Sehari setelah pulang dari acara berkemah, aku dan yang lainnya kembali masuk ke sekolah. Hari pertama masuk ke sekolah bertepatan dengan hari ulang tahun sekolahku. Teitan-Shougakkou. Jadi, dengan berbaik hati, para guru mengadakan pesta bagi kami semua.
Ayumi bergumam di belakangku. Aku menoleh dan heran melihat tatapan kagumnya.
"Ai-chan, gaunmu manis sekali!"
"Terima kasih."
.
.
.
.
Suara sang MC menggema di seluruh ruangan. Apa lagi sekarang?
"Nah, sekarang silahkan mencari pasangan berdansa kalian. Ulang tahun berarti bertambah umur. Tentunya kalian juga bertambah dewasa. Haha.. Ayo cepat.."
Kulihat siapa yang menjadi MC di acara ini. Aku seperti mengenal suara sombong dan menyebalkan ini.
.
.
Huh, benar. Shinichi.
Sekarang bagaimana ini? Ku edarkan pandangan dan melihat Mitsuhiko mengajak Ayumi berdansa dengan wajah merah padam. Kulihat Ayumi mengangguk kecil sambil tersenyum. Dan tak jauh dari sana, Genta memelototi Mitsuhiko. Hmm.. Kasihan benar Genta. Aku tahu bagaimana perasaannya. Yah.. Tapi, jiwa mereka tetap jiwa anak-anak. Paling tidak, Genta tidak akan merasa terlalu sakit sepertiku.
Aku tidak tahu akan berdansa dengan siapa. Aku hanya duduk termangu sambil memegang gelasku yang sudah kosong.
.
.
Tiba-tiba, seseorang mengulurkan tangannya padaku. Aku mendongak dan melihat Conan berdiri dengan canggung. Aku bingung, kenapa dia tidak ikut berdansa dengan yang lainnya. Paling tidak, dia tidak semerana aku 'kan? Dia masih punya penggemar yang anak kelas 4 itu.
"Kenapa kau duduk saja? Bukankah tadi kita disuruh mencari pasangan dansa?"
"Memang. Kau sendiri malah hanya berdiri di sini saja. Lagipula tidak ada mengajakku berdansa," jawabku angkuh.
Ku perhatikan Conan tersenyum kecil. Entah kenapa, sekilas tadi aku merasa melihat kilatan di matanya. Aku curiga.
"Apa?"
"Mmm… Bagaimana jika aku yang mengajakmu?"
Sudah kuduga, dari tadi ada yang disembunyikan. "Bagaimana jika aku menolak?"
A-ha. Aku berhasil membuatnya kesal. Keren!
"Ayolah!" Conan langsung menarik tanganku. Aku menurut saja. Di kepalaku terlintas banyak kemungkinan yang bisa menjelaskan semua ini. Aku berusaha agar imajinasiku tidak melayang ke mana-mana. Lagipula tanganku digenggamnya erat. Untung ruangan ini agak panas, jadi ia tidak akan curiga kalau tanganku berkeringat.
Dan kami mulai berdansa. Ku perhatikan Conan. Aku baru sadar dia sudah lebih tinggi dariku. Paling tidak bertambah 2 cm dariku. Lagu klasik mengalun pelan memenuhi seluruh ruangan yang sunyi. Fiuuh.. Akhirnya aku bisa tenang juga.
"Ai-chan." Aku sedikit tersentak. Conan tak pernah memanggilku dengan nama depanku. Dia biasanya memanggilku 'Haibara'. Ku angkat kepalaku perlahan untuk menatap matanya.
"Hmm?"
"Daisuki.*"
.
.
.
.
Aku terpaku. Aku tidak tahu, apa itu hanya imajinasiku saja atau memang nyata. Ku pandangi dia bingung. Wajah Conan kelihatan serius. Tidak ada sedikit pun tanda-tanda bahwa ia bercanda.
Aku tidak mau berpikir yang tidak-tidak. Aku berharap ia akan mengatakan, 'Aku sangat suka berteman denganmu.'
