Tokyo, 22 Januari 20XX
Apartemen distrik B
14:04 PM
Hari itu berangin kencang—dengan sedikit mendung.
Semilir meniup garam yang mengering di pakaianku.
Kukibaskan lengan-lengan bajuku yang tergulung—mengeringkan rasa lengket yang tidak nyaman di kulitku.
Kurogoh kunci di kantongku, sambil kerepotan menenteng peralatan memancing yang kubawa sedari subuh tadi.
Pukul tiga pagi dini hari tadi, aku berangkat ke pesisir—memancing bersama teman-temanku.
Begitu aku hendak menaruh sebuah coolbox yang berisi tangkapanku di lantai—kunci apartemenku terjatuh.
Dengan kikuk, aku berjongkok, berusaha mengambilnya kembali.
Tiba-tiba, sebuah tangan kurus—dengan jemari lentik muncul, dan meraih kunci itu di lantai.
"Ah, terima ka—"
Aku tergagap—setelah menyadari pemilik tangan tersebut.
Mouri.
Ia mengembalikan kunci itu ke tanganku, dengan wajah dingin—seperti biasanya.
Seseorang muncul di sampingnya—membawa sebuah tas besar.
"Mouri—ngapain kau berhenti? Lho—"
Aku mengenalinya. Ishida.
Pasca insiden reuni beberapa hari yang lalu, warna wajahnya kembali normal—tidak pucat seperti waktu itu.
"Chousokabe? Ngapain kau di sini?" tanyanya—agak terkejut melihat kehadiranku.
"Justru aku yang tanya," balasku—bingung, "Ngapain kalian di sini? Ini kan kompleks apartemenku."
"Aku dan Mouri sedang berkunjung ke tempat anggota kelompok kami di apartemen ini," jawab Ishida—menepuk tasnya, "Kami satu kelompok dalam membuat projek semester fakultas kami."
"Oh, aku baru ingat—kau juga satu fakultas dengan Mouri. Jadi kalian menggambar…" ujarku—takzim.
"Bukan menggambar, tapi melukis," tepis Mouri—tajam.
"Oh. Ya, melukis—atau apalah itu," balasku, "Bagaimana, sudah bereskah lukisannya?"
"Belum. Besok kami akan melanjutkannya di kampus. Sekarang, kami mau pulang dulu," jawab Ishida, "Chousokabe—baumu amis. Kau habis berenang di laut?"
"Nggak. Aku habis memancing, dari tadi pagi."
"Ishida, kau pulanglah dulu. Aku masih ada urusan di sini," sela Mouri—cepat, tanpa tedeng-tedeng aling.
Ishida yang agak terkejut mengiyakan—lalu permisi, pergi meninggalkan tempat.
Begitu tinggal kami berdua, keheningan meledak—menghempas udara.
Aku tercekat. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.
Mouri mengambil tas pancingku—dan menentengnya.
"Tunggu apa lagi? Ayo, buka pintunya. Aku capek menunggumu di depan seperti ini," katanya—cepat, tajam.
Gelagapan, aku memutar kunci, dan nyaris menjatuhkannya di hadapan Mouri yang wajahnya mulai menggelap.
Begitu masuk, Mouri membuka coolbox, melihat hasil tangkapanku untuk hari ini.
"Lumayan juga tangkapanmu," gumamnya, "Untuk ukuran amatiran."
Aku mendengus, "Heh. Memangnya kau bisa lebih baik dariku dalam memancing?"
"Kalau kau tidak tercebur ke laut dan hipotermia lagi, aku yakin—aku pasti bisa memenuhi isi kotak ini," balasnya—membuatku sedikit jengkel dan malu.
"Kau tidak kapok ya. Padahal waktu ini kau sudah pernah mengalami kecelakaan di laut, tapi kau masih ngotot ke sana. Aku heran, apa sih, bagusnya laut?" gumamnya.
Aku mendesah.
"Kau tidak akan mengerti," jawabku, "Karena kau tidak ingat."
Alis Mouri mengerinyit.
"Omong-omong," katanya—mendekatkan wajahnya ke tubuhku, lalu meraih lengan bajuku, dan menciumnya, "Baumu seperti laut."
