;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
Second Chance
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
Genre : Romance and Hurt
Rate : T+
Present by nannaa and nanalee
Disclaimer : This story belong to us, so don't plagiarism and bashing the story. And the casts belongs to God.
Casts : Cho Kyuhyun, Lee Donghae (namja)
Lee Sungmin, Seo Joo Hyun, Kim Ryeowook (yeoja) and others
Warning : GS, Typo(s) etc
Don't like don't read!
…
…
…
…
….
Sampai pada sebuah toko yang terletak beberapa gedung dari kantornya, hujan turun dengan lebat. Kedua tangannya menengadah seolah menampung bulir-bulir air yang turun dari langit.
"Aku merindukanmu," bisiknya.
"Aku juga merindukanmu."
Donghae tersenyum sangat lebar –hingga kedua matanya ikut menyipit- saat Sungmin menoleh kearahnya. Ketika Sungmin terjebak di lubang tadi, sebenarnya namja tampan ini melihatnya. Hanya saja ia terlalu kikuk untuk melakukan apa. Menolong Sungmin? Tentu saja Donghae ingin melakukannya, tetapi otaknya terlalu lama untuk berfikir.
Hingga disinilah ia sekarang, ikut terjebak bersama Sungmin. Pintu toko berdenting, menampakkan kepala Donghae yang menyembul dari luar, di belakangnya, Sungmin mengekori dengan malas. Siapa yang tidak akan malas jika seseorang yang menurutmu menyebalkan karena selalu ikut campur urusanmu memaksa memasuki toko yang sebenarnya tidak ingin kau kunjungi, terlebih di saat seperti ini.
Hei, dia aneh sekali. Toko perhiasan? Untuk apa? Sungmin terus bertanya-tanya dalam hati saat Donghae menariknya ke salah satu etalase yang memajang puluhan perhiasan yang –mungkin- semuanya terbuat dari berlian. Harganya pasti mahal, batin Sungmin lagi.
Sungmin bukannya tidak mampu membeli semua perhiasan itu, hanya saja...
"Cobalah pakai yang ini." Donghae menunjuk sebuah cincin yang entah sejak kapan sudah ada di hadapn Sungmin. Sungmin menatap namja pecinta ikan itu tajam, tatapannya seolah berkata untuk-apa-kau-menyuruhku-mencoba-itu. Namun lagi-lagi Donghae tersenyum. Senyum yang begitu menawan dan lembut, senyum yang mampu meluluhkan hati yeoja manapun kecuali Sungmin.
Sungmin menghela nafas kesal, kemudian beranjak pergi meninggalkan Donghae dalam kebisuan yang mengelilingi atmosfer di sekeliling mereka sejak mereka memasukui toko ini, kecuali pelayan toko yang sibuk bertanya kepada pembeli lain, tentu saja.
Kotak berwarna merah berhiaskan warna keemasan di setiap sisinya kembali tertutup. Kotak itu berisikan sebuah cincin sederhana, sama seperti gadis yang akan memakainya, tetapi ternyata gadis itu menolak bahkan sebelum ia mencobanya.
Donghae memandang punggung Sungmin dengan senyum manis masih menghiasi wajahnya. Perlahan pandangannya berubah sayu.
"Apa aku sudah terlambat? " tanyanya entah kepada siapa, dari sudut matanya sebulir air sebesar biji kacang hijau menetes, buru-buru ia menyekanya kasar.
Donghae menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku memang sudah terlambat." Setelahnya, dia menyusupkan kotak itu ke dalam saku dan ikut melukis jejak meninggalkan toko ini dengan perasaan kacau.
