Inuyasha © Takahashi Rumiko

With You © Shiroi no Tsuki

Warning: AU, OOC, TYPO'S, Pairing Undetermined, DLL.

.

Don't Like? Don't Read!

.

.

-chapter 4-

.

.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

.

.

Kagome's POV

.

Aku kembali melangkahkan kakiku di koridor sekolah ini, jam pelajaran memang sudah berakhir beberapa jam yang lalu. Tapi akau baru saja bisa keluar dari pelajaran tambahan yang menyebalkan itu—Matematika—aku sama sekali tidak menyukai pelajaran itu, sungguh.

Kini langkahku berjalan tanpa tahu tempat yang aku tuju. Sebenarnya memang sekarang waktunya untukku pulang, tapi ada sedikit perasaan tidak enak menghampiriku. Hingga akhirnya sekarang aku hanya berjalan-jalan di koridor sekolah tanpa tahu tujuanku.

Mungkin jika aku menemukan Inuyasha aku akan mengajaknya untuk pulang bersama. Yah mungkin?

Langkahku memelan ketika aku mendengar suara langkah kaki yang dihasilkan oleh sepatu seseorang tersebut di belakangku, jantungku jadi sedikit berdebar akannya. Inuyasha kah?

Bahkan untuk menolehkan kepalaku saja enggan, bagaimana kalau bukan? Tapi aku berharap. Tubuhku menjadi membeku ketika suara langkah itu juga memelan ketika sudah berada tidak jauh dariku. Jantungku kian berdebar tak karuan. Aku gugup ditambah rasa takut jika orang yang berjalan dibelakangku bukanlah pemuda yang ku harapkan.

"!"

Aku tersentak ketika sebuah tangan besar menepuk pundakku, jantungku semakin bergemuruh seakan akan keluar dari rongganya. Itu hanya lah rasa keterkejutanku. Perlahan aku menolehkan kepala kearah seseorang yang menepuk pundakku tersebut, sedikit rasa harapan itu ada.

Namun, hilang seketika.

Aku hanya melihat seorang pemuda bermata caramel, mata yang sama. Tapi bukan, bukan pemuda ini yang sedang aku harapkan. Perasaan kecewa menghampiriku ketika mendapati kenyataan itu. Bukan yah? Padahal aku sangat berharap.

Menghilangkan rasa kecewaku yang mungkin nantinya akan kentara, aku mendengus.

"Apa yang kau lakukuan?" tanyaku pada pemuda itu yang masih setia memegang pundakku.

Ia memutar kedua bola mata caramelnya, "Harusnya aku yang bertannya…"

Lagi-lagi hanya dengusan yang aku berikan padanya, sungguh aku tidak begitu menyukai pemuda di hadapanku ini.

Yah aku tahu kalau dia adalah seorang keamanan sekolah di sekolah ini, sekedar untuk mengabaikannya aku kembali melangkahkan kakiku yang tanpa tujuan. Namun langkahku yang pendek-pendek terhenti ketika ia juga mengikutiku. Apa sih maunya pemuda ini? aku berbalik menatap matanya dengan intens. Hey jangan kira aku takut dengan pandangan matanya yang tajam itu.

"Jangan mengikutiku!" seruku seraya menunjukkan jari telunjukku di hadapannya bermaksud mengancam pemuda tersebut. tapi aku tahu apa yang aku lakukan hanyalah sia-sia. Ia malah balas memandangku intens, jujur. Aku sedikit malu akan hal itu entah kenapa, yang pasti yang bisa kulakukan hanyalah memandang objek lain dan segera menurunkan tanganku yang tadi teracung ke arahnya.

Kulihat dengan ekor mataku ia sedikit mengernyitkan alisnya, "Sepertinya kita menuju jalan yang sama."

Aku hanya mendengus kesal dan meneruskan langkahku yang tidak pasti ini, diiringi dengan pemuda yang berada di beakangku sekarang.

Hening beberapa saat tercipta diantara kami berdua, sebenarnya aku merasa kurang nyaman dengan keheningan ini. sedikit melirik ekor mataku mengarah ke arahnya, masih sama. Pemuda itu masih tetap dengan tenang melangkahkan kakinya seperti penguntit bagiku. Aku merasa semakin gelisah dan kucoba untuk mempercepat langkahku.

