Ini namanya 'ending dadakan'. Penyelesaian semua yang ada di chapter awal langsung di 1 chapter terakhir. Baru kali ini nih rasanya saia bikin yang begini =="

Oh iya. Yang saia heran, nggak ada 1 pun reader yang mempertanyakan, kenapa Kagome menggunakan kata gue dan aku dalam POV-nya. Yah, setelah saia ngomong ini, pasti reader baru bertanya2 (atau baru nyadar, malah), iya kan? Penjelasannya ada di chapter ini. Hehehe…

Terima kasih banyak, ya, minna. Saia senang bisa bikin cerita di Inuyasha. Terima kasih atas penerimaan kalian yang begitu hangat ^^ Makasih karena udah sudi baca. Makasih banget kepada para reviewer yang memberikan semangat bagi saia sehingga cerita ini bener2 bisa tamat TT_TT Domo arigatou gozaimasu m(_ _)m

Yosh, dozo! ^^


"APAAA? Kagome-chan dalam bahaya?"

Suara melengking perempuan bergaung di koridor yang sepi. Hanya ada empat siswa di lorong itu. Keempatnya berlari.

"Kamu bercanda, kan, Yasha?" tanya Eri. Dia terlihat begitu khawatir, tak seperti biasanya. "Maksudku, siapa, sih, yang sudi berurusan dengan cewek paling judes di seluruh Jepang?"

… Nih anak… di saat seperti ini bisa-bisanya menghina.

Berbeda dari Eri, Yuka kelihatan tenang sekali. Padahal biasanya kan dia yang paling heboh.

Waduh. Ini baru namanya pertanda buruk.

"Ini bukan lelucon, nona-nona. Ini bisa jadi berbahaya," tandas satu-satunya pemuda di antara gerombolan itu. Sambil berkata demikian, cowok bermata lebar itu memperlebar langkahnya. Sementara ketiga perempuan bersikeras mengikutinya.

"Kalau benar berbahaya, kami bertiga tidak boleh tidak ikut," Eri menekankan dengan serius. Yuka dan Ayumi mengangguk mantap.

"Kagome-chan teman kami. Kami tidak bisa angkat tangan dari masalah yang mengancam keselamatannya begitu saja."

"Ayumi-chan… Aku terharu," tutur Yuka.

Eri menggenggam tangan kedua temannya. "Ayumi-chan benar. Kita tidak akan mundur!" tegasnya.

Yasha berkeras, "kalian memang teman-teman yang baik. Tapi aku tidak bisa membiarkan wanita terlibat dalam urusan kotor macam ini. Dalang di balik semua ini adalah seorang kriminal buas. Kalian membahayakan diri kalian sendiri dengan ikut campur," jelasnya, kali ini benar-benar serius. Yuka, Eri, dan Ayumi pun bungkam lantaran melihat ekspresi marah bercampur takut di wajah mantan kekasih Kagome itu.

"Ini… benar-benar serius, ya." Nada penyesalan terdengar saat Ayumi berkata demikian. Pemuda itu mengangguk.

"Tapi kami ingin membantu."

"Kalian bisa membantu dengan menjaga hal ini tetap rahasia. Jangan biarkan siapapun terlibat, atau tahu masalah ini. Mengerti?"

Akhirnya ketiga sahabat itu menyerah. Yasha pun berlari pergi secepat yang ia bisa, lalu menghilang di ujung koridor.


ME, I, MY, and MINE

CHAPTER 4: PLEASE BE MINE!


Grtk… Grtk…

Hanya suara tulang yang berderak yang mengisi keheningan dalam lorong depan perpustakaan pagi itu. Sesaat kemudian kesunyian pecah menjadi raungan penuh amarah, disusul bunyi 'ssst' keras dari dalam perpustakaan.

"GRAAAAH! Dia itu mau membodohi kita atau gimana, sih?" celetuk Yuka. Bunyi tulang pasti berasal dari tangannya yang terkepal kuat itu.

