Title: Forgetable

Disclaimed : Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Angst, Family, Romance

Rating: T

Pairing: Belum ditentuin, tapi kayaknya NaruHina salah satunya

Warning : Semi-AU, dark!Naruto, OOC XD

.

Chapter 3, Kembali

.

"Na—Naruto?" Kakashi yang pertama kali merespon apa yang ada di depannya—seorang anak yang beberapa menit yang lalu dibicarakan, bahkan sejak 7 tahun yang lalu. Sedangnya Minato sendiri tampak seolah masih mencerna apa yang ia lihat di depannya.

Melihat ayahnya yang tidak merespon apapun, Naruto tampak berdiri dan mencoba untuk mendekatinya sebelum kehangatan yang ia dapatkan saat ayahnya sudah mendekapnya dan menariknya dalam pelukan. Matanya melebar beberapa centi, tidak menyangka akan apa yang dilakukan ayahnya.

"Kufikir—aku tidak akan bertemu denganmu lagi Naruto," menutup matanya dan mencoba untuk membenamkan kepalanya di atas bahu kecil milik Naruto. Tangan Minato mengusap lembut kepala Naruto seolah mencoba untuk meyakinkan kalau itu bukanlah delusi ataupun genjutsu, "syukurlah kau kembali…"

Tatapan Naruto tampak sedikit terlihat sakit dan juga sedih—tetapi dengan segera ia mendorong pelan tubuh Minato dan menghela nafas.

"Aku baik-baik saja ayah—" tersenyum datar sambil membenahi jubahnya. Minato tampak hanya tersenyum dan menepuk kepala Naruto pelan.

"Ayo, Naruko pasti akan senang melihatmu…"

Terdiam mendengar saudara kembarnya itu disebut, tatapannya tampak kosong dan tidak mellihat kearah Minato.

"Senang ya—"

Naruto dan juga Minato yang tampak mengantarkan Naruto itu berjalan mengelilingi desa sambil berbincang tentang apa yang terjadi selama 7 tahun saat ia menghilang.

"Jadi—orang-orang Amegakure yang menjagamu sampai sekarang?" Naruto tampak mengangguk, tentu saja ia hanya mengatakan kalau mereka adalah orang-orang Amegakure tanpa mengatakan kalau mereka adalah kumpulan para Missing Nin. Selama 7 tahun, Naruto menyadari—kalau 'keluarga'nya itu bukanlah ninja biasa.

"Yep, mereka adalah orang-orang yang baik!"

"Yah, melihat keadaanmu sekarang—aku tahu kalau mereka merawatmu dengan baik," menghela nafas dan menoleh kearah Naruto yang tampak menatap dengan tatapan kosong, "apakah ada yang salah?"

"Tidak—" tertawa pelan dan menatap kearah ayahnya, "tidak ada yang salah otou-san…"

"Mungkin ini terlalu cepat, tetapi—apakah kau ingin masuk ke sekolah Akademik Ninja seperti Naruko?"

"Hm—memang itu rencanaku ayah, tetapi aku tidak begitu mempelajari ilmu ninja disana," menaruh telunjuknya di dagu, mencoba untuk mengingat apa yang sudah menjadi rencananya dan juga 'keluarga'nya itu, "apakah aku tidak akan mengecewakanmu ayah?"

"Tidak—" tampak sedikit membelalakkan matanya saat mendengar perkataan ayahnya itu, entah kenapa ia merasa saat ini ayahnya benar-benar memperhatikannya, "—sampai kapanpun aku percaya kalau kau akan berubah menjadi lebih kuat Naruto."

"Sampai kapanpun? Apakah sejak dulu ayah sudah menganggapku bisa melakukan apa yang bisa dilakukan Naruko?"

"Tidak—" menatap bingung ayahnya yang sepertinya sedikit mempermainkan dirinya, sebelum ayahnya melanjutkan perkataannya, "—aku yakin kau bisa melebihi Naruko…"

"Kita sudah sampai—" Naruto melihat kearah rumahnya yang tidak berbeda jauh dari terakhir kali ia melihatnya sebelum diculik, "—kau ingin kamarmu dibersihkan Naruto?"

"Um… tidak usah, aku akan membersihkannya sendiri—"

"Tou-san, kau sudah pulang?" suara itu tampak membuat Minato dan juga Naruto menoleh untuk menemukan sosok yang mirip dengan Naruto, hanya berbeda jenis kelamin dan juga rambut yang panjang, "eh—"

"Naruko, lihat siapa yang kembali."

