Terlepas dari tugas sekolah yang bikin rambut rontok, sekarang ini malah bete di rumah cuma berdua sama tante karena sekeluarga Mey pergi ke Pulau... Huwaaa... T.T

Dan, ya, daripada bete, mending Mey update fic ini deh, nyahaha. :3 Dan... Mey persembahkan chapter empat...*nabur kemenyan*

Naruto by Masashi Kishimoto

Terinspirasi dari Film Layar Lebar "Ada Apa Dengan Cinta?"

Genre : Friendship, Romance, Drama, Hurt/Comfort.

Warning : AU, OOC(maybe), Typo bertebaran, dan sejenisnya.

Don't Like? Klik BACK, please!

Enjoy..!

,-Renai Joujou,-

Chapter 4 : Feeling

"Hoaaahm" Sakura menguap, membuat mulutnya terbuka lebar, juga kedua tangannya yang ia renggangkan ke atas. Matanya mulai terbuka lebar kemudian mulai beranjak dari duduknya di ranjang tidur. Terlihat pagi itu jika sang gadis sedang menuju ke arah kalender yang tertera di ujung ruang kamarnya. Walau masih mengantuk, gadis beriris jade itu melihat kalender untuk memastikan hari apa sekarang. Sakura—gadis itu langsug menggaruk-garuk kepalanya, "Hmmp... Hari Minggu..." gumamnya dengan mata yang masih sayu.

Tak terasa, dua hari sudah berlalu sejak insiden Sakura dan Sasuke baikan. Memang sih Tenten, Temari, Hinata, dan Ino belum mengetahuinya, entah apa jadinya kalau mereka tau Sakura yang begitu mem-ben-ci Uchiha itu tiba-tiba baikan, dan padahal jelas-jelas Sakura sendiri pernah membuat catatan di 'dairy bersama' mereka untuk jangan pernah mendekati si Uchiha itu.

Setelah sudah memastikan jika hari ini adalah Minggu, hari libur untuk seorang pelajar pada umumnya, ia segera melangkahkan kakinya keluar kamar. Dengan masih menggunakan piyama merah marunnya, Sakura turun ke lantai bawah, menuruni satu-persatu tangga, dan berhenti tepat di dekat meja makan yang berada tak jauh dari tangga. Dan di meja makan itu sudah berada sosok pria tua berambut putih yang sedang duduk di meja makan tersebut dengan posisi membelakangi Sakura. Sakura yang melihat pria itu—ayahnya, tiba-tiba terlintas ide jahil di otaknya. Sakura mendekati sang ayah yang sedang membaca koran paginya, sepertinya sang ayah sedang libur juga hari ini.

Sakura melangkahkan kakinya dengan pelan-pelan, kemudian...

"Tou-chan!" Sakura mendorong pelan ayahnya, sang ayah yang merasa kaget revleks langsung membuang korannya ke sembarang arah, "OH, APA ITU?" teriak pria rambut putih itu langsung menengok, sementara Sakura tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi ayahnya yang kaget akibat ulahnya. Setelah ayahnya menyadari itu adalah putri semata wayangnya, empat sudut muncul di kepalanya, "Kau ini, dasar nakal!"

'Duakh!'

"Aduh..." Sakura memegangi kepalanya yang terkena pukulan, tapi pukulan itu bukan dari sang ayah, melainkan sosok yang baru tiba. Sosok wanita tua berparas cantik dengan rambut blonde, ialah ibu Sakura. Sakura menengok sambil masih memegangi kepala pinknya, "Kaa-chan, sakit~"

"Kau ini tiap Tou-chan-mu sedang libur, selalu saja usil. Kau mau Tou-chan terkena serangan jantung, eh?"

Sakura hanya nyengir menanggapi ibunya yang galak itu—Haruno Tsunade, ya setidaknya walau galak, ibunya Sakura sangat menyayangi anak semata wayangnya ini, begitu juga ayahnya—Haruno Jiraya.

Jiraya menghela nafas, ia sudah terbiasa dengan kejahilan anaknya itu, Jiraya selalu berpendapat kalau Sakura itu mirip dengan Tsunade dulu, saat Tsunade masih menjadi teman sepermainannya. Tsunade begitu galak dan jahil, dan sifat itu menurun pada anak gadisnya ini. Jiraya mengusap pelan kepala anaknya, "Sudahlah, sekarang duduk. Ayo, kita sarapan."

"Iya," Sakura mengangguk lalu matanya tertuju pada makanan-makanan lezat buatan ibunya itu yang sudah siap disantap. Sakura meneguk ludahnya, "Waaa, ada sup makaroni..."

"Simpan dulu rasa laparmu sebelum kau mencuci wajah dan sikat gigi!" seru Tsunade menyadarkan Sakura dari aksi lihat-melihat menu pagi ini di meja makan. Sakura manyun, kemudian ia segera berbalik dan menuju wastafle kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan sikat gigi.

,-Renai Joujou,-

Setelah sarapan, Sakura langsung mandi dan memakai t-shirt putih polos dan celana pendek berwarna coklat tua yang pendeknya 10 cm dari lututnya. Sakura menyisir rambut soft pinknya yang masih sedikit basah. Setelah selesai, Sakura mengambil ponsel Blackberry Tourch-nya, dia mulai mengecek apa barang kali ada janji dengan keempat sekawannya. Sakura membuka Blackberry Massanger-nya, MMS, dan SMS. Dan nihil, dia tidak ada janji pada kawan-kawannya.

"Hhhh... Kenapa malah di saat aku bosan seperti ini malah tidak ada janji?" gumam Sakura sambil menopang dagu di meja riasnya. Iris emeraldnya hanya berputar menjelajahi seisi kamar itu. Sepertinya rasa bosan melandanya. "Oh~ Apa yang harus kulakukan...?" desahnya, bertanya pada dirinya sendiri.

