Apakah kau memiliki orang yang kau anggap berharga?

Tidak punya?

Apakah kau memiliki orang yang kau sebut sahabat?

Tidak punya?

Apakah kau memiliki orang yang kau cintai?

Tidak punya?

Kalau begitu, tidak akan ada seorangpun yang akan mengingatmu—jika kau sudah mati nanti.

Akan tetapi, izinkan aku menjadi satu-satunya yang mengingatmu.

Mengenangmu, dan menyimpan kristal ingatan ini dalam diriku—untuk selamanya.

Aku berjanji.


"Wah, cuacanya cerah sekali. Sepertinya sekarang bakal enak sekali untuk berenang di pantai. Ya, kan, teman-teman?"

Aku dan Ieyasu mengangguk, penuh semangat.

"Omong-omong, kalian sudah bawa pakaian renang, belum?" sela Ieyasu.

Ada kesunyian mendadak dari Date.

"…Maaf mengecewakan kalian, tapi sepertinya aku nggak bawa," ujarnya—sambil tersenyum masam.

"Kau ini, gimana sih…..kau yang mengajak kita berenang, malah kau yang nggak bawa pakaian renang," omelku.

"Sudahlah, Motochika. Di dekat sini ada pertokoan, tidak? Mungkin Date bisa membeli satu," kata Ieyasu, menengahi.

Kuangkat bahuku—tidak berkomentar, namun toh berjalan ke arah Shimazu-san yang sedang berjualan di kios penginapannya.

"Kakek," kataku, "Ada nggak toko yang menjual pakaian renang di dekat sini?"

"Pakaian renang? Hmmm…coba ke pertokoan dua blok dari sini, mungkin ada yang menjualnya," jawab Shimazu-san.

Setelah menanyakan jalan pada Shimazu-san, aku berjalan ke Date dan Ieyasu.

"Katanya dua blok dari sini," ujarku, "Ada pertokoan. Mungkin kita bisa beli satu di sana."

"Well, tunggu apa lagi? Ayo, ke sana," kata Date—santai.

"Tunggu, kita juga ikut?" sergahku.

"Iya lah."

Sambil menggerutu, aku mengikuti Date yang berjalan dengan riang—sementara Ieyasu mengikuti kami di belakang sambil tergopoh-gopoh.

"Tunggu, Motochika! Itukah toko yang dimaksud Shimazu-san?" kata Ieyasu mendadak, sambil menunjuk sebuah toko.

"Yah, coba saja kita masuk. Ayo, Date—kau yang ingin beli baju renang, kan? Sana, pilih."

Begitu memasuki toko tersebut, kulihat serombongan pemuda-pemudi sedang berada di dalam—sibuk memilih-milih baju kaus dan T-shirt.

Dilihat dari usia mereka—nampaknya tak berbeda jauh dari kami.

Apa mereka juga rombongan mahasiswa atau pelajar SMA yang sedang berlibur ke sini?

"Eh, Motochika—sini, deh," ujar Date—memanggilku, mengalihkan perhatianku.

Ia menunjukkan selembar celana renang yang sangat…minim.

Sangat ketat. Seperti model speedo.

"Kalau kau yang pakai ini, kayaknya bakal kelihatan macho, deh," desisnya—geli.

"Sialan kau. Kenapa tidak kau saja yang pakai?" balasku, kesal.

Ieyasu mengaruk hidungnya, "Yah, sebenarnya tak apa-apa, sih. Tapi, model itu…"

Kemudian, wajahnya memerah.

"Hayo, mikir apa kau, Tokugawa?" kata Date—menepuk bahu Ieyasu, sambil tergelak.

"Aku—ah, sudahlah. Ayo, Date-san. Katanya kau ingin berenang? Kenapa kau tidak lekas pilih satu dan kita bergegas ke pantai sekarang," tukasnya—sambil menepis tangan Date.

