Title : He's Gone (Chapter 5)
Pairing : Yesung dan Ryeowook
Genre : YAOI (Boys Love), Sad Romance (?)
Summary : "Aku tidak bisa diam disini tanpa melakukan apapun untukmu"
Author : Anak YeWook
Warning : Penulisan kata banyak yang salah, mohon dimaafkan. Authornya Abal, Ceritanya jadi Gak Jelas.
Disclaimer : Yesung milik Ryeowook. Ryeowook milik Yesung. YeWook saling memiliki… GAK BOLEH BUAT YANG LAIN! *hahaha
LINK Chapter sebelumnya :
_Kyuhyun POV_
Ku lihat Wookie terduduk dilantai dan bersandar didinding, air matanya tidak berhenti mengalir sejak tadi, tangannya menggenggam ponsel Yesung, baru saja dia menelpon manager Yesung. Aku yang sedari tadi berdiri didepan pintu UGD ikut duduk disampingnya.
"Kyu, hiks.. Yesung hyung hiks… tidak apa-apakan?". Ku raih badannya untuk masuk kepelukkanku. "Kau tenang saja. Dia hanya pingsan, tidak akan terjadi apa-apa", tubuhnya bergetar didalam pelukanku, bagaimana supaya membuatnya berhenti menangis?.
"Wookie… percayalah padaku. Semuaya akan baik-baik saja",
"Kalau Yesung hyung tidak apa-apa. Kenapa Dokter tidak juga keluar?". Benar kata Wookie, kenapa Dokter tidak juga keluar, kalau memang tidak terjadi apa-apa, Dokter pasti sudah keluar. Sekarang sudah hampir 1 jam. Tapi pintu itu masih belum terbuka juga.
"Dimana Yesung sekarang?", Wookie melepaskan pelukanku, dan secara bersamaan kami pun berdiri. ku rasa yang datang itu manager Yesung. "masih diperiksa…", Wookie menjawab dengan pelan.
"Bagaimana ceritanya Yesung sampai dibawa kerumah sakit?",
"Dia tiba-tiba pingsan saat di toilet…"
"Kau siapa?"
"Kyuhyun imnida. Aku teman Wookie".
_Kyuhyun POV END_
_Author POV_
Pintu ruang UGD terbuka, ketiga orang yang sudah menunggu dari tadi pun langsung mendekati Dokter.
"Dokter, bagaimana keadaan Yesung hyung?", ryeowook menyatukan kedua telapak tangannya dan menggenggamnya dengan erat, berharap tidak terjadi hal yang buruk dengan –kekasihnya.
"Apa kalian adalah keluarga Yesung-ssi? Ada yang ingin saya bicarakan…", ryeowook tertunduk kecewa karna dokter tak menjawab pertanyaannya. "Disini tidak ada keluarga dari Yesung-ssi. Tapi aku managernya, Dokter bisa membicarakannya dengan saya".
"Baiklah, kalau begitu. Anda ikut keruangan saya", manager yesung mengikuti Dokter dari belakang. Meninggalkan Ryeowook dan Kyuhyun yang masih berdiri didepan pintu UGD.
"Kyu, aku harus tau apa yang mereka bicarakan!".
"Tidak usah. Manager Yesung pasti tidak mengijinkannya". Kemudian seorang suster keluar dari ruang UGD. "Suster, apa Yesung-ssi sudah bisa dijenguk?",tanya kyuhyun pada suster itu. "Silahkan, tapi dia masih belum sadar..", jawab suster itu kemudian langsung pergi.
"Sebaiknya kau melihat Yesung didalam. Aku mau ke toilet dulu…",
"baiklah…", Wookie pun masuk ke ruang UGD, menemui –kekasihnya yang masih terbaring diatas ranjang.
Sementara itu, pembicaraan serius terjadi diruang Dokter, lebih tepatnya Dokter Lee Hyukjae (Dokter Yadong) XD.
"Apa penyakitnya tambah parah Dok?", tanya manager yesung. Dokter Lee kaget karna ternyata orang yang ada dihadapannya sudah mengetahui penyakit pasiennya. "anda sudah tau tentang penyakit yang diderita Yesung-ssi?", manager yesung mengangguk pasti. "Iya Dok, beberapa hari yang lalu Yesung-ssi memeriksa kesehatannya. Tapi saya masih merahasiakannya",
"Sebaiknya anda segera memberitahunya"
"Ne Dok. Hari ini saya akan memberitahunya. Lalu bagaimana Dok, apa penyakitnya bisa disembuhkan?"
Dokter Lee menggelengkan kepalanya, manager yesung langsung lemas. "Setiap penyakit pasti ada obatnya Dok. Tolong Dok, beritahu saya. Berapa pun akan saya bayar asalkan dia tetap bisa hidup",
"Hanya ada 1 cara agar Yesung-ssi tetap bertahan hidup. Tapi, sepertinya sulit…"
"Beritahu saja Dok… Saya mohon.."
"Donor jantung"
"Do… Donor jantung? Itu mustahil Dok, mana ada orang yang mau mendonorkan jantungnya untuk orang lain. Apa benar-benar tidak ada cara lain Dok?"
"Hanya itu satu-satunya cara agar Yesung-ssi tetap bertahan hidup. Kalau anda ingin Yesung-ssi selamat, segera cari pendonor jantung sebelum kondisi jantung Yesung-ssi semakin melemah. Karna dia hanya sanggup bertahan dalam beberapa hari ini saja…"
"Mwo? Beberapa hari?"
"Ne, Maaf, saya tidak bisa membantu lebih banyak… Semoga ada keajaiban yang datang kepada Yesung-ssi".
Manager Yesung keluar ruangan dengan gontai, pikirannya kacau. Manager Yesung bingung bagaimana untuk memberitahu Yesung tentang penyakitnya.
_Author POV END_
_Ryeowook POV_
Aku mendudukkan diriku dikursi yang ada disebelah ranjang Yesung hyung. Ku genggam erat tangan kanannya yang terbebas dari selang infus. Keadaan Yesung hyung sekarang benar-benar berbeda dengan yang kulihat beberapa saat yang lalu. Wajahnya sekarang begitu pucat, tak ada senyuman terlukis dibibirnya. "hyung, Sebenarnya kau kenapa? Kalau kau sakit kenapa kau tidak pernah cerita kepadaku. Kau tidak boleh merahasiakan apapun dariku hyung"
"Dia tidak pernah merahasiakan apapun darimu Wookie-ah…", seseorang memelukku dari belakang, dan aku tau dia adalah Kyuhyun. Tapi ada apa dengannya?
"Kyu, aku tidak mengerti apa maksudmu?", aku melepas pelukan Kyuhyun dan berdiri berhadapan dengannya
"Dia…", kyuhyun menunjuk Yesung hyung dengan telunjukknya, entah kenapa aku merasa Kyuhyun mengetahui sesuatu tentang Yesung hyung. "Dia kenapa?"
