Hai hai hai! Hika-chan again! Maaf lama update ya! Habisnya sempet kena Writer's Block sih! Yang lancar nan encer malahan Cuma yang Persona Goes to Pare nya doang! Hahaha! Oh iya, nanti akan ada POV dari orang lain selain Yui. Siapa? Baca lah, ngapain nanya ke saya, saya udah lupa*Plak!*. Nggak lupa kok, saya Cuma gak mau ngasih spoiler doang. Oke-oke, tanpa basa-basi, langsung aja yuks!
Rated: K+
Genre: Mystery and Adventure
Disclaimer: P4 punya ATLUS ya...
Summary: Adiknya Souji pindah ke Inaba! Tetapi, tetap saja namanya IT, mereka terjerumus ke sebuah masalah besar. Gimana ya? Check it Out! Bad Summary, lgs aja deh baca...
P4; New Journey
Part 3: Leader's True Feeling, and shadow-?
.
.
.
.
.
.
Unknown time, Velvet Room
Aku terbangun di ruangan yang tidak asing lagi bagiku. Kulihat kakek-kakek berhidung panjang dan perempuan yang berpakaian serba biru di sebelahnya. Ya, aku mengetahui ruangan ini. Ini adalah Velvet room.
"Selamat datang kembali anakku..." Sapa Igor. "Sepertinya kau sudah membuat ikatan dengan salah satu temanmu." Katanya. Margareth membuka buku dan memperlihatkan semacam kartu tarot dan sebelahnya ada foto bergerak disaat aku dan Yosuke-senpai sedang berjabat tangan. "Ikatan ini kami sebut social link."kata Igor. "Social link adalah sebuah ikatan yang kau buat dengan temanmu saat perjalananmu." Jelas Margareth. "Semakin banyak Social Link maka semakin kuat kekuatan persona mu. Dan kau mendapat kekuatan yang disebut Wild Card." Jelas Igor. "Yang dimaksud Wild Card adalah 0. Dia kosong, tapi dapat menampung banyak angka-angka." Sambung Margareth. " Tapi sepertinya, kekuatan Wild Cardmu berbeda dengan para tamu-tamu kita sebelumnya. *Giggle* Saya tidak sabar untuk melihatnya nanti. Until then, farewell..." sambung Igor dan pandanganku tentang Velvet Room kabur.
Back to the Real World...
Piiiiippp...Piiiiiippp...
Alarm di kamarku berbunyi. Hari ini kami berencana untuk pergi menyelamatkan Souji-nii seusai sekolah. Aku pun mengenakan seragamku dan turun kebawah untuk sarapan bersama Nanako. Di bawah, Nanako sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua dan kami pun menyantapnya.
"Umm, Big Sis, Big Bro kemana? Kok dari kemarin tidak pulang?" tanya Nanako disela-sela kami tersedak. Baru kuingat kalau Souji-nii ada di dunia TV. Dia tidak mungkin pulang kalau diculik kan? "Ah i-itu, Souji-nii bilang, kalau dia akan menginap di rumah Yosuke-senpai. Kemarin, dia bilang padaku."bohongku. "Ah, begitu ya. Baiklah kalau begitu."jawabnya dengan muka berseri-seri. Maafkan aku Nanako, aku terpaksa bohong kepadamu. Aku berjanji akan membawa pulang Souji-nii secepatnya. Aku dan Nanako menyelasaikan sarapan kami berdua. Dan kami pun berangkat ke sekolah.
Aku berjalan di sekitar Samegawa Flood Plain. Kalo sudah di sini, aku sudah dekat dengan sekolahku, Yasogami High School. Saat aku berjalan aku mendengar seseorang memanggil namaku. "Yuiii!" teriaknya. Aku menengok ke belakang. Ah, itu Naoto. "Ah, Naoto. Ohayou" sapaku."Ohayou. Hari ini kita jadi kan, menyelamatkan Souji-kun?" sapa seraya bertanya tentang rencana hari ini. Aku mengangguk. Tiba-tiba Naoto tersenyum. Tidak, bukan tersenyum. Tapi menyeringai. "Kenapa?" tanyaku curiga. "Haha, tidak-tidak..." jawabnya. Aku curiga, tapi biarlah, kami pun sampai di sekolah.
