Disclaimer: I don't own anything but the plot, La Corda punyanya Yuki Kure-san
Warning: sumpah OOC gila! AU, gaje, abal, cheesy(?) to the max! Zero look-a-like appear XD
U'r OoC, Boss!
Ch 3
Mengapa dia bisa membuat diriku seperti ini? Apa yang telah ia perbuat padaku? Apa aku akan jatuh terlalu dalam …kedasar mimpi yang semua hanya ada dirinya? Aku sungguh tidak mengerti, ia begitu bisa mengendalikanku dengan atau tanpa sadar. Seluruh jiwa, tubuh, hati, dan pikiranku hanya terfokus padanya. Selalu memikirkan dirinya. Selalu menginginkannya. Selalu membutuhkannya. Tapi, apa ini …?
.
.
.
"Tsukimori-kuuun!"
"Ada apa?" tanya Len dengan nada kesal yang sebenarnya dibuat-buat karena sangat tidak mungkin baginya kesal dengan suara panggilan dari Hino itu. Malahan Bos geng itu berharap kalau suatu saat Hino akan memanggilnya dengan 'Len' dan Len bisa memanggilnya dengan 'Kahoko'.
Sebelum menjawab itu, Kahoko mengatur napas dahulu karena ia berlari menuju Len yang ia tidak sengaja melihat Len keluar dari toko buku, saat itu Kahoko kebetulan juga habis keluar dari supermarket yang jaraknya tidak begitu jauh dengan toko buku itu. "Hee, kebetulan kita ketemu!" ucapnya sambil tersenyum, meskipun masih capek gara-gara berlari tadi.
"Ah, iya." Sungguh kebetulan yang indah. "Berarti aku sial hari ini," ucap Len dingin. Lain diucap, lain dihati. Sungguh, bukan maksud hati untuk berkata seperti itu, dan dari sini kita tahu bahwa Len itu TSUNDERE!
"EH! Apa maksudnya?" tanya Kahoko kesal.
"Maksudku, Hino, aku sial karena bertemu denganmu dihari minggu ini."
"Apa? Ih, teganya!" Kahoko cemberut, tapi untung saja Kahoko sudah terbiasa menerima ucapan 'kejam' dari Len.
Imutnya! "Aneh ya, kenapa setiap hari kita harus ketemu? Takdir memang kejam," ucap Len sambil menggelengkan kepalanya. 'Sial! Mulutku memang tidak bisa dijaga!' omelnya dalam hati.
Kahoko tambah cemberut. "Apaan sih?" Ia menggembungkan pipinya.
'Tambah imut, sial!' Len pura-pura menghela napas panjang, "Atau …kamu yang sengaja membuntutiku?" Maksudnya untuk menggoda tapi kesannya malah jadi kayak orang mengintrogasi maling ayam tingkat kabupaten/kota.
"Apa? Demi apa aku membuntutimu? Kurang kerjaan saja!" sanggah Kahoko, "Emang aku penguntit apa?"
"Siapa tahu saja kan."
"Aku bukan penguntit! Dasar Tsukimori-kun bodoh!" seru Kahoko sambil menghentakkan kakinya, "Sampai jumpa!" ucapnya, ketus. Setelah mengatakan itu, Kahoko pergi dari hadapan Len.
"Sampai jumpa," gumam Len yang hanya bisa menatap punggu gadis itu dan melihat bagaimana rambut merahnya berayun kekanan dan kekiri saat ia berjalan. 'Bagus sekali, Len! Kamu memang pecundang sejati! Kesempatan datang, malah kamu sia-siakan! Bahkan kamu merusaknya! Dasar bodoh!'
Kini Len menatap Kahoko yang semakin menjauh itu dengan tatapan sendu, "Apa memang tidak bisa, ya? Sepertinya kamu benar, Hino, aku memang bodoh," gumamnya, ia pun berbalik untuk pulang.
~La Corda~
"Sensei, apa-apaan ini? Aku tidak mau satu kelompok dengan Hino," tolak Len pada Kyoutou-sensei.
"Eh? Kenapa tidak mau, Tsukimori-san?"
