Terima kasih banyak atas dukungannya, minnaOwQ
Balesan Review:
chiusa akefumi: terima kasih banyak atas dukungannya, chiusa-san ^^. Semoga chapter ini tetap menarik buat diikuti, ya. Terima kasih, lagi! :DD
Recolzer:makasih sudah mau baca dan review cerita ini, ya, Recolzer ^^ Inuyasha bukannya jelek, kelihatan jelek gara2 Kagome. Kasihan sih… Emang kasihan. Sabar, ya, Recolzer. Bentar lagi Inuyasha nggak kelihatan tertindas lagi. Hahaa. Makasih sekali lagi ^^
Amayamidori: makasih udah baca, Nak. Silakan dinikmati ^^
Hoshi no Nimarmine: salam kenal Hoshi-san ^^ Saia Rokuna dari fandom nun jauh di sana. Saia juga tersesat di dalam sesuatu yang namanya idola masa kecil. Hahahaha XD Kagome yang benci sama Inuyasha… Sebenarnya sudah dijelaskan secara terselubung di chapter dua, lho. Inuyasha 'mencurangi'nya. Hihihi… Apa banget sih mencurangi. Tapi, kalau masih penasaran, di chapter depan bisa ditemukan jawabannya. Terima kasih sudah menyempatkan baca, ya ^^
ArdhyaMouri: makasih sekali lagi, ya, Dhya. Saia juga nggak nyangka bakal bikin mereka pacaran di sini. Wkwkwk… Oke, kalau memang lebih gampang diingat, kamu panggil ambo Kimchi aja deh XD Oh iya, yang bikin Kagome benci Inuyasha sudah ada hints-nya di chapter dua. Saia nggak memfokuskan cerita ini ke sana, soalnya. Tapi chapter besok akan dijelaskan lebih banyak deh ^^ Maaf, ya. Malah bikin penasaran, ya XD
ME, I, MY, and MINE
CHAPTER 3: MY PUNISHMENT
Hari ini langit mendung. Birunya sama sekali nggak kelihatan dari sini. Kayaknya sebentar lagi hujan akan turun. Gue harus cepet nih.
Seperti biasa, Tou-san sudah berangkat kerja, jadi gue makan cuma bareng Kaa-san dan Otouto. Lauk hari ini ikan tuna dan miso,ditambah nasinya masih mengepul. Nyam nyam nyam… Tenang, perut, hari ini kau tak akan menderita seperti kemarin.
Saat suapan pertama nasi yang nikmat, Souta mengatakan sesuatu yang tak terduga.
"Nee-chan, udah ditunggu Yasha-nii di depan."
U-uhuek-hueeekk!
"A-aiiir!"
Panik karena gue tau-tau tersedak, Kaa-san mengoper segelas air pada Souta, tapi karena Souta nggak bener megang gelasnya, nyaris separuh isi gelas tumpah mengenai kemeja sekolah gue.
"Aaaargh! Souta—uhuek uhueeek!" teriak gue sambil tersedak-sedak. Tangan gue menggapai-gapai ke arah apa pun yang bisa dijadikan lap. Naasnya nggak ada apa pun yang bisa dipakai buat mengeringkan kemeja gue. Belum lagi sedakan gue ini nggak berenti-berenti. Sialnya lagi, dua orang lain di meja makan nggak berbuat apa pun untuk menolong gue. Kaa-san diam saja, melempar tatapan setengah prihatin setengah geli. Sementara Souta, dia sudah tertawa terbahak-bahak sambil mengacung-acungkan jari telunjukknya ke gue.
"Tolongin—uhuk uhuk—siapa aja!"
Kayaknya, kalau bukan karena Kaa-san kasihan lantas menolong, gue bakal menghabiskan pagi itu terbatuk-batuk di meja makan.
.
.
.
Akhirnya, setelah penderitaan itu, gue berangkat juga, pergi lewat pintu belakang. Sesaat sebelum gue menutup pintu, Souta merengek sambil menarik-narik tangan gue, "tapi Yasha-nii daritadi sudah—"
"Bilang aja Nee-chan sudah berangkat."
