Inuyasha © Takahashi Rumiko
With You © Shiroi no Tsuki
Warning: AU, OOC, TYPO'S, DLL.
.
Don't Like? Don't Read!
.
.
-chapter 5-
.
.
.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.
.
.
Tidak!
Tidak!
Tidak!
Kagome terus menjerit dalam hati bahwa apa yang di dengarnya ini adalah sebuah suara desau angin yang tidak mungkin dilontarkan oleh Sesshoumaru.
Berkali-kali hatinya menjerit namun itu tiada guna setelah pemuda itu kembali mengucapkan kata sakralnya.
"Baiklah! Mulai sekarang kita pacaran!"
Keputusan itu akhirnya diputuskan oleh Sesshoumaru sendiri, tanpa beban, tanpa memikirkan perasaan Kagome yang baru saja patah hati, dan tanpa mau menunggu jawaban dari sang gadis. Ini adalah keputusan sepihak darinya.
Tapi sepertinya lebih baik begitu dari pada menunggu Kagome yang terus saja memandangnya kosong bak tanpa nyawa.
Sesshoumaru bangkit berdiri seraya menarik tangan mungil Kagome agar gadis Higurashi itu juga berdiri di sampingnya, "Kita pulang!" perintahnya lagi.
Ini sungguh diluar dari apa yang di mimpikan Kagome selama ini, sungguh ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan mendapatkna pacar dengan cara seperti ini. bahkan dalam keadaan dia yang sedang patah hati karena melihat pemuda yang disukainya memiliki gadis lain.
Ia hanya diam saja ketika pemuda itu mulai menarik pergelangan tangannya menuju rumahnya.
Bahkan hingga saat ini ia tidak bisa mengatakan sepatah katapun.
.
.
Malam mulai menjelang ketika mereka telah berada di depan rumah Kagome.
"Kau tidak menawari kekasihmu ini masuk?" ucap Sesshoumaru dengan percaya dirinya yang tinggi.
Kagome mengernyitkan alisnya, masuk katanya? Memang dia siapanya Kagome?
"Aku kekasihmu…"
Ucapan itu... seakan Sesshoumaru dapat membaca pikiran Kagome, bahkan gadis itu sedikit tersentak akannya.
"Masuklah…" Ucap Kagome lirih diiringi dengan Sesshoumaru yang dengan cepat memasuki rumahnya yang terbilang sepi tersebut.
Pemuda bermata caramel itu dengan cepat menduduki dirinya pada meja makan yang langsung terhubung pada ruang tamu, matanya meneliti setiap sesuatu yang ada pada meja makan. "Hei."
Kagome menolehkan kepalanya yang awal perhatainnya berpusat pada isi tasnya, "Apa?" jawab gadis itu seadanya sekedar untuk merespon tamunya ini.
"Aku lapar..."
Sejenak bibir gadis Higurashi itu sedikit mengerucut ketiaka ia mendengar penuturan Sesshoumaru yang seenak jidatnya mengatakan bahwa dia lapar, gadis itu berkacak pinggang menghadap Sesshoumaru. Matanya yang hitam meniti setiap tingkah yang dilakukan oleh peuda tersebut.
Dengan cepat Sesshoumaru menghambur pada isi kulkas milik Kagome yang... lumayan kosong?, Kagome semakin mengernyitkan alisnya.
Ia lelah, sungguh sangat lelah akibat kejadian tadi siang disekolahnya. Otaknya terus memikirkan pemuda berambut perak yang dilihatnya tadi siang tanpa henti.
Sekarang, masalah baru telah menghadapinya. Bagaimana bisa ia menjadi kekasih Sesshoumaru yang sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya sekalipun.
Tubuhnya tersentak ketika ia merasakan tepukan di bahunya, Kagome menoleh dan mendapati Sesshoumaru berada tepat di belakang punggungnya.
Dan itu sedikit, hanya sedikit membuat jantungnya berdetak cepat entah karena alasan apa—yang jelas ia merasakannya sekarang.
"Apa tidak ada makanan dirumahmu? Buatkan KEKASIHMU INI makanan!" Sesshoumaru menekankan kata-katanya pada kata 'kekasih' untuk menekankan pada Kagome bahwa pemuda itu benar-benar serius dengan ucapannya pada saat ditaman itu.
