Disclaimer: I don't own anything but the plot

Warning: sumpah OOC gila! AU, gaje, abal, cheesy(?) to the max! don't like don't read

U'r OoC, Boss!

Ch 2

Apa itu sebenarnya? Apakah mungkin… ini yang namanya cinta…? Setiap kali melihat senyumnya, setiap kali melihat kelakuannya, aku tidak bisa menahan diriku untuk tersenyum dan tertawa. Mengapa dia bisa membuat diriku seperti ini? Apa yang telah ia perbuat padaku? Apa aku akan jatuh terlalu dalam…?

.

.

.

"Pilih antara geng ini dengan pacarmu itu, Shou," tegas Len pada salah satu anak buahnya; Shouzaburou Kishimoto.

"Bos… aku..." Shou hanya bisa menunduk, seraya membetulkan kacamatanya yang melorot.

"Aku tidak ingin mempunyai anak buah yang tidak konsisten, Shou. Kamu harus memilih," ucap Len datar tetapi tegas.

Kini mereka berada diruang khusus ketua, dimana hanya ada Len, Ryou, Kazuki, Aoi, Kiriya, Keiichi dan Shou—anak buah yang akan diadili(?).

"Dengar, Shou, ini mungkin sulit untukmu, tapi ini demi kebaikan geng ini dan pacarmu juga. Bila kamu tidak bisa memilih salah satu, maka itu akan menyulitkan kamu—dan kami. Keselamatan geng ini bisa terancam—dan pacarmu itu juga," jelas Len, panjang lebar.

Shou masih tertunduk.

"Bila kamu ingin masih menjadi anggota geng Seiso, tinggalkan gadis itu. Tapi, kalau kamu tetap ingin berpacaran, tinggalkan geng ini."

Shou terkejut, "Apa?"

"Kau mendengarku, Shou."

Shou yang dengan tatapan tidak percaya, melihat raut muka Len yang datar-datar saja—seperti sama sekali tidak peduli dengannya. Sebegitu kejamnya kah bos dengan dirinya? Tidak ada pilihan yang lebih ringan kah? Ini sangat sulit bagi Shou. Geng adalah tempat satu-satunya ia dapat diakui dan pacarnya adalah orang yang paling ia cintai. Terus bagaimana bisa ia memilih salah satu dari itu?

"Bos… bos tidak mengerti…!" pekik Shou seraya keluar dari ruangan itu. Bos tidak mengerti dengan kondisi yang ia alami saat ini. Bos terlalu dingin untuk mengetahui perasaan yang ia rasakan saat ini. Bos terlalu… terlalu… 'Aku tidak percaya lagi padamu, Bos! Aku ingin Azuma-kaichou kembali!'

Melihat Shou yang tiba-tiba keluar, membuat semua yang berada diruangan itu terkejut, tak terkecuali Len. Tapi ia langsung kembali seperti semula, datar.

"Len, bagaimana ini?" tanya Ryou.

"Bos?" yang lain juga penasaran dengan tindakan apa yang akan Len ambil.

Len menghela napas, "Kazuki-senpai dan Aoi, ikuti Shou, awasi dia."

"Baik, bos!" dengan itu Kazu dan Aoi pun meninggalkan ruangan Len dan pergi mengikuti Shou yang sudah agak jauh meninggalkan markas geng.

"Bos, bukankah perkataanmu agak kasar?" tanya Kiriya yang diberi deathglare sama Len, lalu ia tertawa gugup, "maksudku setidaknya lebih lembut sedikitlah, biar Shou tau kalau bos sebenarnya mengkhawatirkannya," lanjut Kiriya.

"Mustahil, Kiriya, Len memang dari dulu begitu, dia ga bisa mengeluarkan perasaanya yang sesungguhnya. Tapi… cie cie… ternyata Bos kita manis juga ya… khawatir-khawatir gitu…" Ryou bersiul.

"Diam kau, Ryou! Dan Kiriya, sebaiknya kamu bawa pulang Keiichi, lagi-lagi dia ketiduran disofa…" ucap Len datar, tapi ada sedikit nada khawatir.

"Bilang aja kamu khawatir kalau kouhai kita yang imut itu nanti sakit," goda lagi Ryou.

