Aku bilang padanya—kalau aku mencari sesuatu yang hilang dariku.
Mungkin saja, aku bisa menemukan itu dari dirinya.
Tapi, sesuatu itu apa?
Apakah yang hilang dariku?
Apakah yang hilang dariku—yang dapat kutemukan di dirinya?
Aku tidak tahu—aku tidak tahu—aku tidak tahu!
Butuh waktu sekitar semenit untukku bangkit dari ranjang dan membungkam jam bekerku yang terus berdering.
Kugaruk kepalaku yang tidak gatal.
Kupandang beranda kamarku yang kering—terjemur matahari pagi.
Gedung-gedung tinggi dan padat Tokyo menjulang di pelataran—sejauh mata memandang.
Aku baru tersadar—seminggu sudah lewat dengan cepatnya, semenjak kecelakaan di liburan di Shikoku.
Tubuhku sudah bugar kembali, walaupun kepalaku jadi semakin sering sakit dan suara-suara makin sering berdering.
Sebelum kembali ke Tokyo dari Shikoku, aku sempat mencari Mouri, hanya untuk menemukan bahwa ia sudah lebih dahulu pulang ke Tokyo—sehari sebelum rombonganku berkemas-kemas.
Ia berkunjung ke Shikoku dengan rekan-rekannya sesama mahasiswa fakultas kesenian, dalam rangka liburan—sama seperti rombonganku.
Aku tidak yakin dirinya juga memanggil mereka 'teman', atau 'sahabat'.
Kuhela nafasku, dan membuka pintu kulkas—mengambil sebuah kotak susu karton, dan kutenggak isinya.
"Liburanmu masih tersisa seminggu lagi," kataku—pada diriku sendiri.
Jarum jam berdetak—memecahkan kesunyian.
"Apa yang akan kau lakukan, Motochika?"
Kulempar kotak susu itu dinding—menghamburkan kemarahanku yang tak terbendung.
Selalu saja begitu—selalu saja!
Setiap kali aku mengejarmu, kau pasti selalu kabur—lari.
Berhentilah berlari, Mouri.
Tolong berhenti.
Tidakkah kau merasa kesepian—seorang diri seperti itu?
Berhentilah menyakiti dirimu sendiri.
Kumohon.
Aku berjalan-jalan di halaman belakang kampus—ke area bengkel, di mana tempat itu sering digunakan sebagai tempat praktek para mahasiswa.
"Ooh, Chosokabe! Kau sudah tiba!" seru salah seorang mahasiswa yang belepotan oli di wajahnya.
Sekitar lima-enam orang yang sedang sibuk di bengkel berhenti bekerja—dan menghambur ke arahku.
"Kudengar dari Tokugawa, kau kecelakaan kapal saat berlibur di Ehime? Kau tidak apa-apa? Kau tidak terluka?" tanya salah satu dari mereka—nampak cemas.
Aku tersenyum—menggeleng, "Tidak. Aku baik-baik saja, aku sempat hipotermia selama dua hari, tapi aku sudah tak apa-apa."
Mereka menghela nafas lega.
"Omong-omong, ngapain kalian di sini? Bukankah kita masih liburan lagi seminggu?" tanyaku—menunjuk hasil pekerjaan mereka di bengkel.
"Kami ikutan kontes modif motor, deadline-nya besok. Makanya, kami pinjam bengkel di kampus untuk membereskannya."
"Hmm, gimana kalau aku bantu sedikit?" tanyaku—menawarkan bantuan.
"J—jangan, ah, Chosokabe! Kau kan, baru sembuh! Kau juga pasti masih capek sehabis dari Shikoku, lebih baik tidak usah, deh."
"Tidak apa-apa, teman-teman. Aku sudah sehat, kok. Ayo, kemarikan kunci inggris itu—aku akan membantu kalian untuk sentuhan terakhir," kataku—mantap.
"Wah, makasih banyak, Chosokabe," kata mereka—serempak, "Senang sekali rasanya punya sahabat sebaik kau."
