Aloaloaloalohaaaaa…. *PLAK xD

Ai kam bekk xD

Uhuiiyy… Hontou ni gomennasai buat readers semuanya di manapun Anda berada*heleh* ^o^/

Maaf update chapter ke-4 ini agak lama, soalnya baru sibuk sama lomba-lomba di sekolah. Dan karena sibuk ngurus lomba-lomba itulah uang saya abis buat beli persiapannya*plak*. Jadi nggak bisa beli pulsa modem. Curhat nih ceritanyee.. xD

Pumpung dapet gratisan pulsa, Bebhe buat ngepost nih fic abal karya Bebhe xD

Oiya, makasih buat semuanya yang udah mau ripiuw(?) fic ini. Itu sangat menambah semangat Bebhe untuk membuat chapter 4 ini lagi. Karena flashdisk Bebhe ilang waktu di bis, jadi data fic ini juga ikut ilang. Kepaksa deh Bebhe buat lagi chapter 4 ini demi readers semuanya :D *SIRKUIT gubrak! xD

Yaudah deh gitu aja qosidahannya, nanti malah bosen baca fic Bebhe ini…

Happy Reading…

If you don't like please press 'Back' ^^b

.

.

.

.

.

.

.

Previews Chapter 3 : "Hei, Naruto! Apa yang kamu lakukan disitu?!"/ "Gadis yang unik."/ "Tenang saja. Aku yakin dia juga menyukaimu kok."/ "Menarik juga. Aku jadi ingin tahu bagaimana akhir dari novel ini."/ "Oiya, kamu temannya Sakura kan?,"/ "Da-Datanglah, Na-Naruto-kun. A-Aku yakin Sa-Sakura-chan ju-juga… Me-merindukanmu."/ "Te-Terima kasih, Naruto. Sudah lama tidak bertemu ya?."/ 'Semoga kau senang. Naruto-kun.'

.

.

.

***Bebhe Present***

.

.

.

.

WHO I LOVED

Pairing : Naruto U. & Hinata H.

Rated: T-Indonesia

Genre: Romance/ Friendship

Disclaimer: Cerita punya Bebhe-chan, Naruto punya Om Mashashi Kishimoto

WARNING:: abal, typo(padahal gak tau artinya xD), amburadul, tema pasaran, alur? Entahlah, gak nyambung sama judul xD, dan kekurangan-kekurangan lainya*plak

.

.

.

.

Seorang gadis berambut indigo sepinggang, yang mengenakan long dress berwarna ungu pucat senada dengan warna bola matanya sedang duduk termenung sendirian di kursi taman malam itu. Suasana yang sepi yang hanya di temani oleh lampu taman yang berjarak dua meter darinya, menambah kesan suram di wajahnya. Pandangan matanya sayu, tangan kirinya memegang sebuah kotak kado berwarna merah muda berhiaskan pita merah. Rambutnya terlihat kusut karena terkena keringat.

Dialah Hyuuga Hinata. Seharusnya saat ini dia sedang berada di pesta ulang tahun teman kecilnya, Sakura Haruno. Tetapi entah kenapa kakinya malah membawanya lari ke taman yang sudah gelap dan sepi.

***Flashback***

Baju bermacam-macam jenis berserakan di atas tempat tidur seorang remaja cantik bermata ungu keperakan yang sedang asyik(?) mengobrak-abrik lemari bajunya. Di ambilnya baju terusan berwarna hijau muda dengan hiasan renda di leher. Di lihatnya pantulan dirinya di kaca.

"Arrghh…. Bukan!" Di lemparkannya baju itu di atas tempat tidur.

KREEKK…

"Apa yang Nee-chan lakukan?." Seorang gadis kecil yang mempunyai mata sama dengan gadis di depannya melongo melihat kamar kakaknya yang lebih parah dari seekor(?) pesawat yang jatuh hancur berkeping-keping*heleh. Dia melihat satu persatu baju yang menjadi korban(?) pelemparan massal. Hyuuga Hanabi, adik dari heiress kita, Hyuuga Hinata, menatap heran semua baju-baju yang ada di atas tempat tidur kakak perempuannya itu.

"Baju-baju ini? Tidak biasanya Nee-chan memakai baju seperti ini sehabis mandi. Nee-chan mau kemana?" tanya Hanabi sambil menunjukkan salah satu baju yang ada di atas tempat tidur Hinata. Hinata menunduk lalu mengacak-acak rambut panjangnya. Hanabi semakin bingung dengan tingkah laku kakaknya. Hinata lalu menunjuk sebuah kertas di atas meja riasnya yang berwarna merah muda. Mengerti maksud kakaknya, Hanabi segera mengambil kertas itu dan membacanya.

"Undangan Ulang Tahun?" ucap Hanabi. Hanabi lalu teringat saat seorang gadis berambut merah jambu memberikan undangan ini waktu mereka hendak pulang sekolah. Hanabi ingat saat gadis itu mengatakan dia juga mengundang seseorang yang Hinata kenal. Hanabi mengangguk-angguk mulai mengerti apa masalah kakak perempuannya ini. Hanabi meletakkan undangan itu di atas meja kembali lalu berjalan menuju lemari baju Hinata. Hinata hanya melihat dengan tatapan pasrah(?). Hanabi mengambil gaun tanpa lengan berwarna biru tua dengan hiasan pita kecil di pinggang lalu menoleh pada kakaknya yang sedang berdiri di belakangnya. Dilihatnya baju yang di pegangnya dan kakaknya.

"Ckckck. Tidak cocok." Hanabi lalu mengembalikan baju itu kedalam lemari. Hanabi melihat semua baju yang ada di dalam lemari kakaknya dengan seksama. Mulai dari pojok kiri sampai ke pojok kanan tapi dia tidak menemukan baju yang cocok untuk kakaknya. Hinata menghela nafas. Dari wajahnya dapat dilihat jika dia sudah putus asa.

"Memangnya Nee-chan mau bertemu dengan siapa sih sampai-sampai memilih baju saja susah." Hanabi malah emosi*karna terbawa suasana*.

"Ti-tidak bertemu dengan siapa-siapa kok. Nee-chan cuma… Cuma bingung mau memakai baju yang mana untuk menghadir pesta ulang tahun Sakura-chan." Hinata terduduk lemas di atas tempat tidurnya. Hanabi melihat Hinata menduduki sebuah baju berwarna ungu pucat.