"Membodohi?"

"'Kalian bisa membantu dengan menjaga hal ini tetap rahasia.' Itu kan sama saja nggak melakukan apa-apa alias sama sekali nggak membantu."

"Ah! Benar juga!" teriak Eri setuju. "Yasha memang berniat menyingkirkan kita! Argh! Licik!"

"Jadi bagaimana?" tanya Ayumi pasrah beberapa saat kemudian. Yuka sudah siap dengan jawabannya.

Set!

"Taraaa~"

Dikeluarkannya satu set perlengkapan pengambilan gambar, mulai dari handycam, tripod, payung hitam penangkal cahaya matahari, sampai lighting sederhana.

"Kita akan menguntit!"

… Super sekali…

Yasha, bersiaplah. Sebab kerecokan menantimu.

.

.

.

"Hm… Apa sebaiknya kau kugantung terbalik saja, hm?" Kata-kata itu bernada seduktif ketika diucapkan. Seduktif dan mematikan.

"Ah jangan. Nanti kamu keburu mati sebelum penyelamatmu datang," lanjut penuturnya sembari terkekeh pada dirinya sendiri.

Sesshou memperhatikan lajur-lajur darah pada tubuh gadis muda itu. Sebuah seringai menakutkan terbentuk di wajahnya yang tampan. Dia menyukainya.

Tes… Tes… Tes…

Darah segar berwarna merah tua terus menetes turun melalui pangkuan sang gadis. Pakaiannya yang terkoyak-koyak ternoda merah tuanya cairan kental itu. Pembantaian mengerikan di depan mata Sesshou baginya adalah suatu keindahan. Karena ini akan menghancurkan musuhnya, selamanya.

Kagome diam membisu. Suaranya sudah habis untuk meneriakkan nama yang tak kunjung datang. Air matanya sudah kering karena menangisi harapan kosong. Hidupnya tidak akan sepanjang yang dia kira. Mungkin beberapa jam kedepan adalah saat terakhirnya di dunia ini.

'Kenapa? Apa salahku?'

"Mencintai Yasha adalah kesalahan besar, Kagome-san. Kau menjadi celah terbuka untuk menghancurkannya."

"Kenapa…" rintih sang perempuan, "kenapa kau begitu membenci adikmu sendiri?"

Sedetik Sesshou diam. Lalu terbahak-bahak.

"Yasha? Adikku? HHAHAHAHAA!"

'Perempuan ini benar-benar terganggu jiwanya,' batin si pemuda dalam hati. 'Menarik.'

"Yah, dulu dia memang seperti adik bagiku. Dulu sekali. Sekarang, dia adalah bangsat pengkhianat. Dialah yang mengambil Tessaiga, ingat?" lanjut Sesshou bermain-main. Ia sengaja menggabungkan kehidupan nyata dengan cerita film yang dimainkannya tersebut.

Tak sampai semenit setelah perkataan terakhir Sesshou, terdengar deru mesin mobil dari arah luar. Deru itu semakin keras. Dan…

BRAAAAK!

Pintu gerbang gudang bawah tanah itu terbuka, dan mobil berwarna merah itu masuk. Sosok Yasha keluar dari dalamnya tak lama kemudian.

Terperanjatlah pemuda itu melihat keadaan Kagome. Gadis itu merintih miris, namun kelegaan yang besar terdengar dalam suaranya.

"Inuyasha… Kaukah itu?"

"BRENGSEK KAU SESSHOU! LEPASKAN DIA!" teriak Yasha marah luar biasa. Yasha menunjukkan sebilah pedang tua dari zaman Edo; 'Tessaiga', properti film yang sengaja dibawanya.

"Hm… Baik sekali kau membawakan pedang itu padaku, adik kecilku," ujar Sesshou dengan nada menghina. Ia lantas mengeluarkan sebilah belati dan mendekatkannya ke leher Kagome. Terangnya, "harusnya kau tidak perlu repot-repot. Ini saja sudah cukup, kok."