Selagi Date dan Ieyasu tertawa sambil bersenda gurau, kuperhatikan sekelompok anak-anak muda yang sedang berbelanja di dekat kami.

Salah seorang dari mereka menarik perhatianku.

Pemuda itu berdiri di pojok ruangan—ia melengos, kemudian ia berjalan keluar toko.

Aku mengingatnya—dia pemuda yang kemarin sore kutemui di tepi pantai.

"Eh, Mouri-san, tuh," sela seorang gadis—berbicara pada gadis lainnya, "Lagi-lagi dia begitu."

"Aku tahu," balas temannya—memasang tampang jengkel, "Dia memang orang yang nggak lucu. Aneh banget."

"Susah banget ya, dia diajak bicara. Mungkin dia memang anti-sosial?"

Seketika, aku mematung.

Mouri? Nama orang itu Mouri?

Nama itu menggelegar di mimpiku semalam—apa itu tentang pemuda itu?

Ini aneh.

Kenapa rasanya aku sudah lama mengenal orang itu? Padahal aku baru bertemu dengannya kemarin—

"Chosokabe! Kalau kau bengong, kita tinggal, lho!"

Aku terkejut—ternyata Date dan Ieyasu sudah berdiri di samping kasir.

"Iya, iya. Ayo, berangkat. Nanti kita ketinggalan yang lainnya di pantai," jawabku—cepat.

Begitu kami bertiga meninggalkan toko, kulihat pemuda itu masih berdiri di luar—menyandarkan bahunya di tembok.

Kualihkan pandanganku, dan berlari—menyusul Date dan Ieyasu yang melesat lebih dulu daripadaku.


"CHOSOKABEEE!"

Date mengumpat marah—sewaktu air laut menciprati wajahnya, dari bola voli yang kulempar.

"Ups, meleset," celetukku—memeletkan lidah.

"Shit! Kau akan membayarnya, Chosokabe!"

Ieyasu muncul, dan nampak gagap.

"Eh, jangan berantem, dong. Nanti nggak enak sama yang lain," ujarnya—cemas.

Kulihat matahari yang makin tenggelam, dan warna langit yang berubah kemerahan.

"Sudah jam berapa ini?" tanyaku, "Nggak terasa, waktu cepat berlalu, ya."

"Pukul tujuh sore," jawab Ieyasu, melirik arlojinya, "Bagaimana? Sudah cukup?"

"Ya, sepertinya sudah cukup," kata Date—berjalan keluar dari air, dan mengelap tubuhnya dengan handuk, "Besok pagi kita berenang ke sini lagi. Sekalian, aku mau membalas Chosokabe untuk hari ini."

"Maaf, aku mau jalan-jalan di pantai sebentar—sebelum pulang ke penginapan," sergahku cepat—membuat Date dan Ieyasu melongo keheranan.

"Yah, tidak apa-apa, sih. Jangan kemalaman, ya, Motochika," kata Ieyasu.

Aku mengangguk—lalu melambai ke arah rombonganku yang menjauh, lalu lenyap.

Kulihat pantai sekelilingku yang sepi.

Suara ombak berdebur, butiran pasir di telapak kakiku, dan matahari yang terbenam di permukaan laut.

Angin berdesir—menyibak wajahku yang kasar, terkena garam laut.

Di undakan yang sama, pemuda itu duduk.

Ia sibuk melukis di buku gambar di pangkuannya.

Pelan-pelan, kudekati dia.

"Menggambar lagi?"

Ia terkesiap—dan mendongak kepadaku.

Ekspresi wajahnya langsung getas melihatku.

"Kau lagi," gumamnya—kaku.

Aku tersenyum kecil.

Kulihat buku gambarnya. Kali ini, ia sedang menggambar cangkang kerang yang terdampar di pinggir pantai.

"Wah, ini jauh lebih bagus dari kemarin," komentarku, "Sangat—artistik. Kau benar-benar jago."

