Sebelumnya Bebhe mau minta maaf karena update kelanjutan fic ini lama pake BANGET ! Soalnya baru di terjang badai MALES BERKEPANJANGAN! *plakk xD. Sebenarnya Bebhe mau hapus aja nih fic. Eh,tapi ternyata setelah Bebhe buka ada yg mau reviews+follow. Jadi semangat lagi deh buat ngelanjutin fic abal ini xD*sujud syukur. Jadi Bebhe ucapkan Doumo arigatou buat semuanya yang udah mau repiuw(?) fic abal saya ini. Luph luph luph kalian semua deh.. muah muah muah *plakk plak plak xD

Oke deh, daripada kebanyakan cincong. Capcusss cyiinn…

Happy Reading….

If you don't like please press 'Back' ^^b

.

.

.

.

.

.

.

Previews Chapter 2 : "Darimana kau tau namaku.?"/ 'A-apa?. Be-benarkah Na-Naruto tadi me-memanggil namaku.?'/"A-apa ini, Sakura-chan.?"/ "Teman masa kecil kok."/ 'Hinata ya..'/

.

.

.

***Bebhe Present***

.

.

.

.

WHO I LOVED

Pairing : Naruto U. & Hinata H.

Rated: T-Indonesia

Genre: Romance/ Friendship

Disclaimer: Cerita punya Bebhe-chan, Naruto punya Om Mashashi Kishimoto

WARNING:: abal, typo(padahal gak tau artinya xD), amburadul, tema pasaran, alur? Entahlah, gak nyambung sama judul xD, dan kekurangan-kekurangan lainya*plak

.

.

.

"Jadi kesimpulannya jika kedua sisi di jumlahkan akan menghasilkan jumlah luas permukaan yang sama dengan sisi sebaliknya, dan..bla…bla…bla…bla…." Penjelasan dari guru matematika di depan kelas sama sekali tidak menarik untuk pemuda berambut blonde jabrik yang sedang duduk menopang dagu di bangkunya. Tatapan matanya sangat menyiratkan jika dia bosan dengan pelajaran yang sedang dijarkan gurunya di depan kelas. Siapa lagi kalau bukan Naruto Uzumaki sang pemeran utama kita*ceilah. Naruto menghela nafas panjang, lalu beranjak berdiri dari tempat duduknya.

"Permisi, Iruka-sensei. Saya mau izin ke toliet." Merasa di panggil, sang guru a.k.a Iruka pun menoleh sebentar dan hanya membalas dengan anggukan singkat. Naruto pun beranjak keluar dari kelasnya setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih (murid yang sopan*plak). Naruto berjalan santai dengan tangan di masukkan ke saku celana seragamnya. Siulan pelan terdengar dari bibir seksinya*halah. Naruto berjalan melewati belakang kelas XI IPA 2. Sekilas matanya menangkap siluet seorang gadis berambut indigo sepinggang yang terlihat sedang mengerjakan soal fisika di papan tulis. 'Hinata?'. Sesaat dia kagum terhadap pesona gadis nan cantik jelita itu, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau di depannya ada got.

-SREKK BRUKK-

"Wadaww!" Naruto pun sukses sujud mencium pinggiran got dan sukses pula mengundang para siswa kelas XI IPA 2 untuk keluar melihat apa yang terjadi. Naruto berdiri sambil meringis. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengusap dahinya yang memerah dan tangan kirinya ia gunakan untuk memegangi kaki kirinya yang terasa sakit. Para siswa kelas XI IPA 2 pun serentak menertawainya. Hinata, gadis cantik berambut indigo adalah orang satu-satunya yang tidak ikut tertawa. Setelah tahu siapa yang menjadi pusat perhatian disana dia langsung menundukkan wajahnya. Wajahnya kembali memerah, jantungnya berpacu dengan cepat.

'Na-Naruto? Ke-Kenapa dia..'

"Hei, Naruto! Apa yang kamu lakukan disitu?!" tanya(?) Orochimaru, guru yang tadi mengajar di kelas Hinata. Sementara Naruto masih sibuk dengan dahinya yang semakin benjol.

"Mau ke toilet, Sensei. Tapi aku terpeleset tali sepatuku." Kata Naruto berbohong. Malu, sakit, salah tingkah, campur aduk jadi satu difikirannya sekarang. Orochimaru memeriksa sepatu yang dikenakan Naruto, dan dia melihat kalau tali sepatu Naruto tidak terlepas. Dia pun memelototi murid di depannya yang 'masih' saja sibuk dengan urusan dahinya itu.