"Eh, itu apa Nee-chan? Kayaknya cocok dengan Nee-chan." Hinata menaikkan sebelah alisnya lalu melihat ke sampingnya. Hinata lalu berdiri dan mengambil baju itu lalu menunjukkannya pada Hanabi. Hanabi segera merebut baju di tangan kakaknya. Long dress berwarna ungu pucat senada dengan mata mereka berdua, dengan hiasan pita kecil berwarna putih di leher sebelah kiri. Senyum Hanabi mengembang.

"Nahhh… Ini baru cocok dengan Nee-chan. Warnanya kalem dan simpel. Cepat pakai ini Nee-chan." Hinata menuruti saja apa yang di katakan adiknya. Karena dalam hal berdandan Hanabilah yang lebih moderen(?). Setelah selesai memakai bajunya, Hanabi menyodorkan sebuah sepatu highheels berwarna putih yang tidak terlalu tinggi agar kakaknya tidak kesulitan saat berjalan. Hinata mengenakan sepatu itu. Setelah itu, Hanabi menyuruh kakaknya untuk duduk

"Aku tidak mau di rias, Hanabi." Hinata segera menjauhkan dirinya saat melihat Hanabi memegang kotak rias di tangannya.

"Ayolah Nee-chan. Nee-chan pasti tambah cantik nanti."

"Tidak mau!"

"Ayo Nee-chan."

"Tidak mau! Biar aku merias wajahku sendiri, Hanabi." Hanabi memutar bola matanya. Dia sudah tau kalau memaksa kakaknya yang satu ini akan percuma.

"Ya sudah, Nee-chan cepat-cepat berangkat. Sudah hampir jam tujuh tuh." Kata Hanabi sambil berjalan menuju pintu.

"Iya. Terima kasih bantuannya ya, adikku sayang." Hanabi hanya menanggapinya dengan gerutuan.

'Kalau ada maunya aja ngomong gitu. Huh! Dasar!' Hanabi lalu keluar dari kamar kakaknya, membiarkan kakaknya menyelesaikan urusannya sendiri.

Hinata hanya merias wajahnya dengan bedak yang tipis, lalu menyemprotkan sedikit parfum ke pergelangan tangan kirinya dan menggosokkannya dengan pergelangan sebelah kanan. Setelah itu, Hinata merapikan rambutnya. Hinata menambahkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu berwarna putih di rambutnya. Hinata lalu melihat pantulan dirinya di depan cermin. Senyum manis terukir di wajahnya.

"Na-Naruto-kun, datang tidak ya?" katanya pelan. Wajah Hinata kembali memanas saat mengingat pertemuannya dengan Naruto. Apalagi dirinya bisa duduk bersama Naruto cukup lama saat itu. Hinata melirik pada sebuah bingkai foto yang terpajang manis di atas meja riasnya. Terlihat seorang anak berambut pirang dengan tiga garis di pipinya, dan dua anak perempuan yang manis berada di sampingnya. Senyumnya sedikit memudar saat melihat seorang gadis yang tersenyum manis di samping anak laki-laki itu. Hinata kembali teringat saat Naruto menceritakan tentang Sakura saat bersamanya. Hinata tersenyum miris, lalu segera menghilangkan fikiran negatif di otaknya.

"Sudahlah lupakan. Aku tidak mau terlalu larut dalam hal ini." Kata Hinata menyemangati dirinya sendiri. Di lihatnya jam weker yang terletak di samping fotonya.

'Jam setengan tujuh. Lebih baik aku segera berangkat ke rumah Sakura-chan.'

Hinata mengambil kotak kado berukuran sedang yang berwarna merah muda dengan pita merah di atasnya. Hinata lalu turun menuju lantai bawah. Dilihatnya Hanabi sedang bersama sepupunya Neji sedang menonton televisi.

"Ayah kemana Nii-san?." Tanya Hinata pada Neji. Melihat penampilan Hinata yang tidak seperti biasanya, Neji berfikir jika Hinata akan pergi.

"Mau kemana?." Bukannya menjawab pertanyaan Hinata, Neji malah melempar pertanyaan kepada Hinata.

"Menghadiri pesta ulang tahun Sakura-chan, Nii-san." Hinata menunjukkan kotak kado yang di pegangnya kepada Neji. Neji hanya mengangguk.

"Menghadiri pesta ulang tahun…. Sekalian bertemu dengan sang pangeran pujaan hati." Cibir Hanabi sambil melempar senyum jahil ke arah Hinata. Wajah Hinata langsung memerah mendengar Hanabi mengejeknya. Memang ada benarnya apa yang di katakan Hanabi. Neji melotot ke arah Hinata mendengar perkataan Hanabi. Sebelum dirinya mendapatkan khotbah berjam-jam dari sepupu laki-lakinya yang sangat over protect itu, Hinata segera lari menuju pintu.

"A-aku berangkat dulu." Kata Hinata sambil berlari keluar.

"He-heii Hinata!" Di abaikannya teriakan Neji dari dalam rumah. Hinata terkikik dengan tingkah lakunya sendiri. Hinata lalu berjalan menuju rumah Sakura. Kebetulan rumah Sakura tidak terlalu jauh dengan rumahnya. Hanya berjarak satu setengah kilometer dari perempatan rumahnya.

Selama berjalan, Hinata membayangkan hal yang tidak-tidak saat dia bertemu dengan Naruto nanti. Senyum mengembang di bibir tipisnya.

'Aku sudah bisa berkomunikasi dengan Naruto-kun, walaupun belum begitu lancar. Semoga nanti bisa lebih baik.'kata Hinata dalam hati. Tiba-tiba ada sebuah mobil melewati Hinata. Mobil sporty warna hitam dengan plat nomor yang sudah tidak asing lagi bagi Hinata. Itu mobil Sasuke, kekasih Sakura. Tetapi Hinata melihat dua laki-laki yang ada di dalam mobil tersebut. Hinata dapat mengenali orang di samping Sasuke. Jantungnya kembali berdegup kencang, dan wajahnya kembali memanas.

'I-itu.. Na-Naruto-kun.' Kata Hinata dalam hati. Hinata senang ternyata Naruto datang. Tetapi Hinata hanya bisa melihat sekilas saja karena mobil Sasuke melaju dengan cukup cepat. Hinata mempercepat jalannya, ingin segera bertemu dengan Naruto. Mobil Sasuke sudah hilang di perempatan jalan rumah Sakura. Hinata berlari kecil agar segera sampai ke rumah Sakura.

'Na-Naruto..'

Rumah Sakura mulai terlihat oleh Hinata. Hinata pun mempercepat larinya. Gerbang rumah Sakura sudah dekat dengannya.