"Dia…", mata kyuhyun berkaca-kaca, sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa Kyuhyun menangis?. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan Kyuhyun, jangan main-main denganku, sekarang bukan saat yang tepat…"
"Dia membutuhkan donor jantung! Kalau dia tidak mendapatkan Donor dalam waktu dekat, dia akan meninggal!", bagaikan ditusuk jarum panas, dengan refleks aku menampar Kyuhyun. Kali ini aku tidak percaya dengan kata-katanya. "Aku tau kau tidak menyukai Yesung hyung! Tapi kau tidak boleh berkata seperti itu Kyuhyun! Berani sekali kau membuat omong kosong seperti itu!", aku marah. Ya,, aku marah jika orang bicara yang tidak-tidak tentang Yesung hyung
"Seharusnya aku tidak mengatakan ini padamu wookie. Mianhae", kyuhyun kemudian pergi meninggalkanku. Penglihatan ku kabur, karna menahan cairan bening agar tidak jatuh. 'apa yang dikatakan Kyuhyun benar? Apa benar penyakit yesung hyung separah itu? Donor jantung?' aku kembali duduk dan menggenggam tangan Yesung hyung. "Yesung hyung, itu tidak benar kan?", aku menggenggam tangan Yesung hyung semakin erat, dan saat itu jugalah aku tidak bisa menahan air mataku yang sudah menumpuk. Aku benar-benar takut kehilangan Yesung hyung, aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai untuk yang kedua kalinya.
"Maaftuan, saya mau memindahkan Pasien ke ruang rawat inap", aku menghapus air mataku saat seorang suster masuk.
"Ruang rawat? Memangnya, apa penyakit yang diderita Yesung hyung sampai harus dirawat inap suster?"
"Saya tidak bisa mengatakan apapun Tuan. Maaf, sebaiknya Tuan tunggu diluar saja dulu".
_Ryeowook POV END_
_Kyuhyun POV_
Aku pergi meninggalkan Wookie yang ku tahu dia sedang marah padaku saat ini. Aku mencari tempat yang nyaman dirumah sakit ini untuk menenangkan diri, aku melihat ada bangku kosong di taman Rumah sakit ini. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera melangkah kan kakiku menuju bangku taman itu.
"Ahh…", ku dongakkan kepalaku menatap kumpulan awan putih yang bergerak perlahan mengikuti arah angin. Hari cerah seperti ini, tapi kenapa aku justru mendengar kabar yang membuat sahabatku tersakiti lagi. Tadi aku memang sengaja mendengar percakapan antara Dokter yang menangani Yesung dengan manager Yesung. Aku memang tidak suka dengan yesung, tapi bagaimanapun dia adalah kekasih sahabatku, sumber kebahagiaan sahabatku. Kalau dia meninggal, Wookie akan kehilangan orang yang dia cintai untuk yang kedua kalinya. Dan aku akan kembali melihat Wookie menangis, aku benar-benar tidak suka melihatnya menangis.
Dan ini saatnya aku untuk membuktikan kepada Wookie, kalau aku adalah sahabat yang bisa diandalkan. Aku akan mencari donor jantung buat Yesung. Aku akan mencarinya sendiri, dan kalau pada akhirnya aku tidak menemukan pendonor jantung. Aku akan memberikan bagian yang penting dihidupku untuk Yesung. Ini semua, aku lakukan agar Wookie bahagia. Aku rela melakukan apapun untuk Wookie. Aku tidak main-main dengan ucapanku…
_Kyuhyun POV_
_Author POV_
Yesung sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, dia masih belum siuman. Hari sudah mulai sore, Wookie masih setia menunggu sampai Yesung siuman.
"Kau tidak pulang?", pertanyaan manager Yesung yang baru masuk membuyarkan lamunannya yang sedang memikirkan perkataan sahabatnya tadi. "Aku ingin terus disini menemani Yesung hyung"
"Kau tidak boleh memaksakan dirimu. Kau pasti belum makan kan, sebaiknya kau pulang saja dulu. Nanti, kalau dia sadar, aku akan segera memberi tahu mu"
"Tapi…"
"Bukankah sudah ku bilang. Aku akan memberitahumu saat dia sadar. Aku berjanji, kau pulanglah…",
"Baiklah. Sebelum aku pulang, maukah kau memberitahuku apa penyakit yang diderita Yesung hyung? Aku tidak akan tenang sebelum mengetahuinya. Aku mohon beritahu aku…"
Manager Yesung jadi salah tingkah, dia bingung mau mengatakan apa pada Ryeowook. 'Kalau aku memberitahunya sekarang, bisa-bisa dia tidak mau pulang dan terus disini. Sedangkan aku hanya ingin membicarakannya dengan Yesung saja',
"manager, kenapa kau diam?"
"Bukankah aku menyuruhmu untuk pulang. Sekarang pergilah dari sini!", jawab manager yesung dengan sedikit membentak. Ryeowook yang notabene nya selalu takut dengan orang yang membentaknya langsung keluar dari ruangan itu.
Dengan berat hati, Ryeowook meninggalkan Yesung yang masih belum sadarkan diri. Ryeowook berjalan dengan langkah yang gontai, menyusuri koridor rumah sakit yang lumayan sepi.. Ryeowook seperti berjalan tidak tau arah, dia hanya melangkahkan kakinya saja, pandangannya menatap kedepan, tapi tatapannya itu kosong. Yang dipikirkannya saat ini adalah Yesung, namja yang dia cintai saat ini, namja yang baru saja ia miliki. 'Sebenarnya penyakit apa yang diderita Yesung hyung? bagaimana jika yang dikatakan Kyuhyun itu benar? Bagaimana kalau Yesung hyung benar-benar membutuhkan donor jantung?', banyak pertanyaan yang muncul dikepala Ryewook. Kedua kaki Ryeowook sudah lemas sekarang, beban pikiran dikepalanya seakan mampu membuat tubuhnya menjadi berat. Ryeowook terjatuh dikoridor rumah sakit, air matanya mengalir kembali, Ryeowook sudah hampir mau pingsan.
"Wookie-ah, kau kenapa?", Kyuhyun yang tadinya ingin kembali menemui Ryeowook, tiba-tiba melihat Ryeowook sudah hampir pingsan dikoridor rumah sakit. Kyuhyun mengangkat tubuh Ryeowook kepangkuannya. "Kyu… kau tidak pernah berbohong padaku kan?", tanya Wookie lemah. "tentu saja. Aku tidak pernah bohong padamu Wookie…"
"Berarti, yang kau katakan tentang Yesung hyung itu benar?"