"Lihat itu!" Orochimaru mengarahkan telunjuknya kearah sepatu Naruto. Naruto pun susah payah menelan ludahnya. "Tali sepatumu sama sekali tidak terlepas. Apa kau mau bolos pelajaran, eh?" Naruto pun semakin terpojok. Dia tidak mau mengakui kalau dia tidak sengaja melihat Hinata dan tersepona eh terpesona terhadap aura kecantikannya*cieh.

"Kan saya sudah bilang kalau saya tadi mau ke toilet Sensei, kalau Sensei tidak percaya silahkan Sensei ke kelas saya dan tanya kepada Iruka-sensei. Lagipula ini kan jalan satu-satunya kalau mau ke toilet." Jawab Naruto dengan mencoba santai dan terlihat biasa. Orochimaru pun menghela nafas. "Baiklah kali ini kau ku ampuni. Oke anak-anak ayo kembali ke kelas." Orochimaru pun berbalik meninggalkan Naruto diikuti oleh siswa lainnya. Naruto menghembuskan nafas sambil mengelus dadanya.

"Hahh.. Untung saja selamat. Eh,itukan?" Naruto melihat Hinata berjalan di belakang para siswa XI IPA 2. Tetapi wajahnya tidak terlihat karena Hinata menunduk. Naruto ingin memanggilnya, tetapi dia urungkan. Hinata pelan-pelan menoleh ke belakang. Sebenarnya Hinata khawatir dan ingin menolong Naruto, tetapi dia terlalu malu untuk melakukannya. Melihat wajahnya saja membuat jantungnya seakan mau copot. Hinata menolehkan kepalanya dan mendapati Naruto sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Senyum manis terukir di bibirnya. Hinata pun cepat-cepat memasuki kelas ketika dilihatnya Naruto menengok ke arahnya.

"Gadis yang unik." Kata Naruto pelan. Naruto pun berjalan menuju belakang sekolah. Alasan ke toiletnya tadi ternyata memang benar-benar alasan untuk membolos pelajaran. Benar-benar murid teladan*plak. Naruto melihat pohon besar dibelakang sekolahnya. Dia tidak tau jika ada tempat seperti ini di belakang sekolah. Maklum, dia jarang bisa membolos dengan selamat seperti kali ini. Naruto pun duduk bawah pohon besar itu. Suasana yang sejuk, sepi, dan rindang membuat matanya mengantuk. Di sandarkannya kepala durian itu dengan dialasi dengan kedua lengannya di belakang kepala di batang pohon. Kelopak matanya mulai menutup. Hembusan angin bagaikan menina bobokkan dirinya yang makin lama makin mengantuk. Tidak ada satu menit, Naruto sudah menjelajahi alam mimpinya(?).

.

.

.

.

.

.

KRIIIIIIIIIIIIINGGGGG…

"Hoahhh… Akhirnya istirahat juga. Eh Hinata kamu mau ikut aku ke kantin tidak? Aku lapar nih." Kata seorang gadis bersurai merah jambu kepada gadis berambut indigo di depannya. Merasa di ajak bicara, Hinata pun menoleh ke belakang tempat teman kecilnya itu duduk.

"Ee.. Ti-tidak usah, Sa-Sakura-chan. Ka-kamu duluan aja nggak papa." Jawab Hinata halus. Sakura pun berdiri dan berjalan menuju bangku Hinata.

Hinata mulai merasakan hawa yang tidak enak di sekitarnya. Sakura duduk di meja Hinata.

"Tumben kamu nggak mau aku ajak? Kenapa? Aaa.. aku tau. Kau mau kencan dengan Naru-hhmmmfffff.." Hinata cepat-cepat membekap mulut Sakura, sebab dia tau apa yang akan di katakan oleh Sakura. Sakura merasa puas karena sudah membuat wajah temannya yang terkenal pendiam ini menjadi merah padam seperti udang rebus. Hinata sedikit memelototi Sakura dengan memanyunkan bibirnya.

"A-Apa sih,Sa-Sakura-chan. Jangan ngaco deh." Sakura terkekeh pelan. Hinata pun melepaskan bekapannya karena kasihan juga dengan temannya itu. Sakura pun tertawa makin keras. Hinata hanya bisa menunduk menyembunyikan rona di wajahnya karena malu.

"Ahahahahaha… Aduhh.. Dasar Hinata. Bilang aja deh kalo kamu seneng? Iya kan? Hahahahaha.." Hinata mencubit pelan lengan putih Sakura.

