Walaupun waktu takkan menunggu,

Tentangmu masih ada dalam benakku.

Walaupun waktu takkan menunggu,

Dirimu selalu bertakhta dalam ingatanku.

Walaupun waktu takkan menunggu,

Keberadaanmu akan selalu menjadi bagian dari diriku.

Aku akan terus mengingatmu.

Mengingatmu, mengingatmu, mengingatmu,

Sampai angin berhenti menghembus dedaunan,

Sampai ombak berhenti menghempas karang,

Sampai matahari berhenti bersinar.

Aku akan terus, terus mengingatmu,

Walaupun dunia tak lagi mampu mengingatmu.


Pukul empat sore yang dingin di halaman kampus, aku menggosok kedua telapak tanganku—mencoba mengusir rasa kaku.

Kulihat sekelilingku—masih ramai, dipenuhi para mahasiswa yang baru pulang dari kuliah sore mereka masing-masing.

"Hei, Motochika!"

Seseorang menepuk pundakku—lalu merangkulku ceria.

"Ah, bikin kaget saja kau, Ieyasu."

Pemuda yang merangkulku tertawa kecil.

"Ahaha, maaf. Kau sudah selesai untuk hari ini?"

Aku mengangguk kecil, lalu merogoh sakuku—menyalakan pemantik dan membakar sebatang rokok.

"Tiga hari lagi sudah ujian semester, ya…" gumam Ieyasu—mengerutkan keningnya, "Ujian—bahkan selama seminggu penuh. Sialan, bisa botak aku lama-lama."

Aku mengerang pelan.

"Tolong—kumohon, jangan bicarakan soal ujian…" pintaku—kecut.

Ujian dan tugas kuliah adalah topik-topik yang paling kuhindari dalam pembicaraan, namun sialnya—sobatku yang satu ini paling sering membicarakan hal-hal tersebut.

Brengsek.

"Maaf, deh…bagi satu rokoknya, dong."

Kuulurkan sebatang rokok untuknya, lalu ia menyalakan dan menghisapnya—mengepulkan asap tipis dari rongga mulutnya.

"Oh, ya, Motochika," katanya, "Aku dan teman-teman berencana untuk berlibur ke Ehime—di Shikoku selama seminggu, setelah ujian selesai. Kau mau ikut?"

Kukerutkan dahiku.

"Ehime? Lucu sekali tujuan liburanmu. Kenapa nggak Okinawa atau apa, sih? Kau tahu, kalau berlibur, pilih tempat yang hangat-hangat di saat dingin begini."

Ieyasu menggeleng, "Aku sudah mengajak semuanya seperti itu, tapi mereka semua mengeluh soal biaya yang kelewat tinggi. Di saat cuaca dingin, Okinawa penuh turis—dan hotel-hotel penuh. Lagipula, Miyamoto-san bilang, dia punya kakek di Ehime—yang katanya menyewakan penginapan di pinggir pantai dengan harga sangat murah, lengkap dengan onsen. Jadinya, ya…"

"Hello, aku ketinggalan berita apa, nih?"

Seorang pemuda berjaket biru gelap—dengan satu mata tertutup kain, muncul.

"Kita mau ke Shikoku liburan semester ini," kata Ieyasu, "Aku mengajak Motochika untuk sekalian ikut. Kita perlu istirahat juga setelah menghadapi ujian, 'kan? Kau mau ikut juga, Date-san?"

"Sounds great," timpal Date, nyengir lebar, "Aku sih, nggak bakal nolak. Kita, para mahasiswa fakultas teknik, jurusan mesin—pasti gersang dong, kalau tiap hari melihat cowok saja di kampus. Maksudku, coba lihat. Mana ada cewek yang mengambil jurusan ini. Kita perlu banget refreshing."

Aku tertawa geli.

"Benar juga, ya," gelakku—mematikan rokokku dan membuangnya, "Setelah ujian sialan ini beres, kita bisa melampiaskannya di Shikoku nanti."

"Ya," lanjut Date, "Ingat, cewek-cewek berbikini di pantai, onsen, jeruk mikan, dan memancing. Aaah, sepertinya akan jadi holiday yang tak terlupakan."

"Kita harus menghadapi ujian dulu, teman-teman," sela Ieyasu—mematikan rokoknya, dan berjalan ke arah luar halaman kampus, "Kita sebaiknya belajar dulu di rumah, baru menyiapkan rencana kita."

"Brengsek—sialan kau, Ieyasu. Sudah kubilang, tolong stop ngomongin ujian laknat itu!" geramku—jengkel.