Tanpa kata, Kagome mengikuti saja ucapan Sesshoumaru. Bahkan ia sama sekali tidak membantah ucapan pemuda tersebut. Bagai terhipnotis, ia dengan sigap melakukan apa yang diperntahkan Sesshoumaru.
Yah memang ia sekarang tidak ingin membuat masalah dengan pemuda tersebut, ia hanya menuruti saja apa kata Sesshoumaru terhadapnya. Bahkan ia tidak bisa protes ketika pemuda itu mengklaim dirinya adalah kekasihnya.
Entah apa yang dirasakannya, yang pasti Kagome hanya tidak ingin pemuda itu jauh darinya. Dan sejak kapan perasaan itu ada, ia tidak tahu.
Sesshoumaru melihat gerak tubuh Kagome yang sedang menyiapkan makanan untuknya, ia jadi merasa... seperti sepasang suami istri. Seyum tipis terukir pada bibir pemuda tersebut ketika ia memikirkannya.
"Kau seperti istriku, Kagome."
Sesshoumaru semakin menyinggungkan senyum tipisnya membuat Kagome menghentikan aktifitasnya memotong sayuran untuk dijadikan salad terhenti. Gadis itu mendelik, niatnya untuk membuatkan makanan terhenti seketika ketika mendengar kata tersebut mengalun begitu saja dari mulut sang pemuda.
Brakkk!
Ia menghempaskan pisau yang dia pegang ke atas meja dihadapannya, tubuhnya berbalik mengahadap Sesshoumaru yang berada di belakangnya, "Apa maksudmu?" ucapnya kasar seraya menunjukkan jari telunjukknya tepat dihadapan wajah pemuda tersebut.
Sesshoumaru hanya menatap Kagome dengan pandangan geli, bukannya takut akan kemarahan Kagome. Ia malah tersenyum sumringah terhadap gadis itu.
Kagome menegang ketika mendapati senyuman pemuda di hadapannya ini sungguh... menawan?
Hei baru kali ini ia melihat senyuman sumringah pemuda itu, bahkan ia sama sekali tidak menyangka pemuda yang terkenal dingin itu menyunggingkan senyum seprti itu.
Jemarinya yang tadi mengacung ke arah Sesshoumaru kini melemas hingga berada di kedua sisi tubuhnya.
Ini sungguh diluar kendalinya, ia bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Yang ia yakini kini pasti wajahnya telah memerah melihat senyuman itu, ia jadi seperti gadis yang sedang jatuh cinta saja—Tunggu... jatuh cinta?
.Tidak.
Kagome menggelengkan kepalanya cepat, ia tidak mungkin jatuh cinta dengan begitu cepat setelah patah hati.
Mata gadis bersurai hitam itu kembali fokus pada pemuda di hadapannya yang masih sama seperti tadi dengan senyuman menawanya yang memikat.
Sesshoumaru mengernyitkan alisnya melihat wajah Kagome yang kini memerah, "Kau sakit?" tanyanya sok polos, padahal dirinya sudah tahu apa yang menyebabkan wajah Kagome memerah seperti itu, Sesshoumaru ini memang menawan 'kan? Batinnya narsis sendiri.
"Tidak!" jawab Kagome sembari menapik tangan Sesshoumaru ketika pemuda itu akan menyentuhkan tangannya pada dahi Kagome.
"Lalu?"
"Aku tidak sakit!"
"Benarkah?" Kagome menganggukkan kepalanya mantap.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu yang diikuti oleh Sesshoumaru.
Dengan cepat gadis itu meraih tas pemuda tersebut dan menyerahkannya pada sang empunya dengan kasar.
"Pulanglah..." lirih Kagome terlihat lelah.
Sesshoumaru hanya diam, mengamati perubahan ekspresi wajah gadis di depannya, tangannya yang kini mengenggam tas miliknya mencengkram erat bahan kain dari tas tersebut. Apa ini? Wajah seperti ini lagi? Ia tidak suka melihatnya!
"Kau mengusir kekasihmu ini?" ucap Sesshoumaru dengan nada yang sedikit kecewa yang disengajakan.
Kagome menundukkan kepalanya, ia tidak tahu harus menunjukkan wajah seperti apa pada pemuda itu, yang jelas ia sudah benar-benar diluar kesabarannya. Ia tidak menyukai pemuda ini. Bahkan untuk melihat wajahnya saja ia menjadi enggan.