Sungguh aku ingin menghindarinya.

Langkahku yang semakin ku percepat seketika berhenti ketika sebuah tangan kekar menarikku dan menghentikan langkahku menuju belokan koridor. Aku terkejut, namun secepat keterkejutanku secepat itulah diriku bisa mengendalikan diriku kembali seperti semula, menatapnya dengan tajam walaupun pemuda ini tidak akan pernah terpengaruh dengan tatapan mataku. Aku selalu bertanya kenapa pemuda ini selalu ada sih? Sentah sejak kapan ia mulai merasuki kehidupanku. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa maksud dari pemuda itu menarik tanganku dan bersembunyi di balik tembok.

"Apa yang—hmpfh!" kata-kataku terhenti ketika ia mendekap mulutku berusaha agar aku tidak mengeluarkan suara yang keras, aku memberontak tentu saja. Bagaimana tidak? Sekarang ia menghimpitku dengan tubuhnya dan itu membuatku merasa sedikit… tidak nyaman? Atau… gugup?

Sedetik kemudian ketika aku menyadari hal itu entah kenapa aku merasakan wajahku sedikit memanas, mungkin efek dari tubuhnya yang menghimpitkulah yang membuatku menjadi sedikit… panas?

Tangan kekar itu masih setia mendekap mulutku yang berusaha berontak dengan menggunakan tangan kananku untuk melepaskan tangannya yang besar itu dari mulutku. Namun hasilnya nihil. Sekuat aku mencoba melepaskannya ia malah semakin erat mendekap mulutku. Sebenarnya ada apa sih? Aku penasaran denga apa yang sedang menjadi objek pandangannya sekarang. Hingga aku tidak boleh melihat di belokan koridor itu.

Kulihat mata caramelnya yang menatap tajam lurus kearah objek yang membuatku penasaran.

Aku menyerah dengan dekapan tangannya di mulutku, akhirnya aku membiarkan saja dirinya terus menutup mulutku dengan tangannya,hingga akhirnya dekapan itu sedikit meloggar.

Sedikit merasa kesempatan bagiku untuk melepaskan diri darinya, aku segera mendorong tubuhnya yang lengah itu dan segera membalikkan tubuhku pada tembok dan melihat apa yang menjadi pusat perhatiannya yang membuat diri pemuda itu begitu membeku dan sama-sekali tidak membiarkan ku melihatnya.

Sedetik kemudian jantungku berpacu cepat, aku tidak tahu apa yang aku rasakan sekarang. Yang pasti pemandangan di hadapanku sekarang benar-benar membuatku hampir tidak bisa bernapas. Bahkan kedua tangnku yang tadinya memegang kemeja yang dikenakan pemuda itu kini menjatuh di kedua sisi tubuhku, tubuhku sedikit bergetar dan tanpa terasa suatu liquid bening jatuh di pipiku.

Air mata…

Aku menangis?

Kenapa?

Kenapa aku harus melihat pemandangan yang sebenarnya tidak ingin pernah aku pedulikan, bahkan aku sangat menyangkal keadaan yang sekarang telah terpantul di mata hitamku.

Aku hanya terdiam…

Dengan sakit menyaksikan seseorang yang sebenarnya kusukai telah bersama orang lain yang bahkan sahabatku sendiri.

Ditambah lagi mereka berciuman,

Yah berciuman dengan penuh dengan tekanan yang begitu menunjukkan kasih sayang dari keduanya, jujur. Aku bahkan tidak bisa mengindahkan bahwa sekarang mereka teerlihat sangat cocok.

Inuyasha dan Kikyou…

Entah kenapa aku menjadi merasa orang yang bodoh saat ini, mencintai orang yang ternyata memiliki kekasih sahabat sendiri 'heh?

Hatiku terasa ngilu ketika mendapati kenyataan yang baru saja aku pikirkan, mataku masih terpaku pada kedua insane yang masih terbuai akan ciu,an mereka hingga tidak menyadari kehadiranku yang tepat berada di belakang Inuyasha.

Sungguh aku tidak tahan untuk bisa menahan air mataku, liquid bening itu mengalir dengan derasnya tanpa sekehendakku. Walaupun aku menolaknya, cairan itu masih tetap menetes menuruni pipiku. Aku benar-benar terpaku, bahkan tubuhku serasa enggan untuk digerakkan. Apa harus ini yang terus aku saksikan sampai akhir dsari ciuman mereka?

