Disclaimer © Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Summary:

Ia berjalan pergi menjauh dariku. Melepaskan genggaman yang selama ini erat diantara kita berdua. Yang kini ku relakan dan ku yakinkan pada seseorang yang sangat dicintainya untuk kembali mengenggam tangannya. Yang ku yakin tak akan lepas. Dan mereka pun menghilang seiring fajar tenggelam.

"Oh… Begitukah? Kalau begitu, terima kasih Kak Sakura dan Kak Sasuke. Sekarang Naruto sudah bersamaku dan mama. Dan ku yakin ia pasti akan menepati janjinya pada kalian." Kataku melihat kearah Naruto. Dan ia pun tersenyum.

Keep Your Promise

By: Himawarino Kira

Chapter 3, last chapter (Selamat Tinggal dan Terima Kasih)


"Nunggu siapa, nak?" Tanya seorang wanita tua tersenyum padaku saat melihat aku terbangun. Kulihat wajah wanita itu samar-samar, yang kini berdiri di depanku.

"Kamu masih ngantuk, nak?" tanyanya lagi yang kini membungkuk ke arahku. Segera ku turunkan kaki, membersihkan diri dan bangku dari dedaunan. Lalu mempersilahkan wanita tua itu, yang ku perkirakan berusia 52 tahun, untuk duduk disampingku.

"Silahkan duduk." Ajakku dengan tersenyum dan ia pun membalasnya juga dengan anggukan dan senyuman lalu duduk di sampingku.

"Sore yang dingin ya, nak?" katanya menatap kearah depan. Aku masih terdiam heran dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dalam pikiranku, pertanyaan yang menanyakan tentang wanita tua ini.

Siapa dia? Dari mana dia datang? Kenapa tiba-tiba? Apa ia sedang menunggu seseorang juga? Ataukah… Ia juga memiliki janji dengan seseorang? Di tempat ini…

"Kenapa melamun, nak?" tanyanya tiba-tiba yang memecahkan lamunanku.

"Oh… Ti-ti-tidak a-ada apa-apa." jawabku terbata-bata. Ia hanya terseyum. Aku pun hanya bisa terdiam memainkan jari-jari tangan dengan rasa penasaran yang semakin besar karena wanita ini hanya duduk disampingku sambil terus memandang kearah depan. Entah apa yang dilihatnya, tak ada apa-apa… ~~

"Lagi nunggu seseorang ya, nak?" ia pun kembali bertanya padaku dan akhirnya ku jawab untuk memecahkan keheningan antara kita dan dengan perlahan akan ku buka semua tentang wanita ini, yang menurutku… Walaupun sudah tua, ia masih terlihat cantik untuk wanita seusianya.

"Iya. Saya sedang menunggu seseorang." Jawabku singkat sambil melihat kearah depan.

"Menunggu siapa?" tanyanya lagi yang kini menoleh kearah ku dengan senyuman yang masih terlihat manis pada dirinya.

"Hmm… Seseorang. Seseorang yang sangat berarti bagi saya, yang sudah janji akan kembali ke tempat ini." Aku kembali melihat kearah depan, dan tak ku sadari air mataku keluar perlahan. Ia pun mengusapnya dengan lembut yang membuatku terkejut.

"Sudah, jangan menangis. Aku yakin, ia pasti akan datang dan menepati janjinya." Katanya menatap kearah ku, tatapan yang terlihat menyuruhku untuk terus yakin bahwa Naruto akan kembali dan menepati janjinya. Aku masih terus dibuatnya penasaran yang kini semakin menjadi.

Siapa?... Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa?... Kenapa ia mengatakan itu semua padaku? Apakah ia tau siapa yang sedang ku tunggu?... Ahh! Tidak mungkin. Aku dan dia pun baru bertemu. Tapi… Mungkinkah ia tau? Karena sepertinya, aku pernah bertemu dengannya sebelum ini. Seorang wanita yang pernah aku kenal? Mungkinkah? Jadi… Siapa dia?

"Oh… Maafkan aku." Katanya tiba-tiba yang kembali membangunkanku dari lamunan.

"Maaf untuk apa?" tanyaku heran sambil mengusap air mataku.

"Maaf karena aku membuatmu menangis, nak." Ia pun tertunduk merasa bersalah di hadapanku.