"Kubilang lepaskan dia! Urusanmu hanya denganku!"

"Makanya aku melibatkan gadis ini juga, tolol," balas Sesshou dengan tenang. "Cara paling ampuh menghancurkan seseorang adalah melalui hatinya. Menurutmu, kata-kata itu hanya bualan, bukan? Mari kita buktikan."

"Sebenarnya apa maumu?"

Tawa licik penuh kemenangan mengambang di udara. Atmosfir menjadi amat pekat akan ketegangan setelah tawa menakutkan itu berhenti.

"Mauku? Hanya satu. Melihatmu hancur," desis Sesshou penuh penekanan. "Penderitaan gadis ini adalah bonus kecil bagiku."

"Kau sudah kehilangan kewarasan!"

"Oh temanku, manusia tidak akan bertahan hanya dengan kewarasan saja. Untuk bertahan, manusia harus kuat. Bagaimana mungkin kau bisa kuat… Kalau punya kelemahan?"

SRAT!

Kagome mengerang lemah ketika ujung belati menggores bagian belakang telinganya.

"HENTIKAN ITU!" jerit Yasha, separuh marah, separuh memohon.

"Khukhukhukhu… Kau tidak mungkin selamat dari dunia yang bengis ini, Sobat. Kau lemah," putus Sesshou puas. "Orang lemah sepertimu mudah sekali dihancurkan—"

"—Aku mohon."

Pria yang menyandera Kagome sedikit terkejut saat ia mendapati Yasha berlutut di hadapannya.

"Aku mohon dengan sangat. Lepaskan Kagome." Yasha sujud dengan kepalanya menyentuh tanah. Tubuhnya bergetar. Harga dirinya terluka. Memohon-mohon pada orang yang dibenci—terlebih lagi orang itu juga sangat membencinya—sama sekali bukan hal mudah.

"Perlakukan aku semaumu. Tapi lepaskan Kagome."

Sisa-sisa air mata Kagome menetes menuruni pipinya.

"Inuyasha…" panggilnya.

"Kau dengar itu? Dia memanggilmu Inuyasha. Apapun yang kaulakukan, Kagome tidak akan pernah kembali padamu. Dia hanya mencintai Inuyasha, dan selamanya dia akan membenci dirimu yang sesungguhnya. Ya, dia akan terus membencimu, Yasha. Betapa menyedihkan. Padahal keduanya adalah orang yang sama."

Pemuda itu masih sujud di sana. Hatinya memberontak.

"Aku memang pandai, bukan? Sengaja menawarkan sesuatu yang akan merusak hubungan kalian berdua. Kau berharap dengan menjauhi Kagome, kau bisa menyelamatkannya. Namun ternyata gadis itu terlalu mencintaimu. Akhirnya kaubuat dia benci padamu dengan bermain perempuan di depan matanya. Bukan hanya membencimu, Kagome jadi membenci dirinya sendiri juga karena dia pikir cintanya yang tulus tidak cukup membuatmu balas mencintainya," Sesshou mengulang kembali masa lalu Yasha dengan bersemangat, seakan-akan kewarasan memang sudah benar-benar meninggalkanya. "Kau tahu dia menderita, tapi tetap kaulanjutkan juga perselingkuhanmu itu, kan? Menurutmu, siapa yang lebih kejam, aku atau dirimu sendiri?"

"Kau yang memaksaku melakukan itu semua…" desis Yasha geram. "Kau yang mengancam akan mengusik hidup Kagome."

"Sakit hatinya yang dalam membuat gadis naïf ini membelah kepribadian sendiri secara tak sadar. Lalu, terciptalah Kagome baru dengan kepribadian ganda. Kagome yang kasar di kehidupan nyata, dan Kagome yang manis di film itu. Ingat, siapa yang membuatnya sakit hati? Jadi, sebenarnya siapa yang membuat gadis ini jadi seperti ini? Aku… atau kau yang sok-sokan jadi pahlawan?"