"Aww.. Haha.. Maaf-maaf. Cuma bercanda kok. Habis aku gemes sama kamu sih. Malu tapi mau. Kalau kamu benar-benar suka. Cepat ungkapkan padanya, nanti keburu di ambil orang loh. Kan jadi nggak cucok banget getoo." Entah darimana Sakura belajar bahasa alay begitu. Hinata hanya diam. Sebenarnya benar sih apa yang dikatakan Sakura. Tetapi, dia tidak bisa. Selain dia wanita, dia juga belum bisa untuk menatap wajah Naruto. Bagaimana mau mengungkapkan perasaannya kalau menatap wajahnya saja belum mampu. Hinata pun menggeleng.

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Kalaupun dia sudah punya pacar aku nggak akan menyesal mencintainya. Karena cinta itu kan tidak harus memiliki." Kata Hinata dengan menunjukkan senyum manisnya. Sakura kagum kepada temannya itu. Sakura menepuk bahu Hinata dan mendekatkan wajahnya.

"Tenang saja. Aku yakin dia juga menyukaimu kok." Sakura berkata sambil nyengir menunjukkan barisan gigi putihnya. Wajah Hinata semakin memerah mendengar tuturan Sakura barusan.

"Ti-Tidak mu-mungkin. Na-Naruto tidak mungkin.. Menyukaiku. Kenal denganku saja tidak. Na-Naruto sama sekali, tidak tau aku." Kata Hinata samnil memainkan kedua telunjuknya. Hinata teringat saat dia bertabrakan dengan Naruto di lorong sekolah. Naruto sama sekali tidak mengingatnya. Hatinya seperti teriris jika mengingatnya, tetapi apa daya. Hinata tetap Hinata. Dia akan tetap mencoba untuk bersikap biasa. Sakura menaikkan sebelah alisnya.

"Apa maksudmu, Hinata?"tanya Sakura sambil berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan wajah Hinata yang menunduk semakin dalam. Hinata hanya diam. Sakura menghela nafas lalu berdiri.

"Hahh.. Mungkin tidak begitu, Hinata. Kau ini jangan terlau di lebih-lebihkan. Bukannya dia tidak mengenalmu. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu denganmu, Naruto jadi agak lupa denganmu. Nanti lama kelamaan Naruto juga akan ingat kok sama kamu. Lagipula, kamunya juga nggak mau mencoba untuk mendekatinya. Yaahh.. Sekedar berbincang dengan teman lama. Mungkin dengan begitu Naruto akan cepat mengingatmu." Kata Sakura panjang lebar. Hinata berfikir kalau perkataan Sakura juga ada benarnya. Dianya saja yang terlalu memikirkan yang tidak-tidak. Hinata pun mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Sakura.

"Mmm.. Iya Sakura. Kamu benar. Sebenarnya…." Hinata memberi jeda pada kalimatnya. Tangannya mengepal kuat di atas mejanya. Dengan susah payah Hinata menelan ludahnya. Sakura menunggu sambil menaikkan sebelah alisnya.

"Se-Sebenarnya.. A-Aku ju-juga ingin… U-untuk me-mengajak Naruto.. Bi-bicara. Tapi…"

"Aahhh.. Itu gampang, Hinata." Sakura memotong perkataan Hinata sambil menggenggam tangan Hinata kuat-kuat*ciehh. Hinata spontan terkejut lalu di lanjutkan dengan rasa penasaran dengan apa yang di maksud gampang oleh Sakura. Sakura mengedipkan sebelah matanya.

"Lakukan saat kau menghadiri pesta ulang tahun di rumahku. Kau bisa sepuasnya ngobrol dengan Naruto sekalian lebih mendekatkan diri dengannya." Sakura sangat bersemangat bila ada mangsa yang sedang kesetrum asmara seperti temannya ini. Hinata membulatkan matanya. Seketika wajahnya memerah kembali.

"Ta-tapi.. Aku ti-tidak bisa, Sa-Sakura-chan. A-Aku terlalu malu untuk bi-bicara dengannya. Me-Menatap wajahnya saja.. Aku tidak sang-gup." Sakura mulai kasihan dengan Hinata. Hanya Sakura lah satu-satunya teman Hinata yang mengetahui tentang perasaan Hinata terhadap Naruto. Sakura tahu jika Hinata benar-benar tulus mencintai Naruto sejak pertama mereka bertemu di sekolah dasar. Dalam hati, Sakura ingin membantu Hinata agar bisa mendapatkan Naruto. Sakura mengacungkan jempolnya di depan wajah Hinata. Hinata terkejut dan mendongak menatap wajah Sakura.