"Tapi Nee-chan nggak pernah berangkat pagi—"
"Bilang saja hari ini Nee-chan tiba-tiba jadi rajin lalu bangun pagi-pagi sekali untuk belajar di sekolah."
"Tapi itu kan mustahil. Nee-chan kan cewek paling lelet se-Jepang! Yasha-nii nggak akan percaya!"
Hey… Lelet itu maksudnya apa ya? Sudah mulai berani ngehina gue nih anak SD. Lama-lama gue kepahitan deh sama adik gue sendiri.
Gue menyejajarkan wajah dengan wajah Souta.
"Kamu disogok apa sama si Yasha?"
Wajah Souta memerah.
Grr… Dasar si Yasha bulus! Teganya dia memperalat adik gue yang masih polos ini!
"Pokoknya," tandas gue, "Nee-chantidak mau ketemu sama si Yasha! Biarkan dia berjamur di depan pintu!" Akhirnya gue beranjak meninggalkan rumah.
"Tapi, Nee-chan!"
"Berisik! Iku yo!"
"Tunggu, Nee-chan!"
"Nggak dengar!"
"Kagome-nee-chaaaan!"
"Bye—"
BRUAK!
... Sejak kapan...
"Itu kan tiang listrik!"
Sumpah… Apes banget hari ini.
.
.
.
Tetes-tetes air dari baju yang basah kuyup membentuk pola di lantai yang gue lewati. Rupanya kesialan gue belum berakhir. Setelah muka nyaris rata kepentok tiang listrik, di tengah jalan, gue yang lupa membawa payung ini dikeroyok air hujan. Belum puas alam mempermainkan gue, sebuah mobil nggak tahu sopan santun mencipratkan air lumpur ke kemeja yang sudah basah ketumpahan air minum. Rasanya gue ingin menyerukan ketidakadilan yang gue terima hari ini kepada gunung di depan sana.
"Kagome."
Apaan lagi ini? Apakah para dewa di atas sana nggak menaruh belas kasihan sama gue? Kenapa gue harus ketemu sama orang yang paling nggak ingin gue temui?
Gue lirik manik mata hitam itu tajam. Kilaunya menyiratkan rasa empati. Cih. Gue nggak suka dikasihani.
"Ngapain lo?" hentak gue dingin. Nggak ada ampun buat orang satu ini.
Orang itu diam saja tak bergeming. Matanya tidak berani membalas tatapan tajam dari mata gue. Ha. Pengecut.
"Makanya," cetus gue dengan segala kebencian yang ada di hati gue, "lain kali mikir dulu kalau mau ngomong sama gue. Jangan sampai lo buang-buang waktu gue yang mahal ini cuma buat merhatiin lo berlagak bisu," hujat gue lalu berbalik pergi. Tapi gerakan gue berhenti karena tangan gue ditahan.
'Orang ini… Grrr…'
Rasanya gue bisa meledak kapan saja.
Gue sudah hampir berbalik. Tapi niat gue buat membentak si anjing kampung itu dengan sekuat tenaga kandas waktu telapak tangan gue merasakan benda yang lembut dan kering. Waktu gue bener-bener berbalik, yang gue lihat adalah punggung Yasha yang bergerak menjauh,
juga selembar pakaian di tangan ini.
Kemeja kering.
.
.
…
"KYAAAA!So sweeet~"
.
.
.
Meskipun gue amat sangat terlalu enggan, akhirnya gue pakai juga kemeja yang tadi dikasih si Anu. Huh, males banget sebut namanya. Toh tanpa gue ucapkan pun nama itu sudah mengisi penuh kepala gue. Bukan karena gue kepikiran si Anu itu, tapi karena daritadi yang diomongin komplotan tiga cewek menyebalkan ini ya nama itu melulu.
"Jadi, begitu ceritanya!"
"Benarkah itu, Kagome-chan? Wah, selamat, ya!"