"Akhirnya sam-"

Hinata melihat Naruto dan Sakura berjabat tangan dan saling memandang. Pandangan mereka bukan pandangan rindu terhadap teman lama. Pandangan mereka seperti pandangan sepasang kekasih.

"Ehemm…" Hinata melihat Naruto segera melepaskan tangannya setelah Sasuke mengagetkannya. Hinata merasakan sesuatu menimpa tubuhnya. Kedua tangannya menggenggam kuat. Digigit bibirnya kasar. Hinata tersenyum miris.

'Semoga kau senang. Naruto-kun.'

Hinata lalu lari dengan sepenuh tenaganya. Air matanya mengalir deras mengiringi derap kakinya. Hatinya terasa tertusuk-tusuk. Badannya serasa lemas, tetapi entah darimana Hinata mendapatkan tenaga untuk berlari.

Hinata berhenti di sebuah taman. Gelap dan sepi tidak di perdulikannya. Hinata duduk di sebuah kursi kosong.

***End of Flasback***

Hinata meremas pita kado yang menghiaso kotak kado yang akan di berikannya pada Sakura. Air mata kembali menetes di pipi mulus Hinata.

"Kenapa… Kenapa.. Kenapa ini semua… Bisa terjadi… Hiks hiks.." Hinata menengadah ke langit yang gelap.

"Bintang pun tak menghiasi gelapnya langit malam ini. Semuanya seperti senang jika melihat aku seperti ini." Hinata mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Hinata mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Hal itu biasa di lakukannya untuk menenangkan hatinya.

"Aku lucu sekali. Aku menjilat ludahku sendiri."

"Aku yang bilang.. Jika aku sanggup merelakan Naruto-kun untuk orang lain." Hinata teringat kata-kata yang di ucapkannya saat dia dan Sakura di kelas.

'Tidak apa-apa, Sakura-chan. Kalaupun dia sudah punya pacar aku nggak akan menyesal mencintainya. Karena cinta itu kan tidak harus memiliki.'

Hinata tertawa pelan. "Tetapi kenyataannya aku tetap tidak bisa… Merelakan Naruto-kun, untuk orang lain."

Hinata mengalihkan pandangannya pada kotak kado berwarna merah muda di sampingnya. Hinata tersenyum pahit.

"Sekalipun itu.. Sahabat baikku sendiri."

.

.

***Sementara dirumah Sakura***

"Hei, Dobe. Sampai kapan kau akan berdiri di depan pintu itu." Teriak seorang laki-laki berambut raven dengan tangan kanan merangkul seorang gadis cantik berambut merah jambu. Merasa di panggil, laki-laki berambut pirang dengan coretan di pipinya pun menolehkan kepalanya.

"Aku sedang menunggu seseorang." Jawabnya singkat. Sasuke mengernyitkan dahinya.

"Seseorang? Siapa? Pacarmu?" tanya Sasuke penasaran. Tidak biasanya Naruto menunggu seseorang saat pergi ke acara temannya. Naruto menggeleng.

"Aku menunggu teman lama. Katanya dia mau datang. Tapi sampai sekarang belum terlihat juga." Naruto memandang ke arah gerbang rumah Sakura. Namun tetap tidak ada siapa-siapa disana. Sakura hanya diam. Dia mengerti siapa yang di maksud Naruto. Sakura mengigit bibir bawahnya.

'Apa yang harus aku lakukan sekarang.' Kata Sakura dalam hati. Sakura melirik kekasihnya yang sedang asyik meminum jus tomat kesukaannya di sampingnya. Sasuke menoleh ke arah Sakura.

"Kenapa?" Sakura hanya terkikik lalu mengalihkan pandangannya ke arah teman-temannya yang sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing setelah acara puncak pesta Sakura selesai.

"Kau tau siapa yang sedang di tunggu si duren itu?" tanya Sasuke mengagetkan Sakura. Sakura menoleh pada Sasuke, lalu mengangguk. Sakura mencoba untuk tersenyum di depan kekasihnya.

"Dia Hinata. Teman kami sejak kecil. Katanya sih dia mau datang, tapi mana ya dari tadi belum nongol." Jawab Sakura mencoba untuk sebiasa mungkin. Sasuke hanya mengangguk tanda mengerti. Sebenarnya Sakura melihat Hinata lari berbalik arah dari depan gerbangnya saat dirinya bersalaman dengan Naruto. Sakura tau jika dia telah melukai perasaan sahabatnya. Tetapi dia sendiri bingung mau berbuat apa. Dia mencoba untuk melupakan perasaannya terhadap Naruto dengan menjalin hubungan dengan Sasuke, tetapi perasaan itu tetap ada dihatinya. Sakura melirik Naruto yang masih setia menanti Hinata di depan pintu.

'Apakah Hinata tidak akan datang? Tetapi dia kan sudah janji mau datang dan berkumpul bersama kami.' Kata Naruto dalam hati. Naruto lalu berjalan ke depan gerbang. Di lihatnya ke sebelah kanan. Sepi. Ke arah kiri. Sepi.

"Tidak ada tanda-tanda akan ada orang lewat. Hahh.. Hinata tidak datang ya." Naruto menendang batu di depan kakinya. Matanya tiba-tiba melihat sesuatu yang terletak di bawah kakinya.

Naruto mengambil benda yang berbentuk kupu-kupu berwarna putih itu.

"Ini kan penjepit rambut. Kenapa ada disini? Milik siapa ini?." gumam Naruto sambil menimang benda tersebut. Tiba-tiba Naruto tersentak seakan teringat sesuatu.

"Atau jangan-jangan… Hinata." Naruto pun menengok ke sekeliling jalan, tetapi tidak ada siapa-siapa.

'Hinata.' Naruto lalu lari mencoba untuk mencari Hinata. Tiba-tiba saja kakinya bergerak sendiri ke arah utara.

Sakura melihat Naruto berlari ke arah utara. Sakura semakin tak tenang. Ingin rasanya dia menyusul Naruto. Tetapi ada Sasuke di sampingnya. Sakura tidak mau lebih menyakiti Sasuke. Fikiran Sakura kacau antara pergi atau tidak. Wajahnya terlihat gelisah. Untung saja Sasuke tidak menyadarinya.

'Aku.. Harus bisa mengatakan semuanya kepada Naruto. Sebelum itu semua terjadi.' Sakura melirik kekasihnya yang sedang mengobrol dengan Sai, kekasih Ino. Sasuke menoleh saat merasa ada yang memegang bahunya.

"Emm.. Sasuke-kun, aku mau ke belakang sebentar ya. Sudah nggak tahan." Kata Sakura sambil nyengir. Sasuke mencubit pipi Sakura pelan.