"Tenang saja. Semuanya bisa di atur." Kata Sakura penuh semangat empat lima. Hinata bingung dengan sikap Sakura yang tiba-tiba menjadi semangat begitu. Sakura mengedipkan sebeleah matanya. "Positive thinking!" kata Sakura. Hinata pun tersenyum senang karena kebaikan hati temannya ini. Hinata pun mengangguk mantab.

"Ba-Baiklah, Sakura-chan." Hinata beranjak berdiri dari tempat duduknya.

"Sakura-chan, a-aku mau membaca buku di belakang sekolah. A-apa kamu mau ikut?" ajak Hinata. Sakura terkejut sejenak lalu cepat-cepat menggeleng. Senyum jahil terukir di bibirnya.

"Tidak usah, Hinata. Aku mauke kantin bersama Ino. Kau kesana saja. Yang semangat ya.. daa…" Sakura pun segera menggaet Ino untuk mengikutinya.

"Ehhh.. Apa-apaan sih kau forehead!" Sakura tidak menghiraukan gerutuan Ino dan tetap berjalan sambil menyeret temannya itu. Hinata mengerutkan dahinya.'Semangat? Apa maksudnya?' Hinata pun segera melupakan apa yang di katakan Sakura barusan. 'Mungkin hanya bercanda' fikir Hinata dalam hati. Hinata mengambil buku novel dari dalam tasnya lalu berjalan menuju belakang sekolah. Lantunan suara indah terdengar dari bibir manis sang heiress kita ini.

Sementara itu, Sakura mengintip dari belakang pintu sambil membekap mulut gadis berambut pirang yang diikat ponytail di sampingnya yang di panggilnya Ino.

"Hmmfff-hoahh.. Apa yang kau lakukan sih Sakura! Aku hampir mati tau karena bekapan tangan besimu itu!" sengit Ino. Ino Yamanaka juga teman kecil Hinata sama seperti Sakura. Mereka bertiga adalah teman akrab di masa kecilnya. Sampai sekarang pun mereka masih berteman baik.

"Ssstt… diamlah, Pig. Aku sedang menjalankan suatu rencana." Kata Sakura dengan menunjukkan cengiran andalannya. Ino pun hanya bisa menaikkan sebelah alisnya. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di maksud temannya ini.

"Biar aku jelaskan. Tadi aku melihat si durian itu tidur di pohon belakang sekolah tempat biasanya Hinata membaca buku. Dan sekarang Hinata mau kesana. Hinata tidak tau kalau Naruto ada disana. Makanya tadi aku pura-pura mengajakmu keluar supaya dia mau kesana sendiri tanpa aku. Kamu pasti tau kan maksudku, Pig?" jelas Sakura panjang lebar. Ino mengangkat jempolnya di depan wajah Sakura.

"Sip. Aku paham maksudmu. Jadi Hinata itu benar-benar menyukai duren montong itu ya? Hahaha."

"Ssstttt.. ayo kita jadi mata-mata." Sakura dan Ino pelan-pelan mengikuti Hinata dari belakang. Otak jahil mereka mendapat suatu ide yang cemerlang. Hinata tidak menyadari jika kedua temannya sedang mengikutinya dari belakang.

.

.

.

.

.

Hinata berjalan pelan menuju belakang sekolah tempat dimana dia membaca buku dengan tenang disana. Itu adalah tempat favorit Hinata.

DEG !

Langkah Hinata terhenti tiba-tiba saat melihat seseorang yang sedang tertidur di bawah pohon kesayangannya. Dan dia mengenali siapa orang itu. Rambut kuningnya melambai-lambai ditiup angin. Kelopak matanya terlihat sangat indah saat tertidur. Senyum manis mengembang di bibirnya. Bisa di pastikan jika orang itu tertidur sangat nyenyak disana.

Deg.. Deg.. Deg… Deg… Deg…

Jantung Hinata kembali berpacu. Wajahnya kembali merah padam seperti tomat. Di dekapnya kuat-kuat buku yang di pegangnya. Kakinya inginberjalan mendekati laki-laki itu, tetapi hatinya berlawanan. Tiba-tiba Hinata teringat akan kata-kata Sakura barusan. 'Lagipula, kamunya juga nggak mau mencoba untuk mendekatinya. Yaahh.. Sekedar berbincang dengan teman lama. Mungkin dengan begitu Naruto akan cepat mengingatmu.' Dengan memberanikan diri, pelan-pelan Hinata melangkahkan kakinya mendekati laki-laki didepannya. Jantungnya tidak mau berhenti untuk terus berlomba-lomba(?) berpacu.

