Pasti sekarang aku sudah mati.

Karena di depanku hanya ada kegelapan.

.

.

.

.


Sekarang, aku merasa kegelapan nan panas yang menyergapku tadi menjadi gelap yang dingin. Kurasakan tubuhku bergetar hebat karenanya.

"Bertahanlah Haibara. Sebentar lagi kita sampai." Yeah, kedamaianku kembali lagi. Aku dapat mendengar suara Conan sekarang. Aku senang sekali walaupun aku tidak mengerti dengan ucapannya.

"Ngg.. Ran-neechan, bisakah kau menggantikan bajunya?"

"Tentu." Ternyata Ran. Baguslah, dia selamat rupanya.

Rasa dingin itu sedikit demi sedikit berubah menjadi kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhku. Nyaman rasanya. Kegelapan yang kurasakan juga lama-kelamaan menjadi berwarna merah pudar yang lembut. Mataku seperti sudah mendapatkan nyawanya lagi. Tapi, tetap terlalu berat untuk dapat kubuka.

"Maafkan aku Conan-kun. Aku tidak bisa menjaga Ai-chan." Aku dapat merasakan rasa bersalah Ran saat ia bicara.

"Eh? Tidak apa-apa Ran-neechan. Yang penting dia selamat." Iya betul, Ran, aku 'kan sudah selamat.

"Oh, jadi aku tidak penting lagi nih?"

"Bu, bukan begitu.." Aku ingin tertawa mendengar jawaban Conan atas pertanyaan jahil Ran. Tapi, aku terlalu mengantuk untuk memperhatikan setiap ucapan mereka.

.

.

.

.


Aku duduk termenung di atas batang pohon yang tumbang, melihat luksian alam yang indah karya Sang Pencipta. Aku menoleh saat Conan menghempaskan dirinya di sebelahku. Aku menoleh kembali ke warna-warna mempesona yang ada di depanku dan merenung.

Aku tidak jadi mati rupanya. Well, padahal tidak ada bedanya kalau aku mati atau tidak 'kan?

"Kenapa kau menyelamatkanku?"

Kata Conan, Shinichi yang menghabisi para pembunuh itu dengan tendangan a'la sepak bola-nya. Sedangkan ia sendiri yang menyelam untuk menyelamatkanku.

Conan hanya tertegun setelah kuajukan pertanyaan itu, tapi ia tidak menjawab. Maka, ku ulang, "Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja?"

"Aku…" kudengar nada ragu dari suaranya. "Karena aku—"

"Karena kau sudah berjanji akan selalu melindungiku. Kau ingin bilang begitu 'kan?" kupercepat saja apa yang mau ia katakan. Aku sudah tidak mau berharap dia menolongku karena mencintaiku. Angan yang terlalu tinggi.

"I, iya."

Aku mendengus, "Kau sudah banyak mengambil keuntungan dariku."

"A, apa maksudmu?"

Aku menatap langit, pura-pura berpikir, "Yah.. Kau memelukku, juga menggantikan bajuku!" ku turunkan mataku untuk memelototinya.

Wajah Conan memerah. Hm, mungkin dugaanku benar.

"Enak saja! Aku 'kan memelukmu untuk membawamu ke permukaan. Lagipula, yang menggantikan bajumu 'kan Ran.."

"Oh. Maaf." Sekarang kurasakan wajahku yang memerah. Ku tundukan saja kepalaku. Salah ya.. kalau diingat-ingat lagi, aku mendengarnya berkata itu pada Ran. Waktu itu, aku tidak terlalu tersadar rupanya. "Te, terima kasih, ya."

"I, iya."

Kami hanya diam setelah itu.

.

.

"Wah, Conan-kun berduaan lagi dengan Ai-chan. Kalian pacaran ya?" suara ayumi yang begitu tiba-tiba dan terdengar sangat lugu membuatku terkejut. Pertanyaan yang terlalu polos.

"Tidak. Kau ini ada-ada saja." Conan membantah. Ah, betapa mudahnya ia mengatakan itu. Sulit bagiku.

"Lalu apa yang kalian lakukan?"

Ku coba menjawab setenang mungkin, "Kami sedang melihat pemandangan. Kalian mau ikut?"

"Tidak. Kita harus kembali, Ai-chan. Liburan sudah berakhir."

.

.

.


Ng... kayaknya di chapter ini terlalu sedikit.. Hmm.. *pura2 mikir*