Pikiranku kembali terbang ke Mouri.
"Kau punya banyak sahabat. Namamu pasti tak akan pernah dilupakan—walaupun kau sudah mati nanti."
"Jangan pikirkan aku. Aku juga pasti akan melupakanmu, jadi kau tidak usah mengingatku lagi. Lupakan aku, Chosokabe. Lupakan…"
Aku menggeleng.
Kucengkeram kunci inggris di tanganku.
"Ayo, kita rombak motor ini supaya makin ganteng," kataku—nyengir.
Suara riuh dari bengkel terus berdentam.
Seusai membantu sedikit, aku berpamitan dengan teman-temanku, dan berjalan-jalan di taman kota.
Kubeli sekaleng kopi panas dari vending machine, dan kutenggak isinya sekali teguk.
Aku mendesah.
Kugosok telapak tanganku—mengusir rasa dingin.
Tokyo memang jauh lebih dingin dibanding Ehime yang terletak di selatan.
Udara perkotaan yang agak pengap menyusupi paru-paruku, berbeda dengan angin laut yang segar—meniup garam kering di wajahku.
Sinar mentari yang hangat di Ehime—seolah lenyap, ditelan awan gelap yang membayangi langit Tokyo.
Begitu juga keberadaan Mouri saat ini.
Kuremas kaleng di tanganku, lalu kulempar ke tempat sampah di sebelahku.
Aku ingin menemuinya.
Aku harus bertemu dengannya.
Mendadak—secercah cahaya terbersit di benakku.
Aku baru ingat, kalau dia mahasiswa yang bersekolah di universitas yang sama denganku.
Aku tinggal mencari alamatnya di kantor rektor saja, kan?
Sambil menyadari kebodohanku, kupukuli kepalaku sendiri—merasa sangat bego.
Tiba-tiba, sekelompok orang berkumpul di taman.
Sekitar sepuluh orang lebih.
Mereka membawa pentungan dan senjata tumpul lainnya.
Tak lama kemudian, suara jeritan dan erangan terdengar.
Aku bangkit dari dudukku di bangku taman, dan bergegas ke arah datangnya suara tadi.
Mataku membulat.
Date—sedang berkelahi dengan segerombolan orang-orang tadi.
Wajahnya babak belur—darah bercucuran dari pelipisnya.
Dua orang lainnya terkapar di tanah, tak bergerak.
"DATE!" seruku—merangsek ke tengah-tengah perkelahian tersebut.
Ia tergagap melihat kemunculanku.
"Chosokabe? Jangan ke sini!"
Kemudian—kurasakan sebuah hantaman keras menimpa kepalaku dari samping, dan aku terpental ke pinggir—jatuh berdebuk.
"Apa dia juga anggota gengmu, Maa-kun?" sembur salah seorang pengeroyok yang bersenjatakan pentungan, meludah ke kepala orang yang terkapar di tanah.
Aku mengerang, lalu bangkit.
"Date, apa-apaan ini?" seruku—marah, memegangi kepalaku yang nyut-nyutan.
Date menggigit bibirnya, dan mengepalkan tinjunya.
"Mereka ini cuma geng sampah yang beraninya main keroyokan di masa-masa SMA-ku dulu," geramnya, "Dan mereka sekarang menyerang teman-temanku!"
"Oh, begitu? Mereka main balas dendam atau apa, begitu? Sini, aku juga bantu kau beri mereka pelajaran," ujarku—sambil menggulung lengan jaketku.
Date terkesiap, dan mendorongku mundur.
"Jangan macam-macam, Chosokabe! Ini urusanku! Kau tidak usah ikut campur!"
"Mereka menggampar kepalaku tahu!" balasku—sengit, "Mereka tidak akan kubiarkan lolos dengan satu-dua tinju di wajah mereka!"
"Ayo, berhenti berkelahi antar sesama kalian," desis pemimpin geng pengeroyok tersebut, "Lawan kalian adalah kami, bukan?
