Halooo, ada yang ingat siapa saya?-All: gatau, loe author abal!- Kalau tidak ingat, saya kasih tau... Jreng-jreng...*ditabok* Saya adalah Haruno Mey!~ XD Penname Mey ganti karena bosen aja ama nama sendiri, hehehe... Kepikiran tomat ceri itu SasuSaku, rasanya asam seperti Sasu dan manis seperti Saku, jadi deh ganti penname ini. (+,+)

Dan... bertemu lagi di chapter fic gaje ini~~-all: sweatdrop- Sepertinya di chapter kemarin banyak yang protes SasuSaku-nya kurang, ya? TAT Gomen, gomen.*sujud-sujud*

Semoga chapter ini lebih baik... Amin. Langsung kita ke TKP#buagh!

Naruto by Masashi Kishimoto

Terinspirasi dari Film Layar Lebar "Ada Apa Dengan Cinta?"

Genre : Friendship, Romance, Drama, Hurt/Comfort.

Warning : AU, OOC(maybe), Typo bertebaran, dan sejenisnya.

Don't Like? Klik BACK, please!

Enjoy..!

,-Renai Joujou,-

Chapter 5 : Don't Leave Me!

Sakura masih berdiam di pintu karena ucapan Sasuke barusan. Apa dia bilang? Lelaki itu mencintai Sakura? Apa itu benar? Apa perkataan sang Uchiha benar adanya? Benar jika ia mencintai Sakura?

Sakura menengok ke arah belakang, melihat wajah lelaki iris onyx di belakangnya. Dapat dilihat Sakura, Sasuke—lelaki itu, iris onyxnya terus menatap tajam Sakura. Sementara iris jade Sakura mencari kebenaran dalam onyx itu atas kata-kata yang keluar dari Sasuke. Perlahan tapi pasti, Sasuke berjalan menghampiri Sakura yang masih mematung di depan pintu. Keduanya masih tak mengalihkan tatapan mereka.

"Kenapa kau diam?" Sasuke mendekati wajahnya dengan Sakura sehingga jarak mereka hanya tinggal beberapa centimeter. Sakura mengernyit, "Kau tidak mengucapkan kata-kata yang harus aku jawab."

"Haruskah aku mengatakan 'Maukah kau jadi kekasihku, nona?'. Seperti itu?"

"Berhenti mempermainkanku, Uchiha!" Sakura mendorong tubuh Sasuke pelan. Wajah Sakura memanas, baru beberapa langkah Sakura berjalan, Sasuke menarik tangan Sakura dan menarik tubuh Sakura ke dalam pelukannya, membuat gadis bermarga Haruno itu terbelalak. "Aku tidak mempermainkanmu!"

'Kenapa jantungku berdegup cepat seperti ini?' batin Sakura masih dalam posisinya didekap Sasuke. Sakura merasakan getaran hebat dalam jantungnya. Sungguh, pelukan kali ini lain dengan saat pelukannya dengan Naruto dulu, pelukan kali ini begitu hangat seakan gadis pink itu merasa nyaman dalam dekapan Uchiha itu. Tapi... ada rasa takut dalam hatinya. Mereka masih diam dalam posisi itu, tiba-tiba Sasuke merasakan panas pada dadanya. Sasuke melepas pelukannya, ia memegang kedua bahu mungil Sakura. Dan betapa kagetnya Sasuke mendapati Sakura yang berwajah menahan tangis. Keduanya saling diam, lama diam seperti itu.

Sasuke menunduk, tangan kanannya ia gunakan untuk memijat pelan pelipisnya. Kemudian ia mulai berjalan keluar, melewati Sakura yang masih terdiam dan tertunduk. Mereka tak saling memandang sampai akhirnya Sasuke mulai menghilang dari ruangan itu. Sakura yang merasakan suara langkah kaki Sasuke sudah tidak ada kini mengangkat wajahnya. Ia usap pelupuk matanya yang basah dengan jari-jarinya. "Jangan lagi... Jangan lagi kau mempermainkanku, Sasuke-kun..." Sakura menggeleng pelan, "Tidak, tidak! Memang kenapa jika Sasuke-kun benar mencintaiku? Baka!" gumam Sakura sambil mengetuk pelan kepala pinknya.

Memang benar. Memang apa yang Sakura harapkan dari Sasuke? Kenapa ia harus menangis? Mungkinkah Sakura mempunyai rasa pada Sasuke? Jika itu terjadi, maka termakanlah ucapannya sendiri untuk tidak mencintai orang seperti Sasuke. Dan mungkin ia harus segera melupakan perasaan itu. Trauma? Tentu saja. Sudah berapa kali Sakura dipermainkan? Oleh Naruto, bahkan ciuman pertamanya yang direnggut oleh Sasuke—yang pastinya tanpa ada rasa cinta. Ya, dengan itu membuat Sakura tidak mudah termakan pernyataan Sasuke barusan. Tapi jika benar Sasuke hanya mempermainkan Sakura lagi, kenapa ada rasa berharap di hati Sakura?