"Kau tenang saja, aku akan mencarikan donor jantung untuknya. Dia tidak akan meninggalkanmu Wookie!", Kyuhyun memeluk tubuh Ryeowook, seolah tak ingin kehilangan Ryeowook untuk selamanya. "Kenapa kau mau membantu Yesung hyung? Bukankah kau membencinya?", tanya Ryeowook yang masih menangis
"Mana mungkin aku membenci orang yang menjadi sumber kebahagiaan sahabatku… Kau pegang ucapanku, aku akan mencarikan pendonor jantung untuknya. Sekarang, berhentilah menangis, semua akan baik-baik saja"
"Kau yakin akan ada orang yang mau mendonorkan jantungnya?"
"tentu saja ada. Kau tidak perlu cemas lagi. Sekarang, aku akan mengantarkanmu pulang". Kyuhyun mencoba membantu Ryeowook untuk berdiri, kemudian Kyuhyun mengantarkan Ryeowook pulang kerumahnya.
Sementara itu, suasana hening menyelimuti ruang rawat Yesung. Manager Yesung duduk dikursi yang tadi ditempati Ryeowook, sambil menggaruk pelipis matanya. Memikirkan cara untuk mengatakan hal penting itu kepada Yesung.
Dan, pada akhirnya… gerakkan kecil terlihat dikedua mata Yesung, mata sabit itu terbuka perlahan, mengedipkannya beberapa kali. Bola matanya bergerak kekanan dan kekiri, berharap ada sesuatu hal yang familiar dimatanya. "Aku dimana?"
"kau dirumah sakit…", Yesung menoleh ke kanan. Dan akhirnya, Yesung menemukan yang familiar dimatanya. "Hyung, kenapa aku bisa ada disini? Bukankah tadi aku berada diapartemen Kyuhyun. Dimana Wookie?"
"Berhenti memikirkan dia sejenak. Sekarang kau harus memikirkan kesehatanmu!", ucap manager yesung tegas.
"Memangnya aku kenapa? Aku sekarang tidak merasakan sakit sedikitpun. Untuk apa aku berada disini?"
"Mianhae… aku tidak menceritakan penyakitmu dari awal…", raut wajah manager yesung kembali senduh.
"Penyakit? Bukankah kemarin kau bilang kalau aku tidak kenapa-napa?"
"Aku tidak sanggup mengatakan semuanya kepadamu…"
"Sekarang cepat katakan yang sebenarnya!", Yesung mulai menekan Managernya agar mengatakan tentang penyakit yang dideritanya.
Manager Yesung mengatur nafas, dan mulai menjelaskan kepada Yesung. "Kondisi jantungmu lemah Yesung. Semakin hari, jantung mu akan terus melemah, dan itu akan membuatmu kesulitan untuk bernafas, dan kau pun akan jatuh pingsan. Dan untuk menyembuhkan penyakitmu ini, kau harus…"
"aku harus mengganti jantungku? Benar begitu hyung?".
"Ne, tapi kau tidak perlu khawatir. Aku akan mencarikanmu pendonor jantung…"
"Jangan gila hyung. Walaupun dengan imbalan uang yang berlimpah, tidak akan ada orang yang mau mendonorkan jantungnya. Kau tidak perlu repot-repot mencarinya Hyung. Aku tidak apa-apa, aku akan bertahan dengan jantungku sendiri".
"Tapi sisa waktu mu tidak banyak lagi… Kau benar-benar butuh pendonor jantung! Dan bagaimana pun, aku akan mencarinya untukmu".
Yesung tidak menghiraukan perkataan managernya. Yesung melepas masker oksigen yang menutupi wajahnya, dan melepas inpus yang ada ditangan kirinya. "Apa yang kau lakukan Yesung?"
"Kau lihat kan Hyung, aku tidak apa-apa. Aku masih bisa bernafas tanpa alat bodoh itu. Kau tenang saja…" yesung turun dari ranjang dan beranjak pergi
"kau mau kemana Yesung?", tanya manager tampan itu dengan panik. Tapi dengan santai yesung menjawab sambil tersenyum, "kau tidak perlu tahu. Sebaiknya, cepat kau urus administrasi ku dirumah sakit ini. Rumah sakit ini tidak elit. Jadi, jangan mau kalau disuruh bayar mahal. Oke! Aku pergi dulu!", Yesung pun keluar dari ruangan itu.
"Oh iya.. aku hampir lupa!", Yesung kembali masuk kedalam ruangan itu. "Aku pinjam mobilmu Hyung. Berikan kuncinya…"
"Tapi…"
"Aish… kau ini kebanyakan mikir Hyung", Yesung mendekati manager nya, dan merogoh saku dijaket manager tampannya itu. Yesung pun menemukan apa yang dicarinya, kunci mobil. "Aku pinjam..", dan kali ini, yesung pun benar-benar pergi meninggalkan manager nya yang masih mematung karna sikap yesung yang susah diatur.
_Author POV END_
_Ryeowook POV_
Kyuhyun mengantarkanku sampai kerumah. "terima kasih sudah mengantarkan aku Kyu",
"Mau aku temenin masuk?"
"tidak usah. Aku sudah tidak apa-apa", aku pun turun dari mobil Kyuhyun. "Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku. Arra?".
"Arraseo…", ku tutup pintu mobil Kyuhyun dan mobilnya itu pun perlahan menghilang dari pandanganku. Aku juga sudah lelah hari ini, aku ingin tidur…
"Wookie-ah, kau darimana saja?", aku melihat Leeteuk hyung sudah berdiri didepan pintu
"Leeteuk hyung, kau sudah pulang?",
"Jawab pertanyaan hyung. Kau darimana? Kenapa kau tidak pulang kerumah semalam"
"Mianhae hyung. Tadi malam aku menginap diapartemen Yesung hyung… Dan aku baru saja pulang dari rumah sakit"
"Dari Rumah sakit? Memangnya siapa yan sakit? Kau tidak apa-apa kan Wookie?"
"Aku tidak apa-apa Hyung. Tapi Yesung hyung.."
"Memangnya dia kenapa? Apa dia kecelakaan?"
"Aniyo Hyung. Aku tidak tau pasti apa penyakit Yesung hyung. Tapi, yesung hyung membutuhkan donor jantung secepatnya?"
"Mwo? Donor jantung?" aku menganggukkan kepalaku sambil mengerucutkan bibirku. Aku mulai terisak lagi.
"Kita bicarakan didalam saja, Kajja". Leeteuk hyung membawaku masuk kedalam rumah dan membicarakannya dikamarku.
Aku dan leeteuk hyung duduk ditepi kasur, Leeteuk hyung mengelus punggungku, mencoba memberi ketenangan padaku. "Yesung pasti tidak kenapa-napa Wookie…"
"Bagaimana kalau Yesung hyung tidak mendapatkan Donor jantung hyung? Nyawa nya akan terancam"
"Kau selalu saja berpikiran yang negatif-negatif. Buang pikiran itu jauh-jauh Wookie, berpikirlah positif"
"Apa Tuhan memang membenciku Hyung? Dia mau mengambil semua orang yang aku cintai. Kenapa Tuhan setega itu Hyung, kenapa dia tidak mengambil nyawaku saja?"
