Shikoku, ?
Benteng Nakatomigawa
? PM
"Motochika, kau baik-baik saja?"
"…ya, aku baik-baik saja."
Semilir angin laut yang kering meniup rambut kami, menghamparkan bau karang yang keras dan berat.
Ieyasu mendesah di sampingku, menyandarkan punggungnya ke tembok benteng.
"Kau tidak menyesal?" ia menggumam, "Maksudku—pasti ada yang lain, 'kan? Jalan yang lebih baik. Semua ini seharusnya tidak perlu terjadi."
"Tidak usah bicara macam-macam. Yang sudah terjadi biarlah berlalu. Aku sudah…muak," geramku—dongkol.
"Aku tahu, Motochika. Kau tidak menyukai hal ini. Aku tahu kau menyesal."
Kutatap matanya—penuh amarah, murka, kesal.
"Aku tahu, kau menyesal telah membunuh Mouri."
Kukepalkan tanganku—lalu menghantamkannya ke tembok.
"Aku bisa apa?" bisikku, "Semuanya sudah terlanjur terjadi. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi."
"Sobat," ujar Ieyasu—mendekatiku, "Kau masih bisa melakukan sesuatu."
Ia menepuk bahuku, lalu tersenyum—penuh arti.
"Ingatlah dia selalu. Simpanlah baik-baik semua kenangan, ingatan tentang dirinya. Jangan pernah lupakan dia. Dengan demikian, ia akan selalu hidup—walaupun hanya dalam hatimu."
Aku mengangguk, ikut tersenyum.
"…ya. Walaupun hanya aku satu-satunya orang yang akan mengingatnya nanti."
Ieyasu melangkah, berjalan ke luar tembok benteng.
"Motochika?"
"Hm? Apa?"
"Kau juga akan mengingatku, 'kan? Di saat aku mati suatu saat nanti?"
Aku terperangah—agak getir mendengar pertanyaannnya.
"Ngomong apa, sih, kau—bodoh. Tentu saja!" balasku—kesal.
Ia tersenyum—lalu melompat keluar.
Sebelum aku sempat menanyakan hal yang sama padanya—ia sudah lenyap.
"Kau juga akan mengingatku, 'kan—Ieyasu? Sobat…" bisikku—tertelan bunyi angin laut yang mendesir—
—sebelum sebulan kemudian, aku mendengar ia tewas terbakar secara mengenaskan di tangan Matsunaga Hisahide.
Tokyo, ?
?
? PM
Semuanya gelap.
Mendadak, tubuhku terasa ringan—lalu serasa melayang, mengambang ke permukaan.
Seperti gelembung yang naik ke permukaan laut.
Perlahan-lahan, setitik cahaya masuk—membanjiri pelupuk mataku—mata kananku.
Mata kiriku tidak menemukan cahaya putih tersebut sama sekali.
Aku tidak mengerti.
"…lihat, dia sadar—dia sadar!"
"Jangan ribut, ini di rumah sakit. Kau tahu sopan santun, tidak—"
"Motochika! MOTOCHIKA!"
Aku terbangun pelan-pelan, dan menemukan diriku berada di ruangan putih—berbau steril.
Sekonyong-konyong, rasa sakit yang dahsyat menyerang kepalaku.
Aku mengerang, memegangi kepalaku yang ternyata dililit perban.
Kuarahkan pandanganku pada orang-orang yang berada di ruangan.
…
…aku tidak tahu.
…aku tidak tahu mereka siapa.
"Motochika, sobat," ujar seorang pemuda yang mengenakan jaket kuning—menghambur ke arahku, "Kau sudah siuman! Kau bikin khawatir saja, kukira—"
"…kau siapa?"
Ia tercekat—mendadak terdiam.
Semua orang yang berada di sampingnya juga ikut tergagap.
"…'kau siapa'? Hei, jangan bercanda, Chousokabe…" desis salah seorang dari mereka—yang mengenakan kemeja hitam, berambut putih.
"Kau tidak ingat?" kata seorang lagi—yang bermata satu, mengenakan jaket kulit, "Kau tidak bisa ingat kami siapa?"
Aku berpikir keras—mencoba mengingat sesuatu, apa pun itu, namun aku tidak bisa.
