Maafkan Mey atas keterlambatan Mey update fic ini.-ga ada yang nunggu-
Oke, langsung aja deh. :)
Naruto by Masashi Kishimoto
Terinspirasi dari Film Layar Lebar "Ada Apa Dengan Cinta?"
Genre : Friendship, Romance, Drama, Hurt/Comfort.
Warning : AU, OOC(maybe), Typo bertebaran, dan sejenisnya.
Don't Like? Klik BACK, please!
Enjoy..!
,-Renai Joujou,-
Chapter 6 : Kiss Me!
Matahari begitu terik di siang hari ini. Kira-kira begitulah yang dirasakan oleh kedua insan yang sedang duduk di taman. Yang makin bertambah panas adalah perasaan gadis berambut gulali itu. Ia merasa lebih panas karena gerah bersama lelaki yang sedari tadi hanya diam duduk di sebelahnya. Padahal dia yang mengajak gadis itu ke taman tengah hari seperti ini, tapi setelah gadis itu sampai justru lelaki itu hanya menyuruhnya duduk di sebelahnya dan diam. Dan posisi seperti ini telah berlangsung selama 10 menit.
Sakura yang mulai gelisah dengan posisinya mulai kehilangan kesabaran. "Sa. Su. Ke. Kun.," Sakura menarik nafas dalam-dalam, "apa yang mau kau bicarakan...?"
Sasuke melirik Sakura. Terlihat sepertinya lelaki rambut emo itu juga sudah terlihat gelisah. Sasuke pun membuka mulut, "Sakura,"
"APA?" Sakura berteriak menengok ke arah Sasuke dengan deathglarenya, membuat Sasuke revleks memundurkan dirinya. "S-Sakura," ulang Sasuke memasang senyum ketakutan melihat ekspresi Sakura yang seram. Sasuke segera memegang bahu Sakura, membuatnya tenang sekejap.
"S-Sebenarnya di rumahku..."
Sakura pun mendengarkan ucapan Sasuke yang sepertinya serius itu. Sasuke memandang lekat jade Sakura, "Dirumahku sedang tidak ada orang. Keluargaku sedang reuni dengan teman SMA angkatan mereka. Pembantu rumahku semuanya ikut bersama Itachi-nii untuk mendata keluarga mereka," Sasuke memberi jeda cukup lama, membuat Sakura memiringkan kepalanya. Dengan ragu Sasuke melanjutkan ucapannya, "Aku butuh bantuanmu."
"Membantumu? Menemanimu di rumah?" tanya Sakura. Sasuke menggeleng dan langsung to the point.
"Kau bisa memasak, Sakura?"
"Bisa! Masak mie instan!" jawab Sakura dengan wajah innocent. GUBRAK! Jawaban Sakura membuat Uchiha bungsu itu pingsan dengan tidak elitnya.
"HEEE~? Sasuke-kun? SASUKE-KUN? WAAAA!"
,-Renai Joujou,-
"G-gomen ne, Sasuke-kun. Padahal kau mengajakku untuk memasakkan makanan untukmu, tapi..."
"Tidak apa-apa. Aku juga tidak bisa makan sendirian, kau tahu?" ucap Sasuke sambil menuang sayur tumis yang baru ia masak. Ya, walau sederhana, Sasuke itu bisa memasak. Jangan ditanya, dia sering sendiri di rumah sehingga mewajibkan Sasuke harus bisa merawat dirinya sendiri. Lalu kenapa tadi dia bilang tidak bisa makan sendirian? Heh, dasar Uchiha gengsi. Sebenarnya ingin ditemani, eh?
Kedua insan itupun mulai keluar dari dapur, membawa makanan-makanan yang dibuat mereka—err... Ralat, dibuat Sasuke. Makanan pun disediakan di atas meja. Di meja itu terdapat nasi yang masih panas, dua telur mata sapi, dan sayur tumis yang penuh dengan irisan tomat, kemudian air putih. Sakura dan Sasuke pun duduk berhadap-hadapan. Sasuke mengisyaratkan Sakura dengan matanya agar Sakura menyendok nasinya terlebih dahulu, "Makanlah." katanya.
Sakura menggeleng cepat, "Ah, kau duluan. Aaa... Biar aku ambilkan untukmu!" Tanpa menunggu jawaban, Sakura mengambil mangkuk dan menyedok nasi untuk Sasuke, sementara Sasuke terus memperhatikan Sakura yang terlihat seperti seorang isteri yang menyendokkan nasi untuk suaminya. Sungguh terlihat seperti sepasang pengantin baru yang sederhana nan hangat.
Sakura yang merasa diperhatikan itu langsung menengok sambil memberikan mangkuk Sasuke yang sudah berisi nasi. "Ini," ucap Sakura dan Sasuke menerimanya. "Kenapa memperhatikanku begitu?" tanya Sakura malu-malu.
"Tidak." Sasuke pun menggeleng pelan salah tingkah dan mulai mengambil sumpitnya. Sakura mulai menyendok nasinya sambil terus menatap Sasuke. "Itadakimasu." ucap Sasuke pelan mulai makan, disusul Sakura ikut mengucapkan selamat makan dan juga mulai melahap makanannya.
Gadis pinky itu masih memperhatikan Sasuke. Tiba-tiba senyum terukir di wajah manisnya, membuat Sasuke yang melihatnya sweatdrop. "Kenapa kau ini, senyum-senyum tak jelas seperti itu?" tanya Sasuke.