Selang beberpa menit aku hanya terdiam, aku merasakan sedikit tarikan di pergelangan tanagnku yang dengan sigap pemuda tadiyang kembali menarik tanganku dan mendekap tubuhku erat, tubuhku sedkit tersentak ketika aku merasakan kehangatan yang bersumber dari tubuh pemuda tersebut.

"Sesshoumaru?" panggilku pada pemuda itu.

Ia hanya diam tidak merespon panggilanku yang sebenarnya adalah sebuah pertannyaan, kenapa tiba-tiba dia memelukku erat?

Sebuah perasaan hangat tiba-tiba mengalir dalam darahku, aku tidak tahu mengapa. Yang pasti air mata itu malah semakin mengencang ketika ia mengelus rambutku dengan lembut. Aku membutuhkannya sekarang, tidak aku pungkiri hal itu. Aku semakin merapatkan tubuhku pada Sesshoumaru dan memegang belakang kemejanya dengan erat sekedar menghilangkan rasa sakitku.

Aku bahkan tidak mengerti mengapa aku menerima simpati dari pemuda ini, bahkan aku bisa mendengarkan detak jantungnya yang teratur.

"Tenaglah, aku ada disini…" ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.

Aku hanya menganggukkan kepalaku dan lebih merapatkan tubuhku pada dada bidangnya, sayup-sayup aku mendengar decapan dari sepasang yang sedang berciuman itu. Buru-buru Sesshoumaru tiba-tiba melepaskan pelukanku dan segera menarik tangan mungilku menjauh dari tempat itu. Namun langkah kami yang baru beberapa meter beranjak terhenti, seketika sebuah suara yang begitu kukenal memanggil nama Sesshoumaru.

"Sesshoumaru?" panggilnya dengan sedikit nada keterkejutan di dalamnya.

Aku tersentak, tidak berani menolehkan kepalaku pada seseorang—Inuyasha—yang menyebut pemuda yang sedang menggenggam tanganku semakin erat itu.

Sesshoumaru mmenolahkan suaranya kearah Inuyasha, rupanya ritual(?) mereka sudah sedikit melirik dengan ekor mataku pada Sesshoumaru yang menatap tajam pada Inuyasha.

"Kagome?" Kikyo—gadis yang berada di samping Inuyasha memanggilku dengan nada bingung, mungkin ia sedikit terkejut ketika melihat kamu yang tiba-tiba berada di sini, atau mungkin ia merasa malu mereka telah tertangkap basah oleh kami berdua behwa mereka telah berciuman.

Aku tidak mau menole, tidak sebelum air mataku berhenti mengalir. Sesshoumaru menarik tanganku dan kembali mendekapku dalam dada bidangnya seakan enggan membiarkanku untuk sejkedar melihat pemandangan yang berada di balik punggungku.

"Maaf, mengganggu," ucap Sesshoumaru sembari menarik tubuhku yang ringkihku menajuh dari mereka, sedikkit perasaan lega menghampiriku.

Setelahnya aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan Inuyasha dan Kikyo.

Aku sedikit menghela napas ketika Sesshoumaru mulai melangkahkan kakinya keluar dari lingkungan sekolah.

.

End of Kagome's POV

.

.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

.

.

Terpaku.

Itulah yang dialami oleh Inuyasha dan Kikyo sepeninggal mereka berdua di koridor itu.

Kikyou merasakan tepukan pelan pada pucuk kepalanya, ia menolah dan mendapati Inuyasha yang tersenyum padanya sembari mengusap pelan surai hitamnya. Pemuda itu menatapnya dengan lembut membuat sang gadis mengembangkan senyum manisnya, sedikit rasa malu menghampiri Kikyou ketika ia ditatap intens oleh Inuyasha.

"Ne, Inyuasha!" panggil Kikyou dengan sedikit nada gugup di dalamnya, "Apa kita dilihat oleh mereka?" lanjutnya kemudian seraya menundukkan kepalanya dalam. Ia sedikit takut jika Kagome dan Sesshoumaru yang melihatnya seperti itu akan menimbulakn rasa tidak nyaman nantinya.