"Tentu saja. Aku, kan, habis memancing. Bauku amis bukan main," jawabku—berkelakar.
Mouri memejamkan matanya, lalu menempelkan wajahnya ke dadaku—menghirup udara dalam-dalam.
"Baumu seperti laut—dan matahari. Aneh, Chousokabe. Kau aneh."
"Kau yang aneh," sindirku, "Bau ikan, kok, dibilang bau matahari. Bau ikan kering, barangkali."
Belum selesai aku berbicara, ponselku berdering.
Panggilan masuk, dari Ieyasu.
"Halo?" jawabku—mengangkat telepon.
"Halo, Motochika? Kau di mana?"
"Aku lagi di apartemen. Aku baru pulang sehabis memancing tadi pagi."
"Pantas saja. Aku mencoba menghubungimu tadi, tapi tidak nyambung sama sekali."
"Ada perlu apa?"
"Ah, tidak. Aku dan Date mau ke restoran Italia sore ini. Kau mau ikut?"
"Wah, Ieyasu. Kedengarannya menarik—"
Kulirik Mouri. Wajahnya lebih gelap dibandingkan tadi.
Segelap awan mendung di langit luar sana.
"Halo? Motochika? Halo?"
"…ah, maaf, Ieyasu. Lain kali saja. Aku sedang sibuk."
"Eh? Kau tidak bisa? Sibuk apa—"
Kumatikan telepon—memutuskan pembicaraan.
Mouri mengalihkan pandangannya ke jendela.
"Pergilah," katanya, "Tak apa-apa. Pergilah dengan sahabat-sahabatmu."
"Tapi, Mouri—"
"Aku tak peduli. Lagipula, ini tidak ada hubungannya denganku."
Dengan geram, kusambar lengannya.
Ia terperanjat.
"Apa-apaan—lepaskan—"
"Tidak mau."
"Lepaskan aku!"
"DENGARKAN AKU, MOURI!"
Ia terdiam, lalu menurunkan pandangannya ke lantai.
"Waktu itu, aku dan Ieyasu tidak berbuat apa-apa. Kami hanya sahabat—hanya itu. Kau jangan berpikir yang macam-macam," kataku.
Mouri menggigit bibirnya.
"Aku tidak peduli kau mau berbuat apa dengan siapa," tukasnya—jengkel, "Sudah kubilang, ini tidak ada hubungannya denganku."
"Ada, Mouri," selaku, "Ini jelas ada hubungannya denganmu."
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda, bodoh. Aku tahu—apa yang kau rasakan waktu itu."
Kedua mata Mouri membulat.
"Kau kesepian. Aku tahu itu."
"Jangan ngomong ngawur."
"Kau yang seharusnya tidak ngawur, Mouri."
Seperti kehilangan kendali atas sikapnya—Mouri mengerang, memepetku ke dinding.
Wajahnya getas. Entah geram, entah marah, entah sedih.
"Chousokabe…"
Bisa kulihat air matanya menggenang, namun ia berjuang mati-matian menahannya.
"Bego. Kau tidak usah bertingkah seperti ini. Katakan saja apa yang ingin kau sampaikan," bisikku.
Ia mundur, menggeleng—tapi kalimatnya terbilas oleh air matanya.
"Bicaralah, Mouri," kataku, "Bicaralah sebelum semuanya tenggelam—karam, di dasar lautan yang terdalam."
Mouri maju, lalu menempelkan bibirnya ke bibirku.
Titik-titik air mulai membasahi jendela—turun dari langit.
Tokyo, 22 Januari 20XX
Apartemen distrik B
22:19 PM
Mouri menggeliat, merapatkan jaket yang kupinjamkan ke tubuhnya.
"Lumayan dingin juga, ya, malam ini," gumamku—keluar dari dapur, membawa dua cangkir kopi panas.
"Terima kasih," kata Mouri—menerima secangkir dariku.
Kami meneguk banyak-banyak dalam diam.
Kulihat jam di dinding—pukul setengah sebelas malam.
Hujan belum juga berhenti dari tadi siang.
Kuambil remote televisi, dan menyalakan siaran malam—hanya untuk sekedar melenyapkan keheningan.