"Sudah lama tidak bertemu, Naruko-nee—" tersenyum dengan tatapan kosong, membuat perempuan itu tampak kesal dan membalas menatapnya. Minato tidak pernah tahu bahwa hubungan kedua anaknya buruk dan mereka tidak pernah mau mengatakannya pada ayah mereka.

"Kau—"

"Ah otou-san, aku akan kembali ke kamar—" tersenyum lebar pada ayahnya, berjalan kearah kamarnya yang tentu saja ia ingat betul dimana letaknya walaupun sudah bertahun-tahun ia tinggalkan.

"Baiklah, aku akan membelikan ramen untukmu—kau masih suka bukan?"

"Tentu saja otou-san!" tertawa dan melihat ayahnya yang tampak berbalik dan keluar dari rumah mereka meninggalkan Naruto dan juga saudara kembarnya Naruko. Senyuman lebarnya tampak sedikit memudar dan tampak menundukkan kepalanya.

"Kenapa kau kembali kemari?"

"Apakah salah?" senyumannya masih ada, namun tatapannya tampak kosong dan menatap kearah Naruko, "kegelapan selalu menyertai saat 7 tahun menghilang—dan aku hanya mencari cahaya yang selalu kubayangkan selama ini."

"Kau adalah monster, tidak cocok dengan cahaya…"

"Lihat siapa yang mengatakannya—" senyuman sinis tampak terlihat di wajah Naruto, membua Naruko semakin kesal karenanya. Menutup mata dan menghela nafas, berjalan melewati Naruko begitu saja, "—suatu saat, aku akan membalas apa yang sudah kau lakukan padaku, Naru-nee…"

'Pergilah kau monster!'

'Kau tidak pantas hidup!'

'Mati saja sana!'

Bayangan para penduduk desa tampak memukuli dan juga menjauhinya terus membayanginya. Mencoba untuk menghindar, tetapi percuma—ia terus saja dikejar dan dipukuli oleh para penduduk desa.

"Tidak—ayah, tolong aku! Naruko!" mencoba untuk berlari kearah ayah dan saudara kembarnya, tetapi ia mendapati ayahnya yang tampak hanya membelakanginya dan juga saudaranya yang menatap dingin dirinya.

"Kau memang tidak pantas berada disini Naruto—lebih baik kau tidak lahir saja…"

Berbalik dan meninggalkan Naruto sendirian dalam kegelapan, tampak kaget dan juga menatap dengan tatapan kosong kearah kedua orang yang semakin menjauh itu.

Matanya membuka, menatap kearah sekeliling dengan nafas yang memburu. Mimpi itu, selalu saja membayanginya setiap malam—dan walaupun seperti itu, ia selalu saja berakhir dengan rasa takut dan juga sedih yang membuatnya menangis saat tertidur seperti sekarang.

Bangkit dan mencoba untuk mengusap matanya yang penuh dengan air mata, mencoba untuk menatap kamarnya yang kosong dan juga sepi itu.

Ingin menggerakkan tangannya, tetapi yang ia temukan adalah sosok ayahnya yang tampak tertidur di sampingnya dengan kedua tangannya terlipat menjadi bantal.

"Otou-san?"

"Sensei tidur nyenyak juga akhirnya—" suara helaan nafas tampak membuat Naruto terkejut dan melihat kearah tepi jendela dimana Kakashi tampak duduk sambil membaca buku disana, "—yo, Naruto…"

"Kakashi-san?"

"Selama 7 tahun ini ayahmu selalu memikirkanmu kau tahu—ia tidak pernah bisa tidur senyenyak ini." Naruto tampak menatap Kakashi dengan tatapan tidak percaya sebelum akhirnya ia menoleh pada ayahnya, "untung saja kau sudah kembali Naruto, ayahmu pasti senang sekali."

"Aku tidak pantas untuk ditunggu—" menghela nafas dan menatap kearah ayahnya dan juga Kakashi yang menatapnya bingung sebelum menemukan tatapan Naruto yang dingin dan menusuk dengan iris mata berwarna merah seperti mata rubah.

"Naruto?"

Naruto seolah tidak mendengar perkataan Kakashi hanya berjalan dan bergerak menuju ke raknya untuk mengambil selimut kecil yang ia gunakan untuk menyelimuti ayahnya.

