Title:Forgetable
Disclaimed :Naruto © Masashi Kishimoto
Genre: Angst, Family, Romance
Rating:T
Pairing: Belum ditentuin, tapi kayaknya NaruHina salah satunya
Warning : Semi-AU, dark!Naruto, OOC XD
.
Chapter 2. Akatsuki
.
"Akatsuki?"
Naruto—tampak berjalan bersama dengan Madara menjauhi Konoha setelah ia memutuskan untuk meninggalkan tempat dimana ia selalu saja di benci itu dan mengikuti Madara yang tampak sangat perduli dengannya. Madara tampak mengangguk dan terus berjalan santai agar Naruto bisa mengikuti jalannya.
"Aku hanya ingin membuat sebuah tempat yang menampung semua orang yang bernasib sama sepertimu—" Naruto kecil tampak menatap wajah Madara yang tertutup oleh topeng itu, nadanya tampak datar dan tanpa ekspresi, "sebuah kelompok yang terdiri dari orang-orang kuat yang tidak memiliki tujuan untuk kembali…"
"Apakah akan ada orang yang melukai dan menyiksaku lagi?"
…
"Camkan hal ini di dalam hatimu Naruto—" Madara berbalik dan berjongkok untuk mensejajarkan pandangannya kepada lawan bicaranya itu, "—aku tidak akan pernah menyakitimu, aku tidak akan melakukan apapun seperti yang dilakukan oleh para penduduk Konoha padamu. Kalau ada yang berani melukaimu, aku yang akan bertindak seperti orang tuamu."
"Ayah tidak pernah bertindak saat aku dilukai seseorang—"
"Maka itu tidak akan terjadi, kau akan melihatnya nanti Naruto," menepuk kepalanya pelan dan tersenyum di balik topeng orange itu. Mereka terus berjalan, semakin menjauh dari cahaya dan menuju ke kegelapan hutan yang ada di sekeliling mereka.
…
"Apakah ada kabar dari anbu tentang Naruto, Kakashi?"
Minato tampak cemas dan menatap Kakashi yang baru saja sampai di kantornya kembali setelah ia menyuruh untuk mencari jejak para penculik yang membawa Naruto itu. Kakashi tampak menghela nafas berat dan panjang, menatap sang guru yang tampak menunggu semua jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan darinya tadi. Yang ia inginkan hanyalah mengetahui kabar dari anak laki-lakinya itu.
"Ya, aku sudah mendapatkan kabar dari mereka—" Kakashi menghela nafas panjang dan berat, mencoba untuk mencari kalimat yang tepat untuk memberitahu dan menjelaskannya pada gurunya saat ini, "—mereka menemukan mayat dari para penculik itu, tetapi tidak menemukan sosok Naruto dimanapun. Tetapi, terdapat banyak darah yang diduga adalah darah milik Naruto—yang disebabkan karena pukulan bertubi dari para penculik itu…"
…
"Lalu, kau tahu kemana Naruto menghilang?"
"Sayangnya, entah bagaimana caranya bahkan Kuchiyoseku tidak bisa mencium jejak mereka—" Kakashi menggelengkan kepalanya, menatap kearah Minato yang membalas tatapannya dengan tatapan tidak percaya. Apakah benar tidak ada satupun petunjuk dimana keberadaan anak laki-lakinya itu—bagaimana bisa "—Minato-sensei?"
"Terus selidiki dimana dan bagaimana Naruto bisa menghilang—sampai kapanpun, dan bagaimanapun caranya," Minato menatap Kakashi dengan serius dan Kakashi hanya bisa mengangguk dan segera keluar dari kantor gurunya itu. Minato tampak terdiam sejenak, mengacak rambutnya dan mencoba untuk merilekskan dirinya.
Walaupun ia terlihat tidak perduli dengan Naruto, tentu saja sebagai ayahnya ia sangat khawatir dengannya. Ia hanya tidak ingin para penduduk desa semakin membencinya karena ayahnya—selaku hokage melindunginya, dan membuatnya semakin terikat. Alasan lain adalah, karena Naruto selalu mengingatkannya akan sosok Kushina.