Tayangan di televisi cukup membosankan, dan aku mengganti saluran berkali-kali.
Begitu tiba di salah satu siaran yang menayangkan dokumentasi sejarah, aku berhenti.
Aku tidak mengerti, mengapa aku terdorong untuk menontonnya.
Siaran itu menunjukkan penemuan sejarah di jaman Jepang kuno.
"…Sisa-sisa peninggalan ini kami temukan di perairan Shikoku, yang berbatasan langsung dengan Honshu," kata si pembawa acara, "Berikut ini adalah contoh…"
Mataku terpaku pada bangkai kapal yang diangkut dari pesisir pantai.
Tidak asing.
Kapal itu tidak asing.
"Kami dituntun oleh Profesor Akagawa dari Balai Penelitian Arkeologi Shikoku. Akagawa-sensei, bagaimana pendapat Anda mengenai penemuan mengejutkan ini?"
"Dari yang saya temukan, saya dapat mengira-ngira bahwa kapal ini berasal dari abad ke-15 atau ke-16. Yang menarik, sepertinya peninggalan ini masih sangat awet. Biasanya, peninggalan yang karam di laut akan cepat rusak karena oksidasi dan reaksi pelapukan oleh garam dan air laut…"
"Wah, berarti—penemuan ini sangat berharga, Akagawa-sensei. Apa saja yang Anda temukan di bangkai kapal tersebut?"
Mouri menegang. Wajahnya mendadak kaku melihat tayangan itu.
"Berdasarkan penelitian rekan-rekan saya, kami dapat menyimpulkan bahwa kapal ini dulunya adalah kapal perang. Dan dilihat dari ukurannya, kapal ini adalah kapal induk dari suatu armada angkatan laut. Kami menemukan meriam-meriam, perbekalan, peti-peti, dan beberapa sisa-sisa manusia."
"Sisa manusia? Apakah itu merupakan awak kapalnya, Sensei?"
"Ya, kemungkinan besar. Saya juga berhasil mengangkat sebuah baju perang dari puing kapal tersebut. Ini gambar baju itu."
Bunyi gelas pecah menghempas lantai.
Mouri tergagap—menjatuhkan gelasnya, wajahnya menatap televisi dengan ekspresi horor.
Sebuah baju pelindung—berkarat, berwarna kekuningan—tapi aku yakin sekali dulunya itu berwarna hijau.
Aku yakin sekali—di masa jayanya, baju perang itu berwarna hijau mengkilap.
"Selain itu, kami juga mengangkat jangkar yang sangat besar ini. Kami tidak tahu dengan pasti kegunaan jangkar ini, karena strukturnya yang sangat—khas. Ya, sangat aneh untuk ukuran jaman itu. Dilihat dari strukturnya tersebut, sepertinya jangkar ini tidak pernah digunakan untuk membuang sauh. Kami menemukan reaksi darah manusia, dan jaringan-jaringan manusia seperti kulit dan daging di jangkar itu."
Aku menggigil.
Mouri gemetar.
"Mengagetkan sekali, Akagawa-sensei. Penemuan-penemuan ini, Anda masih belum mengetahui dengan jelas arti-arti dan maksud yang terkandung di dalamnya?"
"Kami masih mengadakan penelitian lebih lanjut. Akan tetapi, dengan informasi yang sangat sedikit, kami masih belum mengetahui maksud dari penemuan—"
Kumatikan televisi.
Kepalaku mendadak terasa sakit.
Tayangan tadi cukup untuk membangkitkan semua yang terpendam dalam dasar ingatanku.
"Mouri," panggilku, melihat keadaannya yang mengkhawatirkan.
Ia pucat pasi, gemetaran, dan berkeringat dingin.
"Mouri," ulangku—mengguncang tubuhnya sedikit, "Kau kenapa?"
"Aku—aku….." dia tergagap—tidak mampu berkata apa-apa.
Ia menghambur ke tas yang dibawanya, dan mengeluarkan buku-bukunya seperti kerasukan.
"Ini," desisnya—lemas, "Ini yang kugambar selama beberapa minggu ini, setelah wisata ke Ehime."