Second chance
Sungmin akhirnya tiba di kantor, walaupun sedikit lewat dari jam masuk yang sudah ditentukan. Ia bergegas ke toilet untuk membersihkan kemejanya yang masih sedikit kotor akibat terjatuh tadi. Sungmin mematut dirinya di depan kaca toilet, kemudian bergumam pelan, "Huft, aku tidak mungkin menemui Kyuhyun dalam keadaan seperti ini. Aku tampak berantakan sekali hari ini. Baiklah, besok aku harus benar-benar menemuinya dan mengatakan rencanaku. Walaupun dia menolak bertemu denganku. " Tatapannya mendadak berubah sedih, tetapi sedetik kemudian ia kembali bersemangat. "Hwaiting, Lee Sungmin! " serunya ceria.
Second chance
"Sebenarnya apa rencanamu, Cho? Kau meminta bantuanku untuk berbuat apa?" Seohyun bertanya pada Kyuhyun.
Namja itu hanya bergumam tidak jelas sambil membetulkan letak kacamatanya, pandangannya terfokus pada laptop dihadapannya. Seohyun mendecak kesal.
"YA! Cho Kyuhyun! Aku bertanya padamu!"
Kyuhyun akhirnya mengalihkan pandangannya kearah yeoja itu, kemudian menyandarkan punggungnya. "Bisakah kau berbicara kepadaku tanpa berteriak? Telingaku sakit mendengar suaramu, kau tahu?"
"Bagaimana aku tidak berteriak? Kau tidak sekalipun mendengarkan kata-kataku!"
Namja itu tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai. "Kata siapa aku tidak mendengarkan?"
Seohyun benar-benar habis kesabaran. Ingin sekali tangannya mencakar Kyuhyun, tetapi itu mustahil, mengingat dimana meraka berada saat ini.
Kyuhyun bangkit dari kursinya, kemudian berjalan mendekati jendela ruangannya.
"Tugasmu mudah, Seo. Jadilah kekasihku," ujar Kyuhyun enteng.
Seohyun membelalakkan matanya, ia terkejut mendengar ucapan Kyuhyun.
"Mwo? Jadi kekasihmu? Kau gila? Aku sudah punya tunangan, Kyu!"
"Hanya pura-pura. Kau pikir aku serius? Aku tahu kau sudah punya tunangan. Lagipula aku tidak mungkin menyukaimu." Kyuhyun tersenyum meremehkan kearah Seohyun.
Seohyun mendengus sebal mendengar ejekan Kyuhyun, ia melempar bantal sofa yang sedari tadi dipeluknya, kemudian mendekati namja itu lalu memukul bahunya pelan. "Ish, kau ini menyebalkan. Harusnya kau itu berterima kasih padaku, sudah untung aku mau membantumu. Huh!"
Kyuhyun hanya tertawa mendengar omelan sahabatnya itu. Seohyun ikut tertawa mendengarnya, tapi kemudian ia menghentikan tawanya dan menatap Kyuhyun lekat.
"Hmmm, Kyu... Tapi bukankah kau kemarin mengatakan ingin me...melenyapkan gadis itu? Siapa namanya? Lee.. Lee Sungmin?" tanya Seohyun hati-hati. Jujur saja, ia sedikit takut jika berbicara tentang gadis itu, karena ekspresi wajah Kyuhyun akan berubah drastis.
Kyuhyun menolehkan kepalanya ke arah Seohyun. "Kau pasti berpikir aku menyuruhmu membunuh Lee Sungmin?"
Seohyun menganggguk pelan. "'Kan kemarin kau yang mengatakannya padaku," belanya.
Kyuhyun kembali mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Mulai memasang wajah datarnya. "Tidak usah membunuhnya langsung, dia juga akan lenyap dengan sendirinya."
"Maksudmu? Aku tidak mengerti," tanya Seohyun bingung.
"Nanti kau akan tahu. Sekarang, cukup lakukan tugasmu saja. Aku ingin tahu reaksinya jika kau mendekatinya sebagai kekasihku." Kyuhyun tersenyum, senyum ringan tanpa ada emosi di dalamnya. Membuat Seohyun semakin mengakui jika Kyuhyun memang mempesona.