Beberapa menit Sakura dalam posisi itu, akhirnya sebuah ide muncul di kepala pinknya. "Kalau tidak salah, kemarin saat bertemu Sasuke di taman, dia mau ke toko buku sore ini!" serunya memetikkan jarinya sambil mengingat kejadian kemarin.

FLASHBACK ON

"Aduuuh, aku harus cepat, bel masuk sudah bunyi dari 5 menit yang lalu!" Sakura berlari terbirit-birit karena dia baru saja keluar dari toilet belakang taman untuk buang air besar karena saat di kantin dia terlalu banyak menuang sambal dalam mangkuk bakso-nya. Dan saat sedang asyik di toilet, tiba-tiba bel masuk berdering, membuatnya mau tak mau cepat-cepat menyelesaikan buang airnya itu.

Saat sudah di taman, Sakura mendapati sosok lelaki rambut raven yang sedang asyik membaca buku puisi miliknya, membuat Sakura mengerem lariannya. Sakura menghampiri Sasuke, membuat Sasuke yang menyadarinya langsung menutup bukunya. Sakura berkacak pinggang, "Sasuke-kun, kenapa kau ada di sini? Kau mau bolos pelajaran lagi, eh?"

Sasuke mengernyit, "Kenapa memangnya? Kita 'kan tidak sekelas, jadi kau tidak usah repot-rep—"

"BAKA! Bukan itu masalahnya! Kalau kau dihukum membersihkan kamar mandi lagi, nanti pulang sekolah kita tidak bisa mencari bahan mading!" Empat sudut siku-siku muncul di kepala Sakura. Sasuke yang melihatnya malah mendengus sebal. Sasuke menutup bukunya dan mulai berdiri, "Menyebalkan sekali satu eksul denganmu!"

"Grrr... Harusnya aku yang bicara begitu!" Sakura menuding Sasuke, membuat emosinya meletup-letup. Tapi sedetik kemudian Sasuke menahan emosinya. Sasuke menyeringai dan memegang dagu Sakura, "Kalau begitu, besok saja kita cari bersama-sama bahannya karena sekalian besok sore aku mau ke toko buku," Sakura mulai terlihat pucat. Bahaya jika Sasuke sudah menyeringai seperti itu! Sasuke melanjutkan bicara, "Atau sekalian saja, besok kau menginap di hotel bersamaku?"

"AYAM MESUM!" Sakura langsung menepis tangan Sasuke dan kemudian berlari untuk menuju kelas. Sementara Sasuke menahan tawanya keluar melihat ekspresi Sakura saat digodanya, "Hn. Itu adalah jurus yang ampuh jika kau sedang marah-marah." gumam Sasuke menghela nafas, lalu kembali duduk dan berkutat pada bukunya.

FLASHBACK OFF

Memang sedikit blushing Sakura mengingat kejadian itu. Ah, tapi sudahlah, daripada bosan di rumah, lebih baik pergi ke toko buku, kan? Sekalian juga tugas mencari bahan mading jadi selesai. Kenapa bisa jadi Sakura dan Sasuke yang mencari mading? Itu mudah saja, dua hari yang lalu saat Sasuke sudah resmi jadi ketua ekskul, Sakura memperbincangkannya pada keempat sekawannya. Kaget? Tentu saja. Tapi pada akhirnya mereka menerimanya. Yah, walau bagaimanapun mereka tidak keberatan jika ada orang pintar yang mau membantu ekskul.

Kembali ke masalah, biasanya memang Hinata yang mencari bahan mading, tapi berhubung kemarin pulang sekolah Hinata harus mengantar sepupu-nya, Neji kembali ke Suna untuk melanjutkan pekerjaan kantornya, Hinata jadi tidak bisa. Dan Sakura tau kalau Tenten menyukai Neji, jadi dia ikut dengan Hinata mengantar Neji. Sedangkan Ino, kemarin pulang sekolah juga dia sudah ada janji untuk dikenalkan pada orang tua Sai, sepertinya mereka sudah serius pacaran. Harapan terakhir, Temari. Entahlah, akhir-akhir ini dia aneh, karena setelah insiden 'Pacar seminggu' taruhan dia dengan Shikamaru, Temari jadi sibuk ingin diajari karate oleh Shikamaru.

Dan jadilah... Sang ketua dan wakil yang harus menanganinya.

Kembali pada Sakura. Saat ini jari-jemarinya sibuk mengetik pesan singkat atau biasa kita sebut SMS. Jarinya yang sudah terlatih dengan tombol-tombol di ponselnya, dengan cepat ia kirim.

To : Naruto
Subyek : (No Subyek)

Naruto, maaf mengganggumu. Aku ingin minta nomor ponsel Sasuke-kun, atau barang kali kau juga punya PIN BBM-nya. Tolong kirimkan aku, ya. Arigatou.

Selesai mengirim, Sakura menghela nafas. Bingung kenapa Sakura yang sudah berani mencaci habis Naruto—mantan kekasihnya, tiba-tiba kirim SMS? Hey, sudah tau, kan? Sakura adalah gadis pemaaf, jadi saat di sekolah Naruto meminta maaf padanya dengan cara teriak dari lantai tiga, membuat seluruh sekolah menyaksikannya. Dan Sakura mengerti, semua manusia pasti ada khilaf, maka Sakura memaafkannya, membuat ikatan Sakura dan Naruto menjadi persahabatan.

Tak lama kemudian, ponsel Sakura bergetar menandakan ada pesan singkat yang masuk. Sakura dengan cepat membuka pesan balasannya.