Ditunjukkannya sebuah buku gambar—yang penuh dengan sketsa-sketsa pensil.
Kubuka selembar demi selembar.
Lukisan kapal yang sedang mengarungi ombak.
Lukisan gerbang dan kastil di tepi laut.
Lukisan cermin dengan bentuk yang aneh.
"Kapal ini—" gumamku—terkejut, "Kapal ini…kenapa bisa persis sekali dengan kapal yang tadi di televisi?"
Ia menggeleng, mencengkeram lengannya sendiri, "Aku tidak tahu…..aku tidak tahu….."
Kubuka halaman berikutnya.
Ada wajahku di sana.
Wajahku—terlukis dengan sempurna.
Tapi, ini wajahku di waktu yang lain. Bukan aku yang ada di kehidupanku sekarang ini.
Di sampingnya, wajah Mouri—dengan pakaian yang sama dengan penemuan yang ditayangkan di televisi tadi.
"Bagaimana kau bisa melukis ini semua?" gagapku—terperanjat bukan main.
Ia menunduk, "Aku tidak tahu…aku sering mengalami mimpi aneh semenjak wisata ke Shikoku…..setelah bertemu denganmu…aku…."
Ia mengeluarkan sebuah kanvas kecil dari tasnya.
Begitu mataku beradu dengan pemandangan yang terlukis di sana—diriku serasa terhempas ke waktu yang lain.
Ke kehidupan yang lain.
Tapi, kehidupan itu tetap milikku—dan miliknya.
Kulihat pasir putih di pesisir Shikoku, serta langit biru terhampar di hadapanku.
Pemuda di hadapanku—mengenakan zirah hijau mengilap, menatapku—pedih.
"Chousokabe," bisiknya—kecil, suaranya nyaris tertelan ombak yang menggulung di pinggir pantai, "Kau ini—sebenarnya siapa?"
Aku maju, melangkah di antara ombak.
"Aku ini siapa?"
Mendadak, kutemukan diriku terduduk di sofa—dengan pemandangan tadi terlukis di genggamanku, di kanvas kecil.
Tokyo, 29 Januari 20XX
Kampus fakultas teknik Universitas A
14:39 PM
"Chousokabe!"
Aku terkejut, nyaris melonjak dari tempat dudukku.
"Oh—eh, maaf. Ada apa?" gagapku.
"Kuliah sudah berakhir. Kau kok, diam terus di kelas? Kau ngantuk?" tanya seorang teman sekelasku—terlihat khawatir.
Aku menggeleng cepat, lalu membereskan buku-buku yang tergeletak di mejaku.
"Aku mengalami error di otakku gara-gara penjelasan sensei tadi, sih. Kau sendiri, nggak pulang?" balasku—sambil terus membereskan barang-barangku.
Ia menggaruk kepalanya, "Aku mau pulang, sebentar lagi. Aku ada janji dengan Masamune-san."
"Date? Oh. Kau bukan salah satu anggota gengnya, kan?"
"Eh? Maksudmu?" ia melongo, bingung dengan pertanyaanku barusan.
Aku terkekeh, "Biarlah, lupakan saja. Ah, yang diomongin sudah muncul."
Dari pintu, Date dan Ieyasu muncul.
"Kurosawa, maaf menunggu lama," kata Date, menenteng ranselnya, "Dosen di kelas kami tadi cerewet sekali."
"Tidak, tidak apa-apa, Masamune-san," jawab pemuda itu.
"Motochika, kami mau pergi ke kafe yang baru di dibuka di mall yang berada di distrik A. Kau mau ikut?" tanya Ieyasu—nampak bersemangat.
Aku mengangguk, nyengir, "Boleh banget, tuh."
"Oh, iya. Sebelum aku lupa, aku tadi dititipi ini oleh Ishida," sela Date—merogoh sakunya, dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya.
"Katanya, itu dari Mouri."
Nafasku tercekat.
"Mouri? Mouri siapa?" tanya Ieyasu—agak bingung.
"I dunno. Kata Ishida, dia itu rekannya di fakultas kesenian," jawab Date.
Dengan perasaan campur aduk, kubuka selembar kertas yang terlipat tersebut.
Sebuah coretan—dari tinta bolpoin, muncul.