"Yah, aku mengusir kekasihku Sesshoumaru dari rumahku!" jawabnya pelan dengan nada sarkastik.
Pemuda bermata karamel itu terdiam.
Dengan pelan ia melangkahkan kakinya maju mendekati gadis yang diam-diam selalu ia perhatikan tersebut. Secara hati-hati tangan kekar Sesshoumaru meraih pucuk kepala Kagome yang hanya diam tidak merespon, didorongnya pelan kepala gadis itu mendekat padanya dan mengecup pelan kening Kagome dengan penuh rasa sayang.
"Baiklah, aku pulang..." ucapnya seraya menjauh dari gadis tersebut dan menuju depan pintu, "Jaga dirimu—" lanjutnya sedikit tercekat ketika ia sudah membuka pintu dan kembali menutupnya dengan pelan.
Kagome hanya termenung memandang kepergian Sesshoumaru yang telah ia usir, 'apa aku terlalu jahat?' tannya batinnya meringis. Sungguh ia tidak bermaksud begitu, ia hanya ingin pemuda itu menutup mulutnya, ia malah berharap pemuda itu menemaninya sekarang bukannya malah meninggalkannya seperti ini. Ia mengira Sesshoumaru akan menolak keinginan palsunya itu dan akan tetap berada di sisinya. Tapi nyatanya tidak. Ia malah pergi meninggalkan Kagome dalam kesunyian dan lagi-lagi patah hati yang menderanya kini muncul kembali.
Perlahan gadis itu memegang dahinya yang baru saja didentuh oleh bibir tipis Sesshoumaru—hangat—seperti ini kah ciuman dari seorang kekasih? Tapi...
"Apa Sesshoumaru marah padaku?" gumamnya lirih seraya menghempaskan tubuhnya pada sofa di beakangnya.
.
.
.
.
Sesshoumaru menapakkan kakinya pada taman yang yang masih lenggang, matahari memang enggan untuk menampakkan sinarnya akibat awan gelap yang menaunginya. Mungkin pagi ini akan turun hujan lagi, musim yang seperti ini memang menyebalkan. Jika saja ia tidak menunggu seseorang, ia pasti tidak akan mau datang ketempat yang menurutnya merepotkan seperti ini.
Mata caramelnya menatap pada pergelangan tangannya yang melingkar sebuah jam tangan,
Jam 07:30.
Dirinya mendesah malas, mungkin ia terlalu bersemangan untuk menemui gadis pujaannya itu sehingga ia tidak sadar kalau dirinya datang terlalu pagi. Belum lagi awan mendung yang tidak mendukung cuaca cerah hari libur ini.
Dengan langkah terpaksa pemuda itu bergegas menuju kedai makan sekedar mengisi perutnya yang kosong sejak ia berangkat tadi.
Tak berapa lama langkah pemuda itu terhenti ketika ia melihat sebuah kedai, namun bukan kedai itulah yang menjadi pusat perhatiannya sekarang. Melainkan sepasang kekasih yang sekarang sedang berada di dalam kedai tersebut.
Keduanya terlihat seperti... sangat bahagia, tidak tahukah mereka bahwa ada seseorag yang sakit jika mereka bersama? Sesshoumaru menggeram ketika mengingat gadis yang sekarang muncul dalam sekelebat bayangannya—Kagome—
Pemuda bermata caramel itu mengepalkan tangannya erat, berusaha meredam emosinya yang tiba-tiba muncul. Dan entah kenapa selera makannya menjadi hilang seketika ia melihat pemandangan itu.
Sekarang Sesshoumaru mengabaikan rasa laparnya dan bergegas mencari Kagome, mungkin saja gadis itu sudah tiba di taman ini.
Tidak.
Ia tidak ingin pemandangan itu terlihat olah gadisnya.
.
.
Kagome tersenyum ceria ketika ia menapaki kaki jenjangnya pada sebuah taman yang telah diberitahukan oleh Sesshoumaru bahwa ia akan menunggunya di taman ini, apa ini bisa disebut sebagai kencan?
Gadis itu dengan cepat mengindahkan pemikiran hal tersebut, ia yakin bahwa ini bukanlah ajakan kencan. Mengingat semalam ia telah membuat pemuda tersebut marah padanya.
