;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

Second chance

;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

Genre : Romance and Hurt

Rate : T+

Present by nannaa and nanalee

Disclaimer : This story belongs to us so don't plagiarism and bashing the story. And the casts belongs to God.

Casts : Cho Kyuhyun, Lee Donghae (namja)

Lee Sungmin, Seo Joo Hyun, Kim Ryeowook (yeoja) and other

Warning : GS, Typo(s) etc

Don't like don't reading!

...

...

...

...

...

Sepasang iris purnama memandangku intens, aku tidak tahu apa yang dilihatnya dariku. Kuperhatikan seluruh tubuhku dari bawah hingga atas, kembali kulakukan hal itu berulang-ulang sampai ku yakin memang tidak ada yang salah denganku. Kulihat lagi dia, mata itu masih fokus menatapku. Dia tersenyum, lalu pergi entah kemana. Dan sejak saat itu, aku telah terperangkap indah purnamanya.

:::

Second chance

:::

Suara eomma terdengar hingga ke sudut-sudut rumah, aku masih disini, tak bergeming sedikitpun. Sudah kukatakan bukan? Aku tidak akan ikut ke acara makan malam bersama rekan appa itu. Acara itu pasti akan sangat membosankan, hanya akan ada obrolan-obrolan basi mereka tentang kerja sama dan bla bla bla, entahlah.

"Kyunnie, cepatlah, kita akan segera berangkat. Lho, Kyu, mengapa kau tidak bersiap-siap? Appamu sudah menunggu di mobil," ujar eomma saat melihatku masih berbaring di tempat tidur.

"Aku tidak ikut saja ya," bujukku dengan suara memelas, tapi sepertinya tidak akan pernah berhasil, selalu saja gagal.

"Tidak bisa Kyunie, ini bukan acara makan malam biasa, sahabat semasa sekolah appa dan eomma yang merencanakan ini. Kami sudah bertahun-tahun tidak bertemu, kau pasti akan suka," selalu saja begitu kata eomma. Baiklah, aku kalah lagi. Aku memang tidak pernah menang berdebat dengan eomma. Eomma menghampiri lemari pakaianku, kemudian memilihkan tuxedo klasik untuk kupakai. Aku segera memakainya, kemudian berjalan keluar kamar.

"Kyunnie, kau tidak menyisir rambutmu? " Eomma bertanya, mengagetkanku. Ternyata Eomma masih berdiri di luar kamarku, mungkin memastikan aku berganti pakaian. Aku menggeleng seraya menyisirkan jemariku ke helai-helai rambut coklatku. Eomma menggelengkan kepalanya, lalu menuntunku kembali ke kamar. Eomma mendudukkanku di depan cermin, dan mulai menyisiri rambutku. Setengah menit kemudian Eomma tersenyum dan memandang pantulan wajahku di cermin.

"Nah, anak Eomma sudah terlihat tampan. Ayo kita pergi. " Ujar Eomma seraya mencium sebelah pipiku.

Dengan gontai aku bangkit dan berjalan membuntuti eomma, di dalam mobil appa sudah menunggu kami dengan wajah sumringah. Sepertinya acara makan malam kali ini memang akan berbeda, sedikit, menurutku.

Sampailah kami di restoran Jepang, mengapa teman appa harus memilih restoran Jepang? Aku tidak menyukai ikan mentah. Seorang pelayan menghampiri kami dimuka restoran, dia mengenakan kimono; pakaian tradisional Jepang, dia membungkuk sopan, dengan cepat appa menyebutkan nama temannya dan segera pelayan tersebut mengantarkan kami pada sebuah ruangan yang menyerupai washitsu. Terlihat seorang gadis kecil dikuncir kuda saat pintu tergeser dan seorang pria paruh baya sedang bercengkrama hangat dengan gadis itu. Aku menyukai suasana ini, sungguh. Tapi, dimana seorang wanita paruh baya yang seharusnya ikut berada bersama mereka? Belum sempat pertanyaan dalam benakku terlontarkan, eomma sudah menarikku masuk. Kami duduk beralaskan tatami dengan meja sebagai pemisah.