"Pokoknya tidak mau."
"Tapi Tsukimori-san, nanti tidak adil untuk semuanya. Bukannya kamu sendiri yang 'tidak sengaja' mengambil nama Hino-san dikotak tadi?"
"Ceh." Len membuang muka, yang jelas dia tidak ingin melihat wajah sensei itu, terutama Hino.
Saat protes tidak ingin satu kelompok dengan Hino, Len sempat melihat dari ekor matanya kalau Hino merasa kecewa. Mungkin lebih baik Hino membencinya, kah? Len merasa sangat sakit, disana, dibagian dada. Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan perasaan Len terhadap Kahoko? Len tidak tahu karena dia belum pernah merasakan perasaan sesak ini sebelum bertemu dengan gadis itu.
Ternyata menyembunyikan perasaan sangatlah susah. Ia tidak tahu kalau jadinya akan seperti ini. Len tahu kalau mungkin Hino tidak mempunyai perasaan untukknya, tapi Hino mempunyai rasa persahabatan yang kuat bahkan dengan dirinya yang seorang ketua geng, ia dapat merasakan itu. Hanya dengan mendapat senyum bahagia dari Hino untuknya bahkan kalau itu bukan hanya untuknya tapi untuk semua orang, Len menganggap kalau Hino menganggapnya sebagai teman, meskipun hanya teman, Len sangat senang. Karenanya, Len berjanji tidak akan menarik Kahoko kedalam dunianya, meskipun akan mengakibatkan gadis itu membencinya dan tidak menganggapnya sebagai teman lagi. Tidak apa, asalkan dia aman.
"Kalau begitu tidak ada yang keberatan lagi, kan? Jadi semuanya adil," ucap Kyoutou-sensei, final.
Pada akhirnya Len tetap akan sekelompok dengan Kahoko. Bagaimana ini?
~La Corda~
"Jadi Tsukimori-kun …" Kahoko memulai, pada awalnya ia ragu untuk membicarakan tugas kelompok yang diberi sensei tadi, tapi setelah dipikir-pikir ia harus bilang ini—untung jam istirahat orang-orang pada sepi. "Kalau kamu tidak mau, aku bisa mengerjakan ini sendirian. Jadi, Tsukimori-kun tidak perlu mengerjakan tugas ini bersamaku. Itu kan yang Tsukimori-kun mau? Tidak usah khawatir, kalau selesai aku akan kasih bahannya supaya Tsukimori-kun bisa mempelajarinya." Dengan itu Hino beranjak dari hadapan pria yang dari tadi diam dan tidak menghiraukannya—itu yang Kahoko kira.
'… itu kan yang Tsukimori-kun mau?' Len rasanya ingin menghantamkan kepalanya ke atas meja. Perkataan Hino tadi benar-benar menusuknya. Bagaimana bisa? Apa takdir memang sedang mempermainkannya?
Len mengacak-ngacak rambut birunya. Frustasi? Ya, dia benar-benar frustasi, sampai-sampai anak buahnya yang berada didalam kelas menatapnya cemas dan heran.
"Kiriya, menurutmu, bos kenapa frustasi sekali sekelompok dengan Hino, ya?" bisik Aoi pada Kiriya yang sedang berdiri disampingnya.
Kiriya berpikir sebentar, tangannya yang berada disaku celana ia keluarkan, lalu ia silangkan didepan dada. "Aku tidak tahu. Kenapa kamu tidak tanya saja?" Kiriya menatap Aoi seraya mengangkat satu alisnya.
Aoi mengangkat bahunya, "Tidak perlu. Menurutmu bos punya perasaan khusus buat Hino, tidak?" Tiba-tiba saja Aoi melontarkan pertanyaan yang selama ini mengganggunya sejak ia tidak sengaja melihat bosnya itu senyum-senyum sendiri seperti orang sinting kekurangan gizi saat melihat Hino yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Ryotaro yang tidak sengaja mendengar perkataan Aoi, terkejut. Ia membulatkan matanya. Ternyata Aoi tajam juga instingnya, kalau begini tidak perlu Len yang bilang, mereka semua sudah pada tahu. Gawat!