Kriiingggg!
Bel pelajaran terakhir pun berbunyi. Aku dan Naoto segera bersiap-siap untuk pergi ke dunia TV. Tapi sebelum kami pergi, aku dan Naoto pergi ke Central Shopping District dan belanja di Shiroku Store untuk beli perlengkapan medis nanti. Karena kudengar meskipun tipe persona Yukiko-senpai dan Kumakicchi healer, mereka tidak bisa terus-terusan meng-heal ataupun me-revive. Sehingga harus membeli perlengkapan medis juga. Biasanya sih, kata mereka Souji-nii yang membeli.
Meanwhile, TV World, Unknown Place...
"Sepertinya sang adik Souji Seta sudah bergerak ya?" tanya orang yang tidak diketahui tampang dan mukanya. "Ya, aku penasaran. Apa yang akan mereka lakukan ya? Meskipun mereka sudah pernah melawan sang Dewi, tapi pemimpin mereka kan tetap saja tak bisa diremehkan." Sambung yang lain dan bersuara perempuan, bukan seperti yang satunya. "*Chuckle* Kita hanya bisa melihat, dan merencanakan apa lagi selanjutnya..." sambung lelaki tadi. "Kalian, jangan Cuma tertawa saja! Bantu aku membangkitkan benda ini!" teriak seorang lagi. Dan mereka pun pergi tanpa meninggalkan jejak.
Back to Yui's Place...
"Baiklah, semuanya siap?" Tanya Yosuke-senpai. Semuanya mengannguk. Kami segera pergi ke Junes bagian Elektronik dan mulai memakai kacamata kami. Aku pun memakai kacamata ku yang berbentuk oval dan berwarna emas glitter. Kami pun masuk ke TV.
Kami mulai memasuki dungeon Souji-nii yang berbentuk sekolah kami. Tetapi, saat kami mendatanginya, mendadak dungeon itu berubah. Bukan 'sekolah' lagi. Melainkan, seperti tempat studio pencari bakat. "A-apa maksudnya ini, kami tidak pernah mengalami hal seperti ini!" Protes Chie-senpai. "Apa karena yang kita hadapi ini adalah shadownya sensei kuma?" pikir Kumakicchi. "Huh! Apapun yang kita lewati, pokoknya yang terpenting kita harus menyelamatkannya kan?" kata Kanji. "Iya, kau benar. Ayo, minna kita eksplorasi tempat ini!" kata Rise. Kami semua mengangguk. Dan kami mulai memasuki 'studio pencari bakat' itu.
Kami mulai bereksplorasi di lantai 1. Semua berjalan baik-baik saja hingga Rise mulai memberitahukan kami keberadaan shadow. "Teman-teman, awas! Aku merasakan shadow!" teriaknya. Kami mulai mempersiapkan kondisi bertarung kami. "Ini dia, shadownya! Arcananya Chariot! Dia kuat terhadap physic!" Teriak Rise. Yukiko-senpai mulai memanggil personanya dengan menebasnya menggunakan kipas. "Konohana-Sakuya! Agidyne!" terlihat sosok seperti burung dan mengibaskan sayapnya. Serangan dari Yukiko-senpai mengenainya, tetapi sepertinya masih belum memberikan luka serius pada shadownya. " Shadow ini lemah dengan listrik! Buatlah dia terkejut!" teriak Rise. "Ok, Minerva, Ziodyne!" teriakku. Shadow itu menghilang. "Kerja bagus semuanya. Ayo, kita lanjutkan." Kata Rise. Kami pun kembali mengeksplorasi dungeon.
Aku adalah anak sulung dari keluarga Seta.
Perjalanan kami terhenti saat mendengar perkataan Souji-nii. Kami melihat sekeliling. "He-hei, jangan-jangan ini-!" teriak Kanji sempat terputus karena mendengar suara Souji-nii lagi.
