Tokyo, 13 Januari 20XX
10:04 AM
Dua hari setelah insiden perkelahian di taman, Date muncul di pintu apartemenku.
Wajahnya masih lebam dan memar—walaupun tak separah waktu itu.
"Hello, Chosokabe," sapanya—nyengir, "Kebetulan sekali."
"Kebetulan apanya?" balasku, "Kau butuh bala bantuan lagi?"
Ia tertawa kecil, "Ya. Tapi, bukan dalam urusan berantem. Urusan ini."
Date menyorongkan selembar amplop kecil berwarna merah muda pucat, berhiaskan pita merah.
Kuterima amplop itu dan kubaca isinya.
"Reuni? Reuni SMA angkatan kita?" seruku—terkejut, namun senang.
"Yep. Mereka mengadakan party di restoran yakiniku dekat SMA lama kita. Sepertinya, penyelenggara acara reuni kita pintar—dia sengaja memilih tempat itu, tempat dulu kita sering hang out bareng sepulang sekolah semasa SMA."
"Mereka menyediakan bir juga?"
"Hell yes. Pasti, dong."
"Kapan ini diadakan?"
"Tuh, lihat. Tertera di amplopnya. Sekalian tempat acaranya."
Tiba-tiba, ponselku bergetar.
Sebuah panggilan masuk—dari Ieyasu.
"Halo? Motochika?"
"Hai. Ada perlu apa, sobat?"
"Kau sudah mendengar kabar mengenai reuni SMA kita?"
"Sudah. Aku baru saja menerima undangannya dari Date. Dia ada di sampingku sekarang."
"Baguslah. Oh, iya—karena aku juga salah satu pengurus acara reuni, aku harus memberitahu kalian mengenai dresscode."
"Dresscode? Amit-amit. Masa, kita ke resto yakiniku pakai jas?" tukasku—heran.
"Bukan. Memang gaya berpakaian kita bebas, kok. Hanya saja, kita menggunakan pakaian warna putih—warna 'kebangsaan' SMA kita. Ingat, pakai baju putih, ya. Sampaikan ini juga pada Date-san."
"Iya, aku sampaikan. Trims infonya."
Kuakhiri pembicaraan.
Date mengerling kepadaku—lalu tersenyum lebar.
"Kita akan party, Chosokabe. Party."
Tokyo, 16 Januari 20XX
07:12 PM
Petang harinya, acara reuni SMA kami benar-benar dilangsungkan.
Banyak sekali aku menemui wajah-wajah lama yang kembali muncul.
Begitu aku masuk ke restoran—aku kebingungan mencari tempat duduk, saking padatnya kerumunan pengunjung.
"Motochika! Sini, sini!"
Kucari arah sumber suara tadi.
Ternyata Ieyasu—melambaikan tangannya, berdiri di antara Date dan beberapa orang lainnya yang sedang duduk.
"Kukira, aku datang terlambat," kataku—menghempaskan diri ke kursi.
"Baru saja semuanya berkumpul, kok, kata Ieyasu, "Lagipula, acara utamanya dimulai pukul setengah delapan nanti."
"Tokugawa—kalau kau biarkan dia manja, dan terlambat terus-menerus seperti ini, bisa-bisa dia kebiasaan dan karirnya bakal ludes gara-gara selalu telat."
Seorang perempuan—berwajah tirus, menatap tajam kepadaku.
"Sayaka," geramku—agak sebal, "Kau tidak berubah. Masih judes seperti dulu."
"Kau juga tidak berubah. Masih berandalan dan sering terlambat. Aku heran, orang sepertimu bisa selamat sampai ke jenjang perguruan tinggi," balasnya—tanpa ampun.
"Hei, hei. Kalian berdua, jangan bertengkar, dong. Masa, baru bertemu sudah mulai berantem," ujar Ieyasu—gagap.
"Kalau aku boleh bilang," sela Date—yang meneguk segelas air putih, "Kalian semua tidak berubah sama sekali. Hanya tampang kalian yang sedikit berubah."
Aku dan Sayaka tersenyum mendengar penuturannya.
"Kau juga, Date. Hanya wajahmu yang lebih banyak memar daripada waktu berantem SMA dulu," celetuk Sayaka—santai.