"Hah?" Kiriya juga terkejut, lalu tertawa kecil. "Mustahil tahu tidak? Bos es batu itu suka sama Hino, maksudmu?"
"Ya, sejenis itulah …siapa tahu saja kan? Len kan juga manusia, meskipun manusia es," Aoi menggelengkan kepalanya.
"Yah, kalau itu, aku juga tidak tahu. Yang jelas kalau bos suka sama Hino, dia harus menghapus perasaan itu …kan?" suara Kiriya menjadi pelan. Kalau bos suka sama Hino, apa yang bos akan lakukan? Kiriya membayangkan kalau bosnya itu dalam masalah besar, meskipun dia tidak begitu lama mengenal Len, tapi sepertinya ia mengerti dengan keadaan bosnya—kalau dia menyukai Hino.
"Ah …kamu benar …tapi apa bos beneran suka sama Hino?"
"Perasaan aku sudah jawab tidak tahu deh," Kiriya sweatdrop. "Tanya, tanya, Aoi."
Laki-laki berambut pirang itu diam sebentar sambil memandang kearah laki-laki berambut biru, lalu menghela napas. "Tidak, tidak usah. Mungkin …ini hanya perasaanku saja. Kita lupakan saja, ok?"
"Terserah kamu," ucap Kiriya. "Mau kekantin?"
"Ya," Aoi pun mengikuti Kiriya yang beranjak keluar dari kelas.
Ryotaro yang melihat mereka pergi pun, menghela napas lega. "Aoi memang tidak bisa diremehkan …ah, lagian dia paling ahli kalau masalah seperti itu …" gumamnya seraya mengalihkan pandangannya ke Len yang masih terpaku ditempat duduknya, dengan tatapan cemas. "Bos."
~La Corda~
Otak Len bekerja lebih cepat dari pada biasanya. Ia sedang memikirkan suatu rencana. Rencana yang ia pikirkan sampai-sampai membuat kepalanya mau botak.
Hari ini Len tidak berada di markasnya. Ia memberitahukan pada anak buahnya kalau dia ingin pulang lebih awal. Dan ini membuat anggota geng menjadi khawatir dengan keadaan bos yang terlihat kurang bersemangat—meskipun hari-hari biasa tidak terlihat ia semangat atau tidak sih—yang terlihat dari aura bos yang biasanya berkharisma, sekarang ber-gramedia—eh, maksudnya ke-kharisma-annya itu kurang terpancar.
Len membolehkan anak buahnya untuk tinggal di markas atau pulang atau keluyuran atau mejeng atau terserah mereka mau melakukan apa. Dalam artian, hari ini mereka merdeka.
Kembali ke Len yang kini tidur-tiduran di kamarnya, kedua tangan dilipat dan diletakkan dibawah kepala dan tatapan ditujukan pada platfon. Seperti yang dituliskan tadi, si bos sedang memikirkan sesuatu—rencana. Rencana yang ia pikirkan itu ada hubungannya dengan gadis pujaannya itu. Siapa lagi kalau bukan Hino Kahoko.
Kejadian tadi di sekolah yang membuat hubungan LenKaho-nya—Len menamai hubungannya dengan Kahoko, LenKaho—menjadi retak. Padahal dengan susah payah Len membangunnya dengan batu bata dan semen—halah.
Ok, jadi rencana yang ada di dalam otaknya Len itu ada tiga, yang intinya semua bertujuan untuk memperbaiki 'hubungan'nya dengan Kahoko. Yang pertama—meskipun ini langsung dihapusnya dari list—bikin bento 'permintaan maaf' untuk Kahoko, sungguh itu pemikiran dapat dari mana coba? Len pikir 3 kali, lebih tepatnya memberitahukan pada dirinya sendiri 3 kali kalau dia TIDAK BISA MASAK. Masa mau memberikan Kahoko nasi gosong dan tempat bento yang juga akan ikutan gosong? Bukannya bikin 'hubungan baik' malahan Kahoko jadi illfeel sama Len. Brrr, seketika Len merinding. Yang kedua, ini boleh lah, tapi …tolong cek dulu. Nyanyi dengan iringan gitar dibawah kamar Kahoko. Lu gila atau tidak waras Len? Cek lagi; bisa nggak nyanyi? Bisa nggak main gitar? Nanti malahan gitarnya digesek, emang biola apa? Mikir! Pulang kampung aja kamu sana! Terus yang ketiga, yang ini entahlah siapa yang ngasih ini ide, tapi kalau melakukan ide yang ini ...ide ketiga, kirim bunga mawar pada Kahoko sekaligus menyatakan cinta padanya. Sebentar Len, kamu nggak takut ditolak?