"Kau tahu, Kyu? Jika tersenyum seperti tadi, kuakui kau memang terlihat tampan. Ditambah kacamatamu, kau semakin terlihat berkharisma," puji Seohyun.
Kyuhyun kembali memamerkan senyumnya. "Kau tergoda olehku, eoh? Aku tahu aku memang mempesona," ucap Kyuhyun percaya diri.
Seohyun mencibir. "Inilah yang membuatmu menyebalkan. Kau itu terlalu percaya diri, sok tampan, nekat, keras kepala, suka mengejek orang, gemar menyeringai-..." Ucapan Seohyun terpotong karena Kyuhyun mengangkat kedua tangannya seperti penjahat tertangkap basah oleh polisi.
"Baik, baik, baik... Nona Seo Joo Hyun, kau semakin cerewet saja sekarang. Aku heran bagaimana tunanganmu bisa tahan denganmu."
Seohyun mendelik mendengar perkataan Kyuhyun, ia bersiap memukul kepala Kyuhyun tapi dengan sigap Kyuhyun menangkap tangannya.
"Hahaha, sudahlah. Bagaimana kalau kutraktir makan siang?" tawar Kyuhyun.
"Tentu saja kau harus mentraktirku, aku ingin pesan semua makanan yang mahal!" ujar Seohyun masih sedikit dongkol, karena ia tidak berhasil memukul kepala Kyuhyun tadi.
Kyuhyun kembali tertawa mendengar jawaban Seohyun, kemudian menepuk kepala yeoja itu pelan. "Aku bereskan dulu dokumen-dokumen itu sebentar."
Seohyun kembali mendudukkan dirinya di sofa sambil menunggu Kyuhyun. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang melihat keakraban mereka berdua dengan perasaan sedih.
Second chance
Sungmin, yang tidak sengaja melewati ruangan Kyuhyun, menolehkan kepalanya penasaran. Pasalnya terdengar suara tawa dari ruangan Kyuhyun. Sungmin bertanya-tanya, siapakah yang ada didalamnya? Perlahan ia memberanikan diri mendekati pintu ruangan Kyuhyun yang kebetulan sedikit terbuka. Dapat dilihatnya sesosok perempuan yang waktu itu berpelukan dengan Kyuhyun di lobi kantor. Mereka terlihat sangat akrab, wajar saja bukan? Karena yeoja itu adalah kekasih Kyuhyun-menurut Sungmin-, Kyuhyun bahkan tertawa mendengar ocehan gadis itu. Sungmin merasa hatinya berdenyut sakit. Kyuhyun dengan mudahnya tertawa bersama yeoja lain, sedangkan terhadap dirinya? Memandangnya pun enggan. Sungmin melangkahkan kakinya menjauhi ruangan Kyuhyun, sambil menahan isakan tangisnya.
Second chance
"Permisi, boleh aku duduk disini?"
Sungmin menolehkan kepalanya ke sumber suara, kemudian mengernyitkan dahinya heran. Kenapa dia ada disini? batinnya heran.
Sungmin menganggukkan kepalanya kaku, kemudian kembali memalingkan wajahnya ke depan. Lagi-lagi dia mengernyit heran melihat sebuah tangan terjulur dihadapannya.
"Perkenalkan, Seo Joo Hyun imnida. Kau bisa memanggilku Seohyun." Seohyun berujar seraya tersenyum ramah.
Tidak mau dianggap sombong, Sungmin pun akhirnya membalas senyuman Seohyun dan menjabat tangan yeoja itu dengan sedikit menundukkan kepalanya. "Lee Sungmin imnida," balasnya.