Tanpa aba-aba, perkelahian meletus seperti berondong jagung dalam oven.
Date menyarangkan tinju ke kiri-kanan, menyerang membabi buta.
Aku meraung, menendang, meninju, melempar apa yang ada di hadapanku.
Tetap saja, dua lawan belasan orang memang berat sebelah.
Dua orang memitingku ke tanah, dan menghajarku.
Seseorang memegangi Date dari belakang, dan seseorang lagi menendangi perutnya.
Aku berontak, dan menghempaskan dua orang penyerangku—lalu aku berbalik memukuli mereka hingga kepala mereka berdarah.
Mendadak, salah seorang dari mereka menghunus sebilah pisau lipat kecil dari sakunya—dan menghujamkannya ke arah Date.
"AWAS!"
Sebelum ia sempat menusuk Date, aku melompat—dan meninju wajah si penyerang.
"Hampir saja, Chosokabe," geramnya, "Thanks."
Dua orang yang terbaring di tanah tadi bangun—dan berlari kepada Date seperti kesetanan.
"Kak Masamune!" seru mereka.
"Kalian!" Date terperangah, "Jangan bengong saja di sana, cepat kabur!"
Belum lama perkelahian berlangsung, tiba-tiba tiga-empat orang polisi muncul—dan suasana langsung kacau.
Gerombolan tersebut lari terbirit-birit, dan Date menyeret dua rekannya yang babak belur untuk ikut kabur.
"Kau juga harus kabur, Chosokabe!" serunya, "Aku tak ingin kau ditangkap gara-gara aku."
Aku mengangguk kecil, lalu melesat.
Seorang polisi mengejarku—namun aku tidak mau menyerah.
Aku melompat keluar dari pagar, dan bersembunyi di balik gang kecil yang gelap.
Si polisi kehilangan jejakku—dan ia kembali mengejar anggota geng yang tersisa.
Aku tersengal-sengal—dan keluar pelan-pelan dari tempat persembunyianku.
Kututup lenganku yang memar dan berdarah dengan jaketku.
Sekujur tubuhku ngilu—pedih.
Sakit.
Langit Tokyo makin gelap—dan tak lama kemudian, gerimis turun perlahan.
Aku berjalan pelan-pelan di bawah rintik hujan, bernafas dengan sangat berat.
Bisa kurasakan tulang-tulangku berderit, dan permukaan kulitku sakit.
Walaupun sekujur tubuhku menjerit kesakitan, aku memaksakan diriku untuk terus berjalan.
Terus berjalan.
Terus…
Tinggal beberapa langkah lagi, aku akan mencapai apartemenku.
Sayangnya, tubuhku tidak mau mendengarkanku lagi.
Dengan tubuh basah kuyup oleh hujan, dan luka-luka yang menganga, aku ambruk.
Aku terlentang—menghadap langit mendung yang masih memuntahkan hujan deras.
Basah. Dingin. Sakit.
Pikiranku berkelana ke dasar laut Shikoku yang dingin, tubuhku tenggelam—ditarik ke dalam kegelapan.
Bau karat dan asin garam mengelilingiku.
Nafasku berat.
Saat aku hendak menutup mataku—tiba-tiba setitik warna merah muncul, membuatku tersadar.
Sesosok pemuda muncul—dengan payung berwarna merah—berdiri di atasku.
Aku mendengus—nyengir kecil.
"Yo, Mouri."
Ia menatapku—keheranan.
"Kau sedang apa di situ?" tanyanya—dingin, "Kau habis dihajar oleh orang lain? Menyedihkan sekali."
"Heh—aku juga nggak mau dihajar, tahu," geramku—sambil masih terus terlentang di tanah, "Ini semua karena sahabatku sedang dihajar, jadinya aku juga membantunya. Tahu-tahu, aku ikut babak belur juga."
Wajahnya berubah—makin masam.