"Jangan pernah berkata seperti itu Wookie. Tuhan tidak pernah membenci makhluk ciptaannya. Ini hanya cobaan sementara Wookie, Tuhan sedang menguji seberapa besar kekuatan cintamu…"
"Tapi aku tidak sanggup melihat orang yang aku cintai menderita Hyung. Seharusnya aku saja yang mati", aku memukul-mukul dadaku yang terasa sesak. Leeteuk hyung langsung menggenggam tanganku agar aku berhenti memukuli diriku sendiri. "Berpikirlah dengan jernih Wookie, ini tidak akan seburuk yang kau pikirkan!", Leeteuk hyung memahariku, aku menundukkan kepalaku dan mulai menangis 'lagi'. Leeteuk hyung masih menggenggam tanganku tapi tidak sekuat yang tadi, "Kau harus kuat Wookie, Yesung membutuhkan mu sekarang. Kau tidak boleh terlihat lebih lemah didepannya. Itu hanya membuatnya semakin menderita melebihi penyakit yang dideritanya, Arraseo?"
"Ne Hyung. Mianhae"
"Ya sudah… Kau istirahat saja…", Leeteuk hyung pun keluar dari kamarku. 'tidak boleh terlihat lebih lemah dihadapan Yesung hyung? Apa aku bisa melakukannya?'. Mataku perih, kubaringkan tubuhku ditempat tidur, mengambil ponsel dan menggenggamnya erat diatas dadaku, berharap ada seseorang yang mengkabariku tentang keadaan Yesung hyung sekarang. Sambil menunggu, ku pejamkan mataku sambil terus menggenggam ponselku dengan erat.
_Ryeowook POV END_
_Kyuhyun POV_
Aku sampai diapartemenku… Ku rebahkan badanku disofa, memijit pelan keningku. 'Apa ini semua Cuma mimpi?' ku tepuk-tepuk kedua pipiku dengan cukup kuat, sakit. 'berarti ini tidak mimpi'. Pandanganku beralih pada sebuah benda kecil dimeja, ku tegakkan badanku dan mengambil benda itu, "Kunci mobil Yesung? Berarti mobilnya masih diparkiran? Bagaimana cara mengembalikannya?".
TeeeeT TeeeeT
Alarm apartemenku berbunyi, siapa yang datang? "Tunggu sebentar!". Aku pun segera membuka pintu.
Aku terlonjak kaget melihat orang yang ada dihadapanku sekarang,"Ka… Kau? Bagaimana mungkin kau bisa disini?",
"Kenapa kau seperti melihat hantu. Aku kan belum mati!. Kalau aku sudah meninggal dan aku menemuimu, baru kau boleh memasang ekspresi seperti itu", jawabnya dengan santai.
"Kau sudah sadar? Kenapa kau sudah keluar dari Rumah sakit?"
"Apa kita harus berbicara didepan pintu seperti ini?", aku menggaruk tengkuk leherku, "Masuklah…", jawabku kembali dingin, mencoba bersikap seperti biasanya.
Dia pun masuk ke apartemenku dan duduk dengan santai disofa, aku pun menyusulnya. "Kau belum jawab pertanyaanku", ucapku saat kembali duduk.
"Seperti yang kau lihat aku tidak apa-apa".
"Tapi, aku sudah mengetahui penyakit yang kau derita. Manager mu pasti sudah memberitahumu kan?"
"Kau pasti senang mendengarnya kan? Kau pasti senang saat tau aku akan meninggal, dan itu tidak akan lama lagi…"
"Aku tidak seburuk yang kau pikirkan Yesung. Memang saat mengetahuinya, orang yang pertama didalam pikiranku adalah Wookie. Tapi aku memikirkan bagaimana jika Wookie tanpamu, bagaimana cara membuat Wookie bahagia tanpamu? Bagaimana cara agar membuat Wookie berhenti menangis saat kau meninggalkannya. Aku tidak bisa melakukan semua itu. Hanya kau yang bisa membuat Wookie bahagia! Tidakkah kau menyadari itu?"
Yesung menatapku dengan tatapan tak percaya, dan aku juga tidak percaya kalau kalimat itu yang akan keluar dari mulutku, tapi itu semua benar. "Aku menyadarinya Kyuhyun. Tapi aku tidak bisa selamanya berada disampingya. Tidak akan ada orang yang mau mendonorkan jantungnya kepadaku!"
"Aku akan membantumu untuk mendapatkan Donor jantung. Aku melakukan ini karna kebahagian Wookie, bukan karna kau.."
"Gomawo, tapi aku rasa itu percuma. Sisa waktuku, akan ku habiskan untuk membahagiakan Wookie. Dan setelah aku pergi, aku yakin Wookie akan bahagia tanpaku… Percayalah…"
"Kau hanya pura-pura kuat dihapadan orang. Akting mu benar-benar luar biasa… Jangan bohongi dirimu sendiri", aku tersenyum sinis. "Oh iya… Apa Wookie sudah tau tentang penyakitku?",
Sepertinya dia mengalihkan pembicaraan dengan pura-pura tidak mendengar perkataanku sebelumnya. "Aku sudah memberitahunya… Lebih baik kau temui dia sekarang, dia sangat menkhawatirkan keadaanmu. Ah… ini kunci mobilmu", aku memberikan kunci mobilnya yang sedari tadi ku pegang. "Kau pegang saja dulu, biar nanti aku menyuruh managerku untuk mengambilnya. Oh iya, apa Ponselku tertinggal disini juga?"
"Ponselmu ada sama Wookie, tadi dia memakainya saat mengabari manager mu".
"Ah… kalau begitu, aku sekarang harus kerumah Wookie-ku, Annyeong Kyuhyun", Dengan santainya dia keluar dari apartemenku, kalau bukan karna dia sedang sakit, aku akan menendangnya keluar dari tadi.. hahahahaha, "Sepertinya aku harus banyak-banyak tertawa, sebelum aku tidak bisa tertawa lagi karna harus menolong nyawa seseorang… Kau harus berterima kasih padaku Yesung".
_Kyuhyun POV END_
.
.
.
.
.
.
_Author POV_
"Bukankah kata Wookie kau sedang berada dirumah sakit? Kenapa kau sekarang bisa ada disini?" tanya Leeteuk saat membuka pintu rumahnya. "Aku sudah tidak apa-apa Hyung. Apa Wookie ada dirumah, aku ingin bertemu dengannya".
"Dia ada dikamar, mungkin sedang tidur. Sebelum kau bertemu dengan Wookie, bisakah kita bicara sebentar?", Yesung mengangguk dengan ragu kemudian Leeteuk menyuruh Yesung untuk masuk dan mereka duduk di ruang tamu.