"Ryou, kamu tau rasanya dihajar?" Len mendeathglare Ryou, lalu mengalihkan pandangannya ke Kiriya dan Keiichi, "Kiriya, bawa dia pulang."

"Ok, ok Bos!" Kiriya langsung mengangkat Keiichi, dengan bantuan Ryoutaro menaruhnya dipunggung Kiriya, "Yosh!"

"Kiriya," panggil Len sebelum Kiriya keluar dari ruangannya.

Kiriya menoleh, "Ya?"

"Maaf membuatmu kerepotan membawa Keiichi… maaf ga bisa bantu," ucap Len, pelan, ia memalingkan wajahnya.

Kiriya dan Ryou tertawa, "Tuh kan benar kata Ryou, Bos khawatir!"

"Apa kataku!"

"Urusai! Dan cepatlah pergi."

"Baiiik… sampai jumpa besok!" ucapnya seraya meninggalkan ruangan Len. Dan meninggalkan si Bos dengan Ryoutaro.

"Ryou."

"Iya, iya… aku sudah menyuruh Sasaki yang mengawasinya," ucap Ryou, sudah tau apa yang ingin bosnya itu ketahui.

"Terima kasih… dan soal Shou… aku merasa munafik," Len menundukan kepalanya.

"Bos…" gumam Ryou, ia bahkan tidak dapat merespon perkataan bosnya itu. Apa yang harus ia katakan coba? Bilang: bos ga salah kok, kan semua manusia berhak untuk mencintai. Atau: itu salah bos sendiri, kenapa juga suka sama Hino. Atau: sudahlah bos, ini pasti karma buat bos. Or: makanya ga usah sok-sok-an deh, bilang begitu sama Shou, padahal bos sendiri punya seseorang yang disukai. Ryou menggelengkan kepalanya, ng…nggak mungkin ia ngomong seperti itu. Mau hidupnya diakhiri Len disaat ini juga… gaah! Pemikiran itu membuat Ryou bergidik.

"Ryou… apa yang harus kulakukan…?" tanya Len, pelan, tapi Ryou masih bisa mendengarnya. Len menundukkan kepalanya.

"…" Ryou membatin, 'Apa yang harus bos lakukan? Aku bahkan bertanya-tanya… maaf, aku tidak tau jawabannya bos…'

~La Corda~

"Mai…!"

Gadis yang dipanggil Mai menoleh, "Shou," ucapnya sambil tersenyum.

"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Shou seraya berjalan mendekati pacarnya itu—Mai Koizumi— dan langsung saja ia memeluknya.

"A…ada apa, Shou?" tanya Mai, bingung dengan Shou yang tiba-tiba saja memeluknya, Shou kan jarang melakukan ini didepan umum—meskipun sekarang tidak ada orang digerbang sekolah.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Mai," gumam Shou sambil mempererat pelukannya terhadap gadis itu.

Mai yang merasakan tubuh Shou yang bergetar, menjadi khawatir dan tambah bingung. Apa yang menyebabkan pria ini begitu ketakutan. Ya, Mai merasakan kalau pacarnya itu ketakutan, entah takut karena apa. "Kamu kenapa, Shou?"

"Mai… aku…" Shou tidak bisa menjawab itu. Masa ia harus bilang kalau hubungan—backstreet—mereka ketahuan oleh bosnya, dan Shou dikasih pilihan antara gadisnya itu atau geng. Ia tak mungkin bilang itu pada Mai, pasti nanti Mai malah mendesaknya untuk memilih geng—karena Mai tau kalau geng adalah tempat satu-satunya bagi Shou untuk mendapatkan teman.

"Shou…? Ceritakan lah padaku…" pinta Mai, memeluk balik Shou dengan erat.

Shou menggelengkan kepalanya, "Biar ku antar kamu pulang, Mai," ucapnya seraya melepaskan pelukannya dari gadis itu.

"Shou…?"

"Ku antar kamu pulang."

Mai tau kalau sekarang Shou tidak ingin membicarakan apa-pun-masalah-yang-dihadapi-nya, Mai hanya bisa mengehela napas, "Baiklah," pasrah Mai, lalu menggenggam tangan Shou dan mulai berjalan meninggalkan sekolah.

Tidak disadari oleh mereka, ada 2 pasang mata yang mengamati mereka dari jarak yang cukup jauh.