Ia hanya mendengus pelan—wajahnya sama sekali tidak menampakkan ketertarikan.

"Namaku Chosokabe Motochika," ujarku—ringan, sambil mengulurkan tangan untuk berjabat, "Siapa namamu?"

Ia mengalihkan pandangannya, tidak menjabat tanganku—hanya menatap dingin matahari yang tenggelam.

"Aku Mouri Motonari," jawabnya—singkat.

Kemudian, kepalaku seperti tersambar petir.

Isi otakku berdenyut nyeri.

"Mouri Motonari—penguasa Chugoku. Senang berkenalan, Setan Laut."

"Jangan panggil aku seperti itu. Panggil saja aku Motochika."

"Pada akhirnya…aku tidak dapat meraih…segalanya. Bahkan…kau juga…Chosokabe…"

"Mouri…? Mouri? Hei—kalau kau mau bercanda, ini tidak lucu."

"…jangan…lupakan saja aku, Chosokabe…lupakan…"

"Mouri? Mouri? MOURIIIII?"

"Hei? Kau tidak apa-apa?"

Begitu sadar—aku sudah setengah bersimpuh, dan pemuda tersebut berdiri—memegangi bahuku.

"A—aku tidak apa-apa," kataku—memegangi kepalaku yang berdentam-dentam.

"Kau terlalu banyak kena matahari," katanya—sambil melepaskan genggamannya dari bahuku, "Kau sudah berenang di sini dari tadi siang, kan? Pulanglah. Mandi air hangat, dan tidur."

"Sebelumnya, Mouri-san—" aku bangkit, lalu mengambil sebuah cangkang kerang yang sedang dilukisnya, "Bolehkah kita bertemu lagi?"

Ia menatapku dengan pandangan yang aneh.

"Aku lumayan tertarik denganmu. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu—yang kucari selama ini," kataku—sambil mengembalikan cangkang itu ke tangannya.

"Mencari apa, kau? Aneh sekali—apa yang ingin kau temukan dari diriku?" balasnya—dingin.

"Aku juga tidak begitu mengerti. Aku hanya merasa—ada sesuatu yang hilang dariku, semenjak aku memijak tanah dan laut Shikoku ini," ujarku, "Dan aku merasa selangkah lebih dekat untuk menemukannya—setelah bertemu denganmu."

Ia mendengus—mengejek, "Yah, terserahmu. Aku tidak peduli."

Mouri menutup bukunya—dan berjalan menaiki undakan.

"Salam, kalau nanti kita bertemu lagi—Chosokabe."

Beberapa langkah kemudian, ia lenyap—diiringi bayang-bayang senja.

Kukepalkan tanganku.

"Ya," bisikku—berat, "Sampai ketemu lagi."


Pagi keesokan harinya, rombonganku memutuskan untuk memancing bersama-sama.

Namun, karena perahu yang dapat digunakan untuk memancing ke tengah laut terbatas, hanya enam orang yang dapat pergi ke tengah untuk memancing—dengan menggunakan dua perahu.

Aku dan Ieyasu menaiki salah satu perahu, sementara Date memilih untuk memancing di pinggir laut bersama sisa anggota rombongan.

Selain Ieyasu, aku menaiki perahu itu bersama dengan Shimazu-san dan seorang nelayan.

"Kalian sudah berapa kali memancing?" tanya Shimazu-san, bersemangat.

"Ehm—kalau saya, ini yang pertama kalinya, Shimazu-san," jawab Ieyasu.

"Kalau kau, Chosokabe?" tanya Shimazu-san kembali.

Pikiranku melayang.

Aku tidak pernah memancing sebelumnya—namun, instingku berkata lain.

Aku merasa—aku pernah mengikat kail, menarik sesuatu yang sangat berat dari air, menembus angin laut yang menghempas wajahku—

Namun, yang terlontar dari mulutku hanya—

"Ini pertama kalinya saya memancing, Shimazu-san."

