What are you in my life?

Disclaimer: Harvest Moon punya Natsume

Genre: Romance/ family/friendship/humor (sedikit, atau gak ada sama sekali xD)

Rated: T

Chapter 2

Ivan's POV

'Jam segini Gretel sedang dimana ya? Apakah nanti dia makan malam di rumahku?' tanyaku dalam hati.

Sekarang ini aku sedang perjalanan pulang setelah mengajar di kota sebelah tempatku bekerja.

"Ivan! Ivan! Hey… jangan ngelamun!" seru seorang gadis cantik yang berjalan disampingku. Teman masa kecilku yang berambut brunette dan panjang, Freya.

"Oh maaf… aku hanya berpikir." Jawabku dengan tersenyum.

"Mikir apa hayoo?" Tanya Freya dengan senyum jail dan menaikkan satu alisnya.

Aku merasakan pipiku memanas. "Bu-bukan apa-apa kok…"

"Ayolah aku ini teman masa kecilmu, aku sangat tahu kalau kamu bohong." Senyumnya semakin mengembang, dan mulai terkekeh perlahan.

Aku menelan ludah dengan susah. "Bukan apa-apa kok… sudahlah!" Jawabku membuang muka kesamping.

"Hahaha… maaf… maaf…" kata Freya sambil menghapus air mata yang muncul di sudut matanya. "Aku tahu kok apa isi otakmu.. 'Gretel dimana ya? Apa dia sedang dirumahku sekarang?' gitu'kan?" kata freya sambil bergaya girly yang berlebihan.

Aku membelalakan mataku. Tepat sasaran! Temanku yang satu ini memang pandai membaca pikiranku. "Apakah sangat kelihatan di wajahku?" tanyaku. "Lagi pula, dia cuma menganggapku sebagai seorang kakak." Lanjutku dengan senyum sedih.

"Maksudmu?"

"Dia sendiri yang berkata padaku." Jawabku mengingat masa lalu.

FLASHBACK

"Haaah…." Desahku. Sekarang ini aku sedang berdiri di satu-satunya jembatan yang terletak di Zephyr Town. 'Apa aku terlalu kasar memarahi Dirk seperti itu? Aku tidak bermaksud memarahinya… tapi kalau tidak diingatkan dia pasti terlambat kerja lagi. Aku kakaknya, seharusnya tidak perlu terlalu membentak-bentaknya. Toh dia pasti mengerti akan kesalahannya.'

"Hey! Kenapa mukamu kusut begitu?" sahut seseorang dan menepuk bahuku.

Aku menoleh. 'Gretel?' batinku agak kaget dengan kehadirannya disampingku.

"Ada yang membuatmu terganggu?" Tanya Gretel lagi.

Mungkin Gretel bisa memberiku solusi. "Ah, Gretel… aku merasa bersalah. Tadi pagi aku membentak adikku Dirk karena dia lagi-lagi terlambat bekerja. Melihat wajahnya yang terlihat sedih dan takut? Membuatku merasa bersalah dan ingin menarik kata-kataku lagi. Apalagi aku ini satu-satunya keluarga yang dia miliki. Seharusnya aku tidak perlu memarahinya sampai seperti itu, bagaimana menurutmu?" tanyaku pada Gretel.

Dia terlihat berpikir sejenak. "Terkadang kita memang harus menasehati orang-orang."

Aku tersenyum mendengar jawabannya. "Kamu berusaha menghiburku ya?"

"Hehehe… habisnya aku tidak pernah tahu rasanya punya seorang ayah dan saudara. Aku hanya tinggal berdua dengan ibuku." Jawab Gretel dengan raut sedih.

"Gretel…" kataku ikut merasa sedih dengan jawaban Gretel.

"Ah! Aku tahu… mulai sekarang aku akan menganggapmu sebagai kakakku. Karena aku anak tunggal, aku tidak tahu rasanya punya seorang kakak. Bagaimana menurutmu?" Ujar Gretel dengan wajah yang berseri-seri.

"Eh… kamu mau menganggapku sebagai seorang k-ka-kak?" tanyaku agak terkejut dengan idenya.

"Iya, kamu tidak keberatan'kan? Ayolah…" kata Gretel memohon-mohon dengan jurus puppy eyesnya. Sebenarnya aku tidak keberatan, dulu aku juga ingin punya adik perempuan. Tapi… apakah aku bisa menganggap Gretel hanya sebagai seorang adik? Sebagian dari diriku tidak rela kalau menganggap Gretel hanya sebagai seorang adik.

"Baiklah, terserah kamu saja mau menganggapku apa." Kataku sambil tersenyum.

END OF FLASHBACK

"Jadi dia menganggapmu hanya sebagai seorang kakak, huh?" Tanya Freya sambil meletakkan telunjuk dan ibujarinya dibawah dagunya. Menyadarkanku dari lamunanku lagi. Tak terasa kami sudah sampai di jembatan Zephyr Town.

"Ya, itulah yang dikatakannya sebulan yang lalu."

"Dia menganggapmu sebagai seorang kakak. Tapi kamu sangat menyukainya?" Tanya Freya dengan wajah biasa.

"Bagaimana kamu bisa menanyakan hal seperti itu dengan biasa saja?" wajahku merah padam. Bisa kurasakan darah yang ada ditubuhku naik ke mukaku. "Untuk jawaban dari pertanyaanmu… Ya, Aku suka… bukan, aku cinta."

Ivan's POV end

Gretel's POV

"Untuk jawaban dari pertanyaanmu… Ya, Aku suka… bukan, aku cinta."

Aku membelalakan mataku. Ada rasa sakit di hatiku. 'Apakah aku cemburu? Cemburu? Tidak… tidak… tidak… tidak mungkin aku cemburu." Ucapku sambil menggeleng-geleng kepalaku. "Aku menganggap Ivan seorang kakak'kan? Tapi… kenapa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku?' batinku seraya memegang dadaku.

.

.

.

TBC

Konbanwa minna-san… Ini chapter ke – 2. Maaf kalo garing dan lain lain… tapi aku akan tetap berusaha sebaik mungkin. (^_^)9. Please review…