Selamat, ya, Kagome-chan, kau menjadi orang paling sial hari ini.Cih!
"Jadi, kapan mau ngucapin terima kasih?" cecar si kutu satu bernama Yuka itu. Genggaman tangan sudah terkepal erat, siap dilayangkan ke hidungnya kapan saja. Biar tambah pesek nih bocah!
...
Rasanya hari ini gue bagaikan pembunuh berdarah dingin tak berbelas kasihan. Biarin. Lagian, ini anak juga… Sudah tau gue benci mati sama si Anu, masih cari-cari celah terus.
"Kapan, kapaaan?"
"Lo tahu jawabannya. Gue nggak bakal berterima kasih karena gue nggak minta tolong," tegas gue tajam. Si penanya yang gue tatap dengan sinis itu menutup mulutnya dengan tangan seakan-akan jawaban itu adalah suatu mantra pencabut nyawa atau gimana.
"Hiks… Teganya dirimu, Kagome. Padahal dia sudah begitu baik…"
Ah. Norak banget. Gue jadi tergoda nempileng.
Tiba-tiba Eri berseru, "ah! Panjang umur!"
Sebelum gue sadar, orang itu sudah ada di belakang, memanggil nama gue.
"Kagome,"
Dari nadanya yang murung, gue menyimpulkan orang ini bukan mau ngajak berantem. Mungkin dia mau mengucapkan selamat tinggal, dan setelah itu bunuh diri. Oh, baguslah.
"Ada yang harus kubicarakan."
Yuka, Eri, dan Ayumi sibuk berbisik-bisik. Perlahan-lahan, ketiga perempuan usil itu menjauhiku, menyediakan privasi untuk aku dan Yash—si Anu. Kayak gue butuh privasi saja.
"Aku sibuk." Dan dengan itu gue tinggalin tempat gue berdiri secepat mungkin. Gue bisa dengar suara derap kakinya yang berusaha mengejar gue. Lari akhirnya harus dilakukan. Orang-orang di selasar sekolah menghalangi jalan, tapi gue masih bisa berkelit.
Akhirnya gue aman. Di dalam kamar mandi putri.
"Sial. Gara-gara orang aneh itu gue jadi pengecut. Ngumpet di WC kan, jadinya," erang gue di dalam bilik kamar mandi. Suasana di kamar mandi berisik. Biasa, jam istirahat seperti ini, siswi-siswi ganjen pada membetulkan make-up mereka, menebalkannya di sana sini, membuat wajah mereka tampak semakin ancur.
Tuh kan, gue jadi sinis sama semua orang. Huh.
Tuliluliiiit~
Gue yang kaget nyaris terjun ke dalam closetbegitu HP gue berbunyi.
"Huh! Nggak ada matinya tu Anjing Kampung. Masih ngotot kirim e-mail segala!" gerutu gue. Rasanya kepingin gue cemplungin sekalian benda mungil berwarna azureini.
"Hih!"
Pip.
Panas-panas begini, gue cek juga e-mail itu.
Pik.
Oh. Ternyata dari Sesshou-maru-sama-kun ganteng.
…
…
Csss…
Meleleh hati gue. Sesshou-kun memang penyelamatku. Tahu saja aku sedang marah, butuh ditenangkan.
From: Sesshou-kun
Email: sesshou_warrior xxxxx . com
To: kagomekawaii xxxxx . com
Kagome-san, kata produser hari ini jamshooting dimajukan. Kita berangkat sama-sama, ya? Aku yang jemput ;)
Sekarang aku sedang menuju sekolahmu.
-Received: 09.27 a.m.
Eh? Benarkah? Kenapa gue nggak dikabari?
Tahu-tahu, gue sadar sesuatu.
Snap.Jari gue jentikkan.
Jadi 'sesuatu' yang mau diomongin si Yasha pasti ini.
Dasar Kampung. Berlebihan banget caranya ngomong.
.
.
.