~La Corda~

"Sasaki, kamu sudah datang."

"Iya, bos."

"Apakah…?"

"Sudah, sudah bos, aku sudah memastikan kalau dia pulang dengan selamat sentosa dunia akhirat. Bos ga usah khawatir, aku, Junnosuke Sasaki, siap mengawasi Sang Tuan Putri 24/7!" ucap Sasaki dengan semangat '45, seraya hormat kepada bosnya.

"Jangan lebay deh, Sasaki," cibir Ryou sambil tertawa geli, "Aku mikir ya, sejak kapan Hino jadi 'Sang Tuan Putri'?"

Sasaki ikutan tertawa, "Sejak bos menyatakan kalau dia tergila-gila dengan Hi—"

"Urusai!"

"Hiiik, bos marah…! Takuut!" ucap Ryou dan Sasaki bersamaan sambil tertawa dan berpose seperti orang ketakutan, mereka senang banget ngolokin bosnya itu.

Len langsung mengeluarkan aura-aura hitam dan tiba-tiba saja suhu diruangannya turun menjadi 0 derajat. Sungguh fenomena yang menakjubkan!

"Wooii, asem, AC nya terlalu dingin!" ucap seseorang, entah siapa, sungguh misterius, tapi dari ciri-cirinya dia mempunyai rambut hijau tua dan berkulit—hei, itu Ryou!

"Hn, maaf sengaja," ucap Len, datar. Ia memegang remote AC rupanya.

"Yee!"

"Btw, bos kapan ngasih tau ke anggota lain tentang Hino?" tanya Sasaki. Sebenarnya ia merasa spesial karena hanya dia dan Ryou yang tau tentang rahasia terbesar dari bosnya ini.

"Aku… tidak tau," ucap Len, pelan.

Dan tiba-tiba saja sunyi menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bersuara. Mereka semua larut dalam deterge—eh, pikiran masing-masing.

~La Corda~

"Shou, sebenarnya apa ya—"

"Sstt, Mai, diam ditempat," perintah Shou, pelan. Kini ia berada didepan Mai, tangan gadis itu masih digenggamnya, dalam posisi penjagaan. "Keluarlah kalian!" seru Shou.

Lalu terdengar suara tawa jahat yang berasal dari sisi jalan yang gelap—tidak ada cahaya, karena hari semakin malam dan lampu jalanan disana entah kenapa belum dinyalakan atau memang mati atau memang tidak ada lampu jalan sama sekali disana.

"Kita bertemu kembali bocah geng Seiso!" ucap salah satu dari mereka.

Dan satu per satu mereka muncul dari kegelapan. Ada 3 orang. Gawat, satu lawan tiga? Ini tidak bagus.

"Kalian dari geng mana?" tanya Shou, memasang ancang-ancang untuk berkelahi bila mereka akan mulai menyerang.

"Masa tidak ingat? Baru aja kita bertemu beberapa hari yang lalu!" seru yang satunya.

"Ah! Jangan-jangan kalian…"

"Ya! Kami dari geng yang kalian kalahkan! Kami kesini untuk balas dendam! Kami tidak mau dipermalukan seperti beberapa hari yang lalu!" dan mereka bertiga menyerang Shou.

"Mai, lari!" perintah Shou, mendorong Mai agar cepat berlari. Tapi, Mai merasa ragu, ia tidak ingin meninggalkan Shou, tapi Shou menyuruhnya untuk lari, dan dengan langkah ragu ia mulai berlari sekencang-kencangnya.

"Tidak bisa!" seru salah satu dari 3 orang itu sambil mengejar Mai yang kini ketakutan.

Karena fisik wanita lebih lemah daripada pria, Mai akhirnya tertangkap, "Dapat!" ucap pria itu sambil berseringai.

"Shou…!" pekik Mai. Ia sangat ketakutan apalagi sekarang pria yang berhasil menangkapnya itu mengeluarkan belati dan mengarahkannya keleher gadis itu.

Sementara Shou yang sempat berkelahi dengan 2 orang lainnya, mendengar teriakan Mai, langsung menoleh dan mendapati pemandangan dimana Mai ditodong dengan pisau oleh penangkapnya.

"Mai!" pekik Shou.