From : Naruto
Subyek : (No Subyek)

Sakura-chan... Aku ini 'kan tidak memakai ponsel BB, mana mungkin aku punya PIN Sasuke. Tapi aku ada nomor ponselnya, ini : 0800132xxxxx
Kau mau kencan, ya? Hati-hati, Teme itu diam-diam... Ya, begitulah. Selamat bersenang-senang! ;)

Wajah Sakura memerah setelah membaca balasan Naruto, "Siapa yang mau senang-senang dengan ayam mesum seperti dia? Dasar rambut durian!" gumam Sakura tanpa membalas SMS Naruto, ia memilih untuk segera menyimpan nomor Sasuke dan langsung mengiriminya pesan singkat untuk bertemu di Terminal bus arah ke toko buku yang terdekat dari wilayah mereka. Dan tak lama kemudian, Sasuke mengiyakan dengan membalas singkat, 'Jam 15.00, di Terminal bus. Telpon aku jika kau jadi pergi.'

"Kau itu selain irit bicara, tapi irit SMS juga, ya? Dasar!" Mata Sakura mengernyit sebal melihat balasan pesan singkat dari Sasuke yang hanya berisi kata-kata pentingnya saja. Hhhhh, dasar Sasuke...

,-Renai Joujou,-

.

.

.

Sore pun tiba. Waktu yang ditunggu-tunggu Sakura untuk mengisi bosannya akhirnya tiba. Kini sudah pukul 14:30. Masih setengah jam untuk ketemuan di Terminal, lebih baik Sakura bersiap-siap. Tapi baru saja ia berdiri dari sofa yang sedari tadi ia duduki untuk bermalas-malasan, tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada telepon masuk. Ia segera mengambil ponsel dalam saku celananya, di sana tertulis nama sang penelpon, 'BFF-Hinata'. Sakura segera menyentuh layar ponsel tourchnya untuk menjawab panggilan masuk, "Ada apa, Hinata?"

Sakura berekspresi bingung, tak ada suara dari seberang sana. Sakura memastikan layar ponselnya, sambungan masih berjalan, tapi kenapa tidak ada suara Hinata? Sakura kembali bicara, "Hinata?"

"Sakura-chan... Hiks..." suara lirih terdengar dari ponsel Sakura, itu adalah suara Hinata. Sepertinya dia sedang ada masalah lagi dengan keluarganya. Wajah Sakura berubah menjadi panik, "Kau kenapa, Hinata?" tanya Sakura melembut. Sementara suara Hinata yang terdengar oleh Sakura semakin bergetar suaranya, "Sakura-chan... Bisa tidak aku ke rumahmu sekarang? Aku...sedang ingin curhat padamu..."

Wajah Sakura berubah jadi pucat. Bagaimana ini? Padahal Sakura sudah janji dengan Sasuke, tapi tiba-tiba Hinata ingin ke rumah. Sakura bergetar memegangi ponsel yang tertempel di cuping telinganya, "Hinata... maaf, tapi aku... a-aku sedang tidak enak badan saat ini, baru saja aku ingin ke dokter sekarang ini." umpat Sakura. Ia tak mau Hinata tau jika harus bilang akan pergi dengan Sasuke 'kan? Hey, Sakura, padahal sahabat itu lebih penting. Tapi entalah, ia lebih memilih berbohong.

Diam sejenak di antara percakapan mereka sampai suara Hinata terdengar Sakura, "Tidak apa-apa kalau begitu, maaf kalau mengganggu, ya..."

"Hinata, gomen ne... Coba kau hubungi yang lain... Gomen, Hinata..."

"Iya, Sakura-chan...aku mengerti."

"Kalau begitu, sudah, ya. Hinata, kau baik-baik, ya."

"Arigatou, Sakura-chan. Jaa ne." Sambungan pun terputus. Perasaan menyesal menghantui benak Sakura, tapi sejurus kemudian Sakura segera mencari-cari kontak telepon yang ia tuju, setelah ketemu, ia segera tekan tombol hijau guna melakukan panggilan. Setelah telepon tersambung, Sakura mengembangkan senyum, "Sasuke-kun?"

.

.

.

.

.

Sakura begitu teliti dalam penampilannya. Dalam memilah-milih baju, dandanan wajah, tataan rambut, sampai sepatu. Selang beberapa menit, Sakura sudah rapi. Padahal ini bukan pesta atau kencan, tapi Sakura begitu repot untuk penampilannya. Toh padahal hanya bertemu Sasuke. Sakura sendiri tidak mengerti. Kini ia sudah berdiri di depan gerbang rumahnya. Penampilan Sakura begitu terlihat manis dan simple dengan bandana biru tua di kepalanya, tubuh langsingnya yang dibalut t-shirt putih dan dilapisi lagi oleh sweater merah marun yang resletingnya ia biarkan terbuka, ditambah rok merah-biru kotak-kotaknya yang sebatas di atas lututnya, juga sepatu kets pink pucatnya.

Sakura melihat jam pada ponselnya, ia sudah telat 5 menit rupanya, segera Sakura berlari-lari pelan agar cepat sampai tujuan. Tak butuh waktu lama karena Terminal bus dari rumah Sakura hanya berjarak 2 kilo-meter, lain dengan Sasuke yang kira-kira berjarak 3 setengah km.

Saat ini kakinya tengah terhenti tepat di depan Terminal, Sakura menengok ke kanan dan kiri, mencari sosok yang ia cari, tapi nihil, tida ada. Sakura yang masih celingak-celinguk itu dikagetkan oleh suara seseorang dari belakangnya, "Kau menunggu siapa?"