"Apa benar kau membutuhkan donor jantung?", tanya Leeteuk yang langsung ke inti masalah. "Kenapa hyung? Apa kau mau memberikan jantungmu untukku?", leeteuk terdiam dengan raut wajah seakan mengatakan mana-mungkin-aku-melakukannya. "Hahaha… Aku hanya bercanda hyung. Jangan anggap serius begitu"
Leeteuk menggaruk bagian belakang kepalanya sambil tersenyum gak jelas,"Lalu, bagaimana caramu mendapatkan donor jantung?"
"Itu tidak mungkin Hyung. Walaupun manager ku dan Kyuhyun juga ikut membantu mencari pendonor jantung, tapi itu semua hanya buang-buang waktu, tidak akan ada orang yang mau", ucap Yesung sambil tersenyum perih.
"Kau jangan menyerah Yesung. Pasti ada keajaiban untukmu"
"Sayangnya aku tidak percaya dengan keajaiban Hyung. Cepat atau lambat aku akan pergi, dan aku minta tolong padamu Hyung. Aku ingin Wookie bahagia walau tanpa aku disisinya"
"Perkataanmu…", leeteuk mematung ditempat duduknya karna perkataan Yesung. "Memang, ada yang salah dengan perkataanku?"
"Perkataanmu sama persis dengan apa yang Kibum katakan sebelum dia pergi. Kibum ingin wookie bahagia walau tanpa dirinya"
"Benarkah? Hwa… sepertinya, tanda kepergianku benar-benar sudah kelihatan…"
"Bicara apa kau? Kau harus yakin kalau kau akan membahagiakan Wookie selamanya…"
"Aku akan berusaha semampuku Hyung.. Sudahlah Hyung, jangan dibicarakan lagi. Ini tidak terlalu penting. Apa aku boleh menemui Wookie sekarang?" Leeteuk hanya mengangguk, bagaimana mungkin masalah hidup dan mati tidak terlalu penting bagi manusia, itu hanya kebohongan.
Yesung pun segera menemui kekasihnya, membuka pelan pintu kamar dan mengintip sedikit, "ternyata dia sedang tidur…", ucapnya pelan. Lalu Yesung pun masuk dan kembali menutup pintu dengan perlahan. Yesung berjalan berjinjit, berusaha agar tidak ada sedikit pun suara yang nantinya akan membangunkan Ryeowook. Setelah dekat ditempat tidur Ryeowook, Yesung tersenyum melihat wajah polos Ryeowook yang sedang tertidur pulas walau ada bekas air mata dipipi mulusnya. Perlahan-lahan juga Yesung naik ketempat tidur Ryeowook, merebahkan badannya tepat disamping namjachingunya itu dan juga memeluk tubuh yang sedikit lebih kecil darinya itu. Senyuman tipis terukir dibibir Ryeowook, 'ternyata dia bisa merasakannya walaupun sedang tertidur' gumam Yesung dalam hati. Yesung mengangkat sedikit kepalanya untuk mengecup kening Ryeowook. 'Tuhan, aku rasa ini waktu yang tepat untuk kau mencabut nyawaku. Aku mohon, cabut nyawaku sekarang Tuhan…', Yesung memejamkan matanya sambil tetap memeluk tubuh kekasinya. Tak lama kemudian, Yesung pun ikut tertidur dengan Ryeowook.
Yesung tertidur tak kalah pulasnya dengan Ryeowook. Saking pulasnya, mungkin agak sulit untuk 'membangunkannya'.
Waktu senja pun berakhir, sekarang malam menjelang. Bintang dan Bulan sudah terlihat menjalankan tugasnya kembali. Akhirnya, Ryeowook bangun dari tidurnya.
_Author POV END_
_Ryeowook POV_
Gelap. Ternyata aku tertidur sampai malam begini, kenapa Leeteuk hyung tidak membangunkanku yah… "Tapi… kenapa perutku terasa berat?" aku menyentuh sesuatu yang menimpa(?) perutku. Saat ku sadari bahwa itu adalah sebuah tangan, aku langsung turun dari tempat tidur dan segera menghidupkan lampu kamar! Betapa terkejutnya aku melihat orang yang tertidur diranjangku sekarang. Sejak kapan dia berada disitu, dan kenapa dia bisa ada disini?
"Hyung…", aku memanggilnya, tapi dia sama sekali tak bergeming. "Hyung…", panggilku lagi dan aku mulai mendekatinya, lagi-lagi Yesung hyung tidak bergeming. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak, dia pasti tertidurkan? Yesung hyung pasti orang yang susah untuk dibangunkan. Aku harus membiarkannya tetap tertidur, atau membangunkannya? Aku tidak tega membangunkan Yesung hyung yang sedang tertidur lelap. Tapi aku juga tidak mau Yesung hyung tidur untuk selamanya!
"Yesung hyuuuuung! Ireona!", tidak peduli teriakkan ku sekuat apa, yang penting aku harus berhasil membangunkan yesung hyung. Dan hasilnya...
.
.
.
.
.
.
.
.
NIHIL. Aku mengguncang-guncang tubuh Yesung hyung, tapi dia juga tidak terbangun. Ku raih pergelangan tangannya untuk merasakan denyut nadi, dan syukurlah. Berarti Yesung hyung hanya pingsan. "TEUKIE HYUUNG, CEPAT KESINI, TOLONG AKU!", teriak ku lagi. Tak butuh waktu lama, aku mendengar suara derap langkah kaki munuju kamar ku. "Ada apa Wookie?",
"Yesung hyung pingsan..", jawabku sambil menahan tangis.
"Siapkan mobil Wookie..", aku segera menuju bagasi, sedangkan Leeteuk hyung menggendong Yesung hyung. Saat diperjalan menuju rumah sakit, aku terus memegang tangan Yesung hyung yang sekarang ada dipangkuanku. "Hyung, tolong cepat sedikit. Aku tidak mau Yesung hyung kenapa-napa!", omelku kepada Leeteuk Hyung yang sedang menyetir didepanku. "Ini juga sudah cepat Wookie. Kau bersabarlah, sebentar lagi kita sampai…"
5 menit kemudian, aku dan Leeteuk sampai dirumah sakit, biasanya perlu waktu 15 menit untuk sampai. Leeteuk hyung membantuku yang mau menggendong Yesung hyung, lebih tepatnya mengambil alih. Ku akui, tubuh Yesung hyung berat. "Suster, tolong pasien ini. Dia tiba-tiba pingsan", aku menganggukkan kepalaku menyetujui perkataan Leeteuk hyung.
"Ikut saya…", aku dan Leeteuk hyung pun mengikuti arah suster itu yang menuju ruang UGD. Leeteuk membaringkan Yesung hyung diranjang saat sudah samoai ruang UGD. "Sekarang kalian tunggu diluar saja",
"Tapi dia tidak apa-apa kan, Sus?"
"Tunggu selesai pemeriksaan, baru kalian bisa tau. Sekarang kalian tunggu diluar saja, Dokter sedang menuju kesini", dengan terpaksa aku dan Leeteuk hyung keluar dari ruang UGD itu. Saat keluar, kami berpas-pasan dengan Dokter yang akan memeriksa Yesung hyung. 'Dokter yang sama dengan yang tadi pagi' gumamku dalam hati.