"Oh… Tidak apa-apa. Tidak usah minta maaf." Jawabku dan berusaha bangkit dari perasaan sedih yang kini aku rasakan.

"Hmm… Apakah saya boleh bertayan sesuatu?" tanyaku dengan sedikit menunduk dan ditemani rasa penasaran yang semakin mengusikku.

"Oh, tentu saja. Apa yang ingin kamu tanyakan, nak?" jawabnya dengan senang hati yang sangat terlihat pada ekspersi wajahnya.

"Hhmmm…" aku masih terdiam.

"Kenapa diam? Tidak usah malu. Semua pertanyaanmu akan aku jawab dengan jujur." Katanya menoleh ke arahku. Sebenarnya… Bibirku terasa kaku untuk bertanya, namun karena rasa penasaran yang semakin menjadi, akhirnya ku beranikan diri untuk bertanya.

"Baiklah. Sebelumnya saya minta maaf jika manyinggung dan maaf karena sepertinya saya akan banyak memberikan pertanyaan. Jadi, mohon dijawab." Akhirnya kalimat itu muncul dari bibirku dan perasaan penasaranku "sedikit" lebih tenang. Dengan ragu, ku coba untuk mengangkat kepala dan menoleh kearah wanita itu. Saat aku menoleh, kulihat ia tersenyum dengan senang hati dan sepertinya mengisyaratkanku untuk segera bertanya dan aku pun mengerti itu.

"Sebenarnya… Siapa anda? Dan dari mana anda datang?... Sejujurnya, sudah dari awal saya ingin menanyakan semua ini saat pertama bertemu anda. Tapi, sepertinya saya pernah mengenal anda dan bukan hanya sekedar kenal, tapi… Kenal yang sangat dekat."

Kulihat ia masih tersenyum sambil melihat kearah depan dan sepertinya ia tau bahwa masih ada pertanyaan yang mengganjal dalam pikiranku dan sangat ingin aku tanyakan. Aku pun mengerti itu dan ku lanjutkan untuk bertanya.

"Dan… Apakah anda mempunyai janji untuk bertemu dengan seseorang di sini? Ataukah anda tau siapa orang yang sedang saya tunggu?... Satu pertanyaan lagi dan maaf karena saya baru ingat untuk menanyakannya… Siapa nama anda?"

Angin sore berhembus lebih cepat dari sebelumnya dan daun-daun pada pohon tua besar dibelakangku pun berguguran. Setelah semua pertanyaan kuutarakan, perasaan ku pun terasa sangat lega. Namun, wanita ini masih tetap tersenyum dan melihat kearah depan.

Tiba-tiba ia menoleh kearah ku dan aku pun spontan memalingkan wajah. Ia kembali tersenyum melihat tingkahku dan sepertinya ia tau apa yang aku inginkan.

"Kau pasti sangat penasaran dengan kehadiranku secara tiba-tiba disini, kan? Dan jika aku jawab semua pertanyaanmu satu persatu, sepertinya akan memakan waktu yang sangat lama." Katanya tersenyum padaku.

"Tapi, bukankah anda sudah janji untuk menjawab semuanya?" kataku dengan sedikit kesal karena sudah lama aku menanti.

"Iya. Itu memang benar."

"Tapi bagaimana? Anda yang katakan sendiri bahwa anda…"

Tiba-tiba ia memelukku dengan sangat erat sambil berkata "Akhirnya kita bertemu lagi." Dengan perlahan air mata mengalir darinya dan pelukannya pun semakin erat. Kehangatan seperti pelukan seorang ibu. ~~

Aku pun semakin bingung di buatnya dan ku beranikan diri untuk bertanya.

"A-apa mak-maksud anda?"

Ia pun melepas pelukannya lalu menatap kearah ku… Dan mencium keningku… Ciuman seperti seorang ibu. ~~

A-apa ini? Apa yang aku rasakan?... Pe-pera-perasaan apa ini?... Hangat, nyaman, tenang, seperti seorang ibu… Mungkinkah? Mungkinkah?... Dia…

"Apakah kau sudah ingat denganku?" katanya melihat kearah ku dengan air mata yang masih terus mengalir perlahan dari matanya yang cantik. Awalnya, aku masih terdiam tidak percaya. Namun…