Sakura menengok, itu dia sosok yang dicarinya dari tadi. Sosok beriris onyx yang saat ini... Tidak bisa dibantah lagi, Sasuke yang kali ini untuk pertama kalinya tidak menggunakan seragam sekolah di depan Sakura, Sakura memperhatikan Sasuke begitu detail. Penampilan Sasuke saat ini memang oke dengan kaus lengan panjang warna biru gelap dan celana jeans hitam panjangnya. Simple, tapi bisa membuat gadis-gadis melihatnya dengan tatapan ingin menyantapnya.

"Kenapa malah melihatku seperti itu? Menyebalkan!" Sasuke membuyarkan lamunannya yang sedari tadi terus memperhatikan Sasuke. Sakura memanyunkan bibirnya, lalu ia segera duduk di kursi yang ada, sementara Sasuke masih terus berdiri. Sambil menunggu bus yang mereka tuju, masih hening di antara mereka sampai Sasuke mulai buka mulut, "Kenapa kau malah menggunakan rok pendek seperti itu? Saat ini 'kan cuaca sedang dingin."

Sakura memiringkan kepalanya, "Kenapa kau perduli seperti itu padaku?"

Bukan menjawab, Sasuke malah berjalan ke depan. Eh, ternyata busnya sudah datang. Sakura langsung menyusul Sasuke masuk dalam bus. Tanpa disadari Sakura, wajah Uchiha itu kini sudah menampakan samburat-samburat merah di pipinya.

,-Renai Joujou,-

Sesampainya Sakura dan Sasuke di toko buku, mereka begitu terlihat seperti pasangan serasi. Lihat saja, semua mata anak muda di sepenjang jalan memperhatikan mereka. Sakura cantik, Sasuke tampan, serasi bukan? Terlihat seperti Pangeran dan Putri. Membuat muda-mudi yang melihatnya iri dan berdecak kagum. Tapi dari semua pandangan mereka—salah total. Sakura dan Sasuke hanyalah sekedar teman biasa yang hobinya adu mulut. Sangat disayangkan.

Setelah tepat di toko buku, saat Sasuke sedang melihat buku-buku di bagian novel, salah seorang pekerja di sana menghampiri Sasuke, "Hey, Sasuke." Tegur lelaki yang terlihat masih muda itu. Sasuke menengok, mendapati yang menegurnya adalah lelaki berambut hitam panjang dan terkuncir rapi, yang sedikit lebih tua darinya. Sasuke hanya menanggapinya biasa, "Onii-san,"

Ya, dialah kakak dari Sasuke, Uchiha Itachi. Dia adalah pekerja di toko buku ini, maka dari itu jika Sasuke ke toko ini tidak asing baginya jika bertemu dengan kakaknya. Sementara Sasuke masih mencari novel bagus untuk bahan mading, dan tentu saja sambil mengobrol dengan Itachi. Di satu sisi, Sakura berada di bagian majalah yang berada tak jauh dari Sasuke, jadi Sasuke masih bisa melihat sosok pink itu yang masih kebingungan memilih majalah fashion untuk nantinya ditempelkan di mading—yang pasti para gadis yang akan tertarik. Itachi memperhatikan Sakura dari kejauhan, "Hey, Sasuke. Tadi kulihat kau masuk ke toko ini dengan gadis itu," kata Itachi sambil menunjuk ke arah Sakura tanpa melihat Sasuke.

Sasuke juga tak melihat Itachi, ia masih sibuk memilah-milih novel remaja yang menurutnya bagus dan berguna untuk mading. Sasuke mendecak, "Kau mau tanya dia siapa? Dia temanku di sekolah. Dia adalah ketua ekskul yang di tugaskan untuk membeli bahan mading."

"Pink? Sepertinya aku mengenalnya, entahlah. Lalu kenapa kau ada bersamanya?" tanya Itachi sedikit menggoda. Itachi terkadang juga bingung, kenapa Sasuke tidak mau punya pacar. Maka dari itu, jika benar itu pacar Sasuke, mungkin malam ini akan ada pesta di rumahnya.

Sasuke yang sedang membaca summary novel yang sedang ia pegang, seketika berhenti, "Aku itu wakil ekskulnya. Kalau bukan, mana mau aku repot-repot mengantarnya? Kalau dia memintaku mengantarnya barulah—" Tiba-tiba Sasuke berhenti bicara, sementara Itachi mulai tersenyum jahil mendapati adiknya itu keceplosan bicara, membuat wajahnya merah begitu.

"Kalau dia memintamu untuk mengantarnya, kau mau?"

"Ck, diamlah." Sasuke membuang pandang dari Itachi, menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya.

Sementara itu di posisi Sakura...

"Baiklah, aku sudah dapat." gumam Sakura memegangi majalah fashion yang baru saja ia pilih. Kemudian ia mulai berjalan menuju Sasuke. Saat Sakura sudah sampai di depan Sasuke, dia melihat ada sosok lain dan—tak asing sepertinya. Sama halnya Sakura, Itachi juga membulatkan matanya melihat Sakura, kemudian mereka sama-sama saling menunjuk, "Aaaa, kau!" ucap Sakura dan Itachi berbarengan, sementara Sasuke yang melihatnya hanya keheranan. Sakura langsung membungkukan badannya memberi hormat, "Apa kabar, Itachi-nii?" Itachi ikut memberi salam, sementara Sasuke makin kebingungan.

"Tak kusangka bisa bertemu denganmu di sini, Sakura." Itachi dan Sakura tertawa lepas, melupakan sosok yang ada di tengah-tengah mereka. Sasuke sweatdrop dan mulai memperhatikan kakaknya, "Nii-san, kau mengenal gadis jidat lebar ini?" tanya Sasuke membuat Sakura menganga. "Apa? 'Nii-san'? Jadi Itachi-nii?"