"Kamu lihat kemana?" salah satu dari dua pria itu memukul Shou saat fokusnya teralihkan oleh gadisnya itu.

"Akh!" rintih Shou, kini tangannya dikunci kebelakang oleh salah satu dari orang itu dan satunya lagi memukul wajah Shou.

Si yang nangkap Mai membawanya mendekat pada Shou. Melihat Shou yang dipukuli membuat Mai memekik, "Tidak! Jangan pukul Shou! Hentikan!"

"Heh! Diam! Atau kamu akan mati!" ucap pria yang menangkapnya seraya menodongkan belati lebih dekat ke leher Mai. Gadis itu menengadahkan lehernya agar tidak terkena ujung dari pisau itu.

"Jangan sakiti Mai!" pekik Shou yang langsung diberi tonjokan dan tendangan oleh kedua orang lainnya. "Akh!"

"Jangan melawan, atau pacarmu yang akan kami…" pria yang menangkap Mai menggantungkan perkataannya sambil berseringai, "Cewekmu cantik juga ya?"

"Jangan sentuh dia!"

~La Corda~

"Sial, Kazuki-senpai! Gara-gara senpai beli makanan dulu, kita kehilangan jejak mereka!" keluh Aoi seraya melihat senpainya yang makan dengan penuh antusiasme sehingga dimulutnya penuh dengan makanan. Padahal tadi lancar-lancar saja mengamati Shou dan pacarnya itu.

"Bhaap baoibh, bhabhisnyha bhakuh lhabhar!"

"Telen dulu, baru ngomong, senpai," ucap Aoi, sweatdrop melihat kelakuan senpainya itu.

GLEK

"Ahh, maksudku tadi, maaf Aoi, habisnya aku lapar!" kata Kazuki sambil tertawa.

"Dasar senpai! Ya sudah, kalo begitu kita cepat cari Shou."

Lalu mereka berdua mulai mencari Shou.

"Jangan sentuh dia!" terdengar suara teriakan dari beberapa meter dari tempat mereka berada.

"Kazuki-senpai! Itu suaranya…"

"Shou!" dan saat itu juga mereka berdua bergegas lari menuju sumber suara itu.

Saat mereka sudah hampir dekat, terlihat Shou yang dihajar habis-habisan oleh dua orang dan seorang lagi mencengkram seorang gadis dengan pisau ditangannya yang terarah keleher gadis tersebut.

Dengan cepat Kazuki dan Aoi kesana.

"Hentikan kalian!" pekik Kazuki.

Kelima orang yang berada disana menoleh dan langsung saja dengan sekejap mata, dua orang yang tadi memukul Shou, ditonjok oleh Kazuki, dengan sekali pukulan saja mereka berdua terlempar ketanah. Sementara itu Aoi dengan hati-hati sekali menggenggam tangan yang ada belatinya orang yang menangkap Mai. Aoi dengan cepat memelintir tangannya dan menguncinya kebelakang. Dan dengan agak kasar Aoi mendorong Mai agar menjauh dari orang itu dan untung saja Shou cepat menangkap Mai sehingga gadis itu tidak terjatuh ketanah.

"Aoi, Kazuki-senpai!" seru Shou.

"Apa kau baik-baik saja, Shou?" tanya Aoi seraya memukul tengkuk orang itu dan membuatnya pingsan ditempat.

Shou mengangguk, meskipun sebenarnya ia tidak baik-baik. Luka lebam diwajahnya, sudut bibirnya berdarah, dan tangannya keseleo akibat dipelintir oleh salah satu dari mereka.

"Kazuki-senpai," gumam Shou, ia melihat senpainya itu dengan mudahnya mengalahkan kedua orang itu—mereka berdua tidak berdaya lagi.

"Yosh! Beres!" ucap Kazuki sambil menepukkan kedua tangannya.

"Te…terima kasih, Aoi, Kazuki-senpai…" ucap Shou, lemah. Ia memeluk erat Mai yang berada dipangkuannya—gemetaran, "Mai… apa kamu ga apa-apa?"

"Shou…" Mai mengangguk.

"Kalau begitu kita ke markas aja dulu… ngobatin luka kalian," ujar Aoi. Sementara itu Kazuki mengikat ketiga orang bodoh itu dengan tali yang entah ia dapat dari mana.