,-Renai Joujou,-

Hari demi hari berganti. Saat ini adalah saat-saat menegangkan untuk murid kelas 3 yang sedang menghadapi ujian akhir. Selama itu pula, Sakura kembali menghindari Sasuke. Ia selalu berfikir betapa bodohnya ia mau dipeluk kemudian ditinggalkan begitu saja. Entah sudah berapa kali Uchiha itu membuat hati gadis Haruno itu menjerit sakit. Sehari setelah kejadian, Sasuke tak mau bertatap wajah dengan Sakura, dan jadilah membuat Sakura benar-benar trauma akan Sasuke. Mulai itu ia terus menghindari Sasuke.

Beberapa hari setelah kejadian pun, entah ada angin apa, Uchiha itu terus mencari dan mencoba berbicara pada Sakura. Tapi terlambat, hati Sakura sudah beku... Sasuke baik, dan kemudian mencampakkannya. Selalu seperti itu. Sakura tak mau jika harus terjerumus ke lubang yang sama, maka dari itulah ia tak pernah mau menatap Sasuke lagi, dan gadis itu juga mengabaikan Sasuke jika memanggilnya di sekolah. Memang sudah wajar. Gadis mana yang tidak sakit jika terus diperlakukan seperti itu, eh?

Kini saatnya jam istirahat, seperti biasa, Sakura dkk memakan bekal mereka di ruang mading. Tapi ada satu anggota yang kurang, ialah Temari. Yang kini tengah asyik tidur-tiduran dengan teman sekaligus mantan pacar seminggunya itu, Shikamaru, di atap sekolah. Karena baru saja Shikamaru mengajari tak tik menyerang saat karate pada Temari, kini mereka sama-sama tidur-tiduran sambil melihat langit dengan posisi kepala yang bersentuhan. Sejak insiden Temari dikalahkan oleh lelaki itu, ia memang jadi sering meminta Shikamaru mengajarinya.

"Haaah... Tak kusangka, kau itu memang pintar karate, Shikamaru." Temari memejamkan matanya, merasakan semilir angin yang menerpa wajahnya. Shikamaru menghela nafas dan tersenyum, "Tentu saja." Jawab lelaki berambut nanas itu singkat. Diam sejenak di antara mereka sampai kemudian Temari memikirkan sesuatu dan mulai bicara.

"Shikamaru, ayo, kita karate lagi! Bagaimana kalau taruhan lagi?"

Shikamaru memejamkan matanya, kemudian mulai bangun dari posisi tidurannya, diikuti juga Temari, "Boleh saja, taruhannya sama seperti waktu itu, tapi... kali ini bukan hanya seminggu, tapi untuk 'selamanya'."

"Eh?"

Shikamaru menyeringai melihat Temari yang sudah memerah. "Gadis galak, kau bisa berwajah manis seperti itu juga ternyata?" Bukannya marah, Temari malah makin memerah, membuat Shikamaru yang melihatnya meneguk ludahnya susah payah. Temari mulai bangun berdiri dan menunduk, membuat Shikamaru tidak bisa melihat wajahnya yang tertutup poni. "Bo-boleh saja..."

Lelaki berambut hitam itu terbelalak mendengar jawaban Temari. Samburat merah mulai memenuhi wajahnya. Shikamaru membuang pandangannya, "Aku serius, bodoh!"

"Aku juga!" Temari mulai mengangkat wajahnya, menatap Shikamaru yang masih duduk. "Aku tau kau lebih hebat dariku... dan... aku tau nantinya aku pasti akan dikalahkan lagi olehmu makanya aku... menerima tantangan itu!" Shikamaru kembali terbelalak atas ucapan gadis berkuncir empat di depannya.

"Aku tidak perduli kau suka atau tidak... tapi aku... Aku menyukai Shikamaru. Sejak kita terus bersama-sama, aku... menyukaimu." Temari kembali menunduk, Shikamaru mulai berdiri dan memandang Temari. Lelaki itu menghela nafas sebentar kemudian tangannya mulai memegang kedua tangan Temari. "Kau fikir untuk apa aku membuat taruhan 'berpacaran untuk selamanya'?" Temari masih tak mau mengangkat wajahnya, Shikamaru kembali bicara, "Aku tidak bercanda. Sejak bersamamu juga aku..." Shikamaru memutuskan ucapannya dan Temari mulai mengangkat wajahnya, "Apa?"

"Hhh... Perempuan itu memang merepotkan! Masa kau tidak mengerti juga?"

'Dugh!' Dan mendaratlah pukulan Temari pada kepala nanas Shikamaru. "Sudah kubilang jangan beda-bedakan laki-laki dan perempuan!" Shikamaru meringis memegangi kepalanya yang memanas. "Aduuuh, kau ini... Iya, maaf..."

"Hmph..." Temari menahan tawa melihat tingkah Shikamaru yang kesakitan. "Hehehe, sakit, ya? Maaf, maaf." Temari memegang kepala Shikamaru, sedetik kemudian Shikamaru menarik tubuh Temari dalam pelukannya.

"Kyaaa! Apa yang kau lakukan?"

Shikamaru menyeringai sambil menatap wajah kesal Temari. "Hei, bagaimana kalau taruhan kali ini, jika aku yang menang, kau harus memberi ciuman pertamamu pada pacar barumu ini?" Temari memukul pelan dada Shikamaru, "Enak saja! Kau kan belum bilang 'cinta' padaku!"