"Hahaha, ya, aku aniki Sasuke." Sakura mengangguk. Pantas saja saat Sakura bertemu dengan Itachi di Apartemen Neji, ia merasa Itachi mirip seseorang, ternyata mirip Sasuke. Lama mereka mengobrol tanpa memperdulikan Sasuke, tiba-tiba ponsel Sakura bergetar ada pesan singkat. Dengan cepat Sakura membuka SMS. Beberapa detik kemudian, wajah Sakura menjadi berubah.

"Sasuke-kun, Temari menyuruhku untuk datang ke rumahnya karena ada hal penting dengan sahabat-sahabatku. Tolong kau cari bahan yang lain, ini uang yang di berikan Kurenai-sensei," Sakura merogoh saku celananya untuk mengambil dompet mini-nya, lalu memberikan beberapa lembar uang yang diberikan Kurenai untuk membeli bahan mading. Sasuke yang sedari tadi berwajah sebal karena diasingkan oleh kakak dan juga Sakura, bertambah geram. Sasuke tidak menerima uang yang sudah Sakura sodorkan dan malah menatap sebal Sakura, "Memang tidak bisa jika bertemu selesai belanja?"

"Jangan seperti itu, masalahnya aku tidak enak, mereka sudah kumpul menungguku." ucap Sakura lesu. Sasuke menyipitkan matanya, "Kau itu seperti tidak punya kepribadian saja! Selalu mementingkan kebersamaan!" Sakura sontak kaget mendengar ucapan dingin Sasuke, kemudian Sakura menatap Sasuke dengan wajah kesal sambil berucap, "Apa kau bilang? Tidak punya kepribadian?"

"Ya, pergi sekolah sama-sama, pulang sekolah juga sama-sama, apa namanya kalau tidak punya kepribadian?" Sasuke mulai sinis. Sakura mengernyit atas ucapan Sasuke barusan.

"Baru kemarin aku menganggapmu baik, sekarang sudah membuatku kesal lagi! Tau apa kau tentang kebersamaan sedangkan kau sendiri tidak punya teman! Bahkan sahabatmu hanya si bodoh Naruto!"

Sakura yang masih menggenggam beberapa lembar uang langsung menarik tangan Sasuke dan menaruh uang itu di telapak Sasuke. Kemudian Sakura mulai membalikan tubuhnya, tanpa memperdulikan lagi Itachi, Sakura terus berjalan menjauhi Uchiha bersaudara itu. Itachi yang melihat adegan tadi terkikik sendiri, sementara Sasuke masih memperhatikan Sakura yang sudah semakin jauh dengan ekspresi datar.

Itachi menepuk punggung Sasuke masih sambil tertawa kecil, "Kau itu bagaimana? Masa gadis secantik itu kau biarkan pergi? Ayo, kejar!" Itachi mendorong pelan bahu Sasuke, sementara Sasuke diam dan masih terus memperhatikan sosok pink yang semakin jauh. Itachi tersenyum melihat wajah Sasuke, sepertinya sang kakak tau apa yang ada di fikiran adiknya itu. Itachi segera merangkul Sasuke dan kembali bicara, "Sasuke, coba kau perhatikan. Biasanya, seorang gadis jika menengok itu bertanda dia ingin dikejar. Sekarang, coba kau perhatikan, Sakura itu menengok atau tidak. Jika dia menengok, berarti dia mengharapkan kau mengejarnya." ucap Itachi panjang lebar seakan sudah berpengalaman dengan masalah seeperti ini.

Itachi dan Sasuke terus memperhatikan Sakura yang sudah sampai di dekat pintu keluar toko, kemudian... Mereka melihatnya. Sakura yang baru sampai depan pintu menengok ke arah Sasuke dengan wajah angkuh. Itachi yang sadar sekali lagi menepuk bahu Sasuke, "Iya, kan, dia menengok. Dia mengharap kau mengejarnya berarti! Ayo, kejar!" seru Itachi, tapi diacuhkan Sasuke, Sasuke masih diam tanpa ekspresi, membuat Itachi seakan-akan ingin menelan adik satu-satunya ini. 'Dasar, kau ini tidak peka!' batin Itachi yang memperhatikan Sasuke. Dan tak lama, menghilanglah sosok pink itu.

,-Renai Joujou,-

Waktu sudah menunjukan pukul 20:00, sementara orang yang dinanti-nanti ketiga gadis cantik di sana belum juga datang. Ya, hanya tiga. Di sana hanya ada Tenten, Temari, dan Ino. Temari yang mulai bosan mengetuk-ngetuk meja ruang tamunya, "Mana sih, si Sakura itu? Kita sudah menunggunya 20 menit," Ino hanya mengangkat bahunya bertanda 'tidak tau' sambil mengusap pelupuk matanya. Sementara Tenten kembali menyeruput jus melonnya pada gelas keduanya. Ada yang aneh, kali ini ketiga gadis itu terlihat begitu rapuh.

.

.

.

Sementara itu, Sakura masih berada di jalan, kini langkahnya sudah ada di depan gerbang rumahnya. Fikirannya terus saja tertuju pada Sasuke yang membuat Sakura terus kesal sendiri. Karena Sakura berjalan sambil menunduk, ia tidak menyadari bahwa gerbang rumahnya sudah dibuka oleh kedua orangtuanya. Tsunade menatap heran anak semata wayangnya yang berwajah kusut itu, "Sakura-chan, kau kenapa?"

Sakura yang menyadari langsung mengangkat wajahnya. Tapi matanya langsung melotot mendapati ayah dan ibunya berpenampilan rapi dan baru saja ingin keluar rumah. Segera saja Sakura bertanya, "Tou-chan, Kaa-chan, kalian mau ke mana?"