Seohyun pun mulai membuka obrolan dengan Sungmin sore itu, di temani cahaya senja yang masih mewarnai suasana taman kota. Sedikit demi sedikit ia berusaha mengorek kisah hidup Sungmin. Seohyun sangat ahli menilai orang. Ia tahu Sungmin gadis baik-baik. Dari caranya berbicaranya saja sudah terlihat. Namun Seohyun juga merasa, ada rahasia tersembunyi di balik senyum Sungmin. Sungmin juga terlihat kalut, sesekali ia bergerak gelisah di tempat duduknya. Ia tidak tahu, di sebelahnya Seohyun memperhatikannya lekat.
Sebenarnya Seohyun pun penasaran, kenapa Kyuhyun begitu membenci gadis ini. Ia juga nanti akan bertanya kepada Kyuhyun, apa gerangan masalah diantara namja itu dan Sungmin. Sebisa mungkin ia akan membantu menyelesaikannya dengan baik-baik, bukannya membunuh atau melenyapkan seperti rencana Kyuhyun.
Second chance
"Kyu, tadi sore aku sudah berhasil mendekati Sungmin. Dia kelihatan menyenangkan, sedikit pemalu, dan... " Seohyun menggantung ucapannya. Kyuhyun yang tampak serius menyetir pun menoleh pada Seohyun.
"Dan? Dan apa, Seo?" tanya Kyuhyun menuntut.
"Dia orang baik Kyu, aku tidak percaya dia itu jahat seperti yang kau tuduhkan," sahut Seohyun.
Kyuhyun mendengus kesal, kenapa semua orang selalu mengatakan yeoja itu orang baik? Jelas-jelas dia merenggut kebahagiaan Kyuhyun.
Tiba-tiba Kyuhyun melihat sosok yang sedang dibencinya berjalan pelan di pinggir jalan. Entah sadar atau tidak, Kyuhyun menginjak pedal gas semakin dalam. Dan dalam jarak kurang dari satu meter dengan sosok tadi, mobil Kyuhyun berhenti dengan suara decit ban yang keras.
Kyuhyun meninju keras stir dengan kepalan tangannya. Wajahnya mengeras, matanya menatap tajam ke depan. Seohyun yang tepat berada di sampingnya mengangkat kepala dengan raut wajah cemas, hampir saja kepalanya terbentur dashboard mobil jika saja ia tidak memiliki gerak refleks yang baik. Seohyun memicingkan matanya kearah depan, mengikuti pandangan Kyuhyun. Sedetik kemudian ia terbelalak kaget, begitu menyadari siapa sosok itu. Seohyun bergegas turun dari mobil dan menghampirinya.
"Sungmin-ah? Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada sosok itu yang ternyata adalah Sungmin.
Gadis itu terduduk di aspal dengan kedua kaki yang tertekuk ke samping, lututnya memerah akibat bergesekan dengan aspal. Tubuh Sungmin bergemetar hebat, menandakan ia sangat ketakutan dan juga syok. Terdengar pula isakan lirih dari bibir mungilnya.
Sungmin mendongak ketika merasakan sentuhan lembut di wajahnya, ia menangis semakin kencang. Seohyun berjongkok di sisi Sungmin dan menarik yeoja itu ke dalam pelukannya. Sungmin mengeratkan pelukan tersebut, kentara sekali perasaan takut menguasai dirinya saat ini.
Kyuhyun masih tak bergeming, ia memalingkan wajahnya ke kiri saat melihat adegan telenovela terjadi di hadapannya. Sebenarnya apa yang ada di fikiran namja itu saat mengemudi? Sangat jelas ini bukan tindakan ketidaksengajaan.
Akhirnya Seohyun membantu memapah Sungmin masuk ke dalam mobil Kyuhyun. Kyuhyun sempat melontarkan tatapan protesnya pada Seohyun, tetapi yeoja itu tidak memperdulikannya. Kedua yeoja itu menempati jok belakang mobil Kyuhyun. Sungmin masih terisak, tetapi tidak sekeras tadi. Seohyun merangkul bahu Sungmin lembut. "Sungmin-ah, di mana alamat rumahmu? Biar kami mengantarkanmu pulang," ujar Seohyun pelan.