"Selama 7 tahun ini—aku sudah banyak berubah Kakashi-san…"

"Namaku adalah Uzumaki Naruto, lahir di Konoha tetapi 7 tahun yang lalu aku pergi dari tempat ini dan baru saja kembali—salam kenal!" perkenalan Naruto yang diperlihatkan dengan senyuman dan tawa lebar, dibalas dengan bisikan dari beberapa murid yang ada disana.

"Ternyata benar—ia benar-benar mirip dengan Yondaime Hokage…"

"Tetapi kenapa ia memakan nama marga Uzumaki?"

"Kudengar ibunya adalah orang yang berasal dari klan Uzumaki…"

"Hei Naruko, itu adalah saudara kembarmu?" salah seorang perempuan berambut kuning yang diikat satu tampak berbisik padanya, "ia tidak seburuk yang kau fikirkan—dan orang yang cukup keren…"

"Hmph—ia adalah orang yang paling kubenci seumur hidupku," Naruko tampak memalingkan wajahnya dari Naruto yang tampak masih berdiri di depannya.

"Baiklah, bagaimana kalau kau duduk di sebelah Sasuke Naruto?" sang guru—Iruka tampak menatap kearah Naruto dan menunjuk kearah seorang anak laki-laki berambut hitam dengan model buntut ayam yang duduk di bagian tengah.

"Eh—Sasuke?"

Menoleh saat mendengar nama Sasuke—yang hanya mendengus dan mengalihkan perhatiannya.

'Aku punya adik yang seumur denganmu—namanya Uchiha Sasuke…'

"Ada apa Naruto?" Iruka melihat kearah Naruto yang tampak terkejut melihat Sasuke yang malah tidak melihat kearahnya. Tersadar saat sedang membayangkan Itachi yang memang sedikit banyak mirip dengan Sasuke, hingga akhirnya ia menoleh dan menggeleng cepat, "ti—tidak apa-apa, baiklah sensei—disana bukan?"

Dengan segera ia berlari dan menuju ke sebelah Sasuke yang kosong. Tampak beberapa siswi yang menggerutu pelan karena Naruto mendapatkan kursi yang—menurut mereka—terbaik.

"Hei, namaku adalah Uzumaki Naruto—salam kenal!"

"Hn," tidak menatap kearah Naruto, hanya menjawab dengan dua huruf itu sebelum menggerakkan kepalanya dan memunggungi Naruto yang tampak sudah mulai kesal dengan Sasuke saat itu.

'Mirip dengan Ita-nii—tetapi lebih menyebalkan,' tampak mengepalkan tangannya dan tampak empat persimpangan diatas kepalanya, "memang darah lebih kental daripada air ya…"

Sasuke yang menatap kearah yang berlawanan dengan Naruto tampak langsung membuka matanya dan menoleh karena mendengar perkataannya.

"Apa maksudmu?"

"Aku yang tidak mengerti maksudmu," mengangkat alisnya, berpura-pura tidak mengatakan apapun tadi walaupun jelas-jelas Sasuke tentu saja bisa mendengar perkataannya.

"Jangan berpura-pura, aku mendengarmu berbicara tadi—" berdiri—tidak perduli dengan Iruka dan juga yang lainnya—yang sekarang menatap Sasuke dan juga Naruto, "—kau tahu sesuatu tentang dia?"

"Apa masalahmu—sudah kukatakan aku tidak mengerti maksudmu," mengalihkan pandangannya pada sisi lain dari Sasuke dan tidak menatapnya. Tentu saja ia mengerti apa yang dikatakan oleh Sasuke—tetapi apakah ia dengan mudahnya bisa mengatakan 'hei, tentu saja yang kumaksud adalah Itachi Uchiha sang pembantai klan Uchiha. Dia adalah salah satu kakak angkatku.' Kalau ia ingin rencananya gagal, akan ia lakukan saat ini.

"Kau orang aneh—" mendengus pelan, Naruto sendiri tampak terkejut mendengar perkataan Sasuke.

'Dia anak yang aneh…'

'Tentu saja, dia adalah monster—ia berbeda dengan yang lainnya.'

"Hei—" Sasuke yang tidak sadar akan perkataannya hanya menoleh dan menemukan pemuda berambut kuning itu tampak menundukkan kepalanya sebelum melihat kearah Sasuke dengan tatapan yang kosong dan iris mata yang berubah berwarna merah.

"Lalu—apa urusanmu?" sedikit tersentak karena aura yang dikeluarkan oleh Naruto, Sasuke memfokuskan pandangannya pada anak sulung dari keluarga Namikaze itu, "memang kenapa kalau aku aneh? Memangnya aku ingin dilahirkan seperti ini?!"