Tsunade dan Jiraya saling menatap, kemudian Tsunade kembali menatap Sakura heran, "Loh, kau ini bagaimana? Hinata-chan 'kan masuk rumah sakit tadi sore karena dia mencoba untuk bunuh diri di kamar mandi. Kaa-chan kira kau tau."

'Dheg'

Dan seketika itu juga, Sakura menutup mulutnya menahan isak, tapi suara isak masih tetap terdengar, begitu juga air mata yang begitu saja keluar karena shock. Demi Kami-sama, apa yang ada di fikiran Sakura? Sore tadi Hinata menelponnya karena sedang membutuhkan dirinya, tapi dengan bodohnya ia malah pergi dengan Sasuke. Bahkan ia lupa jika ia diajak bertemu di rumah Temari. Jadi Temari SMS untuk memberi tau. Sakura yang mulai lemas tak karuan membuat Tsunade dan Jiraya ikut prihatin, dia tau bagaimana shocknya Sakura saat ini.

Setelah Sakura sudah sedikit tenang di dalam mobil, Sakura mengirim SMS pada Temari bahwa dia sudah diberi tau pada ibu dan ayahnya, jadi Temari dan yang lain disuruhnya untuk segera ke rumah sakit tanpanya, karena kini juga Sakura sudah ada di jalan bersama orangtuanya. Diperjalanan Sakura terus mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia seceroboh ini? Saat itu ia menyakiti Hinata karena Naruto, sekarang? Karena dirinya yang bodoh ini sekarang ia membiarkan Hinata menanggung bebannya sendiri. Ia tak mau menyakiti Hinata lagi. Apalagi jika sahabat-sahabatnya tau, mereka pasti sangat marah karena kebodohannya.

"Aku akan lebih memilih menjauhi Sasuke-kun daripada harus kehilangan kalian. Aku tidak mau berkhianat untuk kedua kalinya..."

Sakura terus menggumamkan kata-kata itu dalam perjalanan, membuat Tsunade dan Jiraya yang berada di depan ikut prihatin pada anak gadisnya.

,-Renai Joujou,-

Waktu sudah menunjukan pukul 02:10, bertanda sudah berganti hari. Sakura masih belum menemukan kawannya yang lain. Sementara orangtua Sakura pulang, Sakura memilih untuk tetap di rumah sakit menemani Hinata yang masih pingsan karena kekurangan banyak darah. Mungkin ini juga untuk menebus dosanya pada Hinata. Walau sudah berjam-jam Sakura masih tak bisa tidur, ia terus duduk di kursi samping ranjang Hinata. Tangannya masih setia menggenggam tangan Hinata, sampai dirasakan oleh Sakura, tangan Hinata mulai bergerak, matanya juga sudah sedikit terbuka.

Sakura yang melihatnya langsung mengusap lembut kepala Hinata, "Hinata, daijoubu ka?" tanya Sakura tergesa-gesa. Ia senang jika akhirnya Hinata sudah sadar. Hinata yang sudah mulai membuka sempurna matanya, ia melihat Sakura yang masih terus menangis. Dengan susah payah, tangan Hinata mengusap pipi Sakura, "Jangan... menangis..." ucap Hinata pelan. Sakura tersenyum lega. Syukurlah Hinata sudah sadar. Sakura memeluk erat Hinata, "Maafkan aku, Hinata. Aku bohong soal ingin ke rumah sakit kemarin sore, maafkan aku..."

"Tidak apa-apa, aku mengerti. Justru aku senang kau... sudah mau jujur," Hinata tersenyum kemudian mengusap pelan bahu Sakura yang memeluknya, "Sakura-chan?" Sakura mengangkat tubuhnya yang memeluk Hinata dan mulai menatap wajah Hinata yang begitu terlihat pucat.

"Sakura-chan... Kau kencan, ya, dengan Sasuke kemarin?" Sakura blushing, ternyata sudah ketahuan Hinata.

Sakura menunduk sambil mengusap-usap tangan Hinata, "I-iya aku bersamanya... Tapi bukan kencan kok, aku hanya ke toko buku sekalian mencari bahan mading... Maafkan aku..."

"Apa? Jadi kemarin itu kau bersama Sasuke?" Tiba-tiba sebuah suara menyeruak masuk. Sakura dan Hinata menengok berbarengan ke arah pintu yang berjarak beberapa meter dari samping kiri ranjang Hinata, itu adalah Ino. Tapi yang datang bukan hanya Ino saja, di belakangnya sudah ada Tenten dan Temari. Ternyata mereka menguping sedari tadi. Ino langsung menghampiri Sakura cepat, "Aku tidak menyangka." ucap Ino melipat kedua tangannya.

Sakura mulai berwajah sedih, tapi kemudian dia kembali menunduk, "Maafkan aku... Padahal aku sendiri yang bilang agar jangan berdekatan dengan lelaki seperti itu, tapi... Aku memang bodoh, aku mengkhianati kalian... Kalian pantas memarahi aku..."

"Sakura-chan, kita tidak marah padamu." tukas Ino langsung membelai puncak kepala Sakura. "Iya, kami tidak marah kok. Itu 'kan hakmu juga mau dekat dengan siapa." Tenten mulai nimbrung sambil mengangkat wajah Sakura yang sudah hampir menangis. Diikuti Temari yang mulai memeluk Sakura dari belakang, "Itu benar, seperti contoh saat Ino pacaran dengan tetangganya yang playboy, kita tidak melarangnya 'kan? Akhirnya dia yang kena batunya sendiri."

Hinata menangguk, kemudian mereka bereempat mulai berpelukan sambil memegang tangan Hinata yang tidak bisa ikut gabung untuk berpelukan. Betapa beruntungnya Sakura mempunyai sahabat yang baik. Sakura mulai tersenyum dalam pelukan sahabat-sahabatnya.