"Terserahmu," katanya, "Tapi aku beritahu kau satu hal, inilah yang terjadi jika kau mengorbankan semuanya demi sesuatu yang kau sebut sebagai sahabat."
Aku bangun—mengaduh sedikit akibat luka-lukaku.
"Kau terluka karena kesalahan sahabatmu—bukan kesalahanmu sendiri yang kau perbuat? Konyol sekali. Hanya orang-orang tolol yang—"
"Dengar, ya, Mouri," potongku—berdiri, mencengkeram pundaknya—kesal, "Itu hanya kata-kata orang yang tidak punya sahabat sepertimu. Orang sepertimu tidak akan pernah mengerti aku!"
Ia tercekat—tubuhnya kaku di cengkeramanku.
"AKU PUNYA BANYAK SAHABAT!" raungku, "AKU TIDAK AKAN PERNAH MENGECEWAKAN MEREKA! KARENA MEREKALAH YANG AKAN MENGINGATKU—MENJAGA NAMAKU AGAR TETAP HIDUP DI SAAT AKU MATI SUATU HARI NANTI!"
Matanya membulat—menatapku berat.
"ORANG SEPERTIMU TIDAK AKAN PERNAH MENGERTIKU! AKU JUGA—TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI ORANG SEPERTIMU!"
Tiba-tiba, tubuhku lemas—aku jatuh.
Ia memegangiku, kaget—tergagap.
"Cho—Chosokabe?"
Kesadaranku memudar.
"CHOSOKABE?
Payung merah di tangan Mouri tergeletak di lumpur becek—diterpa hujan yang makin deras.
Belum lama, aku terbangun.
Mouri ada di sampingku—menggotongku ke dalam apartemenku.
"M—Mouri—"
"Diam saja kau," desisnya, "Jangan banyak omong."
Ia membuka jaketku—mengambil sebuah baskom dan kain.
Tanpa belas kasihan—ia tempelkan kain basah di luka-lukaku yang menganga lebar.
"AUUUUUUUH!"
"Berisik. Sudah kubilang, jangan ribut," omelnya—sambil terus menyeka lukaku dengan kain basah.
"Begitu, ya, caramu menolong orang?" gumamku—sambil mendengus, geli, "Aduh, sakit, tahu."
"Setahuku, waktu ini—kau kena hipotermia sewaktu tenggelam di Shikoku, bukan?" tanyanya, "Kenapa kau hujan-hujanan lagi? Nanti kau sakit lagi."
Kugigit bibirku—menahan rasa sakit, mengabaikan pertanyaannya.
Ia berdiri, lalu menengok kanan-kiri.
"Kamar mandimu di mana? Ada bak mandinya?" tanyanya.
"Tepat di depanmu. Ada, sih, tapi—jangan bilang kau mau mandi di apartemenku—"
Belum selesai aku berbicara, ia menghambur masuk—dan menyalakan keran bak mandi.
"Hei—ap—"
Dalam kecepatan kilat, ia langsung keluar dari kamar mandi, dan membuka bajuku.
"Apa-apaan—"
Ia langsung membuka bajunya—dengan kecepatan yang tak bisa diduga.
"Jangan ribut, Chosokabe."
Mouri mendekap tubuhku yang menggigil—dan aku terlonjak, kaget bukan main.
"Astaga! Kau ini!" geramku.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku hanya memberimu pertolongan pertama. Seperti yang kulakukan padamu di Shikoku seminggu yang lalu."
Oh—sialan.
"Kukira, kau itu homo—atau semacamnya," desisku—selagi wajahku memanas.
Ia mendecak—jengkel.
Tapi, benar juga—tubuhku yang gemetaran berhenti menggigil, dan rasanya badanku mulai menghangat.
"Sepertinya sudah beres. Sekarang, kau ke kamar mandi. Masuk ke bak, dan jangan banyak omong," titahnya.
"Tunggu dulu—apa—"
Berhubung tubuhku sedang lemas, ia menyeretku ke kamar mandi—dan mengangkatku dengan susah payah.
