Second Chance
;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;
Genre : Romance and Angst
Rate : T+
Present by nannaa and nanalee
Disclaimer : This story belong to us, so don't plagiarism and bashing the story. And the casts belongs to
God.
Casts : Cho Kyuhyun, Lee Donghae (namja)
Lee Sungmin, SeoJoo Hyun, Kim Ryeowook (yeoja) and others
Warning : GS, Typo(s) etc
Don't like don't read!
…
…
…
…
….
Dia duduk disini, sedari tadi yang dilakukannya hanya membawa angina disetiap hembusan nafasnya, berbisik pada ruang hampa lalu terdiam. Lagi-lagi ia bergurau dengan ruang kosong disekitarnya, tersenyum kecil lalu terdiam kembali, menyesapi setiap helaan angin yang tepat mengenai wajah pucatnya.
"Apa kau mau ice cream?" Dia mendongak, memusatkan pengelihatannya yang mulai mengabur pada sepasang anak kecil yang bermain tak jauh dari tempatnya terduduk saat Ini.
Dapat dilihatnya gadis kecil itu tersenyum lalu menggangguk semangat, "Baiklah, oppa akan beli dulu nde? Tunggu disini, jangan pergi kemana-kemana," pesan anak laki-laki itu.
Kyuhyun membeku, semuanya berputar bagai kaset lusuh yang rusak didalam kepalanya. Semuanya kembali, kembali merusak lalu merubuhkan benteng yang selama ini dibangunnya dengan susah payah.
.
Besi-besi yang mulai berkarat itu berdecit, Kyuhyun menyadarinya. Ayunan itu sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya yang semakin berat. Ia berdecak, lalu bangkit.
"Oppa, apa ini sakit?" Kyuhyun berhenti tepat disamping kedua anak kecil itu, ditatapnya mereka. Lutut anak laki-laki itu berdarah, dan sekarang dapat dilihatnya air mata menguap dari mata si gadis kecil.
Kyuhyun berjongkok, berusaha menyeimbangkan tingginya dengan mereka berdua, "Jangan menangis lagi nde?" Diusapnya air mata itu, si gadis kecil menatapnya bingung, terlebih ketika anak laki-laki itu menghempaskan tanggan Kyuhyun ke udara. Lalu berujar, "Dia kekasihku, jangan menyentuhnya, paman."
Kyuhyun mengerti, dia bangkit lalu menyerahkan sebuah plester yang diterima dengan senang hati oleh si gadis kecil, yang lagi-lagi membuat anak laki-laki itu berdecak kesal menatap Kyuhyun. Kyuhyun terkekeh lalu pergi ketika sebelumnya memastikan lutut itu benar-benar terbalut plester pemberian darinya.
"Minnie, coba lihat itu."
Kesempatan tidak akan datang dua kali, fikirnya, lalu dikecupnya lembut pipi tembam itu. Sungmin menoleh menatap Kyuhyun malu-malu. Lagi, Kyuhyun berhenti didepan sebuah bak yang berisi pasir pantai ditaman itu, memori yang terekam kini berputar lagi. Merusak semuanya, ia terjatuh, menggenggam pasir-pasir itu kuat, air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi. Semuanya mengalir, apa kini ia benar-benar terlihat lemah?
"Belum cukupkah? Ku mohon!" jeritnya pilu.
:::
Second Chance
:::
Senyumnya menguar setelah setumpuk dokumen yang menurutnya sangat menyebalkan, menghiasi mejanya setelah Jinyoung menyerahkannya beberapa detik yang lalu.
"Sebanyak ini?" keluhnya, Jinyoung hanya mengedikkan bahunya seolah tidak tahu.
"Bisa kau ikut aku? Dan Jinyoung, tolong selesaikan semua dokumen-dokumen ini."
"Aku?" tunjuk Jinyoung pada dirinya sendiri. Ia melongo, menatap tidak percaya ketika Sungmin ditarik oleh Donghae.
"Ah, mengapa selalu aku? Menyebalkan," rutuknya setelah mereka telah berlalu. Ketika
hendak berbalik, didapatinya Kyuhyun sedang menatap tajam tautan jari Donghae dan juga Sungmin.
"Cinta segitiga?" tanyanya lagi pada diri sendiri, karena merasa atmosfer disini semakin mencekam, buru-buru ia bergegas menuju ruangannya.