Tapi biar bagaimanapun, ia cukup merasa senang bahwa pemuda itulah yang membangunkannya bangun pagi untuk sekedar bertemu dengannya di taman kota. Yah walaupun ia sempat terusik akibat dering ponsenya yang terlalu beisik itu.
Dengan langkah tenang Kagome menelusuri jalanan taman yang berliku dan dipenuhi oleh bebatuan kerikil kecil.
Sesaat tiba-tiba langkahnya terhenti ketika melihat seseorang yang berada tepat tidak jauh di depannya, "Sesshoumaru-kun!" panggilnya sembari melambaikan tangannya semangat.
Sesshoumaru yang dipanggil hanya menganggukkan kepalanya sekilas dan segera menghampiri gadis tersbut, tanpa berpikir panjang ia menarik pergelangan tangan Kagome dan menarik gadis itu menjauh dari taman sekarang juga. Ia tidak memperdulikan protesan yang dilontarkan Kagome setelah ia berhasil membawa Kagome keluar dari taman.
"Apa yang kau lakukan? Bukankah kau yang menyuruhku untuk menemuimu di taman itu? Lalu kenapa kau malah menyeretku ke luar taman, Sesshoumaru?" protes Kagome tidak terima, ia sudah akan kembali melangkahkan kakinya kembali ke taman itu ketika telinganya menangkap suara dingin Sesshoumaru yang mengalun.
"Kau tiak boleh ke sana, Kagome!"
"Apa—"
"Kita harus pergi."
Pemuda itu kembali menarik pergelangan tangan milik Kagome dan membawanya menjauh dari sana, tapi bukan Kagome namanya jika ia mau mengalah begitu saja.
Ia bahkan tidak bergerak dari tempatnya berdiri, walaupun pemuda itu menariknya dengan cukup keras. Kagome malah mengembungkan pipinya dan menjongkokkan tubuhnya merajuk, ia hanya ingin ke taman itu. Apa salahnya sih?
"Kagome..." lantunan dingin itu mengalun lagi, namun itu tidak membuat Kagome gentar sekalipun.
"Aku lapar, paling tidak aku ingin makan sesuatu di taman," ajak Kagome sedikit manja.
Sungguh, jika saja ia tidak ingin menghindari sepasang kekasih yang berada di taman tersebut ia sudah dengan senang hati mengajak gadis itu ke kedai yang baru saja ia hampiri tadi. Tapi ia sungguh tidak ingin Kagome melihat pemandangan yang akan membuatnya patah. Ia tidak ingin melihat air mata gadis itu, cukup hanya sekali saja ia melihat Kagome yang seperti itu.
Tidak mendapat respon, akhirnya Kagome mencoba memegang tangan Sesshoumaru yang menggenggam tangannya dengan sebelah tangannya yang bebas. "Aku mohon~" pintanya memelas.
Sesshoumaru menghela napas, "Kita akan mencari kedai di luar taman."
"Tapi aku ingin disana, Sesshoumaru-kun..."
"Tidak!"
Kagome mengerucutkan bibirnya, "Apa kau masih marah padaku tentang kejadian semalam?"
"..."
Tidak mendapatkan jawaban, gadis bersurai hitam itu kembali menegakkan tubuhnya dan mencoba melepaskan pegangan tangan Sesshoumaru padanya.
Hingga genggaman itu terlapas.
"Gomen, aku tidak ber—"
"Aku tahu, sekarang kita pergi dari sini!"
Ia sangat tahu pemuda bermata caramel itu sangat keras kepala, tapi sungguh ia tidak pernah melihat Sesshoumaru yang seperti ini padanya. Karena penasaran ia mencoba melangkah mundur dan dengan sigap kakinya berlari cepat kembali memasuki taman itu menuju kedai favoritnya yang berda di sana.
Pemuda itu berjengit ketika mendapati Kagome sudah tidak lagi berada di hadapannya, melainkan telah berlari memasuki taman. Kuso! Cepat sekali dia.
Dengan cepat juga Sesshoumaru segera menyusul Kagome menuju kedai itu, tidak! Jangan sampai gadis itu melihatnya.
Ia tidak ingin itu terjadi.