"Kau tahu, kalau seperti itu kau terlihat manis dari biasanya."
"Manis?"
Sakura lanjut bicara tanpa mendengar gumaman Sasuke. "Bukankah kita terlihat seperti suami-isteri yang baru saja menikah, Sasuke-kun?"
"Ohok, ohok, ohok." Akibat ucapan Sakura yang terlihat begitu polos itupun membuat Sasuke tersedak. Sakura pun berdiri dan panik, "K-kau kenapa, Sasuke-kun?"
Dan sungguh, seorang Uchiha Sasuke, untuk hari ini mengutuk dirinya sendiri karena salah tingkahnya yang kelewat hanya karena tingkah kekasihnya yang kelewat polos.
,-Renai Joujou,-
Di pinggir jalan raya, terlihat kedua gadis cantik yang sedang berjalan membawa beberapa belanjaan toserba sambil berbincang-bincang. "Bagaimana keadaan Kaa-san-mu, Hinata-chan?" tanya gadis bercepol dua itu pada gadis beriris lavender di sebelahnya.
"Sudah membaik, bahkan lebih ceria dari biasanya. Aku senang." jawab gadis itu ceria. Tenten ikut tersenyum melihat keceriaan gadis itu, "Aku juga senang, kau juga sudah lebih ceria."
Lama mereka diam, Tenten kembali buka suara. "Hm... Hinata-chan. Ada sesuaatu... Yang ingin aku katakan." ucap Tenten sambil memandang lurus trotoar jalan. Sementara Hinata melirik Tenten, "Apa?"
"A-aku... Sudah memutuskan ini dengan matang, dan orangtuaku juga mengizinkannya. Hinata-chan, kalau boleh..." Tenten menelan ludahnya dengan susah payah.
"Aku mau bekerja saja bersamamu! Agar aku..."
"Agar kau bertemu dengan Neji-nii, ya?" goda Hinata tersenyum, membuat Tenten blushing. "Bu-bukan! Aku memang ingin bekerja!"
"Tidak apa-apa, jujur saja."
"Hinata-chan, kenapa kau jadi suka menggoda seperti ini? Apa otakmu sudah terkontraminasi otak Naruto? HUH!"
Hinata masih tertawa pelan, kemudian merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Ia cari kontak nama dan menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan pada nomor yang ia tuju. Tenten memperhatikannya. Tak berapa lama kemudian, bisa ditebak di seberang sana telah mengangkat panggilan dari Hinata.
"Naruto-kun, kau ada di mana sekarang?" tanya Hinata pada orang di seberang telepon, sementara Tenten hanya mendengarkan Hinata yang sedang berbicara di telepon dengan pacarnya itu. "Baiklah, aku ke sana sekarang." Sambungan pun diputus Hinata.
"Eh, Hinata-chan, kau mau ke mana?" tanya Tenten mulai was-was. Yang benar saja, tadi dia mendengar Hinata seperti akan menemui Naruto, sedangkan kini mereka sedang berdua, kan? Hinata tersenyum, "Tentu saja kau ikut."
Tenten menggeleng cepat, "Ah, tidak-tidak! Aku tidak mau mengganggu acaramu!" Hinata terkikik mendengar seruan Tenten. "Bukan kencan. Lagipula... Aku mengajakmu belanja ke toserba karena ingin mengajakmu berkumpul." Kata Hinata menjelaskan. Pantas saja hari ini tiba-tiba dia menelepon Tenten untuk menemaninya belanja ke toserba, ditambah lagi dia membeli banyak makanan ringan. Awalnya Tenten fikir makanan ringan ini untuk camilan Hinata, tapi sepertinya kini ia tahu makanan ini ternyata untuk acara kumpul-kumpul?
Apa? Kumpul-kumpul? Berarti bukan hanya ada Naruto saja, kan? Jadi siapa lagi? Tenten tak fikir panjang, mungkin itu teman-teman Naruto dari sekolah atau di rumah. Dengan senang hati Tenten menerimanya. "Baiklah, aku ikut!" seru Tenten ceria.
Hinata dan Tenten berhenti di trotoar yang sangat terik matahari di sana. Hinata melihat ke kanan dan kiri jalan raya, diikuti oleh Tenten. Mereka mencari taksi. Karena di kota ini sangat mudah kendaraan, tak menunggu waktu lama, taksi pun akhirnya datang. Hinata memberhentikan taksi tersebut. Setelah taksi berwarna oranye itu berhenti di pinggir trotoar tempat mereka berdiri, mereka pun segera masuk ke dalam taksi.
Setelah duduk, pengendara taksi itu seperti biasa, menanyakan tujuan. "Konichiwa. Mau ke mana, nona?" tanya sopir itu dengan ramah.
"Hakasita café." jawab Hinata. Tenten mengernyit dan menengok ke arah Hinata, "Kita tidak ke café biasa?" tanya Tenten keheranan. Karena biasanya mereka selalu datang ke tempat yang sama. Gadis yang memakai t-shirt abu-abu itu hanya tersenyum, "Yang mengajak itu bukan aku, Tenten."
"Ahaha... Iya, ya." Gadis dengan kemeja kotak-kotak cokelat itu hanya cengengesan.