"Dia pasti baik-baik saja", Leeteuk hyung mencoba menenangkanku. Tapi mana mungkin aku bisa tenang dengan keadaan Yesung hyung yang seperti itu. "Wookie, kau pasti belum makan kan? Bagaimana kalau kita makan malam dulu?",
" aku tidak lapar Hyung…"
KRIUUUK
"Kau mungkin bisa berkata tidak lapar, tapi cacingmu itu. Memangnya kau mau cacing-cacing itu memakan tubuhmu?"
"Tapi hyung, aku tidak mungkin meninggalkan Yesung hyung sekarang. Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?",
"Kalau kau tidak mau makan sekarang. Kau bukan adikku lagi…",
"MWO?", Leeteuk hyung berjalan meninggalkanku. Kalau aku tak menyusulnya pasti leeteuk hyung akan marah denganku. Aku melirik ke dalam ruang UGD yang sedikit terlihat karna ada kaca transparan di pintu. Dokter dan suster masih sibuk memeriksa Yesung hyung, "Sepertinya masih lama lagi…", ku alihkan lagi pandanganku ke Leeteuk hyung yang mulai menjauh, "Leeteuk hyung, tunggu!", aku sedikit berlari menyusul Leeteuk hyung. "Hyung, jalannya pelan-pelan saja", omelku saat aku sudah berhasil mengejarnya. "Lain kali, jangan membantah perintah Hyungmu. Arra?"
"Arraseo hyung. Mianhae…"
"Yasudah, kita ke kantin rumah sakit saja…", aku dan Leeteuk hyung pun menuju kantin rumah sakit.
"Hyung, kenapa tadi kau tidak membangunkanku saja saat Yesung hyung datang kerumah?", tanyaku saat kami sedang menikmati makan malam kami. "Hyung tidak mau mengganggu istirahatmu. Jadi hyung biarkan saja dia masuk ke kamarmu, jadinya kan kau punya teman untuk tidur…", pantas saja tadi tidurku begitu nyaman, ternyata yesung hyung ada disampingku. Mengingat Yesung hyung, aku segera menghabiskan makananku. Aku harus segera kembali menemuinya.
"Oh iya… Kau tidak menghubungi manager Yesung?"
"Benar juga. Tapi aku tidak tahu nomor ponselnya, ponsel Yesung hyung tertinggal dirumah, aku lupa membawanya hyung.."
"Kalau begitu, selesai makan kau kembalilah menemui Yesung. Hyung mau kembali kerumah untuk menghubungi manager Yesung"
"Ne hyung. Gomawo…"
_Ryeowook POV END_
_Author POV_
Setelah selesai makan malam, Ryeowook kembali keruang UGD sendirian, tapi sekembalinya kesana ruangan itu sudah kosong. "Dimana Yesung hyung?", tanya Ryeowook kepada dirinya sendiri. Ryeowook keluar dari ruangan itu, "Yesung hyung!", panggil Ryeowook cemas. "Suster, dimana pasien yang tadi ada diruangan UGD?", tanya Ryeowook kepada suster yang kebetulan berjaga dibagian informasi.
"Oh… Yesung-ssi sudah… Mianhae, tunggu sebentar Tuan..", perkataan suster itu terpotong saat ada telpon masuk. Wajah Ryeowook sudah pucat seketika, berbagai pikiran negative sudah berkeliaran diotaknya. "Tuan…", sapa suster itu saat dia sudah menutup telponnya. "Dimana Yesung-ssi suster? Cepat katakan!"
"Yesung-ssi sudah dipindahkan ke ruang rawat", Ryeowook langsung menghela nafas lega. "Di kamar nomor berapa Sus?", tanya Ryeowook lagi. "nomor 15".
Ryeowook segera melangkah kan kakinya menuju ruang rawat Yesung. Setelah sampai didepan ruangan itu, Ryeowook langsung masuk. Ryeowook kembali sedih saat melihat Yesung kembali dipasangkan infus ditangan kirinya, dan juga masker oksigen yang membantu yesung untuk bernafas. Ryeowook mendekati tubuh lemah kekasihnya.
Mengelus pelan kepala kekasihnya yang kembali tidak sadarkan diri. "Sampai kapan kau akan seperti ini Hyung, aku tidak sanggup melihatmu menderita seperti ini. Hyung, bangun… kenapa kau membiarkan aku bicara sendiri seperti orang gila. Aku ingin bicara denganmu, sadarlah…", Ryeowook menggenggam erat tangan kanan Yesung.
Tiba-tiba seorang suster masuk keruangan itu, "Mianhamnida sudah mengganggu Tuan. Saya mengantarkan makan malam dan obat buat Yesung-ssi…", suster itu meletakkan makanan dan obat untuk Yesung diatas meja yang ada disamping ranjang pasien. "Suster, kapan Yesung-ssi sadar dari pingsannya?"
"Sebentar lagi Yesung-ssi pasti akan bangun. Kalau dia sudah bangun, jangan lupa berikan makan malam dan obatnya"
"Ne Suster.."
"Kalau begitu, saya permisi Tuan…"
"Suster, tunggu dulu…", cegat Ryeowook saat suster itu akan keluar. "Ada yang bisa saya bantu lagi Tuan?"
"Hmm.. saya ingin bertemu dengan dokter yang menangani Yesung-ssi. Apa bisa?"
"Mianhamnida. Dokter Lee Hyukjae sedang sibuk sekarang. Lebih baik anda menemuinya besok saja"
"Baiklah suster.. Kamsahamnida…", Ryeowook membungkukkan badannya dan suster itu juga ikut membungkuk kemudian keluar dari ruangan itu.
"Untuk apa kau ingin menemui Dokter…", Ryeowook tersentak saat ada orang yang tiba-tiba mengajaknya bicara, dia menoleh ke arah Yesung dan mendapati Yesung sudah sadarkan diri. "Kau mengagetkanku lagi Hyung…"
"Jawab pertanyaanku, untuk apa kau mau menemui Dokter?"
"tentu saja untuk menanyakan kondisimu Hyung…", ryeowook menunjukkan perasaan cemas yang dimilikinya. "Seingatku, tadi aku sedang menemanimu tidur, kenapa aku bisa berada disini lagi?"
"Itulah akibatnya kalau kau kabur dari rumah sakit dan seenaknya saja masuk kekamar orang tanpa ijin", Ryeowook mem'pout'kan bibirnya agar Yesung yakin kalau dia beneran marah. "Aku tidak kabur dari rumah sakit Wookie..",
"ya ya ya… terserah apa katamu. Sekarang kau harus makan Hyung..", Ryeowook mengambil 1 mangkuk yang berisi bubur yang ada diatas meja. Dan betapa paniknya Ryeowook saat kembali melihat Yesung, bagaimana tidak, Yesung mengangkat badannya dan kembali melepas masker oksigennya. "Hyung, apa yang kau lakukan?"