"Aneh," bisiknya sambil menggelengkan kepala bingung.
.
"Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan." Sungmin mendengus kesal menunggu Donghae berbicara padanya, ini sangat membosankan, fikirnya. Dia mulai beranjak meninggalkan kursi empuk yang didudukinya tadi.
"Bisakah kau mulai semuanya dari awal?" Donghae bertanya tepat saat Sungmin melewati tubuhnya, tak pelak suara lirih itu pun terdengar oleh Sungmin.
Ditatapnya lekat-lekat Donghae, alis Sungmin mengkerut mempertanyakan sikap Donghae padanya yang dengan tiba-tiba memeluk tubuhnya erat.
"Aku mencintaimu," bisiknya pelan. Sungmin semakin bingung. Bukankah dia Donghae, sahabat Kyuhyun? Tapi kenapa namja ini menyatakan cinta padanya? Tidak tahukah dia bahwa Sungmin hanya mencintai namja bermarga Cho itu?
"Tapi, aku tidak," jawab Sungmin akhirnya. Donghae tersenyum menaggapi jawaban yang sudah diketahuinya itu.
"Aku tahu, tak apa. Hanya ada Kyuhyun bukan dihatimu?" tanyanya lagi, kali ini Sungmin terdiam. Dia menatap sedih Donghae, Donghae yang menerima tatapan itu hanya terkekeh kecil.
"Tak mengapa, sungguh. Dengan kau bahagia, aku pun akan bahagia. Bukankah cinta memang begitu?" Sungmin menangguk mengerti. Dan untuk kali ini, dia balas senyum Donghae yang sedang menatapnya tulus.
"Yeoja yang nanti akan bersamamu pasti sangat beruntung." Setelahnya, hanya terdengar celotehan mereka yang saling bercerita tentang kesibukan yang menjenuhkan dikantor.
"Tapi aku akan tetap mencintaimu min," bisik Donghae dalam hati.
:::
Second Chance
:::
Derap langkah terdengar semakin mengalun cepat kearahnya. Kyuhyun membalik tubuhnya cepat, ditatapnya lekat seseorang yang tepat berdiri dihadapannya saat ini.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
"Apa tujuanmu sebenarnya?!" bentak Kyuhyun kasar.
Donghae tersenyum menanggapi pertanyaan Kyuhyun. Dia berjalan mendekati kaca, pembatas antara dunia luar dan kantornya. Dia berujar, sungguh lirih bahkan hampir tidak terdengar oleh namja bermarga Cho itu jika saja ia tidak ikut berdiri disamping Donghae menghadap kotaSeoul dari tempat mereka berdiri saat ini, "Kau mencintainya."
Begitulah kesimpulan yang dapat diambil Lee Donghae akan sikap, sahabatnya? Cho Kyuhyun? Mungkin.
Kyuhyun meremehkan, "Kau bercanda Lee Donghae. Apa kau mabuk?"
"Lalu untuk apa kau menanyakan hal ini? Kau cemburu?" sambar Donghae ketika lagi-lagi Kyuhyun mengelak kenyataan yang ada.
"Katakan!" bentaknya lagi, seolah jengah dengan teka-teki yang sedang Donghae mainkan.
"Aku mencintainya, sangat. Sejak aku melihatnya pertama kali diseberang jalan sekolah kita, bersembunyi dibalik pohon cemara. Mungkin kau tidak menyadarinya, tapi dia sudah memperhatikanmu jauh bahkan sebelum kau menginjakkan kaki diperusahaan ini. Aku tahu dari dulu dia sangat mencintaimu, menyedihkan sekali bukan diriku? Kalah bahkan sebelum peperangan dimulai." Donghae tertawa hambar, disampingnya, Kyuhyun tak bergeming menatap kosong kearah depan. Dia diam, tak berniat memalas semua perkataan Donghae.
"Dia matahari, kau boleh mengganggapnya menyebalkan, tapi bagiku, dia bahkan lebih berharga dari diriku sendiri. Sinarnya, ketulusannya, senyumnya yang menghangatkan, keceriaannya, apa kau tahu itu Kyuhyun? Ah, aku rasa kau hanya fokus pada dendammu." Kyuhyun berpaling menatap Donghae tajam, darimana dia tahu? Tanyanya dalam hati.