Aku sibuk memandanginya yang meringis kesakitan karena dari tadi, eomma terus saja mencubit pipinya yang tembam itu. Aku tersenyum, dia beralih menatapku seolah bertanya, siapa dia? Eomma menjawab pertanyaan gadis itu, "Namanya Cho Kyuhyun, kau harus memanggilnya oppa nde?" Gadis itu mengangguk lucu.

"Annyeong oppa, Lee Sungmin imnida," katanya sebagai balasan perkenalan, tak lupa ia menundukkan kepalanya. Lagi, aku tersenyum, sepertinya malam ini aku akan terlalu banyak tersenyum.

:::

Second chance

:::

Aku berlari kencang menelusuri jalan setapak yang akan membawaku ke rumah, tak kuhiraukan lagi kicauan merdu orang-orang yang tanpa sengaja kutabrak karena terburu-buru. Tujuanku hanya satu, cepat sampai rumah dan-

Brakkkk

Dua perempuan dengan dua generasi yang berbeda itu kaget melihatku. Setelahnya, salah satu diantara mereka tersenyum lembut menatapku dalam. Aku kikuk; salah tingkah. Mungkin sekarang wajahku sudah memerah seperti memakai blush on ala perempuan-perempuan di tv.

Aku maju selangkah dan menyapanya, "Hai min, apa kabar? Lama tidak bertemu," apa yang baru saja kukatakan? Apa aku bergurau? Aku baru saja bertemu dia dua hari yang lalu saat makan malam. Ah, bodohnya kau Cho Kyuhyun, berapa usiamu? Untunglah Sungmin baru menginjak umur 6 tahun, jika saja dia seumuran denganku, aku pasti sudah seperti anak autis didepannya.

Perasaan ini sungguh aneh, aku bingung harus menikmatinya atau, menghindarinya? Tapi ada perasaan nyaman saat aku melihatnya, bersama dengannya. Seseorang, bisakah kalian beritahu aku perasaan apa ini?

"Hai oppa, mau bermain denganku?" Sungmin menjawab pertanyaanku, dia tidak mengubris kata-kataku diakhir kalimat tadi. Oh, syukurlah, aku tersenyum lalu mengangguk pasti. Aku bergegas kekamar, mengganti pakaian. Lalu menariknya keluar rumah, menuju taman bermain dikompleks perumahan ini.

:::

Second chance

:::

Sungmin menatap puas hasil karya kami, sebuah istana seperti istana Buckingham di Inggis dengan para penjaga khas Inggris pula. Sudah sekitar dua jam kami berada di taman kompleks perumahan ini tapi wajah Sungmin tidak juga menyiratkan rasa lelah. Tentang pertanyaanku malam itu, mempertanyakan keberadaan eomma Sungmin. Ternyata Sungmin telah kehilangan eomma sejak satu tahun yang lalu, eommanya mengidap leukimia. Kata eomma, penyakit itu masuk kedalam golongan penyakit yang mematikan, belum ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit itu. Kemoteraphi adalah satu-satunya obat, kemungkinannya pun hanya 3% untuk sembuh. Tapi Sungmin mampu melewati saat-saat itu dengan tegar, dan ia masih bisa tersenyum semanis itu. Aku benar-benar kagum melihatnya. Dan entah sejak kapan, aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan membuat Sungmin menitikan air mata. Aku menyayanginya, tentu saja, aku juga ingin memilikinya dan menikahinya, itu adalah impian terbesarku saat dewasa nanti.

Semenjak pertemuan kami di restoran Jepang dua bulan yang lalu, keluargaku semakin akrab saja dengan keluarga Sungmin. Sungmin juga sering bermain ke rumah keluargaku. Eomma kadang-kadang mengajaknya menginap. Tentu saja Sungmin tidur bersamaku. Hei, hei, jangan berpikiran macam-macam dulu. Kami masih kecil, tidak mungkin melakukan hal yang aneh-aneh. Hanya saja aku jadi punya kebiasaan mencium pipi tembamnya itu, dan memeluknya erat saat tidur.

:::

Second chance

:::

Saat ini sudah pukul tujuh malam. Aku sedang memperhatikan eomma yang sibuk menyiapkan makan malam. Ah, betapa aku sangat menyayangi eomma. Eomma tidak pernah memarahiku, kalaupun aku salah ia hanya akan menasihatiku dengan lembut. Aku bersyukur sekali eomma masih menemaniku hingga saat ini, dan semoga hingga aku beranjak dewasa nanti. Aku jadi teringat Sungmin. Aku merasa kasihan padanya. Di usianya yang masih sangat kecil ia harus kehilangan eommanya. Tapi Sungmin tidak pernah mengeluh.