Dan itu semua …dicoret.
"Mama, bunuh aku saja!" Len tambah frustasi, bukannya memecahkan masalah, malah membuat otaknya tambah konslet. Dan line ini membuktikan kalau Len ternyata anak mama.
Jadi …bagaimana ini?
Len memejamkan matanya. 'Apa aku harus …?'
Bagaimana caranya minta maaf pada gadis itu tanpa ketahuan oleh orang-orang? Yap! Tentu saja itu! Kenapa tidak kepikiran dari tadi sih? Bego sih lu, Len!
Pria berambut biru itu mengacak-ngacak rambutnya, lalu tersenyum puas. Dasar gila.
Sebelum terlalu jauh untuk menjadi gila, Len cepat-cepat bangkit dari tempat tidurnya, mengambil jaket dan topi, juga tidak lupa kaca mata hitam. Ia akan ke tempat dimana rencananya itu menjadi berhasil. Ya, terlebih dahulu ke tempat itu.
~La Corda~
Ting tong
"Iya … tunggu sebentar…." Ucap gadis berambut merah ini seraya membukakan pintu rumahnya.
Dan ekspresi pertama kali yang dikeluarkan Kahoko setelah membuka pintu dan melihat siapa gerangan yang bertamu kerumahnya pada sore-sore begini, adalah cengo. Ya, cengo, dan bingung, dan antara mau ketawa atau nangis atau sujud sukur, tapi yang kedua terakhir itu bohong.
"Err … apa yang bisa saya bantu …?" tanya gadis ini sambil memikirkan kenapa orang-ehem-aneh-ehem-ini begitu mirip dengan teman sekelasnya yang kebetulan seorang ketua geng.
Kahoko melirik laki-laki ini dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rambut putih, cek. Ini orang sudah tua, ya? Kaca mata hitam, cek. Ini orang sakit mata atau memang lagi nge-tren ya pakai kaca mata hitam? Topi musim dingin dan jaket tebal, cek. Coba liat keluar, ini sudah musim dingin kah? Tidak kok! Ini fic setting-nya masih musim panas. Jadi, kesimpulannya… pria ini… hen da!
Bagaimana ini, Kahoko? Ada orang aneh datang kerumahmu! Tapi, sumpah, mukanya mirip sama Tsukimori-kun. Atau orang ini kemungkinan adalah…
"Tsukimori-kun—?"
"Bukan!"
"—kembarannya?"
"Eee?"
Semuanya terdiam. Kenapa? Tidak tau juga sih kenapa.
"Jadi bukan ya?" tanya Kahoko, kecewa. Yah, padahal seru kalau Tsukimori-kun punya saudara kembar.
"Em, dari pada itu…" pria aneh ini menoleh ke kanan dan ke kiri seperti orang habis nyolong sendal, "Aku boleh masuk, tidak?"
"Ah, iya … maaf … silahkan," Kahoko pun mempersilahkan orang aneh itu untuk masuk.
Ini aneh, kata mama tidak boleh membiarkan orang asing masuk kerumah, tapi kenapa Kahoko percaya aja sama orang ini, ya? Atau orang ini…
"Bisa kita duduk dulu? Aneh rasanya kamu ngeliatin aku seperti itu, Hino," ucap si orang aneh, dingin.
Dan disaat itulah Kahoko sadar kalau orang ini benar-benar…
"Tsu-Tsukimori-kun?" Kahoko setengah teriak setengan berbisik, entah maksud author yang bagaimana.