Entahlah—walaupun wajah mereka berbeda, entah kenapa ia selalu terbayang tentang Kushina setiap kali ia melihat Naruto. Mungkin—apakah karena mereka sama-sama Jinchuuriki dari Kyuubi, atau memang karena Naruto mewarisi sifat Kushina yang terlalu bersemangat dan juga tidak mudah menyerah dengan apa yang ada di depannya.
"Kuharap kau selamat Naruto—"
…
Di sebuah desa—yang selalu diguyur oleh hujan, tampak beberapa orang yang memakai sebuah jubah berwarna hitam dengan motif awan berwarna merah tampak sedang berada berkumpul, menunggu seseorang saat tiba-tiba Madara muncul bersama dengan Naruto yang bersembunyi di belakangnya.
"Siapa anak itu?" seorang pemuda berambut orange dengan mata berwarna biru tampak mendekat dan menatap Naruto serta Madara di sana. Madara tidak mengatakan apapun, hanya menatap kearah Naruto yang masih bersembunyi di belakangnya.
"Na—Naruto," sedikit takut dengan orang-orang yang ada di sekitarnya, karena usia orang-orang itu yang lebih tua darinya sangat jauh.
"Anak yang lucu—" seorang perempuan berambut biru dengan hiasan kertas yang terdapat di atas kepalanya itu tersenyum dan membungkuk sedikit menatap kearah Naruto.
"Kenapa kau membawa anak kecil kemari?" kali ini seorang pria berambut hitam cukup panjang dengan mata yang tajam dan lidah seperti ular yang bertanya pada Madara.
"Ia adalah seorang Jinchuuriki, di dalam tubuhnya terdapat rubah ekor Sembilan," walaupun suaranya tampak sedikit berbisik, semua yang ada di sana sudah bisa mendengarnya, dan mereka menatap Naruto dengan tatapan terkejut.
"Anak sekecil ini? Yang benar saja—" pria lain yang berambut merah dengan mata yang hampir senada itu menatap tidak percaya Naruto yang hanya menatapnya balik tanpa mengatakan apapun.
"Anak kecil hanya akan menambah pengeluaran kelompok ini, apa yang kau fikirkan—" Naruto menatap bingung pria yang memakai cadar yang hampir menutupi seluruh wajahnya selain matanya yang memiliki iris hijau pucat.
"Kau hanya memikirkan uang saja Kakuzu, yang harus dilihat adalah kekuatannya…"
"Ia membunuh lima orang Jounnin Konoha, yah—walaupun yang melakukannya adalah Kyuubi di dalam tubuhnya," Madara menatap semua yang ada di sana, "setidaknya perkenalkan saja siapa kalian…"
"Mulai dariku, namaku adalah Konan—aku berasal dari Amegakure," satu-satunya perempuan yang berada di sana itu tampak tersenyum dan menepuk kepala Naruto pelan. Membuat anak itu tampak semakin merasa aman bersama dengannya, "kau bisa memanggilku onee-san!"
"Namaku adalah Yahiko, kau bisa memanggilku Pain—sama seperti Konan, aku berasal dari Amegakure…" Naruto menatap bingung pemuda berambut orange itu, yang matanya terlihat aneh dan terlihat seperti mayat hidup di matanya.
"Orochimaru…" pria berambut hitam panjang dengan lidah seperti ular melanjutkan.
"Namaku adalah Sasori—berasal dari Sunagakure," pemuda berambut merah itu tampak tersenyum dan hanya menatap Naruto yang mengangguk.
"Kakuzu, Takigakure…"
"Hidan, Yugakure—"
"Kami adalah Zetsu—" bingung dengan sebutan kami, Naruto tidak berani untuk menanyakan tentang itu pada orang bernama Zetsu itu.
"Namaku adalah Kisame," kali ini tampak pria yang mirip seperti ikan hiu yang menunjukkan senyuman dengan deretan gigi tajamnya yang persis seperti gigi ikan hiu. Walaupun mereka tampaknya tidak akan menyakiti Naruto, tetapi ia tetap tampak gugup dan tidak bergerak dari posisinya dan meremas jubah Akatsuki milik Madara.