'Na-Naruto..'

Hinata berhenti tepat jarak satu meter di depan laki-laki berambut jabrik a.k.a Naruto. Matanya melihat ke kelopak mata Naruto yang tertutup. Hembusan angin meniup rambut kuning Naruto, di tambah dengan senyum manisnya, menambah kesan tampan di wajahnya. Wajah Hinata semakin memanas. Dia tidak tau harus berbuat apa. Hinata menggelengkan kepalanya lalu berbalik hendak meninggalkan tempat itu, sebelum suara berat menghentikan langkahnya.

"Mau kemana?." Hinata terkejut dan meremas bukunya semakin kuat. Dengan susah payah dia menengok ke belakang. Di lihatnya Naruto mengucek-ucek matanya lalu memandangnya. Hinata segera menolehkan wajahnya kembali sebelum dia pingsan disitu.

"A-Ano.. Ma-Maaf Na-Naruto-kun. A-Aku.. Me-meng-ganggu ti-tidurmu. A-Aku a-akan pergi." Hinata melangkahkan kakinya berniat kembali kekelas. Di rasakan tangannya ditahan oleh tangan yang kekar.

"Disini saja, kenapa buru-buru. Aku memang sudah bangun kok. Jadi, kamu tidak menggangguku. Lagian ini kan masih jam istirahat." Hinata semakin salah tingkah dengan apa yang di lakukan Naruto padanya. Kakinya hampir saja jatuh jika dia tidak mengingat perkataan Sakura tadi. Dengan susah payah, Hinata memberanikan diri untuk membalikkan badannya.

"Be-benar.. Benarkah?" kata Hinata mencoba untuk tidak gugup. Diliriknya Naruto yang tengah tersenyum di depannya. Hinata pun menundukkan kepalanya dalam-dalam sampai rambut panjangnya menutupi wajahnya.

"Iya. Duduklah disini." Kata Naruto sambil menunjuk tempat di sampingnya.

'A-apa? Du-Duduk? Di-Disamping.. Naruto?'

"Cepatlah." Hinata terkejut dan segera duduk di samping Naruto dengan jarak dua meter. Kepalanya masih tertunduk menutupi wajahnya semakin memerah.

'A-Aku harus.. Bisa.. Bertahan.' Hinata menghebuskan nafas pelan lalu sedikit mengangkat kepalanya melirik Naruto

.

.

.

"A-Apa yang ka-kamu la-kukan di-disini, Na-ruto?" Yeahh.. dengan susah payah akhirnya Hinata berhasil mengucapkankan kata-kata setelah mereka saling diam selama beberapa menit.

"Membolos pelajaran. Aku bosan dan menemukan tempat ini. Eh malah ketiduran. Hehe.." kata Naruto sambil menunjukkan cengiran rubahnya. Hinata tersenyum dengan rona merah yang masih terlihat jelas di pipinya. Detak jantungnya agak membaik karena telah berhasil mengajak Naruto bicara.

"Lalu, kamu sendiri? Sedang apa kemari?" tanya Naruto sambil memainkan daun kering di depannya.

"A-Aku su-dah bi-biasa ke-kesini u-untuk mem-baca bu-ku atau se-sekedar mencari u-udara segar." Jelas Hinata sambil menunjukkan novelnya. Naruto manggut-manggut lalu melihat sampul buku Hinata yang bertuliskan "The King of Two Hearts". 'Raja dua hati' batin Naruto. Naruto sepertinya tertarik dengan novel yang di bawa Hinata.

"Itu bisa kau ceritakan?" kata Naruto sambil menunjuk kearah novel Hinata. Hinata pun mengerti maksud perkataan Naruto yang singkat, padat, dan tidak jelas itu*heleh. Hinata pun mengangguk dan memulai menjelaskan isi novel yang di pegangnya dengan sedikit tergagap-gagap(?).