Date tertawa terbahak-bahak di sampingku.


Satu minggu berlalu dalam hitungan detik, tanpa terasa.

Ujian telah usai, dan liburan semester telah dimulai.

Rencana liburan yang dibicarakan Ieyasu tempo hari benar-benar dilaksanakan.

Tiga belas mahasiswa fakultas teknik universitasku mengikuti tur liburan ke Ehime—termasuk aku, Ieyasu, dan Date.

Kami menetap di penginapan Shimazu-san, kakek Miyamoto-san—salah satu dari rombongan mahasiswa universitas kami.

Seperti yang dikatakan Ieyasu, penginapannya terletak di dekat pesisir pantai.

"Kita ke penginapan dulu, teman-teman—taruh barang-barang kita, baru kita main-main ke pantai!" seru Miyamoto—pemuda yang bertubuh pendek dan kecil, namun bertenaga dan bersuara nyaring.

"Pembagian kamarnya bagaimana, nih?" sela Ieyasu—agak mengerinyitkan dahinya begitu melihat jumlah peserta tur yang amit-amit banyaknya.

"Kata Jii-chan, satu kamar bisa dipakai sampai lima orang," jawabnya, "Karena kita bertiga-belas, satu kamar ditempati tiga orang saja."

"Kalau begitu, itu kita," kata Date, mendadak muncul di sampingku, "Aku bertiga dengan Chosokabe dan Tokugawa."

Aku dan Ieyasu mengangguk.

"Oke, kalau begitu—ayo, taruh barang-barang kalian dulu! Ini kuncinya—kamar 3, 4, dan 5. Kalian bertiga di kamar 5 ya! Setelah beres, ayo kita keluar dan berenang!"

Date menghela nafas panjang di dalam kamar, sambil meletakkan koper dan tasnya.

"Buset," gumamnya, "Bagaimana anak itu masih bisa punya tenaga setelah perjalanan jauh dari Tokyo ke Ehime?"

"Ah, maksudmu Miyamoto-san?" timpal Ieyasu—sedikit terkikik, "Iya, dia memang enerjik. Aku sendiri…sejujurnya, juga sedikit capek. Mungkin aku akan berenang di pantai besok saja. Sekarang, aku mau jalan-jalan di dekat penginapan saja—lalu malamnya ke pemandian onsen."

"Sounds like a good idea. Aku juga, Ieyasu," jawab Date—menepuk bahuku, "Kau gimana, Chosokabe?"

"Aku juga jalan-jalan saja di pantai setelah ini," kataku—meregangkan lenganku, "Malamnya aku juga mau berendam di onsen."

"Ayo, kita keluar. Miyamoto-san sudah tidak sabar mengajak kita jalan-jalan," ajak Ieyasu.

Kugulung lengan jaketku, dan mengikuti kedua temanku yang berjalan keluar kamar, dan menutup pintunya.


Kami berpisah dan jalan-jalan ke tempat yang berbeda-beda satu sama lain.

Beberapa dari kami memutuskan untuk berjalan-jalan di pasar dekat penginapan, beberapa ke taman dekat pasar, dan beberapa lainnya mengikuti Miyamoto-san ke kuil dekat pantai.

Ieyasu mengikuti rombongan Miyamoto-san ke kuil, dan Date ikut rombongan ke pasar.

Aku memutuskan untuk berjalan-jalan di pantai dekat penginapan.

Kulepaskan sepatuku, dan menggantinya dengan sepasang sandal yang dipinjamkan Shimazu-san pemilik penginapan.

Aku menuruni tangga yang terletak di undakan batu karang di sekitar tepi pantai.

Begitu kakiku memijak pasir—kurasakan sensasi aneh yang menggeliat, perlahan, lembut di dalam dadaku.

Angin laut mendesir perlahan, meniup wajahku.

Matahari senja turun pelan-pelan—nyaris menyentuh batas cakrawala permukaan laut dan langit.

Ada sesuatu.

Seperti panggilan.

Kulepas sandalku—dan kubiarkan telapak kakiku menapak butiran pasir keemasan yang kasar.

Aku melangkah.

Lebih—dan lebih lagi.

Kudekati ombak yang bergulung di pinggir pasir.

Aku terus melangkah.

Hempasan ombak yang lembut menyapu kakiku—buih-buih putih menyentuh kulitku.

Rasanya aneh.

Ini bukan pertama kalinya aku pergi ke pantai, tapi rasanya sungguh aneh.

Ada sesuatu yang bergemuruh dalam diriku—tapi aku sendiri tidak tahu itu apa.