"Apa kau bertanya-tanya darimana aku tahu hal ini? Kau mencurigakan, tentu saja aku tidak akan tinggal diam untuk mencari tahu kebenarannya. Aku salah Cho, aku salah membiarkanmu kemarin, memberikan ide konyol itu padamu untuk menghindarinya yang malah kau gunakan untuk menyakitinya. Dan sekarang, jika kau menyakiti Sungmin lagi, akulah yang harus kau hadapi!" Donghae beranjak dengan langkah pasti. Kyuhyun tersenyum kecut.
.
Masih tetap berdiri disana, sedari tadi yang dilakukannya hanya diam tanpa melakukan kegiatan yang berarti sejak pembicaraannya dengan Donghae. "Aku tidak salahkan, eomma?" tanyanya lalu ikut pergi meninggalkan tempat itu.
Sebenarnya, sebelum Donghae pergi terlalu jauh dari tempat mereka berbincang tadi, Kyuhyun sempat berucap lirih dengan air mata yang mulai menumpuk dipelupuknya, "Dia purnama, bukan matahari." Lalu menyeka air mata itu sebelum benar-benar basah membanjiri pipinya.
:::
Second Chance
:::
Sungmin menarik nafas panjang, jengah mendengar perkataan uisanim yang sedari tadi menasihatinya untuk lebih menjaga kesehatannya. Bukan rahasia lagi jika Sungmin memang memiliki anemia. Jika anemianya sudah kambuh, ditambah dengan kebiasaan-kebiasaan buruknya. Maka tidak heran darah segar sering merembes keluar melalui hidungnya.
Ya, yeoja ini akhirnya memeriksakan dirinya ke dokter setelah mimisan hebat tempo hari. Namun rasa cemasnya malah berganti dengan kebosanan yang luar biasa. Ingin sekali Sungmin kabur dari ruangan ini. Rasanya ia sudah duduk berjam-jam lamanya.
Sungmin bernafas lega ketika dokter itu menyelesaikan 'ceramahnya', buru-buru ia bangkit dari kursinya dan berpamitan, tak lupa mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya berlalu meninggalkan ruangan berbau obat-obatan tersebut.
"Benar dugaanku. Ini hanya anemia seperti biasanya, Kang uisanim selalu saja berlebihan," gerutu Sungmin pelan.
Langkahnya mendadak terhenti kala ia melihat sesosok namja jangkung berkulit pucat yang baru saja keluar dari sebuah ruangan dokter. Ia sangat mengenalinya. Ia tidak mungkin salah. Untuk apa namja itu datang kesini?
Sungmin melewati ruangan yang baru saja disinggahi Kyuhyun. Dipintunya
terpampang jelas sebuah nama yang lagi-lagi asing untuk Sungmin.
'dr. Kim Kangin'
"Permisi suster," Sungmin menghentikan langkah seorang perawat yang kebetulan melewati dirinya.
"Nde, ada yang bisa saya bantu?" jawab perawat itu ramah setelah berhenti dihadapan Sungmin.
"Boleh saya tahu, ini ruangan dokter spesialis apa?" tanya Sungmin sambil menunjuk sebuah ruangan.
"dr. Kim? Ah, itu dokter spesialis kanker-"
"Yuri-ya, cepat, pasien sedang kritis!" panggil sebuah suara menghentikan perkataan perawat yang diketahui Sungmin bernama Yuri, buru-buru perawat itu berlari menyusul perawat yang tadi memanggilnya yang sudah lebih dulu memasuki ruang ICU.
Sungmin mendesah kecewa, sekarang perasaannya kalut. Kanker? Ada apa Kyuhyun mendatangi dokter spesialis kanker? Pertanyaan terus berkelebat didalam kepalanya. Dengan langkah cepat ia bergegas meninggalkan rumah sakit menuju sebuah tempat yang mungkin akan membuat semua pertanyaannya terjawab.
:::
Second Chance
:::
"Bisa kau berhenti mengikutiku?" tanya Kyuhyun kesal melihat Sungmin yang sedari tadi tidak bosan membuntutinya kemana pun dengan pertanyaan yang selalu sama dilontarkan gadis bergigi kelinci itu.
"Tidak akan sebelum kau menjawab pertanyaanku," tegas Sungmin tidak mau kalah dari Kyuhyun.