Kagome mendengarkan keseluruhan percakapan itu dengan hati tak menentu. Benarkah ia memiliki dua kepribadian? Ia berusaha mengingat-ingat hidup yang telah dijalaninya selama ini.

Dia hanya gadis biasa. Dia pergi ke sekolah, berteman, dan melakukan aktivitas gadis usia SMP pada umumnya. Hidupnya mulai berubah ketika ia jatuh di sumur tua itu. Untuk pertama kalinya Kagome berada di dunia yang bukan dunianya. Untuk pertama Kagome menghirup udara segar dari masa yang berbeda. Untuk pertama ia bertemu pemuda berambut putih itu, tertidur seakan tak akan bangun di pohon tepat di depan hidungnya.

Namun bayangan lain menyusup dalam ingatannya. Ia bersama teman-temannya pergi ke bioskop. Ketiga temannya itu perempuan. Nama mereka… Kagome tidak bisa mengingat nama mereka… Tapi Kagome ingat apa yang ia tonton.

Film berjudul Inuyasha the Movie I.

"Ugh… A-aku menonton diriku sendiri… Apa aku ini aktris? Apakah jatuh di sumur pemakan tulang adalah bagian dari aktingku? Apakah Inuyasha itu bagian dari film? Ugh… Sebenarnya aku ini… siapa? Kagome itu… siapa?"

"—dahlah. Aku mulai bosan. Langsung saja. Aku punya dua pilihan. Dengarkan baik-baik." Sesshou yang tahu-tahu sudah berada di samping Yasha menjambak rambut hitam pemuda itu kuat-kuat. Ia pun mengarahkan pandangan Yasha ke arah Kagome.

"Pilihan pertama, gadis ini akan menggigit sebuah tali berpemberat yang sudah kusiapkan. Tali itu berhubungan tali lain yang dihubungkan ke pelatuk pistol. Pistol itu akan ditempatkan tepat di samping pelipismu. Selanjutnya… kau sudah tahu, kan? Tinggal tergantung seberapa banyak sisa tenaga gadis itu. Tapi setidaknya dengan begitu kau akan punya cukup waktu untuk mengatakan sesuatu padanya," dengan entengnya ia melanjutkan.

"Pilihan kedua lebih ringan. Aku akan membunuh kalian berdua bersamaan. Jangan melihatku dengan tatapan itu. Setidaknya kau tidak mati dibunuh orang yang kaucintai. Cukup adil, kan?"

Tubuh Yasha menggigil ketika mengatakan ini, "kalau aku pilih yang pertama, akan kauapakan Kagome setelah aku mati?"

Sesshou berdecak, seolah benar-benar terkesima akan antisipasi orang ini.

"Yah, itu terserah padaku. Hm… Aku buat saja dia jadi gila. Tidak sesulit itu, kok, untuk membuat seorang perawan gila. Khukhukhu…"

Amarah Yasha meledak lagi. "Kau… Bajingan!" serunya.

Dengan lembut Sesshou menyentuh bibir Yasha. "Sssssh… Aku tidak punya banyak waktu. Kalau kau tak bisa putuskan sendiri, aku yang akan memutuskannya untukmu."

Meskipun kebencian Yasha terhadap orang ini sebesar alam semesta, ia tidak bisa melakukan hal lain selain memilih. Meski sebenarnya kedua pilihan tersebut tak ada bedanya.

"Tidak bisakah kita melupakan semua ini saja?" tawarnya memelas. Yasha benar-benar membuang harga dirinya jauh-jauh.

"Melupakan begitu saja? Hahaha! Itu lelucon paling lucu yang pernah kudengar! Setelah semua yang kaulakukan terhadapku, kau memintaku 'melupakan semua ini saja'? Hahahahaa! Kau benar-benar pelawak yang menghibur, Sobat."

"Apa yang sudah kulakukan?"

JDUAK!

Kepala Yasha dibenturkan ke lantai.