Inuyasha hanya menanggapinya dengan cengirannya yang membuat Kikyou merasa sedikit kesal akan tingkah pemuda tersebut, hey ini tidak lucu! Bahkan kekasihnya ini meungkin saja menertawakannya sekarang. Ia berkata dengan serius!

"Saa?" hanya itulah jawaban yang terlontar dari bibir Inuyasha. Itu adalah jawaban yang sama sekali tidak diingikan Kikyou.

Gadis itu meninggalkan Inuyasha di belakangnya, ia kesal dengan pemuda yang sekarang telah resmi menjadi kekasihnya itu.

Inuyasha menatap bingung Kikyou yang menghiraukannya begitu ia menjawab pertannyaan tadi, memang apa yang salah dari jawabannya sih? Ia tidak mengerti dengan sifat gadis itu.

Menghela napas pendek, pemuda itu kembali melangkahkan kakinya segera menyusul Kikyou yang berada jauh di depannya.

"Hey! Tunggu Kikyou, apa salahku?"

Kikyou makin melangkahkan kakinya dengan cepat, ia sudah malas berdebat dengan pemuda kekanakan seperti itu. Namun ada seulas senyum tipis menghiasi wajah gadis itu ketika ia mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, biarlah Kagome dan Sesshoumaru meliat mereka. Dengan begitu ia tidak perlu membeberkan bahwa ia dan Inuyasha sekarang sedang menjalin hubungan 'kan?

Sungguh sebenarnya Kikyou tidak tahu apa yang sekarang dirasakan oleh Kagome sekarang.

Tanpa disadarinya, sebuah tangan mengamit jari mungilnya. Membuat gadis bersurai hitam itu sedikit terjengit ketika merasakan kehangatan yang di rasakannya ketika tangan itu menggenggam tangannya dengan posessif, lembut dan hangat.

Kikyou menolehkan kepalanya pada pemuda yang telah menggenggam tangannya dengan lembut itu, ia tersenyum. Senyum yang bahkan tidak pernah ia tunjukkan kepada pemuda lain selain Inuyasha. Pemuda yang selama ini sedikit demi sedikit mulai ia kagumi dan berakhir dengan menjadi kekasihnya, ternyata apa yang ia takutkan selama ini telah hilang di telan oleh kenyatan bahwa pemuda itu juga menyukainya. Ketakutan akan Kagome lah yang akan dipilih oleh pemuda bermata caramel tersebut.

Yah, sekarang ia percaya pada pemuda tersebut.

"Ne, Inuyasha,"

"Hn?"

"Apa Kagome dan Sesshoumaru…?"

Inuyasha mengernyitkan alisnya ketika Kikyou menjeda kalimatnya cukup panjang, ia jadi penasaran apa yang kan diucapkan oleh Kikyou selanjutnya.

"Apa?" tanyanya penasaran.

"…Mereka pacaran?" dengan ragu Kikyou melanjutkan, tangannya yang tidak di genggam oleh Inuyasha menggaruk pelipisnya tanda ia berpikir.

Inuyasha tergelak dengan pertnyaan yang terlontar dari mulut gadisnya itu, ia merasa sedikit terkejut ketika mendengar pernyataan itu meluncur begitu saja dari mulut gadisnya.

"Kau yakin begitu?" tanyanya dengan keraguan yang sangat amat.

Inuyasha tidak akan pernah percaya jika pemuda yang terkenal dingin dan pendiam itu mau bersama Kagome yang sangat berisik itu—menurutnya.

Kikyou merengut mendapati perkatan Inuyasha yang meragukan itu, apa pemuda itu meragukannya? Langkahnya seketika terhenti dan menghadapkan tubuh pemuda itu padanya, "Aku yakin, kau tidak melihat pandangan Sesshoumaru terhadap Kagome barusan? "

Inuyasha menggaruk tenguknya bimbang, ia memang tidak begitu memperhatikan pendangan Sesshoumaru terhadap Kagome, yang ia lihat hanyalah punggung Kagome yang bersandar pada Sesshoumaru. Yah, ia sedikit merasa aneh ketika melihat punggung Kagome yang sedikit bergetar? Entahlah ia tidak yakin akan hal itu.