"Naruto, Sasuke, ada apa ini!" Iruka tampak menatap kedua anak itu.

'Naruto—!' suara yang tampak terngiang dikepalanya itu tampak membuatnya kembali pada kesadarannya semula. Menoleh untuk menemukan semua orang yang menatap dirinya, Naruto tampak kaget dan menggaruk kepala belakangnya.

"A—ahaha, maafkan aku Iruka-sensei!" tertawa seperti biasanya, mencoba untuk tidak membuat semuanya curiga dengan perubahan sifatnya itu.

"Kalau kalian ingin bertengkar sebaiknya jangan saat pelajaran sedang berlangsung—" Iruka berdehem untuk menenangkan kedua muridnya itu. Naruto hanya tertawa dan Sasuke menatap kearah pemuda itu dengan tatapan curiga.

'Apa yang sebenarnya kau fikirkan bodoh—' pelajaran sudah berakhir dan Naruto berakhir di salah satu sisi jalanan sendirian dan menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala, '—kau yang menginginkannya sendiri, untuk menghancurkan desa ini. Kalau sampai tadi kau ketahuan memiliki kekuatan yang tidak wajar dimiliki seorang calon shinobi kau tidak akan bisa menghindar dari ancaman para petinggi bahkan ayahmu sendiri.'

"Aku mengerti Kyuu—walaupun Madara ojii-san dan juga otou-san sudah mencoba untuk menghilangkan kenangan itu, tetapi tetap saja," menghela nafas berat, "aku tidak mungkin bisa melupakan apa yang mereka lakukan—dan itu bukan menjadi kelemahan tetapi akan menjadi sumber kekuatanku…"

'Seseorang datang—' Naruto menoleh dan melihat beberapa orang yang tampak mendekatinya. Tampaknya anak seusianya, tetapi bukan murid-murid yang berada dalam satu kelas dengannya.

"Coba kita lihat disini—kenapa si monster ini bisa kembali ke desa?" seseorang dari mereka tampak menatap dengan senyuman meremehkan. Naruto ingat—ialah yang pernah menghajar dan melukainya 7 tahun yang lalu. Kalau begitu—

"Apa lagi yang Naruko suruh pada kalian?" menatap dengan tatapan dingin tanpa ada senyuman—seperti yang biasa ia lakukan semenjak menginjakkan kakinya di Konoha kembali. Ia sudah muak dengan semua ini, Naruko ataupun yang lainnya sama saja.

"Tidak ada—tetapi karena ia mengatakan kalau ia muak denganmu—"

'Seharusnya aku yang mengatakan itu pada kalian brengsek—' Naruto menutup matanya dan mengepalkan tangannya seerat mungkin hingga menjadi putih.

"—kami memutuskan untuk memenuhi keinginannya untuk melenyapkanmu…"

"Kalian fikir—" menundukkan kepalanya dan membiarkan bayangan rambutnya menutupi matanya. Saat ia mendongak, mata itu kembali menjadi merah dan tajam serta dingin—ia tidak suka, dan ia bukan Naruto yang dulu, "—aku sama seperti 7 tahun yang lalu?"

Beberapa orang disana tampak tersentak melihat pandangan Naruto kala itu.

"Ka—kau," mencoba untuk mengambil kunai dan segera melemparnya kearah Naruto. Menghindar dengan cepat, bergerak kearah mereka untuk menyerang mereka. Memang, Naruto tahu ia belum terlalu kuat untuk melawan beberapa anggota Akatsuki sekarang, tetapi untuk melawan murid akademik, tentu saja ia memiliki kekuatan yang cukup.

Memukul salah satu dari mereka, dan kembali bergerak—lima orang yang usianya sama sepertinya bukanlah musuh yang sepadan untuknya. Bahkan jika ia harus dihadapkan pada 10 orang yang sama seperti mereka.

'Tidak butuh jutsu untuk melawan mereka—' bergerak untuk menghindar dan menyerang, ia tidak memiliki kesusahan apapun untuk melawan mereka.

"Mo—monster, kau memang monster!" perkataan salah seorang yang tampak sudah babak belur karena serangan dari Naruto yang bahkan hanya menggunkan Taijutsu.