"Iya sayang~" Sakura tersipu saat Sasuke memanggilnya seperti itu. Sakura lalu beranjak pergi tidak menghiraukan suara teman-temannya yang menyorakinya.

"Aku akan lewat pintu belakang saja." Gumam Sakura saat sudah merasa aman dari Sasuke dan teman-temannya. Sakura berlari memutari rumahnya. Untung tembok rumah Sakura tidak terlalu tinggi. Hanya sekitar dua meter. Sakura menggunakan meja yang ada di belakang rumahnya untuk melompati tembok itu.

HAP!

Akhirnya Sakura bisa lolos dari rumahnya. Merasa tidak ada siapa-siapa yang mengikutinya, Sakura segera berlari sekuat tenaga untukmenyusul Naruto.

'Pergi kemana dia tadi.' Kata Sakura dalam hati. Matanya mencari-cari ke sekeliling jalan, tetapi tidak terlihat seorang pria berambut pirang dimana-mana.

'Naruto… Tunggu aku.'

.

.

.

.

.

Naruto mencari ke sekeliling jalan, tetapi belum juga menemukan Hinata. Hingga akhirnya Naruto berhenti di sebuah taman yang gelap dan sepi.

"Hosh.. Hosh.. Hosh.. Hahh.. Hinata.. Kamu dimana sih!" Naruto memperhatikan penjepit rambut berbentuk kupu-kupu yang ada di tangannya.

'Kenapa aku sangat ingin bertemu Hinata? Dan kenapa aku sampai repot-repot mencari Hinata.' Naruto menggenggam erat penjepit rambut itu.

'Padahal selama ini, hanya Sakura yang ada di fikiranku. Bahkan sekalipun aku tidak pernah memikirkan Hinata.' Naruto semakin mempererat genggaman tangannya.

'Semenjak bertemu dengannya di belakang sekolah waktu itu.' Naruto membayangkan senyuman manis Hinata saat melihat wajah Naruto. Rona di wajahnya menambah kesan manis untuk Hinata. Tanpa disadari, jantung Naruto berdegup kencang saat mengingat tentang Hinata.

"Mungkinkah ini… Cinta." Gumam Naruto. Tiba-tiba Naruto di kejutkan oleh seseorang yang menepuk bahunya dari arah belakang. Dengan cepat Naruto menoleh ke belakang.

"Loh, Sakura. Apa yang kau lakukan disini? Mana Sasuke?."

Sakura ternyata berhasil menyusul Naruto. Nafasnya masih terengah-engah. Kini Sakura tengah menunduk memegang lututnya sambil membenarkan nafasnya. Yang membuat Naruto heran adalah, kaki Sakura yang tanpa alas kaki. Naruto membantu Sakura berdiri tegap.

"Aku.. Hosh.. Hosh.. Mengikutimu… Hosh..Hosh.." Naruto terkejut mendengar pernyataan Sakura. Kenapa dia repot-repot untuk mengikutinya sampai berlari-larian seperti itu.

"Kenapa kau mengikutiku sampai kesini, Sakura? Bagaimana nanti kalau Sasuke mencarimu." Naruto melihat ke sekeliling, siapa tau Sasuke ada di belakang Sakura.

"Tenang saja, Naruto. Hoshh.. Sasuke tidak akan mencariku. Hoshh…" Sakura menatap mata Naruto. Nafasnya sudah mulai teratur. Naruto merasa ada yang aneh dengan Sakura. Tidak biasanya dirinya melihat Sakura menatapnya seperti itu.

"Tapi nanti Sasuke bisa salah paham jika melihat kita disini, Sakura. Kau tau kan jika dia itu sangat cemburuan." Naruto melihat Sakura menggelengkan kepalanya. Sakura lebih mendekat satu langkah ke arah Naruto.

"Ada yang jauh lebih penting dari itu, Naruto. Karena itu tidak bisa di tunda-tunda." Naruto semakin bingung dengan perkataan Sakura.

"Apa maksud-"

"Naruto, aishiteru."

Naruto terkejut bukan main. Naruto berharap jika ini bukan mimpi.

'Benarkah tadi Sakura… Benarkah..'

"Maafkan aku Naruto. Sejak dulu aku menyimpan perasaan ini padamu. Aku mencoba untuk melupakan perasaan ini, tetapi tetap tidak bisa. Bahkan, setelah aku memiliki Sasuke pun aku tetap tidak bisa melupakanmu."

Naruto masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Ap-Ap-Apa? Aku tidak salah dengar kan, Sakura?. Kau.."

Sakura tersenyum. "Mungkin ini memang aneh. Ini tidak seharusnya terjadi. Tetapi.. Semenjak hari itu.. Aku menyadari jika aku.. Jatuh cinta padamu, Naruto."

***Flashback***

Di suatu kamar yang bernuansa merah muda, terbaring seorang gadis kecil berambut merah jambu, dengan di temani seorang pria kecil berambut pirang dengan coretan di kedua pipinya.

"Kapan kau akan sembuh, Sakura? Aku sudah merindukanmu di sekolah. Teman-teman juga merindukanmu." Kata pria kecil itu yang di ketahui bernama Naruto. Naruto masih berumur 7 tahun dan Sakura 5 tahun. Gadis yang di panggil Sakura itu pun hanya tersenyum mendengar penuturan temannya.

"Aku pasti akan segera sembuh kok. Kamu tidak usah khawatir, Naruto." Sakura kecil mencoba untuk meyakinkan Naruto. Naruto memanyunkan bibirnya.

"Kau selalu bilang seperti itu. Setiap hari kau bilang kau akan sembuh. Tapi kenapa kau tidak sembuh-sembuh juga Sakura?" Suara Naruto mulai bergetar. Dia tidak sanggup jika harus melihat teman baiknya terbaring lemah seperti saat ini. Kata dokter, Sakura mengidap penyakit liver. Gadis sekecil itu sudah harus menanggung penyakit yang begitu berat. Meski begitu, Sakura tetap berusaha untuk tersenyum agar orang-orang di sekelilingnya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Orang tua Sakura akan membawa Sakura ke luar negeri untuk mengobati penyakit Sakura. Hal itulah yang membuat Naruto merasa sangat sedih.

Sakura mencoba untuk duduk. Naruto membantu Sakura untuk duduk. Senyum manis terukir di bibir mungil Sakura.

"Jangan sedih, Naruto. Aku janji, aku akan sembuh demi kamu. Setelah aku sembuh, kita akan main bersama lagi." Sakura mengacak pelan rambut pirang milik Naruto. Naruto menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya.