,-Renai Joujou,-
Terlihat seorang gadis yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Mencuci piring. Dengan raut wajah yang masam, dia terus melanjutkan membilas piring dan mangkuk yang sudah ia bersihkan dengan sabun cuci piring. Matanya melirik sebentar dengan tatapan horor ke arah ruang tv yang bisa terlihat dari dapur. Melirik lelaki yang duduk di sofa menghadap membelakanginya. Kini lelaki itu tengah berkutat dengan laptopnya.
Bukan karena gadis itu mengerjakan tugas cuci piring, tapi karena kejadian barusan...
Sakura menumpukkan piring-piring dan mangkuk-mangkuk kotor yang baru saja mereka gunakan untuk makan siang. Setelah semua telah dibereskan, Sakura mengangkat nampan yang terdapat piring-piring kotor barusan untuk membawanya ke wastafle. Tapi baru beberapa langkah gadis yang mengenakan baju santai itu terpeleset.
"UWAAA!"
Sakura yang sedari tadi menutup matanya merasakan tubuhnya tidak merasakan penturan pada kepala dan tubuhnya ataupun suara beling-beling yang berjatuhan. Ia langsung membuka matanya. Dan ternyata sosok Uchiha bungsu yang menopang tubuhnya yang akan jatuh ke menjengkang ke belakang itu. Mata Sakura membulat, "Sa-Sasuke-kun!"
"Kau tidak apa-apa?"
"I-iya..." Mendadak Sakura gugup bak Hinata yang ingin dicium Naruto-heh?-. Tiba-tiba jantung Sakura begitu berdegup cepat karena menatap onyx Sasuke yang begitu tajam bak elang. Tatapan yang mampu membuatnya selalu seperti ini. Sasuke yang berekspresi datar itu sedikit demi sedikit mendekati wajah Sakura, membuat darah Sakura makin berdesir kencang.
Semakin dekat, dekat hingga membuat deru nafas mereka saling menyatu, obsidian dan jade bersatu. Dan hingga membuat jade itu tertutup, berfirasat akan ada sentuhan...
"Kau itu kalau memakai eyeliner harus teliti. Lihat, itu berantakan." ucap Sasuke membuat backsound suasana romantis menjadi kaset kusut. Sakura akhirnya kembali membuka matanya yang terpejam. Sedetik kemudian Sasuke melepas Sakura yang sudah berdiri normal. Lelaki berambut yang lebih mirip pantat ayam itu langsung melangkah meninggalkan Sakura yang masih cengo. Rona merah berhias di wajah anggun... Ralat, di wajahnya yang kali ini terlihat arwah ingin membunuh.
Gigi gadis itu bergemelutuk, dalam hati ia terus mengutuk Uchiha itu yang telah membuatnya deg-degan tadi. "Dasar Uchiha tidak peka..." gumam Sakura. Mengharapkan ciuman rupanya. Ah, lucu sekali. Gadis mana yang tidak salah paham dengan tingkah Sasuke barusan? Tapi kenapa tadi Sasuke malah bilang eyeliner Sakura berantakan?
Sakura pun berjalan menuju dapur dan mengambil ponselnya untuk berkaca. Tapi dilihatnya, eyeliner Sakura hanya berantakan sedikit. Sasuke terlalu mendramatisir! Empat sudut masih terdapat di kepala pinknya. Lalu ia menengok ke arah sofa, melihat Sasuke yang sedang membuka tas.
"Dasar menyebalkaaan!" gumam Sakura dengan nada yang seperti berteriak sambil menghentak-hentakkan kakinya berdecak kesal. Dan tentu saja Sasuke tidak menyadarinya.
Dan begitulah, kejadian barusan membuat Sakura seperti ini. Mencuci piring dengan wajah yang mematikan. 'Ingin rasanya aku mencekikmu! SHANNARO!' batin Sakura berkobar-kobar. Gadis itupun berganti topik. Iris emeraldnya melihat setumpukan perlalatan makan yang baru ia cuci kini sudah bersih sempurna. Ia langsung mengelapnya hingga kering dan menatanya di rak piring yang sudah tersedia.
"Hhh... Selesai." Sakura menghela nafas dan segera berjalan menuju Sasuke. Tentu saja dengan masih memasang wajah masamnya. Mau tak mau ia harus ke tempat Sasuke sekarang kan, karena bagaimanapun Sasuke-lah tuan rumahnya.
Dengan perlahan gadis berambut panjang itu duduk di sebelah kanan Sasuke yang masih serius menatap layar laptopnya. Keseriusannya pun membuat Sakura tertarik ingin tahu apa yang sedang Sasuke lihat. Apa jangan-jangan video porno?
Tebakan salah. Emerald kristal Sakura yang melihat dari samping sambil bersandar di sofa, ia bisa melihatnya, Sasuke sedang membuka situs yang berisi cerpen-cerpen dan puisi. Sakura tiba-tiba bangun dari bersandarnya dan menatap layar laptop Sasuke. "Kau suka membaca cerpen di situs ini juga?" tanya Sakura membuat Sasuke keheranan karena menampakkan wajahnya dengan tiba-tiba.
"Hn."
"Aku juga suka membuka situs ini. Kau tahu, puisi ciptaan Mayumi Kotori? Aaa, aku suka sekali karya-karyanya! Kemudian cerpen yang dikarang Hana Yori, aku paling suka yang berjudul..."