"tentu saja aku mau makan! Kalau alat ini terus ku pakai, bagaimana aku mau makan?",
" Tapi kau akan kesulitan bernafas Hyung, nanti kau bisa pingsan lagi…"
"Aku tidak apa-apa Wookie. Coba lihat, apa aku seperti orang yang kesulitan bernafas?", Yesung menghirup udara sebanyak-banyaknya, menunjukkan kalau dia baik-baik saja sekarang. "Tidak kan? Sekarang, ayo suapin aku.." Yesung membuka mulutnya menantikan Ryeowook memberikannya suapan. Tapi Ryeowook tak kunjung menyuapinya, yang ada Ryeowook hanya memandangi Yesung dengan tatapan yang seolah menyuruh Yesung untuk kembali memakai alat itu.
"Kau marah padaku? Baiklah, aku tidak mau makan", yesung kembali menidurkan badannya dan mengalihkan pandangannya dari Ryeowook. "Baiklah… Aku tidak akan menyuruhmu untuk memakai alat itu Hyung. Tapi kau harus makan… Ayo banguuuun…", Ryeowook mengguncang-guncang badan Yesung untuk bangun kembali.
"Nah… Itu baru Wookie-ku…", Yesung kembali bangun dan mengelus lembut rambut Ryeowook. Ryeowook pun mulai menyuapi Yesung sampai bubur yang ada dimangkuk itu habis. "Sekarang saatnya minum obat!", Ryeowook meletakkan mangkuk bubur yang sudah kosong diatas meja dan mengambil 1 botol obat yang berisi pil yang harus diberikan ke Yesung.
"Obat?" tanya Yesung heran.
"Iya, memangnya kenapa Hyung? Jangan bilang kau tidak mau minum obat.." tebak Ryeowook.
"Penyakitku tidak bisa disembuhkan selain dengan donor jantung, Wookie. Jadi untuk apa aku harus meminum obat itu. Shireo!"
"Kenapa kau jadi pesimis seperti itu Hyung. Bagaimana pun kau harus minum obat ini. Ayo diminum…", Ryeowook mengambil 1 pil yang ada dibotol itu dan menyodorkannya ke mulut Yesung. "Baiklah… Ini juga karnamu aku mau meminumnya"
Yesung mengambil pil yang dipegang Ryeowook dan langsung menelannya. Tidak lupa Ryeowook memberikan segelas air. Setelah meminum obat, Yesung kembali merebahkan badannya, "pakai lagi masker nya Hyung…".
"Aniya.. Itu malah membuatku kesulitan untu bernafas Wookie…", Ryeowook pun hanya bisa diam. "Wookie, apa kau yakin aku akan tetap hidup?", Ryeowook kaget dengan perkataan Yesung yang membuatnya kembali khawatir. "Tentu saja hyung, aku yakin kau akan tetap hidup. Manager mu dan Kyuhyun sedang mencarikan mu pendonor jantung sekarang.."
"Kalau aku diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, berjanjilah kalau kau akan terus bersamaku Wookie.. "
"Aku berjanji Hyung, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu", Ryeowook menggenggam tangan Yesung yang kini terasa dingin. "Hyung, tanganmu dingin sekali. Apa kau kedinginan, aku pakaikan selimut yah…", Ryeowook menarik selimut yang ada di ujung kasur dan menyelimuti tubuh Yesung sampai sebatas dada. "Masih dingin Wookie..", gumam Yesung.
"Benarkah? Kalau begitu, Aku matikan saja AC nya", Ryeowook meraih remote AC dan langsung menekan tombol OFF. "Sudah tidak dingin kan Hyung?",
"Masih dingin Wookie!", keluh Yesung lagi. Ryeowook mulai panik, "Kenapa masih dingin juga Hyung. Kau sudah diselimuti, AC juga sudah ku matikan. Apalagi yang harus aku lakukan?"
"Peluk aku…"
Ryeowook menyatukan alisnya,"Kau mengerjaiku Hyung?", Yesung menggeleng cepat. "Kalau kau tidak percaya genggamlah tanganku lagi..". Ryeowook pun menurut, digenggamnya kembali tangan Yesung, dan benar, tangan Yesung masih dingin. "Aku tidak berbohongkan?"
"Lalu dengan cara apalagi aku harus membuatmu hangat Hyung?",
GREEP
Yesung menarik tangan mungil kekasihnya itu agar dia bisa memeluk Ryeowook. "Hyung… nanti kalau ada Dokter atau Suster yang tiba-tiba masuk bagiamana? Bisa-bisa aku dituduh mau membunuhmu.. ",
"Bukankah kau ingin menghangatkanku? Inilah salah satu caranya, jadi jangan protes".
Ryeowook pun tak berani mengeluh lagi, sebenarnya Ryeowook juga senang diperlakukan Yesung seperti ini. Menghirup aroma tubuh Yesung, membuat Ryeowook semakin erat memeluk Yesung, padahal beberapa detik yang lalu dia menolak pelukan hangat itu. 'Bagaimana jadinya kalau aku tidak bisa memeluknya seperti ini lagi. Aku tidak mau..', gumam Ryeowook dalam hati.
"YESUNG-AH! Neo gwaenchanayeo?", Prince manager masuk dengan tiba-tiba dan mendapati Yesung dan Ryeowook sedang bermesraan. "Ah.. Manager, kau sudah datang..", tanya Ryeowook basa-basi sambil melepas pelukan Yesung.
"Mian kalau aku mengganggu kalian..", ucap manager Yesung sambil garuk-garuk kepala.
"Tidak apa-apa Hyung", jawab yesung datar. "Yesung! Sekarang kau lihatkan? Pada akhirnya kau akan kerumah sakit lagi. Sebaiknya kau jangan egois, istirahatlah disini dengan baik"
"Sampai kapan aku harus berada disni Hyung? Sampai aku mati?"
"Yesung hyung!", Ryeowook membentak Yesung karna perkataan yesung sangat sakit untuk didengarnya. "Mianhae Wookie…"
"Yasudah. Wookie, kau boleh pulang sekarang"
"Manager, aku ingin disini saja. Aku ingin menemani Yesung hyung. Aku mohon, jangan paksa aku untuk pulang!", Prince manager melihat wajah melas Ryeowook. Siapapun pasti tidak akan tega untuk tidak mengabulkan permintaanya. "Baiklah… Tapi kau harus benar-benar menjaga Yesung. Jangan kau biarkan dia kabur dari rumah sakit!"
"Ne… hal itu tidak akan terjadi. Aku berjanji.."
"baguslah kalau begitu. Besok aku akan kembali lagi kesini, kalau ada apa-apa segera hubungi aku", Yesung dan Ryeowook mengangguk bersamaan. "Hyung!", panggil Yesung sebelum Prince manager keluar. "ada apa?"