"Motochika," kata si jaket kuning, "Kau ingat dirimu sendiri? Kau ingat siapa dirimu?"
"…aku tidak tahu. Aku tidak bisa ingat apa-apa," jawabku—kelu.
Mereka semua terperangah.
"Chousokabe."
Kucari arah suara tadi.
Seorang pemuda berkaca mata, berambut coklat—duduk di sudut ruangan.
"Aku kecewa sekali denganmu," katanya—lalu bangkit, dan keluar dari kamar.
"Hei, tunggu! Mouri! Apa-apaan, sih?" omel pemuda berjaket kulit.
"Sudahlah, Date. Biarkan saja—mungkin dia shock melihat keadaan Motochika. Yang penting, kita biarkan Motochika beristirahat sejenak. Siapa tahu, ingatannya bisa kembali pulih," kata si jaket kuning.
"…maaf, bisa kalian jelaskan—aku ini siapa…? Kalian siapa?" gagapku—linglung.
Si jaket kuning menghela nafas—lalu tersenyum sedih.
"Namamu Chousokabe Motochika. Kami ini teman-temanmu. Namaku Tokugawa Ieyasu, sedangkan orang ini bernama Date Masamune, dan di sebelahnya lagi bernama Ishida Mitsunari," ujarnya, menjelaskan.
"Oh, se—senang berkenalan," gagapku—kikuk.
Di luar dugaanku, tindakanku ini malah membuat raut wajah mereka makin suram.
"Jangan khawatir, kau pasti bisa mengingat kami semua, perlahan-lahan," kata si jaket kuning—dengan ekspresi pahit yang ditahannya.
"…"
Hening.
Tidak ada yang membuka suara.
"…jangan bercanda, Chousokabe," geram pemuda yang bernama Date—menggertakkan giginya, "Kau bercanda, 'kan? Kalau kau berniat mengerjai kami—menakut-nakuti kami—kau sukses besar. Okay, sekarang kau bisa lepaskan penyamaranmu dan bilang pada kami bahwa ini tidak benar—"
Pemuda berambut putih di sampingnya nampak murka, dan menyergahnya, "Date!"
Date tidak mampu menahan emosinya lagi—ia menyambar kerah bajuku, dan menjerit,
"MOTOCHIKA—BERHENTILAH BERBOHONG PADA KAMI! KATAKAN SEMUA INI TIDAK BENAR!"
Mendadak, lengannya ditepis oleh Ieyasu—pemuda yang berjaket kuning.
"Sudah, cukup. Date, biarkan Motochika beristirahat untuk saat ini," desisnya.
"Tapi—!"
"Kita tidak bisa memaksakan semua yang terlanjur terjadi. Waktu tak bisa diputar kembali. Untuk sekarang, biarkan semuanya mengalir," timpal Ishida—yang sedari tadi terdiam.
Date merengut—melangkah keluar dengan tergesa-gesa, lalu membanting pintu kamar.
"Ayo, Mitsunari. Kita juga keluar saja. Motochika, kau istirahatlah dulu. Nanti kami akan kembali menjengukmu," kata Ieyasu—sambil tersenyum pahit.
"I—iya."
Begitu mereka semua keluar, kucuri dengar beberapa percakapan yang terjadi di luar pintu kamarku.
Sayup-sayup, namun terdengar jelas di telingaku.
"…Oi, Ieyasu."
"…"
Bunyi duk teredam. Aku tidak tahu itu bunyi apa.
Seperti bunyi sesuatu yang menghantam dinding.
"Jangan duduk di lorong. Kau menganggu pemandangan saja."
"…"
"Oi, Ieyasu—"
Kemudian—jika telingaku tidak salah—aku mendengar suara isakan.
"Jangan munafik. Bukankah kau sendiri yang tadi bilang—bahwa—"
"…aku tahu, Mitsunari. Aku tahu."
Kucengkeram ujung selimutku.
Dadaku serasa melilit.
Jarum jam di dalam ruangan seolah dikeraskan sepuluh kali—selagi suara tangisannya bergetar di luar sana.
"…sudah. Aku tidak suka melihatmu seperti ini. Lihat, kau memeluk lututmu dan menangis seperti ini. Aku benci melihatmu seperti ini."
