What are you in my life?
Disclaimer: Harvest Moon punya Natsume
Genre: Romance/family/friendship/humor (sedikit, atau gak ada sama sekali xD)
Rated: T
Chapter 7
Gretel's POV
Kulihat Ivan tidak menghabiskan makanannya dan berlalu begitu saja sebelum kami dapat mencegahnya. Mungkin dia memang sengaja karena dia tahu kami tidak akan membiarkannya pergi bekerja dengan keadaan seperti itu.
"Dasar Ivan… awas saja kalau sampai terjadi apa-apa padamu nanti!" Kata Dirk lebih pada dirinya sendiri. Aku tersenyum. Dibalik kata-kata Dirk yang tajam, sebenarnya dia mengkhawatirkan Ivan.
"Oi, Gretel. Apa rencanamu hari ini?" tanya Dirk.
"Sebenarnya hari ini aku ingin mengumpulkan barang-barang yang akan aku jual di Bazaar besok. Tapi aku tidak tahu apa saja yang akan aku jual, belum terpikirkan olehku… hehehe…" kataku sambil menggaruk kepala belakangku yang tidak gatal.
Dirk menghela nafas panjang, "Ternyata… Kau ini benar-benar bodoh!"
Muncul empat sudut dikepalaku, "Urusai! Memangnya kau tidak kerja hari ini?"
"Tentu saja kerja. Aku tidak mau kena marah Joan-baasan lagi. Kau tidak tahu kalau beliau sedang marah akan sangat mengerikan!" ucap Dirk dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Aku hanya bisa sweat drop mendengarnya, 'Seburuk itukah?' tanyaku dalam hati.
Tiba-tiba ada bohlam lampu muncul di atas kepalaku, "Ah! Dirk aku ikut ke Café ya. Aku ingin berbicara pada Marian." Kataku penuh semangat.
"Boleh saja sih, tapi… kenapa tiba-tiba kamu ingin ikut?" tanya Dirk.
"Hehe… aku ingin tanya Marian kira-kira aku jualan apa di bazaar besok." Kataku ceria. Aku cukup dekat dengan Marian dan Joan karena stand mereka di Bazaar dekat denganku.
"Terserah kau saja sih…" jawab Dirk.
…
"Wah… wah… kamu datang pagi sekali Gretel." Kata Joan-baasan padaku.
"Iya… Aku butuh bantuan untuk Bazaar besok." Jawabku.
Marian tersenyum manis padaku dan berkata, "Kalau begitu, apa yang ada dipikiranmu untuk bazaar besok? Dan Dirk, bisakah kamu menata meja-meja dan kursi-kursi sekarang?"
"I'm on it!" jawab Dirk seraya beranjak untuk mulai menata.
"Justru itu aku butuh bantuan, aku tidak tahu akan berjualan apa besok." Kataku sambil memainkan jari telunjukku. "Bagaimana denganmu, kamu mau jualan apa?" tanyaku pada Marian.
"Rencananya sih kami akan memasak dengan tema "Soup" seperti: Corn Soup, Onion Soup, Pumpkin Soup, dan lain-lain." Jawab Marian. Marian terlihat berpikir sebentar sebelum mulai berbicara lagi, "Bagaimana kalau kau membuat cake? Pasti banyak yang membelinya? Apalagi banyak anak-anak di sana."
Aku tersenyum lebar. "Benar juga, terima kasih atas idenya Marian. Tapi aku tidak terlalu pandai membuat cake." Kataku sedikit malu.
"Tenang saja, aku akan membantumu membuatnya. Ayo, kita membuatnya sekarang. Akan aku sipkan bahan-bahannya dulu." Kata Marian sambil tersenyum manis.
"E-eh? Sekarang? Tapi bukannya sekarang kau sedang bekerja?" tanyaku dengan ekspresi bingung.
"Tidak apa-apa… lagi pula, ada Dirk disini." Jawab Marian sambil menunjuk kearah Dirk.
"Sungguh… apa yang bisa kulakukan tanpamu Marian." Kataku sambil menggeleng-gelenggkan kepalaku.
"Kalau begitu, ayo kita mulai sekarang!" kata Marian seraya menarik lengan kananku menuju dapur.
…
"Lalu masukan kuning telur, cream cheese, fresh cream, fresh milk, lemon juice, dan vanilla. Aduk dengan rata." Kata Marian. Aku mengikuti semua perintah yang dia katakan. Sekarang ini kami sedang membuat Cheese Cake.