"Aku… Aku nggak mau melihatmu sakit. Aku mau terus main sama Sakura. Aku takut nanti aku nggak akan bisa lagi main sama Sakura." Sakura terkikik pelan. Naruto mendongak melihat Sakura yang masih tertawa.

"Apa yang lucu sih, Sakura. Aku serius tauk!." Sakura menutup mulutnya mencoba mengehentikan tawanya.

"Hihi.. Habis kamu lucu sekali kalau sedang sedih seperti itu, Naruto. Sudah besar nggak boleh cengeng dong." Kata Sakura ssambil menepuk bahu Naruto. Tidak disadari, senyum Sakura membuat Naruto merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Jantungnya berdegup kencang.

"Mmm.. Doakan saja semoga pengobatanku nanti berhasil, Naruto. Jika aku sembuh, aku pasti kembali kesini dan kita bisa bermain bersama lagi." Kata-kata Sakura membuat Naruto kecil merasa lebih tenang. Naruto lalu mengangguk mantap dan tersenyum manis. Naruto mengacungkan jempol di depan wajah Sakura.

"Semangat ya, Sakura. Aku pasti mendoakanmu dari sini." Kata Naruto penuh semangat. Sakura tersenyum melihat Naruto sudah tidak sedih lagi. Tanpa disadari oleh Sakura, terdapat garis merah tipis di kedua pipinya. Sakura merasakan hal aneh yang bergejolak di hatinya, sama seperti apa yang di rasakan oleh Naruto..

"Dan aku…" Naruto memandang langit yang tampak cerah dari jendela Sakura.

"Pasti akan selalu menunggumu, Sakura. Sampai kapanpun." Mata Sakura membulat. Dia terkejut dengan pernyataan Naruto barusan. Jantung Sakura berdegup lebih kencang. Sakura menunduk menyembunyikan wajahnya yang serasa memanas.

"Ka-Kau janji.. Naruto?." Kata Sakura pelan. Naruto menoleh pada Sakura yang menunduk. Naruto menyodorkan kelingkingnya ke arah Sakura. Sakura mendongak.

"Tentu. Aku janji. Dan aku mau kau berjanji padaku." Sakura menunggu kalimat Naruto selanjutnya. Naruto tersenyum manis.

"Berjanjilah akan tetap menjadi sahabatku, Sakura." Sakura merasakan wajahnya memanas melihat senyuman manis Naruto. Sakura balik melempar senyum kepada Naruto lalu mengangguk mantap.

"Aku tidak akan melupakanmu, Naruto. Karena kamu adalah sahabat baikku." Kata Sakura sambil mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Naruto. Mereka berdua pun tertawa bersama. Tidak mereka sadari jika benih-benih cinta mulai bertabur saat itu.

***End of Flashback***

"Saat itu, aku berfikir jika perasaan aneh yang ada di hatiku itu cuma sekedar perasaan senang. Tetapi ternyata, perasaan senang itu berubah menjadi perasaan cinta." Naruto hanya diam mendengar pernyataan Sakura. Sakura menggigit bibir bawahnya. Tangannya menggenggam erat di samping badannya.

"Aku minta maaf, Naruto. Aku sudah mencoba untuk melupakan perasaan ini. Aku mencoba untuk menerima cinta Sasuke agar aku tidak terlalu mengharapkanmu. Tetapi-"

"Sudahlah Sakura. Lupakan semua itu." Mata Sakura terbelalak seketika. Sakura mendongak untuk melihat Naruto.

"Ap-Apa.. Apa maksudmu dengan melupakan semuanya, Naruto."

"Lupakan…. Perasaanmu padaku." Bagaikan tersambar petir, hati Sakura terasa tertusuk-tusuk mendengar penuturan Naruto yang di utarakannya dengan santainya. Sakura menggigit bibir bawahnya lebih keras. Bagaimana bisa dirinya melupakan perasaannya terhadap Naruto, jika bayangan Naruto selalu muncul dalam benak Sakura. Di fikiran Sakura, hanyalah ada Naruto. Bukan Sasuke. Bahu Sakura bergetar menahan perih di hatinya.

"Ke-Kenapa… Kenapa Naruto. Bukannya.. Bukannya kau juga.. Me-menyukaiku?." Naruto tersentak sejenak, lalu mengalihkan pandangannya pada Sakura. Naruto hanya diam saja.

"Iya kan Naruto. Katakan jika kau sebenarnya juga menyukaiku."

"Na-Naruto." Sakura dan Naruto di kejutkan dengan suara seorang gadis dari arah belakang Naruto. Naruto menoleh ke belakang dan menemukan seorang gadis berambut panjang sedang menunduk di depannya. Tangan Sakura mengepal kuat ketika melihat siapa gadis yang berada di depan mereka saat ini.

'Hinata.'

"Hinata. Apa yang kau lakukan disini. Aku menunggumu di rumah Sakura. Kenapa-"

"Aku menyukaimu, Naruto." Bagaikan tersambar petir untuk yang kedua kalinya. Sakura terkejut mendengar Hinata menyatakan cintanya kepada Naruto. Rasa kesal dan meenyesal berkecamuk di fikiran Sakura. Dia memang mendukung Hinata untuk lebih mendekatkan diri pada Naruto. Tetapi dia tidak pernah menyangka jika Hinata, seorang gadis yang terkenal pemalu dan pendiam ini, berani menyatakan cinta di depan laki-laki yang di sukainya. Apalagi Hinata menyatakannya saat dirinya masih berada disitu.

Naruto tidak percaya dengan apa yang di ungkapkan Hinata barusan. Matanya mengerjap berkali-kali, mencoba untuk mencerna apa yang di katakan Hinata baru saja.

"A-apa?. Kau.."

"A-Aku me-me-menyukaimu Na-Naruto-kun. Se-sejak pertama ki-kita ber-temu." Dengan sudah payah Hinata mencoba untuk mengungkapkan perasaannya pada Naruto. Sebenarnya sejak pertama Naruto berada di taman itu, Hinata sudah tahu. Hinata bersembunyi di belakang semak yang berada tidak jauh dengan Naruto. Saat Sakura menyatakan cintanya pada Naruto pun, sebenarnya Hinata tahu. Hinata mencoba untuk menenangkan dirinya dahulu baru dia keluar untuk berhadapan(?) dengan Naruto.

"Ap-apa?." Naruto masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Hinata. Naruto melirik Sakura yang terlihat sedang melihat Hinata dengan tatapan yang tidak bisa di artikan dengan kata-kata.