"Ayolah Naruto, mereka tidak akan melukaimu," Madara tampak mencoba untuk membuat Naruto lebih rileks. Mendorong tubuh kecil itu, hingga berada di sekeliling orang-orang itu, Naruto tampak sedikit gugup sebelum pada akhirnya ia membungkukkan badannya di depan beberapa orang dewasa itu.
"Na—namaku Naruto, dan aku berasal dari Konoha—sa-salam kenal!" mencoba untuk tersenyum dan menundukkan kepalanya, tidak ingin melihat apa yang akan terjadi setelah ia memperkenalkan dirinya itu.
"Anak yang lucu," Konan tampak menggendong dan memeluk Naruto, mengusapkan pipinya di wajah Naruto dan menepuk kepala Naruto, "tenang saja, onee-san akan melindungimu kalau ada yang berbuat jahat padamu…"
"Entah kenapa Konan tampak senang sekali dengan anak itu—" Sasori tampak sweatdrop melihat sifat Konan yang tidak seperti biasanya.
"Mataku tidak pernah salah—ia pasti akan berguna untuk mencapai tujuan kita. Lagipula, ia juga salah satu target kita—sebagai Jinchuuriki dari Kyuubi bukan?" Madara menatap Naruto dengan tatapan dingin, dan semua anggota Akatsuki tampak menatap Naruto juga.
"Baiklah, terserah kau saja—tetapi aku tidak ingin repot mengurusinya," Hidan menghela nafas dan mengacak rambut putihnya, semuanya tampak mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Hidan.
"Kita lihat saja bagaimana perkembangannya," Madara tersenyum di balik topengnya dan berjalan untuk menghampiri Konan dan juga Naruto.
…1 Tahun Kemudian…
Masih tetapi hujan yang turun di Amegakure, tampak Naruto yang sudah berada di sana bersama dengan semua anggota Akatsuki sedang menunggu seseorang di depan sebuah gua yang ada di salah satu sisi desa kecil yang sudah mati itu. Dengan menggunakan jubah yang sama dengan anggota Akatsuki lainnya, ia berjongkok dan bermain sendiri dengan air hujan yang ada di sekelilingnya.
"Naruto-kun, apa yang kau lakukan sendirian disini?"
Menoleh saat mendengar namanya di panggil, Naruto menemukan Konan yang tersenyum kearahnya dan memakaikan tudung kepala pada Naruto agar tidak terkena hujan secara langsung.
"Menunggu Tobi otou-san, dan juga Pein-nii-san," berdiri setelah sebelumnya berjongkok, menoleh kearah Konan dan tersenyum, "soalnya, aku ingin berlatih lagi dengan mereka berdua!"
"Kenapa tidak berlatih bersama onee-san saja?"
"Soalnya onee-chan gampang dikalahkan sih," nyengir lebar dan menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala, mendengar itu Konan tampak tetap tersenyum, tetapi empat persimpangan di kepalanya sudah sangat jelas terlihat. Dan yang terjadi selanjutnya adalah Konan langsung menjitak kepala Naruto, "Ow, ow—gomenne nee-chan!"
"Itu karena aku tidak ingin bertarung dengan serius kalau melawan adikku yang lucu ini bodoh," mengacak rambut Naruto membuat yang bersangkutan cemberut dan membenahi rambutnya.
"Makanya Konan-nee-chan harusnya lebih serius saat berlatih!"
"Tidak, oh—ngomong-ngomong, memang mereka berdua kemana?" Konan melepaskan Naruto yang sudah meronta ingin dilepaskan karena tubuhnya yang juga terangkat karena lebih pendek daripada perempuan yang sudah ia anggap sebagai kakak perempuannya itu.
"Entahlah, katanya menjemput seseorang—tapi aku juga tidak tahu," Naruto mengaduh sambil memegangi kepalanya, mulutnya membentuk kurva maksimum, membuat wajahnya semakin imut dan itu selalu membuatnya menjadi korban cubitan dari Konan—seperti sekarang, "ittei-ittei! Konan-nee lepaskan!"