"Sudah, pilih saja. Dasar anak setan tak tahu diuntung," perintah Sesshou dikuasai dendam.

"Kalau aku memang bersalah, aku berjanji akan menebusnya. Akan kulaukan apapun yang kauperintahkan. Bahkan menjadi budakmu selamanya pun aku sudi. Hanya saja, tolong, hentikan semua ini."

Sesshou sekarang berjalan menuju Kagome, dan mencakar luka-luka Kagome. Yasha tidak bisa melakukan apa-apa selain melihat perempuan itu menjerit sia-sia. Masih belum selesai, Sesshou mencabut lagi belatinya yang telah ternoda darah.

"Kau kira aku bercanda? Setelah sekian lama mengenalku, kau masih belum tahu tabiatku? Aku tidak mengulang ancamanku dua kali. Dan aku bersungguh-sungguh atas segala yang aku katakan!"

"KENAPA KAU MELAKUKAN INI?"

"MEMANGNYA KALAU KUJELASKAN KAU AKAN MENGERTI? MANUSIA BEBAL MACAMMU TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI!" teriak si pemuda bermata tajam.

Tiga orang. Satu terluka parah. Satu kehilangan harga diri. Satu tersengal-sengal disulut api dengki.

"Sejak kau diangkat anak, ayah dan ibu hanya memperhatikanmu! Sejak kau meraih semua prestasi gemilang, mata guru-guru hanya tertuju padamu! Teman-temanku pun kau rebut semuanya! Kau tidak menyisakan apa-apa untukku selain penolakan! KAU ITU MASALAH! ENYAHLAH DARI DUNIA INI!" hentak Sesshou. Belatinya nyaris dilempar ke arah Yasha. Tapi dia tak jadi melakukannya.

Sesshou baru bisa menguasai diri setelah tiga menit berlalu. Dia mulai dengan tawa licik itu lagi.

"Kalau aku bertindak sendiri permainan ini jadi tidak seru. Sudah-sudah. Ayo kita lanjutkan. Sampai di mana tadi? Ah, ya. Yasha harus memilih bagaimana dia mati," lanjutnya seakan yang tadi tidak pernah terjadi. "Jadi, sudah menentukan pilihanmu?"

Tidak ada jawaban.

"Begitu, ya. Kelihatannya memang harus aku yang menentukan," gumamnya pura-pura kecewa seraya mengangkat belati itu tinggi. Orang itu akan mencabut nyawa Kagome!

"Tunggu!" sentak Yasha tiba-tiba. "Pilihan pertama."

.

.

Tali-tali mengelilingi ruangan sedemikian rupa. Ujungnya kini berada di tangan Sesshou. Beban seberat dua puluh kilogram ditahannya. Sebentar lagi ia akan menyerahkan itu pada Kagome.

Perlahan Sesshou membuka penutup mata Kagome.

"Inuyasha!"

Kagome kaget. Itu bukan Inuyasha. Ke mana rambut panjangnya? Dan kenapa dia mengenakan pakaian itu? Pergumulan batin kembali menguasai pikirannya.

"Lihat baik-baik wajahnya. Ini adalah kenangan terakhirmu tentang dirinya," titah Sesshou. Ia bersiap meletakkan tali berpemberat itu di antara gigi-gigi Kagome yang bergemeletuk.

Yasha hanya diam berlutut. Ia tak tahu kalau yang dimaksud Sesshou dengan pistol adalah Elephant gun tua. Ini berarti, begitu pelatuknya ditarik, kepala Yasha akan langsung hancur.

Kalau Sesshou ingin Kagome jadi gila setelah ia mati, Sesshou tak perlu melakukan apa-apa lagi.

"Ada pesan terakhir?"

Dengan perasaan bercampur aduk Yasha menatap lekat-lekat wajah Kagome. Sesshou sengaja meluputkan wajah Kagome dari serangan-serangan brutalnya. Mungkin untuk ini. Untuk mengingatkan Yasha kembali akan betapa rindunya ia menatap wajah itu. Wajah yang selalu dipalingkan daripadanya sejak mereka putus hubungan.