Gadis bersurai hitam itu dengan sengaja menambah kecepatan larinya ketika ia hampir sampai pada kedai yang ia maksud, dengan girang ia menoleh kebelakan, memperhatikan wajah Sesshoumaru yang sepertinya khawatir padanya. Sebenarnya ada apa sih? Kenapa ia tidak di perbolehkan masuk ke taman ini?
Langkah kaki Kagome terhenti ketika sudah sampai peda tujuannya, tanpa babibu lagi ia segera memasuki kedai itu dan dengan cepat menduduki dirinya pada bangku yang tersedia di sana. Ia mendesah lega karena sudah sampai pada tujuan awalnya.
Setelah beberapa menit dirasanya cukup untuk menetralkan pernapasannya yang beberapa saat lalu sempat terengah akibat larinya yang terbilang cukup cepat itu. Ia kemudian mencoba memanggil pelayan yang terdapat di kedai tersebut.
Namun niatnya terhenti ketika melihat pemandangan didepannya, wajahnya yang tadi berseri kini berubah menjadi menegang ketika sang pemuda yang dilihatnya itu juga menolah padanya.
"Kagome!" panggil pemuda tersebut dengan antusias.
Kagome hanya diam menatap nanar pemuda yang sedang memanggilnya tersebut, dan ditambah parah lagi tempat duduk ia dan sepasang kekasih itu saling berdekatan.
"Kagome-chan?" Kikyou yagn merasa sedkit aneh dengan tingkah Kagome mencoba untuk mengenyahkan keterbengongan gadis itu yang entah kenapa.
Gadis itu masih belum merespon panggilan dari Kikyou, ia hanya bungkam menatap keduanya sebelum tepukan halus mendarat dibahunya menyentakkan dirinya untuk tersadar dari diamnya. Kegome menolehkan kepalanya kaget ketika tangan kekar itu tiba-tiba memeluk perutnya. Hal sama juga dialami oleh kedua sepasang kekasih itu, mereka terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Sesshoumaru yang dengan lanacng memeluk gadis di depannya.
"Ka-kau?" Kagome bergumam dengan tingkah aneh pemuda yang sekarang sedang merangkumnya tersebut.
"Sudah lama menuggu, hm?" ucap Sesshoumaru dengan nada yang sengaja dibuat-buat mesra.
Kagome refleks menganggukkan kepalanya.
Pemandangan tersebut membuat Inuyasha dan Kikyou terheran dibuatnya, apa mereka sepasang kekasih? Tidak biasanya Sesshoumaru bertingkah seperti begitu didepan orang lain.
"Apa kalian pacaran?" menghilangkan rasa penasarannya Kikyou bertanya pada keduanya untuk memastikan pemikirannya tersebut.
Inuyasha ikut menganggukkan kepalanya tanda ia sependapat dengan ucapan kekasihnya.
Sesshoumaru melepaskan dekapannya pada Kagome ketika mendengar penuturan gadis di depannya, "ya..." jawabnya singkat dengan nada yang penuh kemantapan.
Mendengar penuturan Sesshoumaru, Inuyasha sedikit menegang mendengarnya. Benarkah mereka...? tidak mungkin! Ia bahkan tidak percaya dengan ucapan sahabatnya tersebut.
"Kagome?" dengan ragu kekasih Kikyou itu bertanya pada gadis yang bersangkutan, ia bahkan ragu Kagome akan meng'iyakan ketika dilihatnya wajah miris gadis tersebut.
Kagome tersentak ketika namanya dipanggil oleh pemnuda yang sekarang telah membuatnya patah hati, ia hanya diam membeku tanpa bisa menjawab pertanyaan tersebut. Bahkan sekarang pemikiran gadis bersurai hitam itu tidak pada tempatnya. Ia hanya memandang kosong objek sebuah meja kosong di depannya.
Melihat hal tersebut, Sesshoumaru menarik pergelangan tangan Kagome agar gadis itu bangkit dari duduknya, "Kami harus pergi," ucapnya pada Inuyasha dan Kikyou seraya menarik gadis itu keluar dari kedai tersebut.
.
.
.
.
"Ne, Inuyasha."
Inuyasha yang dipanggil oleh sang kekasih menolehkan kepalanya, "Hm?" gumam pemuda tersebut tanpa arti.
Ia memandang kosong gadis di hadapannya.