"Untuk apa kau ke rumah sakit? Dokter spesialis kanker? Ada apa sebenarnya?" lagi, Sungmin mempertanyakan hal yang sama hingga membuat Kyuhyun jengah.
Tubuhnya berbalik menghampiri Sungmin setelah sebelumnya menutup pintu ruangan dan menguncinya rapat-rapat. Ditatapnya lekat Sungmin, dan kali ini bibir bershape M itu terdiam. Menatap takut Kyuhyun yang mulai mendekat kearahnya.
"Mau apa kau?" Sungmin beringsut mundur dengan perlahan. Kyuhyun semakin maju mendekat. Didorongnya tubuh Sungmin kasar ke dinding, terdengar rintihan dari bibir gadis itu kala tubuhnya terhempas ke dinding. Kyuhyun mengunci tubuh Sungmin dengan kedua tangannya yang bertengger dikedua sisi kepala Sungmin.
"Aku muak denganmu!" teriak Kyuhyun tepat diwajah Sungmin. Sungmin hanya mampu menunduk dalam saat lagi-lagi melihat kilatan benci dari mata Kyuhyun.
Di angkatnya wajah itu untuk balik menatap kedua matanya. Lima menit berlalu, tidak ada satu pun diantara mereka yang angkat bicara. Sungmin sudah mempersiapkan diri jika lagi-lagi Kyuhyun membentaknya dengan kata-kata yang mungkin akan semakin menyakiti hatinya.
Tapi, "Lupakan aku!" tandasnya. Lalu pergi meninggalkan Sungmin yang berjongkok dilantai dan mulai terisak.
Di ingatnya, mata itu, saat berujar dengan pelan, sangat sendu menyiratkan rasa sakit dan juga, penyesalan?
"Ada apa denganmu, oppa?" bisiknya sambil terus terisak.
"Maafkan oppa min," lirih Kyuhyun sambil membanting pintu ruangannya. Lalu pergi entah kemana.
Disisi lain, Donghae memandang kejadian itu dengan perasaan pilu. Bukan, bukan karena patah hati akan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Itu karena keegoisan seorang Cho Kyuhyun yang lebih mempertahankan rasa bencinya sebagai topeng untuk menutupi rasa cinta yang sesungguhnya pada Sungmin.
Dibukanya pintu itu pelan, Sungmin berjongkok disudut ruangan, menangis. Dihampiri sosok mataharinya itu. Sungmin mendongak, lalu bertanya, "Ada apa?"
Donghae yang melihatnya langsung mendekap tubuh mungil itu, lalu berbisik tepat ditelinga Sungmin. Setelahnya, Sungmim melepaskan pelukan itu cepat.
"Benarkah?" tanyanya lagi, Donghae menjawab hanya dengan sebuah anggukan kecil.
Lagi, Sungmin menangis, namun kali ini semakin keras. Dia menangis sambil memukul dadanya keras.
"Ini semua salahku. Oppa!" histerisnya sebelum pingsan dengan darah yang mengalir dikedua hidungnya.
T
B
C
A/N
Apa ini bisa dikatakan terlambat? Dan terlalu pendek? Ya, kami bukanlah anak sekolah yang punya banyak waktu luang, tapi kami berusaha menyempatkan waktu untuk melanjutkan chap ini. Untuk ending sepertinya akan mundur dari jadwal semula, dan mungkin juga chap depan adalah chap terakhir.
Untuk hyuknie yang menanyakan apakah Leukemia itu penyakit keturunan. Ini adalah jawaban kami; Sebenarnya tidak menutup kemungkinan jika orang tua ada yang sakit leukemia, anaknya juga bisa terkena leukemia, yang akan membedakan hanya jenisnya saja. Dan kebetulan eomma Min Leukemianya berjenis kronik; KRONIK (menahun) – perkembangan lambat dan semakin memburuk dari tahun ke tahun. Kronik ini terbagi menjadi dua;
Chronic Myelogenous Leukemia (CML)
Chronic Lymphocytic Leukemia (CLL)
Silahkan cari sendiri deskripsi dari masing-masing jenisnya, masih ada yang ditanyakan kah?
Dan untuk Pearl Park, terima kasih reviewnya, bagi kami kamu adalah moodmaker ;)
Terima kasih juga buat kalian semua yang sudah menyempatkan untuk review {}
mind to review 'again'?
thanks^^