"Aku tidak mengerti kenapa para penduduk desa membencimu—" memeluk erat kembali Naruto yang tampak hanya bisa bersweatdrop ria melihat Konan, "—kau itu berdosa, karena sudah terlahir menjadi anak yang terlalu imut seperti ini!"
"Sepertinya kalian berdua sedang asik," suara yang dikenal Naruto itu membuatnya berbalik untuk menemukan Madara yang berjalan bersama dengan Pein di tengah hujan itu. Baru saja akan menghampirinya, saat ia melihat seorang pria berambut hitam panjang yang diikat, menggunakan tanda desa yang tentu saja ia kenal—dan membuatnya ketakutan karena itu.
Itu adalah lambang desa Konoha—yang sudah membuangnya hingga sekarang…
Dengan segera mengeluarkan sebuah kunai—melemparnya dengan kecepatan cukup tinggi menuju ke arah pemuda berambut hitam itu. Baik Madara, Pein, Konan, maupun pemuda itu tampak terkejut sebelum pemuda itu tampak menghindar meskipun serangan itu menggores wajahnya sedikit.
"Naruto-kun, apa yang kau lakukan?" Konan menghentikan Naruto yang akan menyerangnya kembali. Saat ia menatap matanya, mata biru Naruto sudah akan berubah menjadi merah—menunjukkan Kyuubi yang akan menguasai tubuhnya, lagi. Madara yang menyadari itu dengan segera berjalan dan menepuk kepala Naruto.
"Nee, Naruto-kun—tidak apa-apa ia juga sama sepertimu!" tersenyum ramah dan mencoba untuk menghentikan Naruto yang akan mengeluarkan kekuatan Kyuubi—atau dengan kata lain adalah membiarkan tubuhnya di kendalikan oleh Kyuubi.
"Sama sepertiku?" Naruto memiringkan kepalanya, menoleh kearah Madara yang mengangguk mantap. Pein sendiri tampak mengangguk juga, mengiyakan perkataan dari Madara.
"Namikaze Naruto—" suara pemuda itu menarik perhatian dari Naruto, saat pemuda itu tampak mengenalnya. Mencengkram jubah milik Madara, menatap dari balik punggung Madara, menemukan mata pemuda itu yang mirip dengan mata ayah angkatnya itu, "—itu namamu bukan?"
"Ke—kenapa kau bisa tahu?"
…
"Bagaimanapun aku adalah warga Konoha—bahkan sebelum kau menghilang karena diculik, anak dari Yondaime Hokage dan juga pemilik monster Kyuubi di dalam tubuhmu," hanya bisa diam dan menutup matanya erat—takut dengan kata-kata yang keluar dengan nada monoton itu. Sama seperti semua warga yang setelah itu segera memukul dan juga menganiayanya dulu.
Suara langkah pemuda itu tampak mendekat, hingga Madara bergeser dan membuat sosok pemuda itu sudah ada di depannya—dan ia segera berjongkok. Naruto hanya menutup matanya dan tidak berani menatap pemuda itu sama sekali.
"Aku punya adik yang seusia denganmu—" menepuk kepala Naruto dengan lembut dan juga pelan, tersenyum lembut kearahnya, "—namaku adalah Uchiha Itachi, salam kenal…"
…
"Ia membunuh semua anggota klannya yang berada di Konoha—tetapi, ia gagal membunuh adiknya yang seusia dengan Naruto—" Pein tampak mengadakan pertemuan dengan semua anggota Akatsuki—selain Naruto dan juga Itachi, "—ia memiliki Mangekyo Sharingan, pasti akan berguna. Ia juga masuk kelompok Anbu pada usia yang cukup muda…"
"Jadi—dia adalah pemilik mata Sharingan juga," tampak tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Pein, Orochimaru hanya tersenyum penuh arti—seakan merencanakan sesuatu yang seharusnya sudah ia lakukan sejak dulu—pada peneruh dari klan Uchiha, baik Madara maupun Itachi saat ini.