"Kagome, maafkan aku."

Sesshou menunggu.

"Hanya itu?" tanyanya pura-pura kecewa. Ia pun mengendikkan bahu tak peduli. "Terserah." Lalu diserahkannya tali itu pada Kagome.

Yasha melihat gadis itu tak memiliki cukup waktu untuk bertanya. Tapi ia menggigit tali itu sekuat tenaga. Tenaganya tidak banyak lagi. Yasha tahu waktunya lebih singkat dari yang dia kira. Tapi dia tidak menyesal, karena apa yang penting sudah terucap.

"Selamat tinggal, Kagome."

"Tidak akan!"

Semua terjadi sangat cepat.

Tiga sosok keluar dari dalam mobil.

Seterusnya, bunyi-bunyi pukulan terdengar. Erangan frustrasi menyusul.

Yasha masih sempat melihat Sesshou mengayun-ayunkan belati di tangannya, menghalau gangguan yang tak pernah dia antisipasi.

Lalu…

DAR!

Dan semuanya gelap.

.

.

"Apa Kagome memaafkanku?"

.

.

"Mana aku tahu. Tanya sendiri, dong. Dia tepat di sampingmu, tuh."

.

.

Yasha tersadar di sebuah ruangan serba putih. Kamarnya serba putih. Apa dia berada di kamarnya? Berarti semua itu hanya mimpi? Mimpi buruk?

Tidak.

Bau obat. Pasti rumah sakit.

"Ah!" Kepalanya langsung berdenyut nyeri ketika ia memaksakan diri untuk duduk.

"Cepat juga sadarnya. Jangan-jangan dia ini beneran setengah siluman," suara melengking yang dikenalinya sebagai suara Eri menyerbu indera pendengarannya.

Ternyata benar, Yasha berada di rumah sakit. Tiga teman Kagome-lah yang menungguinya sampai ia sadar.

"Apa yang terjadi?" tanyanya bingung.

"Apa kamu akan percaya kalau tiga orang cerewet ini menyelamatkanmu dari kematian?"

Yasha pun dijejali cerita heboh oleh Yuka dan Eri. Kedua teman Kagome itu dengan bersemangat mengisahkan kehebatan diri mereka dalam upaya penyelamatan teman-temannya.

"Tentu saja kami nggak akan menyerah semudah itu. Mana mau aku melewatkan adegan penyelamatan Inuyasha-Kagome yang live seperti itu?" cerita Yuka overantusias. Eri mengangguk-angguk tak kalah semangat.

"Kalau kita rekam terus jual, kan, lumayan untung."

"Jadi kami menyusup,"

"Ke dalam bagasi mobilmu,"

"Tapi nggak muat, jadi kita pindah ke kursi penumpang,"

"Saat kamu lengah."

"Ternyata kamu cukup bodoh sampai-sampai nggak menyadari keberadaan kami. Padahal kami ini kan orangnya cukup berisik."

"Bukan bodoh, Yuka. Yasha hanya terlalu mengkhawatirkan Kagome sampai nggak ada hal lain yang diperhatikannya."

Cerita Yuka dan Eri bergantian.

"Aw~ So sweet…" desah kedua gadis itu. Yasha sweatdrop.

"Kami ketakutan waktu tahu Kagome disiksa sampai segitunya. Kami tidak percaya ternyata hal ini benar-benar serius," Ayumi mengambil alih. "Kami menyesal menyepelekan peringatanmu, Yasha-kun," akunya merasa bersalah.

"Jangan begitu, Ayumi. Kalau kita nggak ada di sana orang ini nggak mungkin ada di sini sekarang. Dan Inuyasha bakalan discontinued. Oh nooooo!" lagi-lagi Yuka ngomong seenak udel.

"Pokoknya, meski ngeri, kami menunggu saat yang tepat," kata Eri lagi.