Date terbahak, "Hahaha! Tentu saja!"
"Hei, teman-teman. Acaranya akan dimulai. Sebaiknya kita pindah ke sana, kita akan menggunakan meja besar itu untuk makan bersama-sama," kata Ieyasu, menunjuk sebuah meja sangat besar di tengah restoran.
Tepat setelah ia menyelesaikan kalimatnya, perutku dan perut Date mengeluarkan suara keroncongan.
"Kebetulan sekali," kataku—nyengir, "Aku sudah mulai lapar."
Tokyo, 16 Januari 20XX
09:42 PM
Aku duduk di sebelah Sayaka—sementara Date dan Ieyasu duduk bersebelahan—di seberang kami, menghadap aku dan Sayaka.
Setelah perut kenyang, botol-botol bir disiapkan—dan gelas-gelas tinggi dikeluarkan.
Aku terperangah.
"Ieyasu," kataku—melongo, "Kau sungguh-sungguh kita boleh menyapu ini semua?"
"Tentu saja," jawabnya—ringan, "Kita, kan, sudah umur legal untuk minum. Dan para penyelenggara sudah membeli semua ini untuk acara."
"Tapi…ini—banyak sekali," timpal Sayaka—sama terkejutnya sepertiku.
"Tidak apa-apalah, sobat," ujar Date, mengisi gelasnya, "Sekali-sekali, kita juga harus seperti ini. Party gila-gilaan selagi kita mampu."
Aku mengedikkan kepala, "Date benar. Ayo, tunggu apa lagi?"
Sayaka tersenyum, lalu mengisi gelas Ieyasu.
"Terima kasih, Saika-san," gumam Ieyasu—menyeruput isinya.
"Sama-sama. Ah, sudah lama aku tidak merasakan minuman ini."
Lalu, yang mengagetkan—Sayaka mengisi gelasnya sendiri penuh-penuh, lalu menenggak isinya hingga tandas dalam hitungan beberapa detik.
"Aaaah," ia mendesah, meletakkan gelasnya—mendecak nikmat, "Enak sekali."
"Wow, Sayaka—aku tak pernah menyangka—"
"Kalau aku kuat minum? Yah, sejujurnya, aku sendiri juga heran," jawabnya—terkikik.
"Kau kuliah di mana sekarang?" tanya Ieyasu—mengisi gelas Sayaka lagi.
"Aku tidak kuliah. Aku bekerja," jawabnya—sambil menenggak birnya dan dengan cepat menghabiskannya, "Ahhh. Aku bekerja di perusahaan keluargaku."
"Oh, bagus—business woman," gumam Date—ikut menenggak isi gelasnya, "Beda dengan kami yang kuliah."
Begitu Ieyasu mengisi gelasnya yang ketiga, seseorang muncul dan duduk di sampingnya.
"Wah, Ishida," ujar Sayaka.
"Halo, kau baru datang, Mitsunari?" sapa Ieyasu—senang.
Pemuda yang baru datang tersebut menunjukkan wajah datar—tak tertarik sama sekali.
"Tidak. Aku sudah dari tadi datang. Aku pindah duduk, di sebelahku si Maeda kumat," jawabnya—kesal.
"Oh, Keiji," gumamku, "Apa yang terjadi dengannya? Dia mabuk?"
Ishida menggeleng, "Bukan. Toshiie."
"Ya ampun, Maeda," keluh Sayaka—geleng-geleng kepala.
"Omong-omong soal Toshiie," sela Date, "Dia baru saja menikah dengan Matsu—yang dulunya anak di kelas sebelah kelas kita itu, kan?"
"Ya, aku juga dengar itu. Mengagetkan, ya. Suami-istri yang masih sangat muda," timpal Ieyasu—mengisi gelas Ishida.
"Kau bagaimana, Ishida?" celetuk Sayaka—menenggak gelas keenam, "Apa kabarmu?"
Pemuda yang ditanyakan tersebut hanya diam—meneguk birnya dalam sunyi.
