Disclaimer © Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Summary:

"Kenapa belum pulang? Ini kan udah sore? Nanti kamu masuk angin." kata seseorang yang tiba-tiba saja dari arah belakangku membawakan sebuah selimut yang langsung dibalutkan ke tubuhku yang kecil.

Keep Your Promise

By: Himawarino Kira

Chapter 2 (21 Tahun)


Hari semakin sore dan angin dingin pun berhembus pelan, namun tak terasa oleh tubuhku yang berbalut keringat hangat, keringat selama aku bermain dibangku ini bersama teman-teman bonekaku. Lama-kelamaan, aku pun merasa lelah dan bosan dengan bermain terus. Sambil mengingat-ngingat kembali apa tujuanku duduk di bangku ini, kulihat kearah depan. Kearah yang sepertinya pernah aku lihat, tapi sungguh, aku tak ingat apa.

Angin sore semakin dingin, namun tetap berhembus dengan pelan. Tubuhku sudah terasa mengigil. Namun, aku masih tetap duduk dibangku itu dengan ditemani boneka-bonekaku. Entah apa yang membuatku tak beranjak dari tempat itu. Aku seperti mengunggu, tapi aku tak tau apa yang ku tunggu.

"Kenapa belum pulang? Ini kan udah sore? Nanti kamu masuk angin." kata seseorang yang tiba-tiba saja dari arah belakangku membawakan sebuah selimut yang langsung dibalutkan ke tubuhku yang kecil. Aku hanya terdiam melihat anak laki-laki dengan rambut kuning menyala yang ku perkirakan berusia 6 tahun yang kini duduk di sampingku.

"Kamu Hinata, kan?" tanyanya padaku dengan senyumnya yang terasa hangat yang hanya ku balas dengan anggukan.

"Hai… Aku Naruto. Besok main disini lagi, yuk? Aku yang temenin. Sekarang kamu pulang dulu, ya? Udah sore." Katanya padaku dengan masih tersenyum. Tanpa pikir panjang, aku langsung mengangguk dan berjalan pulang namun masih menoleh kearah anak laki-laki itu. Ia pun melambai padaku sambil berkata, "Selimutnya kembaliin besok ya?" Aku pun membalasnya dengan lambaian juga dan tersenyum, lalu bergegas lari menuju rumahku yang hangat.

21 tahun kemudian…

"Mama, Hinata pergi ke bangku taman ya? Mau ketemu…"

"Naruto, kan? Yaudah, jangan sampai malem mainnya." Ledek mama.

"Iya, ma. Nata kan udah besar, nggak kaya anak kecil lagi. Udah dulu ya, ma?" aku langsung berlari menuju bangku taman yang diiringi senyum "Iya." dari mama. Aku melambai pada mama dan mama pun membalasnya dengan lambaian juga.

Sesampainya disana, tak kulihat Naruto. Aku pun duduk sambil melihat sekeliling mencari dimana gerangan ia berada.

"Haaiii, Hiinaataaa!" tiba-tiba ia datang melompat dari atas pohon yang sontak saja membuatku terkejut.

"Astagaaa… Naaruutooo! Kamu ini! Ngagetin aja! Deg-degan terus nih jantungku sekarang!" keluhku kesal lalu memukul-mukul Naruto, sahabat yang selama ini telah menemaniku selama hampir 21 tahun lamanya, yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupku.

"Aduh! Udah dong! Sakit tau!" katanya menangkis pukulan-pukulanku yang aku balas dengan juluran lidah.

"Udahan, dong! Sorry… Nih!" katanya dengan masih berusaha menagkis pukulanku sambil menawarkan buah apel.

"Nyogok nih ceritanya?" aku pun menghentikan pukulanku.

"Mau nggak? Kalau gitu, aku yang makan nih!" katanya lalu mendekatkan buah apel itu pada wajahnya, tepatnya pada mulutnya yang sudah siap untuk mengigit apel tersebut.

"Eh! Jangan dimakan! Buat aku aja!" kurebut paksa apel itu dari genggamannya secepat kilat dan segera ku makan. Lalu, aku kembali menjulurkan lidahku. Ia pun hanya tertawa geli.

"Oya, kamu mau ngomong apaan sama aku?" tanyaku setelah teringat apa tujuan Naruto mengajakku ketemuan di tempat ini. Sebenarnya kami sudah sering kesini, jadi kalaupun tidak diajak, kami juga pasti akan bertemu disini, tampat yang penuh dengan kenangan.

Tiba-tiba Naruto langsung terduduk di bangku dengan raut wajah yang seketika berubah murung. Aku pun heran dibuatnya.

"Kenapa, Naru? Memang kamu mau ngomong apa?" tanyaku dengan masih mengunyah buah apel dan duduk disampingnya.

"Gini, Ta. Kamu taukan sekarang usiaku sudah berapa tahun?" tanyanya menatap kearahku, tatapan yang tidak seperti biasanya, tatapan yang sangat serius.

"Iya, tau. 27 tahun, kan?" jawabku singkat karena masih mengunyah buah apel.