"Apa-apaan kau, Seo? Kenapa kau malah ingin mengantarkan dia pulang? Biarkan saja dia pulang sendiri!" Kyuhyun tampak emosi.
Sungmin yang mendengar ucapan ketus Kyuhyun pun mengambil inisiatif. "Bi-biar aku pulang sendiri saja, Seohyun-ssi. Aku tidak apa-apa. Jeongmal gamsahamnida sudah membantuku," ucap Sungmin terbata. Sungmin hendak beranjak keluar dari mobil Kyuhyun tetapi Seohyun mencegahnya.
"Kyu, please. Demi aku, Kyu," bujuk Seohyun lembut. Seohyun tidak ingin ribut di depan Sungmin, terlebih keadaan Sungmin sedang kacau seperti ini. Namun, di dalam hatinya Seohyun berjanji akan mencecar Kyuhyun.
Second chance
"Kau sungguh gila, Cho!" bentak Seohyun keras saat mereka tiba di basement apartment Seohyun setelah sebelumnya mengantarkan Sungmin pulang. Sepanjang perjalanan dari apartment Sungmin, Seohyun hanya terdiam menahan emosi. Tidak menghiraukan gerutuan Kyuhyun karena menunggu terlalu lama di luar apartment Sungmin.
Kyuhyun hanya memasang wajah stoicnya mendengar bentakan Seohyun.
"Aku tidak akan pernah mau lagi ikut dalam permainan konyolmu!" lanjut Seohyun tegas.
"Tidak bisa, Seo. Kau sudah menyetujuinya kemarin," tolak Kyuhyun mentah-mentah.
"Ya, aku memang menyetujuinya. Tapi tidak dengan mencelakainya. Kau ingin menabrak Sungmin `kan tadi? Sungguh Kyu, aku tidak mengerti apa alasanmu menyuruhku berpura-pura menjadi kekasihmu. Jika alasanmu hanya untuk menghindarinya, kurasa aku salah. Dan apa katamu waktu itu? Membunuhnya? Demi Tuhan Kyuhyun, Sungmin gadis yang baik. Tidak ada yang salah deng-"
"Cukup!" potong Kyuhyun tajam.
Seohyun menarik nafas dalam-dalam. Di hadapannya, Kyuhyun memandangnya berang.
"Ingat Cho! Jika kau masih ingin melanjutkan rencana busukmu pada Sungmin entah apapun itu, aku tidak akan segan-segan ikut campur untuk menghentikanmu!" ancam Seohyun keras, kemudian turun dari mobil Kyuhyun dan membanting pintu mobil kasar.
Kyuhyun mengangkat salah satu sudut bibirnya, seolah meremehkan ancaman Seohyun padanya tadi. "Jadi hanya sampai sini saja? Baiklah, sepertinya aku memang harus menyelesaikan ini sendiri," desisnya pelan, kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan apartment Seohyun.
Second chance
Sungmin masih belum terlelap. Diabaikannya pesan Seohyun yang tadi menyuruhnya cepat tidur. "Dia baik sekali. Pantas Kyuhyun mencintainya," gumam Sungmin lirih. Tadi, sebelum Seohyun meninggalkan dia sendiri, Seohyun sempat meminta nomer teleponnya, jadi tidak heran bukan jika Seohyun mengirimi Sungmin sebuah pesan singkat? Perlahan liquid bening mengalir dari sudut matanya mengingat kejadian tadi. Kyuhyun berniat menabraknya? Sebenci itukah Kyuhyun pada dirinya hingga menginginkan kematiannya? Sungmin pun mengusapnya dan berusaha memejamkan kedua matanya, bersiap menghadapi hari esok yang mungkin akan penuh dengan semua hal buruk.