Tiba-tiba, Mouri kehilangan keseimbangannya, dan ia limbung—membuat tubuhnya dan aku tercebur sekaligus ke dalam bak.
"Lihat, orang pintar! Bagus banget hasil pekerjaanmu!" omelku.
Aku tercekat.
Kulihat wajah Mouri dari dekat—bersemu kemerahan, dan bulu matanya yang lentik.
Wajahnya basah—dan tetesan air yang bening menitik dari kulitnya.
"Kau nangis?"
"Berisik, Chosokabe! Pergi, sana! PERGI!"
"Kuberitahu kau, ya. Tidak baik menahan tangis, tahu. Kalau kau ingin menangis, menangislah. Jangan ditahan-tahan."
"Minggir, Chosokabe. Biarkan aku sendiri."
"Tidak—tidak mau."
"Chosokabe!"
"Aku akan terus di sini. Di sisimu. Sampai kau berhenti menangis."
Tangan Mouri meraih wajahku—lalu membuka penutup mata yang menutup mata kiriku.
"Mata ini," bisiknya, "Aku yakin, dia punya banyak cerita."
Aku tersenyum.
"Rasanya, aku sudah menemukan sesuatu yang hilang dariku. Aku sudah mendapatkannya darimu."
Perlahan—kudekati wajahnya.
Kusentuh bibirnya dengan bibirku—membiarkan nafasnya beradu dengan wajahku.
"Aku sudah pernah merasakan ini sebelumnya," katanya.
"Oh ya?"
"Di Shikoku waktu itu. Waktu kau tenggelam dengan sangat memalukan."
Aku melongo.
"JADI—KAU—MELAKUKAN ITU DI HADAPAN ORANG BANYAK?" jeritku—sambil melompat, membuat air dari bak tumpah ke lantai.
Ia mengangguk—lurus.
"DI HADAPAN IEYASU—DATE—DAN SEMUA TEMAN-TEMANKU? ASTAGA—"
"Itu wajar saja, kan. Kalau tidak, kau tidak akan ada di sini—menjerit-jerit seperti cewek. Pasti kau sudah berada di lubang kuburmu sekarang.
Aku menggeram—jengkel.
"Kau memang homo—ternyata, ya…" desisku.
"Kau sendiri," balasnya.
Hening mendadak—dan bunyi kecipak air di bak menggema di kamar mandi.
Aku tertawa kecil.
"Kau ingat, Mouri? Kita pernah bertemu sebelumnya—di Shikoku. Kau ingat?"
Ia mengerinyitkan alisnya.
"Aku berhasil mengingatnya. Semuanya. Tentangku—tentangmu. Tapi, kau tidak ingat?"
Kusambar lengannya, dan kami tercebur lagi ke dalam bak.
"Biarlah. Aku sudah puas. Aku senang—kau berada di sisiku sekali lagi. Aku sudah puas…"
"Chosokabe?"
"Aku tak peduli kau punya sahabat atau tidak—yang penting, aku sudah pernah berjanji padamu, untuk terus mengingatmu—apapun yang terjadi. Walaupun tidak ada seorangpun yang akan mengingatmu, biarkan aku jadi satu-satunya yang mengingatmu."
Mouri mendekatkan wajahnya padaku—dan menatapku lurus.
Walaupun kecil, bisa kulihat ada gurat-gurat kesedihan dan kesepian di matanya.
"Aku minta maaf tadi," gumamku, "Aku bilang—bahwa aku tidak akan pernah mengerti orang sepertimu, tapi aku salah. Aku sudah mengerti semuanya."
"Tapi, aku yang tidak mengerti," katanya, "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan sama sekali, Chosokabe. Kau terbentur di kepalamu, tadi?"
Aku tergelak—lalu menciumnya sekali lagi.
Ia tidak melawan—ia membenamkan bibirnya lebih erat lagi.
Uap air panas dari bak mengepul, dan bunyi kecipak air memenuhi kamar mandi.