"Dan kamu masih ingat kan saat usiaku sudah mencapai 27 tahun?" ia pun semakin serius yang membuatku berhenti sejenak untuk memakan kembali buah yang diberikannya. Aku mencoba mengingat apa yang dimaksudkan Naruto. Namun, tak sedikitpun terbayang dalam pikiranku. Aku hanya mengeleng-gelengkan kepala.

"Aku harus pergi untuk mengabdi dalam peperangan, Ta. Pengabdian yang harus aku jalani sebagai anggota tentara militer. Yang berarti harus jauh darimu, Ta."

Betapa terkejutnya aku mendengar pernyataan Naruto. Kulepas buah apel yang ku genggam, yang belum habis ku makan, yang kini kotor berbalut tanah dan daun kering. Lalu, ia pun menggenggam tanganku dengan sangat erat, yang mulai terasa dingin.

Haruskah? Karuskah kamu pergi, Naruto?... Bagaimana? Bagaimana dengan aku? Orang yang akan menjadi pendamping hidupmu? Apakah kamu tega ninggalin aku sendiri, menunggu kedatanganmu pulang dari medan perang yang akan mengancam nyawamu?... Nggak bisa, Naruto. Aku nggak bisa. Batinku dalam hati yang kini terasa sangat perih.

Perlahan air mataku mengalir, yang semakin lama semakin deras. Kutatap mata Naruto dan berharap ia mendengarkan tangisan batinku, dan berharap agar ia mengurungkan niatnya. Namun…

"Maafkan aku, Ta? Aku nggak bisa untuk tidak pergi. Aku sudah janji pada kakakku untuk melanjutkan perjuangannya, cita-citanya… Cita-cita yang belum sempat ia selesaikan, cita-cita yang akhirnya merenggut nyawanya… Dan aku janji, Ta. Aku janji… Aku janji akan kembali. Kembali disini lagi dengan selamat dan nggak akan ninggalin kamu." Ia memelukku dengan air mata yang mulai mengalir darinya. Aku pun sudah tidak bisa membendung lagi tangisanku. Kupeluk Naruto dengan erat, dengan sangat erat dan berharap ia tak akan pergi meninggalkanku.

"Naruto… Kumohon! Tepati janjimu…" kataku menatap kearahnya dengan penuh harapan. Ke arah tatapannya yang ku yakin bahwa ia juga tak ingin meninggalkanku.

"Pasti, Hinata. Aku pasti akan nepatin janjiku. Tunggu aku disini, Ta. Tunggu aku…" pelukannya pun semakin erat padaku, dan tangisannya pun pecah seraya mencium keningku.

Hari demi hari pun kulalui tanpa ditemani seorang sahabat yang sangat aku cintai, yang kini tepat 2 tahun kepergiannya, pergi meniggalkanku untuk menepati janjinya pada kakak yang sangat ia sayangi, kakak yang lebih dahulu meninggalkannya, yang telah gugur di medan perang, 23 tahun lalu.

Dan… Disinilah aku. Aku yang masih setia menunggu kedatangannya yang entah kapan, selalu berdoa untuknya, dan berharap ia akan kembali dan menepati janjinya padaku. Ditempat ini… Di bangku taman ini… ~~

Angin sore berhembus dengan sangat lembut, tak seperti biasanya. Mungkin ia tau perasaanku saat ini, perasaan gelisah menanti, menanti kedatangannya kembali… ~~

Air mata pun tak kuasa ku bendung lagi saat melihat foto kenangan kami berdua di tempat ini. Melihat wajahnya yang selalu membuatku tersenyum, selalu merasa nyaman dan dilindungi. Kutatap kearah depan dan berharap ia akan muncul untuk kembali. Tangisanku pun semakin menjadi dengan perasaan hati yang sangat gelisah, mengingat kenangan yang pernah kita alami selama ini.

Ku peluk bingkai foto kenangan kami berdua dengan sangat erat, berharap ia akan memberikan kehangatan selama aku menantinya disini, ditemani angin sore yang berhembus semakin lembut, yang dinginnya mulai kurasakan. Perlahan-lahan mataku mulai terpejam, seiring dengan berhembusnya angin sore, yang menjatuhkan daun-daunan pada pohon besar yang sudah sangat tua, namun masih tetap kokoh berdiri, yang selama ini menjadi saksi kenangan kami.

Daun-daun jatuh dengan lembut diatas tubuhku, yang seakan-akan memberikan ku sebuah selimut yang akan memberikan kehangatan padaku. Kehangatan yang telah lama tidak ku rasakan, kehangatan seperti pelukan seorang ibu… ~~

Ku peluk bingkai foto itu dengan sangat erat, yang kini menjadi teman ku tertidur di bangku taman ini, dan berharap Naruto akan merasakan perasaan yang kurasakan sekarang.

~~ Ku tepati janjiku… ~~

to be continued…


Akhirnya… Chapter 2 update! :D

Seperti biasa, arigato sebelumnya untuk para readers dan author-author yang sudah membaca dan me-review chapter sebelumnya. Dan kembali saya minta review-nya untuk chapter ini, ya? Hhehe

Oke! Sekali lagi, sekian dulu untuk chapter ini dan tunggu kelanjutan di chapter berikutnya! ;)

Sayonara and see you next time!

Dattebayo!