Kikyou dengan ragu sedikit meghela napas, ia tidak yakin bahwa apa yang ia tanyakan ini akan membuat Inuyasha dapat menjawabnya. Ia menjadi ragu ketika melihat mata pemuda tersebut yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Apa aku boleh bertanya?"
Inuyasha tersenyum dengan pertannyaan konyol gadisnya tersebut, tentu saja boleh 'kan? Untuk apa gadis itu menanyakannya lagi.
Melihat senyuman pemuda di hadapannya, Kikyou tahu dengan pasti bahwa pemuda itu membolehkan dirinya untuk bertanya, tapi sesuatu membuatnya menjadi ragu. Ia tidak ingin kesalahpahaman menghapiri mereka pada akhirnya, ia menimbang-nimbang apakah ia akan bertanya atau tidak? Perasaan ragu itu sangat jelas terlihat kentara pada wajahnya hingga membuat Inuyasha mengernyitkan alisnya heran.
"Kikyou?" panggil pemuda tersebut, ia mengibaskan tangan kanannya tepat di depan wajah Kikyou yang terlihat sedikit termenung itu.
Kikyou berjengit.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
Dengan pandangan yang ragu Kikyou menggelengkan kepalanya, "Ah! Na-nandemonai."
"Ada yang kau pikirkan."
"Tidak, Inuyasha-kun."
"Lalu?"
"Aku... hanya ingin permen lollypop itu!"
Kikyou menunjuk pedagang di luar kedai yang menjualkan berbagai permen lollypop, Inuyasha menengok kebelakangnya mengarah pada apa yang telah ditunjuk oleh jemari kurus Kikyou.
"Apa aku boleh membelinya?"
Inyuasha tersenyum sembari mengajak kepalanya pelan, jika hanya itu yang diingikna Kikyou untuk apa gadis itu terlihat ragu mengucapkannya. Ia memang sedikit gemas pada tingkah kekasihnya ini.
Kikyou yang mendapat perlakuan tersebut hanya tersenyum, biarlah. Rasa penasarannya itu ia simpan entah sampai kapan, ia tidak tahu. Tapi yang pasti ia tidak ingin pemuda di hadapannya ini jauh darinya.
Hanya itu yang ia inginkan.
Gadis itu merasakan tarikan lembut di pergelangan tangannya, tangan Inuyasha yang sekarang membawanya keluar dari kedai itu.
Ia mengikuti saja langkah pemuda itu menuju pedagang yang ia tunjuk sebelumnya.
Sungguh, ia menjadi tidak bisa berkonsentrasi saat ini ketika kedatangan Sesshoumaru dan Kagome sebelumnya. Ia menjadi terus memikirkan pemuda yang sekarang menjadi kekasihnya tersebut. Ia merasa tidak nyaman akan kahadiran dirinya ditengah-tengah persahabatan mereka, yah walaupun ia juga berteman sangat akrab pada kagome. Tapi ia sedikit merasa tidak nyaman dengan pandangan kagome terhadap Inuyasha dan juga sebaliknya. Apa ini hanya perasaannya saja?
Kikyo tersentak ketika sebuah permen lollypop berukuran besar berada tepat di depan wajahnya.
"Kikyou?" Inuyasha menatap heran kepada kekasihnya ketika ia menyodorkan permen yang baru saja ia belikan kepada Kikyou, ia menjadi bingung dengan tingkah Kikyo yang berubah ketika pertemuan Kagome dan Sesshoumaru barusan. Apa gadis itu memikirkan sesuatu?
Perlahan Kikyou meraih permen yang disodorkan Inuyasha tersebut, Inuyasha tersenyum ketika menadapati Kikyou dengan ceria menerima permen yang baru saja diinginkannya. Mungkin yang ia pikirkan barusan hanyalah perasaannya saja.
"Arigatou, Inuyasha-kun..." ucap Kikyou seraya memeluk pemuda di hadapannya erat, ia tidak peduli pandangan orang-orang terhadapnya. Yang terspenting sekarang ia bisa bersama dengan seseorang yang sejak dulu disukainya.
.
.
.
.
Keadaan yang hening.
Angin yang berhembus kencang.
Dan rinai hujan mulai berjatuhan sungguh sangat menggambarkan bagaimana perasaan hati Kagome saat ini.