'Naruto?'Kyuubi tampak menatap Naruto yang tampak aneh—hanya diam dan tidak melakukan apapun untuk melawan mereka lagi. Memang—selalu, setiap kali shock terapi yang dilakukan oleh Itachi tetap membuatnya selalu shock setiap mendengar perkataan itu, '—oh tidak… anak ini…'

Salah satu dari mereka yang berada di belakangnya tampak mengambil kesempatan ini untuk melayangkan sebuah kunai tepat di punggung Naruto. Tidak ada perlawanan, tidak ada gerakan dari Naruto untuk menghindar.

"Naruto?"

Minato yang sedang berada di kantornya tampak menghentikan pekerjaannya seolah mengetahui ada yang tidak beres dengan anak bungsunya itu. Meletakkan pena yang ia pakai, memutar kursinya dan melihat kearah jendela luar.

"Sensei—apa yang kau lakukan?"

Kakashi yang membawa setumpuk laporan tampak mengerutkan alisnya saat melihat gurunya itu tampak melamun dan melihat ke luar jendela dengan tatapan khawatir.

"Entah kenapa tiba-tiba bayangan Naruto terfikirkan di kepalaku, tetapi mungkin hanya perasaanku saja," menghela nafas dan berbalik, menatap dengan tatapan horror kearah tumpukan laporan yang ada di tangan Kakashi.

"Hm, ada apa sensei?"

"Kakashi…" menundukkan kepalanya, menatap kearah meja dan tidak mengatakan apapun, "aku sudah tidak tahan menghadapi laporan-laporan itu!"

Dan itulah perkataan terakhir dari Minato sebelum tiba-tiba saja ia menghilang dari tempat itu meninggalkan Kakashi sendirian yang terdiam karena perilaku dari mantan gurunya sekaligus Hokage keempat itu.

"SENSEI!"

Naruto yang mengetahui ada serangan yang akan mengenainya tampak bingung karena serangan itu tidak mengenainya sama sekali. Menoleh, mencoba untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi saat ia menemukan sosok pemuda berambut hitam yang tampak menahan kunai itu dengan tangannya.

"Lambat—" mata Naruto terbelalak melihat sosok itu—Uchiha Sasuke yang tampaknya mencoba untuk melindunginya. Bagaimana tidak, bahkan Naruko dan—menurutnya—ayahnya, tidak pernah melakukan itu padanya. Ia hanya bisa menghadapinya sendiri, tidak ada orang lain yang membantunya.

Ini pertama kalinya ia melihat seseorang membantunya—karena biasanya orang-orang hanya akan melihat dan mengejeknya saja.

Melihat Sasuke yang datang, beberapa anak tampak langsung menatap kesal pada keturunan terakhir klan Uchiha itu dan segera berdiri serta berlari meninggalkan mereka berdua.

"Hn—merepotkan," berbalik dan berjalan sambil menaruh tangannya di saku, akan meninggalkan Naruto sendirian seolah ia tidak melakukan apapun tadi.

"H—hei Sasuke, tunggu dulu!" mencoba untuk berjalan mengejarnya, tetapi Sasuke tidak berhenti sama sekali. Naruto mencoba untuk menyelaraskan jalannya sambil mencoba untuk berbicara dengannya, "kenapa kau menolongku tadi?"

"Hn—"

"Hei, apakah kau tidak bisa mengatakan apapun selain 'hn'?"

"Itu bukan urusanmu, aku hanya tidak suka orang-orang yang main keroyok seperti mereka," tidak menatap kearah Naruto, yang tampak masih terkejut dengan apa yang dilakukan Sasuke tadi, "pergilah dobe…"

"Do—dasar teme!"

"Dobe—"

"Hei, berhenti memanggilku—"

"Naruto?" suara itu membuat keduanya menoleh untuk menemukan sosok pria berambut kuning yang bagai pinang dibelah dua dengan pemuda bernama Naruto itu—kalau saja tidak ada bekas luka di kedua pipi Naruto. Tentu saja, ayahnya sang Hokage keempat yang dimaksud.

"Ah, otou-san—"

"Kenapa kau masih berada disini? Ini sudah lebih dari jam pulang sekolah bukan?" Minato menghampiri dan mengusap kepala Naruto dan memperhatikan anaknya itu dengan seksama. Yah, fikirannya tadi masih membuatnya sedikit banyak khawatir dengan keadaan anaknya itu. Melihat tangan kanan yang sedikit lebam, membuatnya terdiam.

"Oh itu karena—" melihat kearah sekeliling untuk menemukan hanya Sasuke yang bisa dijadikan alasan untuknya, "—aku menunggu Sasuke!"