"Hhh... Merepotkan." Shikamaru kembali dipenuhi samburat merah, dan Temari hanya terkikik melihatnya.

,-Renai Joujou,-

Ruang mading...

"Hei, hei, kau itu tau tidak si Sakura-chan itu kenapa? Dari tadi dia melamun saja." bisik Tenten pada Hinata dan Ino yang kini duduk di belakang Sakura yang duduk di depan komputer. Ino yang sedari tadi asyik smsan dengan Sai dan juga Hinata yang sedang membaca novel kini menengok memandang punggung Sakura yang memebelakangi mereka. Komputer menyala, tapi bisa dilihat mereka, Sakura tidak melakukan apapun. Sepertinya melamun.

Ino mengernyit, "Hah? Benar juga kau!" ucap Ino pada Tenten dengan suara pelan. "Sakura-chan terus saja melamun sejak di kelas tadi." Hinata ikut bersuara pelan.

"Benarkah? Aku tidak tahu." tanya Ino dengan polosnya, Tenten menjitak kepala Ino, "Baka! Itu karena kau smsan terus kerjanya!"

"Ah, sudahlah. Sekarang lebih baik kita cari tahu Sakura-chan itu kenapa." Hinata menenangkan kedua sahabatnya yang ribut. Tenten mengangguk pelan, "Ah, Hinata-chan, kau saja yang tanya padanya, ya. Aku mau beli minuman di kantin. Ino, ayo, antar aku!"

Hinata menangguk meng'iya'kan Tenten, dan Ino juga segera bangun dari duduknya untuk mengantar Tenten ke kantin.

Gadis berambut indigo itu mendekati sahabat pinknya. "Sakura-chan?" tanya Hinata memegang bahu Sakura. Sakura yang kaget revleks mengangkat wajahnya, "A-ah, Hinata. Ada apa?"

Hinata memiringkan kepalanya, "Kau kenapa, Sakura-chan? Sejak di kelas tadi... bahkan dari kemarin-kemarin, kau terus melamun. Apa ada yang kau fikirkan?" tanya Hinata dengan nada suaranya yang lemah lembut khasnya. Sakura terdiam. "T-tidak apa Sakura-chan, cerita saja. Aku sendiri sering bercerita padamu dan yang lain jika ada masalah, kan?"

"Hinata..." Sakura tersenyum menatap Hinata. Hinata mulai menarik kursi di sebelah Sakura untuk duduk. Hinata kembali tersenyum, "Apa masalahmu, Sakura-chan?"

Sakura kembali melamun, mengingat kejadian tempo hari saat Sasuke—menyatakan perasaannya. "Sasuke-kun..." Hinata membulatkan matanya mendengar ucapan Sakura. Hinata berfikir, mungkin ini masalah Sasuke. "Sebenarnya saat pulang sekolah seminggu yang lalu... Sasuke-kun..."

Dan Sakura mulai menceritakan semua pada sahabatnya itu. Hinata memandang sedih Sakura yang tertunduk sambil meremas rok seragam sekolahnya. "Aku tidak mengerti... apakah benar aku mencintai Sasuke-kun...?" tanya Sakura pelan, Hinata yang mendengarnya tersenyum simpul. Jadi ini yang membuat sahabat pinkynya uring-uringan. Bukan karena pernyataan Sasuke yang mengejutkan, tapi karena Sakura bingung dengan perasaannya sendiri.

Hinata menggenggam kedua tangan Sakura, "Sakura-chan, saat itu aku pernah mengatakan bagaimana aku bisa jadian dengan Naruto-kun, kan?" Sakura mengangguk. "Perasaan seseorang tidak bisa dibohongi, Sakura-chan. Sama halnya aku dan Naruto... Kami bisa bersatu karena kejujuran perasaan kita," Hinata berucap sambil malu-malu dan kembali melanjutkan ucapannya, "Begitupun denganmu. Kau tidak bisa terus membohongi dirimu hanya karena kau sering dipermainkan."

"Apa maksudmu... aku mencintai Sasuke-kun?" Sakura mengernyit menatap Hinata, Hinata masih tersenyum, "I-itu hanya pendapatku." Hinata melepas genggamannya pada tangan Sakura, "Tapi jika benar... Kau harus mengatakannya pada dia sebelum terlambat, Sakura-chan." Ucapan terakhir Hinata langsung membuat wajah Sakura merah padam, jantungnya juga berdegup cepat. 'Apa benar aku... menyukainya?' tanya Sakura dalam hati. Seminggu sudah Sakura cuek jika bertemu Sasuke, dan menghindari lelaki itu. Sasuke sendiri sejak kejadian seminggu lalu bersikap seperti itu—cuek. Ya, walau setelahnya akhir-akhir ini terus mencoba mendekati Sakura, tapi... Apa benar ia menyukai Sakura?

,-Renai Joujou,-

"Hei, Sasuke!" panggil lelaki blonde jabrig mengejutkan lelaki onyx di sebelahnya yang sedari tadi melamun. "Ish, kau ini mengagetkanku, bodoh!"

