What are you in my life?
Disclaimer: Harvest Moon punya Natsume
Genre: Romance/family/friendship/humor (sedikit, atau gak ada sama sekali xD)
Rated: T
Chapter 4
Ivan's POV
"ITADAKIMASU~" kami bertiga serempak mengatupkan kedua tangan kami.
"Huh, kenapa Lloyd masih dingin begitu ya terhadapku?" Tanya Gretel sambil memakan Pasta Saladnya. 'Ah, lagi-lagi Lloyd…' batinku. 'Kenapa selalu Lloyd?' Tak sadar cengkramanku pada garpu mengerat.
"Memangnya aku salah apa sih?" lanjutnya lagi.
"Mungkin karena kamu jelek!" ejek Dirk. Membuat sudut-sudut urat kembali bermunculan dikepala Gretel.
'Kamu masih berusaha mendekati Lloyd?' pikirku.
"Tentu saja, aku yakin kok kalo Lloyd itu orang yang baik." Jawab Gretel. Aku membelalakan mataku sedikit terkejut, 'Apakah barusan aku mengatakan yang kupikirkan?' kuterdiam sejenak.
"Begitu ya? Yah… semoga saja dengan kehadiranmu sifatnya bisa berubah." Jawabku sedikit kecewa.
Kulihat Gretel menaikan satu alisnya sejenak lalu mengangguk perlahan.
…
"GOCHISOUSAMA~" kami meletakan piring kotor ke wastafel. Kulirik jam tangan yang melingkar di tanganku.
"Jam 07:00." Gumamku. "Aku berangkat dulu ya. Dirk, jangan terlambat ke Zephyr Café. Jangan sampai kena marah Joan lagi." Ucapku pada adikku satu-satunya. Sebagai satu-satunya keluarga yang dimiliki Dirk, mau tidak mau aku menjadi panutan untuk Dirk. Dirk adalah tanggung jawabku.
"Iya, iya… jangan cerewet. Cepat sana jalan, nanti Freya nunggu kelamaan." Jawab Dirk dengan wajah cemberut. Aku terkekeh dan segera pergi. Kulihat Freya sudah menungguku di depan pintu rumahnya.
"Hey, Ivan… selamat pagi!" Freya melambai-lambaikan tangannya padaku.
"Selamat pagi Freya." Jawabku, senyuman manis terlukis diwajahku. Kuhampiri Freya dan berangkat ke tempat kerja bersama.
"Sarapan bersama Gretel lagi?" Tanya Freya.
"Yah… begitulah." Jawabku.
"Sejak kapan ini menjadi ritualmu setiap hari?" Freya mengangkan satu alis kanannya.
"Semenjak sebulan yang lalu, dan bukankah kamu sudah tahu itu?" tanyaku pada Freya.
Freya mengabaikan pertanyaanku dan menghentikan langkahnya. Langkahkupun ikut terhenti.
"Ivan… Apakah kamu benar-benar mencintai Gretel?" Tanya Freya menundukan kepala. Kurasakan pipiku memanas.
"K-kenapa t-tiba-tiba tanya s-sepeti itu?" tanyaku salah tingkah.
"Ivan… aku masih belum menyerah demi mendapatkan cintamu." Jawab Freya dengan nada sedih. Aku memandang Freya, terdiam sebentar dan tersenyum sedih.
"Freya, hentikan perkataan seperti itu. Aku sudah bilang aku tidak bisa mencintaimu lebih dari sahabat. Kamu termasuk orang yang special bagiku seperti Dirk. Dan-"
"Bagaimana dengan Sherry?" kata Freya cepat, memotong pembicaraanku. Genggaman tanganku mengerat. Dadaku menyesak mendengar nama itu.
"I-ivan? M-ma-maafkan aku… a-aku tidak bermaksud, a-aku tidak berpikir saat mengataka-" Aku segera berlalu, meninggalkan Freya yang masih mematung menyadari perkataan yang keluar dari mulutnya.
…
Aku menidurkan kepalaku dimeja. 'Hah… apakah aku terlalu jahat meninggalkan Freya seperti itu?' aku bertanya pada diriku sendiri. 'Gaaah! Kenapa malah menjadi masalah seperti ini sih?' aku mengacak-acak rambut strawberry blonde ku.
"Uh… Ivan-sensei…" aku mendongak dan mendapati salah satu muridku mengangkat tangan kanannya.
"Ya Steve?"
"Bell tanda pulang sudah berbunyi."
"Oh… maaf anak-anak. Baiklah, demikian pelajaran hari ini. Kalian dipersilahkan untuk pulang." Kataku sedikit malu dan tersenyum. Murid-murid segera meninggalkan kelas hingga kelas menjadi kosong. Tinggal diriku satu-satunya yang masih belum beranjak dari kursi yang aku duduki.