Sasuke melihat Sakura sweatdrop. Aneh sekali, tiba-tiba saja datang dan mengoceh tanpa henti. Apalagi dia itu sedang marah, kan? Dasar Sakura. Kalau sudah berurusan dengan puisi atau cerpen, ia langsung terbawa oleh dunianya. Kecintaannya pada sastra.
"Akhirnya si lelaki itu melamar si gadis. Gadis itu menerimanya dan mereka..." Tiba-tiba Sakura berhenti, samburat merah memenuhi pipinya. "Berciuman." ucap Sasuke melanjutkan ucapan Sakura yang terputus. Mengingat kata 'ciuman' saja Sakura sudah sangat berdebar-debar. Sasuke yang tak menyangka ucapannya itu mempan membuat gadis itu diam, akhirnya makin menggodanya. Mata onyxnya menatap tajam Sakura, membuat Sakura mematung.
Lama mereka bertatapan, membuat Sakura berharap seperti tadi saat terpeleset. 'Apakah kali ini ia akan serius menciumku?' tanya Sakura dalam hati. Sakura revleks menutup matanya, membuat Sasuke berhenti dan tersenyum. Tapi kemudian senyum itu berubah menjadi tawa.
"Pfft..." Sasuke menahan tawanya, kini ia kembali duduk lurus di depan laptop, dan itu membuat Sakura membuka kembali matanya. "Ekspresimu lucu juga seperti itu, hmph..." ucap Sasuke masih menahan tawanya.
Kesabaran nona Haruno itu akhirnya sudah tidak tertahan. Emosinya meledak-ledak. Antara ingin marah dan sedih karena ditertawakan seperti itu. Malu karena sudah dua kali ia salah paham. Segitukah ia ingin berciuman dengan Sasuke? Sakura yang akhirnya bangun dari duduknya. "Aku mau pulang saja!" ucapnya.
Tanpa persetujuan dari Sasuke, Sakura langsung berlari keluar dari ruang tamu dan menutup pintu dengan kasar. Tidak perduli pintu itu akan rusak atau tidak, yang penting amarahnya sedang meledak-ledak saat ini. Ia memakai sandal sederhana nan terlihat mewah berwarna pink miliknya dan segera berjalan menuju pintu gerbang. Sakura membuka gerbang itu dan kembali berlari, menelusuri komplek rumah yang sepi. Tak dapat ia bendung air mata yang menurutnya bodoh itu. "Uchiha sialan! Beraninya mempermainkanku!"
.
.
Sakura yang merasa sudah jauh dari kediaman Uchiha itu langsung berhenti, mengatur nafasnya yang terengah-engah. Gadis yang merasa lemas itu berjongkok dan menutupi wajahnya yang berderai air mata.
"Sasuke-kun, kau ini tidak peka sekali!" ucap Sakura entah pada siapa.
'Bruuum...' Tiba-tiba suara motor terdengar. Dan telinga Sakura sudah tidak asing dengan suara motor itu. Ia langsung mengangkat wajahnya dan menengok. Motor itu sudah berhenti di sampingnya.
"Kau ini kenapa tiba-tiba saja lari, bodoh?" bentak Sasuke yang langsung mematikan mesin motor dan standart motornya.
"Habis... Hiks..." Sakura masih berjongkok, membuat Sasuke segera mengangkat bahu mungilnya untuk segera berdiri. Jika dilihat, mereka seperti kakak yang sedang menolong adiknya yang menangis.
Tapi kemudian Sakura menepis tangan Sasuke, "Aku bisa berdiri sendiri! Kau tidak perlu membantuku!" seru Sakura membuat Sasuke mengernyit.
"Oh, baik jika itu maumu. Aku tidak akan menolongmu!"
"Mauku? Memang kau tahu apa mauku, hah? Kau... Kau itu benar-benar keterlaluan mempermainkanku seperti itu!"
"Kalau begitu tinggal katakan, apa yang kau inginkan, bodoh!"
"Seenaknya mengataiku bodoh!"
Sasuke mendengus, "Baik, maaf! Kalau begitu apa maumu?" Sepertinya kesabaran keduanya sama habisnya, emosi mereka saling meledak-ledak. Sakura menghentakkan kakinya, "Sasuke-kun..."
"Apa?"
"CIUM AKU!"
Sasuke seketika membelalakan matanya mendengar ucapan Sakura yang masih sambil menangis seperti anak kecil yang ngambek ingin dibelikan permen. Sasuke kembali mendengus, "Kau ini kenapa, hah?" Sasuke mengguncang-guncang tubuh Sakura, sementara Sakura memejamkan matanya meringis.
"Ck," decak Sasuke menengok ke arah kirinya sebentar, kemudian kembali menatap Sakura.
"Saku, dengar. Aku tak akan melakukannya jika kau belum siap. Bagaimana jika kejadian yang lalu terjadi lagi?" Sakura terbelalak. Memang karena dirinya Sasuke menjadi trauma. Saat di SMU Sasuke mencuri ciuman pertamanya, ciuman yang begitu penting untuk seorang gadis, direnggut begitu saja. Dan kini, ia meminta Sasuke menciumnya, sementara Sasuke sendiri trauma akan tamparan pedas Sakura karena saat itu seenaknya Sasuke mencium Sakura.