Hinata mencoba untuk mengangkat kepalanya, sehingga matanya berhadapan langsung dengan mata Naruto. Senyum manis terukir di bibirnya.

"Sejak saat itu,…"

***Flashback On***

Terlihat seorang gadis berambut pendek kira-kira masih berumur 5 tahun, dengan pakaiannya yang lusuh dan kotor, sedang menangis tersedu-sedu di depan batu nisan di sebuah pemakaman umum. Derasnya air hujan tidak membuatnya beralih dari tempatnya. Suara petir tidak di hiraukannya.

"Ibu.. Hikss.. Hikss.. Ibu…Hiks.. Ibu…" Suaranya yang serak terus menyebut nama ibunya. Ibunya meninggal karena kecelakaan saat akan menjemputnya ke sekolah. Karena itu, dia merasa dialah yang telah membuat ibunya meninggal.

"Ibu.. Hiks.. Maaf.. Maafkan aku, Bu. Hiks.. Karena aku.. Karena aku.. Hiks.. Ibu jadi seperti ini."

JDARRR !

"Karena aku.. Karena aku.. Hiks hiks.. Maafkan aku, Ibu. Hiks.. Hiks.." Tiba-tiba gadis itu merasakan hujan tidak lagi mengguyur tubuh kecilnya. Di lihatnya bayangan sebuah lingkaran besar di samping batu nisan ibunya. Gadis kecil itu pun menoleh ke arah belakang.

"Apa yang kau lakukan disini, Hinata?. Hosh.. Hosh.. Semua orang mencarimu." Kata seorang anak laki-laki berambut pirang dengan coretan di masing-masing pipinya. Nafasnya ternegah-engah, kelihatannya dia baru saja berlari. Hinata pun memalingkan wajahnya ke kuburan ibunya.

"Ti-tidak. Ka-kamu pu-pulang saja, Na-Naruto-kun." Hinata kecil mencoba untuk menahan suara tangisnya agar tidak di dengar oleh Naruto. Naruto berjongkok di samping Hinata sambil tetap memegang payungnya.

"Tidak mau. Ayo pulang bersama, Hinata. Kau bisa sakit kalau terus hujan-hujanan begini tauk!" kata Naruto kecil sedikit membentak. Hinata menggeleng.

"Kau pulang saja, Naruto-kun. Nanti kamu di cari orang tuamu. Aku mau menemani ibu disini." Bantah Hinata halus. Naruto berdecak.

"Hinata. Ibumu sudah meninggal. Dan itu semua bukan salahmu. Jadi berhentilah bersedih, Hinata. Ikhlaskan ibumu pergi." Naruto menghelus rambut Hinata mencoba untuk menenangkan gadis itu. Hinata sudah tidak bisa menahan air matanya. Tangisnya pecah saat itu juga.

"Tapi.. Hiks.. Tapi Ibu.. Ibu meninggal karena mau menjemputku. Hiks.. Andai saat itu.. Hiks. Ibu tidak.. Menjemputku. Hiks.. Pasti Ibu.. Ibu.." Hinata merasakan sesuatu yang hangat memeluknya. Hangat sekali.

"Tenanglah Hinata. Aku tahu bagaimana sedihnya kamu saat ini. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri Hinata. Ini semua sudah takdir. Jadi ibumu meninggal itu bukan salahmu."

"Na-Naruto-kun.."

Hinata memejamkan matanya, mencoba merasakan hangatnya pelukan Naruto. Sekaligus untuk menutupi rona merah di wajahnya.

"Jangan menangis lagi ya, Hinata." Hinata mengangguk dalam pelukan Naruto. Hinata merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Mengapa jantungnya berdegup kencang saat Naruto memeluknya. Mengapa wajahnya memanas saat dia berhadapan dengan Naruto.

"Naruto-kun. Arigatou." Kata Hinata dalam pelukan Naruto. Naruto tersenyum senang ketika menyadari jika Hinata sudah berhenti menangis.

"Iya. Ayo pulang sekarang, Hinata. Teman-teman dan orang tuamu pasti mengkhawatirkanmu." Hinata hanya mengangguk. Lalu mereka berdua pun pulang. Di tengah perjalanan, Naruto mengajak Hinata bercanda supaya Hinata tidak sedih lagi. Kadang Naruto menggelitiki Hinata, kadang menggodanya, kadang menyipratinya dengan air hujan. Apapun yang di lakukan Naruto, berhasil membuat Hinata tersenyum bahkan tertawa meski pelan. Naruto senang saat melihat Hinata tersenyum. Apalagi di tambah dengan rona merah yang menghiasi wajah Hinata. Semakin menambah kesan manis di wajahnya.

"Hinata." Merasa di panggil, Hinata pun menoleh ke arah Naruto.

"Hmm?."

"Mmm… Jangan pernah menangis seperti tadi lagi ya. Aku tidak suka." Hinata terkejut mendengar penuturan Naruto. Jantungnya kembali berdegup lebih kencang. Di rasakannya wajahnya kembali memanas. Hinata mengalihkan pandangannya pada jalan di depannya.

"Karena yang aku mau, adalah Hinata yang selalu bahagia. Hinata yang selalu terseyum dan tertawa seperti sekarang. Bukan Hinata yang menangis dan menyalahkan dirinya sendiri seperti tadi." Naruto menunduk setelah mengucapkan semua unek-unek yang ada di hatinya. Hinata tersenyum mendengar penuturan Naruto. Hinata senang saat Naruto memperhatikannya seperti itu.

"A-Aku ja-janji, Na-Naruto-kun." Kata Hinata sambil melempar senyum manis ke arah Naruto, tetapi cepat-cepat Hinata mengalihkan pandangannya dari mata Naruto. Naruto tersenyum mendengar penuturan Hinata.

"Baiklah. Jangan pernah mengingkari janji ya, Hinata. Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh menangis seperti tadi. Nanti wajahmu sudah jelek jadi tambah jelek lagi. Hehehe.." Naruto mengaduh saat Hinata mencubit lengannya pelan. Naruto tertawa, Hinata ikut tertawa. Rasanya mulai ada benih-benih cinta dalam hati Hinata terhadap Naruto. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan di iringi gelak tawa.

***End of Flashback***

"Sejak saat itu.. A-aku mulai merasakan se-sesuatu yang aneh dalam hatiku. A-aku merasa… Sa-sangat nyaman saat be-berada di dekatmu. Se-sejak saat i-itulah.. Ka-kamu.. Se-selalu a-ada d-dalam fi-fikiranku. Di hatiku.. ha-hanya a-ada ba-bayanganmu, Na-Naruto-kun. A-aku menyadari, ji-jika aku.. ja-jatuh ci-cinta pa-padamu, Naruto-kun."

