, laki-laki itu adalah mantanku. Nara Shikamaru." jelas Ino pada Sakura, dan Sakura yang mendengar malah makin terkejut. Lalu Sakura menenangkan dirinya, "Tapi kau tidak cemburu, kan?"

"Hahaha, kau ini lucu sekali. Walau aku ini sering ganti-ganti pacar, tapi kali ini aku benar-benar serius dengan Sai-kun~" Sementara Ino berbunga-bunga sendiri, para sahabatnya yang lain bersweatdrop ria melihat tingkahnya. "Jadi kalian pulang bertiga?"

"Tidak, si ratu cantik jelita ini akan pulang dengan pangerannya yang sudah menunggu diparkiran motor." kata Tenten menunjuk Ino yang masih berbunga-bunga.

"Jadi kalian berdua?"

"Iya, sekalian aku ingin Tenten-chan ikut keMinorane café bertemu Nej..hmmp…" Belum sempat Hinata bicara, mulutnya sudah dibekap Tenten. Sakura menatapnya aneh.

"Hehehe, kita mau mampir saja. Kalau begitu, sampai jumpa, ya, Sakura. Ayo, Hinata." Tenten langsung kabur masih sambil membekap Hinata. Ino juga akhirnya pamit untuk pulang duluan dengan masih sambil mengkhayal wajah Sai. Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan para sahabatnya itu.

Sakura yang selesai mengecek kembali laporan yang ditulisnya langsung memakai tasnya sambil menenteng kertas-kertas ditangannya dan mulai keluar dari kelas yang sudah sepi.

Sesampainya diruang osis, disana ternyata sudah berkumpul ketua-ketua dari masing-masing ekskul. Sakura terbelalak setelah mendapati sesosok yang sedang ia rumitkan sedang duduk dikursi yang mengelilingi meja untuk rapat. Sakura yang masih bengong disadarkan oleh suara sang penegak ekskul, "Haruno, kenapa malah diam? Ayo, masuk. Kau duduk disebelah Uchiha, ya." ucap sang guru bermata rubi nan seksi itu pada Sakura. Sakura mengangguk, dan disaat yang bersamaan, Uchiha yang dimaksud ialah Uchiha Sasuke.

Sasuke yang sedang asyik smsan langsung menengok setelah pendengarannya mendapati nama 'Haruno'. Tatapan mereka saling bertemu satu sama lain, tapi Sakura segera menepisnya. Sakura mengalihkan pandangannya dari Sasuke, ia berjalan pelan mendekati kursi disebelah kiri Sasuke.

Setelah sampai, Sakura mendudukan dirinya dan masih tidak mau melihat, bahkan melirik Sasuke barang sedetikpun. "Baiklah, kita akan mulai rapatnya. Tolong taruh laporan kalian yang kemarin sudah saya berikan." ucap wanita muda berambut ikal itu pada beberapa murid yang ada diruangan tersebut. Murid-muridpun mengikuti apa yang sudah diperintahkan.

Guru sekaligus penegak ekstrakulikuler itu menengok kearah Sakura, "Haruno,"

Sakura menengok kembali kearah sang guru, "Iya?"

"Karena bulan ini Uchiha memenangkan lomba puisi, dia akan ikut membantumu mendirikan mading. Uchiha direkrut untuk menjadi wakil. Jadi tolong kalian bekerjasamalah yang baik."

'Dheg' Mata Sakura membulat sempurna. "Tapi aku kan sudah cukup banyak sekertaris yang membantuku."

"Maksudmu keempat kawanmu itu? Mereka hanya bisa membantu membuat lembaran dan bahan mading, sementara kau adalah ketua, kau butuh orang untuk mendampingimu bertukar ide, informasi, dan lainnya untuk tetap membuat mading berdiri. Lagipula jika kau sedang sibuk, Uchiha adalah peringkat dua setelahmu, jadi dia bisa menggantikanmu sewaktu-waktu kau tidak ada waktu, Haruno. Kau paham?" Guru itu berucap dengan wibawa pada Sakura, sedangkan Sakura menunduk.

"A-aku paham, Kurenai-sensei..." jawab Sakura pelan. Kini penglihatan sang guru tertuju pada seorang disebelah Sakura, "Dan kau Uchiha, bekerjasama dengan benar. Minta petunjuk Haruno bila ada yang kau tidak mengerti."