"Kaaaakaaaaaakk!... Kaakk Saaakuuraaaaa!... Kenapaaa! Kenapaaa kaakkk! Kenapa kakak ninggalin Hinata gitu ajaa! Kenapa kaak! Dan kenapa Hinata baru ingat semuaa, semua tentang ini! Tentang Kak Sakura! Yang ternyata selama ini yang Hinata tung-…"

"Bukan. Bukan Hinata. Yang selama ini kamu tunggu adalah Naruto. Kakak datang kesini untuk nepatin janji kakak sama kamu, sayang. Untuk datang ke bangku taman ini dan menceritakan sesuatu padamu. Tapi, sepertinya ia sudah datang sendiri dan sepertinya kakak tidak perlu bercerita panjang lagi padamu." Katanya tersenyum padaku, senyuman yang sudah lama tak ku lihat. Senyuman Kak Sakura, senyuman kakak tercintaku.

"Apa maksud kakak? Naruto-kah?"

"Iya, iya sayang. Kakak ingin menceritakan tentang Naruto dan ingin memperkenalkannya padamu. Tapi…"

"Tapi kenapa, kak? Kenapa? Dan kenapa saat itu kakak pergi dengan menangis, kak? Kenapa?"

"Itu… Itu karena… Saat itu kakak benar-benar terpukul atas berita mengenai Kak Sasu, kakak dari Naruto."

"Kakak dari Naruto? Apakah…"

"Iya, Ta. Kak Sasu adalah kakak dari Naruto. Saat kamu masih kecil, kakak dan Kak Sasu sepakat untuk suatu saat memperkenalkan adik dari Kak Sasuke, Naruto, dengan kamu, adik kakak. Dan menjodohkan kalian berdua. Tapi…"

"Tapi kenapa?"

"Tapi… Karena berita itulah, mengenai Kak Sasu yang tewas tertembak saat ia bertugas menjadi tentara militer, yang membuat kakak sangat terpukul. Dengan segera, setelah kakak mendengar berita itu, kakak langsung bergegas berlari ke tempat Kak Sasuke bertugas."

"Tapi, kenapa kakak tidak pulang? Kenapa kakak baru muncul setelah 23 tahun kakak pergi? Apa yang mencegah kakak untuk pulang?"

"Hmm… Hinata? Apa kamu masih ingat saat mama menagis?"

Kucoba untuk mengingat… Dan akhirnya ku temukan!

"Iya. Memang apa hubungannya, kak?"

"Kakak tidak bisa kembali pulang karena…" ia menunduk. Entah apa yang dimaksud. Namun, sepertinya aku mengetahuinya. Dan… AKU TIDAK PERCAYA!

"Nggak. Nggak mungkin, kak! Katakan kaaak! Itu tidak mungkin, kaaann!" ia tidak mau melihat ku. Dan aku terus bertanya padanya. Menanyakan bahwa semua itu tidak mungkin. Namun…

"Itulah yang terjadi, Ta. Kamu harus percaya. Saat kakak sampai di tujuan, kakak sempat melihat Kak Sasu. Kakak sempat memeluk dan menciumnya. Namun, itu tidak lama. Tiba-tiba, seseorang menembakkan peluru kearah kakak. Entah dari mana. Kakak tidak tau. Dan saat itu kakak terjatuh bersimbah darah, terjatuh di dalam pelukan Kak Sasuke." Air mata kembali mengalir darinya, yang kini terlihat semakin deras. Dan… Masih ada yang tidak aku mengerti.

"Kau bohong, kak! Bohong! Jika benar saat itu, bagaimana? Bagaimana kakak bisa berada di sini?" tanyaku dengan kesal dan sangat marah, namun aku masih tetap tak bisa menahan air mataku yang akhirnya meledak keluar.

"Maafkan kakak, dik? Sepertinya waktu kakak sudah habis dan janji kakak sudah kakak tepati. Kakak juga sudah menceritakan semua yang kakak janjikan padamu. Dan ini waktunya kakak kembali, dik. Kembali bersam Kak Sasuke." Kak Sakura berdiri di depanku, lalu melihat kearah depan dan terlihat seorang pria tua yang aku perkirakan berumur 54 tahun, dan itu adalah… Kak Sasuke.

"Itu Kak Sasu, Ta. Sekarang kakak sudah harus pergi. Kakak sudah ditunggu." Kak Sakura memelukku dengan sangat erat. Aku masih tetap tidak percaya. Tidak percaya dengan semua ini. Namun, akhirnya ku peluk juga Kak Sakura dengan sangat erat, seerat mungkin. Dan air mata kami berdua pun pecah.