"Ssst, tenang kan dirimu, Hino. Tarik napas, keluarkan, tarik napas, keluarkan," ucap orang aneh ini yang sudah diketahui dari awal adalah Len Tsukimori, sambil menginstruksikan Kahoko agar inhale-exhale dengan tangannya, dan Kahoko dengan sangat polosnya mau aja mengikuti instruksi itu. Lalu, Len duduk diikuti oleh Kahoko.
"Ja-jadi, kenapa kamu berpakaian seperti itu … Tsukimori-kun?" tanya Kahoko, bingung.
Diam sejenak. Mungkin si ketua geng ini memikirkan alasan yang bagus untuk mengelabui wanita berambut merah ini. Dan alasan itu adalah…
"Te-tebak dong!" dan dengan sangat anti-kilmaks-nya Len berkata seperti itu. Mungkin dia sudah desperate banget soalnya dia tidak bisa memikirkan alasan lain. Biar Kahoko aja yang memikirkan alasannya, apa yang dijawab Kahoko maka itulah yang akan menjadi alasannya. Ha, ha, ha. Otaknya masih konslet.
"Haa?"
"Kau mendengarku."
"Em… cosplay, ya?" Kahoko asal tebak.
"Iya, betul sekali, Hino," kata Len, mengangguk. Bagus juga tebakannya Hino.
"Oh, begitu ya… tapi, habis cosplay dimana?"
Siiing…
Hino, jangan membuat pertanyaan lagi, dong…
"Ehem," Len berpura-pura batuk, "Dari pada itu, Hino, bukankah kita lebih baik mulai mengerjakan tugas?" ucap Len seraya mengalihkan pembicaraan.
"Oh! Jadi, Tsukimori-kun kesini mau kerja kelompok bareng? Tapi … bukannya Tsukimori-kun tidak mau seke—"
"Siapa yang bilang aku tidak mau? Aku tidak ingat pernah mengatakan hal seperti itu,"
"Ha? Tapi, yang dikelas tadi—"
"Itu hanya imajinasimu saja, Hino. Daripada buang-buang waktu, sebaiknya kita mengerjakan tugas itu dulu," usul Len karena tidak ingin pembicaraan tadi dilanjutkan. Biar saja Kahoko menganggapnya aneh, tapi setidaknya … jangan sampai gadis itu membencinya.
Ternyata, membiarkan gadis berambut merah itu membenci dirinya itu tidak mungkin. Len menarik kata-katanya. Ia tidak ingin Kahoko membencinya, tidak ingin menjauh darinya, tidak ingin gadis itu tidak lagi menganggap dirinya sebagai teman. God, Len benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Galau, galau situ Len….
"A-ah, kalau begitu aku akan menyiapkan semuanya," ucap Kahoko yang masih bingung dengan pria satu ini, sambil pergi menuju kamarnya.
~La Corda~
"Haaa, akhirnya selesai juga! Tinggal mem-presentasikan didepan kelas, ya kan, Tsukimori-kun?" ucap Kahoko sambil merenggagkan kedua tangannya.
"Hn," jawab Len, seadanya. "Oh, iya, keluargamu belum pulang?" tanya Len.
"Sepertinya mereka akan menginap lagi dirumah kakek…" kata Kahoko, cemberut. Dan itu sangat imut, sampai Len harus dengan sekuat tenaga agar tidak blushing dan tertawa.
"Oh, jadi kamu sendirian malam ini?" damn, kenapa kata-kata itu terdengar sangat nakal? Rasanya Len ingin memukul dirinya kuat-kuat karena memikirkan hal yang tidak-tidak.
Tapi bagi Kahoko perkataan Len itu membuatnya jadi lesu, "Iya…" jawabnya.
Len mendengar jawaban gadis itu jadi ikut kasihan. Mungkin sedikit candaan akan meningkatkan mood Hino yang satu ini, "Hati-hati, Hino. Nanti kamu diculik sama hantu," ucap Len sambil berseringai.
"Waaa, Tsukimori-kun, jangan menakutiku seperti itu, dong!" pekik Kahoko karena ia sekarang jadi takut. Dan ya, dia memang takut dengan hal yang berbau gaib.