"…maaf, Mitsunari. Tolong…bisa kau biarkan aku seperti ini—saat ini saja…"
Aku tidak mengerti.
Aku tidak mengerti sama sekali.
Mereka orang-orang yang tidak kukenal—atau aku tidak mengenal mereka karena aku tidak bisa mengingat mereka, entahlah.
Yang jelas, mereka bersedih—mereka menderita karena diriku.
Aku juga tidak mengerti.
Tapi, air mataku mengalir deras—tak terbendung.
Kugenggam ujung seprai, selagi suara isakan Ieyasu dari luar terdengar kemari.
Menyiksa.
Menyakitkan.
Tokyo, 14 Februari 20XX
Apartemen distrik B
16:45 PM
Kulirik arlojiku—waktu sudah menunjukkan pukul lima kurang lima belas sore.
Aku menggeliat, kemudian bangun dari tempat tidurku.
Kuraih sebuah gelas biru, dan mengisi air panas ke dalamnya.
Tanganku merogoh ke stoples kaca berisi kopi dan gula, sambil mencari sendok.
"Aaaah," desahku, "Tontonan hari ini ada yang menarik tidak, ya?"
Dengan segelas kopi panas di tanganku, kunyalakan televisi.
"Acara memasak bersama Furukawa-san! Karena hari ini spesial—hari yang ditunggu-tunggu oleh para gadis yang dimabuk cinta—Furukawa-san membagi tips-tips rahasianya dalam acara 'Valentine's Special!"
Kuraih remote, dan mengganti saluran.
"Takeda Tigers memimpin! 3-0! Luar biasa! Dengan gol spektakuler yang berhasil disarangkan oleh gelandang terbaiknya, Sanada-san—"
"Siang hari ini, terjadi perampokan di distrik C—pelakunya disinyalir—"
"Nikmati makan siang bersama keluarga Anda di restoran kesayangan kita semua—"
"Apa pendapat Anda mengenai kasus ini, Inspektur? Berdasarkan bukti-bukti yang ada, pelakunya tidak bisa digiring ke tahanan—"
"Aaaaaah! Kau tidak mungkin menang melawanku, Falcon Ranger! X Beam!"
"Falcon Punch!"
"Tomohiro-kun! Jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu!"
Kugaruk kepalaku.
"Acaranya basi semua, nih," gumamku—menyeruput kopi yang mengental.
Kualihkan pandanganku ke kotak kertas yang besar di atas meja—penuh dengan bingkisan dan cokelat.
Semuanya dari cewek-cewek di kampus—bahkan kebanyakan dari cewek-cewek luar fakultasku.
Sambil berpikir, pikiranku melayang ke mana-mana.
Sudah lama—aku mengumpulkan kepingan-kepingan ingatanku yang berserakan.
Aku nyaris mampu mengingat semuanya.
Mengenai Ieyasu, Date, Mitsunari, aku hampir mampu mengingat mereka—namun belum sepenuhnya.
Namun, rasanya—masih ada yang hilang?
Mendengus tak peduli, kuarahkan remote, mengganti saluran sekali lagi.
"Kami meliput dari Galeri Kebudayaan Nasional, mengenai lomba lukis yang baru-baru ini diselenggarakan oleh pemerintah. Pemenang pertama—yang sangat mengejutkan—masih sangat muda, berstatus mahasiswa dari fakultas kesenian Universitas A."
Saat aku bersiap mengganti saluran—mataku terpaku.
Sosok pemuda—yang waktu ini berada di rumah sakit—muncul di layar televisi.
"Pemenang pertama adalah Mouri Motonari-san, 21 tahun. Karyanya yang berjudul 'Siluman Laut Barat' berhasil meraih penghargaan terbaik di seluruh negeri. Lukisan tersebut kini dipajang di atrium utama Galeri Kebudayaan Nasional, Tokyo. Mouri-san, apa komentar Anda mengenai karya ini?"
"Saya tidak ingin berkomentar," kata pemuda tersebut—wajahnya terlihat terganggu.
Namun, dasar wartawan gatal, ia tidak menyerah begitu saja.
"Sepatah kata? Dua patah kata—mengenai karya Anda?" ujarnya—membujuk.
Pemuda itu mendesah—dan berbicara pelan-pelan.