"Ya," sahut lelaki yang dimaksud sang guru. Darah Sakura semakin berdesir kencang. Keringat dingin terus bercucuran meski ruang itu sudah memakai AC.

Wanita bernama Kurenai itu kembali mendiskusikan seluruh masalah pada satu-persatu murid yang memegang jabatan ketua dari setiap ekskul yang ada, juga wakil-wakil baru yang akan mendampingi ketua eksul. Sampai setengah jam berlalu, rapatpun selesai. Semua murid berhambur keluar, tapi tidak untuk Kurenai, Sakura, dan Sasuke.

Kurenai menyerahkan setumpuk kertas pada mereka berdua. "Ini formulir pendaftaran ekskul. Karena eksul mading yang paling menurun tahun ini karena banyak murid kelas satu dan dua yang malas, coba kalian cap seluruh kertas ini, selesai tidak selesai, jam lima sore kalian pulanglah, pintu gerbang akan ditutup. Besok kalian bisa lanjutkan dan serahkan formulir-formulir itu pada kelas satu dan dua untuk promosi ekskul kalian." Selesai menjelaskan, Kurenai meninggalkan Sasuke dan Sakura dalam kebisuan mereka.

Sakura memilih untuk mengerjakan apa yang sudah diperintahkan tanpa melihat kearah Sauke, sedikitpun. Sasuke diam-diam terus mencuri pandang pada Sakura sampai Sakura berani buka mulut, "Ada apa? Jika ada yang ingin kau bicarakan, bicara saja, jangan memandangku seperti itu."

Sasuke yang sedang memberi cap pada formulir langsung berhenti, "Ya, aku memang ingin bicara padamu."

"Kenapa bicaramu jadi formal seperti itu? Bukannya awal bertemu kau menggunakan bahasa 'saya' dan 'anda'?" sinis Sakura masih menempelkan selembar demi selembar kertas dengan cap sekolahnya. Sasuke mulai mengarah pada Sakura, "Kau juga. Awalnya saja terlihat sopan, tapi sekarang?"

Sakura menghentikan aktifitasnya, "Berhentilah memancing emosiku, Uchiha-san! Aku tidak ingin berdebat denganmu!" Sakura menatap Sasuke dengan aura benci. Sasuke yang sadar akan hal itu menggigit pelan bibir bawahnya menahan emosi.

"Sebegitukah kau benci padaku?"

"Ya! Aku sangat membencimu! Dari awal bertemu, kesombonganmu, keangkuhanmu, dan sampai terakhir aku benar-benar membencimu atas apa yang kau lakukan padaku kemarin! Aku membencimu!" Sakura membanting cap sekolahnya karena egonya yang kembali datang. Sakura berdiri dan diikuti oleh Sasuke. "Sampai detik ini... Kenapa kau malah muncul dihadapanku? Bahkan aku tidak mengerti kenapa kau rela membongkar rahasia Naruto demi aku? Kenapa?"

"..."

"JAWAB AKU, KENAPA?" Sakura terdengar berteriak, walau suara tak akan terdengar keluar karena ruangan tersebut kedap suara. Tapi cukup nyaring ditelinga Sasuke.

Sasuke menatap tajam Sakura, "Dengar. Aku hanya tidak suka seorang gadis diperlakukan seperti itu! Kau mengerti?"

Bibir Sakura bergetar, menahan air matanya kembali menetes. Entah mengapa air mata dari seluruh perasaannya ingin ia keluarkan saat ini juga. Suara Sakura mengecil, "Tapi mengapa harus menciumku?.."

Sasuke memejamkan matanya sejenak, "Soal itu... Aku sudah kehabisan akal. Maafkan aku..." Sasuke mengalihkan pandangannya. Sakura masih belum percaya apa yang baru ia dengar barusan. Seorang yang dianggapnya angkuh itu meminta maaf padanya. Sulit dipercaya untuk Sakura.

Air mata Sakura yang hampir terjatuh tadi, kini dapat tertahan. Sakura menatapi Sasuke dengan wajah tidak percaya. Sasuke melirik sebentar wajah Sakura yang melihatnya dengan wajah menggemaskannya. Sasuke kembali mengalihkan pandangannya kesisi kanannya. "K-Kenapa menatapku seperti itu?"

"Kau gugup, Uchiha-san?"

"Baka!" Bukan menjawab, Sasuke malah mengatai Sakura. Sakura memang tipe orang yang pemaaf, maka saat ini rasa benci Sakura sedikit pudar atas ucapan maaf Sasuke. Sakura menahan tawa melihat tingkah Sasuke, "Hmmp..."