,-Renai Joujou,-

Sudah tiga hari berlalu sejak Hinata keluar dari rumah sakit. Pada akhirnya ibu Hinata memutuskan untuk bercerai dengan ayahnya dan tinggal di kontrakan sederhana, karena setelah lulus SMU nanti Hinata dan ibunya akan tinggal dengan Neji di Suna. Walau para sahabatnya sedih karena hari kelulusan tinggal sebentar lagi, tapi mereka juga mengerti, itu adalah yang terbaik untuk Hinata. Walau Hinata juga berat hati karena harus langsung bekerja di Perusahaan Neji tanpa harus kuliah, tapi untuk menafkahi ibunya, Hinata lebih memilih bekerja terlebih dahulu.

Sudah tiga hari pula—Sasuke tidak bertemu Sakura. Sebenarnya mereka selalu bertemu, tapi Sakura terus menghindari Sasuke jika dari kejauhan ia sudah melihatnya. Bahkan tugas-tugas madingnya ia serahkan pada sahabat-sahabatnya karena Sakura tidak mau ke ruang mading dan bertemu Sasuke nantinya. Tapi sepertinya usaha Sakura untuk menghindari Sasuke sia-sia. Lihat saja, sekarang ini bel pulang sekolah sudah terdengar, Sasuke tengah berlari kecil mengejar Sakura di dekat gerbang dan terus saja memanggil, sementara Sakura pura-pura tidak mendengar dan mempercepat langkahnya.

Tapi terlambat, tangan Sasuke sudah berhasil menarik pergelangan tangan Sakura. Sakura menengok dan menatap angkuh Sasuke, "Ada apa?"

"Cih," Sasuke memicingkan matanya, "Kenapa kau menghindariku?"

"Aku tidak menghindarimu." ucap Sakura ketus, Sasuke semakin mempererat genggaman tangannya membuat Sakura meringis, "Ikut aku!" kata Sasuke langsung menarik paksa Sakura, Sakura menurutinya, karena menghindar juga percuma, Sasuke itu keras kepala. Ah, sial, karena tadi harus ada laporan perkembangan mading, Sakura jadi pulang terlambat dan harus bertemu Sasuke. Apa ini hari sialnya? Bahkan cuaca saat ini benar-benar buruk, langit sudah terlihat gelap bertanda akan turun hujan.

,-Renai Joujou,-

Gadis berambut indigo itu masih asyik duduk di taman belakang sekolah. Ternyata ia belum pulang. Entahlah, Hinata mungkin sedang bosan untuk pulang ke rumah. Tapi setelah ia mendengar suara guntur, membuatnya begitu kaget, akhirnya Hinata memutuskan untuk pulang sebelum hujan. Tapi belum sempat Hinata bangun dari duduknya, ia merogoh tasnya, mengambil sesuatu di dalam sana. Setelah ketemu, langsung ia keluarkan benda itu, sebuah kotak musik ukuran kecil berwarna ungu. Hinata menekan tombol 'On', membuat kotak musik itu terbuka otomatis, dan memainkan denting-denting piano yang indah, ditambah dengan sepasang boneka plastik yang otomatis menari-nari seiring musik berjalan, membuat Hinata tersenyum simpul.

"Untung saja aku sudah mengganti baterainya," gumam Hinata. Tapi sangat disayangkan... Hinata tidak begitu jelas mengingat sosok anak laki-laki yang memberinya hadiah ini untuk perpisahan. Yang dia ingat hanyalah rambut pirangnya saja. Maklum saja karena itu sudah 12 tahun yang lalu, yang pasti anak laki-laki itu sekarang sudah beranjak dewasa sama seperti Hinata.

Tanpa Hinata sadari, suara kotak musiknya membuat seseorang yang sedang tertidur di bawah pohon beringin di sana terbangun karena pohon itu tak jauh dari tempat duduk Hinata. Sosok berambut blonde itu terbangun karena suara alunan itu, ia membuka mata shappire-nya perlahan dan mulai membetulkan posisinya jadi duduk, "Hmm... Suara apa itu...?" gumamnya pelan lalu telinganya ia pasang kembali untuk mendengar lebih jelas suara tersebut. Beberapa detik kemudian, mata lelaki itu membulat sempurna, "S-suara musik ini..."

Gerimis mulai turun, membuat Hinata segera menggendong tasnya tanpa memasukan kembali kotak musiknya. Ia masih tetap menenteng kotak musik yang sudah ia putar berulang-ulang. Hinata mulai berdiri, sementara lelaki blonde itu—Naruto, ia masih berlari kecil menuju sumber suara yang dihasilkan Hinata, sampai akhirnya Naruto melihat dari sisi belakang Hinata, suara itu bersumber darinya. Naruto menatap tak percaya, kemudian mulai mendekati Hinata yang baru saja akan melesat pergi, "Hinata!" Hinata menengok, itu adalah Naruto. Hinata mulai gugup, "Naru-Naruto-kun?"