"Saya mengangkat lukisan itu dari tema 'kenangan'—hanya itu yang bisa saya berikan."
Aku tercekat.
Kenangan?
Matanya yang tirus menatapku dari layar kaca—seolah menusuk inti jantungku.
Begitu kamera mengarah pada lukisan yang tergantung—aku melonjak dari sofa.
Aku berlari ke kamarku, dan menggerebek seluruh isi mejaku.
Melempar, menggali semua barang yang tertumpuk.
Ini dia.
Sebuah kanvas kecil—berada di tanganku.
Mulanya, aku sempat melihat lukisan ini—sewaktu aku masih dalam masa pemulihan ingatanku, namun kubiarkan begitu saja, karena aku tidak bisa mengingat apa-apa dari benda ini.
Tadinya, kukira lukisan ini buatan Mitsunari—yang pernah berkunjung ke sini pasca pemulihan ingatanku.
Ternyata bukan.
Gambar yang ada di lukisan ini—seperti versi kecil dari lukisan yang terpampang di acara televisi tadi.
Sama persis.
Dua orang laki-laki berdiri di lukisan ini.
Salah satunya mengenakan jubah panjang, menaiki kapal perang yang megah—menerjang ombak yang ganas.
Satunya lagi berdiri di atas benteng merah, mengenakan zirah hijau—berkilat, diterpa sinar mentari.
Cepat-cepat, kurogoh ponsel di sakuku.
Kucari namanya di daftar kontakku—di antara sembilan lajur nama 'Mouri' yang ada di sana.
Mouri Motonari.
Motonari.
Ini dia.
Kuketikkan pesan sesingkat dan sepadat mungkin yang diperlukan.
Mouri-san, aku perlu membicarakan sesuatu denganmu.
Ini menyangkut 'kenangan' yang kau bicarakan.
NB : 'Siluman Laut Barat' ada padaku—di apartemenku, kemarilah jika kau ingin mengambilnya kembali.
Pesan terkirim.
Kusandarkan punggungku ke dinding—menghela nafas kaku.
Suara televisi di ruang tengah sayup-sayup terdengar.
Tokyo, 14 Februari 20XX
Apartemen distrik B
21:33 PM
Kumiringkan gelasku—mengisinya dengan bir kalengan dan es batu.
Kutenggak cepat-cepat, menelan rasa pahit yang ringan dalam kerongkonganku.
Sebuah sendawa keluar—cukup keras.
Aku tahu, aku tidak boleh mabuk sekarang.
Tidak—sebelum ia datang.
Namun, aku tidak bisa menahan diriku.
Kuteguk satu gelas lagi, lalu membanting gelasku ke meja.
Kulihat jam dinding—sudah larut malam.
Dia tidak datang malam ini—atau begitu yang kupikirkan.
Dering bel nyaring terdengar.
Aku bangkit dari kursi, lalu meraih pegangan pintu.
Aku tidak bisa menahan diriku untuk nyengir—begitu melihat sosok yang muncul dari balik pintu.
"Kau telat."
"Aku sengaja, karena aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu," tukas Mouri—dingin, "Apalagi dengan orang amnesia sepertimu."
Aku mendecak—jengkel.
"Aku langsung saja ke pokok pembicaraan," ujarku, "Bisakah kau ceritakan—sebenarnya, apa hubunganku denganmu, Mouri-san?"
Matanya menyipit, wajahnya terlihat sama sekali tidak senang.
"Aku menemukan lukisanmu di kamarku," lanjutku, "Aku yakin, sebelum aku kehilangan ingatan, aku pasti pernah berhubungan denganmu. Nah, aku ingin tahu lebih jelas lagi, seperti apakah hubungan kita waktu itu?"
"Lupakan saja, dasar bajak laut pemabuk,"desis Mouri, kasar.
"Kenapa tanggapanmu seperti itu?" tanyaku, heran, "Di antara semua teman-temanku, hanya kau yang tidak bersedia membantuku mendapatkan kembali ingatanku."
Ia tersenyum—sinis, berkacak pinggang, "Aku sudah pernah bilang padamu, untuk melupakan semua tentang diriku. Bagus! Kau sudah lupa semuanya. Karena itu, lebih baik kau tidak mengingat semuanya lagi!"