"Tolong pastikan tidak ada orang luar yang mengetahui tentang keadaanku, terutama fansku. Kau bisa menjaganya kan Hyung?"
"Percayakan semua itu padaku…", Yesung tersenyum puas dengan jawaban Managernya. "Aku pergi, Annyeong".
_Author POV_
_Yesung POV_
Akhirnya aku kembali berdua dengan Wookie. Saat ini, aku ingin benar-benar bersamanya, menghabiskan sisa umurku yang mungkin tidak lama lagi ini. "Hyung… Sebaiknya kau tidur saja.."
"Aku sudah tidur terlalu lama hari ini Wookie, jangan paksa aku untuk tidur lagi. Sebaiknya kau saja yang tidur"
"Aku juga tidak bisa tidur lagi Hyung"
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan.."
"TIDAK!",
"Ayolah Wookie, hanya disekitar rumah sakit ini saja. Aku bosan dikamar ini terus, Jebal… bawa aku keluar"
"Tapi diluar dingin Hyung. Nanti kau masuk angin"
"Kau ingin aku mati kebosanan karna berada diruangan ini?"
"Kenapa kau selalu membawa-bawa kata mati Hyung? Aku tidak suka mendengarnya!"
"makanya bawa aku keluar sekarang", aku tau Wookie tidak suka kalau aku mengatakan kalimat seperti itu, tapi hanya dengan mengancamnya seperti itu maka dia akan menuruti permintaanku. "Baiklah. Tapi tunggu sebentar, aku mau meminjam kursi roda dulu"
"Untuk apa? Aku bisa jalan"
"Kalau kau tidak mau naik kursi roda. Tidak ada kata keluar dari kamar ini!", sekarang malah Wookie yang mengancamku, aku pun tidak punya pilihan lagi. "Iya iya…".
Tidak lama aku menunggu, Wookie sudah datang dengan mendorong kursi roda. Aku pun segera turun dari tempat tidur, "Pelan-pelan turunnya Hyung…", Wookie membantuku turun dari tempat tidur. Betapa perhatiannya dia, aku benar-benar beruntung bisa mendapatkannya. Setelah aku duduk nyaman diatas kursi roda, Wookie pun mulai membawaku keluar. "Kita ketaman yang ada disini saja yah Hyung", aku hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
Sampainya ditaman yang ada dirumah sakit, aku mengdongakkan kepalaku menatap langit. Sinar bulan dan cahaya bintang benar-benar bersinar dengan indah malam ini, aku sangat menyukainya. Ku alihkan lagi pandanganku ke arah Wookie yang sekarang duduk dibangku taman yang ada disebelahku, Wajahnya begitu indah saat terkena pantulan cahaya bulan. "Kenapa kau melihatku seperti itu Hyung? Apa ada sesuatu yang menempel diwajahku?".
Aku terkekeh dengan perkataannya. "Iya, ada sesuatu yang menempel diwajahmu".
"Benarkah? Dimana Hyung?", Wookie meraba-raba wajahnya mencari sesuatu yang menempel disana, tapi tentu saja tidak ada, aku hanya membohonginya. Tapi, mendadak terlintas dipikiranku untuk mengerjainya. "jangan dibuang. Biarkan saja terus menempel disitu, karna dia yang sudah membuatmu menjadi seindah ini…"
"Apa yang kau bicarakan Hyung?"
"Kau ingin tau apa yang menempel sehingga membuatmu seindah ini?", Wookie hanya mengangguk. Aku mendekatkan wajahku kewajahnya, "sesuatu yang menempel dengan indah itu adalah…", aku mengecup kedua matanya, "… mata ini…", kemudian aku mengecup hidungnya, "…hidung ini, dan juga bibir ini". aku mencumbu bibir cherry miliknya cukup lama. karna aku merasa ini adalah ciuman terakhirku dengannya. Aku juga merasakan kalau Wookie juga tidak mau mengakhiri ciuman ini, Wookie membalas membalas ciumanku dengan lembut. Aku melakukannya bukan karna nafsu melainkan sebagai pernyataan kalau aku benar-benar mencintainya. Wookie mendorong tubuhku pelan. "Kau mengerjaiku Hyung…"
"Tapi kau suka kan?", dapat ku lihat dengan jelas kalau Wookie sedang tersipu malu sekarang, benar-benar membuatku gemas dan ingin memakannya lagi.
"Hyung… Bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?. Dan aku harap kau jawab dengan jujur Hyung",
"Baiklah… Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Siapa orang yang paling berharga dikehidupanmu?", pertanyaan yang seharusnya dia sudah tau jawabannya. "Tentu saja kau adalah orang yang paling berharga dikehidupanku…"
"Selain aku. Pasti ada kan Hyung? Aku mohon jawab", aku menghela nafas dan kembali menjawab pertanyaannya.
"Orang yang berharga selanjutnya adalah… Adik angkat ku…"
"Adik angkat? Kenapa kau tidak pernah cerita dan mengenalkannya kepadaku Hyung?"
"Adik angkatku itu banyak, Chagiya… Lebih dari 100, mereka adalah anak dari salah satu panti asuhan yang aku tanggung biaya hidupnya. Mulai dari biaya sekolah sampai keperluan sehari-hari mereka, semua aku yang tanggung. Sebagian besar bayaran dari hasil syuting, aku berikan kepada mereka. Senang rasanya saat melihat mereka tersenyum saat aku datang menemui mereka. Benar-benar menyenangkan saat bersama mereka. Dan sekarang, senyuman mereka sedang terancam, aku takut tidak bisa membuat mereka tersenyum lagi. Bagaimana kalau aku pergi meninggalkan mereka. Siapa yang membiayai sekolah dan keperluan mereka? Aku benar-benar takut itu terjadi Wookie, aku tidak mau membuat mereka kecewa. Sungguh…", perlahan, air mataku mulai turun, begitu juga dengan Wookie…
_Yesung POV END_
_Ryeowook POV_
Hati ku terasa sakit mendenger cerita yesung hyung. Aku pikir, aku lah orang yang paling membutuhkan Yesung hyung. Ternyata, banyak orang yang lebih membutuhkannya dibandingkan aku. Aku memeluk tubuh Yesung hyung yang mulai bergetar karna tangisannya. Aku bisa merasakan tanggung jawab Yesung hyung yang besar terhadap anak-anak panti asuhan itu… Ya Tuhan… Apa yang harus aku lakukan untuk membantu Yesung hyung?
.
.
.
.
.
.
Gomawo buat Readers yang udah REVIEW.. kalian benar-benar baik. *puppy eyes
Oh iya… chapter depan FF ini bakalan END!
Dan kalok ada yang berminat untuk tau akhir dari cerita ini. Sangat diharapkan untuk REVIEW! KARNA… Author gak bakalan ngasih ENDING nya kalau kalian gak REVIEW *kejem nih ceritanya
Gomawo udah baca ^^ sekarang tinggal klik kolom REVIEW , hehehe