"Kyunnie~ ayo kita makan! Appa tadi menelepon, katanya akan lembur dan pulang terlambat. Appa menyuruh kita makan malam duluan. " Ajak Eomma.

Aku tersadar dari lamunanku, kemudian mengangguk. Perlahan aku mendekati Eomma yang sudah duduk di kursi makan, kemudian mengecup pipi Eomma lembut. "Aku sangat mencintai Eomma. " Kataku pelan.

Eomma tersenyum, sebelah tangannya melingkar di punggungku sedangkan yang satunya terangkat mengusap pipiku. "Nado saranghae, chagi. Eomma jauh lebih mencintaimu, melebihi apapun di dunia ini. " Balas Eomma tulus, kemudian ganti mencium pipi dan keningku.

"Sudah, ayo kita makan. Nanti keburu dingin, tidak enak. Eomma masakkan makanan kesukaanmu. Kajja! " Kata Eomma sambil menyendokkan nasi ke piringku.

Aku kembali mengangguk dan mulai duduk di kursiku sambil tersenyum bahagia merasakan kasih sayang Eomma.

:::

Second chance

:::

Apa kalian masih ingat tentang gadis bermata purnama? Dia disini sekarang, disampingku, menangis menatapku. Hey, aku tidak menjahilinya, dia menangis karena melihat lututku berdarah, kekanakan, memang, lihat saja umurnya yang masih menginjak 6 tahun itu. Aku mengusap kristal demi kristal yang meluncur di atas pipi tembamnya. Tadi aku menawarkannya ice cream, ketika kedua ice cream rasa coklat itu sudah di tangan, aku hendak menghampirinya sambil berlari, namun aku terjatuh dan beginilah akhirnya, tapi entah kenapa jadi dia yang menangis. Aku tertawa simpul, alisnya mengkerut mempertanyakan sikapku.

"Oppa, apa yang lucu?" tanyanya polos.

"Kau," jawabku singkat sambil menunjuk hidungnya yang bangir. Aku menyukainya, matanya, hidungnya, bibirnya, sikapnya, kekonyolannya, kecerobohannya, kepolosannya dan senyumnya, kau sudah mencuri terlalu banyak dariku Lee Sungmin. Aku rasa semua harta berhargaku sudah habis raib dibawa olehmu.

:::

Second chance

:::

Ketika lonceng yang menandakan jam pelajaran usai berdenting, seorang guru memanggilku, dia mengatakan kepala sekolah ingin bertemu denganku. Seingatku, aku tidak pernah melakukan kenakalan yang membahayakan, kecuali ketika aku mengambil celana training Hyukjae saat dia hendak mengganti pakaian olahraga dan menggantungnya di depan pintu kelas, kurasa kenakalan itu harus dicoret. Tepat saat ini kepala sekolah sedang menatapku tajam seolah ingin melahapku habis. Tamatlah riwayatmu Cho Kyuhyun, jeritku dalam hati.

"Selamat Cho, akselarasimu diterima, mulai bulan depan kau bisa masuk ke kelas satu junior high school," ucap kepala sekolah membuatku menganga. Aku? Cho Kyuhyun, dengan usia 10 tahun bisa berada dikelas satu junior high school. Oh, lihatlah, betapa cerdasnya otakku ini.

Aku berjalan riang melewati pertokoan, di hari ini aku memiliki kabar baik untuk eomma dan juga appa. Aku yakin mereka berdua akan bangga mendengarnya. Dan jangan lupakan Sungmin, dia masih menginap dirumahku, apa dia juga akan senang? Entahlah, bahkan aku tidak yakin dia akan mengerti apa itu akselarasi. Aku masih bersenandung riang hingga kulihat seorang wanita dewasa dan seorang gadis kecil yang sangat kukenal sedang berdiri di trotoar tepat dimana aku berjalan saat ini.

"Itu eomma dan juga Sungmin," gumamku. Aku bersemangat hendak menghampiri mereka, dapat kudengar suara Eomma dan juga Sungmin sebelum sebuah suara lain mengagetkanku.