…
Itachi tampak duduk di salah satu tepi jendela dimana ia hanya bisa melihat ke arah hujan yang terus turun kala itu. Ia tidak berbicara lagi sepatah katapun setelah perkenalan singkatnya dengan Naruto. Mengintip dari balik pintu, Naruto menoleh dan menatap Itachi tanpa berkedip sedikitpun.
"Ada perlu apa?"
"Tidak apa, hanya ingin bertemu denganmu," merasa tidak ada gunanya untuk mengintip lagi, Naruto berjalan memasuki tempat itu sedikit ragu untuk mendekati pemuda bermarga Uchiha itu, "boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hn—"
"Siapa adik laki-laki Itachi-nii?" memiringkan kepalanya, Naruto duduk di dekat tempat Itachi duduk.
"Namanya adalah Sasuke Uchiha, seusia denganmu—" Itachi menatap Naruto dan tersenyum tipis sambil menepuk kepala anak berusia 6 tahun itu. Tidak suka dianggap anak kecil, sama seperti Konan dan yang lainnya memperlakukannya, Naruto cemberut sambil memegangi kepalanya, "—dan ia suka cemberut sepertimu…"
Naruto melihat Itachi yang tertawa pelan, tampak menyukai saat dimana ia menceritakan tentang adik laki-laki bernama Uchiha Sasuke itu.
"Apakah karena Itachi-nii menyayanginya, makanya Itachi-nii tidak bisa membunuhnya?" bukan kata-kata membunuh yang keluar dari anak berusia 6 tahun itu yang menarik perhatiannya, tetapi perkataan yang tepat ditujukan untuknya itulah yang menarik perhatiannya—seolah anak itu tahu apa yang ia lakukan dan apa tujuannya.
"Kau bisa menjaga rahasia?"
"Ya!" tersenyum lebar dan membuat Itachi tersenyum lembut ke arahnya dan menepuk kepala Naruto kecil saat itu. Naruto menunggu cerita yang ingin ia dengar, sementara Itachi tampak terdiam sejenak sebelum mengetuk dahi Naruto dengan telunjuk dan jari tengahnya.
"Lain kali saja…"
"EEEH! Kenapa begitu Itachi-nii!" Naruto tampak cemberut kembali, membuat Itachi tampak berfikir kalau Naruto itu sama lucunya dengan adik laki-lakinya yang ada di Konoha saat ini.
"Suatu hari aku akan menceritakannya padamu—" Naruto hanya diam dan mengangguk, Itachi melihat Naruto dengan tatapan penasaran, "—seberapa kuat kau hingga semua orang membiarkanmu tetap disini Naruto?"
"Entahlah—" tampak menaruh telunjuknya di dagu, seolah berfikir tentang apa yang menjadi alasan para anggota Akatsuki untuk tetap membiarkannya di tempat mereka, "—tetapi Pein-nii dan juga otou-san berkata, kekuatanku setara dengan Chuunin. Apakah itu kuat?"
…
"Masih belum," menghela nafas berat dan menutup matanya—menyenderkan kepalanya di sisi jendela di depannya, 'Tetapi, dalam waktu 1 tahun—dan usianya baru saja beranjak 6 tahun. Ia akan menjadi lebih kuat dari sekarang…'
…3 Bulan Kemudian…
Sepertinya karena Itachi adalah anggota termuda kedua setelah Naruto, membuatnya semakin dekat dengannya. Itachi sendiri sudah menganggapnya sebagai adiknya sendiri, sementara Naruto juga sudah lebih dekat dengan Itachi daripada yang lainnya.
"Nee, Itachi-nii—" sedang berlatih dengan Itachi untuk melempar kunai saat ia tiba-tiba mengajaknya berbicara, tentu saja sambil terus berlatih dan tidak ingin berhenti begitu saja. Itachi yang mendengar namanya dipanggil tampak menatap Naruto.
"Ada apa?"