Keesokannya, Sungmin memantapkan hatinya untuk menemui Kyuhyun. Ia berdiri menghadap cermin yang menampilkan bayangan dirinya. Tiba-tiba ia melihat sesuatu mengalir keluar dari hidungnya. Ia sudah tidak kaget, mengingat hal ini sudah sering terjadi pada dirinya, paling tidak hampir empat kali dalam seminggu ia mengalami hal ini. Diambilnya tissue dan mulai mengusap pelan lelehan darah segar itu. "Apa aku harus ke dokter? Tapi mungkin ini hanya anemiaku saja ya. Ah, sudahlah... itu urusan nanti." Ia pun bergegas keluar dari apartmentnya setelah memastikan hidungnya sudah bersih kembali.
"Apa maumu menemuiku sepagi ini? " Kyuhyun bertanya dingin sambil memunggungi Sungmin. Ya, Sungmin berhasil menemui Kyuhyun pagi ini. Tadinya Kyuhyun menolak dengan alasan sibuk, tetapi Sungmin memaksanya dengan alasan hanya sebentar saja.
"Hmm, itu... aku.. hmm, aku minta maaf. Aku sungguh menyesal. Aku tahu aku salah, tapi aku benar-benar tidak bermaksud berbuat itu. Kumohon oppa, jangan terus membenciku seperti ini," lirih Sungmin.
Kyuhyun mengepalkan tangannya erat di dalam saku celananya. "Jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu! Menjijikkan!" ucapnya keras.
Sungmin menghela nafasnya pelan, berusaha menahan tangisnya. "Baiklah. Aku ingin memperbaiki kesalahanku, beri aku kesempatan. Apapun akan kulakukan, Cho Kyuhyun-ssi."
Kyuhyun berbalik menghadap Sungmin. "Kau yakin akan melakukan apapun?" tanyanya mengejek.
Sungmin mengangguk, berusaha menatap mata Kyuhyun dalam-dalam, namun Kyuhyun memutus kontak mata mereka secara sepihak.
"Bagaimana kalau kuminta nyawamu? Setimpal bukan?" tanya Kyuhyun santai sambil memandang ke luar jendela.
Sungmin tersentak kaget. Ia tidak menyangka Kyuhyun akan berkata seperti itu. Akhinya ia mengerti alasan di balik kejadian tadi malam, di mana Kyuhyun ingin menabraknya.
"Ma-maksudmu aku harus...mati?" tanya Sungmin dengan suara bergetar.
"Ya. Mudah sekali, bukan? Apa kau bisa? Tadi kau bilang akan melakukan apapun."
"Tidak adakah cara lain? Kau tahu ak-.." ucapan Sungmin terpotong karena Kyuhyun tiba-tiba berbalik dan melangkah mendekati dirinya. Tatapan mata Kyuhyun tampak mengerikan karena dipenuhi emosi.
"Lalu apa yang bisa kau lakukan? Kau bisa membalikkan keadaan seperti semula? Kau bisa memutar waktu ke masa itu? Aku tanya, APA KAU BISA LEE SUNGMIN?"
Tumpah sudah airmata yang sedari tadi berusaha dibendung Sungmin. Bentakan keras Kyuhyun barusan benar-benar meruntuhkan pertahanannya. Namun ia masih mampu membalas ucapan keras Kyuhyun padanya.
"Aku sungguh tidak bermaksud demikian. Hari itu bahkan aku dan ahjumma berniat membuatkan kejutan untukmu. Kejutan ulang tahunmu... " dengan airmata mengalir Sungmin berusaha menjelaskan kepada Kyuhyun.
PRAAANNGG!
"TAPI TIDAK DENGAN MEMBUNUH IBUKU!" Kyuhyun kembali berteriak memotong ucapan Sungmin sambil melempar vas bunga di mejanya. Matanya terpejam, saat memorinya kembali dipaksa mengingat peristiwa kelam itu.