Mobil truk dengan roda enam baru saja menghempaskan tubuh seorang wanita ke aspal, aspal yang biasanya berwarna hitam pekat kini berubah menjadi merah, disana, dihadapanku orang-orang mulai berkumpul mengitari tubuh tak bernyawa itu. Dan seketika kurasakan jantungku berhenti berdetak.

:::

Second chance

:::

"Eomma, ireona!" Aku terus menjerit dalam pelukan appa, tubuh eomma sudah terkubur dari sejam yang lalu, aku masih disini, menunggu eomma bangun dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku seperti tahun-tahun sebelumnya dihari ini, hari ulang tahunku.

"Eomma!" lagi jeritku pilu. Appa masih mendekapku erat, aku juga tahu appa menangis tapi tidak secengeng aku.

"Oppa, ayo kita pulang," sebuah suara menghentikan jeritanku. Aku menatapnya tajam, dengan segala kekuatan yang tersisa aku mendorongnya hingga tersungkur ditanah.

"KAU PEMBUNUH!" makiku tepat diwajahnya, dan appa mendaratkan tangan kekarnya di pipiku. Aku menatapnya garang. Siapa anaknya, hah? Aku atau dia, si pembunuh eomma?

Saat kejadian itu, semuanya, detik demi detik aku melihat dan merekamnya dengan jelas. Tidak ada satu pun hal yang terlewatkan oleh mataku. Sungmin, saat itu merengek meminta pada eomma untuk membelikannya ice cream diseberang jalan, aku mendengar eomma merayunya untuk membeli ice cream di minimarket saja karena ice cream itu pasti tidak higienis. Tapi Sungmin tetap memaksa eomma, dan detik itu juga aku melihat tangan mungil Sungmin mendorong eomma, buruknya, eomma yang tidak bisa menjaga keseimbangan tersungkur ke jalan yang tepat saat itu mobil truk melintas. Detik berikutnya, darah, kepala eomma, tubuhnya, terlindas oleh truk itu, aku mendengar eomma sempat memanggil namaku saat matanya menangkap bayanganku, tapi aku? Membeku dan membiarkan semuanya terjadi.

:::

Second chance

:::

Dan sejak saat itu, dikamus hidupku, Lee Sungmin adalah seorang PEMBUNUH. Aku tidak perduli dengan purnamanya, entahlah. Tepat dihari pemakaman eomma juga, itu adalah hari terakhirku melihatnya. Aku benci kenyataan ini, karena sekarang setelah selang beberapa tahun lamanya aku kembali bertemu dengannya dalam sosok yang berbeda, seorang gadis yang keras kepala dan juga pemberani. Sungmin yang dulu adalah sosok yang pemalu. Tapi dia?

"Aku mencintaimu Kyuhyun. Aku, aku tahu aku adalah orang yang sangat menjengkelkan. Tapi bisakah kau berikan aku kesempatan, sekali saja? Aku mohon," dia memohon padaku, menjijikkan sekali wajahnya saat ini. Aku muak melihatnya.

"Aku janji aku tidak akan menyusahkanmu, tapi tolong beri aku kesempatan. Kali ini saja." Dia terus saja berceloteh, tidak ingatkah dia hal apa yang pernah dilakukannya padaku? Pada hidupku? Dia perusak, aku memang sempat terkelabuhi penampilannya saat ini, tapi beberapa minggu kemudian aku tahu, sangat tahu siapa Lee Sungmin yang ada dihadapanku saat ini. Seorang pembunuh, tentu saja.

Setelah berhasil menolaknya dengan cara 'halus' aku langsung bergegas meninggalkannya, sebelumnya aku melihat raut wajah itu berubah sendu. Aku tidak perduli, harus, kau memang tidak boleh perduli lagi padanya Cho Kyuhyun!

:::

Second chance

:::

Aku sudah merencanakan berbagai hal untuk membalas semua perbuatan Sungmin dulu, tapi orang disekelilingku menolak untuk membantu. Baiklah, awalnya ini memang ide Donghae untuk menghindarinya dengan cara menjadikan Seohyun kekasih 'sementara' ku, tapi rencana itu gagal, Seohyun menolak untuk melanjutkannya, tentu itu bukanlah rencana yang sesungguhnya. Donghae boleh mengira aku tidak menyukai Sungmin dan ingin menghindar darinya, tapi dia tidak tahu apa rencana dibalik otak geniusku ini. Seiring berjalannya waktu juga, aku melihat gelagat aneh yang ditunjukkan Donghae, aku merasa ada sesuatu yang melatarbelakangi idenya padaku tempo lalu, entahlah aku tidak mengerti.