"Heee, salah sendiri kau melamun!" bela lelaki iris shapire itu—Naruto. Sasuke mengambil buku puisi terbarunya untuk dibaca, Naruto yang keheranan melihat tingkah Sasuke itu langsung memperhatikannya tajam. Sasuke yang merasa diperhatikan itu mendengus, "Kenapa kau memperhatikanku seperti itu, dobe?"

"Harusnya aku yang bilang seperti itu, teme. Kau ini laki-laki, tapi akhir-akhir ini kau sering melamun. Ujian kita kan sudah akan berakhir hari ini. Jangan-jangan kau..." ucap Naruto berhenti sejenak, membuat Sasuke menaikan alisnya menatap Naruto. "Akhir-akhir ini kau melamun yang jorok-jorok, ya?"

'BLETAK!'

"ITAI!" Naruto meringis setelah jitakan Sasuke sukses terjun di kepala kuningnya. "Baka! Bukannya kau yang biasanya melamun seperti itu?" ucap Sasuke sambil memberi deathglare pada Naruto. Naruto nyengir, "Hahaha... Kau jangan seperti itu, Sasuke." canda Naruto memukul bahu Sasuke pelan, Sasuke mendengus dan kembali membuka bukunya. Bukan membaca, Sasuke melanjutkan lamunannya dan berbicara, "Hei, aku ingin bertanya padamu." Naruto menengok, mendengar kata-kata Sasuke berikutnya.

"Ini mengenai... Sakura."

,-Renai Joujou,-

.

.

.

"Huaaah... Aku berdebar-debar!" ucap gadis berambut blonde berkuncir kuda itu pada para sahabat-sahabatnya. Mereka semua terlihat tegang masih sambil berjalan mendekati mading. Walau mereka pengurus mading, tapi kali ini guru yang mengurusnya karena menyangkut kelulusan. Yap, setelah selesai ujian dua hari lalu, kini pengumuman kelulusan akan diumumkan di mading. Kelima gadis cantik itu akhirnya sampai di depan mading yang penuh dengan murid-murid kelas 3. "Permisi," kata Sakura sambil terus maju ke kerumunan orang di sana, sampai akhirnya mereka sampai dan mulai mencari nomor peserta mereka masing-masing. Rasa berdebar makin menggila.

Bingo!

Mereka dapat dan saling menatap satu sama lain sambil sama-sama tersenyum. Mereka berlima mulai mundur dari kerumunan orang dan berlari bergembira, "YEAAAH!" sorak mereka bahagia. Benar, mereka semua lulus dengan nilai sempurna, dan lagi, Sakura kembali mendapat peringkat tertinggi tahun ini. Mereka saling berpelukan saking senangnya, begitupun murid-murid lain yang juga bahagia karena nomor mereka berhasil keluar, berhasil untuk meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan ada juga tangis untuk murid yang tidak ada nomornya di sana, tidak berhasil menamatkan sekolah SMU-nya.

"Bagaimana kalau kita ke café Minorane untuk merayakan?" ucap Tenten, yang lain hanya mengangguk masih bersemangat. Setelah selesai bicara, bel berbunyi, menandakan upacara kelulusan segera dimulai. Mereka segera berjalan bersama menuju lapangan upacara masih sambil bersorak sorai.

Baru mereka sampai setengah jalan, di dekat koridor sudah berdiri Naruto, membuat semuanya berhenti. Mereka menatap Hinata dengan wajah menggoda, Naruto tersenyum pada Hinata, "Hai." sapa Naruto pada kekasihnya itu. Hinata hanya tersipu malu, keempat sekawannya hanya tersenyum menggoda.

Naruto diam sebentar dan langsung beralih menatap Sakura, "Aaa, Sakura-chan, kebetulan sekali!" Naruto langsung menyeruak menghampiri gadis pink di sana. Sakura menaikkan sebelah alisnya, "Ada apa?"

"Hm, kalau bisa, aku ingin bicara berdua denganmu."

"Oh, baiklah. Hinata, aku pinjam Naruto sebentar, ya." ucap Sakura mengedipkan sebelah matanya, membuat wajah Hinata makin memerah.

.

.

.

Sakura dan Naruto tak jauh dari koridor tadi, kini Naruto masih diam tak memulai pembicaraan. "Naruto, cepatlah! upacara sudah mau mulai!" gusar Sakura, Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Sakura-chan, aku sulit mengatakan ini, tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Apa?"

"Hm... Apa kau menyukai Sasuke?" Pertanyaan Naruto sukses membuat mata Sakura membulat sempurna, matanya menyipit menatap Naruto, "Kau menyuruhku bicara berdua hanya untuk menanyakan ini? Tidak pent—"

"Ini penting, Sakura-chan! Sasuke akan ke Oto besok untuk kembali bersama Tou-channya dan melanjutkan kuliahnya." Naruto balik menatap tajam Sakura yang kini memasang wajah terkejut. Entah apa yang ada dalam fikirannya, otaknya tiba-tiba merasa pusing, tenggorokannya juga terasa kering, juga dadanya yang merasakan ada sesak. Apa itu? Tapi jauh di lubuk hatinya, bibir gadis pink itu berkata lain. Sesegera mungkin ia mengubah wajahnya menjadi datar, kemudian mulai tersenyum sinis.