Pemuda bermata caramel itu hanya menghela napas dan kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, "Mungkin—"

Hanya sebuah kata itulah yang dapat ia lontarkan ketiak ia memang merasakan keraguan pada hatinya, ia menjadi bimbang. Entah kenapa sedikit perasaan tidak rela menghampirinya ketika melihat Kagome dekat dengan pemuda menyebalkan itu.

.

.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

.

.

Kagome masih terdiam di tempatnya ketika ia telah tiba di sebuah taman yang memang dibilang sangat sepi, entah kenapa Sesshoumaru membawanya ketempat sesepi itu. Ia tidak mengerti, tapi yang pasti perasaan Kagome sekarang lebih merasa lega dari sebelumnya ketika ia dengan bebas menangis sesenggukan di samping pemuda yang menyebalkan itu, ia tidak peduli lagi pada pemuda itu. Yang ia pikirkan hanyalah perasaan lega yang sekarang telah menghampirinya, yah walau masih ada perasaan sakit yang akan di bawanya sampai ke rumah dan mungkin akan membuatnya kembali menangisi kebodohannya yang menyukai seseorang yang sama sekali tidak pernah menganggapnya.

"Jadilah pacarku!" Kagome tersentak ketika sebuah suara merasuki gendang telinganya. A-apa? Apa yang di ucapkan pemuda tersebut? apa ia tidak salah dengar?

Kagome menoleh dan mendapati pemuda yang yang baru saja menyatakan perasaannya itu juga menoleh padanya. Matanya begitu intens memandang.

Detik berikutnya ia kembali menundukkan kepalanya, entah kenapa ia tidak mengerti. Jantungnya tiba-tiba berpacu lebih cepat. Bahkan hingga tidak terkontrol, ia tidak mengerti, ini bahkan melebihi rasa gugupnya jika ia bertemu dengan Inuyasha.

"Aku tidak dengar ucapanmu." Alasan itulah yang diberikan Kagome pada pemuda di sampingnya.

Sesshoumaru tidak menyerah, ia semakin merapatkan dirinya pada kagome dan kembali mendekatkan wajahnya pada gadis itu hingga bibir pemuda bermata caramel itu sedikit menyentuh telinga kagome yang sensitive. Dengan sedukttif Ia berbisik mengulangi kata yang baru saja ia lontarkan.

"Jadilah pacarku!" Perintahnya tanpa keraguan.

Blush!

Seketika wajah gadis bermarga Higurashi itu merona ketika mendengar ucapan Sesshoumaru yang membuatnya sedikit merinding dengan napasnya yang berhembus menyentuh daun telinganya yang sensitive itu, sekarang ia benar-benar yakin dengan apa yang diucapkan oleh paemuda bermata caramel tersebut. jadilah pacarnya! Yah pernyataan, tidak. Bisa dibilang perintah itu benar-benar nyata ia dengar. Pemuda itu sungguh sangat dekat dengannya, jadi tidak mungkin ia bisa salah dengar lagi 'kan?

"A-aku—" Kagome sangat gugup sekarang,entah datang dari mana perasaan itu. Bagaimana tidak? Ia telah ditembak pemuda yang dikagumi oleh hampir seluruh siswi sekolahnya. Mungkin itu memang sedikit berlebihan, tapi apa yang tidak sih bagi Sesshoumaru. Nyatanya memang sudah banyak gadis yang menyatakan perasaannya padanya, namun ditolak mentah–mentah oleh pemuda di sampingnya ini. Ia pun tidak tahu apa alsan pemuda tersebut.

"Aku tidak ingin mendengar penolakan."

Lagi, Kagome terjengit ketika suara pemuda itu mengalun begitu dekat di telinganya, ia masih belum menjauhkan dirinya pada Kagome.

"Baiklah, mulai sekarang kita pacaran!" pemuda itu—Sesshoumaru—memutuskan secara sepihak. Ia tidak memikirkan Kagome yang sekarang dilanda patah hati.

Lama terdiam, Kagome seakan patung hidup yang sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi ataupun pergerakan ditubuhnya. Ia hanya mematung.

Jadi…

Sekarang?

Ia dan Sesshoumaru?

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

A/N: Chap 4 selesai~ gomen baru bisa update sekarang ^^. Makasih buat Moku-chan yang udah review*

.

Salam~

Shiroi no Tsuki

.