Tangan Sakura mengepal kuat melihat keberanian Hinata mengungkapkan perasaannya kepada Naruto. Sedangkan Hinata, dirinya berjuang mati-matian untuk mengutarakan perasaannya yang telah lama dipendamnya dalam hatinya pada Naruto. Tangan Hinata bergetar. Naruto hanya bisa diam melihat kedua gadis yang kini berada di sampingnya. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa, namun sebenarnya hatinya bingung dia harus bagaimana.

"Naruto. Aku menyukaimu lebih dulu dari Hinata. Perasaanku lebih mendalam padamu. Lagipula, bukannya kau juga menyukaiku, Naruto. Iya kan, Naruto."

Naruto hanya diam mendengar ucapan Sakura. Memang benar dirinya menyukai Sakura, tetapi entah kenapa setelah Hinata mengungkapkan perasaannya barusan. Naruto menyadari sesuatu dalam hatinya.

"Sakura-chan."

Merasa di panggil, Sakura pun menoleh pada Hinata. Hinata mengangkat wajahnya dan tersenyum manis pada Sakura.

"Kamu tidak perlu khawatir, Sakura-chan. Aku.. Aku tidak memaksa Naruto untuk memilihku. Kau boleh memilikinya, Sakura-chan. Karena aku tahu… Jika kalian berdua sama-sama saling mencintai." Naruto dan Sakura terkejut mendengar pernyataan Hinata. Sakura dan Naruto tidak menyangka jika Hinata akan mengatakan hal seperti itu. Merelakan seseorang yang cintainya demi sahabat baiknya sendiri. Naruto kagum dengan Hinata. Meski mengatakan hal yang sudah pastinya sangat menyakitkan hatinya, tetapi Hinata tetap tersenyum manis tanpa ragu. Naruto tersenyum ke arah Hinata. Hinata pun tersenyum ke arah Naruto.

"Aku.. tidak akan.. menghalangi cinta kalian berdua. Karena kalian berdua, adalah sahabat baikku." Hinata membalikkan badannya. di gigitnya bibir bawahnya. Hati Hinata seperti tertusuk-tusuk oleh pisau tajam. Meski begitu, Hinata mencoba untuk tidak menangis di depan Naruto. Karena Hinata sudah berjanji dengan Naruto. Hinata mulai melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Sakura dan Naruto.

"Tungu, Hinata!." Teriak Naruto. Hinata pura-pura tidak mendegar Naruto. Hinata memutuskan untuk berlari.

"Hinata!" Hinata menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya agar tidak mendengar suara Naruto. Naruto hendak lari menyusul Hinata, sebelum sebuah tangan menahannya dari belakang.

"Naruto." Naruto pun mengurungkan niatnya. Naruto melihat Sakura dengan mata berkaca-kaca memegangi tangannya dengan kuat seakan mengisyaratkan agar Naruto tidak pergi meninggalkannya.

"Kumohon.. Jangan tinggalkan aku." Kata Sakura dengan suara yang mulai terlihat serak. Naruto membalikkan badan menghadap Sakura.

"Aku… Aku-"

"Maafkan aku, Sakura. Aku tidak bisa." Sakura terkejut mendengar kata-kata Naruto yang di ucapkannya baru saja.

"Maaf. Kau benar. Aku memang menyukaimu. Tapi… Itu dulu." Hati Sakura mencelos seketika. Di lepaskannya genggaman tangannya di pergelangan tangan Naruto dengan lemas.

"Aku sadar. Jika aku hanya kagum kepadamu. Kau mengatakan jika kau menyukaiku. Kau mengatakan jika kau mencitaiku. Tetapi kenapa hanya dengan alasan kau tidak mau merusak persahabatan kita kau membohongi perasaanmu sendiri, Sakura." Sakura hanya diam.

"Kau bilang kau berpacaran dengan Sasuke hanya untuk melupakan perasaanmu terhadapku. Bukannya kau menyukainya sejak dulu, eh?."

"Ta-tapi, Naruto-"

"Lupakan perasaanmu padaku, Sakura. Jangan sakiti perasaan Sasuke yang sudah tulus mencintaimu. Pergilah. Lupakan aku dan coba mencintai Sasuke. Meski kita tidak bisa bersama sebagai kekasih, tetapi… kita bisa SELALU bersama sebagai SAHABAT." Kata Naruto dengan penekanan pada kalimat tertentu. Sakura menunduk dalam-dalam mendengar pernyataan Naruto. Air matanya sudah tak dapat di bendungnya lagi.

"Maafkan aku, Sakura. Tetapi perlu kau tau. Bahwa jika cinta itu mempunyai alasan, itu namanya bukan cinta. Tapi hanyalah rasa suka semata. Karena cinta itu adalah emosi. Bukan sebuah definisi."

Naruto mengusap kepala Sakura halus.

"Maafkan aku, Sakura. Aku akan mengejar Hinata." Sakura hanya diam di tempat melihat Naruto berlari menjauhinya. Sakura tersenyum.

"Kau benar Naruto. Terima kasih, Naruto, Hinata."

.

.

.

.

.

Hinata terus berlari. Berlari dan berlari. Mencoba untuk melupakan semua yang terjadi baru saja. Kata-katanya tidak sesuai dengan kata hatinya. Hinata sadar jika apa yang di lakukannya akan menyakitkan perasaannya. Tetapi Hinata tidak bisa jika dirinya memaksa Naruto untuk membalas cintanya. Karena Hinata tahu jika Naruto tidak mempunyai perasaan yang sama terhadap dirinya. Hinata berhenti di bawah sebuah pohon besar. Kakinya terasa sakit karena terlalu lama berlari. Nafanya tersengal-sengal. Hinata jatuh terduduk di bawah pohon itu. Rambutnya lusuh karena terkena keringat. Wajahnya pucat karena terlalu lelah.

"Na-Naruto-kun.. Maafkan aku.. Semoga.. Kau senang meski.. Aku tersakiti… Te-tetapi.. Aku akan.. mencoba untuk.. Menepati janjiku padamu. Seperti apapun sakit yang aku rasakan. Aku tidak akan menangis.." Hinata menyembunyikan wajahnya di antara lututnya. Bagaimanapun Hinata mencoba untuk tetap tegar, tetapi Hinata tidak bisa bertahan lebih lama. Air matanya mulai turun membasahi pipi mulusnya. Suara isaknya terdengar sangat pilu.