"Tapi… bagaimana dengan… bos…?"tanya Shou, ia merasa tidak enak bila bertemu dengan bos nya dalam keadaan ini. Padahal bosnya sudah memperingatinya kalau tindakannya ini berbahaya. Ia tidak mematuhi perintah bosnya itu. Ia merasa sebagai anak buah yang gagal.

Kazuki tertawa kecil, "Tenang aja Shou! Karena bos lah menyuruh kami agar mengawasimu!"

"Bos… menyuruh kalian…?" tanya Shou tidak percaya. Padahal tadi kan ia telah membentak dan tidak patuh pada bos…

Aoi mengangguk, "Ya, sebaiknya kita kemarkas, karena bos sudah menunggu. Dan kita bawa orang-orang bodoh ini!" tunjuk Aoi pada ketiga orang bodoh yang sudah tepar itu.

Bagaimana mereka membawa ketiga orang bodoh yang pingsan itu coba?

Ahhh, biar imajinasi masing-masing sajalah yang membayangkannya. Entah mereka menyeret ketiga orang bodoh itu kek! Membopong mereka kek! Panggil taksi untuk ngangkut mereka kek! Terserah…

~La Corda~

"Jadi, mereka ini yang berani-beraninya nyerang anak buahku secara diam-diam?" tanya Len dingin, ia menatap tajam ketiga orang bodoh yang kini telah sadar dengan bantuan kaos kaki mujarapnya Kazuki yang selalu bisa ngebangunin anggota geng yang lagi molor—kecuali Keiichi.

Si ketiga orang bodoh yang berasal dari sebuah geng bodoh yang waktu itu nantangin dengan bodohnya Geng Seiso yang akhirnya mereka pada kalah dengan sangat bodohnya ditangan Geng yang dipimpin oleh Len ini, gemetaran dan hampir pipis dicelana gara-gara ketajaman sil—matanya Len. Mereka merasa aura-aura hitam terpancar dengan sangat indahnya disekeliling Bos Geng Seiso itu, mereka sampai terpana melihatnya—hei, ini bukan saatnya untuk itu! Seharusnya bukan terpesona tapi ketakutan, ya, KETAKUTAN dan GEMETARAN!

"Iya bos," jawab Aoi. Ia merasa sedikit kasihan dengan ketiga orang bodoh ini. Mereka bodoh sekali menyerang anak buah Len secara gerilya, eh, diam-diam. Mereka tidak memikirkan resiko apabila tertangkap oleh Len. Bisa saja Len menghajar mereka habis-habisan, atau membuang mereka kelubang buaya, atau membunuh mereka dengan deathnote, atau mencincang mereka dengan Senbonzakura hingga berkeping-keping, atau di-amaterasu hingga terbakar habis, atau menyuruh mereka bunuh diri sendiri dengan menggunakan Geass, atau dikirim ke dunia bawah dengan Meidou Zangetsuha, atau disantet dengan boneka voo-doo, atau di-metsu hingga lenyap, atau menghisap darah mereka hingga habis, atau mengirim mereka ke Abyss, atau menggunakan Sihir hitam perenggut kehidupan pada mereka, dll dst. Btw, Len ini siapa sih?

Len menghela napas, lalu mengalihkan pandangannya dari ketiga orang bodoh itu ke Shou dan pacarnya. Wajah datar plus dingin masih ia pasang, tapi kekhawatiran tersirat diwajah cakep to the max-nya Len. "Aoi, obati Shou… dan pacarnya itu…" perintah Len.

"Baik," kata Aoi seraya mengintruksikan kedua insan itu untuk mengikutinya.

Shou tidak bergerak, "B-bos… kena—"

"Nanti saja, Shou. Obati lukamu itu dulu," potong Len.

"B-baik…" Shou pun mengikuti Aoi dan Mai yang sudah berada ditangga menuju lantai atas dimana UKG(?)berada. Note: UKG: Unit Kesehatan Geng.

"Ryou, Kazuki-senpai, besok kita akan 'mengantar' orang-orang bodoh ini ketempat bodoh mereka," perintah Len yang diberi anggukan oleh Ryou dan Kazu.