Sasuke menengok menatap jengkel Sakura. "Aku fikir tidak ada hal yang harus kau tertawakan!"

"Kalau fans-girlmu melihat tingkahmu seperti ini bagaimana, ya?"

"Tingkah seperti apa maksudmu? Sudahlah, aku sedang minta maaf padamu,"

Hati Sakura sedikit terasa sejuk, "Hihihi, manisnya." Sakura menutup mulutnya tertawa. Sasuke makin jengkel melihatnya dan memilih untuk diam. Kini mereka malah terlihat seperti seorang kakak yang terkikik melihat adiknya ngambek.

"Karena biasa dipuji dengan kata-kata 'keren', kau jadi aneh, ya, mendengar pujian 'manis' dariku?" Sasuke masih diam. Sakura makin tertawa geli, "Hahaha, iya, aku maafkan... Aku juga minta maaf tadi istirahat sekolah sudah m..menamparmu. Maaf, ya."

"Hn,"

Sakura tersenyum simpul, "Aku anggap itu 'iya'. Lalu..berapa jam kau berlatih meminta maaf padaku?" goda Sakura yang entah mengapa jadi suka melihat samburat dipipi Sasuke setelah digoda Sakura.

"Kau fikir aku ini tidak pernah minta maaf?" ketus Sasuke mulai melirik Sakura. "Yang benar? Bukankah kau itu gunung es?"

"Sudahlah, diam!" bentak Sasuke. Kemudian Sasuke tersadar akan sesuatu. Ia merogoh saku celananya.

Sakura kaget mendapati tangan Sasuke yang tiba-tiba sudah didepan wajahnya karena daritadi terus asyik tertawa. Matanya membulat melihat benda yang ada ditangan Sasuke.

"Ini untukmu... Sebagai permintaan maaf." Baru kali ini... Wajah seorang Uchiha Sasuke memerah karena pemberiannya pada gadis disebelahnya. Sakura tersenyum melihat tingkah Sasuke.

"Hehe... Kau ternyata punya sisi baik juga, ya, Uchiha-san."

Sementara Sasuke masih tidak mau melihat wajah Sakura, Sakura mengambil benda yang diberikan pada Sasuke. Sebuah gantungan ponsel dengan bandul boneka salju. Walau sederhana, Sakura menerimanya dengan tulus, dan mungkin juga senang.

"Terima kasih," Sakura kembali tertawa lebar, Sasuke yang melihatnya sedikit terkejut. Kemudian sang Uchiha itu tersenyum tipis.

Sesudah mereka pada akhirnya berbaikan, mereka kembali mengerjakan tugas mereka sampai selesai dan waktu sudah menunjukan pukul 16:48. Mereka masih sempat pulang sebelum gerbang dkunci. Dan merekapun keluar bersama-sama sampai depan gerbang, Sasuke membuat perjalanan tertunda sebentar.

"Aku antar kau pulang, ya."

"Eh, tidak usah. Aku bisa pulang sendiri,"

"Sudahlah, kau tunggu disini, aku ambil motorku dulu diparkiran,"

"E-eeeh..." Sia-sia Sakura bicara, Sasuke sudah cepat menghilang. Akhirnya Sakura menunggu diluar gerbang sampai suara khas motor ninja terdengar, sosok yang ditunggu Sakura datang. Sasuke dengan menggunakan ninja hitamnya langsung menyuruh Sakura naik.

,-Renai Joujou,-

"Terima kasih atas tumpangannya." Sakura membungkukan sedikit badannya.

Kini Sakura sudah berada didepan rumahnya yang sederhana nan asri. "Hn, tidak usah sungkan. Jika besok-besok kau mau, aku bisa mengantarmu pulang."

"Yang benar saja? Kau mau aku dibantai habis oleh penggemarmu, hah?"

Sasuke tersenyum dengan gaya coolnya, irit senyum. "Yakin kau tidak ingi mampir dulu kedalam?" tanya Sakura kedua kali setelah pertanyaan pertama dijalan. Menawarkannya mampir kerumahnya.

"Tidak perlu, terima kasih. Aku harus segera pulang."

"Oke, baiklah. Sekali lagi terima kasih, Uchiha-san." Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Err... Bisakah kau memanggilku dengan sebutan lain? Aku merasa aneh dipanggil seperti itu, Haruno."