Aku berkeliling, mengitari kompleks perumahan yang sudah hampir 17 tahun tak kukunjungi. Dua minggu setelah eomma pergi meninggalkan kami, appa memutuskan untuk pindah dan memulai hidup baru berdua denganku. Aku tahu alasan yang paling tepat adalah untuk melupakan sosok eomma yang teramat berarti baginya, aku pun begitu. Sekuat tenaga aku berusaha melupakan eomma, melupakan kejadian itu, tapi tidak sedikit pun aku berniat melupakan dendamku pada Sungmin. Aku menginjak pedal rem mendadak, sosok itu, terduduk diatas ayunan yang dulu sering kugunakan dengannya saat bermain ditaman ini.

Sungmin, aku melihatnya menangis, sama seperti saat itu, dia menangis karena lututku yang berdarah. Aku tersenyum kecut mengingatnya, kuperhatikan lagi sosoknya yang masih tertunduk itu, aku merindukannya, sangat. Tidak dapat kupungkiri perasaanku padanya. Dari dulu bahkan hingga saat ini masih tetap sama. Aku sempat bingung dulu, saat detak jantungku berubah abnormal ketika didekatnya, saat aku merasa hangat berada disampingnya. Sekarang aku menyadarinya, itu cinta, dari awal aku memang sudah jatuh cinta padanya. Aku bodoh bukan? Cinta dan benci mendominasi hatiku saat ini. Aku ingin memeluknya, mendekapnya erat, menghangatkannya lewat sentuhan-sentuhan kulitku. Tapi aku tidak bisa, maaf, aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku padamu.

"Aku mencintaimu, kau harus tahu itu Min."

:::

Second chance

:::

Aku gusar duduk disini, hanya dapat memandanginya dari jauh tanpa bisa melakukan apapun. Tapi sedetik kemudian aku terkekeh melihat raut wajahnya yang berubah lucu saat mendengus sebal melihat kemeja merah jambunya kotor. Baru saja aku melihatnya terjatuh ke lubang, dia memang ceroboh, selalu saja begitu.

"Mendung," bisikku. Sepertinya hujan akan segera turun. Apa Sungmin akan sempat sampai kantor sebelum hujan turun? Oke, aku khawatir padanya. Dan benar saja, belum sampai Sungmin dikantor, hujan lebat turun membasahi. Aku melihatnya berlari kearah sebuah toko perhiasan untuk berteduh, aku tersenyum memandanginya, dia cantik, aku semakin mencintainya.

"Donghae?" tanyaku dalam hati saat melihat dari arah berlawanan Donghae berlari menuju tempat yang sama dengan Sungmin. Ada apa dengannya? Boleh aku jujur? Sekarang hatiku mulai cemas, entahlah.

"Sial!" teriakku sambil memukul stir mobil.

"Donghae! Apa yang kau rencanakan?" mataku memerah, buku-buku tanganku memutih mencengkram kuat stir mobil dalam genggamanku. Aku marah, tentu saja. Donghae manarik Sungmin memasuki toko perhiasan itu, aku kecurian satu langkah. Baiklah, Lee Donghae, sepertinya kau ingin ikut bermain-main juga denganku.

:::

Second chance

:::

T

B

C

A/N :

Nah, chap 5 ini full flashback. Dari masa lalu sampai masa sekarang. Gimana? Udah tau kan past-nya Kyumin kayak apa? Hehehe

Terus, kemarin ada yang bilang kalo ini bukan ff angst, mengingatkan untuk tidak ada kata mati. Terima kasih banget ya buat Hyuknie, udah di ingetin. Ini bener-bener kelalaian kami, mohon maklumi ya ^^V

Oya, ada yang nanya juga ini end di chap berapa. Hmm, ini sebentar lagi end kok. Kami usahakan akhir bulan udah tamat.

So, what do you mind? Ditunggu reviewnya yah, apa sekarang ada yang berharap KyuMin bersatu? Kita tunggu saja, okeh^^

Mind to review 'again'?

Thanks^^