"Apa maksudmu?" akhirnya aku bisa bertanya setelah dapat mengendalikan diri.
"Daisuki, Ai-chan," akhirnya Conan mengulang ucapannya perlahan-lahan. Aku masih tidak percaya apa yang barusan kudengar. Jadi, aku hanya bisa diam.
Kulihat dia memalingkan muka. Kesal. aku jadi bertambah bingung harus bertingkah bagaimana.
"Aku mencintaimu, Ai Haibara.. Jangan buat aku berkata begitu dong!" Wajah Conan memerah. Ia menggerutu kesal.
Conan serius? Senyumku mengembang, lama-lama semakin lebar. Kulihat mukanya juga semakin memerah. Muncul niatku untuk mengerjainya.
"Buktinya?"
"Bu, bukti?" Suaranya terdengar gugup. Haha.. Aku berhasil.
"Iya, bukti.."
"Ng.. itu.."
.
.
.
Tiba-tiba cahaya menghilang, gelap. Tidak mungkin aku mati saat pesta tanpa merasakan apa-apa. Berarti ini bukan kematian. Dugaanku dikuatkan oleh teriakan banyak orang yang panik. Ternyata hanya mati lampu.
"Ini buktinya, Haibara," kurasakan nafas Conan berhembus pelan di dekatku. Terlalu dekat malah. Jantungku sendiri berdegup kencang. Rencanaku mengerjainya malah menjadi bumerang bagiku, huh! Dan Conan menciumku lembut.
Lampu kembali menyala. Kurasakan wajahku memanas. Sial! Ia menertawaiku!
"Kau puas?"
"Dasar detektif bodoh! Itu belum cukup tau!" aku tidak mau menyerah dengan kelemahanku sendiri.
Conan langsung diam dan menatapku bingung. Aku tidak mampu menahan tawaku untuk menyembur keluar.
"Lalu apa lagi dong?" Aku benar-benar tidak dapat menahan tawa sekarang. Tawaku meledak hebat. Terlalu nyaring malah. Conan manyun melihatku. Tawaku malah bertambah kencang.
"Hei, hei, jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya?" tanyaku di sela-sela tawa. Aku masih belum puas melihatnya kebingungan dan kesal.
Wajah Conan berubah serius lagi. "Maukah kau jadi pacarku?" Sikapnya terlalu berlebihan.
"Tentu saja tidak."
"Eh? Kenapa?"
"Pokoknya tidak."
"Haibara, tolong berikan aku penjelasan." Mukanya benar-benar memelas. Aku mencoba tertawa hanya dalam hati.
"Penjelasan?"
"Ya. Penjelasan yang logis." Wajah memelasnya berubah menjadi serius. Tapi, tetap ada gurat kesedihan di dalamnya. Oke, aku sudahi lelucon ini.
"Huh, dasar bodoh! Tentu saja aku juga suka padamu Conan.."
Mukanya kebingungan lagi. Aduh, detektif satu ini tidak mengerti, ya? Kuperjelas, "Aku tidak bisa menolakmu, Conan-kun.."
Ekspresi kecewanya berubah menjadi senyuman. Bahagianya aku bisa melihatnya tersenyum seperti itu.
Lagi-lagi, tindakannya mengejutkanku. Ia memelukku. Di sini, di depan orang banyak! Seharusnya aku malu atas tindakannya itu. Tapi, aku tanpa sadar aku memejamkan mata dan membalas pelukannya.
"Daisuki, Ai-chan.." ucapnya lembut tepat di telingaku.
"Daisuki, Conan-kun.." balasku tulus.
.
.
.
Kebahagiaanku benar-benar berada di puncaknya sekarang. Baru sekarang aku merasa bersyukur karena selamat dari pelukan kematian.
.
.
.
.
-THE END-
Haha... selesai juga *plok plok plok...*
Fanfict ini sebetulnya punya teman saya. Tapi karena gatel pengen ngubah sudut pandangnya (tadinya sudut pandang orang ketiga), terciptalah crita di atas ini. *JENG JENG...*
Atas izin teman saya itu, diterbitkanlah (emang matahari?) crita hasil gubahan ini...