Setelah Shou dan pacarnya dirawat lukanya oleh Aoi, Shou pun turun kebawah untuk menemui Len, sementara Mai masih berada di UKG untuk beristirahat seperti yang disarankan Aoi. Dan Aoi pun dengan senang hati menemani gadis itu—dengan sepertujuan Shou tentunya—karena Mai masih ketakutan.

"Bo-bos…" panggil Shou, ia menundukkan kepalanya.

"Angkat kepalamu, Shou," dan Shou pun menurutinya.

"A-aku minta maaf… bos…"

Len menghela napas, kini terasa lagi suhu yang sangat dingin yang mungkin sudah mencapai minus 1 derajat celsius.

"Hei, udah kubilang, AC-nya terlalu dingin!" protes orang miste—Ryou maksudnya, menatap Len curiga dan semua orang—termasuk ketiga orang bodoh itu—pun menatap Len.

"Apa? Bukan aku!" bantah Len.

"Ehehe, maap…" ucap Sasaki yang sudah jelas dia yang melakukannya karena barang bukti—remote AC—berada ditangannya.

"SASAKI!"

"Ehe, cuma untuk mendramatisir aja kok!" lalu Sasaki dengan cepat berlari menuju ke lantai atas agar tidak menerima deathglare dari manusia yang berada disana.

"Ehm… bos…"

"Ya?"

"Ke-kenapa… bos mau memerintahkan Aoi dan Kazuki-senpai untuk mengawasiku…? Padahal aku…" Shou menundukkan kepalanya, rasanya ia ingin menangis saja kalau bisa.

Len menghela napas panjang, "Aku udah punya firasat kalau kejadian ini akan terjadi cepat atau lambat," Len menyilangkan kedua tangannya didepan dada, "soalnya sehari setelah kita mengalahkan geng bodoh itu, aku merasa ada yang diam-diam mengamati kita."

Shou tersentak, ia bahkan tidak menyadari itu, "Be-benarkah itu, bos? Apa itu alasan bos untuk…"

Len mengangguk, "Ya, itu supaya kamu bisa fokus—dan juga kamu ga ingin pacarmu itu terlibat juga, kan?"

Shou menatap bosnya, terharu, "Te-terima kasih bos… dan maaf karena tidak mematuhimu!" ucapnya yang diberi anggukan oleh Len.

"Permintaan maaf diterima. Oh iya, kamu akan ikut dengan kami untuk 'mengantar' ketiga orang bodoh ini ke asal mereka,"

"Baik, bos!"

Len memberi anggukan, lalu mengalihkan pandangannya ke Ryou dan Kazuki, "Urus mereka."

"Roger!" ucap Ryou dan Kazuki secara bersamaan, lalu menyeret ketiga orang bodoh yang tampang sudah kayak madesu itu kesuatu ruangan.

Si bos kembali menatap Shou, "Setelah pacarmu itu sudah agak baikan, sebaiknya kamu dan Aoi antar dia pulang. Ini sudah malam banget."

"I-iya bos," Shou mengangguk. "Bos," panggil Shou sebelum bosnya itu beranjak dari ruang tamu markas menuju ruangannya sendiri.

"Apa?" Len berbalik.

"Sekali lagi, maaf bos…"

Len menghela napas, lagi, entah ini yang sudah keberapa kali, "Aku sudah bilang, permintaan maaf diterima, bukan? Kamu tau kan kalau aku ga suka mengulang perkataanku lagi?"

"I..iya… ma—eh, ka-kalau begitu aku keatas dulu, bos!" cepat-cepat Shou pergi supaya tidak di-deathglare oleh Len karena bilang 'maaf' terus. Dia mengikuti jejak Sasaki rupanya.

Len hanya menatap punggung Shou—apa rasa bersalah Len sudah lenyap dengan ini?

~La Corda~

"Ohayou, Tsukimori-kun!" sapa seorang gadis berambut merah; Hino Kahoko, pada pria yang sedang duduk disebelahnya.

Len hanya menatap Kahoko sekilas, lalu kembali membaca buku yang ia baca mulai dari tadi malam. Padahal sebenarnya dalam hati Len, ia pengen banget nyapa balik cewek pujaannya itu. Pengen bilang begini: 'Hey, koi, ohayou mo!' atau 'Ohayou, Kaho, hari ini kamu cantik banget!'