"No-Novel ini menceritakan ten-tang seorang lelaki yang mempunyai du-a wa-nita yang di sukainya. Ke-kedua wanita itu adalah sahabat baik si lelaki. Dan pada suatu hari, salah satu dari kedua wanita itu menyatakan cintanya kepada si lelaki. D-Dan bersamaan dengan itu wanita satunya juga mengungkapkan perasaannya kepada si lelaki. Te-tetapi si lelaki belum memberikan jawaban kepada kedua wanita itu. Karena si lelaki sama-sama menyukai kedua wanita itu. Mmm… I-Intinya be-begitu Na-Naruto-kun. Ke-kelanjutannya a-aku belum membacanya." Terang Hinata panjang lebar. Sementara Naruto hanya manggut-manggut tanda faham terhadap sinopsis yang barusan di ceritakan Hinata.

"Menarik juga. Aku jadi ingin tahu bagaimana akhir dari novel ini." Kata Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Hinata tersenyum melihat Naruto. Tanpa di ketahui oleh Hinata, ada garis merah tipis di pipi Naruto saat ia melihat senyum manis Hinata.

'Ma-Manis' kata Naruto dalam hati. Naruto pun memalingkan wajah ke arah lain untuk menyembunyikan rona diwajahnya. Melihat Naruto hanya diam, Hinata pun memulai membuka novel yang di bawanya. Naruto melihat Hinata dari sudut matanya. Hinata tampak begitu anggun dengan semua sikapnya. Dia sangat menarik di mata Naruto. Jantung Naruto tiba-tiba berdegup lebih kencang. Padahal di awal ia bertemu Hinata ia baik-baik saja. Naruto memegangi dadanya. Dirasakan jantungnya berpacu bagaikan mau copot dari singgasananya. Seperti halnya yang di rasakan Hinata. Memang dia tengah membaca novel sekarang, tetapi tidak fikirannya. Fikirannya kalut melayang entah kemana. Dia terlalu gugup bila di samping Naruto. Apalagi mereka cukup lama berada disitu. Hinata bingung harus berbuat apa lagi. Jadi dia putuskan untuk membuka bukunya saja sebagai alasan. Wajahnya pun masih tetap merah meski tak semerah saat pertama bertemu Naruto tadi. Di sisi lain, Naruto juga bingung mau mencari topik pembicaraan. Jadi, Naruto biarkan saja Hinata membaca novelnya. Melihat wajah Hinata yang sedang serius membaca, dengan rona merah di pipinya sudah menjadi hiburan untuk Naruto. Dia merasa nyaman bisa berada di samping Hinata saat ini. Senyum manis pun terukir di bibirnya.

"Eee.. Ngomong-ngomong, apa kau melihatku tadi saat aku terjatuh, eh?" Hinata menoleh pelan kearah Naruto dengan sedikit menunduk. Hinata hanya mengangguk.

"Heheh.. Memalukan sekali ya. Bisa-bisanya aku terjatuh seperti itu tadi. Untung saja Orochimaru-sensei sedang baik hati, jadi aku tidak di laporkan pada Iruka-sensei. Huffttt…" Hinata tersenyum mendengar Naruto bercerita dengan menunjukkan cengiran khas rubahnya itu.

"La-lain ka-kali, y-yang ha-hati-hati ya, Na-Naruto-kun." Kata Hinata pelan. Naruto nyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal*garuk-garuk mulu sih say? #plak.

"Karena aku terlalu asyik melihatmu ta-upsss!" Naruto segera membekap mulutnya sendiri.

'Sial! Aku keceplosan!' batin Naruto. "A-Apa Na-Naruto-kun?." Hinata fikir dia salah dengar jika tadi Naruto berkata 'melihatmu'. Naruto menggelengkan kepalanya.

"Ah! Ti-Tidak. Tadi aku terlalu asyik melihat langit. Jadi tidak liat jalan deh. Heheheh.." bohong Naruto. Hinata pun tersenyum. 'Ternyata aku memang salah dengar' batin Hinata.

"Mmm.. Na-Naruto-kun a-ada-ada saja." Hinata terkikik pelan. Naruto ikut tertawa melihat Hinata menertawainya.

"Oiya, kamu temannya Sakura kan?," tanya Naruto setelah tawanya reda. Hati Hinata mencelos seketika saat Naruto bertanya tentang Sakura. Hinata mengangguk.

"Ooo.. Begitu." Naruto manggut-manggut saja.

"Ka-Kamu ke-kenal dengan Sa-Sakura-chan?." Hinata heran kenapa bisa Naruto tahu tentang Sakura, sementara Hinata belum pernah melihat Sakura bersama Naruto.