Sakura melipat kedua tangannya, "Kau itu dibayar berapa oleh Sasuke-kun sampai mau berpura-pura bohong seperti itu?"

"Aku tidak berbohong padamu, Sakura-chan!"

Sakura membalikan badannya membelakangi Naruto, "Katakan padanya, aku sudah tidak perduli!". Baru selangkah Sakura berjalan, Naruto berucap, "Tapi Sasuke perduli padamu! Dia mencinta—"

"Jangan katakan itu, Naruto. Cukup! Jika dia mencintaiku..." Sakura menggigit pelan bibir bawahnya, "Aku bukan orang bodoh! Jika dia mencintaiku, harusnya dia yang bicara tentang ini, kan?"

"Itu karena kau tidak memberinya kesempatan untuk bicara padamu!" Naruto tak mau kalah membela sahabatnya. Memang benar adanya, setiap Sasuke ingin bicara pada Sakura selalu saja Sakura menghindar, tak memberi Sasuke untuk mengucapkan sepatah kata pun. Tapi harus dikata apa, Sakura sangat trauma karena Sasuke sendiri.

Sakura diam, mengacuhkan ucapan Naruto dan kembali berjalan menjauhinya. Dalam berjalan menuju lapangan, Sakura terus menggigit bibir bawahnya, rasa asin begitu terasa dalam mulutnya. Ia menahan tangis. Kenapa hatinya masih tak mau terbuka? Ini membingungkan, membuat gadis itu gelisah. Bukankah sudah jelas perasaannya pada Sasuke apa? Walau dalam waktu singkat ia menyukai Sasuke, tapi dirinya masih tak mau mengikuti kata hatinya, hanya karena rasa takut.

Takut jika ia dikecewakan lagi, takut jika Sasuke kembali mempermainkannya, takut jika nantinya ia akan malu jika sudah jatuh cinta pada Sasuke yang hanya main-main. Padahal gadis itu belum tahu apa perasaan Sasuke—Ah, ralat. Ia tahu, tapi pura-pura tidak tahu dan tidak mau tahu.

,-Renai Joujou,-

Waktu di Kota itu sudah menunjukkan pukul 22:10. Sudah cukup malam bukan? Tetapi gadis bermata emerald di sana masih belum melangkah untuk ke ranjang tidurnya untuk istirahat, ia masih terus duduk di meja belajarnya sambil membaca buku komik untuk meredam bosannya malam ini. Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu hari kelulusan. Jadi Sakura tidak membaca buku pelajaran, hanya membaca komik. Tapi sepertinya ia sudah selesai, bisa dilihat dari tangannya yang menutup bukunya dan menaruhnya ke rak buku.

Sakura mangambil ponselnya yang sedari tadi ia taruh di sampingnya. Sakura mengernyit melihat layar ponselnya yang penuh dengan panggilan tak terjawab dan pesan singkat. Segera ia buka siapa yang tadi menelpon dan smsnya karena tadi ia baca komik selama satu jam dengan ponselnya yang di'silent'.

3 Missed Call : Sasuke-kun (3)

5 New Massage : Tenten (1), Sasuke-kun (4)

"Sasuke-kun?" gumam Sakura. Ia mulai membuka pesan singkatnya satu persatu.

From: Tenten (Today, 20:59)
Subyek: Gosip!

Temari jadian sm Shikamaru! o.o
Besok hari kelulusan, have fun for tommorow! ;)

From: Sasuke-kun (Today, 21:27)
Subyek: No Subyek

Hn...

From: Sasuke-kun (Today, 21:45)
Subyek: No Subyek

Knp tdk dibalas? Kau sedang apa?

From: Sasuke-kun (Today, 21:58)
Subyek: Maaf

Apa kau msh marah dgnku? Boleh aku menelponmu? Aku ingin mnta maaf.
Maafkan aku, ya, jika pernyataanku tempo hari membuatmu marah...
Tapi sungguh, aku sungguh mencintaimu, Sakura. Aku bersumpah!

Jantung Sakura mulai berdegup kencang membaca pesan-pesan singkat dari Sasuke. Dan Sakura melanjutkan membuka pesan singkat terakhirnya.

From: Sasuke-kun (Today, 21:07)
Subyek: Sayonara

Besok aku tdk ke sekolah utk acara kelulusan.
Krn bsk siang nanti aku akan ke Oto.
Omedetou, kau menjadi murid berprestasi lg thn ini, hebat.
Selamat tinggal, Sakura. Semoga kita bisa bertemu lagi di suatu tmpt.
Aku mencintaimu...

'Dheg'

Sakura membulatkan matanya membaca kalimat-kalimat dalam pesan singkat dari Sasuke itu. Jadi apa yang dikatakan Naruto itu benar? Benar jika Sasuke akan meninggalkan Kota ini? Sungguh demi apapun, Sakura mengutuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tidak mempercayai Naruto? Sungguh, ada perasaan yang begitu perih dalam hati gadis pink itu. Dan Sakura sadari... Itu adalah perasaan—cinta. Selama Sakura menghindari Sasuke, Sasuke tak pernah kirim sms ataupun telepon, tapi sekarang...