"Sebenarnya kami takut keluar waktu itu," bisik Ayumi jujur. Yasha mengangguk-angguk paham.

"Akhirnya datang! Di saat terakhir aku keluar dari persembunyian dan mengeluarkan jurus maut warisan leluhurku. Jurus Bangau Menusuk Ketek. HIYAAAAAT! CIAAAK!"

Bisik Ayumi lagi, "sebenarnya aku yang menendangnya keluar." Yasha kembali mengangguk-angguk. Kali ini penuh rasa terima kasih.

"Terus, ya, gitu deh. Si psikopat itu berusaha menyerangku, tapi WAITZ! HEYAAAAK! CIAT CIAT CIAAAT! WATAAAAW! Aku membendung semua serangannya."

"Dia menyerang pakai tripod, sih. Bahkan Sesshou sekalipun nggak akan punya banyak peluang untuk menang melawan preman SMP ini."

"Yah, terus… Lihat sendiri aja, deh. Semuanya sudah terekam handycam Yuka," kata Eri akhirnya, kecapekan.

Yasha menonton rekaman itu. Dan betapa terkejutnya ia melihat adegan terakhir. Berusaha membalas serangan Eri, Sesshou tak sengaja menebas tali itu tepat ketika ia berada di samping senapan.

Dan itulah akhir dari pendengki irasional itu. Sepertinya.

Yasha menyentuh pelipisnya. Sesuai dengan apa yang dia lihat, pelipisnya terserempet peluru itu. Untunglah peluru itu tidak sampai masuk kepalanya.

"Kita tidak akan ditahan karena ini, kan? Bukan kita pembunuhnya, maksudku, Sesshou dianggap bunuh diri, benar kan?" tanya Ayumi khawatir.

Yuka juga jadi was-was. "Aku tidak mau dipenjara! Tidak ada TV di penjara! Aku bakalan ketinggalan Inuyasha!" Gadis ini… Apa nggak ada hal lain yang bisa dia perhatikan selain film itu?

"Kalian nggak seharusnya khawatir seperti aku. Kan aku yang menyerangnya," sekarang Eri ikutan ketakutan.

Akhirnya, Yasha, untuk pertama kalinya hari itu, nyengir.

"Kalian tidak bersalah. Kalau polisi menanyai kalian, jelaskan situasinya dan tunjukkan video itu."

Ketiga gadis itu membuang nafas lega, lalu tertawa lepas.

"Nah, sekarang apa yang akan kaulakukan, Yasha?" tanya Yuka. Antusiasmenya kembali menyala-nyala. Yuka melirik-lirik tempat tidur di sebelah kanan Yasha, tempat seorang gadis sedang berbaring. Perban melilit hampir seluruh tubuhnya.

"Kagome!"

Bisik Yuka, "ternyata dia masih mengenalinya. Padahal sudah mirip mumi begitu." Ayumi menyikut perutnya segera.

Yasha segera turun dari tempat tidurnya sendiri demi menghampiri Kagome. Kagome tergolek tak berdaya di sana bagai boneka. Yasha membenci pemandangan itu.

"Kagome…"

Disentuh dan diangkatnya tangan Kagome, digenggamnya dengan hati-hati.

"Aduh," terdengar sebuah suara.

"Heh?"

"Bodoh. Sakit, tahu."

Tiba-tiba Kagome menarik tangannya yang diperban dari genggaman Yasha. Wajahnya tetap menatap ke sisi yang lain.

"Kagome, kau sudah sadar?"

Kagome tidak menjawab. Ia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kebenaran keterlibatan Sesshou dalam 'perselingkuhan' yang dilakukan Yasha.

"Itu benar," aku Yasha.

"Kenapa nggak bilang?" tuntut Kagome.

Yasha menjawab pelan, "Sesshou itu berbahaya. Bisa-bisa kau dilukainya."

"Oh, dia SUDAH melakukannya!" Wajah Kagome berpaling pada Yasha. Kemarahan membara dari matanya.