'Haah… bahkan aku tidak bisa mengajar dengan baik hari ini. Sebaiknya aku lekas pulang sekarang.' Gumamku dan lagi-lagi mendesah. Aku berdiri dan membereskan buku-buku yang masih dimeja dan segera beranjak untuk pulang ke rumah. Saat tiba di gerbang sekolah, kulihat tidak ada Freya yang biasanya menungguku untuk pulang bersama. Aku mendesah lagi untuk kesekian kalinya.
…
Sesampainya dirumah kutaruh barang-barangku di meja, mengambil salah satu buku dari rak buku disebelah sofa, dan merebahkan diriku di sofa. Membuka lembar demi lembar dari buku yang *berusaha* kubaca. Aku berhenti membaca dan menaruh buku yang masih terbuka di atas mukaku. Aku teringat lagi kejadian 4 tahun yang lalu.
FLASHBACK
"Ivan, bisakah aku berbicara denganmu?" seorang gadis berumur 15 tahun berdiri didepanku.
"Tentu saja Freya." Jawabku sambil tersenyum. Umurku dan Freya hanya terpaut 1 tahun saja.
"Ivan, bagaimana menurutmu kalau aku menyukai seseorang?" tanya Freya dengan kedua pipi yang memerah dan menundukkan kepalanya
"Um… aku rasa kau harus mengatakan perasaanmu yang sebenarnya." Kataku sambil menruh jari telunjukku dibawah dagu, pertanda aku sedang berpikir.
"Menurutmu begitu?" Freya mendongakkan kepalanya melihat tepat ke mataku.
"Ya, tentu saja." Jawabku dan tersenyum manis.
"Bagaimana kalau dia menolakku?" tanya Freya lagi.
"Apa kau sudah mencoba bertanya padanya?" Freya menggeleng. "Kalau begitu bagaimana kamu tahu kalau dia akan menolakmu?" lanjutku.
Freya hedak berbicara lagi, tetapi aku segera menambahkan, "Lagi pula… Kamu manis, pintar, dan dewasa. Kurasa tidak mungkin orang itu akan menolakmu."
"K-kau yakin dia tidak akan menolakku?" tanya Freya meyakinkan jawabanku.
"Tentu saja." Jawabku kembali tersenyum.
Freya terdiam dan menundukkan kepalanya lagi. "Kamu…" gumam Freya
"Maaf, barusan kamu bilang apa?" tanyaku, tidak terlalu mendengar jelas gumamannya.
"Orang yang aku suka adalah kamu Ivan." Kata Freya lebih keras. Mendongakkan kepalanya lagi dan menatap tepat dimataku.
Aku membelalakkan mataku, tidak menyangka kalau orang yang disukai Freya adalah aku. Tapi aku menyukai orang lain. "Freya…" kataku. "Maaf, aku memang menyukaimu tapi hanya sebagai sahabat, tidak lebih." Jawabku, membuang mukaku ke samping. Tidak berani menatap kedua mata Freya. "Aku menyukai-"
"Sherry." Jawab Freya memotong pembicaraanku, aku menoleh dan melihat wajahnaya. "Aku tahu itu." Lanjutnya. Wajahnya terlihat tegar, padahal aku tahu kalau hatinya pasti hancur.
"K-kau tahu?" aku tidak terlalu heran, entah kenapa Freya selalu bisa membaca semua pikiranku. "Iya, aku sudah mengenalmu dari kecil. Tentu saja aku tahu semua tingkah lakumu." Kata Freya sedikit terkekeh. "Kita masih bersahabatkan?" tanya Freya. Aku sangat mengagumi sifatnya yang dewasa.
Aku tersenyum. "Iya, tentu saja. Kau akan selalu menjadi sahabatku yang paling berharga."
FLASHBACK END
Aku merasa ada seseorang yang menarik-narik helai rambutku, membuatku tersadar dari lamunanku. Saat ku ambil buku yang menutupi mukaku, yang pertama kali kulihat adalah wajah seorang gadis yang menjadi topic utama di hatiku. 'Gretel?'
.
.
.
TBC
Ini dia chapter ke-4. Umm… apakah ceritaku alurnya terlalu cepat? Maaf kalau memang kecepetan. m(_._)m. terima kasih banyak bagi yang sudah membaca fic pertamaku ini. :D Review please?
To:
Daisy-chan: Thank you so much for reading my first fic. Yes, they like each other. But Ivan thinks Gretel love him as a brother or a father. I'm sooo happy that you said this story good :D. I hope you still think the same of this chapter.