Dan malam ini... Sakura hanya memikirkan sosok pemuda onyx itu. "Sasuke-kun..." Dan hanya nama itu... yang terus digumamkan Sakura sepanjang malam.

,-Renai Joujou,-

"...ra! Hoi, Sakura!" Sakura tersadar dari lamunannya. Kini ia dan para kawannya sedang duduk di ruang mading untuk mengambil barang-barang mereka yang ada di sana karena nantinya ruangan ini akan menjadi ruangan adik-adik kelas mereka. "I-iya, apa?"

Keempat sekawannya saling bertatapan, lalu kembali memandang Sakura. "Kau itu kenapa sih, Saku?" tanya Ino keheranan. Sakura yang ditanya bukan menjawab tapi malah menunduk, bibirnya juga bergetar. Semua yang di sana terkejut melihat ekspresi Sakura. "Sakura, kau kenapa? Hei!" Temari ikut buka mulut.

Hening sejenak.

"Hiks... Huhuhu... hiks..."

"Sakura-chan," Hinata ikut buka mulut, keempat temannya menghentikan aktifitas mengemas perabot sekolah mereka, kini keempatnya mencoba menenangkan Sakura yang tiba-tiba menangis itu. Hinata yang mengingat cerita Sakura tempo hari tentang Sasuke itu, ia langsung memegang bahu Sakura. "Sakura-chan, a-apa ini ada hubungannya dengan Sasuke?"

"Hah? Sasuke?" Tenten mengernyit, "Apa itu benar?" lanjut Tenten masih sambil menatap Sakura. Gadis bermata jade itu masih terisak. "Aku... hiks... Aku mencintai... Sasuke-kun... Aku..." ucap Sakura terputus-putus karena isak tangisnya. Ino mengangkat paksa wajah Sakura dengan wajah kesal, "Hei, bodoh! Mana Sakura yang dulu kami kenal ceria? Kenapa akhir-akhir ini kau tidak mau jujur hanya karena Uchiha itu? Apa sulitnya kau bicara kalau kau mencintainya, Sakura...?" Ino menatap tajam jade Sakura, mukanya memerah menahan tangis karena melihat sahabat pinknya itu menangis—karena Sasuke.

Sakura balik menatap iris aquamarine Ino, "Aku takut... Aku takut jika nantinya aku akan dikecewakan lagi olehnya... Aku takut... hiks..." Ino memeluk Sakura, wajahnya juga masih menahan tangis, "Kami tidak akan merasa kecewa selama kebahagiaan itu kau dapatkan... Justru kami bahagia jika kau bahagia. Biasanya kau adalah sosok penyemangat, kan? Sekarang kami yang akan menyemangatimu..."

"Iya, Ino benar, Sakura." ucap Temari. Sakura masih tak mau berhenti menangis dalam pelukan Ino, fikirannya masih terbayang-bayang akan sosok itu. Sosok lelaki Uchiha yang membuatnya jatuh cinta.

"Sasuke-kun... Dia bilang dia... akan pergi siang ini..."

Ucapan Sakura membuat semuanya terkejut, termasuk Ino yang langsung melepas pelukannya dan menatap Sakura. "Pergi?" tanya Ino mewakili semuanya, Sakura hanya mengangguk. Sakura menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Aku sudah terlambat..."

"Sakura-chan, kau belum terlambat!" Tiba-tiba sebuah suara datang dari pintu ruangan, semuanya menengok ke arah sumber suara. Di sana terlihat sosok lelaki berambut blonde dengan memasang wajah senyuman khasnya. Ialah kekasih Hinata, Naruto. "Pesawat Sasuke akan berangkat jam 12 tepat, jika kau cepat, kau belum terlambat!" seru Naruto menatap Sakura yang kini juga menatap Naruto dengan masih berlinang air mata.

Tenten melihat arloji di pergelangan tangannya, kini sudah pukul 11:40. Gadis bercepol dua itu langsung mengambil tas gendong yang ada di meja sebelahnya dengan cepat, "Kalian, cepatlah ambil tas! Ayo, kita segera ke Bandara!" Ino mengernyit setelah melihat arloji pada jam tangannya, "Kau gila? Perjalanan ke Bandara itu butuh waktu 30 menit!"

"Sudahlah, kita pasti bisa!" ucap Tenten, Temari mengangguk pelan, dan semua yang ada di sana segera mengambil tas mereka masing-masing, terkecuali Naruto yang sudah siap. "Apa muat mobilmu untuk dinaiki enam orang, Tenten?" tanya Naruto. "Sudah jangan banyak tanya, ayo!" Temari langsung menarik tangan Sakura dan mulai keluar dari ruangan itu.

.

.

.

"Naruto, arigatou..." ucap Sakura lirih, Naruto memiringkan kepalanya, "Untuk apa?"

"Maaf karena tak mendengarkanmu soal Sasuke ingin pergi. Terima kasih, ya, kau memang baik. Kalian juga." Semua yang ada di dalam mobil itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Sakura. "Oke, AYO, NGEBUUUT!" ucap Tenten yang langsung menaikan kecepatan mobilnya. Naruto langsung terbelalak, "WAAA! Jangan! Aku ini mabuk kendaraan!"