"Maaf. Memang salahku," ratap pemuda itu. Penyesalan menyesakkan dadanya.

Mengatasi suasana yang semakin dingin, Ayumi bertindak.

"Tidak adil kalau kau menyalahkan Yasha-kun, Kagome-chan. Yasha-kun tidak punya pilihan. Kamu harus ingat juga, bahwa dia melakukan itu demi dirimu," ceramah Ayumi. Perkataannya sukses membuat Kagome terdiam.

"Ayumi benar. Ini semua terjadi karena memang harus terjadi. Tidak ada banyak pilihan kalau berhadapan dengan si sinting itu," Yuka mendukung. "Kamu selamat, itu yang penting."

"Dan yang jelas kamu selamat, selain karena aku, juga karena Yasha," tambah Eri.

Kagome merenung. Kemarahan masih terlukis pada mimik wajahnya.

"Kamu masih belum sadar juga, Kagome-chan? Yasha-kun itu…"

"Sudahlah, Ayumi-san. Kagome butuh istirahat," putus sang pemuda. Ia beranjak ke tempat tidurnya sendiri, lalu memejamkan mata. "Oh iya, kalau tidak keberatan, aku juga butuh istirahat," tambahnya.

Mau tak mau Yuka, Eri, dan Ayumi meninggalkan kamar itu.

Tinggallah Yasha dan Kagome berdua dalam kesenyapan.

Beberapa saat kemudian, hanya hembusan nafas Yasha yang tenang yang terdengar. Hembusan itu… menenangkan hati Kagome. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak menghabiskan waktu berdua saja. Tanpa Kagome sadari, sebenarnya ia merasa nyaman berduaan dengan sang pemuda.

Tak lama kemudian Kagome memulai lagi.

"Jelaskan padaku semuanya."

"Hm?" samar-samar Yasha menanggapi. Sepertinya dia hampir terbang ke alam mimpi. "Masalahku dengan Sesshou? Nanti kujelaskan. Sekarang tidurlah…"

"Bukan itu," sela Kagome. "Jelaskan apa yang dikatakan Ayumi."

"… Hm?"

"Yang mau dikatakan Ayumi tadi… dia bilang aku masih belum sadar. 'Yasha-kun itu…'"

"Hmh…"

"Apa kelanjutannya?"

Dengkuran halus pun terdengar. Kagome sebal.

"Yasha!"

"Hmmm—Ya?"

"Apa lanjutannya? Apa yang belum aku mengerti?"

"Kurasa itu sudah jelas."

"Apa?" cecar Kagome pantang menyerah.

"Kau sudah mengerti…"

Sekarang Kagome jadi capek sendiri. Yasha benar-benar terlalu berbelit-belit.

"Mengerti apa?" Ia memperhatikan perut laki-laki itu turun naik seiring nafasnya. 'Sialan nih. Gue ditinggal tidur. Ah bodo amat lah.'

Kagome baru saja akan menyerah ketika ia mendengar pemuda itu berbisik lembut dalam tidurnya.

"Aku… mencintaimu, Kagome…"

Mata Kagome melebar. Dia tidak pernah menduga 'si Anu' satu ini akan mengatakannya.

"Jadilah milikku… sekali lagi."

Dan pemuda itu benar-benar jatuh tertidur. Kagome tidak membangunkannya lagi. Bukan karena malas atau apa.

"Dasar nekat," gumamnya sebelum menarik selimut menutupi wajahnya. Di balik selimut itu sebuah lengkung yang samar-samar menghiasi wajahnya.

END


Special thanks to: para reviewer

Reiya Sumeragi

Namikaze ArdhyaMouri

Hyuuga Kimichi

Anezakibeech

Hoshi no Nimarmine

Amayamidori

Recolzer

chiusa akefumi

Seo Shin Young

dan... Rumiko Takahashi yang sudah menciptakan Inuyasha.

Sampai jumpa lagi di cerita selanjutnya. Ja mata~ ^^