Dan… Inilah kenyataan. Aku harus merelakannya pergi. Tapi, paling tidak ia bersama orang yang ia cintai, bukan?

"Selamat tinggal, Kak Sakura. Terima kasih untuk semua, kak. Dan terima kasih karena sudah menepati janjimu padaku." Ku lepas pelukanku dan Kak Sakura pun begitu.

"Selamat tinggal, Hinata. Kakak akan selau sayang padamu."

Ia berjalan pergi menjauh dariku. Melepaskan genggaman yang selama ini erat diantara kita berdua. Yang kini ku relakan dan ku yakinkan pada seseorang yang sangat dicintainya untuk kembali mengenggam tangannya. Yang ku yakin tak akan lepas. Dan mereka pun menghilang seiring fajar tenggelam.

"Kakak, selamat tinggal."

"Hinata? Bangun, nak." Suara seseorang membangunkanku dan saat ku lihat, ternyata mama.

"Ada apa, ma?" jawabku sambil mengusap mataku yang masih mengantuk.

"Lihat! Siapa yang datang, nak?" kata mama menunjuk kearah belakang, dan saat ku lihat…

"Naarutoooo!" teriakku langsung berlari menuju kearah orang yang selama ini aku "tunggu" dan langsung memeluknya, memeluknya dengan sangat erat.

"Naruto! Akhirnya kamu kembali." Kataku dengan air mata yang sudah tak terbendung lagi, air mata kerinduan.

"Aku kan sudah janji padamu, Ta. Akan kembali lagi, di tempat ini. Di bangku taman ini." Kata Naruto memelukku dengan sangat erat, yang ku yakin juga bahwa ia sangat merindukanku.

Ku lihat kearah mama yang sepertinya terharu melihat kami, dan kuhampiri…

"Kenapa mama nggak bilang sama Nata kalau Kak Sakura telah pergi, ma?"

"Da-dari mana ka-kamu tau?" sepertinya mama sangat terkejut atas pertanyaan yang aku katakan.

"Kak Sakura datang." Jawabku singkat, tersenyum.

"Apa kamu bilang, nak?" sepertinya mama tidak percaya.

"Ya, awalnya Nata tidak percaya, ma. Tapi, kakak datang untuk menepati janjinya sama Nata. Apakah mama masih ingat saat Nata bilang Kak Sakura sudah janji untuk datang ke bangku taman untuk cerita sama Nata?"

Mama hanya mengangguk. Dan ia pun tersenyum.

"Dan mama tidak perlu khawatir. Kak Sakura sudah bersama Kak Sasuke."

"Ternyata kakakku datang, ya?" kata Naruto tersenyum. Aku pun tersenyum melihat kearahnya.

"Sebelum sampai disini, aku juga sempat bertemu dengan kakakku dan Kak Sakura. Dan mereka menitipkan pesan padaku."

"Pesan apa itu?" tanyaku penasaran.

"Mereka bilang agar aku melindungi dan menjaga mama dan kamu, Hinata. Dan datang lembali untuk menepati janjiku."

"Oh… Begitukah? Kalau begitu, terima kasih Kak Sakura dan Kak Sasuke. Sekarang Naruto sudah bersamaku dan mama. Dan ku yakin ia pasti akan menepati janjinya pada kalian." Kataku melihat kearah Naruto. Dan ia pun tersenyum.

"Sudah larut, nak? Ayo, masuk. Mama sudah buatkan makan malam untuk kalian." Kata mama tersenyum.

Kami berjalan masuk menuju rumah, untuk kembali menempuh hidup baru bersama keluarga baru.

Terlihat foto Kak Sakura dan Kak Sasuke yang berada di bangku taman terbang bersama hembusan angin sore yang membawanya pada fajar yang kini mulai tenggelam.

Dan… Yang masih tersisa adalah bingkai foto Hinata dan Naruto yang diselimuti daun-daunan pohon tua besar yang selama ini menjadi saksi cinta diantara mereka berdua, yang sepertinya memiliki janji pada kedua kakak mereka untuk melindungi memori-memori mereka dan adik-adik mereka.

~~ HAPPY ENDING


Arigato for reading, minna! :D

Tunggu fic saya berikutnya! :)

Sayaonaraa~

and

Keep Dattebayo!