.

.

.

Setelah akhirnya sampai, Hinata menemani Naruto di depan Bandara karena muntah mabuk kendaraan. Dan Sakura juga Ino, Temari, dan Tenten masuk ke dalam. Mereka terus mencari-cari sosok lelaki berambut hitam legam itu. Temari melihat jam tangannya, pukul 11:56, harusnya masih ada. Mereka terus mencari, sampai akhirnya iris aquamarine Ino menangkap sosok itu. Sosok lelaki berambut raven yang mengenakan t-shirt biru donker dan celana jeans hitam panjang sambil menarik koper hitam.

"Hei! Itu dia!" seru Ino sambil menunjuk sosok yang dimaksudnya itu. Sakura kembali menangis, ia mulai berlari mendahului Tenten, Temari, dan Ino untuk menghampiri sosok itu. Tidak salah lagi, Sakura mengenal baik Sasuke.

'Drap, drap, drap' suara berlari Sakura yang terdengar nyaring itu membuat sosok onyx itu menengokkan kepalanya, matanya langsung membulat mendapati sosok pink yang sudah lama ia rindukan itu. Sakura berhenti tepat di depan Sasuke, ia mulai mengusap air matanya. Walau nafasnya masih terengah-engah, ia berusaha untuk berbicara. "Kau mau... kemana? Hhh... Jangan tinggalkan... aku..."

Sasuke rasanya ingin sekali melompat kegirangan karena ucapan Sakura, tapi itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang Uchiha, kan. Ia tersenyum menatap Sakura, "Apa kau masih belum percaya dengan pernyataan cintaku?"

Sakura menggeleng, dengan matanya yang masih basah ia tersenyum, "Kau itu sukanya memepermainkan aku." Sakura menunduk, tidak mau Sasuke melihat wajahnya yang menangis. "Tapi untuk kali ini masa bodoh... Kau mau main-main atau tidak aku tidak perduli... Aku... Suka... Hiks..."

Sasuke mengepalkan tangannya, kesal pada dirinya sendiri. Apa yang telah ia lakukan? Ia sadar kelakuannya itu telah melukai gadis ini. Gadis yang ia cintai... "Jika aku belum boleh meminta cintamu, biarkan kau memilihku dulu. Agar aku tahu... apa perasaanmu." Sakura mengangkat wajahnya, menatap dalam iris onyx Sasuke.

"Aku tidak akan meminta, biar kau yang melakukannya!" seru lelaki beriris obsidian itu menatap tajam iris jade Sakura, sementara Sakura masih terlihat menunggu kelanjutan bicara Sasuke. Sasuke menarik nafas dalam-dalam, "Peluk aku jika kau mencintaiku."

"Hiks..." Sakura makin terisak, dan tak dapat ia tahan lagi, tubuhnya mengikuti arah hatinya. Ia memajukan tubuhnya mendekati Sasuke dengan cepat, kemudian mulai memeluk Sasuke. Biarkan... Biarkan mulai sekarang Sasuke tahu apa perasaan Sakura. Ino, Tenten, dan Temari saling bersorak sorai, semua orang di sekitar memperhatikan kedua insan itu. Sakura menenggelamkan wajahnya dalam dada bidang Sasuke, "Kenapa kau tidak bilang jika kau mau pergi...?"

"Hmph..." Sakura mengangkat wajahnya mendengar suara Sasuke yang menahan tawa. Sepertinya ada yang tidak beres. Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sakura, "Tak kusangka ternyata rencana ini berjalan lancar,"

"Rencana? Kau membohongiku lagi?" Sakura bersiap untuk melepas pelukannya, tapi Sasuke menahannya. "Tidak, bukan membohongimu. Aku dan Naruto sudah merencanakan bilang padamu akan ke Oto, dan sebenarnya aku di sini hanya untuk menjemput Tou-san."

Sakura memukul pelan dada Sasuke, "Kau... Jahat sekali!" Sasuke memegang kedua tangan Sakura yang memukul-mukul dadanya itu, senyum tersimpul di wajah Sasuke, "Sakura, aku berbuat seperti ini karena ingin mengetahui perasaanmu, apa itu salah?". Sakura masih mengerucutkan bibirnya, tapi wajah bersalah Sasuke membuatnya tersenyum. "Jadi itu koper Tou-san-mu?"

"Hn."

"Kemana Tou-san-mu?"

"Itu dia, di belakangmu." Sakura menengok, tengah berdiri sosok pria gagah tersenyum padanya. Sakura langsung melepas tubuhnya dari Sasuke dan membungkuk memberi hormat. "Konichiwa!"

"Hm, gadis baik, tidak apa-apa, Sasuke yang memintaku untuk menjauh darinya sebentar sebelum gadis yang ia bilang itu datang. Sasuke, pilihanmu bagus juga, dia cantik." ucap pria itu. Sakura dan Sasuke blushing, ketiga sekawan Sakura terikikik pelan. Jadi Sasuke tadi meminta ayahnya untuk menjauh darinya sebentar agar ia terlihat seperti orang yang hendak keluar kota. Uchiha bisa merencanakan dengan detail juga ternyata. Ayah Sasuke memandang lembut Sakura, "Siapa namamu, nak?"