"Kyuu bilang—hati-hatilah pada Orochi jii-san," Itachi menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan apa yang dimaksud oleh Naruto tentang Orochimaru. Memang ia sudah curiga dengan tatapan Orochimaru setiap ia berada di dekatnya, tetapi ia tidak menyangka kalau Naruto juga akan menyadarinya, "tatapannya aneh setiap melihat Itachi-nii…"
"Apa maksudmu dengan tatapannya aneh?"
"Rasanya, seperti—Orochi-jii-san ingin memasuki tubuh Itachi-nii, seperti yang dilakukannya pada beberapa orang yang pernah menjadi bahan eksperimennya," Itachi jadi bingung—sebenarnya apa saja yang dipelajari oleh anak berusia 6 tahun ini—selama 1 tahun bersama dengan kelompok kriminal seperti Akatsuki, "lalu, saat aku bertanya pada Kyuu, katanya Orochi-jii-san tertarik dengan mata Itachi-nii yang sama dengan otou-san!"
'Mangekyou Sharingan?'
"Naruto tidak ingin Itachi-nii jadi bahan penelitian Orochi-jii-san, makanya hati-hatilah!" tersenyum lebar, menatap Itachi yang sedikit terkejut sebelum membalas senyumannya dan mengangguk mengerti.
"Kau sangat perduli pada semuanya eh?"
"Ah, itu karena kalian tidak pernah melukaiku—maksudnya tentu saja selain saat latihan, tetapi setelah itu Konan-nee akan merawat lukaku," ia juga menghentikan serangannya menatap kearah atas dan menyilangkan tangannya di belakang kepala, "tentu saja aku sudah menganggap kalian keluargaku, dan tentu saja aku perduli!"
"Lalu bagaimana dengan Yondaime Hokage ayahmu?"
…
"Ia hanya perduli pada Naruko, bahkan saat aku menghilang ia sama sekali tidak pernah mencariku sampai sekarang," menggenggam jubah akatsuki yang ia pakai, menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan apapun lagi sebelum Itachi tersenyum dan menepuk kepalanya.
"Sudahlah—ayo kita masuk…"
"Oke!"
…2 Bulan kemudian…
"Kalau saja Naruto tidak memperingatkanku lagi, mungkin kau sudah bisa mengambil tubuhku Orochimaru—" Itachi menghela nafas dan melihat Orochimaru yang tampak menatap kesal ke arah sang pemuda bermarga Uchiha tersebut. Benar apa yang dikatakan oleh Naruto, Orochimaru mencoba untuk mengambil alih tubuh Itachi, untuk mendapatkan Sharingan miliknya itu.
Dan karena itu juga ia sudah mempersiapkan semua rencana hingga pada akhirnya Orochimaru gagal untuk mendapatkan mata miliki klan Uchiha itu, bersamaan dengan gagalnya ia mendapatkan tubuh Itachi.
"Brengsek—" menatap kearah Naruto yang juga ada di dekat mereka, anak berusia 6 tahun itu hanya tertawa dan seolah menikmati setiap pertarungan yang ada di depannya. Seolah apa yang ia lihat itu sudah wajar di lihat oleh anak seusianya.
"Yang memberitahu Kyuu bukan aku Itachi-nii!"
"Ya, ya—sampaikan terima kasihku padanya," Naruto mengangguk, Itachi kembali menatap Orochimaru yang entah bagaimana bisa keluar dari Genjutsu yang dihasilkan Sharingan miliknya. Dan saat Itachi dan Naruto sadar, Orochimaru sudah tidak ada lagi di dekat mereka.
"Eh, dimana jii-san?"
…
"Tidak usah fikirkan orang itu Naruto," tiba-tiba tubuh asli Itachi sudah berada di samping Naruto, menggandeng tangannya dan menepuk kepalanya. Berjalan menjauhi tempat itu, "sebaiknya kita katakan tentang Orochimaru pada Pein dan juga ayahmu…"
"Uhm!"
…1 Bulan kemudian…
"Whoa, apa itu—" Naruto tampak menatap dengan matanya yang berbinar-binar, benda berwarna putih dengan bentuk seperti sebuah burung. Deidara, adalah anggota baru Akatsuki yang menggantikan posisi Orochimaru yang menghilang setelah mencoba untuk mengambil alih tubuh Itachi, "hei-hei—Dei-nii-san, apa itu?"