Shimazu-san tertawa, dan menepuk bahu kami berdua.

"Jangan khawatir. Aku tahu tempat yang bagus, dan kalian pasti akan kubuat menjadi pemancing top hanya dalam waktu satu jam!" ujarnya—riang.

Mau tak mau, aku dan Ieyasu tertawa mendengar penuturannya.

"Kau bisa mengikat kail, Chosokabe?" kata Shimazu-san—tercengang melihat tanganku yang sibuk membuat simpul di benang pancing, "Bukankah kau bilang kalau ini pertama kalinya kau memancing?"

"Insting, Shimazu-san," jawabku—bergurau, "Ayah dan kakekku dulunya suka memancing, mungkin kebiasaan itu jadi mendarah daging di keluarga saya."

"Omong-omong, Shimazu-san," sela Ieyasu, "Awan hitam di langit sebelah sana—kok, tampaknya berbahaya, ya?"

Benar saja kata Ieyasu, segumpal awan hitam muncul di langit—sementara angin berhembus makin kencang, dan ombak meninggi.

"Wah, aku takut mengecewakan kalian—anak-anak. Tapi, sepertinya kita tidak jadi memancing hari ini. Kita harus turun ke darat sesegera mungkin," geramnya—walaupun nada kecemasan tidak mampu ia sembunyikan dari suaranya.

Shimazu-san menginstruksikan nelayan yang mengemudikan perahu untuk memepercepat laju pelayarannya—namun ombak yang tinggi dan kencang membuatnya kesulitan.

"Anu, pak," ujarku, "Coba mesin perahunya dimatikan dulu, baru dinyalakan ulang. Supaya mesinnya lebih memanas dan lajunya lebih kencang."

Si nelayan memandangku bingung, lalu mencoba menjalankan saranku.

"Wah, kau benar. Kita bisa ngebut sedikit. Kau hebat sekali, Chosokabe!" puji Shimazu-san, tampak kagum.

Kugaruk kepalaku, "Yah, hal yang biasa bagi mahasiswa jurusan mesin, Shimazu-san."

"Kita sebaiknya cepat sedikit, pak," gumam Ieyasu—nampak khawatir menyaksikan perubahan cuaca yang mendadak, "Sepertinya, badai akan memburuk."

Belum lama berselang, sebuah ombak besar menggulung, lalu menghempas perahu kami.

Aku berguling-guling di dasar perahu, dan Ieyasu terjungkal—terjerembab di pangkuanku.

"Aaaah!"

"Sudah lama aku tak menghadapi ombak seperti ini," seru Shimazu-san, "Bertahanlah, anak-anak! Kita akan melewati ini!"

Kemudian, kilat menyambar—bunyi guruh memekakkan, dan ombak bergulung-gulung liar.

"Waah, ini seperti di film-film!" seruku—merasa asyik, walaupun agak takut juga.

"Motochika, ini nggak lucu!" jerit Ieyasu—khawatir.

Dengan waktu tak lebih dari beberapa detik yang sangat singkat, kurasakan perahu melayang—dan aku terhempas.

Jauh.

Jauh sekali.

Kulihat Ieyasu mengulurkan tangannya—hendak meraihku, namun sia-sia.

Aku jatuh—terhempas ke dalam balutan ombak yang tinggi.

"MOTOCHIKA!"

Aku berusaha sekuat tenaga—untuk menjaga agar tubuhku tetap mengambang di permukaan.

Ternyata sulit sekali. Aku terlalu meremehkan laut.

Perahu kami terombang-ambing lebih jauh lagi—gelombang laut seolah menyeretku, menjauhkanku dari perahu.

Ieyasu memanjat pinggir perahu, hendak melompat ke laut yang mengganas—namun Shimazu-san memegangi tubuhnya.

"Motochika! Motochika!"