"Kalau sudah masukan adonan kedalam Loyang yang sudah ditaburi cookies." Kutuangkan adonan yang kupegang dengan perlahan.
"Oke… saatnya dipanggang di oven!" kata Marian dengan ceria. "180 derajat Celsius selama 10 menit." Marian mengatur Ovennya. "Sekarang tinggal menunggu matang." Lanjut Marian lagi.
"Ternyata tidak sulit ya." Kataku dengan ceria.
10 menit kemuadian…
TING! Suara oven yang menandakan Cheese Cakenya sudah matang.
Marian memakai sarung tangan anti panasnya dan mengambil Loyang Cheese Cake yang mengeluarkan bau sedap. (author ngiler xD)
"Wah… kelihatannya enak." Kata Dirk.
"Jangan kau makan Dirk! Ini untuk besok aku jual!" kataku sambil melindungi Cheese Cake buatanku.
"Che! Bagaimana kau tahu kalau ini rasanya enak dan layak untuk dijual kalau tidak kau cicipi terlebih dahulu? Lagipula kau membuatnya cukup banyak kok." Kata Dirk sambil melipat tangannya didepan dadanya.
Kata-kata Dirk menghantam kepalaku. 'Benar juga kata Dirk.' Kataku dalam hati. "B-baiklah… tapi hanya sedikit lho, jangan terlalu banyak!" kataku pada Dirk. Dirk tersenyum penuh kemenangan. "Yosh, Itadakimasu~" Dirk pun mencicipi Cheese Cake buatanku. Matanya berbinar-binar setelah menelannya. "Wah! Oishii…" kata Dirk lagi.
Setelah Dirk berkata begitu, mau tidak mau akupun menjdi penasaran dengan rasanya. Aku memotong sedikit Cheese Cakeku untuk aku, Marian, dan Joan-baasan coba. "Itadakimasu~" kata kami serentak. "Oishii~~" kataku dan Marian saat menelan Cheese Cake tadi. (author mau juga dong… xD)
Tiba-tiba pintu Café terbuka lebar dan sosok Nellie-basan muncul dari balik pintu tersebut, wajahnya terlihat sangat panic. "Dirk! Dirk! Tolong… Ivan…" kata Nellie-basan dengan nada panic.
DEG!
'Ivan?' tanyaku dalam hati. Kesadaran memukulku, 'Bukankah Ivan sedang dirumah Nellie-basan untuk mengjar Cindy dan Lauren?' tanyaku dalam hati.
Dirk segera berlari kearah Nellie-basan. "Kenapa? Ivan kenapa?" tanya Dirk ikut-ikutan panic.
"Ivan pingsan! Isaac dan aku membawanya kerumahmu, tapi ternyata tidak ada orang dirumah." Jelas Nellie-basan.
"Sekarang Ivan dimana?" tanya Dirk, lebih ke berteriak.
"Bersama Isaac di depan rumahmu." Kata Nellie-basan lagi. Dirk langsung melesat keluar, aku tidak jauh berada dibelakang Dirk. Terlihat Ivan yang tidak sadarkan diri berada di gendongan Isaac-jisan. Dirk cepat-cepat membuka pintu rumahnya yang terkunci. Setelah terbuka, Dirk menuntun Isaac-jisan menuju kamar Ivan. Isaac-jisan menidurkan Ivan di tempat tidurnya secara perlahan. Ivan masih tidak sadarkan diri, nafasnya tidak teratur.
Setelah memastikan keadaan Ivan baik-baik saja Dirk mendengar penjelasan Isaac-jisan dan Nellie-basan di ruang tamu, sedangkan aku masih berada di kamar Ivan untuk merawatnya.
"Badanmu panas sekali." Kataku seraya menaruh handuk yang sudah aku rendam dengan air dingin ke dahi Ivan. "Seharusnya kamu tidak memaksakan dirimu." Kataku lagi, tetap tidak ada jawaban dari lawan bicara. Aku memandang wajah Ivan yang sedang tertidur, tanpa sadar aku mengangkat tanganku untuk meminggirkan poni yang menutupi wajah manisnya. 'E-eh? A-apa-apaan aku ini? A-apa yang barusan kulakukan?' tanyaku dalam hati begitu menyadari apa yang barusan kulakukan. Dengan cepat kutarik kembali tanganku. Wajahku memanas seketika saat memandang wajah Ivan, kalau boleh jujur siapapun pasti akan mengakui kalau wajahnya sangat manis.
Aku menampar-namparkan pipiku. "Sadar Gretel… sadar…" kataku perlahan. Tiba-tiba pintu kamar Ivan terbuka membuatku terkejut.