"Ini adalah seni—" Deidara menggerakkan patung tanah liat itu hingga terbang ke atas—dan saat berada di atas, benda itu meledak dengan daya ledakan yang cukup besar. Mulut Naruto membuka, takjub dan kagum dengan apa yang ia lihat saat itu.
"Bisa buat dengan bentuk lain?"
"Tentu saja, tetapi yang kumaksud dengan seni yang sesungguhnya tentu saja adalah ledakan—" Deidara menghela nafas dan menatap Naruto yang hanya mengangguk, meskipun tidak mengerti apa yang dikatakan oleh anggota Akatsuki itu, "—ingin melihat bentuk lainnya?"
"Bagaimana dengan anjing? Atau kodok, atau mungkin kucing?"
"Ternyata—bagaimanapun kau masih tetap anak kecil—tidak mengerti arti seni yang sesungguhnya," Deidara menundukkan kepalanya, menatap Naruto yang tampak tersenyum dan memiringkan kepalanya bingung dengan apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
"Eh! Usiaku sudah 7 tahun Dei-nii!"
"Tetap saja masih kecil!"
…6 tahun kemudian…
"Kau yakin akan melakukannya Naruto?"
Pein dan juga yang lainnya tampak menatap kearah Naruto saat mereka berada di hutan dekat sebuah gerbang menuju ke desa yang sangat besar itu. Pemuda berambut kuning—yang tidak berbeda dari 6 tahun yang lalu namun lebih terlihat tinggi dan juga dewasa itu kini tampak hanya memakai jubah polos berwarna putih yang menutupi kaos polosnya.
"Yep, kalau sampai mereka tahu kalau Pein-nii dan yang lainnya ada disini—bisa gawat bukan?"
Tersenyum lebar sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala, Naruto menatap seluruh anggota Akatsuki yang mengantarnya untuk melanjutkan rencana yang sudah dibuat oleh Madara dan juga Pein sejak Naruto pertama kali berada di kelompok mereka.
"Baiklah, kalau ada apa-apa—kami akan segera menemuimu," Konan menepuk kepala pemuda yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu dan mengacak rambutnya.
"Berhati-hatilah, para penduduk sudah menganggapmu mati—sebelum menemuinya, jangan sampai ada seseorangpun yang melihatmu Naruto—" Itachi menambahkan perkataan Konan, dan melihat Naruto yang tampak kesal dengan yang dilakukan onee-channya itu.
"Baiklah, tenang saja! Rencanaku ini pasti akan berhasil—" Naruto tersenyum tipis, tampak tatapannya datar dan juga dingin serta kosong, "—aku pasti akan bisa menghancurkan Konoha, untuk dendamku, dan juga untuk nii-san, nee-chan, dan juga otou-san!"
…
"Minato-sensei," Kakashi tampak menatap gurunya yang baru saja keluar dari rumahnya itu. Ia melihat sorot mata gurunya yang kosong dan juga tampak lelah—ia tahu, kalau lagi-lagi gurunya itu tidak tidur sama sekali dan terus memikirkan keselamatan anak laki-lakinya yang menghilang sejak 7 tahun yang lalu itu.
"Ah, Kakashi—selamat pagi!"
"Sensei tidak tidur lagi?" melanjutkan perjalanan mereka, Kakashi menghela nafas dan hanya bisa melihat gurunya itu dengan tatapan cemas. Minato hanya menundukkan kepalanya, tersenyum tipis sebelum mengangguk pelan tanpa menatap Kakashi yang pasti akan memarahinya habis-habisan setelah ini.
"Sudah kukatakan sejak dulu bukan sensei, jangan menyalahkan dirimu—ini bukan salahmu sepenuhnya," menggaruk kepala belakangnya, Kakashi mencoba untuk menghibur Minato. Sejak 7 tahun yang lalu, tidak pernah sedikitpun Minato berhenti untuk mencari Naruto kemanapun. Tetapi—sosoknya seolah tertelan oleh bumi, membuatnya tidak pernah ditemukan bahkan oleh anbu yang terhebat sekalipun.