"Dia temanku sejak kecil. Kami sering bermain bersama. Kadang-kadang kami menceritakan semua tentang diri kami masing-masing. Sampai sekarang pun kami masih berteman baik. Walau jarang bertemu, kami biasa berhubungan lewat sms atau telefon. Tetapi, kalau di sekolahan aku tidak pernah bisa berdua dengannya. Karena nanti aku bisa membuat si Sasuke-teme itu salah paham. Padahal aku kangen banget sama Sakura. Eh, kenapa aku malah jadi curhat begini ya sama kamu. Hehehe…" Kata Naruto panjang lebar. Hinata hanya bisa tersenyum pahit menanggapi cerita Naruto. Di lihat dari cerita dan cara Naruto menceritakan semua tentang dirinya dan Sakura, Hinata tahu jika Naruto menyukai Sakura. Hinata mencoba untuk terlihat biasa di depan Naruto.

"Mmm.. Ka-kamu a-akan da-datang kan di pe-pesta ulang tahun di-di rumah S-Sakura-chan?." Tanya Hinata pelan, mencoba untuk menutupi suaranya yang bergetar. Naruto menggeleng.

"Aku tidak tau. Aku rasa percuma juga aku datang, tapi aku tidak bisa bicara dengannya. Hahh.." Naruto menyenderkan kepalanya pada batang pohon di belakangnya.

"Da-Datanglah, Na-Naruto-kun. A-Aku yakin Sa-Sakura-chan ju-juga… Me-merindukanmu." Hinata bersusah payah untuk mengucapkan kata-katanya yang terakhir. Naruto tersenyum mendengar ucapan Hinata.

"Yaahh.. Semoga saja. Kau juga datang tidak?." Tanya Naruto melihat ke arah Hinata yang sedikit menunduk. Hinata mengangguk pelan.

"Yeahh.. Baguslah kalau kau datang. Pasti lebih asyik lagi jika bisa berkumpul bersama teman lama."

DEG!

'A-Apa? Te-teman lama?. Jadi artinya, Na-Naruto.. I-ingat padaku?.'

"Iya kan.. Hinata?."

Mata Hinata membulat sempurna.

'A-Apa?.'

Hinata terkejut bercampur senang saat Naruto menyebut namanya. Rasa sakit di hatinya pun perlahan menghilang di gantikan dengan perasaan senang. Hinata senang ternyata Naruto tidak lupa padanya. Hinata teringat perkataan Sakura, 'Bukannya dia tidak mengenalmu. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu denganmu, Naruto jadi agak lupa denganmu.'.

'Sakura-chan benar.' Hinata tersenyum manis dan kemudian mengangguk mantab.

"I-iya."

Naruto berdiri lalu membersihkan kotoran di belakang celananya. Hinata mendongak melihat Naruto.

"Sebentar lagi bel masuk. Hinata, ayo kembali ke kelas." Ajak Naruto dengan senyum di wajahnya. Hinata segera menunduk menyembunyikan wajahnya yang kembali memerah karena melihat senyum Naruto. Hinata segera berdiri dan mengikuti Naruto di belakangnya.

.

.

.

.

"Eh, forehead. Mereka menuju kemari. Ayo pergi. Heh! Forehead kau malah melamun sih? Heii!" Ino mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Sakura.

"E-eh.. I-Iya Pig. Ayo cepat, sebelum mereka melihat kita." Kata Sakura sambil menyeret tangan Ino. Sementara yang di perlakukan begitu hanya bisa menggerutu kesal.

'Naruto… Hinata… Apa yang harus aku lakukan?.'

.

.

.

.

.

Hari dimana pesta ulang tahun di rumah Sakura pun tiba. Rumsh Sakura sudah di sulap menjadi ruangan pesta yang sangat indah dan terlihat meriah. Satu -persatu teman Sakura berdatangan. Sakura terlihat sangat cantik malam itu dengan short dress berwarna merah maroon dengan pita warna pink di pinggang sebelah kirinya serta sepatu highheels berwarna merah senada dengan baju yang di kenakannya. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja.

"O-tanjoubi Omedetto Sakura." Ucap gadis berambut ponytail yang merupakan teman Sakura sekaligus Hinata.

"Terima kasih, Ino. Mana pacarmu si albino itu?." Ledek Sakura sambil mencoel lengan mulus Ino. Ino melotot lalu memalingkan mukanya. Ino mengenakan short dress berwarna ungu dengan pita putih di pinggang sebelah kanannya, serta sepatu highheels warna putih yang turut memperindah kakinya.

"Entahlah, nanti dia juga menyusul."