Sakura tersenyum, "Hahaha... Ya, baiklah, kalau begitu, kau juga memanggilku dengan sebutan biasa saja, ya."

"Hn, Sakura. Begitu?" Sasuke sedikit gugup.

"Ya, begitu. Kalau begitu, sampai jumpa besok... Sasuke..-kun," Sakura juga ikut gugup dengan panggilan yang ia sebut untuk Sasuke. Mereka saling diam dan blushing.

"Ah, baiklah. Sampai jumpa," Sasuke langsung menyalakan mesin motornya dan hendak jalan. Sakura melambaikan tangan seiring Sasuke mulai menjalankan motornya.

Sakura memegangi kedua pipinya yang memerah, "Aku ini kenapa?" gumamnya dan langsung membuka gerbang rumahnya.

Dalam hati Sakura terus mengumpat kesal pada dirinya yang entah mengapa menjadi blushing dan berdebar tak karuan didepan orang tadi, yang jelas-jelas musuhnya. Ya, walau sekarang sudah baikan, tapi tetap saja aneh kan?

Sakura sambil menutup gerbang tersenyum-senyum sendiri. Dalam hati ia terus mengingat musuhnya yang ia anggap iblis es super angkuh itu ternyata adalah musuh yang manis... Lelaki dibilang 'manis' memang aneh, tapi tidak untuk Sakura yang memang jelas mempunyai musuh yang manis.

Tsuzuku...

.

.

.

.

.

Cuplikan CHAPTER 4...

"Ya, pergi sekolah sama-sama, pulang sekolah juga sama-sama, apa namanya kalau tidak punya kepribadian?" Sasuke mulai sinis. Sakura mengernyit atas ucapan Sasuke barusan.

"Baru kemarin aku menganggapmu baik, sekarang sudah membuatku kesal lagi! Tau apa kau tentang kebersamaan sedangkan kau sendiri tidak punya teman! Bahkan sahabatmu hanya si bodoh Naruto!"

.

"Sakura-chan... Kau kencan, ya, dengan Sasuke kemarin?" Sakura blushing, ternyata sudah ketahuan Hinata.

.

"Aku akan lebih memilih menjauhi Sasuke-kun daripada harus kehilangan kalian. Aku tidak mau berkhianat untuk kedua kalinya..."

.

"Hime... Jadi selama ini kau..." Naruto masih terus mengeratkan pelukannya seakan ingin melepas segala rindu pada gadis kecilnya yang selama ini ia cari. Begitupun sebaliknya, gadis dalam pelukannya itu juga memeluknya erat, bahkan hujanpun ikut menangis bahagia atas dua insan yang akhirnya dipertemukan kembali.

,-Renai Joujou,-

Mey minta maaf kalau chapter ini masih belum memuaskan. Tapi Mey akan terus kembangkan untuk chapter-chapter berikutnya.

Dan, maaf lagi..*ditabok* Dichapter sebelumnya Mey ga PM review readers yang udah sempet kasih review fic Mey, itu karena kemarinnya akun FFn Mey error, buat bales review ga bisa-bisa. Tapi sekarang sebisa Mey, Mey kirim PM kereaders lebih jelas. Jadi untuk yang login, Mey bales diPM, silahkan diperiksa diPMnya, tapi yang tidak login, balesnya disini, ya.

Terakhir, terima kasih yang sudah review.

karikazuka

ainiiyenni

Kamikaze Ayy

naomi - azurania

valentina14

Naomi azurania gk login : Ini sudah update. Makasih reviewnya.^^

Uchiharuno phorepeerr : Iya, ini Mey usahain pairnya SasuSaku lebih banyak. Chap 2 itu memang ada tulisan 'membembeng', itu Mey lagi nanya-nanya apa nama lain dari 'mencengkram' dan itu yg Mey dapet. Gatau juga bener apa salah, tapi maaf, ya, jadi bikin ga ngerti, hehe*dilindes bajaj* Ini sudah diupdate.^^ Makasih sudah review, ya. XD

Qren : Terima kasih reviewnya, ya. :)

Kazuma B'tomat

Sekali lagi, terima kasih yang sudah Read n Review, terima kasih juga sudah baca untuk yg silent readers. Sampai jumpa dichapter depan!\o/

Review lagi dong...(-v-)*dimasukin kedalam panci(?)*

R

E

V

I

E

W

?