Tidak hanya Kyuhyun, Sungmin pun demikian. Ia sudah terisak hebat. Mendengar teriakan Kyuhyun membuat rasa bersalahnya semakin membengkak. Dadanya sesak, ia merasa sulit bernapas.
"Aku benar-benar membencimu, Lee Sungmin!"
Telak. Ucapan Kyuhyun melukai hati Sungmin yang terdalam. Airmata semakin membanjiri kedua pipinya.
"Kyu, aku pikir aku mendengar teriakan-Astaga! Ada apa ini? Kyuhyun-ah! Apa yang sebenarnya terjadi? Astaga, Sungmin-ah! Gwaenchana?"
Seohyun yang baru saja memasuki ruangan Kyuhyun buru-buru menghampiri Sungmin yang sudah jatuh terduduk di lantai. Seohyun mengedarkan pandangannya di ruangan Kyuhyun. Pecahan vas bunga yang berserakan di lantai. Kyuhyun yang tampak lepas kendali dengan nafas memburu. Dan Sungmin yang menangis tergugu di lantai. Kemudian dengan lembut dibantunya Sungmin untuk berdiri, ia berniat mengantar Sungmin keluar dari ruangan Kyuhyun. Ia merangkul bahu gadis yang lebih pendek darinya itu erat, ia bisa merasakan bahu Sungmin bergetar hebat. Seohyun menatap Kyuhyun yang tampak masih di kuasai emosi, lalu meninggalkan namja itu sendiri di ruangannya.
Second chance
"Ssssshh, gwaenchana Sungmin-ah. Ada aku di sini, tidak apa-apa," bisik Seohyun lembut, ia mencoba menenangkan Sungmin yang masih terisak. Ia menyodorkan segelas air putih pada Sungmin. Sungmin meneguknya sedikit, mencoba mengendalikan tangisnya. Seohyun dengan sabar menunggu Sungmin hingga kembali tenang.
"Kenapa dia tidak mau mengerti? Aku tidak pernahbermaksud melakukan hal itu. Aku tahu ini salahku, aku berusaha menebusnya..." lirih Sungmin.
Seohyun merangkul bahu Sungmin, berusaha memberi kekuatan pada sosok rapuh itu. Walaupun ia penasaran dengan apa yang sedang terjadi, ia tidak mau memaksa Sungmin menceritakannya. Biar nanti ia memaksa Kyuhyun untuk berbicara.
"Kau tidak usah cemas Sungmin-ah, aku akan membantumu," ujar Seohyun pelan.
"Terima kasih, eonni-Ah, ma-maaf aku tidak bermaksud lancang memanggilmu demikian." Sungmin buru-buru mengoreksi ucapannya.
Seohyun tersenyum, kemudian mengelus bahu Sungmin pelan. "Tidak apa-apa, Min. Aku malah tidak suka kau memanggilku terlalu formal. Terdengar aneh di telingaku."
Sungmin kemudian menganggukkan kepalanya. "Kau baik sekali eonni, pantas dia mencintaimu."
Seohyun hanya tersenyum simpul mendengar perkataan Sungmin.
"Hmm, ya sudah. Aku pergi dulu, ne? Jika kau membutuhkan sesuatu telepon saja aku, ok?" Seohyun mengusap lembut tangan Sungmin, yang dibalas anggukan oleh Sungmin. Seohyun tersenyum, kemudian berdiri dan bergegas menuju suatu tempat. Ruangan Cho Kyuhyun.
Second chance
"Bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi, Cho?" tanya Seohyun tajam.
Mereka sedang berada di cafe dekat kantor, dengan memesan private room. Seohyun memaksa Kyuhyun menceritakan semuanya. Awalnya Kyuhyun mati-matian menolak. Tetapi ia berusaha keras membujuk-atau lebih tepatnya memaksa. Usahanya berhasil, siang itu dilewatinya dengan mendengarkan masa lalu seorang Cho Kyuhyun yang cukup membuatnya miris.