Hujan mulai mengguyur seisi kota Konoha, sementara kedua insan di sana masih saling diam satu sama lain, sampai tiba-tiba Naruto memegang tangan Hinata, "Hinata, katakan padaku, dari mana kau dapat kotak musik ini?" Hinata berwajah bingung, apa Naruto ingin membeli kotak musik ini? Karena pasti tidak akan ada yang jual di toko karena kotak musik ini dirancang sendiri dari tangan sang ibunda anak laki-laki di TK Hinata dulu. "A-aku... mendapatnya dari temanku di sekolah TK,"

Naruto tersenyum lebar, kenapa? Kotak musik itu adalah berasal darinya. Ya, Naruto sangat mengenali suara kotak musik itu, karena yang merancangnya adalah ibundanya dulu, saat ia masih di Taman Kanak-kanak. Jadi? Jadi benar, Hinata adalah gadis cilik yang dulu ia sebut 'Hime', yang Naruto lupa akan wajahnya. Naruto langsung memeluk Hinata, "Hinata, sudah kuduga, dari awal bertemu denganmu, mata lavender-mu mengingatkanku pada cinta pertamaku. Dan ternyata itu memang kau, Hime..." Hinata yang mendengar langsung menjadi kaku. Jadi Naruto yang selama ini ia suka... adalah anak laki-laki yang dulu selalu memanggilnya 'Hime' karena saat itu mereka hanya anak-anak yang belum bisa mengenalkan diri masing-masing. Mereka saling melepas rindu, tak memperdulikan hujan yang mengguyur mereka.

"Hime... Jadi selama ini kau..." Naruto masih terus mengeratkan pelukannya seakan ingin melepas segala rindu pada gadis kecilnya yang selama ini ia cari. Begitupun sebaliknya, gadis dalam pelukannya itu juga memeluknya erat, bahkan hujanpun ikut menangis bahagia atas dua insan yang akhirnya dipertemukan kembali.

.

.

.

Sementara itu di posisi Sakura saat ini, ia masih terus menatap hujan dari jendela ruang mading. Sementara Sasuke masih mondar-mandir tak jelas, membuat Sakura bosan menunggunya buka mulut, "Kau itu mau apa membawaku ke sini?" Sasuke menengok. Terlihat keduanya saling menatap dengan aura benci. Sasuke menghentikan aktifitas mondar-mandirnya dan mulai duduk di kursi sebelah Sakura. "Aku minta maaf soal kemarin," ucap Sasuke penuh sesal, walau dengan susah payah, ia merasa ada segelintir penyesalan karena membuat Sakura semarah itu padanya kemarin. Sakura yang biasanya pemaaf itu malah menaikan sebelah alisnya sambil melipat kedua tangan, "Lalu?"

Sasuke menghela nafas, "Ya, aku menyesal, maafkan aku."

Sakura beranjak dari duduknya dan mengepal erat tangannya, "Kalau hanya ingin minta maaf, seharusnya kau tidak perlu membawaku ke sini 'kan? Di depan tadi bisa, buang-buang waktu saja!" seru Sakura menatap kesal Sasuke, dan Sasuke hanya bisa bersabar menghadapinya. 'Apa sih? Memang apa yang aku harapkan dari ucapan Sasuke-kun?' tanya Sakura dalam hati. Entahlah, apa yang ia harapkan keluar dari mulut Sasuke. Sakura yang sedari tadi melamun, tak sadar jika tangannya sudah digenggam Sasuke.

Sasuke mulai berdiri dan berakal untuk memakai jurus jitu menghadapi Sakura. Sakura mulai tersadar dari lamunannya, tapi terlambat, kedua tangannya sudah dikunci oleh tangan Sasuke. Sasuke mendekatkan wajahnya dengan Sakura, "Memangnya kau ingin aku mengatakan apa selain 'maaf'? Kau ingin aku mengatakan 'Aku mencintaimu'?"

"Cih, bercanda! Berhenti menggodaku, aku muak melihatnya!" Sakura melepas paksa genggaman Sasuke dan... berhasil. Sakura segera menuju pintu sampai langkahnya terhenti mendengar panggilan Sasuke, "Sakura," Tapi selanjutnya Sakura meneruskan langkahnya dan baru ia akan membuka pintu—

"Aku mencintaimu," ucap Sasuke membuat langkah Sakura kembali terhenti. Terlihat raut wajah Sakura yang kaget, mata emeraldnya terbelalak mendengar kalimat Sasuke barusan.

Tsuzuku...

.

.

.

.

.

Cuplikan CHAPTER 5...

"Berhenti mempermainkanku, Uchiha!"

.

"Shikamaru, ayo, kita karate lagi! Bagaimana kalau taruhan lagi?"

Shikamaru memejamkan matanya, kemudian mulai banngun dari posisi tidurannya, diikuti juga Temari, "Boleh saja, taruhannya sama seperti waktu itu, tapi... kali ini bukan hanya seminggu, tapi untuk 'selamanya'."

"Eh?"

.

"Aku tidak mengerti... apakah benar aku mencintai Sasuke-kun...?" tanya Sakura pelan, Hinata yang mendengarnya tersenyum simpul. Jadi ini yang membuat sahabat pinkynya uring-uringan.

.

"Aku tidak akan meminta, biar kau yang melakukannya!" seru lelaki beriris obsidian itu menatap tajam iris jade Sakura, sementara Sakura masih terlihat menunggu kelanjutan bicara Sasuke. Sasuke menarik nafas dalam-dalam, "Peluk aku jika kau mencintaiku."

,-Renai Joujou,-

Jangan serang Mey jika fic ini tidak bagus!*ngumpet di kolong meja* Seperti yang readers baca, mulai chapter ini, akan ada pair nyempil beberapa paragraf, tapi tenang, SasuSakunya masih banyak. :3

Di chap ini selingannya NaruHina, chap depan udah liat 'kan cuplikannya? Yak, ShikaTema!\o/
Walau fic ini tidak bagus, mohon dengan rendah hati, tinggalkanlah jejak kalian di review.

Arigatou buat yang udah review fic ini :

karikazuka

ainiiyenni

Kamikaze Ayy

naomi - azurania

valentina14

Uchiharuno phorepeerr

Qren

Kazuma B'tomat

yhukii chan

Uchiha Hime Is Poetry Celemoet

Review lagi dooong~ (-v-)

R

E

V

I

E

W

?