"Maafkan aku.. Naruto-kun.. Hiks.. Aku.. Hiks hiks.. Tidak bisa.. Menepati janjiku.. padamu.. Hiks.. Maafkan aku.."

"Tidak masalah, Hinata." Hinata terkejut mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Cepat-cepat Hinata mendongak untuk memastikan milik siapa suara itu. Mata Hinata membelalak ketika melihat siapa yang berdiri di depannya.

"Kau tidak perlu meminta maaf padaku."

"Na-Naruto-kun.." Hinata lalu menundukkan wajahnya. Hinata malu untuk menunjukkan wajah sedihnya pada orang lain, apalagi pada Naruto.

"A-apa y-yang.. Kau.. La-lakukan disini, Na-Naruto-kun?." Naruto berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Hinata. Di elusnya rambut Hinata dengan lembut. Tetapi apa yang di lakukan Naruto justru membut tangis Hinata semakin menjadi.

"Sama seperti waktu itu. Saat aku menyentuh kepalamu, kamu malah semakin keras menangis." Hinata hanya diam. Dirinya sudah tidak sanggup untuk menahan sakit di hatinya. Naruto tersenyum manis lalu menarik Hinata dalam pelukannya.

"Tetapi saat aku memelukmu seperti ini. Apakah kau akan berhenti menangis seperti waktu itu, Hinata?." Hinata masih diam tidak menyahut. Suara isaknya tetap terdengar. Naruto mulai merasa khawatir dengan Hinata. Naruto mempererat pelukannya pada Hinata.

"Maaf… Hiks.. Maafkan aku.. Naruto-kun. Hiks hiks.. Karena perasaanku ini.. Hiks. Semuanya-"

"Ssssttt… Sudahlah Hinata. Tenanglah dulu dan dengarkan aku." Hinata pun diam meski suara isaknya masih terdengar sangat jelas. Naruto melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Hinata dengan kedua tangannya agar mata mereka bisa bertemu. Dengan cepat Hinata memejamkan matanya. Naruto memutar bola matanya lalu menghela nafas.

"Buka matamu Hinata." Hinata hanya menggeleng.

"Hinata!." Hinata terkejut saat Naruto membentaknya. Secara refleks matanya terbuka. Naruto tersenyum.

"Maaf. Tapi, pandanglah mataku sekarang. Lihat bayangan siapa yang ada di dalam sana." Hinata memperhatikan mata Naruto satu persatu. Gelap.

"Ti-tidak a-ada siapa-siapa. Ge-gelap." Naruto tersenyum mendengar pernyataan Hinata.

"Itu karena.. Orangnya sudah ada di depan mataku." Mata Hinata membulat sempurna.

'A-Aku?.'

"A-apa.. Ma-maksudmu, Na-Naru-"

"Kaulah orang yang selama ini aku cari, Hinata. Maafkan aku yang baru menyadarinya. Ternyata bukan Sakura yang selama ini ada di hatiku. Tetapi.. Kau, Hinata." Hinata masih tidak percaya dengan apa yang di katakan Naruto. Dirinya tidak bisa bicara apa-apa.

"Selama ini, aku selalu mencari siapa sebenarnya yang membuat aku merasakan dilema. Aku fikir itu Sakura. Karena Sakura selalu ada dalam fikiranku. Tetapi, setelah bertemu denganmu aku baru menyadari. Dia memang selalu ada di fikiranku, tetapi dia tidak ada di hatiku. Dan ternyata.. Hatiku memilih dirimu. Hinata."

Air mata Hinata kembali mengucur deras dari mata indahnya. Rasa tidak percaya, bahagia, sedih, bingung, menjadi satu dalam hatinya. Melihat Hinata seperti itu, Naruto kembali menarik Hinata dalam pelukannya, mencoba untuk menenangkan Hinata.

"Aishiteru, Hinata." Hinata tersenyum di tengah tangisnya. Dia tidak percaya jika Naruto telah memilihnya. Hinata tidak menyangka jika Naruto menyatakan cinta untuknya.

"A-Aishiteru yo, Naruto-kun." Kata Hinata di tengah isak tangisnya. Hinata membalas pelukan hangat Naruto. Naruto tersenyum, lalu mempererat pelukannya pada Hinata. Selama beberapa menit mereka tetap dalam posisi berpelukan. Suara isak tangis Hinata pun mulai tidak terdengar.

"Hinata.." panggil Naruto. Tetapi tidak ada jawaban dari Hinata. Naruto pun memastikan Hinata tidak tidur. Tetapi ternyata Hinata sudah tertidur lelap dalam pelukan Naruto. Naruto terkikik geli.

"Dasar Hinata. Kebiasaan." Naruto memperhatikan dengan teliti setiap lekukan wajah Hinata yang kini sudah menjadi pemilik hatinya. Rasanya seperti mimpi dapat memeluk orang yang dicarinya selama ini. Naruto mencintai Hinata seperti halnya Hinata mencintai Naruto dengan tulus. Naruto mendekatkan wajahnya pada Hinata. Perlahan-lahan agar Hinata tidak terbangun. Naruto mengecup kening Hinata dengan lembut.

"Oyasumi, Hinata." Naruto pun menggendong Hinata untuk mengantarnya pulang. Hinata kini telah menjadi milik Naruto. Tidak ada seorang pun yang dapat menggoyahkan cinta mereka. Cinta itu tidak tau darimana asalnya, dan apa alasannya.

"Jika seseorang mampu mengatakan alasan mengapa dia mencintaimu. Sesungguhnya dia hanya menyukaimu. Karena… Cinta itu emosi, bukan definisi."

-OWARI-

Yeee….. xD

Akhirnya fic ini selesai juga. Terima kasih buat author, readers, silent readers atau siapa aja yang udah mau menyempatkan diri membaca fic abal saya ini. *sujud sujud di kaki emak xD#engkik

Rencananya setelah pertandingan selesai, Bebhe mau membuat fic lagi dengan pair NaruHina tentunya. xD
Jadi Bebhe mohon ripiuwnya ya untuk kemajuan fic Bebhe yang masih berantakan ancur lebur dan cetar membahana banjir ini xD
Dan terima kasih untuk yang udah mau ripiuw fic Bebhe ini, itu sangat membuat Bebhe tambah semangat ^_^b

Okelah.. Jaa Matte, minna.. Muahmuahmuah xD*plak plak plak* Sii yuuu… xD

Oiya.. Selamat Hari Ibu untuk semuanya.. ^_^

I Love You emak .. :* :* :* xD