Seperti pemandangan pantai, dan jadwal kereta—serta jamnya tertera di pojok kanan atas gambar tersebut.
Mouri menyuruhku ke pantai? Apa maksudnya ini?
"Maaf, teman-teman. Aku nggak jadi ikut ke kafe," kataku –cepat, menggendong ranselku, "Aku ada urusan sebentar."
"Eh? Ada apa tiba-tiba, Motochika?"
Tidak ada jawaban—aku sudah berlari keluar ruangan.
Tokyo, 29 Januari 20XX
Dermaga pelabuhan distrik A
15:36 PM
Aku berlari secepat kakiku bisa membawaku ke sana.
Sekitar pantai terlihat sepi—nyaris tidak ada orang.
Aku menengok kanan-kiri—mencoba mencari keberadaan Mouri.
Nihil.
Masih belum putus asa, aku berlari keliling.
Di dermaga, kulihat perahu yang menepi—namun tidak ada orang.
Kios-kios tutup, sama sekali tidak ada keberadaan manusia di sini.
Angin laut bertiup—kering, dingin.
Berbeda dengan angin di pesisir Shikoku—angin ini kejam, gelap, menggigilkan tulang.
Langit makin mendung—muram, kuyu.
"MOURI!" jeritku—parau.
Aku berlari, mengitari pinggir pantai, namun tidak ada siapa-siapa.
Pasir masuk ke dalam sepatuku—namun aku tak peduli.
Di dermaga tidak jauh dari situ, sesosok manusia berdiri.
Aku berlari mendekatinya—dan tidak salah lagi, itu Mouri.
"MOURI!" panggilku—mendekat ke arahnya, namun ia tidak menoleh.
Ia masih terdiam di sana—menatap laut.
Dengan gerakan perlahan, ia melepas sepatunya, lalu melangkah.
Melompat ke laut.
Tanpa peringatan—aku maju, menerobos.
Menukik—terjun bebas, menghantam hajaran ombak.
Begitu tubuhku mendarat dalam air, sekelilingku dipenuhi buih putih dan gelembung.
Kutengok kanan dan kiri—membuat mataku perih oleh air laut.
Kulihat tubuhnya tenggelam ke dasar—ditarik, makin jauh.
Nafasku sesak, namun kupaksakan juga tubuhku untuk bergerak.
Aku harus cepat, batinku—panik, harus cepat—atau kami berdua akan mampus.
Aku mengayuh dengan kakiku, sementara detik demi detik berlalu—dadaku tercekik, kepalaku pusing akibat kekurangan oksigen.
Selanjutnya—naluriku mengambil alih keadaan.
Aku tidak begitu ingat kejadian berikutnya, namun aku sudah berada di pinggir dermaga—menyeret Mouri yang lemas ke pinggir.
Dengan terengah-engah, kutepuk wajahnya.
"Mouri…hei, Mouri!"
Ia tersadar pelan-pelan, lalu terbatuk.
"Chouso…kabe…?"
Dengan geram, kulayangkan tanganku—aku ingin menampar wajahnya, aku marah sekali dibuatnya.
Aku tidak mengerti jalan pikiran orang ini.
Namun, itu tidak kulakukan.
Aku hanya berhenti sebentar—lalu memeluknya.
"…idiot! Apa yang baru saja kau lakukan?" semburku—dengan suara serak.
"….."
"Kau ingin bunuh diri? Kau pikir, nyawa itu bisa seenaknya saja kau peroleh dengan mudah? Lalu, kau bisa membuangnya begitu saja? Bego! Idiot!"
Mouri melepas pelukanku—lalu menatapku, kosong.
"Bukan," tepisnya, "Aku hanya ingin melihat yang terjadi waktu itu."
Aku tercekat.
"Siapa sebenarnya kau?" tanyanya—dengan kehampaan mewarnai wajahnya, "Siapa aku sebenarnya?"
Aku terdiam—tidak menjawab pertanyaannya.
"Aku merasa—sepertinya aku tidak menjalani hidupku yang semestinya," lanjutnya—agak gelisah, "Aku merasa—sepertinya, aku punya kehidupan yang lain."