Len terkikik pelan. "Aku hanya bercanda."
Melihat The Len Tsukimori tertawa pelan—yang sangat jarang, bahkan mungkin tidak pernah—seperti itu, Kahoko tersenyum, ternyata orang ini bisa tertawa juga. Lalu penglihatannya menangkap jam dinding yang ada diruang tamu tersebut. "Hee, sudah jam 8? Tsukimori-kun, sebaiknya kamu cepat-cepat pulang, nanti keluargamu khawatir lagi," ucapnya sambi membereskan buku-buku dan gelas serta snack.
Len menaikkan sebelah alisnya, "Mereka tidak akan khawatir, karena mereka tidak tinggal bersamaku."
Kahoko memasang tampang bingung.
"Maksudku, aku tinggal sendirian."
"Heee? Kenapa? Terus keluargamu sekarang ada dimana?" tanya gadis itu.
"Mereka semua ada diluar negeri. Chichi-ue dan haha-ue ada pekerjaan di Inggris, kakek dan nenek berada di Swiss, dan yang lainnya ada dibelahan bumi yang lain. Sepertinya hanya aku yang tinggal di Yokohama, mungkin ada yang tinggal di Tokyo … paman dan bibi … ka …."
"Hoa, sugoi … tapi, apa kamu tidak kesepian, Tsukimori -kun?" Kahoko sedikit prihatin, Tsukimori-kun kan ketua geng, apa dia merasakan kesepian juga, ya?
"Tentu saja aku sangat kesepian, kesepian dari siapapun… dan juga aku anak tunggal," Len tersenyum miris sambil tertunduk. Tidak ada yang lebih kesepian dari dirinya. Meskipun dia mempunyai banyak anak buah, tetap saja ia sendirian diruangan itu.
Kahoko sedikit terkejut dengan perkataan Len. Jadi… dia yang paling kesepian?
Kalau begitu… Kahoko tersenyum. "Tsukimori-kun! Aku punya ide!"
"Ide?"
"Ya, kalau misalnya Tsukimori-kun meresa kesepian, tinggal panggil aku saja! Aku yang akan menemanimu, kita akan melakukan hal yang menyenangkan bersama-sama, bagaimana?" senyum gadis ceria itu tambah melebar.
Len tersentak. Gadis itu ingin menemaninya disaat ia kesepian? Len benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
Perkataan itu benar-benar buah simalakama. Ingin rasanya ia setuju dengan tawaran itu. Dan ingin pula rasanya ia cepat-cepat menolaknya.
"I-itu…" Len memejamkan matanya, lalu berdiri.
Kahoko pun juga ikut berdiri, tapi tekejut disaat itu juga karena Len sudah berada tepat didepannya dan menjentikkan jarinya didahi gadis itu.
Aw, itu sakit… Kahoko memegang dahinya dan menatap pria berambut silver—oh, dia memakai wig?—itu dengan tatapan apa-apaan-tadi-itu?
Len tersenyum, "Terima kasih banyak, Hino. Tapi itu terlalu berlebihan," Kahoko berpikir apanya yang berlebihan? "Kalau begitu aku pulang dulu, Hino," Len berbalik dan mengambil tasnya, Kahoko pun mengikutinya sampai depan pintu.
"Aku permisi dulu, Hino. Selamat malam," ucap Len sambil membungkuk.
Saat hendak melangkah pergi, Kahoko menahan pria itu, "Tunggu dulu, Tsukimori-kun! Maksudmu tadi itu apa, ya?"
Len terdiam, lalu berbalik, "Sampai besok, Hino!" dan berlari sekencang mungkin, meninggalkan Kahoko yang benar-benar cengo melihat kelakuan pria satu itu.
"Dia benar-benar aneh…" gumam Kahoko seraya tertawa geli.
What a day
TBC
A/N: tidak ada yang bisa kukatakan, benar-benar epic-failed XP
Entah apa masih ada yang mau baca fic ini dan chap selanjutnya XD
Sore Ja! XDD