Sakura mendadak blushing dan kembali berwajah polos seperti bayi yang tak punya dosa. Gadis itu tersenyum dan menatap mata Sasuke. Senyum mengembang di wajahnya. "Kalau begitu..." Sakura mengangkat tangannya tinggi seperti murid sekolah yang hendak menjawab pertanyaan guru di kelas. "Sekarang aku siap!" lanjutnya.
Sasuke cengo, Sakura sudah menutup matanya sambil tersenyum, menunggu respon Sasuke.
Sedetik...
Tiga detik detik...
Lima detik...
Sakura masih terpejam dengan wajah aneh, sementara Sasuke akhirnya mengalah. Ia telan ludahnya susah payah dan keringat menetes dari pelipisnya, juga debaran jantung yang begitu berdebar halus. Ia dekatkan wajahnya dengan Sakura perlahan-lahan. Dan hanya tinggal beberapa centi lagi...
,-Renai Joujou,-
"Ne-ne-ne..." Tenten masih gagap belum mengucapkan kalimat sempurna karena melihat sosok yang membuatnya kaget. Tidak, bukan hantu. Lebih mangagetkan dari hantu menurut gadis beriris cokelat itu. Sosok yang ia lihat sekarang adalah lelaki tampan berambut cokelat panjang dan beriris lavender seperti sahabatnya.
Lelaki yang mengenakan blazer hitam itu tersenyum tipis dan mendekati Tenten yang masih mematung di dekat kursi café yang sudah ditempatinya dan juga para kawannya. "Apa kabar?" sapa lelaki itu.
"Neji-niisan..." Akhirnya kalimatnya sempurna diucapkan Tenten. "Kenapa ada di sini?" tanya Tenten tak membalas sapaan Neji barusan. Neji masih tersenyum, "Ada sesuatu... Yang ingin aku bicarakan denganmu,"
"Aku?" Tenten menunjuk dirinya sendiri heran. Barang kali Neji salah bicara. Tapi ternyata tidak, justru Neji mengangguk dan—menggenggam tangan Tenten, membuat Tenten ingin segera pingsan. Hinata yang memperhatikannya dari kursi hanya tersenyum melihat Neji mulai menarik Tenten keluar café. Kemudian gadis iris lavender itu kembali berbincang dengan lelaki yang duduk di sebelahnya, yang diketahui adalah kekasihnya. Si rubah tampan, Naruto.
Sementara NaruHina sibuk dengan obrolan tak jelas mereka. Memang tak pernah jelas, karena setiap Naruto bicara basa-basi saja Hinata sudah seperti udang rebus—memerah. Dan obrolah mereka hanya dengan pertanyaan singkat dan basa-basi, belum ada yang serius. Kembali ke topik, kita intip bagaimana Neji dan Tenten.
.
.
Kini mereka telah sampai di parkiran. Neji menyuruh Tenten masuk ke dalam mobil Suzuki hitam Neji, dan Tenten menurutinya. Setelah Tenten dan Neji masuk mobil, Neji langsung tancap gas. Entah akan membawa Tenten ke mana.
Jauh. Hingga mobil Neji sudah cukup jauh dan menuju jalan yang tidak diketahui jalannya oleh Tenten. Ditambah, jalan itu sepi. Sepi?
Terbesit fikiran itu, otak Tenten yang lemot itu masih loading, nampak berfikir. Tiba-tiba ia teringat akan berita tadi pagi yang ia tonton tentang kasus penculikan yang ternyata orang dekat juga bisa melakukannya untuk mendapat tebusan. Gadis bercepol itu langsung bergidik dan melirik Neji, 'Jangan-jangan Hinata dan Neji bersekongkol untuk menculikku dengan cara Neji menarik perhatianku!' batin Tenten sambil membayangkan wajah Hinata dan Neji yang terlihat seperti seorang psikopat.
Dengan keberanian yang kuat, Tenten menatap Neji dan berucap, "Kau tidak akan menculikku, kan? Orangtuaku tidak punya uang banyak untuk menebusnya!"
Neji yang kaget akibat penuturan Tenten mendadak memberhentikan mobilnya di jalan yang sepi. Neji menengok ke arah Tenten yang duduk di sebelahnya. Terlihat wajah Tenten yang ketakutan. Lama mereka saling bertatapan.
SIIING...
"HAHAHAHAHA..." tawa Neji memekik tak tertahan karena melihat ekspresi dan sikap Tenten yang tulalit itu. Mungkin setelah ini ia akan merutuki dirinya sendiri karena tertawa sedemikian keras, membuat imagenya sebagai cowok cool musnah sudah karena gadis ini. Tenten yang tidak mengerti tawa Neji hanya sweatdrop melihat Neji yang awalnya ia kenal cool, tiba-tiba malah terbahak-bahak karena sikap yang ia buat.
"Kau ini kenapa tertawa keras seperti itu?" tanya Tenten yang masih juga belum mengerti. Neji mengusap sedikit air mata yang keluar karena tawanya sendiri. Neji berusaha untuk menghentikan tawanya dan perlahan tawanya berubah menjadi senyum.
Neji membuka pintu mobil dan juga membuka pintu yang ada di sisi Tenten. "Keluarlah," Neji menyuruh Tenten.
"Kau akan menurunkanku di sini?"
Neji menggeleng, "Tidak, tapi di sini... Aku akan bicara."