Naik mobil mewah itu sangat enak. Nyaman. Buktinya belum ada dua menit gue duduk di kursi mobil Le Mans Murchielago milik Sesshou-kun yang dikemudikannya dengan lumayan ngebut, gue sudah hampir terbang ke alam mimpi.
"Nyam-nyam…"
Sesshou-kun sepertinya menoleh ke arah gue. Tanyanya, "ada apa, Kagome-san? Kamu lapar?"
"Ah, tidak, tidak. Itu cuma kebiasaanku kalau lagi ngantuk," jelas gue tersipu-sipu. Sesshou-kun tersenyum sekilas, kemudian perhatiannya kembali tertuju ke jalanan yang ramai.
"Tidurlah. Kalau sudah sampai, aku bangunkan."
Dengan sebuah senyuman dan ucapan terima kasih, gue mengatupkan kelopak mata, beristirahat sejenak dengan hati hangat.
.
.
.
Yang membuatku terjaga kembali adalah guncangan yang begitu keras pada tubuhku.
"Ng?"
Aku tidak melihat apa pun. Ada sesuatu yang menyumpal mulutku sehingga aku tidak bisa berkata-kata. Aku juga tidak bisa bergerak.
Di mana ini? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Sudah sadar?"
Itu… Suara Sesshoumaru..?
"Bagus."
Entah bagaimana aku bisa mendengar sebuah 'senyuman' di balik suara itu.
"Tenang. Ini akansakit."
Aku mendengar Sesshoumaru tertawa sebelum rasa perih menyerang belikatku. Seakan-akan seribu duri sedang digesekkan di sana. Aku mengerang.
Semakin keras aku mengerang, semakin dalam goresan-goresan ditorehkan ke bagian-bagian tubuhku yang lain. Dan tawa mengerikan itu semakin menjadi-jadi.
SRAT!
"RRRRGH!"
Aku merasakan benda lunak berair menelusuri bahuku.
"Darahmu cukup manis."
Apa yang sedang dilakukannya?
Kali ini benda tajam itu dipukulkan kembali ke leher. Ujungnya melukai pipiku. "RR—AAAHH!" jeritku ketika tiba-tiba penutup mulutku dilepas.
"Ya, begitu. Menjeritlah. Menjeritlah untukku. Akan kubuat kematianmu terlihat bagus."
Dia gila! Entah yang bicara ini Sesshoumaru atau bukan, dia sudah gila!
Aku menggelepar. Sekujur badanku basah. Lengket. Berdarah. Cairan lain meleleh membasahi pipiku. Tangis. Kenapa dia memperlakukanku seperti ini? Apa aku pernah bersalah padanya? Pernahkah aku menyakiti Rin, atau Jaken? Apa aku telah melakukan sesuatu yang membuat siluman ini marah?
"Ah, Sayang, jangan sia-siakan tangismu untuk hal seperti ini. Dunia itu kejam, Manis. Percuma meratapi kebengisannya. Lebih baik kau menangisi dirimu sendiri, atau orang yang sangat mencintaimu itu. Sebab pada hari ini, minimal satu dari kalian akan mati."
O-orang yang sangat mencintaiku? Inu… Yasha…?
CTAR!
Satu lagi cambukan, kali ini di bagian punggung. Kesadaran perlahan meninggalkan raga ini.
"Inuyasha… Selamatkan aku…"
TBC
Maafkan saia yang update terlalu lama. Fiction ini sempat buntu di tengah jalan, dan hampir aja discontinued. Maafkan ketidakbertanggungjawaban saia ini. Terima kasih banyak untuk dukungan semuanya.
Yosh! Saia berkomitmen untuk menamatkan cerita ini. Chapter depan adalah chapter finalnya. Jadi, karena tinggal satu, mohon anda bersabar sedikit lagi ^^
Terima kasih banyak bagi yang udah nungguin T_T Terima kasih banyaaak banget buat yang sudah menyempatkan baca. Dan super terima kasih banyaaaaak bagi yang mau nungguin, baca, dan review.
Sampai jumpa chapter depan, minna m(_ _)m