"Apa-apaan, Mouri?" tukasku—murka.
"Terserahmu, kalau kau ingin mengingat semua tentang sahabat-sahabatmu—tapi, aku tidak sudi diingat kembali olehmu! Aku muak! Kau bisa saja mengingat semuanya kembali—tapi tidak tentang diriku!"
Sebuah bunyi lonceng—jernih, nyaring—berdering dalam kepalaku.
Rasa nyeri yang amat sangat menyerangku.
"…Lupakan aku…kau tidak perlu mengingatku…aku tidak pantas…"
"…jangan…lupakan saja aku, Chosokabe…lupakan…"
"TIDAK!" raungku—membuat Mouri mundur, tergagap.
Aku bingung—takut.
Suara-suara itu terus bermunculan dari dalam kepalaku, seperti jamur-jamur yang tumbuh di musim hujan.
Secara tidak sengaja, aku terpeleset—terjatuh.
Mouri refleks mendekatiku.
Kuraih pergelangan tangannya, dan kutarik dalam pelukanku.
"Chousokabe—"
"Diam."
"Apa—"
"Kubilang diam."
Kubiarkan jemariku menyisir rambutnya—membiarkan insting mengambil alih diriku.
Kuhirup aroma tubuhnya.
Ah.
Ada kerinduan yang tersembunyi di sana—tapi aku tidak tahu apa.
Aku tidak bisa mengingatnya.
Aku tidak bisa.
"Chouso—"
Kalimatnya terhenti oleh ciuman yang kuselipkan ke bibirnya.
Aku terus menciumnya—tidak berhenti.
Ia mendorongku—terengah-engah.
Kuperhatikan—wajahnya dipenuhi air mata.
"Aku benci," bisiknya, "AKU BENCI KAU!"
"Kenapa, Mouri?" aku bingung, "Aku—"
"Kau pembohong," isaknya—serak, "Kau berjanji—kau berjanji padaku…..kau berjanji akan mengingatku—selalu mengingatku! Kini, aku telah berhasil mengingatmu, namun kau malah mengingkari janjimu!"
"Maksudmu? Aku nggak ngerti—"
"PERSETAN KAU, CHOUSOKABE!"
Ia bangkit, lalu melangkah keluar—membanting pintu.
Perlahan, kusentuh bibirku sendiri—lalu menggumam,
"Selamat Valentine, Motochika."
Aku tertawa—terbahak-bahak.
Tokyo, 10 Maret 20XX
Restoran Yakiniku H
14:58 PM
"Chousokabe, kau telat."
Aku tertawa kecil—sambil tergopoh-gopoh mendekati satu meja.
Seorang wanita melambai kepadaku—di sampingnya, beberapa pemuda duduk.
"Aku sudah lapar, nih," gerutu Date, "Gara-gara nungguin Motochika!"
"Hahaha, maaf. Di jalan agak macet."
"Seperti biasanya, ya, Chousokabe," keluh wanita tersebut, "Amnesia atau tidak, kebiasaan sulit hilang."
Aku nyengir kecil.
"Kau juga," balasku, "Lidah tajammu tidak pernah tumpul, ya, Sayaka."
Semua mata yang memandangku membelalak.
"Chousokabe…..kau….."
Aku kembali nyengir.
"Motochika—kau….?" gagap Ieyasu—nyaris menjatuhkan gelas minumannya.
"Jangan kaget begitu, Ieyasu," kataku, "Wah. Ramai benar resto ini. Untunglah Ishida tidak mengamuk seperti dulu. Lebih baik, aku tidak merokok untuk saat ini."
Wajah Ishida memerah—menahan marah, namun binar di matanya tidak tersembunyikan.
Ieyasu tertawa—Date nyengir.
"Motochika—kau ingat! KAU INGAT!" serunya—serak, tercekik oleh kebahagiaan.
"Selamat," ujar Sayaka—singkat, namun mengena, "Ayo, pesan yang spesial."
"Kau ingat kami? Kau ingat semuanya?" tanya Ieyasu—bersemangat, merangkul bahuku.
"Belum, belum semua," jawabku, "Masih ada beberapa kepingan yang belum tersusun."
Date menatapku—penuh arti.
"Masih ada satu puzzle yang belum selesai," timpalnya, "Selesaikanlah, bro."