Aku menggapai-gapai, mencoba berenang mendekati mereka—namun aku terseret ombak lebih jauh lagi.

Aku tersedak—air laut yang asin tidak sengaja masuk ke hidung dan mulutku.

Pandanganku kabur.

"MOTOCHIKAAAAA!"

Kemudian—buih-buih putih menyelimutiku, dan tubuhku terkubur sepenuhnya dalam air.


Mataku tertutup—aku tidak melihat apa-apa.

Tapi, aku tahu—aku sedang tenggelam.

Di dalam laut yang dingin.

Bau karat dan asin mengelilingiku.

Tubuhku berat—aku tidak bisa menggerakkan sejengkal pun dari tangan dan kakiku.

Apakah ini akhir semuanya?

Aku sempat berpikir begitu—sebelum sebuah cahaya menembus kelopak mataku yang terbungkam.

Kubuka mata kananku—mataku satu-satunya, dan sebuah siluet muncul dari permukaan air.

Wajahnya—sangat jernih, muncul beriringan dengan cahaya yang menembus laut.

"Bangun, Chosokabe."

Aku mendengus—geli.

Persis seperti di film-film, pikirku—di mana malaikat kematian akan menjemput begitu ajal seseorang tiba.

Namun—aku tidak merasakan kematian darinya.

Aku merasakan—sesuatu yang lain.

Namun apakah itu—aku tidak tahu.

Tubuhku tertelan cahaya putih yang membutakan itu, dan aku merasa melayang-layang—seperti di langit.

Dari laut ke langit.

Ya, dari laut—ke langit.


Aku terbatuk-batuk—dan nafas menghambur masuk ke tenggorokanku yang dicekoki air laut.

Dadaku sakit—dan tubuhku nyeri.

Kurasakan pasir di permukaan kulitku, dan aku terbangun.

Wajah Mouri muncul.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya—datar, nyaris tanpa ekspresi sama sekali.

Aku melongo, terengah-engah.

"Kau? Aku—aku…?"

"MOTOCHIKA!"

Ieyasu menerobos kumpulan orang-orang yang berkerumun di sekelilingku, dan melempar lengannya ke tubuhku.

Ia terisak-isak, gemetaran.

"Motochika…kau selamat…syukurlah…..aku—"

"Ieyasu…? Aku—?"

"Kau diselamatkan orang itu," kata Date—sambil menunjuk kepada Mouri, "Dia yang pertama menemukanmu terapung di laut, dan menarikmu ke pantai. Dia juga yang memberikanmu pertolongan pertama."

Aku terpana—bingung mencerna kejadian yang terlalu cepat berputar di otakku.

"Chosokabe-san harus ke rumah sakit," sergah salah seorang temanku di rombongan, "Ia terlalu lama di laut, bisa-bisa dia terkena hipotermia."

"Ya, kurasa itu jalan terbaik. Ayo, Chosokabe," timpal Date—menarik lenganku.

Kutepis tangan Date—dan kulepaskan pelukan Ieyasu, aku memaksakan kakiku berdiri, dan mendekati Mouri.

"Mouri, kau—"

"Tak perlu berterima kasih padaku," katanya, "Lagipula, aku akan segera melupakanmu. Seharusnya, kau berterima kasih pada teman-temanmu yang begitu memperhatikanmu. Pergilah, kau dicemaskan oleh teman-temanmu."

Kugertakkan gigiku.

"Kalau kau memang tidak peduli padaku—lantas mengapa kau menolongku, bahkan kau yang paling pertama menolongku? Jangan bersikap bodoh seperti itu—kau—"

Kakiku tak sanggup menyangga tubuhku lagi, aku terlalu lemas untuk berdiri.

"Mouri…aku…"

Tepat sebelum aku ambruk ke pelukannya, wajahnya berubah keruh—terkejut.

Suara-suara tumpuk tindih, dan tubuhku menggigil—kaku.

Aku kembali pada kegelapan.