Sakura terkekek melihat teman baiknya ngambek.

"Yasudah silahkan masuk, Ino-pig." Kata Sakura mempersilahkan(?). ino pun masuk ke rumah Sakura tanpa mengucap terima kasih. Sakura terkikik pelan melihat tingkah laku teman kecilnya itu.

"O-tanjoubi Omedetto Sakura.."

Sakura terkejut mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Sakura membalikkan badannya menghadap sang pemilik suara. Terlihat seorang lelaki berambut chicken but mengenakan kemeja berwarna putih dibalut dengan jaket warna biru tengah berdiri sambil memegang bunga mawar merah di depannya. Lelaki itu pun memberikan bunga mawar itu kepada Sakura. Sakura pun tersenyum dan menerima bunga pemberian dari kekasihnya itu. Sasuke Uchiha adalak laki-laki yang telah menjabat sebagai pemilik hati Sakura*cieh* sejak setahun yang lalu. Dia adalah lelaki yang sangat terkenal dengan ketampanannya dan sikap stoicnya itu. Tetapi Sasuke bisa menjadi romantis jika berada di depan kekasihnya, Sakura.

"Terima kasih, Sasuke-kun." Kata Sakura.

DEG !

Tiba-tiba Sakura di kejutkan dengan rambut di belakang Sasuke. Rambut blonde jabrik. Dia mengenali rambut itu. 'Naruto?'

"Hei, dobe. Sampai kapan kau akan berdiri disitu." Pangggil Sasuke kepada lelaki di belakangnya.

Naruto pun menampakkan wajahnya. Dia terlihat tampan dengan jas berwarna hitam dan kemeja berwarna putih serta celana jeans warna hitam. Di tangannya terdapat kotak berisi kado untuk Sakura.

"O-tanjoubi Omedetto, Sakura." Naruto menjabat tangan Sakura. Mereka sama-sama tersenyum. Blue Shappire dengan Emerald hijau pun bertemu saling mendalami arti dari warna masing-masing, sampai-sampai mereka tidak menyadari jika tangan mereka masih saling bertautan.

"Ehemmm…" Sasuke mengejutkan Naruto dan Sakura. Naruto pun segera melepas tangannya dan memberikan hadiah yang di pegangnya kepada Sakura.

"Ma-Maaf, Sakura. Ini untukmu." Naruto sedikit menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.

"Te-Terima kasih, Naruto. Sudah lama tidak bertemu ya?." Kata Sakura sambil tersenyum. Naruto ikut tersenyum. Dia senang bisa melihat senyum Sakura kembali. Rasanya rasa rindunya selama ini telah terobati.

Sakura pun mempersilahkan kekasih dan temanya itu untuk masuk. Dan tanpa disadari oleh mereka. Sepasang mata ungu keperakan melihat mereka sedari tadi dengan tatapan sayu.

'Semoga kau senang. Naruto-kun.'

TUBERCULOSIS*plak

Maksudnya- TO BE CONTINUE-

.

.

.

.

Arena Bacot Author*plakk!

Ayeee! Akhirnya Chapter 3 selesai! ^o^/

Apakah masih kurang panjang? Kurang tampak ya NaruHina-nya? Kurang romantis ya? Hehe.. di chapter depan bakalan ada+tambah romanitis kok, walaupun keselingan sama pair lainnya ^^v

Fic ini aku buat di detik-detik menjelang akhir ujian semester ^o^ *gak ada yang tanya'

Lembur dari jam 7 sampe jam 10 malem buat bikin+neliti bahasanya. Di teliti pun bahasanya tetap amburadul yah ^o^a *jiehh, malah curhat =='a

Oke deh, chapter selanjutnya akan segeran di post lagi. Tapi Bebhe mau minta repiuwnya buat menambah semangat Bebhe buat kelanjutan fic ini ^^b

Dan sekali lagi Bebhe ucapin terima kasih banyak buat yang udah mau baca+review+ngasih saran tentang fic Bebhe ini. Terima kasih terima kasih terima kasih *sujud sujud di tanah. Dan Bebhe mau minta maaf kalau bahasanya masih amburadulan. Soalnya nggak biasa nulis baku+kurang menguasai EYD. Maklum orang alay*plakk! xD

Sebenernya chapter 4 udah di buat sih, tapi mau ngetes aja berapa orang yang suka sama fic abal buatanku ini. Jadi Bebhe tunggu repiuw-repiuwnya ya ^o^/

Pay-Pay….