Tenten mengikuti suruhan Neji dan melihat sekeliling. Jalan raya yang sepi dan di kedua sisi jalan itu hanya terdapat tiang-tiang listrik dan lampu yang mati karena memang ini masih siang. Pinggir jalan itu hanya tanah kering yang karena terkena panas, lebih terlihat seperti padang pasir. Karena masih terlihat pasir-pasir cokelat yang berhamburan tertiup angin.
Tenten memiringkan kepalanya, "Kenapa harus jauh-jauh bicaranya?" tanyanya.
"Tenten," panggil Neji yang mendadak menatap tajam Tenten. Tapi kemudian Neji menengok ke samping sebentar. Sepertinya gugup. "Bagaimana aku harus bicara, ya...?" Neji menggigit pelan bibir bawahnya, membuat tanda tanya berhamburan keluar dari kepala Tenten.
Tenten yang merasa dirinya harus bicara juga langsung membuka mulut. "Neji-nii,"
Neji menengok, kembali bertatapan dengan iris Tenten. Tenten dengan takut-takut berkata, "Kalau tiba-tiba seseorang yang baru kau kenal menyatakan perasaan padamu, apa yang akan kau lakukan, Neji-nii?"
Neji tersenyum, "Aku akan mengucapkan 'terima kasih' padanya. Aku akan menerimanya jika aku mencintainya, dan akan menolaknya dengan tegas jika aku tidak mencintainya." Tenten langsung ragu akan jawaban Neji. Ia menunduk dan memandang kedua kakinya yang sedikit gemetar. "Apa Neji-nii... Punya seseorang yang—"
"Kau ingin menanyakan seseorang yang kucinta? Aku punya orang yang kucinta," potong Neji, dan membuat mata Tenten meredup seketika. "Dan orang itu adalah kau." Sambung Neji.
Tenten yang kaget setengah mati itu langsung mengangkat wajahnya menatap Neji. Neji memegang pipi Tenten, "Sekarang aku katakan. Aku menyukai kepolosanmu, aku menyukai apa adanya dirimu. Dan sekarang, jika kau tidak keberatan, aku ingin menjadi pacarmu."
'Blugh!' Tenten langsung memeluk erat Neji. "Neji-nii tidak bohong, kan? Karena aku juga menyukai Neji-nii... Bahkan aku rela tidak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja di perusahaan Neji-nii..."
Neji mengusap kepala Tenten, "Teruskanlah study, kau tidak perlu bekerja. Aku akan mengunjungimu seminggu sekali, dan meneleponmu setiap hari, jika kau mau."
Tenten makin erat memeluk Neji. "Ya, aku mau... Aku mau..." Keduanya tersenyum, dan Neji membalas pelukan Tenten. Bukan hanya musim yang bersemi saat ini, tapi cinta mereka juga bersemi.
"Anak yang manis," kekeh Neji mengusap kepala Tenten, dan Tenten hanya menggembungkan pipinya sebal.
,-Renai Joujou,-
Keduanya masih sibuk dengan posisi masing-masing. Jarak mereka yang sudah tidak berjarak lagi. Lelaki itu mendadak berhenti dan...
"Jangan mengatakan 'aku siap' dengan wajah polos seperti itu tahu!" seru Sasuke yang kembali mengambil jarak, menjauh dari Sakura. Sakura yang membuka matanya dan kembali mengerucutkan bibirnya ngambek.
"Aku... Hiks... Apa permintaanku ini aneh? Aku ini kan pacarmu... Hiks... Kenapa kau teg—"
Ucapan Sakura akhirnya terpotong karena tiba-tiba bibirnya terasa diganjal. Ia membuka matanya dan melihat. Sasuke telah menciumnya. Bisa dirasakan Sakura sensasi di bibirnya saat ini. Sangat berbeda saat ciuman pertama. Saat Sasuke menciumnya di SMU. Dan mereka beruntung, di komplek itu sedang sepi tak ada seorangpun yang lewat.
Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sakura masih dalam posisi itu. Gadis dalam pelukan Sasuke itupun memejamkan matanya menerima kecupan lembut yang diberikan Sasuke. Sakura yang tak kuasa menahan degupan jantungnya langsung melepas ciuman itu dan menenggelamkan wajah blushingnya di dada Sasuke. Lelaki bernama Sasuke itu mengusap lembut kepala merah jambu Sakura.
"Sasuke-kun, aku malu..."
Sasuke menghela nafas, "Kau yang minta, kan?"
Keduanya kemudian saling bertatapan dan menyadari kebodohan keduanya. Kemudian mereka tertawa bersama. Sakura langsung melingkarkan tangannya di leher Sasuke, sementara Sasuke merasa risih. Bukan risih karena pelukan Sakura, tapi risih dengan posisinya saat ini. Mereka kan sedang di jalanan!
"Kalau ada yang melihat bagaimana, baka!"
"Terserah. Mungkin nama Uchiha yang akan tercoret karena akan menjadi gosip di komplek ini. 'Uchiha berciuman dengan pacarnya siang hari di musim semi, di jalan komplek rumah', kira-kira akan begitu." ucap Sakura terkesan meledek, membuat Sasuke mencubit pipi bulatnya, "Begitukah? Bagaimana jika gosipnya berubah. 'Nona Haruno, seenak jidatnya yang lebar, memaksa Uchiha untuk berciuman'. Seperti itu." timpal Sasuke membuat Sakura manyun.