Tapi, meskipun aku menjadi anak sulung, entah mengapa aku mendapat kekurangan perhatian. Ayah dan ibu selalu pergi. Entah itu setahun, malah pernah hampir 3 tahun. Kalau saja aku tidak berada di keluarga ini, apa aku akan mendapatkan perhatian? Terlebih lagi saat Yui lahir. Ya, ayah dan ibu selalu memperhatikannya. Ia selalu diperhatikan baik fisik maupun perasaan. Apakah karena aku anak sulung? Apakah karena aku lelaki? Aku cemburu. Meskipun kami tetap selalu ditinggalkan, tetapi Yui selalu mendapat telepon sayang dari ibu. Saat aku menerima telepon, ayah malah membicarakan prestasiku dan yang berhubungan dengan masa depan atau tentang mewarisi kekuasaan keluarga Seta. Apakah aku harus selalu menghadapi ini? Aku hampir tidak kuat.
Souji-nii, apa yang selama ini kau sembunyikan? Kau tidak pernah memperlihatkan bentuk rapuhmu padaku. Aku merasa bersalah. Aku mengira Souji-nii selalu senang dan keberadaannya menghangatkanku. Ternyata ia iri padaku? Aku merasa bersalah pada Souji-nii. Sangat. Tak terasa air mataku mengalir lagi. "Yu-Yui-chan, kamu kenapa menangis?" tanya Yukiko-senpai. "Hmm? Ah, aku menangis lagi, haha, sudah lama aku tidak secengeng ini." Jawabku seraya hendak menyeka air mataku. Baru saja aku mau menyeka air mataku, tiba-tiba ada tangan orang lain yang menyekanya duluan dengan jarinya. Orang itu adalah Yosuke-senpai. "Se-Senpai?" kagetku. Yosuke-senpai langsung menarikku dalam pelukannya. "Kamu tidak usah sok kuat. Jika ingin menangis, silahkan saja. Kami semua ada disini." Jawab Yosuke-senpai seraya mengelus rambutku. Aku tidak dapat menahan air mataku lagi. Aku menangis di dalam pelukan Yosuke-senpai.
Setelah sekitar 5 menit, aku tidak menangis lagi. Aku merasa lebih lega sekarang. Dan, agak malu. Ya, aku hampir lupa kalau aku menangis di depan semuanya. Dan terlebih lagi, aku menangis di pelukan Yosuke-senpai. Aku pun sedikit menarik belakang baju Yosuke-senpai dan dia menengok."Hmm? Ada apa Yui?" tanyanya. "Senpai, ano...A-Arigatou..." kataku. Mukaku panas. Benar-benar panas. "Umm, ya, sama-sama." Jawabnya. Aku pun tersenyum dan menysul yang lain. Tanpa kusadari, Yosuke-senpai menutup mukanya dengan tangan kanannya.
Yosuke's POV
Cih, aku malu sekali sekarang. Bajuku agak basah, ya karena tangisan Yui tadi. Tapi yang aku rasakan sekarang agak aneh. Tadi aku bergerak tanpa kendali untuk memeluk Yui. Dan aku merasa senang saat dia menangis di pelukanku. Dan aku merasa sedikit lega melihat dia mengumbarkan aku menyukainya? Memang sih, aku pernah merasakan ini saat aku mencintai Saki-senpai, tapi.. Argh, sudahlah! Bukan saatnya aku memikirkan hal ini. Aku harus menyelamatkan Souji sebelum kenapa-kenapa. Aku pun menyusul yang lain.
(A/N: Eits! Pada kira saya mau ganti POV lagi ke Yui? Tentu tidak! Chapter ini akan banyak POV dari Yosuke. Jadi, selamat menikmati jalan pikirannya! Ohohoho! *Author ditendang Readers*)
Kami pun melawan shadow yang tidak ada habisnya. Meskipun itu adalah shadow-shadow lemah, tetap saja mereka terlalu banyak. Dan aku bingung, Yui tetap saja berhasil mengalahkan mereka dengan sekali embat. Bagus sih, tapi, entah mengapa ada sesuatu yang menggangguku. Bukan tentang perasaanku atau apa. Tapi tentang personanya. Entahlah, aku pun kurang menerti. Dan kami pun memasuki lantai 2.