Seohyun menatap Kyuhyun yang sedang mengusap wajahnya. "Kau masih mencintainya."
Kyuhyun menatap Seohyun tajam. "Kau sok tahu. Kau tidak tahu apa yang aku rasakan."
"Aku bukan sok tahu, tapi aku memang tahu. Matamu tidak bisa berbohong padaku, Cho. Aku tahu yang kau rasakan pada Sungmin bukan benci, tapi cinta."
Kyuhyun mendecak kesal mendengar teori Seohyun. Ia yakin ia masih membenci Sungmin, mana mungkin berubah menjadi cinta?
"Hentikan rencana konyolmu, Kyu, sebelum kau benar-benar menyesal kehilangan dia." Saran Seohyun lembut.
Kyuhyun masih saja keras kepala, ia tetap membantah ucapan Seohyun. "Apa peduliku kalau dia mati? Toh setimpal bukan dengan nyawa ibuku yang di renggut olehnya?"
"Cho Kyuhyun! Harus berapa kali kubilang? Itu takdir, Kyu. Kau menyalahkan takdir? Kalau begitu kau juga menyalahkan Tuhan! Kematian ibumu adalah kehendak Tuhan, bukan karena Sungmin!" Seohyun masih berusaha menyadarkan Kyuhyun.
"Tetap saja dia penyebabnya! Andai dia tidak mendorong Eomma, pasti Eomma masih bersamaku saat ini!" ucap Kyuhyun keras.
Seohyun menggelengkan kepalanya melihat kekeraskepalaan Kyuhyun. "Well, aku harap kau tidak menyesal jika benar-benar terjadi sesuatu pada Sungmin."
Second chance
"Lebih baik kau pulang, Sungmin-ah. Wajahmu pucat sekali. Kau pasti sakit." Jinyoung, rekan kerja satu ruangan Sungmin menyarankan. Sungmin tampak tersadar dari lamunannya.
"Aku tidak apa-apa, sungguh. Kau tidak usah khawatir." Sungmin berusaha tersenyum. Jinyoung menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian kembali sibuk dengan setumpuk kertas di atas mejanya. Baru saja Sungmin mulai mengetik laporannya, setetes darah jatuh di atas dokumen yang akan diketiknya. Sungmin terkejut. Buru-buru ia ke toilet, sambil menahan aliran darah yang keluar dari hidungnya dengan selembar tissue. Sesampainya di toilet, ia menghampiri wastafel dan mulai mengusap bagian atas bibirnya dengan air kran. Ia bingung, biasanya mimisannya hanya di pagi atau malam hari. Sedangkan ini siang hari, berarti hari ini ia sudah dua kali mimisan. Sungmin mengerutkan keningnya mendapati mimisannya tidak kunjung berhenti. Hampir lima belas menit ia membungkuk di depan wastafel. Selain itu, kepalanya mulai terasa pening. Ia mendesah lega begitu dirasanya tidak ada lagi yang mengalir keluar dari hidungnya. "Aku harus benar-benar ke dokter," gumamnya pelan.
Second chance
`Hentikan rencana konyolmu, Kyu, sebelum kau benar-benar menyesal kehilangan dia` Namja Cho ini terus terngiang ucapan Seohyun. Kyuhyun memijit pelipisnya frustasi. Dipejamkannya kedua iris gelapnya kuat, dan bayang-bayang kenangan itu pun mulai berkelebat di kepalanya.
Second chance
...
T
B
C
Hyaaaaa! Maaf, kami publish terlalu lama. Apa ada yang masih menunggu? *celingak-celinguk* kayanya ga ada yah *pundung*
Bagaimana chap ini? Apa ada pencerahan? Maaf ya tiga chap yang absurd itu T.T
Chap depan full flashback, jadi ditunggu aja yah *kedip-kedip*
Mind to review 'again'?
Thanks^^