Tokyo, 28 Maret 20XX
Shikoku
17:03 PM
Kutemukan diriku berada di pesisir Shikoku, sekali lagi.
Debur ombak menghantam karang—dan angin laut yang berhembus.
Kulepas sandalku, dan memijak pasir yang lembut dan hangat.
Kubiarkan buih ombak menyapu kakiku, membasahi setiap pori-pori kulitku.
Kuambil sebuah kulit kerang seukuran bola golf, dan kulempar jauh-jauh ke tengah permukaan air yang berkilauan ditimpa mentari.
Menghasilkan bunyi tercebur yang bening.
Matahari makin condong ke barat, langit dihiasi awan yang memerah karena senja.
Kepingan terakhir ada di sini.
Semuanya belum lengkap.
Suara langkah—yang sangat kukenal—terdengar.
Kualihkan pandanganku, dan Mouri muncul.
"Lihat," kataku, "Pemandangan yang sangat indah. Tidak heran, banyak pasangan yang berbulan madu ke sini."
"Aku tidak percaya," geramnya—ketus, "Kau mengikutiku sampai ke sini. Kau membuntuti rombongan fakultasku dalam kunjungan kedua ke sini."
"Mumpung fakultasku sedang libur," jawabku—sambil terbahak, "Aku juga ingin menemukan sesuatu yang hilang—di sini."
Mouri mendecak.
"Aku pernah dengar," kataku, "Di Shikoku—konon terkubur harta karun yang tak ternilai banyaknya, disimpan oleh penguasa di sini—pada era peperangan zaman dulu."
"Kau terlalu banyak membaca novel roman," tukasnya, "Atau kebanyakan membaca komik dan menonton film kartun."
"Betulan, kok," balasku, "Harta itu terkubur di dasar lautannya—tak tersentuh oleh zaman, tak lekang oleh waktu. Mereka dikubur oleh penguasa sini—kau tahu?"
Mata Mouri membesar.
"Aku tahu," bisikku—tegas, "Aku tahu, karena aku sendirilah yang menguburnya. Di dasar ingatanku yang terdalam. Di dasar jiwaku—rohku, yang tidak akan lekang oleh waktu, ruang, tempat. Bahkan beberapa kali kehidupan pun tidak akan mampu menghentikanku dari menggalinya ulang."
Mouri maju—mendekatiku.
"Bohong."
"Tidak. Sungguh. Lagipula, harta itu adalah milikku. Aku yang memilikinya—jadi terserahku jika ingin kukubur dan kugali ulang, bukan?"
"Perompak memang egois."
"Memang."
Ia menghambur—melempar lengannya ke tubuhku.
Mouri terisak.
"Maafkan aku," gumamku, "Selama ini, kau pasti menderita—kau pasti tersakiti olehku."
"Aku sebal," gerutunya—sambil terisak-isak, "Kau membuatku sedih. Kau membuatku jengkel. Kau tidak tahu—apa yang kurasakan selama ini."
"Aku sudah ingat lagi, kok."
"Jangan bilang kau akan melupakanku lagi."
Aku terbahak, lalu mengeluarkan kanvas kecil dari tas punggungku.
"Berkat ini," ujarku, "Terima kasih juga padamu, Mouri."
"Kau bisa simpan saja itu," katanya—mengusap air matanya, "Kalau-kalau kau amnesia lagi. Atau kunjungi saja Galeri Kebudayaan Nasional kalau kau lupa."
"Iya, iya."
Kudorong sedikit tubuhnya, lalu kami terbaring di pesisir—membiarkan ombak membasahi tubuh kami.
Menatap langsung ke atas—ke langit yang mulai gelap dan berbintang.
"Waktu itu…pantai juga seperti ini, ya?" kataku.
"…aku tidak ingat. Tapi atmosfirnya memang mirip," jawab Mouri.
Aku bangun, lalu mendekatkan wajahku ke Mouri.
"Segalanya berawal dari Shikoku, dan berakhir di Shikoku juga, eh?"
Ia tersenyum—tulus, tanpa kebencian.
"Harta karun yang sesungguhnya adalah sesuatu yang dinamakan kenangan. Ya, 'kan, Mouri?"
Keping terakhir telah disusun.