"Ihh, dingin banget jadi orang! Kalau ada yang nyapa, sapa balik dong!" omel Kaho, main-main. Tentu saja, ia tau banget sifat si bos geng itu: dingin. Siapa sih yang ga tau? Ga up-to-date banget tuh orang!

Mendengar Kahoko yang mengomelinya, membuat Len ingin tersenyum dan langsung mencium gadis itu sekarang ini juga, tidak peduli dengan murid yang sudah ada dikelas. Tapi, ia tepis pemikiran itu, bisa berabe! Gosip kan mudah tersebar! Pagi begini sudah bikin skandal yang macam-macam.

Len hanya menatap gadis itu lagi, dan menaikkan sebelah alisnya, "Pagi-pagi sudah berisik," komentarnya, dingin. Padahal dalam hati: 'Ampun, pagi-pagi sudah semangat, buat hariku jadi makin indah, aja!'

"Hii, terserah aku dong!" balas Kahoko sambil menjulurkan lidahnya, "Oh iya, Tsukimori-kun selalu datang pagi-pagi, ya?"

Len tersentak, apa Kahoko memperhatikannya? Ah, tidak, mungkin saja gadis itu kurang kerjaan ngamatin setiap murid yang datang pagi-pagi. Siapa tau bukan Len aja yang diperhatikan olehnya. Jangan ge-er dulu deh, Tsukimori Len!

"Kalau iya, memang kenapa?" tanya Len dingin. Bukan maksud hati untuk seperti itu~

Kahoko tertawa kecil, "Ternyata Tsukimori-kun rajin!"

Sempat muka Len memerah, tapi langsung berubah menjadi datar lagi, "Bukan urusanmu, kan?"

Kahoko menatap Len, terbesit ekspresi kekecewaan diwajah imutnya, "Ah, iya! Benar juga!" Kahoko memukul kepalanya sendiri—ia merasa konyol.

Len yang sempat melihat ekspresi kecewa dimuka Kahoko, menjadi terdiam. Ia merasa bersalah. Tapi, apa yang harus ia perbuat coba? Memeluk gadis itu saat ini juga dan bilang: 'maaf, aku tidak bermaksud bersikap dingin padamu, soalnya aku tidak ingin kamu terluka karena aku'? Tidak mungkin, Len menggelengkan kepalanya dan memilih untuk fokus terhadap buku bacaannya. Tapi, sebenarnya pikirannya mengalami perang, antara pro dan kontra. Geng atau Kahoko?

TBC

A/N: wuiiih, cepat eh aku apdetnya! Biasanya butuh 1-3 bulan untuk nyelesein! Mungkin karena liburan, ahahah! Ga ada kerjaan gini sudah!
Oh, ya ampun, banyak juga yang ngerepiu, aduh makasih banyak ya, Minna-san!^^

Balas Review Annonimous:

monkey D eimi: makasih atas repiunya!
wahaha, boleh juga tuh Len ditolak, tapi sayangnya Len ga berani nembak sih, hehe. Dia masih mikirin nasib gengnya~

Shimizu Yuukihara: makasih udah ngerepiu pik abal ini ^^
hehe, soalnya mereka memang bodoh
ohoho, anggap aja Azuma lagi dalam mode Dark-nya
Oh! Makasih udah dikasih tau ada misstypos-nya, hehe, kukira tulisannya 'kohei' berarti selama ini aku salah kaprah =='
Ahaha, kebanyakan kerennya

Ariefyana: thanks udah ngereview!
ampun! Masa bikin ketawa?
Yosh! Apa ini apdet kilat?

ulva: Salam kenal juga! KiYu desu! Dan makasih atas repiunya! Hehe
hehe, kita liat(?) eh, baca(?) aja nanti apa Len akan melanggar peraturan hehe
erm, update kilat ga ini?

P.S: Shouzaburou Kishimoto, dia itu yang pake kacamata, salah satu dari 3 orang yang ga suka ma Len, waktu di Kompetisi kedua ngedorong Len ke lemari. Mai Koizumi itu anak kelas 1 Music Departement, yang ikut Oke Klub sama kayak Kazuki. Dia yang waktu itu minta pendapat Kaho tentang permainan biolanya. Anaknya imut-imut gimana gituu. Maap kalo pair ini ga cocok, hehe.