Ada perasaan rindu terhadap sesuatu—yang aku juga tidak tahu dengan pasti itu apa.

Kubiarkan ombak menghempas kakiku—membasahi ujung celanaku.

Kupejamkan mataku—mencoba menyelami perasaan yang tiba-tiba muncul ini.

Angin membawa bau asin air laut—menghamparkan cerita-cerita lama yang telah lama terpendam di dasar samudra.

Kau ada di sini.

Kau ada di sini.

Kau ada di sisiku sekarang.

Kubuka mataku—dan kualihkan pandanganku ke sekitar.

Sepi—tidak ada orang.

Mataku tertuju pada sosok seseorang yang sedang duduk di undakan batu—menatap lurus ke arah matahari.

Kudekati orang itu.

Seorang pemuda—berwajah tirus, matanya tajam.

Ia duduk dan menggoreskan pensilnya di buku yang dipangkunya.

Menyadari kehadiranku—ia berhenti dan menatapku.

"Halo, selamat sore," kataku—berbasa-basi, "Sedang menikmati matahari sore?"

Ia mendengus—lalu mengalihkan pandangannya ke matahari yang makin terbenam di ufuk barat.

"Sedang berlibur ke sini?" tanyanya kembali—padaku, membuatku gagap.

"Eh, yah—iya. Aku dari Tokyo, sedang liburan. Aku bersama teman-temanku ke sini," jawabku—mencoba bersikap ramah, melihat ekspresinya yang nampak jengkel dengan kehadiranku.

"Oh," gumamnya—sambil terus menggoreskan pensilnya di kertas, "Aku juga. Aku sedang liburan ke sini bersama mahasiswa-mahasiswi se-fakultasku, dari Tokyo."

"Kau orang Tokyo juga?" kataku—sambil memperhatikan pekerjaannya, "Wah, lukisan matahari yang bagus. Kau pandai sekali melukis."

Ia buru-buru menutup buku sketsanya.

"Kau mahasiswa universitas A, fakultas teknik?" tanyanya—mengalihkan pembicaraan.

"Iya. Kau tahu dari mana?"

"Aku juga mahasiswa universitas A, aku fakultas kesenian—jurusan seni rupa. Aku pernah melihat tampangmu di kantor rektor."

Aku melongo—ternyata dia mahasiswa yang kuliah di universitas yang sama denganku.

"Kau tidak bersama teman-temanmu?" tanyanya lagi—sambil memasukkan buku dan perkakas melukisnya ke dalam tas besar.

"Tidak. Tapi, aku akan bersama-sama mereka sebentar lagi. Kau sendiri bagaimana?"

Pemuda itu mendengus—lalu bangkit.

"Aku tidak punya teman. Aku tidak pernah punya."

Dadaku tercekat mendengar penuturannya—yang gamblang, tanpa sedikitpun rasa segan.

"Hei, jangan ngomong begitu—"

"Kalaupun aku mati nanti—tidak akan ada yang mengingatku. Tidak akan ada yang mengenangku. Jadi, lupakan saja aku. Lupakan saja yang terjadi saat ini."

Ia melangkah, menaiki undakan.

"Hei, tunggu!"

Aku tergopoh-gopoh mengejarnya.

"Aku berbeda denganmu. Semua orang akan mengingatmu, tidak akan ada yang melupakanmu. Karena itu, kau tidak usah repot-repot denganku. Selamat tinggal."

Pemuda itu terus melangkah, meninggalkanku sendirian di pantai.

Aku termenung—membeku.

Dadaku gemetar.


Petang harinya, rombonganku menikmati onsen dan makan malam.

Ieyasu muncul—berpakaian kimono ringan, sambil menyeka lehernya dengan handuk.

"Gimana? Enak, mandinya?" tanya Miyamoto-san, nyengir lebar.

"Enak sekali, Miyamoto-san. Terima kasih banyak," jawab Ieyasu—tertawa puas.

"Nah, kita menikmati sedikit sake untuk malam pertama kita di Ehime!" seru Miyamoto-san, disusul sorak sorai seluruh rombongan yang antusias.

"Eh? Sake? Shimazu-san nggak marah?" kata Ieyasu—tergagap.

"Tidak apa-apa! Kata Jii-chan, kita boleh menikmati sedikit saja. Lagipula, besok kita 'kan mau jalan-jalan, kita tidak boleh mabuk. Ayo, ayo! Angkat gelas semuanya!"

Date mengisi gelasnya dengan penuh semangat.

"Ayo, bersulang, untuk liburan kita di Ehime!"