Kami melihat banyak sekali patung-patung. Semakin kami mengeksplor, raut muka patung itu semakin susah untuk ditebak. "Hei, apa lagi ini?" tanya Chie. "Aku kurang tahu, tapi mungkin ini adalah perasaan senpai dari dulu hingga sekarang?" kata Rise. Souji, sebenarnya apa yang kau sembunyikan sih? Kayaknya yang lain tidak sekompleks ini deh! Tapi, apapun dirimu, pasti kau pun mempunyai bayang-bayang kan? Tenang saja, kami pasti akan menyelamatkanmu.
Entah kenapa, kami semua sudah menemukan tangga menuju lantai 3 dan kami menaikinya. Kami pun sampai dan di depan sudah ada pintu besar. "Perasaan ini, tidak salah lagi, ada senpai disini!" kata Rise. "Baiklah, ayo kita semangat semua!" teriak Chie. "Hmm! Senpai sudah menunggu kita di sana!" sambung Kanji. "Aku melakukan apa saja untuk mengalahkan shadow Souji-kun!" sambung Naoto. "Uwoh, semangat sekali kau Naoto!" kataku. "Aku akan berusaha semampuku juga." Sambung Yukiko. "Aku akan melakukan sebisa apa pun untuk sensei juga kuma!" Semangat Kumakicchi. Semuanya semangat, kecuali Yui. Aku menghampirinya. "Kau kenapa? Kami sudah siap lho." Kataku seraya menepuk bahu Yui. Ia agak terkejut. "A-ah, senpai, tidak ada apa-apa kok, tapi rasanya... aneh..." katanya. "Hmm? Apa yang aneh?" tanyaku. "Ti-tidak ada apa-apa kok! Ayo, i'll make sure that his shadow pay for what he done!" kata Yui. "Semangat yang bagus Yui! Ayo, kita buka pintu itu." Kataku. "A-ano, senpai masih ada yang mau aku kasih tahu." Katanya. "Hmm? Ada apa?" tanyaku. Mukanya memerah. "Setelah ini, ada yang mau aku bicarakan dengan senpai. Apakah bisa?" tanyanya. Waduh, mukaku ikut memanas. "Bo-boleh saja, tapi kita harus melawan shadow Souji dulu, ok?"kataku. Ia mengangguk. Dan kami semua membuka pintu besar itu.
Yui's POV
Gyaa! Aku mengatakannya! Aku mengatakannya! Baiklah, dengan begini, aku bisa semangat. Setelah kami melawan shadow Souji-nii, aku akan menyatakan perasaanku pada Yosuke-senpai! Aku pun menyusul yang lain dan membuka pintu itu. Pintu itu agak besar dari pintu yang biasanya. Kami pun membukanya, dan di dalamnya ada seperti panggung, di tengah-tengah ada sosok seperti Souji-nii, tapi matanya kuning. Dan, dibawahnya...
"Souji-nii!" Teriakku. Tampaknya shadow Souji-nii menyadari keberadaan kami. "Ah, adikku yang manis ini sudah datang rupanya hmm?" katanya seraya bertepuk tangan. "Kau apakan Souji-nii?" teriakku lagi. "Aih aih, kau hanya menanyakan keberadaanku yang lain? Padahal aku ini dirinya juga lho..." kata shadow Souji-nii sambil merengut. "Kau bukan Souji-nii! Menyingkirlah dari Souji-nii yang asli!" teriakku lagi. "Wah, adik yang lumayan durhaka juga hah? Baiklah, aku akan menyingkir darinya." Kata shadow itu marah. Ia menendang Souji-nii hingga terpental ke ujung panggung. Sempat kudengar Souji-nii batuk. "Souji! Kau tak apa partner?" teriak Yosuke-senpai seraya berlari ke arah Souji-nii. Kami hendak menyusul Yosuke-senpai, tapi mendadak kami dihadang oleh shadow Souji-nii. Dia cepat sekali! Padahal jarak kami dengannya sekitar 10 meter! "Tsk tsk tsk, kalian ini gegabah ya, pantas saja aku membenci kalian." Kata Souji-nii. "Hentikan." Kata Souji-nii. "Hentikan, jangan sakiti mereka." sambung Souji-nii. "Hah? Bukankah kau mau melenyapkan mereka semua? Apalagi adik 'tercinta'mu ini!" kata shadow Souji-nii seraya menunjuk jemarinya kearahku. "Ti-tidak mungkin, aku tidak pernah mau melenyapkan-" perkataan Souji-nii terputus oleh shadownya. "Ah, kau tidak usah berbohong. Aku ini dirimu, aku tahu semua yang kau sembunyikan. Dan, sepertinya, pertemuan ini tidak seru kalau tidak ada hidangan bukan?" kata shadow Souji-nii. "Hidangan? Apa maksudmu?" kata Yukiko-senpai. "*Chuckle* Kau akan terkejut, terlebih kau, Yui Seta." Katanya seraya menyeringai padaku. Tuh kan, aku mempunyai firasat buruk disini.