"Ah, hai, Mitsunari," kata seseorang—yang berjalan melewati kami. Di belakangnya, dua orang pemuda sedang menggotong tubuh seorang lelaki yang besar. "Aku pulang duluan, aku harus mengantar beruang ini ke rumahnya. Dia kalah oleh bir sebelum waktunya."
"Tidak apa-apa, Gyoubu," balas Ishida, "Kau yakin, kau mampu mengantar Kuroda? Maksudku—dia besar—"
Lelaki itu membetulkan masker yang menutupi wajahnya, "Aku dibantu Utsunomiya dan Satake menggotong pemabuk ini. Bagaimana denganmu? Kau tidak apa-apa pulang sendiri? Bagaimana kalau nanti kau mabuk?"
Ishida menggeleng, "Tidak apa-apa. Nanti Ieyasu yang akan mengantarku. Pergilah. Hati-hati di jalan, Gyoubu."
Si lelaki bermasker melambai, lalu lenyap di balik pintu.
Wajah Ieyasu memerah—aku tidak bisa menerka penyebabnya, entah karena pengaruh alkohol atau karena kalimat 'nanti Ieyasu yang akan mengantarku' tadi.
"Ayo, ayo! Tambah minumnya!" seru Date—mencairkan suasana, sambil mengisi gelas Ieyasu yang isinya tinggal es batu.
Selagi aku menghitung, Sayaka sudah memasuki gelas kesebelas—dan belum ada tanda-tanda mabuk sama sekali.
Kubiarkan Date mengisi gelasku, selagi sahabatku yang lain tertawa-tawa—menggoda Ishida, menertawakan Ieyasu, dan bersenda gurau.
Kumiringkan gelasku—ada pantulan wajahku di sana.
Di antara es batu yang mengambang di genangan bir.
Entah mengapa—bayangan itu menjelma perlahan, menjadi bayangan wajah Mouri.
Apa yang sedang ia lakukan?
Apa dia kesepian lagi—menghabiskan malam dingin ini sendirian?
Lihat sekelilingku—penuh canda dan tawa, penuh sahabat, penuh kehangatan.
Kira-kira, apa yang sedang ia rasakan sekarang?
Tokyo, 16 Januari 20XX
10:57 PM
"Eh, Saika! Kau sudah berapa gelas, sih?" pekik Date—terperanjat melihat aksi Sayaka yang tiada habisnya.
"Aku tidak ingat. Sekitar empat belas? Lima belas?" jawabnya—santai.
"Buset," ujar Ieyasu—terperangah, "Hebat sekali kau, Saika-san. Tapi hati-hati, ingat jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak minum."
"Aku tahu, Tokugawa. Terima kasih nasehatnya."
"Sorry, boleh aku merokok?" sela Date—berhenti minum.
"Sebenarnya, aku benci rokok," gumam Sayaka—mengerling tajam ke bungkus rokok yang dipegang Date, "Karena hari ini spesial, tak apa-apa."
"Ada korek, Ieyasu?" tanya Date.
"Kalau lighter sih, ada. Ini, biar kunyalakan rokokmu."
"Thanks."
Begitu Ieyasu menyalakan pemantik—secercah lidah api kecil muncul, membakar puntung rokok yang terselip di bibir Date—Ishida di sampingnya terlihat aneh.
Ia nampak gelisah—dan kulihat ia berkeringat dingin.
Mendadak, ia berdiri dari duduknya—dan meraung liar ke arah Ieyasu.
"Jangan—JANGAN! HENTIKAN—HENTIKAN!"
Aku dan Sayaka refleks berdiri—dan menghampiri Ishida yang melonjak-lonjak.
"Ishida?" gagapku, dan Sayaka, "Apa—"
"JANGAN NYALAKAN API ITU! HENTIKAN! JANGAN—"
Ieyasu segera mematikan pemantiknya—walau begitu, Ishida tetap bergelantungan di tubuhnya, mencengkeram kerah baju Ieyasu, sambil berteriak-teriak histeris.
Pemandangan ini tentu mengundang perhatian berlebihan di antara para pengunjung restoran.
"Mitsunari?" kata Ieyasu—gelagapan, kaget, "Ada apa dengan api ini?"
"JANGAN—IEYASU—JANGAN! HENTIKAN—HENTIKAAAAAN!"