"Kalau saja sejak dulu aku mencoba untuk memberikannya lebih banyak perhatian—mungkin penduduk desa tidak akan mungkin memperlakukannya seperti ini," Minato menaiki tangga menuju ke ruangannya—diikuti dengan Kakashi yang masih melihat punggung gurunya itu yang sudah berjalan di depannya, "kalau kami-sama memberikan kesempatan untukku bertemu dengan Naruto, akan kulakukan apapun untuk menebus kesalahanku padanya 7 tahun yang lalu…"
"Tetapi, bahkan satupun petunjuk tidak pernah mengarah pada dimana Naruto berada sensei, hampir mustahil kalau—" Minato merasakan kehadiran seseorang di dalam ruangannya. Chakra yang asing, yang mengganggu fikirannya. Kakashi yang menyadari itu juga segera menghentikan pembicaraannya dan membuka pintu perlahan.
Posisi kursi tampak membelakangi pintu, tetapi ia tahu ada seseorang yang duduk di kursi itu.
"Siapa disana…" Minato sudah siap dengan kunainya begitu juga dengan Kakashi. Sosok yang duduk di kursi itu tampak tersenyum, sebelum memutar kursinya dan menatapnya dari balik jubah berwarna putih itu—sosok yang tidak mungkin ia lupakan sampai kapanpun.
Tangannya bergerak, melepaskan tudung kepalanya dan menunjukkan rambut kuningnya dan menatapnya dengan mata beriris biru yang sama dengannya.
"Merindukanku—Otou-san?"
…
To Be Continue
…
Yay XD maunya tadi langsung lompat timeline jadi 8 tahun kemudian—tapi entah kenapa jadi pengen cerita dulu gimana kehidupan Naruto disana walaupun Cuma 1 tahun lebih ' '
Oh, ada beberapa Trivia :
Naruto manggil Tobi / Madara pakai sebutan 'Otou-san' karena setelah 1 tahun sama mereka, tentu saja Naruto sudah jadi seperti anak angkat Madara ^ ^;
Ah, urutannya benar kan? Itachi itu muncul pas usia Naruto sama Sasuke 6 tahun, dan Orochi berhenti dari Akatsuki karena gagal dapetin tubuh Itachi. Deidara juga muncul buat gantiin Orochimaru.
Walaupun Naruto tinggal sama Akatsuki—dan tentu saja dia itu anggota dari Akatsuki, tapi Naruto ga pernah sama sekali diperbolehin ambil misi. Dia cuma sering lihat anggota Akatsuki ngebunuh orang, bertarung, dan tentu saja latihan sama semua anggota Akatsuki termasuk Tobi / Madara.
Disini Madara sejak awal sudah dikasih tahu kalau dia anggota Akatsuki, tapi cuma jadi support untuk pertamanya :)
Thanks for Review~
Miku in Hana : Salam kenal juga Miku-san ^ ^ dan ini updatenya :)
Chiffon : yep, Yami Naruto :) dan Strong!Naru
Noella Marsha : Ini lebih parah dari Sasuke =w=b dia emang sudah jahat dari situnya.
Haruka Hayashibara : belum ditentuin ini Yaoi atau Straight… tapi kayaknya straight deh walaupun saya Fujoshi… *eh*
Akira : apakah ini—flash update? Dan balas dendam dia ga terang-terangan ^ ^; masalah Rinengan, entahlah…
Darksketch : mau gimana lagi kalau dari dia baru lahir aja udah dapet perlakuan gitu. Pastinya dia jadi dingin kan ^ ^
Achan : sebenernya ga missing nin—dia balik lagi kok ^ ^; dan kan ga ada yang tahu kalau Naruto yang bunuh semua penculik dan ikut jadi anggota Akatsuki :)
Ciel-Kky30 : Pastinya ^ ^ ntar ada tim 7 juga kok
Ikki : Sudah lanjut kok :)
Anon : sudah diapdet (_ _)
Natsu D. Luffy : jawaban hampir sama kaya Achan :)