Sekarang mereka—Sesshoumaru dan Kagome—telah dengan santai menduduki sebuah bangku taman di bawah pohon sakura yang kini daunnya berjatuhan, keduanya memang belum membuka suara mereka sedikit pun ketika mereka tiba di tempat tersebut.
Memang sekarang tempat seperti inilah yang Kagome butuhkan untuk lagi-lagi menenangkan dirinya, bahkan pemuda di sebelahnya ini seperti sangat mengerti sekali jika ia sangat menyukai ketenangan dan rasa yang sejuk.
Gadis bersurai hitam itu dengan erat menggenggam kedua tangannya, kepalanya ia tundukkan makin dalam. "Sesshoumaru."
Sesshoumaru menoleh pada Kagome yang sekarang semakin menundukkan kepalanya lebih dalam.
"Gomen to... arigatou."
Pemuda itu mengernyitkan alisnya tidak mengerti dengan ucapan Kagome, "untuk apa?"
Perlahan wajah gadis di sampingnya itu mulai menegakkan kepalanya kembali dan menatap mata caramel Sesshoumaru intens. "Atas semuanya."
"Aku tidak melakukan apapun padamu."
Kagome tersenyum tulus ketika mendapatkan jawaban pemuda tersebut, tidak tahu kenapa perasaan sakit itu hilang begitu saja ketika ia mendengar suara dingin kekasih barunya itu.
"Aku tahu kau berusaha untuk tidak mempertemukanku dengan mereka, karena itu kau berusaha untuk melarangku ke taman itu. Seandainya saja aku menuruti perkataanmu aku pasti tidak akan... melihat mereka."
Sesshoumaru tetap bergeming pada tempatnya.
"Bisakah," Kagome sedikit menghela napasnya, ia sedikit merasa gugup ketika ia mengatakan sesuatu yang sebenarnya enggan untuk ia katakan. Sebenarnya ia malu.
Gadis itu kembali menundukkan kepalanya sehingga membuat pemuda itu sedikit mengernyitkan alis, "Apa?" tanya Sesshoumaru dengan nada sedikit penasaran di dalamnya.
"Bisakah kau membuatku mencintaimu?" dengan satu helaan napas gadis itu berucap seraya menghadap Sesshouamaru dan matanya terpejam erat malu jika ia melihat reaksi yang diberikan Sesshoumaru padanya.
Sesshouamru tersenuym lembut, "Tentu." Ucapnya seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Kagome. Ia senang Kagome meminta hal itu padanya.
Mendapat jawaban yang tak terduga dari Sesshoumaru dengan cepat ia membuka kedua mata hitamnya sekadar melihat ekspresi dari pemuda tersebut, namun hal itu urung ketika ia hanya bisa melihat kedua bola mata Sesshoumaru yang terpejam.
Tak dirasanyanya sentuhan lembut di bibirnya pun terasa lembut, apa ini? Sesshoumaru menciumnya!
Sungguh ia tidak menyangka bahwa pemuda itu akan melakukan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, sebenarnya ia tidak berani membayangkannya.
Bahkan ketika sesshoumaru memberi jarak sedikit diantara mereka Kagome masih saja tetap bergeming di tempat, pemuda bermata caramel itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis yang di sukainya itu. Perlahan tangan kekar itu membelai pipi gadisnya dengan lembut seraya mendekatkan bibir tipisnya pada salah satu telinga kgome yang sensitif, dengan sengaja ia menghembuskan napas hangatnya pada telinga Kagome hingga membuat gadis itu terperanjat, "Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Ucapnya mantap, bibir itu pun menyeringai penuh kemenangan.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Selesai~
Gomen yang udah nunggu ni fic, saya sempat terserang WB karena US -.-
Semoga [ara reader semua masih mau membaca fic *nunduk-nunduk
Makasih yang udah review:
Moku-chan: makasih udah ngingetin ya^maaf juga ga bisa cepet balas PMnya, coz saya udah lama ga buka akun hehe, Kirei: ini udah lanjut, tapi gomen lama~, namikaze shira: wah makasih review nya, maaf ga bisa update kilat^, Guest: hehehe^^ disini memang Sesshoumaru suka sama Kagome, maaf ga bisa lanjut cepat~ tapi ini udah dilanjut kok, Miwa Mitsuko: nasib mereka selanjutnya? Gimana yah?^^ hehehe makasih reviewnya~.
Yosh~ salam.
.
Shiroi no Tsuki
.