Author's POV (Pengen nih, jadi gak ada kata hati dari para IT ya, ohohoho...)
"Teman-teman! Aku merasakan keberadaan sosok lain lagi disini!" teriak Rise. "Hah? Apa maksudmu Rise?" kata Chie. "Perasaan ini, tidak mungkin kan? I-ini, perasaan keberadaan shadow!" lanjut Rise. "Shadow lagi? Tapi kan, Cuma ada shadow Souji-kun disini!" kata Yukiko. "Iya, tapi ini.. shadow ini..." kata Rise. Ia melihat Yui dengan tegang. "Sepertinya kau tahu eh, sang annylizer?" tanya shadow Souji. Rise mengangguk. "Very well, sepertinya kita sambut saja tamu special kita. Hei kau, kemarilah sini. Aku ingin sekali melihat reaksi dari para bocah-nocah tak berguna ini." Kata shadow Souji seraya mengisyaratkan sosok itu untuk menampakkan dirinya. Dia pun datang dari kegelapan. Dan ia adalah...
"I-itu kan..." kaget Yosuke. "Sha-shadownya..." sambung Yukiko. "Dia adalah... Shadowku!" kaget Yui. "Fu fu fu fu, menarik sekali yang kulihat ini. Ya kan, atashi..." kata shadow Yui menyeringai.
To be Continue...
Fuah! Rasanya seneng banget bisa update setelah sekian lamanya! Para readers nungguin cerita ini nggak? Nungguin nggak? Pasti nungguin dong #maksa. Oh iya, sekarang sudah mengerti jalan cerita nya belom, ho ho ho... Disini banyak hint YuixYosuke bukan? Saya memang merencanakan ada kemajuan romance mulus dari pair mereka itu. Dan oh iya, apakah ada yang sadar? Saya sengaja menambahkan OC antagonis terbaru agar cerita ini menarik, kalau mau dilanjutin, review yak, sampai jum-
Yosuke: Author-san! Anda belum ngasih terima kasih ya?
Author: Hah, terima kasih ke siapa?
Naoto: Yah, temen yang udah ngebolehin wi-fi di rumahnya dilupain
Rise: Teman macam apa kau?
Author: Oh iya! Special Thanks to Tiara Anissa, to lend me your wi-fi connection in your house! Hontou ni Arigatou!
Teddie: Ada satu orang lagi!
Author: Ah, iya! Special thanks again untuk Maya Megumi-senpai untuk memberi saya beberapa bahan ide untuk membentuk shadow Souji, hontou ni Arigatou!
Yui: Eh eh, boleh nanya gak Author?
Author: Yes?
Yui: Memang segitu susahnya ya, bikin shadow Souji-nii?
Author: Oh tentu, anak lahiran ATLUS ini sangat susah karena anak ini kan sangat perfect dari segala macam hal, tidak tertutup sama sekali, karena itulah saya susah banget mikirinnya...
Souji: Segitu susahnya kah, membuat diriku yang lain?
Author: Bangeds...*Thumbs up*
Yosuke: Dan aku mau nanya sekali lagi...
Author: Yes? My lovely?
Yosuke: Ini kapan selesai? Lu kira para readers seneng bacaan ginian apa?
Author: Weleh, ini juga mau ditutup kok! Kanji! Tutupin!
Kanji: Eh? Umm, cerita ini berakhir sampai sini. Untuk lanjutannya, sekarang Author sudah kembali mengetiknya. Jangan lupa review dan sampai jumpa lagi!
Next Up on P4; New Journey:
Fight Againts the God and the Goddess
See u soon! ^o^