Belum selesai dengan kehebohan ini, Ishida mendadak terhuyung—jatuh pingsan.
Tubuhnya berdebum menghantam lantai.
Suasana kacau.
Para pengunjung mulai ribut.
Ieyasu bertindak cepat. Ia langsung membopong tubuh Ishida yang terbujur kaku, membawanya keluar restoran.
Dengan tergesa-gesa, aku mengikuti mereka keluar.
Kulihat Ieyasu membuka pintu mobilnya, dan memasukkan Ishida ke dalamnya.
"Ieyasu!" seruku—mengejarnya, berlari tergopoh-gopoh di lapangan parkir yang temaram, hanya diterangi sebuah lampu petromaks di pinggir jalan—serta cahaya redup dari restoran.
Ia menoleh kepadaku—wajahnya tampak bingung.
"Ada apa dengan Ishida tadi?" tanyaku—setelah berhasil menyusulnya, dan menghampiri mobilnya yang diparkir.
Ieyasu menggeleng, "Aku juga tidak tahu, Motochika."
Kulihat Ishida yang terbaring di jok belakang mobil.
Wajahnya pucat pasi.
"Ini bukan yang pertama kalinya," kata Ieyasu—memecahkan kesunyian, "Dia sudah beberapa kali seperti ini."
Aku terperangah, "Apa? Dia mengamuk seperti itu setiap kali kau merokok?"
"Bukan. Setiap aku berada di dekat api, dia selalu seperti itu. Aku tidak menyangka, dia kumat lagi—padahal, apinya kecil…sekecil api dari pemantik tadi…"
Ieyasu mendesah, lalu menyandarkan punggungnya di badan mobil.
"Ia juga pernah mengigau. Ia menjerit-jerit dalam tidurnya, bahwa aku akan mati oleh api atau sejenisnya. Bahwa aku akan mati terbakar."
Aku terlonjak.
Tiba-tiba, pusaran berbagai macam gambar bermunculan dalam kepalaku.
Berputar—perlahan, namun pasti.
Aku mengingatnya.
Ieyasu—dan Mitsunari.
Bukan di kehidupan ini—tapi di kehidupan yang lain.
Ternyata Ishida mampu mengingatnya.
"Eh, tunggu dulu. Tadi—kau bilang, Ishida mengigau…menjerit dalam tidurnya…bagaimana kau bisa tahu?" tanyaku—baru saja menyadari arti kalimat yang diucapkan Ieyasu barusan.
Ieyasu cepat-cepat membekap mulutnya sendiri—seolah tidak sengaja membocorkan informasi yang terlalu penting.
Terlalu banyak informasi.
Ia tertawa kecil, lalu mengusap keningnya perlahan—menghela napas panjang.
"Yah, sejujurnya—Motochika…aku menjalin hubungan dengan Mitsunari."
Berita ini makin membuatku melonjak lebih tinggi lagi.
"A—apa? Berhubungan…dalam arti…?"
Ieyasu tertawa lagi, "Yah, kau tahu. Seperti Toshiie dan Matsu. Minus kata 'menikah'."
"Kau pacaran—" gagapku—terkejut bukan main, "Kau PACARAN dengannya?"
Ia mengangguk—malu-malu.
Astaga astaga astaga.
Sahabat karibku seorang gay.
Hei, tunggu dulu. Aku sendiri juga—
—ah, lupakan.
"Kau kaget, ya?" tanyanya—muram, "Kau pasti kaget, ternyata sahabatmu tidak waras seperti ini. Aku benar-benar merasa jijik pada diriku sendiri."
"Ieyasu, sobat," kudekati pundaknya, lalu kutepuk perlahan, "Aku tidak peduli. Kau sahabatku—dan selamanya akan tetap jadi sahabatku."
Ia menatapku—wajahnya memerah.
"Seperti Ishida juga," lanjutku, "Dia selalu ada di sisimu, dan selamanya juga akan seperti itu."
Aku menatap ke dalam—memperhatikan wajah Ishida yang warnanya kembali, tidak sepucat tadi.
"Aku tahu. Ini juga bukan pertama kalinya kalian menjalin hubungan seperti yang kau katakan. Ini yang kesekian kalinya."