CKLEK!
Dirk muncul dari balik pintu. "Masih belum sadar'kah?" tanya Dirk, aku menggeleng cepat. Dirk berjalan menghapiriku dan melihat wajahku yang memerah. Dirk menyeringai. "Kakakku manis banget ya kalau tidur, kalau aku cewek pasti bakal aku nikahi dia." Kata Dirk menggodaku. Aku membuang mukaku kesamping, pipiku semakin memanas.
Melihat reaksiku, Dirk menyeringai lebih lebar lagi. "Iya'kan Gretel? Kakakku manis'kan?" tanya Dirk dengan nada yang menjengkelkan. Aku langsung bangkit dari posisi dudukku. "A-aku p-pergi dulu, aku m-mau membuatkan bubur untuk I-Ivan. Daah." Ucapku salah tingkah dan segera berlalu. Aku mendengar Dirk tertawa terbahak-bahak.
Gretel's POV end
Ivan's POV
Aku merasakan sesuatu yang basah dan dingin menempel pada dahiku. Saat kubuka mataku hal pertama yang kulihat adalah ruangan kamarku. 'Hmm… kenapa aku bisa ada disini?' tanyaku dalam hati seraya bangkit dari tempat tidurku dan menahan handuk basah yang menempel di dahiku. Pada saat yang bersamaan pintu kamarku terbuka, sosok Dirk mulai muncul dari balik pintu.
"Dirk?" tanyaku lebih pada diriku sendiri. Dirk terlihat terkejut melihatku dan segera menghampiriku dengan berlari kecil.
"Ivan, kau sudah sadar? Syukurlah…" kata Dirk sambil menghela nafas lega. Dirk menatapku kembali, raut wajahnya berubah menjadi menyeramkan. "Dan apa yang kamu lakukan bangkit dari tempat tidur begitu?" Kata Dirk seraya mendorong kedua bahuku agar aku kembali ke posisi tidur. "Tadi aku sudah bilang'kan? Seharusnya hari ini kau istirahat saja! Kau selalu memaksakan dirimu! Tadi Nellie-basan menemukanmu pingsan dan berlari kepadaku. Tahu'kah kau betapa khawatirnya aku saat itu?" kata Dirk panjang lebar dan matanya berkaca-kaca.
Aku tersenyum sedih, kupeluk erat Dirk diatas dadaku. "Maaf membuatmu khawatir. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Dirk terdia, lalu cepat-cepat melepaskan pelukanku, "Gah! Aku bukan anak kecil lagi!" kata Dirk dengan pipi yang memerah. Aku hanya terkekeh.
"Oh iya, terima kasih banyak kau sudah mengurusku Dirk." Kataku pada Dirk.
"Sebenarnya yang mengurusmu dari tadi itu Gretel." Jawab Dirk.
"B-benarkah? Dimana Gretel sekarang?" tanyaku lagi, setelah melihat sekeliling kamar dan tidak ada tanda-tanda bahwa Gretel di sana.
Dirk mengangkat bahu. "Entahlah, tadi dia bilang sih ingin membuatkanmu bubur. Dia juga belum lama pergi dari sini." Jawab Dirk.
Tak lama kemudian terdengar pintu depan rumah kami terbuka. Suara seseorang yang sangat kukenal memanggil dari arah ruang tamu.
Ivan's POV end
.
.
.
TBC
Konbanwa minna-san… gomen udah beberapa hari aku engga update m(_._)m, karena badanku kemarin masih tidak terlalu fit. Tapi sekarang aku udah sehat kok… :D Chapter ini aku *berusaha* buat panjang karena kangen nulis fic ini hwehehehe xD. Btw, itu Cheese Cake recipesnya nggak betulan lho… jadi jangan ditiru xP tapi mungkin ada yang bener juga…
To:
Aimiera: Yup, syarat menikah sama Ivan memang harus minimal 4 hearts sama Dirk CMIIW. Hehehe… sekarang aku sudah sehat, maaf ya lama updatenya… xD enjoy this chapter…
Daisy-chan: I've been on my bed for days. I just met Amir in Grand Bazaar…. xD on 4th Winter, right? Sorry I haven't updating these days… Enjoy this chapter… xD
Sakunyan: Aww… terima kasih banyak xD. Iya, aku uda usahaain buat panjang tetep aja paling panjang cuma kurang lebih 1100 words. Oke… aku mampir deh ke ficmu…. xD enjoy this chapter…