Yang dibicarakan hanya bisa berhenti dan menatap tajam sang pewaris klan Uzumaki dan juga Namikaze itu.

"Sasuke? Ah, kau Sasuke—anak Fuugaku Uchiha bukan?" Minato menatap kearah Sasuke yang membungkukkan kepalanya didepan Minato. Sedingin-dinginnya Sasuke, Hokage keempat—Minato Namikaze dan juga Hokage ketiga Sarutobi-lah yang selalu bersikap baik tanpa terlihat berbelas kasihan padanya.

"Hee! Kenapa kau bisa bersikap sopan seperti itu didepan ayahku, dan kau tidak bisa melakukannya di depanku?"

"Jangan berisik dobe—"

"Dasar teme, padahal tadinya aku ingin mentraktirmu ramen karena sudah membantuku," Naruto memeletkan lidahnya sambil menatap Sasuke, "ramen disinikan memang enak, kau pasti suka!"

"Kau yang suka makanan itu, jangan menjadikanku alasan dobe—" Sasuke menyilangkan kedua tangannya dan mendengus pelan sambil melihat kearah lainnya.

"Dasar—"

Minato melihat kearah mereka berdua dengan tatapan aneh dan juga penuh selidik. Terkejut—sebelum akhirnya ia tersenyum dan tawa pelan yang bisa meluluhkan hati para gadis di desa itu tampak muncul di wajahnya.

"Kenapa kau tertawa otou-san?"

"Tidak—" menggeleng pelan dan menepuk kepala Sasuke yang ada di depannya saat ini, "—bertemanlah dengan baik, Naruto adalah anak yang baik Sasuke…"

"Sensei—kau disana rupanya!" Kakashi yang mencoba untuk mencari Minato tampak menemukan targetnya. Melihat Kakashi yang mendekat, dengan segera Minato melepaskan tepukannya dan mencoba untuk kabur lagi.

"Baiklah, sampai jumpa Sasuke, Naruto!" tertawa datar sebelum berlari dengan cepat untuk menghindar dari musuh abadinya—laporan yang menumpuk.

Hening—tidak ada yang berbicara dalam beberapa saat setelah ayahnya menghilang bersama dengan Kakashi. Keheningan itu pecah saat suara langkah Sasuke terdengar mencoba untuk menjauhi Naruto. Menyadari itu, dengan segera Naruto tampak berjalan mengikutinya.

"Jadi bagaimana?"

"Apanya—"

"Kau mau kutraktir ramen?"

.

.

.

"Ada yang rasa tomat?"

.

.

.

To be Continue

.

.

.

Uwaaaa! Dx maaf lama update, karena sibuk sama fandom-fandom tetangga dan beberapa projek, ditambah kuliah yang udah mulai padat lagi jadwalnya, jadi ga bisa update yang ini. Ga ada yang bisa dibilang dulu untuk chapter ini ;) silahkan dilihat dan dibaca—trus di review ya minna.

Fajeri no Misaki-kun eh, sama? Beneran loh, me baru lihat fanfic anda habis lihat review anda, jadi ga bermaksud buat jiplak ._.

Miku in Hana Ga juga kok ;) nanti kelihatan dari sudut Naruko + Minatonya juga.

Namikaze Nakato kalau pas 6 tahun yang lalu ketemu Itachi dia sudah setara sama Chuunin, bisa jadi sekarang setara sama Jounin :D

Guest maaf, soalnya lagi sibuk sama yang lain ._. harem buat semua char cewe?

Namikato maaf karena ga update flash ^^; tapi nanti habis ini diusahain buat update cepet kok.

Naruto Lovers awal-awal kayaknya belum keluar yang seru…

Leader senju awalnya ga bakal ;) soalnya dia ga mau rencana dia sama Akatsuki bakal kebongkar.

Namikaze Luffy iya, mungkin nanti dijadiin Harem, tapi pair utamanya, lebih ke NaruHina ' '

Guest oke ^^;

Annonymous99 iya, kalau bisa nanti tak bikin harem ' '

Ikki sebenernya kekuatan Naruto bisa digituin, tapi of course ga langsung dilihatin kalau dia sekuat itu ^^

Sunny Iya, uhukwalaupunsayasukayaoiuhuk tapi ini lebih ke family kok. Dan ga ada Yaoi ^^

Achan Ah, makasih ya ^^a maaf karena ga bisa update cepet ._.

Shfly maaf karena ga bisa update kilat ._.