"Memang, Mouri," jawabku—getas, "Memang begitu adanya. Tapi, dengarkan. Ini juga kehidupanmu. Yang sudah lampau juga—namun itu sudah berlalu."
"Antar aku, Chousokabe!" geramnya—menyambar kerah bajuku, gemas, "Antar aku menuju kehidupanku yang lalu!"
"Omong ngawur apa kau," balasku—menepis tangannya, "Itu sudah lama berlalu!"
"Aku tidak bisa hidup seperti ini! Aku tidak bisa menjalani kehidupanku yang sekarang ini—dengan ingatan-ingatan yang hanya sepotong-sepotong kecil, yang selalu menghantuiku! Aku tidak mengerti! Aku tidak bisa mengingatnya!"
"KAU YANG DULU SUDAH LAMA MATI, MOURI!" tukasku—setengah berteriak, "KAU YANG LAMA SUDAH MATI, MATI!"
Ia gemetar, terkejut—bingung.
"Kau pikir, dengan mengambil nyawamu sendiri—kau akan tiba pada kehidupanmu yang lampau? Tolol benar kau, Mouri! Kau hanya akan mengirim dirimu sendiri ke dasar neraka!"
"Lalu, apa yang harus kulakukan?" balasnya—seperti hampir menangis, "Apa yang harus kulakukan supaya aku dapat mengingat semuanya, Chousokabe?"
Aku terdiam—tidak mampu menjawabnya.
"Siaran di televisi waktu itu," gumamnya, muram, "Kapal itu…aku ingat—itu kapalmu. Dan jangkar itu—yang kau gunakan untuk membunuhku. Baju zirah itu…semuanya begitu jelas."
"Mouri—aku—"
"Malam di bulan purnama itu…saat pasang menghantam Shikoku—ya, aku mengingatnya. Aku ingat kau menyerangku…tapi, hanya sebatas itu saja. Aku tidak bisa mengingatnya lebih jauh lagi. Aku ingin mengingat semuanya, Chousokabe! Tapi, aku tidak bisa!"
"Tidak perlu mengingatnya, Mouri. Cukup. Jalani saja kehidupanmu yang sekarang. Jalani saja kehidupan kita yang sekarang."
"Tapi—aku—! Aku tersiksa karenanya! Aku tidak bisa tenang sebelum mengetahui jati diriku yang sebenarnya di masa lalu! Dan apa sebenarnya hubunganku denganmu!"
Belum selesai kata-kata Mouri, bunyi gaduh muncul di sekeliling dermaga.
Sekelompok orang-orang—dengan tato, pentungan, dan rokok terselip di bibir masing-masing—bermunculan dari balik gudang perkapalan.
"Aku ingat," kata seseorang dari mereka, "Dia salah satu anak buah Date."
Si pemimpin—yang mengenakan ikat kepala di dahinya, meludah, "Oh ya? Kebetulan. Kenapa tidak kita habisi saja dia sekalian di sini?"
Dengan gerakan cepat, kurogoh ponsel di sakuku—dan melemparkannya pada Mouri.
"Telepon seseorang. Telepon saja siapapun yang namanya tertera paling atas di daftar kontakku," bisikku—cepat.
"Chousokabe—tapi—"
"Eh, dengar, ya," seruku—mengabaikan Mouri—kepada gerombolan tersebut, "Aku bukan anak buah Date. Aku terlalu keren untuk jadi anak buah seseorang."
"Omong besar, kau," balasnya, "Kau membantu Date—berarti kau temannya. Kita perlu mengajarimu sedikit sopan santun di wilayah orang."
"Aku nggak mau diikut sertakan dalam permainan wilayah-wilayah gengmu dan geng Date," tukasku—mulai jengkel, "Sudah kubilang, aku bukan anggota gengnya. Jadi, sekarang simpan tongkat-tongkat sialan itu sebelum melukai orang."
"Bajingan—"
Belum selesai mereka berbicara—satu pukulan sudah mendarat di hidung si bos, membuatnya pingsan seketika.
"Cukup main-mainnya," geramku—mengarahkan jari tengahku, "Mood-ku sedang jelek. Aku tidak mau main polisi-polisian dengan kalian."