Tapi kemudian Sakura kembali tersenyum. "Kalau begitu, berarti aku yang akan mulai." ucapnya seraya berjinjit menyamakan posisi wajahnya dengan Sasuke.
"Hey, apa kau ini gadis yang agresif?"
"Pada lelaki lain tidak, tapi padamu iya."
"Hah?"
'CUP!'
,-Renai Joujou,-
Kota di sana telah menunjukkan waktu pukul 19:05, tapi gadis yang menemani kekasihnya itu masih belum kembali pulang. Bukannya dipaksa tidak boleh pulang, tapi dia sendiri yang belum ingin pulang. Dan jadilah seharian penuh ini gadis itu melewati harinya dengan sang kekasih.
Di rumah sederhana kediaman Uchiha. Begitu damai. Ah, bukan damai, tapi sepi. Walau di dalamnya sudah berisi dua manusia, tapi tak ada suara sedikitpun terdengar di kediaman itu. Kali ini bukan karena Sasuke yang cuek pada Sakura, tapi saat ini mereka berdua sedang dusuk di sofa dengan posisi wenang. Posisi dengan Sasuke yang memeluk tubuh Sakura dari samping, dan Sakura yang menyandarkan kepalanya di dada Sasuke yang bidang. Entah ada angin apa, mereka menikmati posisi mereka untuk kali ini. Melepas rindu yang tak ada habisnya.
Sakura menikmati aroma maskulin yang mengguar di tubuh Sasuke. Sungguh sangat tenang Sakura setiap kali mencium aroma Sasuke. Sasuke sendiri merasa nyaman mencium aroma rambut Sakura yang sangat wangi, wewangiannya seperti buah cherry. Entah apa itu, Sasuke sangat menyukai aroma Sakura.
"Sasuke-kun," panggil Sakura memecahkan keheningan.
"Hn?"
Sakura memejamkan matanya sambil memain-mainkan kaus yang dipakai Sasuke. "Kenapa kau bisa menyukaiku?"
"Kenapa bertanya begitu?" Bukan menjawab, Sasuke balik bertanya. Suasana hening kembali beberapa saat.
"Hanya ingin tahu. Karena bagaimanapun... Di luar sana masih banyak bunga-bunga yang indah, tapi kau malah memilih aku yang hanya rumput liar. Rumput liar yang hanya untuk dilupakan dan diinjak orang-orang. Sama sekali tidak indah dan tidak berguna—"
"Apa maksudmu karena aku Uchiha?"
Sakura membuka matanya tanpa melihat ekspresi wajah Sasuke, "Tanpa kujawab kau sudah tahu, kan?"
Sasuke mengeratkan pelukannya dan menempelkan keningnya dengan kepala Sakura. "Kalau begitu aku juga akan menjadi rumput liar." tutur Sasuke. Sakura terkikik pelan, "Penuturan macam apa itu?"
"..."
Sakura melepas posisinya dan menatap Sasuke begitu dalam. Sasuke balas menatap Sakura. Gadis pinky itu tersenyum, "Tidak. Kau adalah pohon beringin, Sasuke-kun. Pohon beringin yang berada di samping rumput liar, dan selalu membuat sejuk sekitar setiap saat hingga rumput liar itu merasa nyaman berada di sampingnya."
Sasuke yang cukup cerdas mencerna kata-kata Sakura langsung memeluknya, "Kalau begitu, kau pasti sudah bisa menjawab pertanyaanmu sendiri tadi. Aku akan selalu menyejukkanmu. Aku berjanji."
Kedua tangan Sakura dengan ragu membalas pelukan Sasuke. Gadis itu mengangguk mantap meng'iya'kan Sasuke. Percaya bahwa lelaki itu pasti akan selalu melindunginya. "Dan berjanjilah padaku untuk menjadi rumput liar yang kuat."
Mata Sakura mulai berkaca-kaca. Ia baru sadar, Sasuke memiliki sisi sifat yang begitu hangat di balik sifat dinginnya. Sakura pun mengeratkan pelukannya, "Terima kasih... Aku sangat mencintaimu, Sasuke-kun."
Dan satu kecupan hangat mendarat tepat di puncak kepala Sakura. Begitu hangat, hingga keduanya merasa untuk kali ini dunia milik mereka.
.
.
"Sekarang, tidurlah. Aku sudah menelepon orangtuamu." ucap Sasuke kemudian menarik selimut yang dipakai Sakura. Ranjang besar dalam kamar yang kosong, malam ini akan ditempati oleh Sakura. Sakura menatap Sasuke, "Benar kau sudah bilang?" tanya Sakura meyakinkan.
"Hn." jawab Sasuke singkat. Yah, karena mereka keasyikan hingga lupa waktu, kini sudah hampir tengah malam, tidak baik Sakura pulang malam hari walau diantar Sasuke sekalipun.
Sasuke kembali berbalik untuk melangkah keluar, tapi tiba-tiba tangan kecil menarik tangan Sasuke. Sasuke menengok, dan itu adalah tangan Sakura yang menahannya. "Kau pergi ke kamar tanpa mengucapkan apa-apa untukku?"
Uchiha bungsu itu tersenyum tipis dan menundukkan tubuhnya. Wajahnya berdekatan dengan wajah Sakura yang sedang tersenyum. Sasuke kecup lembut kening Sakura dan berucap, "Aku mencintaimu."