Ieyasu melongo, "Kau tahu dari mana? Menjalin hubungan seperti apa—"
"Dalam banyak arti. Aku yakin Ishida juga mengingatnya, seperti halnya diriku. Hanya saja, dia tidak ingat dengan jelas sepertiku. Dia hanya ingat bagian-bagian pentingnya saja."
Ieyasu menunduk.
"Kau tahu kasus beberapa orang yang mampu mengingat kehidupannya di masa lampau—sebelum ia terlahir ke kehidupannya yang sekarang ini?" tanyaku.
Ia mengangguk, lalu matanya membesar, "Kau bisa mengingatnya, Motochika? Seperti apakah kehidupanku dengan Mitsunari di masa lalu?"
"Ya, seperti kalian sekarang ini," jawabku—singkat, "Dan saranku, jauhi api—terutama yang besar. Ishida benar, kau lebih baik tidak dekat-dekat api. Ini ada kaitannya dengan kehidupanmu di masa lampau—tapi, lebih baik aku tidak bilang seperti apa. Lagipula, kasihan dia—tersiksa oleh sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu."
"…Ternyata, aku memang orang yang bodoh, ya?" gumamnya, menyentuh wajah Ishida yang terbaring di jok belakang mobilnya, "Aku orang yang tidak tahu apa-apa, dan aku terus menyakitinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Aku orang yang tidak pantas untuknya."
"Kau salah, Ieyasu," tukasku, "Hanya kau yang bisa berada di sisinya. Di masa lalu, kau dan dia sudah membuat terlalu banyak kesalahan. Kini, karena kau sepertinya tidak bisa mengingatnya sama sekali—namun Ishida bisa, aku akan memberitahumu, sebagai orang yang paling tahu."
Ieyasu membelalak.
"Kalian harus memperbaiki nasib kalian—jangan sampai kehidupan kalian yang lampau terulang kembali di masa sekarang ini."
Ia menggaruk kepalanya, "Apa kehidupan kami yang lampau berakhir dengan tragis? Dan aku—berhubungan dengan api…seperti mati terbakar, begitu?"
Aku terdiam, tidak menjawab.
"Dan Mitsunari mengingatnya," katanya—muram, "Walau hanya samar-samar."
Ieyasu mendekatiku—wajahnya terlihat lebih pias dibandingkan tadi.
"Berjuanglah, sobat," ucapku—kehabisan kata-kata, "Aku yakin, kau pasti bisa bahagia."
Ia mengangguk—patah-patah, lalu membenamkan wajahnya ke dadaku.
Kurangkul dia perlahan, menepuk-nepuk punggungnya.
Aah, ternyata ada juga orang lain yang mampu mengingat sejengkal dari masa lalu yang sudah lama tiada.
Apa kau juga mampu mengingatnya, Mouri?
Seandainya kau juga ingat, apa yang akan kau lakukan?
Apakah kau akan senang? Ataukah marah?
Apakah kau akan membenciku—mengingat apa yang telah kulakukan di masa lalu?
Samar-samar, dari kejauhan, sesosok orang muncul—di bawah cahaya temaram lampu petromaks di pinggir jalan.
Ia berjalan pelan-pelan—dan wajahnya sukar dilihat dalam kondisi gelap seperti ini.
Begitu cukup dekat, aku langsung mengenalinya—dan aku terkesiap.
Mouri.
Dia memergokiku sedang berpelukan dengan Ieyasu—dan dari wajahnya, aku sudah bisa menebak keterkejutannya.
Wajahnya berubah muram—dan ia berbalik, melangkah tergesa-gesa—meninggalkan lapangan parkir.
Kulepaskan pelukan Ieyasu—dan aku berlari mengejarnya.
"MOURI—HEI, MOURI! TUNGGU!"
Begitu ia berjalan lebih jauh—ia lenyap, ditelan kegelapan malam.
"Sialan," desisku, menghantamkan tinjuku ke tiang listrik di dekatku.
Malam makin larut, dan suara riuh dari restoran masih membahana keluar—melebur dalam pekat hitam yang dingin dan kegelapan di pinggir jalan.