"Namaku Sakura Haruno." Sakura kembali membungkuk. Ayah dari Sasuke itu masih tersenyum, "Nama yang cocok denganmu. Baiklah, Sasuke. Ayo, kita pulang." Sasuke mendengus, "Huh, aku tahu Tou-san rindu pada Kaa-san."

"Sasuke!" Ayahnya yang bernama Fugaku itu mendeathglare putera bungsunya itu, Sakura tertawa kecil. Kemudian Sasuke mulai menggandeng tangan Sakura, "Ayo, kita keluar."

"Aku naik mobil Tenten, kau?" tanya Sakura basa-basi karena salah tingkah digandeng Sasuke. "Aku naik taksi." Ah, Sasuke memang irit bicara. Sakura menunduk sebentar kemudian menatap Sasuke kambali, "Sasuke-kun,"

"Hn?"

"Kau tidak mempermainkan aku lagi, kan?" tanya Sakura malu-malu. Sasuke tersenyum tipis, tangannya mengusap lembut puncak kepala Sakura. "Untuk apa aku susah-susah membuat rencana seperti ini jika hanya untuk main-main?" Dan Sakura hanya tersenyum lebar mendengar jawaban Sasuke. Tenang dulu, mereka saling suka, tapi belum menjadi sepasang kekasih. Tidak mungkin Sasuke menyatakan cinta di keramaian begini, kan? Masih banyak tempat romantis untuk di jadikan momen mereka, apalagi sekarang ini ada ayah Sasuke.

"Cieee... Sepertinya catatan yang dibuat Sakura tentang Sasuke harus kita hapus, nih." celetuk Tenten menggoda Sakura yang ada di sebelah kanannya. Fugaku yang berada di pojok kanan menengok menatap Tenten, "Catatan?"

"Hahaha... Iya, Ji-san, Sakura dan Sasuke tadinya itu adalah musuh!" Ino ikut-ikutan menggoda, sedangkan Sakura sudah berancang-ancang memberi deathglare pada sahabat-sahabatnya itu. Fugaku tersenyum tipis melihat tingkah gadis-gadis yang baru lulus SMU itu, sedangkan Sasuke memilih untuk diam. Mereka pun berjalan bersama keluar dari Bandara. Setelah selesai menunggu Sasuke menaiki taksi, Sakura, Ino, Temari, dan Tenten memasuki mobil dan tancap gas.

"Hei, sepertinya ada yang terlupakan!" ucap Tenten sambil menyetir. Ino dan Sakura yang duduk di belakang saling berpandangan, sepertinya mereka tertular 'tulalit'nya Tenten. "HINATA DAN NARUTO... TERTINGGAL DI BANDARA!"

.

Di sisi lain...

"HEEE? Seenaknya saja mereka meninggalkan kita!"

"Na-Naruto-kun, itu karena kau muntah-muntah terus..."

"Maafkan aku, ya, Hinata..." sesal Naruto. Dan kini waktunya sepasang kekasih itu kebingungan mencari angkutan untuk pulang karena uang saku mereka yang pas-pasan.

Tsuzuku...

.

.

.

.

.

Cuplikan CHAPTER 6...

"Kau bisa memasak, Sakura?"

"Bisa! Masak mie instan!" jawab Sakura dengan wajah innocent. GUBRAK! Jawaban Sakura membuat Uchiha bungsu itu pingsan dengan tidak elitnya.

.

"Aku mau bekerja saja bersamamu! Agar aku..."

"Agar kau bertemu dengan Neji-nii, ya?"

.

"Sasuke-kun, kau ini tidak peka sekali!" ucap Sakura entah pada siapa.

.

"Kalau begitu tinggal katakan, apa yang kau inginkan, bodoh!"

"Seenaknya mengataiku bodoh!"

Sasuke mendengus, "Baik, maaf! Kalau begitu apa maumu?" Sepertinya kesabaran keduanya sama habisnya, emosi mereka saling meledak-ledak. Sakura menghentakkan kakinya, "Sasuke-kun..."

"Apa?"

"CIUM AKU!"

,-Renai Joujou,-

Masih ada kekurangan? Tidak memuaskan? Maklumkan saja...*pundung* (-w-)v Nah, kalau di chapter depan, SasuSakunya udah bersatu, tinggal ikuti kisah cintanya, hohohoho#bletak!

Chapter ini memang pendek karena idenya mentok di sini, jadi gomen ne... :3 Buat yang nunggu fic DKGWK, maaf, mungkin Mey akan update sedikit lama karena akhir-akhir ini sering mentok ide, kayak fic ini contohnya. (lll_ _)a Biar ide mandek, Mey tetep usahain update secepatnya! XD/

Arigatou buat yang udah review fic ini :

karikazuka

ainiiyenni

Kamikaze Ayy

Naomi azurania belle

valentina14

Uchiharuno phorepeerr

Qren

Kazuma B'tomat

yhukii chan

Uchiha Hime Is Poetry Celemoet

DEVIL'D

Liska-chan Uchiha Yuka

MemelSasusakuLove

maya

Silent reader

Yacchan

Review lagi dooong~ (-v-)

R

E

V

I

E

W

?