Setelah merasa selesai, Sasuke langsung berjalan menuju pintu. Sebelum keluar Sasuke mematikan lampu yang tombolnya berada di dekat pintu. Sasuke menengok, keduanya saling bertatapan. Sasuke tersenyum melihat gadisnya tersenyum.
"Oyasuminasai."
Ucapan terakhir Sasuke begitu membuat Sakura ingin melayang. Sasuke benar-benar begitu menyayanginya. Sakura pun memejamkan matanya untuk segera menuju alam mimpi sambil tersenyum. Begitupun Sasuke yang di depan pintu kamar, ia tersenyum lembut. Keduanya berharap semoga selalu seperti ini. Sasuke dan Sakura selalu bersatu memadu kasih.
Tsuzuku...
.
.
.
.
.
Cuplikan CHAPTER 7 (The Last Chapter)...
Ino menatap bintang yang terbentang di langit yang tinggi. "Jadi... Kau akan mengakhiri hubungan kita sekarang?" tanya Ino memastikan.
Ia tahu, mungkin berat jika nantinya akan melihat Sai melamar gadis itu. Mungkin ini karma. Karma karena dulu ia selalu mempermainkan perasaan lelaki. Menjadi playgirl dan mencampakkan perasaan laki-laki. Dan kini, saat ini, ia yang sudah mencintai seorang laki-laki dengan setulus hati, sebentar lagi akan merasakan bagaimana sakitnya campakkan yang akan keluar dari bibir lelaki kulit pucat itu.
.
"Aku mencintaimu, Sai... Mencintaimu... Hiks..."
.
"Tou-chan ingin kau ikut ke Oto. Di sana kau akan melanjutkan kuliah, dan..." Fugaku mengambil nafas sebentar kemudian kembali menatap Sasuke. "Di sana nanti, aku akan menggelar acara pertunangan untukmu dengan gadis dari keluarga yang Tou-chan percaya bisa membuat perusahaan Uchiha meningkat sukses."
.
"Nii-chan, katakan pada Tou-chan, PERJODOHAN BODOH APA MAKSUDNYA, HAH?" Sasuke meninggikan suaranya sambil terus mencengkram kerah kemeja Itachi. "Aku ini baru lulus sekolah dan aku sudah memiliki kekasih. Bahkan Tou-chan sudah mengenal Sakura! Tapi kenapa aku harus ditunangkan?"
.
"Pada akhirnya... Haruno Sakura hanyalah rumput liar yang tak akan bisa bersatu dengan Uchiha Sasuke..." Sakura melepas genggaman Sasuke dan mencoba tetap tersenyum. Sasuke yang hanya bisa mematung sambil menunduk itu hanya bisa merasakan kepergian Sakura yang melewati dirinya yang sedang berdiri di sana.
Posisi mereka kini saling membelakangi. Dan sepertinya inilah yang seharusnya terjadi. Derai air mata masih terus keluar dari iris kristal hijau Sakura. 'Aku tak akan bisa menggapaimu, Sasuke-kun... Takkan bisa...' ucap Sakura dalam hati sambil terus melangkah menjauhi Sasuke.
'Selamat tinggal... Pohon beringin yang selalu menyejukkanku...'
,-Renai Joujou,-
Readers pasti bilang, "FIC APAAN NIH?". Haaa... Karena ini nambah gaje aja. Mey bingung dengan otak sendiri. Ide untuk chapter ini tiba-tiba hilang gitu aja, bikin Mey harus memikirkan tema yang pas. Dan sekalinya dapat ide malah jadi begini. Uuuh... Jangan kecewa, ya, readers. Maklum, masih amatir. Dan Mey rasa fic ini di chapter ini udah ga ada genre friendshipnya. Gomen.
m(lll_ _)m
Ada yang tahu? YAAAY, chapter depan adalah chap terakhir!#krik krik krik. Bagaimana kisah akhir dari genk Sakura dkk? Dan bagaimana kisah akhir percintaan mereka? Ditunggu chapter depan! XD *disambitin kue pisang*
Karena Mey lagi ga ada pulsa modem, bales review di sini, ya.^^ Arigatou buat yang udah review fic ini :
karikazuka
ainiiyenni
Kamikaze Ayy
Naomi azurania belle
valentina14
Uchiharuno phorepeerr
Qren
Kazuma B'tomat
yhukii chan
Uchiha Hime Is Poetry Celemoet : Iya, masih dilanjut dong, hohoho. Ini udap apdet, thanks for review.^^
DEVIL'D
Lucy Uchino : Yap, tau lah, hehe. Sip, nih, udah apdet. Makasih udah ripiu. :D
MemelSasusakuLove
maya
Silent reader
Yacchan
Uchiha Sasusaku : Hehe, oke oke, ini udah lanjut. Makasih udah ripiu.^^
myself : Iya, ini udah apdet. Makasih reviewnya, ya. :D
riestiyani aurora : Hahaha, animanga aslinya Saku emang gitu*dishannaro* Ini apdet, makasih reviewnya. :D
Sindi 'Kucing Pink : Ahaha, terima kasih sudah mau nunggu.*hug* Ini udah update. Arigatou udah direview. XD
Retno sasusaku : Iya, salam kenal juga! ^,^ Ini udah di update, makasih udah diripiu.
Review lagi dooong~ (-v-)
R
E
V
I
E
W
?