"KANPAI!"

Gelas-gelas berdenting, dan makan malam disajikan.

Suara tawa memenuhi ruangan.

"Motochika, kau nggak minum?"

Aku tergagap—dan tidak sengaja menjatuhkan sumpitku.

"Maaf—aku bengong."

Ieyasu dan Date melihatku dengan pandangan heran.

"Kau sakit? tanya Ieyasu, cemas.

"Enggak, kok! Aku cuma bengong sejenak, tadi…ah, sudah—ayo, kita makan!"

Date menyunggingkan senyum—lalu mengisi gelasku dengan lebih banyak sake.

"Ayo, Chosokabe! Nikmati liburan kita ini. Jarang-jarang, lho," katanya.

Aku tertawa kecil—dan menenggak gelasku hingga tandas.

"Aaaaah, enak! Hidup Ehime!" seruku—puas, selagi rasa hangat dari sake menjalar di tubuhku.

"Hidup Shikoku!" timpal salah satu dari rombonganku—sambil bercanda dan tergelak.

Mataku membesar.

Kepalaku berdering.

Suara-suara bermunculan dari dasar ingatanku—persis buih dari dasar laut yang mengambang naik ke permukaan.

"Hidup Shikoku!"

"Aki telah jatuh! Hidup Shikoku!"

"Hidup Chosokabe! Kita menang! Kita menang!"

"Chosokabe?"

Aku mendadak tersadar—dan Date memandangiku, keheranan.

"A—ayo, Ieyasu! Kau minum juga!" kataku—tertawa, kaku.

Ieyasu ikut memandangiku dengan tatapan bingung.

"Mau rokok?" kata salah satu temanku yang duduk di sampingku—sambil menawarkan sebatang rokok.

"Ah, aku juga mau," kata Ieyasu.

Kami menyalakan rokok dan menghisapnya.

Namun, pikiranku tidak bisa lepas dari kejadian-kejadian yang terus menempel dalam otakku.

Tanah dan laut Shikoku, pemuda di pantai tadi, dan suara yang bergema dalam kepalaku.


"Kau berbeda denganku. Jika aku mati nanti, semua orang akan mengingatku. Tidak akan ada yang melupakanku. Kau—siapa yang mau mengingatmu? Tidak ada. Tidak akan ada yang mau."

"Aku tidak peduli. Aku tidak sepertimu, nilai orang lain di mataku tidak berarti apa-apa. Aku juga tidak memintamu untuk mengingatku. Lupakan saja aku, jangan pernah kau mengenal aku lagi. Itu lebih baik."

"Aki telah jatuh! Aki telah jatuh! Kita menang, Aniki! Kita menang!"

"Kau yakin dengan keputusanmu, Motochika?"

"Ya. Tolong, Ieyasu—jangan coba halangi aku."

"Hidup Shikoku! Hidup Chosokabe! Kita menang!"

"…Lupakan aku…kau tidak perlu mengingatku…aku tidak pantas…"

"Mouri—hei…..Mouri…MOURIIIII!"

Aku terperanjat—lalu melompat.

Aku berada di atas futon, di antara Ieyasu dan Date yang terlelap.

Mimpi.

Ternyata tadi itu hanya mimpi.

Kuusap keringat yang membasahi dahiku, dan menyentuh dadaku perlahan.

Penuh debar yang terlalu kencang.

Tadi itu mimpi—tapi, rasanya begitu nyata.

Pemuda itu—pemuda yang melukis di pantai tadi sore.

Ia muncul di mimpiku.

Seketika, perasaan yang familier menyusupiku.

Di dalam kamar penginapan yang gelap dan pengap, bisa kulihat langit biru berawan Shikoku yang cerah.

Kurasakan angin laut menderu—meniup rambutku, dan bau asin garam laut menyerbu inderaku.


Walaupun waktu takkan menunggu,

Tentangmu masih ada dalam benakku.

Walaupun waktu takkan menunggu,

Dirimu selalu bertakhta dalam ingatanku.

Walaupun waktu takkan menunggu,

Keberadaanmu akan selalu menjadi bagian dari diriku.

Aku akan terus mengingatmu.

Mengingatmu, mengingatmu, mengingatmu,

Walaupun semua orang tidak mengingatmu,

Walaupun seluruh dunia tidak mengingatmu,

Aku akan terus, terus mengingatmu,

Bahkan kematian pun tidak akan menghentikanku untuk mengingat dirimu.

Kenangan ini, aku akan terus menyimpannya.

demi dirimu seorang.