Melihat pemimpinnya dihajar, anggota geng tersebut bukannya lari tunggang-langgang, mereka malahan semakin berani menghunus pisau lipat masing-masing.
Bagus. Sekarang aku berhadapan dengan belasan orang bersenjata tajam, sementara Mouri brengsek itu belum beres melakukan satu panggilan—hanya SATU panggilan sialan, ke siapa saja—yang penting membantu.
Brengsek. Brengsek. Brengsek.
Seseorang dari mereka menyabet lenganku dengan kasar—memuncratkan darah.
Kulempar sepatuku ke wajah salah seorang dari mereka—lalu kusambar lengan Mouri, menyeretnya lari, menjauhi medan tempur.
Tentu saja mereka mengejar. Jelas saja.
"Kau sudah telepon belum?" umpatku—kesal.
"K—kau terluka, Chousokabe—" gagapnya, panik.
"Biarkan saja. Peduli setan dengan lukaku—kau sudah telepon seseorang, belum?"
"Sudah, aku sudah menelepon kontakmu—tapi tidak ada yang menjawab satupun!"
"Sialan."
Mouri memencet tombol ponselku dengan panik—mencoba melakukan panggilan sekali lagi.
Kulihat ia melakukan panggilan pada nama 'Tokugawa Ieyasu' yang tertera di layar.
"Halo? Motochika?"
Dengan kekuatan suara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya, Mouri menjerit—begitu kerasnya, hingga burung-burung camar yang memekik di pinggir dermaga melonjak ketakutan.
"TOLONG! SIAPA SAJA—TOLONG KAMI!"
Kulihat sesosok bayangan melompat di belakang kami.
Seorang berandalan tadi—mengayunkan tongkatnya ke arah Mouri.
Aku maju—siap menyambut serangan itu.
Tanpa terelakkan lagi, pentungan itu menghantam kepalaku—sangat keras.
"CHOUSOKABE!"
Aku terhuyung, tapi tidak jatuh.
Mataku berkunang-kunang kena serangan tadi.
Bisa kurasakan darah mengalir dari puncak kepalaku.
"Bangsat," desisku, "Tidak akan kubiarkan kau semudah itu menghajarku!"
Kucengkeram tongkat penyerang tadi, dan kurebut—kupukulkan ke dadanya, membuatnya muntah-muntah.
Sialnya, gerombolan sisanya tiba.
Mereka menyerangku dengan pisau-pisau mereka, dan beberapa pukulan dan tendangan.
Satu pukulan kembali mendarat di kepalaku—membuatku terjengkang ke tanah.
Pandanganku hablur—nyaris gelap.
Tidak, tidak, tidak, tidak.
Aku tidak boleh berhenti di sini.
Aku harus melindunginya.
Belum lama, suara sirine menggaung.
Pertolongan tiba.
Derap langkah ketakutan memenuhi dermaga—diiringi hiruk-pikuk gerombolan yang kocar-kacir berlari, menyelamatkan diri.
Kulihat Date tiba—bersama Ieyasu dan Ishida, di antara polisi yang berseliweran.
"Motochika, ya Tuhan," pekik Ieyasu—tertahan.
"…mana Mouri…..?" tanyaku—selagi kesadaranku melemah.
Kepalaku berputar—diserang rasa nyeri yang dahsyat.
"Dia di sini, di sampingmu,"jawab Ishida, "Jangan banyak omong, kau harus diberi pertolongan pertama dulu."
"Ini semua salahku," geram Date—menggigit bibirnya, "Karena aku, Chousokabe harus terlibat dengan mereka semua. Aku—"
"Sudahlah, Date," sergah Ieyasu, "Kita harus menolong Motochika terlebih dahulu!"
"Mouri…"
Kucoba mengulurkan tanganku—meraih wajahnya, namun terlambat.
Suara-suara Date, Ieyasu, Ishida, dan Mouri memudar—makin sayup.
Tumpuk tindih.
"Chousokabe? Hei—Chousokabe?"
"Motochika! MOTOCHIKA!"
"CHOUSOKABEEEEEE!"
Aku sudah jatuh ke dalam dasar laut Shikoku yang gelap—sekali lagi.
